Twitter + Facebook
Ruang Arsip
-
▼
2015
(26)
- April 2015 (6)
- March 2015 (8)
- February 2015 (8)
- January 2015 (4)
-
►
2014
(93)
- December 2014 (2)
- October 2014 (4)
- September 2014 (1)
- August 2014 (6)
- July 2014 (9)
- June 2014 (7)
- May 2014 (4)
- April 2014 (15)
- March 2014 (6)
- February 2014 (13)
- January 2014 (26)
-
►
2013
(126)
- December 2013 (8)
- November 2013 (4)
- October 2013 (11)
- September 2013 (7)
- August 2013 (6)
- July 2013 (12)
- June 2013 (32)
- May 2013 (19)
- April 2013 (2)
- March 2013 (13)
- February 2013 (4)
- January 2013 (8)
-
►
2012
(294)
- December 2012 (18)
- November 2012 (48)
- October 2012 (117)
- September 2012 (2)
- August 2012 (1)
- July 2012 (1)
- June 2012 (3)
- May 2012 (5)
- April 2012 (42)
- March 2012 (24)
- February 2012 (5)
- January 2012 (28)
-
►
2011
(18)
- December 2011 (5)
- November 2011 (2)
- October 2011 (7)
- September 2011 (2)
- May 2011 (2)
-
►
2010
(2)
- October 2010 (2)
-
►
2009
(9)
- December 2009 (1)
- May 2009 (1)
- March 2009 (5)
- January 2009 (2)
-
►
2008
(5)
- September 2008 (1)
- August 2008 (2)
- February 2008 (2)
-
►
2007
(4)
- December 2007 (4)
Ruang Sunyi
Ruang Pengunjung
Translate
Sesuatu yang Harus Disadari oleh Penerbit dan Penulis Indonesia
Thursday, 16 January 2014Diposkan oleh Unknown di 1/16/2014 03:13:00 pm 0 Komentar
Label buku, penerbitan
Tiga Puisiku dalam Antologi bersama 85 Penyair Indonesia "Puisi Menolak Korupsi" (Forum Sastra Surakarta, 18 Mei 2013)
Tuesday, 21 May 2013
Hukum Tak Tegak
katakan padanya apa adanya dan ada apanya
tentang apa yang terjadi
menjungkal akal di kepala
meredam sesal di pembaringan
tak ada yang peduli nanti ketika kau mati
ah, hanya meracuni pikir saja
berlalu tanpa kepedulian
tingkah meningkah kebohongan dan konspirasi
demi menyelamatkan ambisi
hukum tak tegak siapa peduli
setiap bikin hukum baru cepat pula basi
mana yang salah mana yang benar
hukum tak tegak salah siapa
berorasi dan beretorika semakin elegan
terselubung tujuan dengan mengorbankan kawan maupun lawan
bersusah payah melawan lupa, melawan ambisi setan kalian
katakan sajalah padanya apa adanya dan ada apanya
tak usah sembunyikan tingkah polah
bukankah bangkai akan tercium juga?
ah, aku malas melihat wajah kalian para keparat
hanya membodohi kami
hanya membohongi kami
hanya menipu kami
anak cucu menanggung segala akibat
ah, kalian ini bermain pintarnya
do'a kami menjadi laknat
Karanganyar-Solo, 26 April 2008
Dunia yang Lekang
dongeng satu malam tentang diskriminasi moral
anomali kekalahan meniti waktu
persekongkolan dan permainan akal
inti sari agama menu sayur mayur beku
mata melepas kesadaran dengan akal yang bertolak belakang
antara fungsi yang sudah terkontaminasi
terus meresap dan tumbuh di seantero negeri
agama adalah ladang permainan yang tak terkendali
air hujan berjatuhan menghitung kenakalan birokrasi
ilmu kalkulasi dan manajemen uang panas yang rumit untuk dibicarakan rakyat kecil
mengumpulkan pundi-pundi keringat rakyat di kantong tebal dalam kotak besi
-kedangkalan otak dan sejuta ambisi
zaman sudah lekang
urusan dunia sudah menjadi urgent
nafsu dan uang adalah senjata utama
gemuruh petir menyambar kepala
berita korupsi lagi
aku melihat dengan mata kepala: saksi bisu tetapi!
laga panggung negara ini hanyalah sandiwara-sandiwara glamour menyusun rencana
undang-undang, pasal-pasal atau hukum agama sebagai topeng untuk menutupi keserakahan manusia sendiri
"dasar manusia cerdik!"
Karanganyar-Solo, 13 Desember 2005
Cukup Tuan Sandiwara Itu
luka negeri yang kian lebar dan mengkhawatirkan
merobek lagi sayatan pada penderitaan
adakah obat yang terbaik dan mujarab untuk menghentikannya
kami adalah generasi patah tersebab limbungnya moral
sekelumit do'a menyertai kalian
ambisi pribadi dan sekelompok golongan
lupakan segera Tuan
mari Tuan bangun negeri kembali
ini adalah rumah besar peninggalan Ibu Bapak kita Tuan
lupakah Tuan dengan Ibu dan Bapak kita?
lupakah Tuan kemana laju pikiran mereka?
luka negeri yang dalam dan diwariskan
cukup Tuan sandiwara itu
mengambil uang rakyat itu sungguh biadab Tuan
adakah obat yang terbaik dan mujarab untuk menghentikannya
Karanganyar-Solo, 07 Maret 2009
* Daftar para penyair yang puisinya masuk.
Diposkan oleh Unknown di 5/21/2013 01:23:00 am 0 Komentar
Label antologi puisi bersama, buku, publikasi, puisi menolak korupsi
Road Show I: Antologi Puisi Penyair Indonesia "Puisi Menolak Korupsi" | Komplek Makam Bung Karno Blitar, 18 Mei 2013
Wednesday, 8 May 2013
![]() |
| Kompleks Makam Bung Karno sebagai tempat pertama road show. Selanjutnya ke berbagai daerah di Indonesia. #project dari Sosiawan Leak |
PUISI MENOLAK KORUPSI
Sumber grup Fb Puisi Menolak Korupsi
Update! (16 Mei 2013)
Salam,
Kawan-kawan, menggenapi agenda Gerakan PUISI MENOLAK KORUPSI, kami mengundang Anda hadir pada acara Road Show I, Puisi Menolak Korupsi besok :
Sabtu, 18 Mei 2013
Pkl 19.00 WIB sampai selesai
Di Ampiteater Kompleks Makam Bung Karno
Jl. Kalasan, Kal. Bendogerit, Kec. Sananwetan, Kota Blitar
Acara
1. Rampak Kendang “Palah Panil 54” Percussion
2. Launching Antologi Puisi Menolak Korupsi (85 Penyair Indonesia)
3. Panembrama macapat "Abdiningsun"
4. Parade Baca Puisi Penyair Indonesia
5. Pentas Tari Eka Pradhaning (Magelang), & Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)
6. Diskusi Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta) & Dr. Sholeh Muadi (Blitar)
7. Tabur Bunga & Doa di Makam Bung Karno
Meski bersifat nirlaba dan mandiri, namun penyelenggara menyediakan fasilitas,
1. Mobil jemputan dalam kota 2 unit
2. Dapur Umum Seniman.
3. Transit di Rumah Sdr. Bagus Putuparto dan Galery Mas Liek.
Selanjutnya, silahkan konfirmasi Andrias Edison, & Leak Sosiawan. Terima kasih.
Salam hangat, doa kuat!
Sosiawan Leak
(Koordinator)
Sumber facebook Sosiawan Leak
PENYAIR PENDUKUNG
1. Abdurrahman El Husaini (Martapura, Kalimantan)
2. Acep Syahril (Indramayu)
3. Agus R Sardjono (Jakarta)
4. Agus Sri Danardana (Pekanbaru)
5. Ahmad Daladi (Magelang)
6. Ahmadun Y Herfanda (Jakarta)
7. Akaha Taufan Aminudin (Batu, Malang)
8. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
9. Aloysius Slamet Widodo (Jakarta)
10. Aming Aminuddin (Surabaya)
11. Andreas Kristoko (Yogja)
12. Andrias Edison (Blitar)
13. Andrik Purwasito (Solo)
14. Anggoro Suprapto (Semarang)
15. Ardi Susanti (Tulungagung)
16. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
17. Asyari Muhammad (Jepara)
18. Ayu Cipta (Tangerang)
19. Bagus Putu Parto (Blitar)
20. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
21. Bambang Supranoto (Cepu)
22. Bambang Widiatmoko (Bekasi)
23. Beni Setia (Caruban)
24. Brigita Neny Anggraeni (Semarang)
25. Bontot Sukandar (Tegal)
26. Budhi Setyawan (Bekasi)
27. Dedet Setiadi (Magelang)
28. Denni Meilizon (Padang)
29. Dharmadi (Purwokerto)
30. Didid Endro S (Jepara)
31. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
32. Dona Anovita (Surabaya)
33. Dwi Ery Santosa (Tegal)
34. Dyah Setyawati (Tegal)
35. Eka Pradhaning (Magelang)
36. Ekohm Abiyasa (Solo)
37. Eko Widianto (Jepara)
38. Endang Setiyaningsih (Bogor)
39. Endang Supriyadi (Depok)
40. Gunawan Tri Admojo (Solo)
41. Handry Tm (Semarang)
42. Hardho Sayoko Spb (Ngawi)
43. Heru Mugiarso (Semarang)
44. Hilda Rumambi (Palu)
45. Irma Yuliana (Kudusan, Jawa Tengah)
46. Isbedy Stiawan ZS (Lampung)
47. Jamal D Rahman (Jakarta)
48. Jhon F.S. Pane (Kotabaru)
49. Jumari HS (Kudus)
50. Kidung Purnama (Ciamis, Jawa Barat)
51. Kun Cahyono Ps (Wonosobo)
52. Kuspriyanto Namma (Ngawi)
53. Lailatul Kiptiyah (Blitar)
54. Lennon Machali (Gresik)
55. Lukni Maulana (Semarang)
56. M. Enthieh Mudakir (Tegal)
57. Mubaqi Abdullah (Semarang)
58. Najibul Mahbub (Pekalongan)
59. Nurngudiono (Tegal)
60. Oscar Amran (Bogor)
61. Puji Pistols (Pati)
62. Puput Amiranti (Blitar)
63. Puspita Ann (Solo)
64. Radar Panca Dahana (Jakarta)
65. Ribut Achwandi (Pekalongan)
66. Ribut Basuki (Surabaya)
67. Rohmat Djoko Prakosa (Surabaya)
68. Saiful Bahri (Aceh)
69. Sudarmono/ Mas Mono (Bekasi)
70. Sulis Bambang (Semarang)
71. Sumasno Hadi/ Masno Sumasno (Banjarmasin)
72. Surya Hardi (Pekanbaru)
73. Sus S Hardjono (Sragen)
74. Suyitna Ethex/ Syt Ethex (Mojokerto)
75. Syam Chandra (Yogyakarta)
76. Syarifuddin Arifin (Padang)
77. Thomas Budi Santosa (Kudus)
78. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
79. Tri Lara Prasetya Rina (Bali)
80. Udik Agus Dw (Jepara)
81. W. Haryanto (Blitar)
82. Wardjito Soeharso (Semarang)
83. Yudhie Yarco (Jepara)
84. Zainul Walid (Situbondo)
85. Sosiawan Leak (Solo)
Info berita:
http://www.timlo.net/baca/71467/penyair-indonesia-rame-rame-tolak-korupsi-dengan-puisi/
http://joglosemar.co/2013/05/leak-lauching-puisi-menolak-korupsi.html?fb_source=pubv1
http://hiburan.berita21.com/2013/tak-berkategori/gerakan-puisi-menolak-korupsi.html
http://m.obyektif.com/sastrabudaya/read/mengadu_pada_proklamator_korupsi_merajalela___/
Foto-foto launching di sini
Puisi-puisiku yang masuk: http://serampaikata.blogspot.com/2013/05/tida-puisiku-dalam-antologi-puisi.html
Diposkan oleh Unknown di 5/08/2013 03:39:00 am 0 Komentar
Label antologi puisi bersama, buku, info even sastra, puisi menolak korupsi
Puisi-puisi Ekohm Abiyasa yang Termaktub dalam Buku Antologi Bersama
Diposkan oleh Unknown di 5/08/2013 03:02:00 am 0 Komentar
Label antologi puisi bersama, buku, publikasi
World Book Night: Alasan Sepuluh Penulis untuk Membaca Buku
Wednesday, 24 April 2013
Oleh: A.S. Laksana
• “Buku yang bagus akan memberimu banyak pengalaman, dan sedikit saja kelelahan di saat akhir. Kau menjalani beberapa kehidupan saat membaca.”
William Styron
• “Dalam peradaban tertinggi, buku tetaplah puncak kegembiraan. Orang yang tahu seberapa besar kepuasan yang didapatkannya dari buku-buku, akan memiliki sumberdaya untuk menghadapi malapetaka."
Ralph Waldo Emerson
• “Ada beberapa tindakan yang lebih jahat ketimbang membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.”
Joseph Brodsky
• “Memiliki kebiasaan membaca adalah membangun sendiri tempat berlindung dari hampir seluruh penderitaan hidup.”
W. Somerset Maugham
• “Setiap orang yang tahu cara membaca memiliki kekuatan untuk memperbesar dirinya, melipatgandakan jalan bagi keberadaannya, dan membuat kehidupannya utuh, signifikan, dan menarik."
Aldous Huxley
• “Membaca buku tak ubahnya dengan tindakan menulis ulang buku itu bagi diri sendiri. Kau mengusung ke dalam sebuah novel, apa pun novel yang kaubaca, semua pengalaman hidupmu. Kau mengusung sejarahmu dan kau membacanya dalam konteksmu sendiri.”
Angela Carter
• “Yang terkasih sepanjang waktu, kawan paling kokoh bagi jiwa—BUKU.”
Emily Dickinson
• “Kita tidak memerlukan daftar benar dan salah, tabel tentang apa yang boleh dan yang terlarang: kita membutuhkan buku-buku, waktu, dan kesunyian. Perintah dan larangan akan segera dilupakan, tetapi cerita akan bertahan selamanya.”
Philip Pullman
• “Membaca adalah satu-satunya cara di mana kita bisa tergelincir, tanpa sadar, dan sering tak berdaya, ke dalam kulit orang lain, suara orang lain, jiwa orang lain."
Joyce Carol Oates
• “Saya pikir kita hanya perlu membaca jenis-jenis buku yang sanggup melukai atau menusuk kita. Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca? Bukankah dengan demikian kita akan bahagia, manakala kau menulis? Demi Tuhan, kita akan sangat bahagia jika tidak punya buku, dan jenis buku yang membuat kita bahagia adalah yang kita tulis sendiri jika diperlukan. Tapi kita memerlukan buku-buku yang mempengaruhi kita seperti bencana, yang memberi kita kesedihan mendalam, seperti kematian seseorang yang kita cintai melebihi cinta kita pada diri sendiri, seperti dicampakkan ke dalam hutan jauh dari siapa pun, seperti tindakan bunuh diri. Sebuah buku semestinya menjadi kapak bagi laut beku di dalam diri kita. Itulah keyakinan saya.”
Franz Kafka
Ini adalah beberapa kutipan favorit kami tentang suka dan duka membaca. Sila menambahkan sendiri. [*]
(Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari artikel The Guardian "World Book Night: Ten writers' reasons for reading", untuk memperingati Hari Buku, tanggal 23 April 2013)
link http://as-laksana.blogspot.com/2013/04/world-book-night-alasan-sepuluh-penulis.html
Diposkan oleh Unknown di 4/24/2013 04:14:00 pm 0 Komentar
Label buku
Novel Robinson Crusoe, Petualangan yang Mengagumkan
Monday, 17 December 2012
Judul : Robinson Crusoe
Penulis : Daniel Defoe
Penerbit : Bentang Pustaka
Halaman : 386 Halaman
Yang pertama kulakukan adalah melihat-lihat dulu tempat itu dari dekat dan mencari tempat untuk mendirikan rumah. Aku tak tau dimana aku berada. Juga tak tau apakah ini sebuah pulau atau benua, apakah berpenghuni atau kosong.
Robinson Crusoe, seorang pemuda yang berasal dari keluarga kaya berkebangsaan Inggris. Ayahnya seorang pedagang yang sukses dan berharap sang anak menjadi seorang ahli hukum kelak. Namun bukan impian seorang Robinson untuk hidup nyaman dengan hartanya, ia lebih memilih menjadi seorang pelaut. Crusoe kabur dari rumah hanya untuk menemui bencana. Kapal yang dibajak, menjadi budak, hingga kapal yang karam dihantam badai.
Sampai pada akhirnya Crusoe terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni. Di pulau tersebut, dia mempelajari semuanya dari awal dengan peralatan seadanya. Peralatan itu dia dapatkan dari kapalnya yang hampir karam tak jauh dari pulau itu. Dari mulai membuat rumah, perkakas dapur, menumbuhkan padi dan gandum, membuat kapal, menjinakkan binatang hingga beternak. Robinson melanjutkan hidup dan belajar dengan keterbatasan. Tak ada teknologi dan komunikasi dengan sesama manusia. Sempat ia menyalahkan takdir dan menyesal, namun itu tidak melunturkan semangat hidupnya. Dalam kesendiriannya, Crusoe justru menjadi lebih dekat dengan Tuhan, lebih mensyukuri hidup dengan segala sesuatu yang dimilikinya.
Crusoe memutuskan kembali berlayar ke Inggris setelah menghuni pulau itu selama 28 tahun 2 bulan dan 19 hari. Bukan waktu yang singkat. Bagaimana dia bisa kembali ke Inggris? Dan bagaimana kehidupannya setelah sekian lama tidak bersosialisasi dengan manusia? Silahkan baca ya.
Saya suka buku sejenis ini, sebuah novel petualangan. Hampir sebagian besar cerita ini berseting di pulau terpencil itu. Daniel Defoe menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga saya seperti membaca sebuah diary seoarang petualang. Sangat detil dalam menjelaskan perasaan dan pekerjaan yang dilakukan. Jujur saja, novel ini membosankan pada awalnya. Namun menjadi seru setelah Crusoe terdampar dan petualangan yang sebenarnya dimulai. Novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1719 dan mengambil latar waktu tahun 1651 sampai 1687. Novel yang terasa klasik namun masih bisa dinikmati di abad 21 sekarang ini.
Rate 3/5
Sinopsis lainnya http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/4350/robinson-crusoe.html
Link lain http://en.wikipedia.org/wiki/Robinson_Crusoe
Film http://files.indowebster.com/download/files/robinson_crusoe_1
Novel sub English http://www.planetpdf.com/planetpdf/pdfs/free_ebooks/robinson_crusoe_bt.pdf
Diposkan oleh Unknown di 12/17/2012 02:31:00 am 0 Komentar
Label buku, buku favorit, download, novel, resensi buku
Trik Jitu Meresensi Buku
Sunday, 25 November 2012
Sumber http://blogjpin.wordpress.com/2012/10/31/trik-jitu-meresensi-buku/
Diposkan oleh Unknown di 11/25/2012 09:12:00 pm 0 Komentar
Label buku, tips penulisan
Penerbitan Buku Gratis
Friday, 9 November 2012
Persyaratan:
1. Penulis sudah pernah menerbitkan karyanya dalam bentuk buku baik antologi bersama maupun tunggal dengan penerbit yang cukup kompeten, atau pernah dimuat di minimal 3 media massa atau pernah ikut dalam antologi yang diadakan Shell-Jagat Tempurung.
3. Jumlah halaman antara 100 - 150 halaman.
4. Sudah lengkap dengan kata pengantar, endorsment, (atau berikut cover, layout kalau ada dalam format PDF). Naskah diketik 1,5 spasi, A4, font Calibri 12 point, margin kri kanan atas bawah 3 cm.
5. ISBN diurus oleh penerbit, gratis.
6. Buku dijual secara online di root website www.buku.minangkabauonline
7. Buku juga dapat dijual di toko buku tempat penulis berada (dibicarakan kemudian)
8. Penulis tidak mendapatkan nomor bukti terbit.
9. Sesuai program ini (arisan buku, untuk menyebarluaskan buku puisi/cerpen/novel) penulis yang berminat diterbitkan bukunya harus membeli 1 (satu) saja buku peserta program arisan buku ini yang sudah terbit.
10. Bersama naskah yang dikirimkan, sertakan bukti pembelian buku peserta tersebut.
11. Naskah dikirimkan ke poetry@minangkabauonline.c
12. Untuk penerbitan pertama (setelah terbit buku "poetry poetry from 200 indonesian poets") penerbit membuka kesempatan kepada 10 penulis yang akan dipajang bukunya di root website yang sudah diluncurkan.
13. 10 penulis pertama cukup memenuhi ketentuan 1 s.d. 4.
14. Naskah diterima paling lambat 5 Agustus 2012 untuk 10 penulis pertama dan tanpa batas deadline untuk buku selanjutnya.
15. Penerbit berhak menolak menerbitkan buku penulis jika tidak memenuhi salah satu ketentuan di poin 1.
17. Ukuran buku 16 x 21 cm (hardcover, full color)
18. Royalty 30% untuk penjualan di toko online (www.buku.minangkabauonline
19. Untuk naskah novel, harus disertakan sinopsis lengkap dan minimal 3 chapter pertama.
20. Penerbit tidak menyediakan fasilitas editing. Naskah yang disarankan harus melewati editing ulang, penulis harus mencari sendiri jasa editing di luar penerbit Shell.
Ttd.
Shell-Jagat Tempurung
Yunizar Nassyam
Diposkan oleh Unknown di 11/09/2012 07:40:00 pm 0 Komentar
Label buku, penerbitan
Taman Sunyi Sekala (Novel Filsafat) by Aida Vyasa
Tuesday, 16 October 2012
Dan dimana-mana jiwa memiliki nama yang sama, yaitu : noname alias tak bernama. Orang-orang saja yang kemudian memberinya nama : ruh.
Novel ini, yang sama sekali tak mirip Novel, sebenarnya hendak berkata bahwa kita adalah apa yang kita baca, kita serap, kita tulis, kita alami, kita saksikan, dan kita cintai. Bahwa kehidupan kekinian ternyata selalu tak bisa melepaskan diri dari kehidupan masa lalu. Sebuah 'blink' yang didapat di masa kecil melalui semacam Laura Ingals dalam "Little House on the Prairie" ternyata masih saja menjadi sebuah 'blink' dalam wujud lain di kehidupan kini bahkan juga diyakini di kehidupan masa datang.
Sebuah inspirasi kebajikan tidak akan pernah mati. Boleh saja "The good always die young", bahwa pahlawan selalu mati muda, tapi "the goodness" atau "the kindness" itu sendiri bersifat abadi dan tak pernah mati. Al-Quran sendiri mengabadikannya, saat memberi jaminan kepada orang-orang hidup yang ditinggal mati para syuhadah (the good) dengan mengatakan "janganlah mengira mereka mati? tidak! bahkan mereka itu hidup" (QS. Ali Imran:169)
Maka, beruntunglah anak-anak pada masa kini, yang memiliki (to belong) orang tua, guru, atau orang dewasa yang pernah hidup di masa lalu, dan menyadari hakikat kehidupan di masa sebelumnya adalah semata agar masa kini lebih baik. Sebab, banyak pula anak-anak yang berada di tengah-tengah orang dewasa ( to have), tapi tak banyak merasakan apa arti kedewasaan, karena mereka yang dewasa rupanya hanyalah 'anak-anak yang terkurung dalam tubuh dewasa'.
Beruntunglah anak-anak itu, yang disodori buku-buku dan bacaan sarat inspirasi, meski inspirasi itu baru bisa termaknai jauh tahunan ke depan. Beruntunglah juga anak-anak yang di beri kesempatan mengakses tontonan (akui saja dengan lapang dada) TV dan film yang membasuh jiwa, pun juga tontonan yang mengotori jiwa. Sebab yang 'kotor-kotor'itu sejatinya akan menguatkan kekuatan pembasuhan.
Dan pihak yang bertanggungjawab dibalik semua itu adalah : kata (word). Dalam segala rupa kata, ia adalah dalang di segenap peradaban dan pemikiran dunia. Buku yang ditulis, komik yang digambar, koran yang diterbitkan, film yang diproduksi, iklan yang menipu, juga lirik dalam lagu bahkan rupa murni dalam kanvas, semuanya melahirkan kata. Kata adalah sumber kesejahteraan dan kata adalah sumber penderitaan. Selama kata itu ada, selama itu pula perang dan perpecahan antar manusia akan ada. Pula, selama kata itu ada kedamaian akan tercipta. Tak diragukan lagi, The word is the world's soulmate.
***
Tapi setidaknya, aku tahu, Sekala ini adalah seorang perempuan, dua tahun lebih muda dariku, banyak menghabiskan umurnya di JOgja, pernah belajar Psikologi, dan yang terpenting pernah atau masih berinteraksi dalam dunia pergerakan Islam. Sudah pasti ia mahkluk asing dalam jagat 'bumi'. Dan taman sunyinya itu, bisa dipastikan pula tak bertaburan bunga-bunga dan kupu-kupu.
Sumber http://www.doniriadi.com/2009/03/membaca-taman-sunyi-sekala.html
Quote tentang seni dan seniman disini
Diposkan oleh Unknown di 10/16/2012 09:31:00 pm 0 Komentar
Label buku, buku favorit, novel, resensi buku
Meraup Uang dari Menulis Artikel
Sunday, 14 October 2012
Judul Buku : Menguangkan Ide: Kaya dengan Menulis Artikel
Penulis : Sudaryanto
Penerbit : Leutika, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret, 2010.
Tebal : xiii + 154 hal.
Sudaryanto, melalui buku ini bertutur banyak seputar dunia tulis-menulis. Ia yakinkan pembaca, bahwa semua orang bisa menjadi penulis asalkan memiliki kemauan dan keuletan merealisasikan niatnya. Sudaryanto juga memaparkan tentang pengertian artikel, karakteristik, syarat-syarat untuk menjadi penulis artikel, dan cara pintar menulis artikel. Dijelaskan pula tentang peluang dan hambatan menulis artikel guna memberikan pemahaman kepada mereka yang tertarik menekuni dunia penulisan untuk membuat artikel yang berbobot dan layak muat di media massa.
Dengan mengutip Sumadaria (2004), dikatakan bahwa ada lima syarat untuk dapat menjadi penulis artikel. Kelima syarat itu, yakni (a) kemampual teknikal, (b) mental, (c) reading habit, (d) intelektual, dan (e) sosiokultural. Kemampuan teknikal dimaksudkan adalah kemampuan menggunakan alat teknologi, seperti komputer, laptop, notebook, atau e-mail (surat elektronik). Kemampuan ini menjadi penting, karena belakangan ini semua media massa mensyaratkan pengiriman artikel melalui e-mail. Kemampuan mental merujuk pada tekad, semangat, dan kemauan keras untuk terus belajar disertai sikap pantang menyerah (hal. 36).
Kebiasaan membaca (reading habit) adalah persyaratan mutlak bagi seorang penulis. Tanpa kebiasaan membaca, niscaya seorang penulis akan mentok karier penulisannya. Membaca harus sudah menjadi menu harian seperti halnya makan dan minum. Oleh karena itu, calon penulis atau penulis pemula mesti rajin meluangkan waktu untuk membaca beragam referensi: koran, majalah, buku dan jurnal, dan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Dengan kata lain, ia harus senantiasa mengisi amunisi pengetahuannya sebelum membidik para calon pembaca melalui artikel-artikelnya.
Kemampuan intelektual dimaksudkan sebagai kemampuan menyajikan tulisan yang tersusun secara logis, sistematis, dan analitis. Disertakan pula referensi yang sifatnya aktual dan relevan. Karena, pada hakekatnya, menulis merupakan kegaiatan kreatif berbasiskan intelektualitas. Selanjutnya, kemampuan sosiokultural dimaknai sebagai kemampuan penulis untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial. Dari lingkungan sosial itu, melalui diskusi-diskusi formal dan informal, seorang penulis akan memperoleh ide-ide cemerlang sebagai bahan tulisan.
Berbicara tentang syarat-syarat pengiriman artikel, penulis buku ini menyebutkan 8 syarat. Dari ke delapan syarat itu, dua diantaranya sangat penting. Pertama, topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang sifatnya aktual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat. Kedua, artikel yang ditulis haruslah mengandung hal-hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain (hal. 45). Dianjurkan pula agar sebelum mengirimkan tulisan ke media massa, penulis melakukan pengeditan (editing) terhadap naskahnya. Redaksi media tak akan bersedia memuat artikel ‘asal jadi’. Bisa jadi, sebelum dibaca seluruhnya, tulisan itu akan dibuang ke bak sampah alias ditolak.
Di samping membeberkan tentang cara menulis artikel yang sifatnya teknis, Sudaryanto mengetengahkan mengenai peluang dan hambatan menulis artikel. Yang dimaksudkan sebagai peluang adalah peluang menulis di surat kabar dan majalah. Kalau seorang penulis handal pintar menangkap peluang itu, bukan mustahil ia akan menembus income Rp.2,5 juta per bulan, bahkan lebih. Itu kalau ia berhasil menembus koran nasional dengan 5 tulisan saja setiap bulannya (rata-rata per artikel dibayar Rp.500 ribu). Cukup menarik, bukan?
Kendati peluang demikian terbuka untuk menulis di media massa, toh masih banyak penulis yang mengalami hambatan dalam karier penulisannya. Sebutlah misalnya, ia malas membaca, malas pula belajar menulis, serta tidak peka terhadap isu-isu terkini. Di samping itu, ketatnya persaingan menembus media massa dan ketidakmampuan melihat karakter, visi, dan misi media, juga bisa menjadi hambatan. Hanya penulis yang punya niat kuat dan bersedia bertekun di bidang tulis-menulis tanpa pernah putus asa yang akan berhasil menjadi penulis sukses.
Buku bercover dasar kuning dengan gambar lembaran-lembaran uang seratus ribuan rupiah dan setumpuk koran ini memang layak dibaca, terutama oleh mereka yang bercita-cita menjadi penulis atau penulis pemula. Bahasanya sederhana dan mengalir sehingga mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai latar belakang pendidikan. Yang membuat buku ini berbeda diantara buku-buku sejenis adalah daya gugahnya yang besar. Setelah seseorang membacanya, besar kemungkinan dia akan semakin bergairah menjadi penulis. Belum lagi bonus yang dilampirkan pada bagian akhir buku ini yang berisi daftar alamat surat kabar dan majalah, contoh penulisan surat pengantar artikel, dan hari-hari penting internasional dan nasional. (*)
Diposkan oleh Unknown di 10/14/2012 09:15:00 pm 0 Komentar
Label buku
Rindu Tak Bertepi (Seri Dokumentasi Sastra Antologi Puisi Pendhapa 14, Taman Budaya Jawa Tengah, 21 April 2012)
Tuesday, 24 April 2012
/1/
Diposkan oleh Unknown di 4/24/2012 04:46:00 pm 0 Komentar
Label antologi puisi bersama, buku, publikasi







.jpg)






.jpg)




.jpg)





