Showing posts with label puisi-puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi-puisi. Show all posts

Dua Puisi Ekohm Abiyasa di Buletin JEJAK edisi 49 Khusus Puisi

Tuesday, 28 April 2015

Edisi khusus puisi dalam rangka ulang tahun ke-4 FSB (Forum Sastra Bekasi)

Capung

I
aku sudah muak menerima
kekalahan. debu menumpuk di mata
enyahlah kebohongan ini. enyahlah!

aku bersembunyi
di antara gelap malam: cahaya redup dan hingar matamu.
akulah, mata mata gelap tanpa kau ketahui
tanpa perlu tahu.

II
menyembunyikan rahasia rahasia
sudah bukan waktu
hidup ngembara
terbanglah bersama liuk hujan sendu yang sekarat!

Surakarta, 2014


Uban

seperti mata kaca
membelah ragu ketika hujan
meniris air mata tuhan

di dasar laut sembunyi akar akar pilu
di atas langit doa sepucat kapas

seperti keping puzzle melubang teka teki
merunut garis waktu
sepanjang sungai bengawan solo

di dasar hati bermukim sajadah puisi
di atas kepala lingkaran sunyi denyut mengibas
: terlepas

Surakarta, 2014

Download pdf-nya di sini.
Selengkapnya: Dua Puisi Ekohm Abiyasa di Buletin JEJAK edisi 49 Khusus Puisi

Tujuh Puisi Ekohm Abiyasa di Antologi Puisi "Jendela dari Koloni"

Saturday, 25 April 2015


Aku adalah Kamu

aku adalah sepi yang disayat maut cinta
biarkan aku, menerkam tubuh malam

aku adalah ranting yang rapuh terjatuh
biarkan aku, melumat diri menjadi tanah meriuh

aku adalah buih di luap laut
biarkan aku, terombang ambing dalam bisu

aku adalah kapas yang terbang bebas
biarkan aku, mengurai bersama sengal napas

aku adalah kamu,
puisi!

Karanganyar, 2014


Stargaze

I
pada pukul sebelas malam
jarum jam memberat di mata
dunia segera beranjak
ke lipatan lipatan mimpi yang tertunda

melengkapi beberapa potongan, kaca kaca rabun
usia yang embun
aku terpaku, membujur bisu
di ranjang kematianlah segala lalu

II
keclap tiga bintang turun ke bumi
menggeser jemari mengaitkan
dengan sebatang kematian

gemuruh tubuh meriap
dentam jam terasa berat

dua pasang senyum
menutup gelap
tempat aku dulu berbagi bunga
di rumah-Mu aku singgah

Karanganyar, 2014


Catatan Akhir Tahun

apa yang kautahu dari harapan yang kaucatat di buku harian?
segala mimpi dan angan itu, menguap diterpa angin masa lalu

apa yang kaupedulikan
di tahun tahun murung yang kaupesan
dari doa dan air mata?
tahun tahun berlari dari langkah kakimu
lebih cepat dan gesit menggigit sepi
di pundakmu

impian apa yang kaubangun?
dari kamar kosong, dari retakan masa lalu
yang lesap meninggalkan bayanganmu di depan cermin
waktu tak pernah berkompromi
dengan apa aku
dengan siapa aku
Kau?!

Surakarta, 2015


Segelas Kopi Malam Ini

masih tentang
seikat sepi yang panjang

di atas dipan
kekosongan merebah
—derai tawa
para kurcaci
mengalirkan dongeng dan legenda
di sepanjang malam
di sepanjang sepi

para kurcaci itu,
berlarian pada angin
membujuk sepiku

dan masih tentang
segelas kopi yang remang ditancapkan
di jantung perjalanan
di atas kengerian akhir cerita
—jurang kemalangan
hitamku merekah!

Surakarta, 2014


Teka-teki Silang, 2

Ombak laut menurunkan kenangan asin
angin merentangkan sayapnya
ke ujung terjauh masa depan
—silau diri

Diaspora rindu rindu kita yang rumit
tak mampu terlayarkan,
kata kata habis dan tenggelam
—terbuang

Elang terbang datar, menukik
kemudian mencabik
—sisa sisa perjalanan prematur

Nyalakanlah sumbu sumbu ini
mari berpesta api
—biar saja layar terkatung

Nyalakanlah dunia yang menyalak nyalak
mengisi kekosongan hati kita yang berlubang
—yang gagal menemu jawaban

Surakarta, 2015


Kamar 272 dan 275
: di hotel Alexander

I
di sana ada berpasang binar bola mata setelah makan malam
kami bertemu di lobi, tentu saja puisi ini makin subur
di persemaian dua ladang

II
lalu di kamar lantai dua, kami bertiga menghabiskan waktu
mengumbar kekonyolan dan memencet tombol remote televisi
kami sedikit kesal, gambarnya kepyur seperti mata kaca dihujani abu gunung

apakah pertemuan ini begitu takdir?

III
kami segera beranjak memulai perjalanan yang lain
dengan bibit puisi di kantong baju dan celana

Tegal, 2014



Labirin yang Tertinggal

biarkan saya mengetuk pintu
lebih keras dan lama
sudah beberapa lama
saya tidak mendengkur di labirin waktu
yang dahulu menemani dengkuran manja

biarkan saya menarik selimut lebih erat dan tahan
seberapa jauh memimpikan rasa hangat dari baju malam
biarkan saya tertidur lebih dalam

Surakarta, 2014



Seri dokumentasi sastra antologi puisi Pendhapa 17
Diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah (April, 2015)

Bersama 10 penyair muda Soloraya lainnya.
Selengkapnya: Tujuh Puisi Ekohm Abiyasa di Antologi Puisi "Jendela dari Koloni"

Your Eyes, Poem by Saut Situmorang

Thursday, 23 April 2015

YOUR EYES

Your eyes are ancestral forests cut down for palm-oil plantations and pulp mills
Your eyes are sacred mountains dissected for gold and tin
Your eyes are fertile lands stolen for cement factories
Your eyes are mist-covered blue lake transformed into a giant pigsty
Your eyes are beautiful peaceful neighbourhoods cursed into foreign-name hotels
Your eyes are floodings and traffic jams haunting your mornings and nights
Your eyes are children crying starving not enough money to buy imported rice and salt
Your eyes are gas tanks exploded in the kitchen when you are making love with your wife
Your eyes are petrol price raised every time you ride your credit motorbike to work
Your eyes are the television programs showing how the rich live and do their shopping overseas
Your eyes are members of parliament who complain how low their salaries are while driving brand new mercedes
Your eyes are the police who shoot protesting students calling them anarchists and terrorists
Your eyes are the thugs dressed in religious clothings beating up students who are discussing book calling them communists
Your eyes are the president who keeps saying, "Sorry, it's none of my business"
Your eyes are the media who made you elect the president
Your eyes are the outspoken poet reported to the police accused of "defamation, libel and verbal sexual violence" in Facebook
Your eyes are old women imprisoned for using the tree branches in their own property for firewood
Your eyes are state officials smiling on television after being arrested for corruption
Your eyes are nomadic indigenous tribes forced by the state to live in permanent villages and be civilized
Your eyes are supermalls and supermarkets mushrooming replacing the traditional markets all over your poor Third World country
Your eyes are the poor being refused emergency health care by hospitals all over your country
Your eyes are sick and tired brown eyes of million angry poor brown people waiting for a bloody brown revolution to explode like a long dead supervolcano
Your eyes are everywhere

Taken from Notes Facebook Saut Situmorang.

***

SEPASANG MATAMU

Sepasang matamu adalah hutan belantara leluhur yang dibabat demi perkebunan kelapa sawit dan pabrik kertas Sepasang matamu adalah gunung-gunung suci yang dikeruk demi emas dan timahnya
Sepasang matamu adalah lahan-lahan subur yang dirampas pabrik-pabrik semen
Sepasang matamu adalah danau biru berkabut yang disulap menjadi kandang babi raksasa
Sepasang matamu adalah lingkungan damai nan asri yang dikutuk menjadi hotel-hotel dengan nama yang asing
Sepasang matamu adalah banjir dan kemacetan yang menghantui pagi dan malammu
Sepasang matamu adalah anak yang menangis kelaparan karena tak cukup uang untuk membeli beras dan garam impor
Sepasang matamu adalah tabung-tabung gas yang meledak di dapur ketika kau dan istrimu bersenggama
Sepasang matamu adalah harga bensin yang terus melambung tiap kali kau berangkat kerja dengan motor kreditanmu
Sepasang matamu adalah program-program televisi yang menyajikan gaya hidup Si Kaya dan kegiatan belanja mereka di luar negeri
Sepasanga matamu adalah anggota-anggota parlemen yang mengeluh betapa rendah gaji mereka saat sedang mengendarai Mercedes terbarunya
Sepasang matamu adalah polisi yang menembaki para demonstran mahasiswa sembari meneriaki mereka anarkis dan teroris
Sepasang matamu adalah bandit-bandit berjubah suci yang memukuli mahasiswa yang sedang mendiskusikan buku sembari menyebut mereka komunis
Sepasang matamu adalag presiden yang terus berkata ,” Maaf, itu bukan urusan saya”
Sepasang matamu adalah media yang memaksamu memilih presiden
Sepasang matamu adalah penyair blak-blakan yang dilaporkan ke polisi dengan tuduhan” pencemaran nama baik, fitnah, dan kekerasan seksual verbal” di Facebook
Sepasang matamu adalah para perempuan renta yang dibui karena mengambil tiga dahan untuk kayu bakar di tanah mereka sendiri
Sepasang matamu adalah para pejabat negara yang memamerkan senyum di televisi saat ditahan dengan tuduhan korupsi
Sepasang matamu adalah suku-suku asli nomaden yang dipaksa negara untuk menetap permanen di desa-desa agar tampak beradab
Sepasang matamu adalah supermall dan supermarket bak cendawan yang menggantikan pasar tradisional di berbagai penjuru negeri dunia ketigamu yang miskin
Sepasang matamu adalah orang-orang miskin di berbagai penjuru negeri yang ditolak kartu jamkesmasnya
Sepasang matamu adalah sepasang mata coklat belekan yang letih dari jutaan orang-orang berkulit coklat yang marah menanti meledaknya revolusi coklat yang bersimbah darah layaknya ledakan gunung berapi yang telah lama mati suri
Sepasang matamu ada dimana-mana

*Diterjemahkan oleh Dwicipta dari versi bahasa Inggris.

21 April 2015

Sumber: http://literasi.co/SEPASANG-MATAMU
Selengkapnya: Your Eyes, Poem by Saut Situmorang

Tiga Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 21/02/15)

Saturday, 21 February 2015

Musim Giling Tebu

pukul sepuluh malam
telinga kecil merekam
bunyi mesin sebuah pabrik tebu
berjarak lapisan kenangan

musim penggilingan tebu
malam-malam itu

pukul sepuluh malam
nasib menyeru kami para pekerja
lembur mengguyur dapur kristal-kristal keringat

suara itu mendentam telinga
sampai usia kelewat amis
raga-raga pucat
meniup asap-asap hitam dalam lubang
corong penebar bau tak sedap

hidup bertanjak dingin
demi hari esok

musim penggilingan tebu
malam-malam itu

Surakarta, 2014


Dadu

kedua kakiku membeku
dikepung dingin

sebeku inikah hatimu?

aku tak pandai merayu
memilikimu seperti melempar sebuah dadu
angka-angka mujur sulit dipilih
angka-angka memilih tanpa tebang pilih

langkah-langkah tersesat!

Surakarta, 2014


Derita Tiada Habis

1
sepasang kaki mengitari halaman basah di musim meranggas
sepasang mata meliuk angkuh pada pukul sepuluh malam

2
kaki sudah tak tahan lagi pada panas pasir
lagu-lagu hanya sesaat mengayun pelan
di telinga tanpa masuk lebih dalam dan singgah lebih lama di jiwa
bukan,
semisal musim kering telah tuntas namun masih saja
terasa sama musim-musim berikutnya

Surakarta, 2014

Sumber: Facebook Zaeni Boli.
Selengkapnya: Tiga Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 21/02/15)

Puisi dan Pantun buat PAWON Sastra Solo: Sewindu Perjalanan

Friday, 20 February 2015

Sewindu sudah perjalanan Pawon Sastra Solo. Seperti filosofi angka '8' yang tak putus-putus garisnya, tak putus-putus energi semangat beraksara. Semoga ini menjadi awal langkah yang lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Biji Bertunas Tak Habis-habis

1)
turunlah kau, hujan yang angkuh
tenggelamkan manusia manusia congkak
saat ini tak lebih dari ujian perjalanan
yang sarat kerikil dan bebatu gunung
yang menggelinding menancap di punggung punggung

nyanyilah kau, kecoa kecoa kesepian
bareng bau tak sedap di sekelilingmu
tetaplah melenggang di lorong lorong sengang kota
jejak jejak miskin rasa bagi orang orang yang tak mengerti
sesungguhnya engkau ada di antara ketiadaan

2)
burung burung arungi waktu
sayap sayap yang tak letih mengepak
kenangan dan aksara tetap abadi
mengudara di angkasa labirin

kaki kaki kami melangkah lebih pelan dari sayap sayapnya
tangan tangan kami tak lebih cekatan dari patukan patukannya
namun, biarlah pergulatan ini menjadi penanda nanti bahwa
kami ada untuk dikenang
kami ada untuk dipertimbangkan!


Sewindu Perjalanan

perjalanan tak akan berhenti di sini
selayaknya biji biji yang terus bertunas di kebun teh atau kopi
dipetik orang orang yang merasa kesepian
dipetik anak cucu yang hampir kehilangan arah tujuan

pergulatan tak akan berakhir di sini
selayaknya hujan yang tak sudah sudah basahi kenangan
didekap keriangan aksara
digegap sewindu: tahun tahun suka duka!


Delapan Pantun Buat Pawon

1)
ada alun alun
di depan keraton
selamat ulang tahun
sastra pawon

2)
makan tomat di angkringan
minumnya teh botol sosro
sugeng milad ke delapan
pawon sastra solo

3)
mendung mendung enaknya ngopi
di angkringan kota solo
habis mandi dandan rapi
ada tumpengan di balai soedjatmoko

4)
pak rebo tetangganya pak kliwon
kuda lumping goyang goyang
sugeng ambal warso sastra pawon
maju terus dan berumur panjang

5)
sore sore dengar lagunya katy perry
habis itu walang kekek-nya waldjinah
pawon sastra semangat memberi
semoga berkah semoga berkah

6)
jalan jalan ke grojogan sewu
mampir beli apel di pasar tawangmangu
selamat menapak usia sewindu
sukses dan berjaya untukmu

7)
ingat ingat nasihat simbah
jangan tidur sore sore
ingat ingat hari ini pawon sastra ultah
makin dewasa dan makin kece

8)
awan hitam awan mendung
sebuah payung siap sedia
bila adik duduk termenung
tulis tulislah sesuatu buat buletin pawon sastra

Surakarta, 18 Februari 2015

Link: Facebook Ekohm Abiyasa
 
Foto: Yudhi Herwibowo
Link: http://pawonsastra.blogspot.com/2015/02/puisi-buat-pawon-sewindu-perjalanan.html
Selengkapnya: Puisi dan Pantun buat PAWON Sastra Solo: Sewindu Perjalanan

Puisi-puisi yang Dimuat Solopos dan Radar Surabaya (Minggu, 13/07/2014)

Monday, 21 July 2014

SOLOPOS (3 puisi)

Mimpi Kabur

mimpi tertinggal di kepala semalam
awan-awan menghitam
menuruni lembah-lembah
dasar jiwa

sudah tenang
kausudahi igau
mantra-mantra pelipur
lalat-lalat hitam terbang
mengintai di semak kacau

batu terjal himpit mata-mata elang
pengintai yang kabur dari perang
tempat-tempat sembunyi

Karanganyar, Juni 2014



Negeri Para Anjing

berita-berita televisi
membikin kepala meledak
antara ironi
dan muak yang memuncak

seperti di pasar
janji-janji dan citra-citra positif ditebar-tebar
diobral-obral!

seperti harga daleman yang cuma
sepuluh ribu tiga!

ini 'negeri bohong!'*
bukan lagi tong kosong
mulut-mulut pembohong
tukang-tukang bohong

omong kosong!

begitu para anjing menggonggong

Surakarta, Mei 2014

* Puisi Jumari HS (Negeri Bohong)



Semadi

kudapati bayang tubuh seseorang
di bawah bangku kosong
sebuah ruang gelap begini!

sebuah arca keras berlumur asap-asap dupa
aku mengenalnya sebagai sejarah
yang tak bergerak dari tempatnya berdiam
selalu sepi dari percakapan
ramai-ramai nyamuk berusia abad-abad
dalam abjad-abjad usia purba

diriku masuk ke dalam kamar kosong
mengenali suara-Mu dalam heningku
di mana Kau akan tempatkan ruhku selanjutnya?
apakah hari-hari selalu sesal
menyerupai baiat-baiat do'a para pendosa

kudapati tubuhku melayang
bersama asap-asap dupa
ke langit-langit

Karanganyar, Juni 2014



RADAR SURABAYA (5 puisi)
http://radarsby.com/radarsurabaya%20pdf/6.pdf


Lubang Maut

air mengembara
di segenap pori-pori
lubang-lubang menemu matahari
dicuri angka-angka

tahun-tahun terlipat
pada sungai-sungai mengalir pucat kabisat

burung hantu selalu tahu
merayakan sepi

peluh-peluh menetes pada sebuah takdir
bernama laut

kabut-kabut ganjil membawa akhir
bernama maut!

Surakarta, April 2014



Balok Kayu dan Bulan

berapa lama
kau akan berdiam di halaman
kau mengasihiku sebagai bulan
bermata kosong

o,
bulan selalu bermimpi
berdiam rumah-rumah kayu

seperti pertapaan panjang
waktu yang tepat akan datang

maukah kau membuat rumah?
ayolah, buatkan rumah
bagi mata yang bersinar ini
bulan merengek

tenanglah, bulan
kau akan dapatkan rumah yang sempurna
setelah purnama ketiga puluh

kemarilah
mengunjungi halaman ini
setelah purnama ketigapuluh!

Surakarta, April 2014



Korek Api

tubuh kami
terpenjara dalam buta mata-mata manusia
yang tidak di-manusia-kan

suara kami
adalah barisan desis derita
ujung nyala api

jiwa kami
adalah abu gerilya yang dibungkam mati
api revolusi!

Surakarta, April 2014



Daun Waktu

wajah-wajah kehilangan mimpi
kesunyian berlapis-lapis
mengikis usia terbujur menggaris

daun jati jatuh melipat terlipat
tanah dalam dekap irama rintik
lagu-lagu tak melulu romantik

merdu suara
gesekan reranting di lubang-lubang waktu
kian bisu, daun-daun kosong yang abadi

nasib terukir di dada
dengan warna yang selalu sama
tanda selalu berputar
mengarungi siklus langkah-langkah belukar

garis-garis tuhan berpencar
di telapak tangan
sebagai muram silsilah batang
dan akar-akar

daun-daun selalu jatuh
di kening mimpi menghunus nafsu
serupa gugus bintang di langit hati yang tandus

Surakarta, April 2014



Kanvas

sedianya kau akan melukis
matahari tenggelam di kepalaku

aku selembar kanvas putih yang tak lagi
cemerlang dari sebuah waktu yang hilang
retak dan terbakar

sedianya kau akan melukisnya
dengan satu warna; jingga!

Surakarta, April 2014


Posting di Facebook: https://www.facebook.com/notes/ekohm-abiyasa/puisi-puisi-yang-dimuat-solopos-dan-radar-surabaya-minggu-13072014/755111947872873
Selengkapnya: Puisi-puisi yang Dimuat Solopos dan Radar Surabaya (Minggu, 13/07/2014)

Empat Puisi di Masterpoem Indonesia

Monday, 7 July 2014

Edisi:  Ahad, 06 Juli 2014
Link: http://masterpoem-id.blogspot.com/2014/07/ahad-06-juli-2014.html

Percakapan Sunyi 1

aku sampai
pada bab yang melelahkan ini
semua seperti mimpi kosong
mimpi siang bolong
terbungkam pada sunyi
di beranda gelap sekali
kehilangan cahaya
di mana peta itu Kau simpan, Tuhan?

Desember 2012
 
Percakapan Sunyi 2

seharusnya aku
berdiri sendiri layaknya karang
ombak besar di pantai membungkam tubuh
seharusnya memang
berdiri sendiri
mendengus hujan di kamar mimpi

Jakal KM 14 Yogyakarta, September 2012

Percakapan Sunyi 3

o, mengapa Tuhan menciptakan aku di sini
mengapa tidak di surga saja
atau di mana saja selain bumi
o, mengapa hidup begini
udara mengalir menusuk
sekian sakitnya
aku mohon, jangan hidupkan aku lagi
aku lelah
berpura-pura begini

Jakal KM 14 Yogyakarta, Oktober 2012

Percakapan Sunyi 4

menyusun kata
terlalu gagap bicara
menyulam memori dan ingatan
beberapa kata saja
malam pertigaan kabut menebal
angin gontai
melambatkan harapan-harapan
kadang tenggelam
begitu saja; tanpa desis
terdiam
sedemikian rapi huruf-huruf tercetak

Karanganyar, November 2007

Ekohm Abiyasa: Lahir tahun 1987 di Karanganyar, Jawa Tengah. Penikmat sastra terutama puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di Indopos, Solopos, Joglosemar, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Merapi, Kendari Pos, Frasa, Buletin Sastra Pawon dan lain-lain.

Puisi-puisinya termaktub dalam antologi puisi bersama: Requiem Bagi Rocker (2012), Wuyung Ketundhung (2012), Satu Kata: Istimewa (2012), Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), Indonesia dalam Titik 13 (2013), Merawat Ingatan Rahim (2013), Puisi Menolak Korupsi (2013), Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel (2013), Habis Gelap Terbitlah Sajak (2013).
Selengkapnya: Empat Puisi di Masterpoem Indonesia

Tiga Puisi Ekohm Abiyasa di rumahdunia.com

Tuesday, 1 July 2014

Lahir tahun 1987 di Karanganyar, Jawa Tengah. Penikmat sastra terutama puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di Indopos, Solopos, Joglosemar, Suara Merdeka, Suara Karya, Minggu Pagi, Koran Merapi, Kendari Pos, Frasa, Buletin Sastra Pawon dan lain-lain.

1.
Nona Sunyi

Tuan Sajak mengajariku cara bercocok tanam
pada ladangmu yang berhimpun dingin bermalam-malam
pada ruang hatimu, Nona Sunyi

Tuan Sajak memberiku benih-benih huruf
ditaburnya pada rahim-rahim purbamu, Nona Sunyi
kuat dan tangguh-tangguhlah

Kini engkau berpaling kemana, Nona Sunyi
tiada kau gemburkan tunas-tunas rindu yang kutanam
sementara musim-musim berlayapan; berpayar-payar
meninggalkan penantian
meranggaskan rindu-rindu belia

Surakarta, November 2013

***

2.
Gadis Bulan Juni

bulan juni menggenang kenangan
kabur dari sarang-sarang ingatan

aku seperti pelari yang kalah start
kalah cepat

untuk gadis bulan juni
hanya puisi di kantong baju
tiada lain

kita pernah bersama
mengawini sepi

Surakarta, Mei 2014

***

3.
Menjaga Ingatan

saat malam-malam bertamu
aku menjelma burung-burung hantu
menjaga mimpi-mimpimu
dari tangan-tangan
para pencuri ingatan

saat pagi menjelang
aku menjelma cahaya-cahaya rindu
menjaga butir-butir ingatan
dari mata-mata
cahaya matahari

Surakarta, Oktober 2013

***
Gambar: Robinwood karya Edi Bonetsky

Sumber: http://rumahdunia.com/isi/3-puisi-ekohm-abiyasa/
Selengkapnya: Tiga Puisi Ekohm Abiyasa di rumahdunia.com

Puisi Aji Ramadhan, Kompas, 1 Juni 2014

Saturday, 7 June 2014

Monogram Dua Huruf

Meski kau menuduhku sebagai penyamun, tetap
aku berpaling darimu. Dan meski tujuan kita sama,
aku mencoba pikiran kita bertolak belakang.

Aku ingat, kau tiba-tiba bertanya padaku:
“Jalan apa yang kau loncati. Bagaimana. Dan
Apakah kau tak terjebak untuk mabuk? Kenapa?”

Barangkali kau keliru merabai aku, jika aku ternyata
dapat menjadi si buas yang sopan ketika mendung
belum tercatat sebagai perih. Mungkin kau hanya

membaca di sisi luarku, lalu menduga bahwa aku
adalah si kecil yang berlindung di batu gelap sembari
berdoa dijauhi hari sial. Memang tak salah ketika

kau menuduhku, sebab kau berkeyakinan seekor
harimau yang kencur belum bisa membedakan
antara mangsa dan kawan. Tapi aku menganggap:

Seekor harimau, meski kencur, tetaplah harimau.
Apalagi taring harimau merupakan ruang kerja bagi
dewa maut untuk memulangkan jiwa yang buram.

Dan aku akan menjawab pertanyaanmu: “Sebuah
jalan merupakan buku semu. Dan aku tetap selalu
mabuk, meski jalan kita bertolak belakang.”

Surakarta, 2014


Handuk Hangat

Uap yang mengepul menandakan
aku telah siap melumat kaku dagingmu.

Tujuanku hanya satu, membuatmu
tenang dengan sedikit kejutan tak terduga.

Dan keluarlah kotoran lewat pori-porimu,
seperti lava dingin yang merembes.

Bahkan, aku tak memaksa kotoran
keluar, tapi aku memanfaatkan tarikan.

Dan bersikaplah seolah kau melakukan
kelahiran kembali, biar kau tak sia-sia.

Benar, syarafmu akan mengembang dengan
detak jantung melamban secara berurutan.

Jika kau mau menjawab, apakah kau
setuju aku akan mencuri keterjagaanmu?

Begitu, sayang sekali jika ternyata matamu
tak menyukai kelelapan semurni licinku.

Sekarang minumlah susu itu, lalu duduklah
dan pikirkan kenapa kau melewati kilauku.

Gresik, 2014


Dinding Sekarang

Aduh, saya tidak asli sini, Mas. Semua orang
di sini kebanyakan berasal dari luar. Cuma,
saya dan semua orang di sini bisa tinggal

karena kakek buyut kami pandai membuat
tuan besar senang. Padahal hanya membuatnya
kenyang dan tenang.

Saya dan semua orang di sini tahu, jika
tuan besar sangat berjasa. Untuk menghormati
jasanya, tempat ini kami buatkan dinding dan
di dinding itu kami beri tulisan:

Kami bahagia

dan tuan besar semoga diberkati Tuhan.
Oya, sudah dengar belum, Mas, jika tuan besar
turun tahta? Kami tidak khawatir meski
nanti kami diusir. Kami akan tetap menyambut
tuan besar dan menjamunya hingga muntah.

Surakarta, 2014


Tak Bertuan
: Bawah Tanahnya Dostoyevski

Jangan kalungkan koin emas
di leherku. Aku puas dengan deheman palsu,
timbangan keruh dan pergulatan gelapmu.

Bahagiakan saja aku, demi
sentuhan tak terarah yang bersembunyi
di kedipan matamu. Tapi simpan dulu

serabut hasratmu dan jangan gegabah
untuk membebatku. Karena aku
seorang yang tak mengimamimu.

Aku hanya ingin anjing di tubuhmu
liar. Terus menggonggong sampai kita
melihat bintang merekah di langit utara.

Lalu kau pun berdoa: Tenang,
tanpa sangsi. Sudah kau jangan
pikirkan hidup, karena kita sudah payah

menjalankan alur derita. Mari kita
selesaikan ini, meski kita saling luput
ketika kokok ayam tak patah dan aku

melupakan gonggongan anjing di tubuhmu.

Surakarta, 2014


Langit Tampak Mencolok

Biarkan langit tampak mencolok setelah kurvanya
kehabisan mekar. Dan biarkan juga langit tak lagi elok,
sebab orarenya telah membayang.

Tapi misalkan, langit tak menawarkan pemandangan
tersebut, barangkali aku jadi khawatir jika nanti malah
menampakkan batu-batuan yang beterbangan.

Seperti sabda si suci yang memberikan
kuliah umum kepada kaum gemar berhitung.

Oh, takutlah aku bahwa langit tak disangga pilar gaib.

Dan langit pun rebah di laut, bersama kurva dan
oranyenya. Seperti berubahnya gambar karena luntur.

Dan motif bunga di bajuku yang semula diam, sekarang
pun bergoyang-goyang ingin menjatuhkan putiknya.

Gresik, 2014


Pesta Minum Teh

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.
Beberapa boneka belum meminum
secangkir pun. Si gadis tersenyum

melambai-lambai tangannya.
Memainkan pertemuan secara anggun.

Di pesta minum teh tadi,
boneka kuda tampak sedih. Si gadis cuek
dan lebih bercerita keluguannya.

Boneka lain tampak bahagia melihat aksi
si gadis. Seolah tidak mubazir dihidupkan.

“Ibu peri belum datang, kita tunggu
ibu peri dulu,” kata si gadis.

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.
Boneka kuda sudah frustasi. Diharapkan
si gadis memberhentikan permainannya.

Akhirnya jam pun mendatangkan si mama
menjemput si gadis itu. “Itu, akhirnya ibu peri
datang,” kata boneka kuda dan menyiapkan
diri untuk berlari dalam ilusi.

Surakarta, 2014

* Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Tengah, 22 Februari 1994. Ia tinggal di Surakarta. Salah satu buku puisinya adalah Sepatu Kundang (2012).

PUISI KOMPAS, MINGGU, 1 JUNI 2014

Sumber: http://puisikompas.wordpress.com/tag/aji-ramadhan/
Selengkapnya: Puisi Aji Ramadhan, Kompas, 1 Juni 2014

Tiga Puisi Saut Situmorang: Nama, Kenapa Kau Tolak CintaKu, Dayang Sumbi? dan Estetika Alkoholik (Media Indonesia, Minggu 20 April 2014)

Wednesday, 23 April 2014

Selengkapnya: Tiga Puisi Saut Situmorang: Nama, Kenapa Kau Tolak CintaKu, Dayang Sumbi? dan Estetika Alkoholik (Media Indonesia, Minggu 20 April 2014)

List Karya-karya di Project Gutenberg

Friday, 7 March 2014

About Project Gutenberg
http://en.wikipedia.org/wiki/Project_Gutenberg

[PUISI]
http://www.gutenberg.org/wiki/Poetry_%28Bookshelf%29

Poems Chiefly from Manuscript by John Clare
http://www.gutenberg.org/ebooks/8672

Lamia by John Keats
http://www.gutenberg.org/ebooks/2490

Endymion (A Poetic Romance) by John Keats
http://www.gutenberg.org/ebooks/24280

The Waste Land by T. S. Eliot
http://www.gutenberg.org/ebooks/1321

A Dark Month by Algernon Charles Swinburne
http://www.gutenberg.org/ebooks/18524

Astrophel and Other Poems by Algernon Charles Swinburne
http://www.gutenberg.org/ebooks/18673

A Channel Passage and Other Poems by Algernon Charles Swinburne
http://www.gutenberg.org/ebooks/18871

Poems and Ballads (Third Series) by Algernon Charles Swinburne
http://www.gutenberg.org/ebooks/18726

Songs of the Springtides and Birthday Ode by Algernon Charles Swinburne
http://www.gutenberg.org/ebooks/18287

Sonnets, and Sonnets on English Dramatic Poets (1590-1650) by Swinburne
http://www.gutenberg.org/ebooks/17347

Pastoral Poems by Nicholas Breton,
Selected Poetry by George Wither, and
Pastoral Poetry by William Browne (of Tavistock)

http://www.gutenberg.org/ebooks/22001

The Odyssey of Homer by Homer
http://www.gutenberg.org/ebooks/24269

The Metamorphoses of Publius Ovidus Naso in English blank verse Vols. I & II
http://www.gutenberg.org/ebooks/28621

The Carmina of Caius Valerius Catullus by Gaius Valerius Catullus
http://www.gutenberg.org/ebooks/20732

Japanese Prints by John Gould Fletcher
http://www.gutenberg.org/ebooks/27199

Amores by D. H. (David Herbert)
http://www.gutenberg.org/ebooks/22531

Sea Garden by D. H. (David Herbert)
http://www.gutenberg.org/ebooks/28665

Hymen by D. H. (David Herbert)
http://www.gutenberg.org/ebooks/28666

A Treasury of War Poetry: British and American Poems of the World War 1914-1917
http://www.gutenberg.org/ebooks/8820

Lays of Ancient Rome by Baron Thomas Babington Macaulay Macaulay
http://www.gutenberg.org/ebooks/847

The New Morning: Poems by Alfred Noyes
http://www.gutenberg.org/ebooks/21029


[CERPEN]
Metamorphosis by Franz Kafka
http://www.gutenberg.org/ebooks/5200

Perlycross by R. D. Blackmore
http://www.gutenberg.org/ebooks/45038


[NOVEL]
The Divine Comedy (The Vision of Paradise, Purgatory, and Hell) by Dante, Illustrated by Dante Alighieri
http://www.gutenberg.org/ebooks/8800
Selengkapnya: List Karya-karya di Project Gutenberg

Poems In Translation: Puisi-puisi Saut Situmorang di The Prague Revue

Monday, 17 February 2014

1966

di malam aku lahir
bulan merah api
dan hujan turun
langit merah basah
bumi merah basah

orang orang menangis
orang orang marah
dan orang orang ketakutan

di malam aku lahir
anjing anjing setan gentayangan di jalanan
mendobrak rumah rumah
dan membunuh dan membunuh dan membunuh

bulan merah api
malam merah api
rumah rumah dicat merah darah
jalanan merah darah
sungai sungai merah darah
danau danau merah darah
dan mayat mayat rusak terapung
di sungai sungai danau danau merah darah
di bawah hujan merah darah

di malam aku lahir


1966

the night I was born
the moon turned out fire red
and the rain’s falling
the sky was soaked red
the earth was soaked red

people were crying
people were angry
and people were frightened

the night I was born
Satan's dogs roamed the streets
smashing into houses
and killing and killing and killing

the moon was fire red
the night was fire red
the houses painted blood red
the streets blood red
the rivers blood red
the lakes blood red
and corpses floating
under the blood red rain

the night I was born



kata dalam telinga
ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
cukup kuat
untuk melindungi
bawah perut yang lembut
terbuat dari renda renda dan daging otot
hairspray dan air ludah
20 kaki di atas kepala kita
jauh seperti sebuah perahu mengapung
seperti wayar wayar lembut lentur
montok seperti oyster
kalung bulu dan tulang di leher
berlayar antara bulan dan bintang bintang
di air halusinasi di atas bukit orang mati
seperti Pinocchio
main film biru di bawah meja kantor
demi eloquence
di dinding alfabet
bukan batu giok
dalam truk sampah
do you read me?
ada sebuah tangga menuju ke atap
sebuah rumah berjendela hitam
di mana kami mengubur laundry kotormu
biar kami bisa cerita hal hal yang baik saja tentang dirimu
bocah kemaren sore
yang berhenti percaya pada tuhan
yang berkata, “kalau tuhan itu pemabuk
aku tak perlu minum alkohol!”
ayolah

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
dengan botol botol susu beku dalam kotak surat
yang sedang diukiri tetanggaku dengan pahat
sambil berkata, “cuka dipakai di zaman Sebelum Masehi
sebagai spermicide-a pessary!”
“caranya, dicelupkan ke dalam,
mungkin menyengat sedikit!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
ya, musim dingin akan indah tahun ini
dengan televisi televisi bisu membaca
bibirnya sendiri dengan logat Inggris
menghembuskan kesunyian kesunyian panjang
untuk menghangatkan diri
e hoa ma! o sobat
belut perut perak adalah yang terbaik untuk dikeringkan!
jadi waktu pemain sax
membuka lagunya
seperti minum
kita tak punya pilihan lain
kita mesti mengikuti
boneka boneka Gringo
ke mana burung burung merpati membangun sarangnya
waktu arah angin berubah
dan mengikutimu masuk ke dalam kegelapan pikiran
candi penuh ular
candi dewi ular
dewi birahi orang orang pagan
candi 13 warna biru
biru airmata, biru rasa rindu
biru hijau cemburu
biru palung dalam, biru bumi
biru cinta, biru cermin kaca
biru nostalgia, biru bahaya
biru tipu, biru napsu
biru kehilangan, biru kematian

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana matahari jadi lebih berarti
di mana hantu seseorang yang dulu kau cintai
seseorang kepada siapa dulu kau selalu berkata “karenamu aku selalu kesepian”
berbisik padamu dalam bahasa Morse
“pandanglah aku sekarang. aku kembali untuk menghantuimu!”
Valhalla nampak
begitu jauh
seperti bola bola golf
para businessman bangsa Jepang
yang sedang menghapal percakapan Inggris-Zen
“hi, I’m Richard Taylor
and so are you!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
seperti sebuah gantungan baju dari logam
tergantung tanpa baju
sexual pleasure
on empty roads
sebuah daun gugur
Jumat
adalah hari yang paling kejam dalam seminggu
berat
tailor-made
terbuat dari pecahan pecahan kaca halte bis kota
old talk
sebuah café
sebuah pekerjaan tetap

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana dua burung Enggang mengitari tiang totem tua
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
seperti sebuah Big Mac
oleh Picasso
datanglah kalian wahai para hantu
yang menjaga pikiran pikiran duniawi
hantu hantu sebuah tangga menuju ke atap
atap perak atap kaca atap burung burung
atap sayap sayap kupu kupu patah
hitam, putih, dan multiwarna
dan beruap seperti onggokan onggokan tahi sapi
di pagi kota Te Puke yang dingin
datanglah kalian wahai para hantu pemilik hak cipta
seni yang palsu, immoral, angkuh, dan penuh tipu

aku tak bertanggung jawab atas sajak ini!

tongue in your ear
there’s a staircase which leads to the roof
where pigeons build their nests
tough enough
to protect
the soft underbelly
made from lace and sinew
hairspray and spit
20 feet above our heads
far away like a boat adrift
like soft tensile wires
plump as an oyster
garlands of feather and bone
navigating by moon and stars
in the hallucinating waters above the hill o death
like Pinocchio
doing kinky things with red tape
for eloquence
on alphabet walls
not *greenstone
in a garbage truck
do you read me?

there’s a staircase which leads to the roof
of a house of black windows
where we bury your dirty laundry
so we could say nice things about you
yesterday’s baby
who stopped believing in God
who said, “If God were a drunkard,
I’d have no need to drink!”
come on
there’s a staircase which leads to the roof
where pigeons build their nests
before winter comes
with frosted milk-bottles in the letter box
which my neighbour is carving with a chisel
while saying, “Vinegar was used in B.C. times
as a spermicide - a pessary.
It was sponged on-in,
probably stings a bit!”

there’s a staircase which leads to the roof
where pigeons build their nests
before winter comes
yes, winter will be beautiful this year
with muted television reads
its own lips with an American accent
breathing out long silences
to keep warm
**e hoa ma! o friends!
silver bellies are the best eels for drying!
so when the sax player
opens his song
like drinking
we have no choice
we have to follow
the Gringo puppets
to where the pigeons build their nests
when the wind changes
and follows you into the darkness of thoughts
a temple full of snakes
of snake goddess
the pagan goddess of lust
of 13 degrees of blue
the blue of tears, the blue of longing
the jealous blue of green
the blue of the fathoms, the blue of the earth
the blue of love, the blue of mirrors
the blue of nostalgia, the blue of danger
the blue of deceit, the blue of lust
the blue of loss, the blue of death

there’s a staircase which leads to the roof
where the sky becomes more important
where the ghost of someone you used to love
someone you used to say “because of you I’m always alone” to
whispers in Morse
“Look at me now. I’ve come to haunt you!”
Valhalla seems
so far away
like the golf balls
of Japanese businessmen
who are memorizing Zen-English
“Hi, I’m Richard Taylor
and so are you!”

there’s a staircase which leads to the roof
like a metal coathanger
hanging unclothed
sexual pleasure
on empty roads
a leaf falls
Friday
is the cruellest day of the week
is heavy
is tailor-made
made of smashed bus-stop glass
old talk
a café
a real job

there’s a staircase which leads to the roof
where two hornbill birds circle the ancient totem pole
where pigeons build their nests
like a Big Mac
by Picasso
come ye o spirits
that tend on mortal thoughts
spirits of a staircase which leads to the roof
roof of silver, glass, birds
of broken butterfly wings
white, black and multicoloured
and steaming like cowpats on frosty ***Te Puke mornings
come ye o spirits, owners of copyright
of false, immoral, conceited and deceitful Art

I do not accept responsibility for this poem!

Notes:
*greenstone is a kind of jade found in New Zealand, considered sacred by the Maoris
**e hoa ma! is a Maori phrase meaning “o friends!”
*** Te Puke is the name of a small town in North Island, New Zealand. Famous as the capital city of kiwi-fruit

Saut Situmorang was born on 29 Juni 1966 in Tebing Tinggi, North Sumatera province, Indonesia, but was raised in its capital Medan. Spent eleven years (1989-2000) as an immigrant in New Zealand where he did his BA in English Literature and MA in Indonesian Literature. He was also actively involved in the underground poetry readings in New Zealand and was awarded several prizes for his English-language poetry, such as the Original Composition Prize from Victoria University of Wellington and the Blues Award from the University of Auckland. Since 2000 returned to Indonesia and now lives in the city of Yogyakarta as a full-time writer. Widely published in newspapers and literary magazines all over Indonesia, he has published three books of poems and a book of literary essays. His Indonesian-language poems and short story had been translated into English, Italian, Czech, French and German. He is one of the pioneers of Internet Literature in Indonesia and at present is one of the editors of the Indonesian underground literary journal boemipoetra. In 2005-2007 he was the Literature curator for the Festival Kesenian Yogyakarta (Yogyakarta Arts Festival). He was one of the curators for What Is Poetry?: International Poetry Festival Indonesia 2012. A familiar name in the literary scene in Indonesia, in early November 2012 he was invited to the book-launch of a selection of his poems translated into French at the Unesco House, Paris, France. In June 2013 he is invited to read his poems at Poetry On The Road in Bremen, Germany. Writing in both Indonesian and English languages, a sample of his English-language poems can be read at http://sautsitumorang.blogspot.com/ while his poetry reading recordings are documented at http://soundcloud.com/saut-situmorang

Selengkapnya: Poems In Translation: Puisi-puisi Saut Situmorang di The Prague Revue

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas