Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Sesuatu yang Harus Disadari oleh Penerbit dan Penulis Indonesia

Thursday, 16 January 2014

Sebuah tulisan yang secara komposisi baik (apapun komposisinya, seeksperimental apapun) dapat meningkatkan kecerdasan, karena akan meningkatkan kesadaran fonologis yang berhubungan dengan kemampuan memahami sesuatu dan spatial reasoning yang berkaitan dengan kemampuan berpikir.

Jika kalian terus-menerus mengonsumsi tulisan-tulisan yang penuh diksi salah, word salad, rujak kata, kalimat-kalimat tak bermakna, paragraf-paragraf yang inkoheren, dokumen yang tak kohesif, argumentasi-argumentasi yang kacau, penggambaran-penggambaran yang tak tepat, apa yang terjadi dengan diri kalian? 

Ya, kalian akan mengidap Vickyia (bukan "ism" atau "sation" sebagaimana selama ini dibubuhkan pada fenomena Vicky yang tentu merupakan ketakpahaman terhadap kasus tsb), thought dissorder. 

Mau menjadi idiot? Mau membiarkan anak-anak kalian jadi idiot?

Jadi buku berbahaya, pertama-tama bukan masalah voice, suara, opini, pendapat, nilai yang ditawarkan, tetapi bagaimana ia ditulis, diaransemen.

* Nuruddin Asyhadie

Selengkapnya: Sesuatu yang Harus Disadari oleh Penerbit dan Penulis Indonesia

Tiga Puisiku dalam Antologi bersama 85 Penyair Indonesia "Puisi Menolak Korupsi" (Forum Sastra Surakarta, 18 Mei 2013)

Tuesday, 21 May 2013


Hukum Tak Tegak

katakan padanya apa adanya dan ada apanya
tentang apa yang terjadi

menjungkal akal di kepala
meredam sesal di pembaringan
tak ada yang peduli nanti ketika kau mati

ah, hanya meracuni pikir saja
berlalu tanpa kepedulian
tingkah meningkah kebohongan dan konspirasi
demi menyelamatkan ambisi

hukum tak tegak siapa peduli
setiap bikin hukum baru cepat pula basi
mana yang salah mana yang benar

hukum tak tegak salah siapa
berorasi dan beretorika semakin elegan
terselubung tujuan dengan mengorbankan kawan maupun lawan
bersusah payah melawan lupa, melawan ambisi setan kalian

katakan sajalah padanya apa adanya dan ada apanya
tak usah sembunyikan tingkah polah
bukankah bangkai akan tercium juga?

ah, aku malas melihat wajah kalian para keparat
hanya membodohi kami
hanya membohongi kami
hanya menipu kami

anak cucu menanggung segala akibat

ah, kalian ini bermain pintarnya
do'a kami menjadi laknat

Karanganyar-Solo, 26 April 2008


Dunia yang Lekang

dongeng satu malam tentang diskriminasi moral
anomali kekalahan meniti waktu
persekongkolan dan permainan akal
inti sari agama menu sayur mayur beku

mata melepas kesadaran dengan akal yang bertolak belakang
antara fungsi yang sudah terkontaminasi
terus meresap dan tumbuh di seantero negeri
agama adalah ladang permainan yang tak terkendali

air hujan berjatuhan menghitung kenakalan birokrasi
ilmu kalkulasi dan manajemen uang panas yang rumit untuk dibicarakan rakyat kecil
mengumpulkan pundi-pundi keringat rakyat di kantong tebal dalam kotak besi
-kedangkalan otak dan sejuta ambisi

zaman sudah lekang
urusan dunia sudah menjadi urgent
nafsu dan uang adalah senjata utama
gemuruh petir menyambar kepala
berita korupsi lagi
aku melihat dengan mata kepala: saksi bisu tetapi!

laga panggung negara ini hanyalah sandiwara-sandiwara glamour menyusun rencana
undang-undang, pasal-pasal atau hukum agama sebagai topeng untuk menutupi keserakahan manusia sendiri

"dasar manusia cerdik!"

Karanganyar-Solo, 13 Desember 2005


Cukup Tuan Sandiwara Itu

luka negeri yang kian lebar dan mengkhawatirkan
merobek lagi sayatan pada penderitaan
adakah obat yang terbaik dan mujarab untuk menghentikannya

kami adalah generasi patah tersebab limbungnya moral
sekelumit do'a menyertai kalian

ambisi pribadi dan sekelompok golongan
lupakan segera Tuan
mari Tuan bangun negeri kembali

ini adalah rumah besar peninggalan Ibu Bapak kita Tuan
lupakah Tuan dengan Ibu dan Bapak kita?
lupakah Tuan kemana laju pikiran mereka?

luka negeri yang dalam dan diwariskan
cukup Tuan sandiwara itu

mengambil uang rakyat itu sungguh biadab Tuan
adakah obat yang terbaik dan mujarab untuk menghentikannya

Karanganyar-Solo, 07 Maret 2009

* Daftar para penyair yang puisinya masuk.
Selengkapnya: Tiga Puisiku dalam Antologi bersama 85 Penyair Indonesia "Puisi Menolak Korupsi" (Forum Sastra Surakarta, 18 Mei 2013)

Road Show I: Antologi Puisi Penyair Indonesia "Puisi Menolak Korupsi" | Komplek Makam Bung Karno Blitar, 18 Mei 2013

Wednesday, 8 May 2013

Kompleks Makam Bung Karno sebagai tempat pertama road show. Selanjutnya ke berbagai daerah di Indonesia. #project dari Sosiawan Leak
Road show Penyair Indonesia
PUISI MENOLAK KORUPSI

Sabtu, 18 Mei 2013
Pukul 19.00 WIB

Di Ampitheater, Kompleks Makam Bung Karno
Jl. Kalasan, Bendogerit, Sananwetan, Blitar

Pentas Perkusi, Macapatan, Pagelaran Puisi.
Talk show oleh Dr. Sholeh Muadi & Ahmadun Yosi Herfanda

Tambahan:
Kawan-kawan, saya baru saja mendapat konfirmasi dari juru kunci MAKAM BUNG KARNO, BLITAR, bahwa Gerakan PUISI MENOLAK KORUPSI diperkenankan melakukan tabur bunga & doa bersama di makam SANG PROKLAMATOR itu, sabtu, 18 mei 2013, tepat tengah malam (pukul 00.00 wib). (Sosiawan Leak)

nb: koordinator acara di blitar mas Andrias Edison

Sumber grup Fb Puisi Menolak Korupsi

Update! (16 Mei 2013)

Salam,
Kawan-kawan, menggenapi agenda Gerakan PUISI MENOLAK KORUPSI, kami mengundang Anda hadir pada acara Road Show I, Puisi Menolak Korupsi besok :

Sabtu, 18 Mei 2013
Pkl 19.00 WIB sampai selesai
Di Ampiteater Kompleks Makam Bung Karno
Jl. Kalasan, Kal. Bendogerit, Kec. Sananwetan, Kota Blitar

Acara
1. Rampak Kendang “Palah Panil 54” Percussion
2. Launching Antologi Puisi Menolak Korupsi (85 Penyair Indonesia)
3. Panembrama macapat "Abdiningsun"
4. Parade Baca Puisi Penyair Indonesia
5. Pentas Tari Eka Pradhaning (Magelang), & Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)
6. Diskusi Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta) & Dr. Sholeh Muadi (Blitar)
7. Tabur Bunga & Doa di Makam Bung Karno

Meski bersifat nirlaba dan mandiri, namun penyelenggara menyediakan fasilitas,
1. Mobil jemputan dalam kota 2 unit
2. Dapur Umum Seniman.
3. Transit di Rumah Sdr. Bagus Putuparto dan Galery Mas Liek.

Selanjutnya, silahkan konfirmasi Andrias Edison, & Leak Sosiawan. Terima kasih.
Salam hangat, doa kuat!

Sosiawan Leak
(Koordinator)


Sumber facebook Sosiawan Leak

PENYAIR PENDUKUNG
1. Abdurrahman El Husaini (Martapura, Kalimantan)
2. Acep Syahril (Indramayu)
3. Agus R Sardjono (Jakarta)
4. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
5. Ahmad Daladi (Magelang)
6. Ahmadun Y Herfanda (Jakarta)
7. Akaha Taufan Aminudin (Batu, Malang)
8. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
9. Aloysius Slamet Widodo (Jakarta)
10. Aming Aminuddin (Surabaya)
11. Andreas Kristoko (Yogja)
12. Andrias Edison (Blitar)
13. Andrik Purwasito (Solo)
14. Anggoro Suprapto (Semarang)
15. Ardi Susanti (Tulungagung)
16. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
17. Asyari Muhammad (Jepara)
18. Ayu Cipta (Tangerang)
19. Bagus Putu Parto (Blitar)
20. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
21. Bambang Supranoto (Cepu)
22. Bambang Widiatmoko (Bekasi)
23. Beni Setia (Caruban)
24. Brigita Neny Anggraeni (Semarang)
25. Bontot Sukandar (Tegal)
26. Budhi Setyawan (Bekasi)
27. Dedet Setiadi (Magelang)
28. Denni Meilizon (Padang)
29. Dharmadi (Purwokerto)
30. Didid Endro S (Jepara)
31. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
32. Dona Anovita (Surabaya)
33. Dwi Ery Santosa (Tegal)
34. Dyah Setyawati (Tegal)
35. Eka Pradhaning (Magelang)
36. Ekohm Abiyasa (Solo)
37. Eko Widianto (Jepara)
38. Endang Setiyaningsih (Bogor)
39. Endang Supriyadi (Depok)
40. Gunawan Tri Admojo (Solo)
41. Handry Tm (Semarang)
42. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)
43. Heru Mugiarso (Semarang)
44. Hilda Rumambi (Palu)
45. Irma Yuliana (Kudusan, Jawa Tengah)
46. Isbedy Stiawan ZS (Lampung)
47. Jamal D Rahman (Jakarta)
48. Jhon F.S. Pane (Kotabaru)
49. Jumari HS (Kudus)
50. Kidung Purnama (Ciamis, Jawa Barat)
51. Kun Cahyono Ps (Wonosobo)
52. Kuspriyanto Namma (Ngawi)
53. Lailatul Kiptiyah (Blitar)
54. Lennon Machali (Gresik)
55. Lukni Maulana (Semarang)
56. M. Enthieh Mudakir (Tegal)
57. Mubaqi Abdullah (Semarang)
58. Najibul Mahbub (Pekalongan)
59. Nurngudiono (Tegal)
60. Oscar Amran (Bogor)
61. Puji Pistols (Pati)
62. Puput Amiranti (Blitar)
63. Puspita Ann (Solo)
64. Radar Panca Dahana (Jakarta)
65. Ribut Achwandi (Pekalongan)
66. Ribut Basuki (Surabaya)
67. Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)
68. Saiful Bahri (Aceh)
69. Sudarmono/ Mas Mono (Bekasi)
70. Sulis Bambang (Semarang)
71. Sumasno Hadi/ Masno Sumasno (Banjarmasin)
72. Surya Hardi (Pekanbaru)
73. Sus S Hardjono (Sragen)
74. Suyitna Ethex/ Syt Ethex (Mojokerto)
75. Syam Chandra (Yogyakarta)
76. Syarifuddin Arifin (Padang)
77. Thomas Budi Santosa (Kudus)
78. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
79. Tri Lara Prasetya Rina (Bali)
80. Udik Agus Dw (Jepara)
81. W. Haryanto (Blitar)
82. Wardjito Soeharso (Semarang)
83. Yudhie Yarco (Jepara)
84. Zainul Walid (Situbondo)
85. Sosiawan Leak (Solo)

Info berita:
http://www.timlo.net/baca/71467/penyair-indonesia-rame-rame-tolak-korupsi-dengan-puisi/
http://joglosemar.co/2013/05/leak-lauching-puisi-menolak-korupsi.html?fb_source=pubv1
http://hiburan.berita21.com/2013/tak-berkategori/gerakan-puisi-menolak-korupsi.html
http://m.obyektif.com/sastrabudaya/read/mengadu_pada_proklamator_korupsi_merajalela___/

Foto-foto launching di sini

Puisi-puisiku yang masuk: http://serampaikata.blogspot.com/2013/05/tida-puisiku-dalam-antologi-puisi.html
Selengkapnya: Road Show I: Antologi Puisi Penyair Indonesia "Puisi Menolak Korupsi" | Komplek Makam Bung Karno Blitar, 18 Mei 2013

Puisi-puisi Ekohm Abiyasa yang Termaktub dalam Buku Antologi Bersama

1. Requiem bagi Rocker (Taman Budaya Jawa Tengah, 2012)
 2. Wuyung Ketundhung (Pawon Sastra Solo, 2012)
 3. Satu Kata: Istimewa (Ombak Yogyakarta, 2012). Momentum disahkannya UU tentang Keistimewaan Kota Yogyakarta.
 4. Dari Sragen Memandang Indonesia (Dewan Kesenian Daerah Sragen, 2012)
 5. Indonesia dalam Titik 13 (Dewan Kesenian Kota Pekalongan dan Dewan Kesenian Pemalang, 2013)
 6. Bangkitlah Pejuang Mimpi (Rasibook, 2013)
 7. Merawat Ingatan Rahim (Jejer Wadon dan Komnas Perempuan Solo, 2013)
8. Puisi Menolak Korupsi (Jilid I) (Forum Sastra Surakarta, 2013)
9. Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel (Dewan Kesenian Kudus, 2013)
10. Habis Gelap Terbitlah Sajak (Forum Sastra Surakarta, 2013)
11. Bersepeda ke Bulan (Indopos, 2013)
12. Solo dalam Puisi (Pawon Sastra, 2014)
13. Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (Kosakatakita, 2014)
14. Lentera Sastra II (Lentera Foundation, 2014)
16. Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II (Himpunan Masyarakat Gemar Membaca, 2014)
17. Jaket Kuning Sukirnanto (Komunitas Sastra Indonesia, 2014) Gambar dari sini.

18. Sang Peneroka (Gambang, 2014)
19. Jendela dari Koloni (Taman Budaya Jawa Tengah, 2015)



____________________________________
* Info ini diperbarui April 2015

Selengkapnya: Puisi-puisi Ekohm Abiyasa yang Termaktub dalam Buku Antologi Bersama

World Book Night: Alasan Sepuluh Penulis untuk Membaca Buku

Wednesday, 24 April 2013

Oleh: A.S. Laksana 


Untuk merayakan hari buku, berikut ini kami sajikan sepuluh kutipan dari para penulis tentang kenapa mereka membaca buku.

• “Buku yang bagus akan memberimu banyak pengalaman, dan sedikit saja kelelahan di saat akhir. Kau menjalani beberapa kehidupan saat membaca.”
William Styron

• “Dalam peradaban tertinggi, buku tetaplah puncak kegembiraan. Orang yang tahu seberapa besar kepuasan yang didapatkannya dari buku-buku, akan memiliki sumberdaya untuk menghadapi malapetaka."
Ralph Waldo Emerson

• “Ada beberapa tindakan yang lebih jahat ketimbang membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.”
Joseph Brodsky

• “Memiliki kebiasaan membaca adalah membangun sendiri tempat berlindung dari hampir seluruh penderitaan hidup.”
W. Somerset Maugham

• “Setiap orang yang tahu cara membaca memiliki kekuatan untuk memperbesar dirinya, melipatgandakan jalan bagi keberadaannya, dan membuat kehidupannya utuh, signifikan, dan menarik."
Aldous Huxley

• “Membaca buku tak ubahnya dengan tindakan menulis ulang buku itu bagi diri sendiri. Kau mengusung ke dalam sebuah novel, apa pun novel yang kaubaca, semua pengalaman hidupmu. Kau mengusung sejarahmu dan kau membacanya dalam konteksmu sendiri.”
Angela Carter

• “Yang terkasih sepanjang waktu, kawan paling kokoh bagi jiwa—BUKU.”
Emily Dickinson

• “Kita tidak memerlukan daftar benar dan salah, tabel tentang apa yang boleh dan yang terlarang: kita membutuhkan buku-buku, waktu, dan kesunyian. Perintah dan larangan akan segera dilupakan, tetapi cerita akan bertahan selamanya.”
Philip Pullman

• “Membaca adalah satu-satunya cara di mana kita bisa tergelincir, tanpa sadar, dan sering tak berdaya, ke dalam kulit orang lain, suara orang lain, jiwa orang lain."
Joyce Carol Oates

• “Saya pikir kita hanya perlu membaca jenis-jenis buku yang sanggup melukai atau menusuk kita. Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca? Bukankah dengan demikian kita akan bahagia, manakala kau menulis? Demi Tuhan, kita akan sangat bahagia jika tidak punya buku, dan jenis buku yang membuat kita bahagia adalah yang kita tulis sendiri jika diperlukan. Tapi kita memerlukan buku-buku yang mempengaruhi kita seperti bencana, yang memberi kita kesedihan mendalam, seperti kematian seseorang yang kita cintai melebihi cinta kita pada diri sendiri, seperti dicampakkan ke dalam hutan jauh dari siapa pun, seperti tindakan bunuh diri. Sebuah buku semestinya menjadi kapak bagi laut beku di dalam diri kita. Itulah keyakinan saya.”
Franz Kafka

Ini adalah beberapa kutipan favorit kami tentang suka dan duka membaca. Sila menambahkan sendiri. [*]

(Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari artikel The Guardian "World Book Night: Ten writers' reasons for reading", untuk memperingati Hari Buku, tanggal 23 April 2013)

link http://as-laksana.blogspot.com/2013/04/world-book-night-alasan-sepuluh-penulis.html 
Selengkapnya: World Book Night: Alasan Sepuluh Penulis untuk Membaca Buku

Novel Robinson Crusoe, Petualangan yang Mengagumkan

Monday, 17 December 2012

Robinson Crusoe – Petualangan yang Mengagumkan

Judul : Robinson Crusoe
Penulis : Daniel Defoe
Penerbit : Bentang Pustaka
Halaman : 386 Halaman

Yang pertama kulakukan adalah melihat-lihat dulu tempat itu dari dekat dan mencari tempat untuk mendirikan rumah. Aku tak tau dimana aku berada. Juga tak tau apakah ini sebuah pulau atau benua, apakah berpenghuni atau kosong.

Robinson Crusoe, seorang pemuda yang berasal dari keluarga kaya berkebangsaan Inggris. Ayahnya seorang pedagang yang sukses dan berharap sang anak menjadi seorang ahli hukum kelak. Namun bukan impian seorang Robinson untuk hidup nyaman dengan hartanya, ia lebih memilih menjadi seorang pelaut. Crusoe kabur dari rumah hanya untuk menemui bencana. Kapal yang dibajak, menjadi budak, hingga kapal yang karam dihantam badai.

Sampai pada akhirnya Crusoe terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni. Di pulau tersebut, dia mempelajari semuanya dari awal dengan peralatan seadanya. Peralatan itu dia dapatkan dari kapalnya yang hampir karam tak jauh dari pulau itu. Dari mulai membuat rumah, perkakas dapur, menumbuhkan padi dan gandum, membuat kapal, menjinakkan binatang hingga beternak. Robinson melanjutkan hidup dan belajar dengan keterbatasan. Tak ada teknologi dan komunikasi dengan sesama manusia. Sempat ia menyalahkan takdir dan menyesal, namun itu tidak melunturkan semangat hidupnya. Dalam kesendiriannya, Crusoe justru menjadi lebih dekat dengan Tuhan, lebih mensyukuri hidup dengan segala sesuatu yang dimilikinya.

Crusoe memutuskan kembali berlayar ke Inggris setelah menghuni pulau itu selama 28 tahun 2 bulan dan 19 hari. Bukan waktu yang singkat. Bagaimana dia bisa kembali ke Inggris? Dan bagaimana kehidupannya setelah sekian lama tidak bersosialisasi dengan manusia? Silahkan baca ya.

Saya suka buku sejenis ini, sebuah novel petualangan. Hampir sebagian besar cerita ini berseting di pulau terpencil itu. Daniel Defoe menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga saya seperti membaca sebuah diary seoarang petualang. Sangat detil dalam menjelaskan perasaan dan pekerjaan yang dilakukan. Jujur saja, novel ini membosankan pada awalnya. Namun menjadi seru setelah Crusoe terdampar dan petualangan yang sebenarnya dimulai. Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1719 dan mengambil latar waktu tahun 1651 sampai 1687. Novel yang terasa klasik namun masih bisa dinikmati di abad 21 sekarang ini.

Rate 3/5

Sumber Serapium Kaskus
Sinopsis lainnya http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/4350/robinson-crusoe.html
Link lain http://en.wikipedia.org/wiki/Robinson_Crusoe
Film http://files.indowebster.com/download/files/robinson_crusoe_1
Novel sub English http://www.planetpdf.com/planetpdf/pdfs/free_ebooks/robinson_crusoe_bt.pdf

* * *
Ini adalah salah satu dan mungkin satu-satunya yang masih menempel terus di kepalaku. Bacaan petualangan sewaktu sekolah MTs. kelas 2 mungkin atau malah kelas 1 tahun 2002-2004. 
Selengkapnya: Novel Robinson Crusoe, Petualangan yang Mengagumkan

Trik Jitu Meresensi Buku

Sunday, 25 November 2012

Banyak media massa, baik cetak dan elektronik, memberi rubrik resensi buku, yang biasanya terbit di edisi hari Minggu. Koran edisi Minggu memang selalu tampil lain, yang ditandai munculnya rubrik puisi, cerpen, esai kebudayaan, dan resensi buku.

Namun Koran Jakarta justru tidak menampilkan rubrik resensi buku di hari Minggu, melainkan pada hari Senin sampai Sabtu. Koran inilah yang cukup memanjakan penulis resensi, karena peluang dimuat lebih besar ketimbang mengirimnya ke koran yang memuat resensi pada hari Minggu.

Meresensi buku adalah mengulas isi buku. Dalam hal ini, penulis dituntut untuk benar-benar memahami isi buku, tentang kelebihan dan kekurangan isi buku. Agar lebih ‘mak nyus’, seorang peresensi laiknya menempatkan dirinya berada dalam satu “kotak” pemikiran dengan si penulis buku.

Tipe pertama resensi buku yang sering ditemui adalah tipe promosi buku. Pada jenis resensi ini, penulis resensi tampil seperti orang yang sedang “salesman” buku. Dia mengungkapkan apa yang baik dari buku itu, lalu menjelaskan, mengapa buku itu harus dibaca.

Tipe kedua adalah kritik buku. Lebih jauh dari jenis yang pertama, resensi dengan model mengkritik buku bukan sekadar menyampaikan isi buku, melainkan mengungkap kelemahan isi buku. Penulis perlu membandingkan dengan karya dengan tema sama yang ditulis oleh buku lain. Dengan demikian penulis harus jujur dengan apa yang dia tulis.

Tahapan meresensi buku, yang utama adalah pahami isi buku. Untuk memahaminya, tiada cara lain melainkan membaca. Jika dibaca sendiri belum paham, bisa mendiskusikan buku itu dengan teman. Pandangan teman terhadap isi buku itu dapat membantu kita untuk memahami isi buku.

Karena resensi buku bersifat ringkas, maka penulis resensi harus cerdik untuk menyiasati, dengan memilih bagian yang penting dari isi buku dan apa yang perlu diketahui oleh pembaca. Rata-rata jumlah karakter resensi buku (with space) di media massa sekitar 4.200-6.000 karakter. So, menulis resensi bisa dijadikan latihan untuk menulis di media massa.*

*Junaidi Abdul Munif menulis artikel dan resensi buku, antara lain dimuat di Suara Merdeka, Kompas, Seputar Indonesia, Koran Jakarta, dan banyak lagi.

Sumber http://blogjpin.wordpress.com/2012/10/31/trik-jitu-meresensi-buku/
Selengkapnya: Trik Jitu Meresensi Buku

Penerbitan Buku Gratis

Friday, 9 November 2012

ROYALTY 30% UNTUK PENULIS!

Persyaratan:

1. Penulis sudah pernah menerbitkan karyanya dalam bentuk buku baik antologi bersama maupun tunggal dengan penerbit yang cukup kompeten, atau pernah dimuat di minimal 3 media massa atau pernah ikut dalam antologi yang diadakan Shell-Jagat Tempurung.

2. Buku yang akan diterbitkan merupakan antologi cerpen/puisi/novel (dan lain-lain; lihat kategori di website).
3. Jumlah halaman antara 100 - 150 halaman.
4. Sudah lengkap dengan kata pengantar, endorsment, (atau berikut cover, layout kalau ada dalam format PDF). Naskah diketik 1,5 spasi, A4, font Calibri 12 point, margin kri kanan atas bawah 3 cm.
5. ISBN diurus oleh penerbit, gratis.
6. Buku dijual secara online di root website www.buku.minangkabauonline.com
7. Buku juga dapat dijual di toko buku tempat penulis berada (dibicarakan kemudian)
8. Penulis tidak mendapatkan nomor bukti terbit.
9. Sesuai program ini (arisan buku, untuk menyebarluaskan buku puisi/cerpen/novel) penulis yang berminat diterbitkan bukunya harus membeli 1 (satu) saja buku peserta program arisan buku ini yang sudah terbit.
10. Bersama naskah yang dikirimkan, sertakan bukti pembelian buku peserta tersebut.
11. Naskah dikirimkan ke poetry@minangkabauonline.com
12. Untuk penerbitan pertama (setelah terbit buku "poetry poetry from 200 indonesian poets") penerbit membuka kesempatan kepada 10 penulis yang akan dipajang bukunya di root website yang sudah diluncurkan.
13. 10 penulis pertama cukup memenuhi ketentuan 1 s.d. 4.
14. Naskah diterima paling lambat 5 Agustus 2012 untuk 10 penulis pertama dan tanpa batas deadline untuk buku selanjutnya.
15. Penerbit berhak menolak menerbitkan buku penulis jika tidak memenuhi salah satu ketentuan di poin 1.
17. Ukuran buku 16 x 21 cm (hardcover, full color)
18. Royalty 30% untuk penjualan di toko online (www.buku.minangkabauonline.com) dan 10% penjualan di toko buku.
19. Untuk naskah novel, harus disertakan sinopsis lengkap dan minimal 3 chapter pertama.
20. Penerbit tidak menyediakan fasilitas editing. Naskah yang disarankan harus melewati editing ulang, penulis harus mencari sendiri jasa editing di luar penerbit Shell.

Ttd.
Shell-Jagat Tempurung
Yunizar Nassyam
.
Selengkapnya: Penerbitan Buku Gratis

Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat) by Aida Vyasa

Tuesday, 16 October 2012

"Taman Sunyi Sekala" ini berisi sebuah renungan spiritual perjalanan hidup seorang anak manusia. Dalam kesejatian ciptaan Rabb semesta sekalian alam bernama manusia, maka sesungguhnya ia tidaklah butuh nama. Dalam konteks ini maka benarlah lontaran " What's the name", apalah artinya sebuah nama. Jiwa menjadi lebih penting disini, teramat penting.

Dan dimana-mana jiwa memiliki nama yang sama, yaitu : noname alias tak bernama. Orang-orang saja yang kemudian memberinya nama : ruh.

Novel ini, yang sama sekali tak mirip Novel, sebenarnya hendak berkata bahwa kita adalah apa yang kita baca, kita serap, kita tulis, kita alami, kita saksikan, dan kita cintai. Bahwa kehidupan kekinian ternyata selalu tak bisa melepaskan diri dari kehidupan masa lalu. Sebuah 'blink' yang didapat di masa kecil melalui semacam Laura Ingals dalam "Little House on the Prairie" ternyata masih saja menjadi sebuah 'blink' dalam wujud lain di kehidupan kini bahkan juga diyakini di kehidupan masa datang.

Sebuah inspirasi kebajikan tidak akan pernah mati. Boleh saja "The good always die young", bahwa pahlawan selalu mati muda, tapi "the goodness" atau "the kindness" itu sendiri bersifat abadi dan tak pernah mati. Al-Quran sendiri mengabadikannya, saat memberi jaminan kepada orang-orang hidup yang ditinggal mati para syuhadah (the good) dengan mengatakan "janganlah mengira mereka mati? tidak! bahkan mereka itu hidup" (QS. Ali Imran:169)

Maka, beruntunglah anak-anak pada masa kini, yang memiliki (to belong) orang tua, guru, atau orang dewasa yang pernah hidup di masa lalu, dan menyadari hakikat kehidupan di masa sebelumnya adalah semata agar masa kini lebih baik. Sebab, banyak pula anak-anak yang berada di tengah-tengah orang dewasa ( to have), tapi tak banyak merasakan apa arti kedewasaan, karena mereka yang dewasa rupanya hanyalah 'anak-anak yang terkurung dalam tubuh dewasa'.

Beruntunglah anak-anak itu, yang disodori  buku-buku dan bacaan sarat inspirasi, meski inspirasi itu baru bisa termaknai jauh tahunan ke depan. Beruntunglah juga anak-anak yang di beri kesempatan mengakses tontonan (akui saja dengan lapang dada) TV dan film yang membasuh jiwa, pun juga tontonan yang mengotori jiwa. Sebab yang 'kotor-kotor'itu sejatinya akan menguatkan kekuatan pembasuhan.

Dan pihak yang bertanggungjawab dibalik semua itu adalah : kata (word). Dalam segala rupa kata, ia adalah dalang di segenap peradaban dan pemikiran dunia. Buku yang ditulis, komik yang digambar, koran yang diterbitkan, film yang diproduksi, iklan yang menipu, juga lirik dalam lagu bahkan rupa murni dalam kanvas, semuanya melahirkan kata. Kata adalah sumber kesejahteraan dan kata adalah sumber penderitaan. Selama kata itu ada, selama itu pula perang dan perpecahan antar manusia akan ada. Pula, selama kata itu ada kedamaian akan tercipta. Tak diragukan lagi, The word is the  world's soulmate.

***
Yang menarik buatku adalah, sepertinya buku ini mewakili kesunyian tamanku juga, meski tak simetris dan kongruen. Kaernanya, seperti kataku pada BU Pratmi, aku mau menjadi teman setianya, jika ia di sini. ^_^

Tapi setidaknya, aku tahu, Sekala ini adalah seorang perempuan, dua tahun lebih muda dariku, banyak menghabiskan umurnya di JOgja, pernah belajar Psikologi, dan yang terpenting pernah atau masih berinteraksi dalam dunia pergerakan Islam. Sudah pasti ia mahkluk asing dalam jagat 'bumi'. Dan taman sunyinya itu, bisa dipastikan pula tak bertaburan bunga-bunga dan kupu-kupu.

Sumber http://www.doniriadi.com/2009/03/membaca-taman-sunyi-sekala.html

Quote tentang seni dan seniman disini
Selengkapnya: Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat) by Aida Vyasa

Meraup Uang dari Menulis Artikel

Sunday, 14 October 2012

I Ketut Suweca

Judul Buku : Menguangkan Ide: Kaya dengan Menulis Artikel
Penulis       : Sudaryanto
Penerbit     : Leutika, Yogyakarta
Cetakan     : Pertama, Maret, 2010.
Tebal         : xiii + 154 hal.

Belakangan ini kegairahan para calon penulis dan penulis pemula untuk menekuni bidang tulis-menulis kian besar saja. Itulah sebabnya mengapa buku-buku yang bertema teori menulis/mengarang semakin laris di pasaran. Daya tarik itu muncul disebabkan oleh sejumlah faktor, diantaranya, lantaran dengan menulis di media massa seseorang dapat memperoleh kepuasan rohani, popularitas, dan imbalan uang.

Sudaryanto, melalui buku ini bertutur banyak seputar dunia tulis-menulis. Ia yakinkan pembaca, bahwa semua orang bisa menjadi penulis asalkan memiliki kemauan dan keuletan merealisasikan niatnya. Sudaryanto juga memaparkan tentang pengertian artikel, karakteristik, syarat-syarat untuk menjadi penulis artikel, dan cara pintar menulis artikel. Dijelaskan pula tentang peluang dan hambatan menulis artikel guna memberikan pemahaman kepada mereka yang tertarik menekuni dunia penulisan untuk membuat artikel yang berbobot dan layak muat di media massa.

Ditegaskannya, pekerjaan menulis itu tak hanya untuk mereka yang berbakat menulis. Setiap orang berpotensi menjadi penulis asalkan dia memiliki niat dan kemauan keras dan bersedia pula bertekun menulis setiap harinya. Bakat hanya berperan 10 persen dalam menentukan kesuksesan, sisanya, 90 persen adalah kerja keras. Oleh karena itu, jangan terlalu mempedulikan bakat. Karena, latihan menulis yang berkesinambunganlah yang akan mengantarkan seseorang menjadi penulis handal. Tanpa berlatih menulis secara kontinyu mustahil seseorang menjadi penulis kendati pun dia adalah keturunan penulis terkenal. 


Sudaryanto menyebut artikel sebagai jenis karya tulis yang dipublikasikan di surat kabar atau majalah (baca: media massa). Artikel, sebagaimana dikatakan penulis buku ini, dapat digunakan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur publik. Tidak salah jika ada orang yang menganggap artikel sama dengan opini di surat kabar. Alasannya, kedua-duanya bersifat aktual, karena isunya diangkat dari persoalan dalam masyarakat/publik.

Dengan mengutip Sumadaria (2004), dikatakan bahwa ada lima syarat untuk dapat menjadi penulis artikel. Kelima syarat itu, yakni (a) kemampual teknikal, (b) mental, (c) reading habit, (d) intelektual, dan (e) sosiokultural. Kemampuan teknikal dimaksudkan adalah kemampuan menggunakan alat teknologi, seperti komputer, laptop, notebook, atau e-mail (surat elektronik). Kemampuan ini menjadi penting, karena belakangan ini semua media massa mensyaratkan pengiriman artikel melalui e-mail. Kemampuan mental merujuk pada tekad, semangat, dan kemauan keras untuk terus belajar disertai sikap pantang menyerah (hal. 36). 

Kebiasaan membaca (reading habit) adalah persyaratan mutlak bagi seorang penulis. Tanpa kebiasaan membaca, niscaya seorang penulis akan mentok karier penulisannya. Membaca harus sudah menjadi menu harian seperti halnya makan dan minum. Oleh karena itu, calon penulis atau penulis pemula mesti rajin meluangkan waktu untuk membaca beragam referensi: koran, majalah, buku dan jurnal, dan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Dengan kata lain, ia harus senantiasa mengisi amunisi pengetahuannya sebelum membidik para calon pembaca melalui artikel-artikelnya. 

Kemampuan intelektual dimaksudkan sebagai kemampuan menyajikan tulisan yang tersusun secara logis, sistematis, dan analitis. Disertakan pula referensi yang sifatnya aktual dan relevan. Karena, pada hakekatnya, menulis merupakan kegaiatan kreatif berbasiskan intelektualitas. Selanjutnya, kemampuan sosiokultural dimaknai sebagai kemampuan penulis untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial. Dari lingkungan sosial itu, melalui diskusi-diskusi formal dan informal, seorang penulis akan memperoleh ide-ide cemerlang sebagai bahan tulisan. 

Berbicara tentang syarat-syarat pengiriman artikel, penulis buku ini menyebutkan 8 syarat. Dari ke delapan syarat itu, dua diantaranya sangat penting. Pertama, topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang sifatnya aktual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat. Kedua, artikel yang ditulis haruslah mengandung hal-hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain (hal. 45). Dianjurkan pula agar sebelum mengirimkan tulisan ke media massa, penulis melakukan pengeditan (editing) terhadap naskahnya. Redaksi media tak akan bersedia memuat artikel ‘asal jadi’. Bisa jadi, sebelum dibaca seluruhnya, tulisan itu akan dibuang ke bak sampah alias ditolak. 

Di samping membeberkan tentang cara menulis artikel yang sifatnya teknis, Sudaryanto mengetengahkan mengenai peluang dan hambatan menulis artikel. Yang dimaksudkan sebagai peluang adalah peluang menulis di surat kabar dan majalah. Kalau seorang penulis handal pintar menangkap peluang itu, bukan mustahil ia akan menembus income Rp.2,5 juta per bulan, bahkan lebih. Itu kalau ia berhasil menembus koran nasional dengan 5 tulisan saja setiap bulannya (rata-rata per artikel dibayar Rp.500 ribu). Cukup menarik, bukan? 

Kendati peluang demikian terbuka untuk menulis di media massa, toh masih banyak penulis yang mengalami hambatan dalam karier penulisannya. Sebutlah misalnya, ia malas membaca, malas pula belajar menulis, serta tidak peka terhadap isu-isu terkini. Di samping itu, ketatnya persaingan menembus media massa dan ketidakmampuan melihat karakter, visi, dan misi media, juga bisa menjadi hambatan. Hanya penulis yang punya niat kuat dan bersedia bertekun di bidang tulis-menulis tanpa pernah putus asa yang akan berhasil menjadi penulis sukses. 

Buku bercover dasar kuning dengan gambar lembaran-lembaran uang seratus ribuan rupiah dan setumpuk koran ini memang layak dibaca, terutama oleh mereka yang bercita-cita menjadi penulis atau penulis pemula. Bahasanya sederhana dan mengalir sehingga mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai latar belakang pendidikan. Yang membuat buku ini berbeda diantara buku-buku sejenis adalah daya gugahnya yang besar. Setelah seseorang membacanya, besar kemungkinan dia akan semakin bergairah menjadi penulis. Belum lagi bonus yang dilampirkan pada bagian akhir buku ini yang berisi daftar alamat surat kabar dan majalah, contoh penulisan surat pengantar artikel, dan hari-hari penting internasional dan nasional. (*)



Selengkapnya: Meraup Uang dari Menulis Artikel

Rindu Tak Bertepi (Seri Dokumentasi Sastra Antologi Puisi Pendhapa 14, Taman Budaya Jawa Tengah, 21 April 2012)

Tuesday, 24 April 2012

: Murtidjono

/1/
dipelupuk pantaimu mengalir rindu
sampai ke hati
berpasir mutiara berkilaukilau
menghujam hasrat seteguk mimpi

sepasang senyum berpaut ke hulu
menyampaikan kegelisahan yang tertahan
sepasang angsa berpagutan berputarputar di danau
menyulam rindu yang berkesudahan

/2/
sepucuk sunyi
di beranda hati
memungut sisa rindu
yang hitam sehitam kopi

terlukis seraut wajahmu
geletar rindu di dada ini
sampai dikedalaman matamu
dimalam begini kabut mencabuti poripori

begitu gigil rindu tak bertepi
 
/3/
mengental rindu
untuk sepucuk senja yang selalu kunanti
nyanyiannyanyian merdu dari hati
segenap persembahan puisi dan tari
adalah refleksi diri
atas kegelisahan dan kepuasan batin
o, aku berdiri diatas matahari
seorang berkata lantang sambil memegang kertas bertulis penderitaan

musim telah beralih
ini rindu semakin mengikat diri
dan namamu terpaut dalam mimpimimpi sunyi
di dinding sanubari

Jakal KM 14 Jogja, 26 Februari 2012

Selengkapnya: Rindu Tak Bertepi (Seri Dokumentasi Sastra Antologi Puisi Pendhapa 14, Taman Budaya Jawa Tengah, 21 April 2012)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas