Resensi Novel Afrizal Malna "Kepada Apakah" (Jawa Pos, Minggu 27/04/14) oleh Berto Tukan

Tuesday, 29 April 2014

Judul                           : Kepada Apakah (Sebuah Novel)
Penulis                
        : Afrizal Malna
Penerbit               
       : Motion Publishing, Jakarta.
Tangggal Terbit   
       : 14 Februari 2014
Jumlah Halaman 
        : viii + 302 halaman
Afrizal Malna barangkali lebih produktif menulis puisi. Namun, ketika novelnya muncul, tak pelak kita harus melihatnya dengan saksama. Setelah meluncurkan Lubang dari Separuh Langit (2005), tahun ini Aftizal menghadirkan novel kedua dengan judul yang mengernyitkan dahi; Kepada Apakah.
Menghadapi judul novel ini, saya seolah-olah ‘diminta’ untuk mencari tahu apakah apa yang dimaksudkan sekaligus diminta untuk terbuka pada segala kemungkinan yang diberikan. Apakah dalam Kepada Apakah bisa merujuk ke sesuatu namun bisa juga merujuk ke apa pun. Tetapi kecintaan saya timbul pada tokoh Ram. Pada sosok Ram kita akan menemukan tiga sosok manusia sekaligus yang menyatu. Katakalah manusia modern nan eksistensil yang berusaha ke luar dari dunianya yang khaos.
Manusia Modern
Malna membuka novelnya dengan tokoh Ram, seorang mahasiswa filsafat, yang dihantui pertanyaan dari dosennya, “apakah yang anda ketahui tentang apakah?” Berada di ruangan sang dosen itu, Ram menjelma pesakitan kesadaran yang hendak diperiksa. Ram menggambarkannya sebagai, “pertanyaan yang mengosongkan seluruh pikiran. Membiarkan bahasa seperti sebuah bangunan yang berlepasan.” Setelah kejadian itu, Ram terbangun dan mendapatkan dirinya berada di dua tempat yang berbeda; sebuah pantai (hlm. 17) dan kebun nangka (hlm. 231). Selebihnya, perjalanan Ram, yang bagaikan flaneur, terus dihinggapi pertanyaan ini.  
Pikiran adalah hal utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Era modern ditandai dengan pengakuan akan kesadaran manusia yang ditempatkan pada posisi pertama. Kredo Rene Descartes jelas menunjukan itu; cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Dengan merefleksikan pertanyaan tentang apakah, Ram berada pada titik ini. Ram pun menyangkal identitas dirinya untuk mejawabi perihal apakah. Ini pun salah satu ciri khas manusia modern. Demi hidup dalam dunia modern dengan kapitalisme sebagai sistemnya, manusia harus kehilangan dirinya. Adorno dan Horkheimer (1997) mencontohkan Odissyeus yang menyangkal dirinya ketika berhadapan dengan Poliphemus sebagai ciri khas manusia modern.
Pelancong Eksistensialis dan Uebermensch
Manusia modern Ram adalah juga seorang pelancong secara real mau pun historis imajinatif. Ram di dalam kepalanya melompat ke abad pencerahan Eropa, ke masa kolonialisme Indonesia, masa Majapahit, Orde Baru dan banyak hal lagi. Ram melanglang buana ke Bandung, Madiun, Maluku, dan beberapa tempat lainnya. Namun Ram adalah pelancong yang asik dengan isi kepalanya.
Asyik dengan isi kepala nampak pula ketika Ram berhubungan dengan tokoh lainnya. Ram berada di tengah manusia lain tetapi sebenarnya tengah duduk sendirian di dalam ceruk kepalanya. Kita menemukan aroma eksistensial dalam diri Ram. Manusia lain hadir hanya sebagai pelengkap atas diriku.
Dalam keasyikan dengan isi kepala, Ram kerap menggunakan metafora “berjalan di atas tambang tipis”. Metafora “tambang tipis” ini pun dipakai orang-orang di sekitarnya untuk menggambarkan Ram. Ketika ia selesai terlibat dalam sebuah pertunjukan teater, orang-orang memujinya demikian, “kamu seperti berjalan di atas tambang tipis yang menghubungkan dua tebing antara kejahatan dan keharuan.
Berjalan di atas seutas tambang mengandaikan sebuah keadaan yang berbahaya. Jika jatuh, dua pilihan tak mengenakan menunggunya. Untuk itu, sang peniti tambang mestilah punya kemampuan yang mumpuni. Jadi, Ram mau dan tak mau punya kemampuan itu. Maka tak heran, antara yang nyata dan yang tak nyata, antara mimpi dan realitas, di dalam sebagian besar novel ini seakan-akan tak ada batas, melebur, bercampur aduk, dan cukup sulit untuk kita bedakan.
Adalah Friedrich Nietzsche kerap menggunakan metafora meniti seutas tambang.  Nietzsche punya konsep tentang manusia yang bermentalitas uebermensch (manusia yang melampaui). Manusia uebermensch mampu melewati tambang tampa jatuh ke dalam jurang, ke dalam dua kondisi yang bertolak belakang. Manusia uebermensch berada atau hidup dalam sebuah realitas yang khaos, namun di atas tambang ia menciptakan kosmos. Ia selalu berada dalam kemenentuan meski pun dunia yang didiaminya adalah dunia yang tak menentu.    
Manusia Ekonomi(?)
            Di sini, kita sampai pada tiga tipe manusia yang berkelindan bersama dalam diri tokoh Ram. Jelas, Ram adalah manusia modern yang digugat dan menggugat isi kepalanya sendiri. Ram juga adalah sosok eksistensialis yang lebih berkutat pada kediriannya; kesosialan hanya sebagai pelengkap. Selain itu kita pun menemukan Ram yang punya kualitas manusia yang melampaui (uebermensch); berusaha berada pada situasi yang ‘nyaman’—meski pun penuh resiko—di tengah situasi yang tak pasti. 

Namun demikian ada sebuah pertanyaan menggelantung ketika kita sampai  pada lembaran terakhir Kepada Apakah. Pertanyaan ini sebenarnya menyinggung sebuah tipe manusia yang lain yakni manusia sebagai homo economicus. Ram yang bisa punya beberapa rupiah di kantongnya tak bisa secara tersurat ditemukan dalam novel ini. Barangkali, saking menjadi pelancong, saking berkutat dengan aku yang duduk di ceruk terdalam kepalanya, Ram jadi tak terlalu memusingkan benar perkara dengan apa ia makan. *** 

Posting serupa: http://kecoamerah.blogspot.com/2014/04/membaca-tiga-tipe-manusia-afrizal-malna.html
Selengkapnya: Resensi Novel Afrizal Malna "Kepada Apakah" (Jawa Pos, Minggu 27/04/14) oleh Berto Tukan

Jean Couteau: Setia Menjadi Penulis

(Dimuat di Majalah Arti, Edisi 021/November 2009)

Teks dan Foto Wayan Sunarta
“Bagaimana kabar? Masih terus menulis?” sapa Jean Couteau ramah, saat saya berkunjung ke rumahnya yang bersahaja di tepi sungai Ayung di kawasan Denpasar Utara.
“Kabar baik, Pak Jean. Menulis jalan teruslah,” ujar saya. 
“Ehm, bagus ya. Meski kita tahu menjadi penulis harus siap tetap miskin,” seloroh Jean sembari ketawa. Saya juga ketawa, tentu dengan hati miris.

Ehm, mau bagaimana lagi, menjadi penulis adalah sebuah pilihan sadar yang mesti tetap dijalani. Jean Couteau pun dengan setia tetap melakoni profesinya sebagai penulis sejak bertahun-tahun lampau. Jean senang menulis berbagai hal yang berkaitan dengan kesenian, pariwisata, sosial dan budaya. 

Karier kepenulisan telah dirintisnya sejak mahasiswa. Dia telah banyak menghasilkan tulisan kuratorial dan pengantar pameran seni rupa, tulisan-tulisan lepas di berbagai media massa dalam dan luar negeri, makalah-makalah seminar atau pun tulisan utuh dalam bentuk buku tentang proses kreatif dan pencapaian karya beberapa seniman. 

Banyak perupa muda berbakat asal Bali menjadi tenar dan laris manis di pasar seni rupa salah satunya karena tulisan-tulisannya. Namun kehidupan Jean Couteau tetap saja bersahaja, seakan kemewahan jauh dari garis tangannya. Hal itu menjadi sangat ironis jika dibandingkan dengan pelukis-pelukis yang pernah diorbitkannya hidup dalam gelimang kemewahan.

Jean telah menetap di Bali lebih dari 27 tahun. Bergaul akrab dengan banyak seniman dan intelektual Bali. Dia sangat fasih berbahasa Bali dan Indonesia. Dia memperoleh gelar master dalam bidang Sosiologi dari Universitas Sorbonne, Perancis. Sedangkan gelar doktor diperolehnya dari EHESS (cabang Sorbonne) dengan disertasi mengenai ikonografi gambar Bali. 
Sore itu, kami ngobrol-ngobrol di bawah rindang pohon suar. Air sungai Ayung gemericik melewati celah bebatuan. Kurator dan kritikus seni rupa tersohor asal Perancis itu hanya mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek. Wajahnya yang pucat nampak lelah, meski senyumnya tetap hangat bersahabat.

Kami ngobrol tentang wacana seni rupa Indonesia mutakhir. Jean menilai perupa Indonesia, terutama perupa muda, seakan tidak punya pijakan yang kuat di tengah arus globalisasi dan wacana kontemporer. Misalnya, perupa muda banyak yang ikut trend seni rupa Cina.

Ikut-ikutan trend seni rupa yang laris di pasaran tentu berdampak pada kurangnya menggarap kedalaman karya dan mandegnya kreativitas. Jean mengatakan perupa muda terlalu terpukau pada ikon-ikon global, lupa pada unsur-unsur lokal dan ikon-ikon budaya sendiri. “Pasar terlalu kuat dibandingkan dengan ekspresi diri,” katanya.

Problem terbesar seni rupa Indonesia, menurut Jean, adalah tidak adanya museum seni rupa yang representatif. Sudah saatnya Indonesia memiliki museum seni rupa yang terstruktur yang memajang karya-karya seniman Indonesia secara komplit. Museum sangat berperan untuk membentuk sejarah seni rupa Indonesia. “Tentu kurasi museum juga harus jelas dan terstruktur,” ujarnya.

Selengkapnya: Jean Couteau: Setia Menjadi Penulis

Pertemuan dengan Umbu

Oleh: Wayan Sunarta

(Umbu Landu Paranggi)
Pertemuan pertama saya dengan Umbu Landu Paranggi merupakan sebuah pertemuan yang sangat menjengkelkan sekaligus menggelikan, yang terus membekas dalam kenangan. Namun pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan anugerah tak ternilai yang ikut mempengaruhi perjalanan hidup saya, terutama ketika bergesekan dengan dunia puisi.
Pada sebuah petang yang cerah di bulan Agustus 1993, ketika saya masih kelas tiga sekolah menengah atas, saya diajak oleh seorang kawan menonton pertunjukan teater di sebuah sanggar di Sanur, Denpasar. Kata kawan saya, Umbu pasti datang dalam acara itu. Kata dia lagi, kesempatan bertemu Umbu sangat langka, maka sangat rugi kalau saya tidak datang.
Ya, memang rugi kalau saya tidak ketemu Umbu, sebab pada waktu itu saya memang sedang tergila-gila ingin bertemu mantan “Presiden Malioboro” itu, sejak beberapa penyair senior di Bali “meracuni” otak saya dengan cerita-cerita nyleneh tentang Umbu. Pada waktu itu saya baru belajar menulis puisi dan baru mencicipi pergaulan sastra di Sanggar Minum Kopi (SMK), tempat kongkow penyair Denpasar, seperti Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana, GM Sukawidana, Putu Fajar Arcana, K. Landras Syailendra dan banyak lagi. Umbu sekali waktu suka mampir ke SMK yang bekas toko klontong itu.
Tapi ketika itu saya belum pernah bersua dengan Umbu di SMK. Maka ketika kawan saya mengabarkan Umbu akan hadir di acara pentas teater itu, saya mempersiapkan diri untuk pertemuan yang bagi saya akan sangat bersejarah dalam karier awal kepenyairan saya. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mengirim puisi (hampir setiap minggu) ke Bali Post yang gawang redaksinya dijaga ketat oleh Umbu.
(Umbu Landu Paranggi, 1979)
Setelah lebih dari 30 puisi saya menumpuk di meja Umbu, akhirnya dimuat hanya satu biji puisi yang berdampingan dengan karya beberapa penyair belia seangkatan saya. Tentu saya sangat girang dengan pemuatan perdana tersebut. Setelah perjuangan dan penantian yang meletihkan, akhirnya puisi saya diakui juga oleh Umbu. Saya pun merasa telah menjadi seorang penyair karena puisi saya dimuat Umbu, meski masih kelas penyair “Kompetisi.”
Saya datang ke acara pentas teater itu dengan mengayuh sepeda. Kawan saya yang sudah lebih dulu di sana menarik tangan saya dan dengan wajah gembira mengabarkan Umbu benar-benar datang pada acara itu. Tentu saja saya penasaran dan clingak-clinguk mencari-cari orang yang bernama Umbu itu. Dalam bayangan saya, Umbu berperawakan tinggi besar, agak gemuk, wajah sedikit brewok. Tapi perkiraan itu sedikit meleset setelah kawan saya menunjukkan orang yang bernama Umbu.
Umbu tidak gemuk, meski tubuhnya memang tinggi besar dan berotot. Wajahnya bersih, tidak ada bulu sedikit pun, hidungnya besar dan mancung, sorot matanya tajam namun menyejukkan, bibirnya lebar tapi jarang menyunggingkan senyum. Umbu nampak berwibawa di bawah naungan topi yang tidak pernah lepas dari kepalanya. Bertahun-tahun kemudian saya tahu kalau topi itu memang sengaja dipakai untuk menutupi rambutnya yang rontok dan mulai botak.
Umbu termasuk lelaki modis. Dia suka mengenakan t-shirt yang dipadu kemeja jeans dengan lengan digulung. Celana yang dipakainya juga kebanyakan jeans, kadang dengan variasi kantong di lutut. Pada kesempatan lain dia suka memakai baju lurik khas Yogya, sorjan. Rambutnya panjang sebahu. Dia suka memakai sendal semi sepatu sebagai alas kaki. Di pergelangan tangan kirinya melingkar gelang akar bahar hitam. Kadangkala lehernya dilingkari syal. Dia punya banyak koleksi topi yang secara bergantian dipakainya, mungkin juga disesuaikan dengan warna baju yang dikenakannya. Namun yang agak ganjil, kalau bepergian dia suka jalan kaki sambil menenteng tas kresek yang entah berisi apa. Kata seorang kawan, tas kresek itu mungkin berisi puisi-puisi yang akan dieksekusi sambil minum kopi di suatu warung di sudut pedesaan Bali.
Dada saya berdebar ketika Umbu lewat di depan saya. Kawan saya menyuruh saya segera menghampirinya dan memperkenalkan diri. Tapi jangankan memperkenalkan diri, menyapa dia saja saya kehabisan kata-kata. Pesonanya begitu kuat bagi jiwa remaja saya yang terlanjur mengaguminya gara-gara mitos yang ditanamkan ke benak saya. Dari kejauhan saya melihat dia asyik menerima salam dari para seniman senior yang hadir di sana.
Umbu nampak takzim dan sesekali senyum tipis mendengar ocehan seniman-seniman yang banyak lagak itu. Pada mulanya saya hanya memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Tapi kesempatan tidak datang dua kali, pikir saya. Maka dengan menghimpun segenap keberanian, saya mendatangi Umbu yang lagi asyik ngobrol sambil berdiri dengan seorang seniman yang tidak saya kenal.
(Umbu, Zawawi Imron, Tan Lioe Ie, 1996)
Saya menjulurkan tangan agak ragu sambil memperkenalkan nama saya. Tak lupa saya tambahkan bahwa puisi saya pernah dimuat di rubriknya, tentu dengan harapan dia mengingat saya. Tapi Umbu hanya menjabat tangan saya sekilas dan ngloyor pergi bersama temannya, meninggalkan saya yang terbengong-bengong sendiri. Saya pikir dia akan mengajak saya berbincang-bincang agak lama perihal proses kreatif saya, menanyakan sejak kapan menulis puisi, apa ada puisi baru, dan berbagai pertanyaan basa-basi lainnya, sebagaimana umumnya perkenalan pertama. Sejak itu pupuslah impian saya untuk ngobrol panjang lebar dengannya, dan kekaguman saya pada Umbu tiba-tiba saja menguap entah ke mana. Kesan pertama saya benar-benar berantakan tentang Umbu.
Belakangan kemudian saya tahu, Umbu bukanlah tipe orang yang suka basa-basi dan memang terkesan dingin bila berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi sebenarnya Umbu termasuk tipe lelaki pemalu. Kalau berbicara dengan Umbu, jangan harap dia mau menatap mata kita, apalagi dengan orang yang baru dikenalnya. Biasanya kalau diajak bicara, dia akan mengalihkan pandangan dari wajah lawan bicaranya.
Namun di balik semua kesan dinginnya, Umbu seorang pemerhati yang sangat hangat. Dia tidak jarang mengunjungi seorang calon penyair yang dianggapnya berbakat. Kadangkala dia datang membawa sejumlah buku puisi sebagai kado ulang tahun calon penyair itu. Pada kesempatan lain dia datang hanya untuk mengajak calon-calon penyair main kartu dan makan pisang rebus. Umbu memiliki cara tersendiri, seringkali tidak terduga, untuk memotivasi calon-calon penyair yang dianggapnya berbakat besar.
Mengenai hal itu saya pernah punya pengalaman diberi hadiah nasi bungkus oleh Umbu yang diistilahkannya sebagai nasi bungkus “Republika.” Pada waktu itu, tahun 1994, puisi saya untuk pertama kalinya dimuat koran nasional, Republika, bersama beberapa penyair senior Bali. Umbu sangat senang dengan pemuatan itu dan mendatangi saya secara khusus di SMK sekitar jam sepuluh, malam Minggu. Kebetulan waktu itu saya sedang asyik diskusi puisi dengan Tan Lioe Ie, Warih Wisatsana dan beberapa kawan lain, Umbu tiba-tiba muncul di pintu sanggar dan menjulurkan sebuah tas kresek kecil pada saya. “Jengki, ini nasi Republika, nasi khusus untuk kamu! Makanlah!” ujarnya sambil ketawa senang.
Tentu saja saya kaget dengan hadiah mendadak itu, apalagi yang memberikan orang sekaliber Umbu yang telah menjadi mitos itu. Teman-teman lain yang sudah paham kebiasaan Umbu hanya ketawa-ketawa kecil. Pembicaraan pun beralih pada puisi-puisi yang dimuat Republika itu. Belakangan saya tahu kalau nasi bungkus itu merupakan jatah makan malam Umbu dari Bali Post yang memang khusus dibawakan untuk saya karena berhasil menembus media nasional. Biasanya Umbu setiap hari Sabtu bekerja hingga malam di Bali Post untuk mempersiapkan rubrik sastra yang terbit setiap Minggu. Di luar hari Sabtu itu kami tidak pernah tahu Umbu berada di mana. Dia punya banyak tempat persinggahan yang selalu dirahasiakannya.
(Umbu baca puisi di Fakultas Sastra, Unud, 1996)
Lelaki yang bernama lengkap Umbu Wulang Landu Paranggi itu merupakan cucu salah seorang raja Sumba. Umbu dilahirkan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Yogyakarta merupakan tempat kelahiran kedua bagi Umbu. Kota Yogya telah membuat Umbu jatuh hati, yang dalam istilahnya, seakan rata dengan tanah. Jalan Malioboro dan barisan pohon cemara di depan kampus UGM adalah tempat yang paling berkesan bagi Umbu selama di Yogya. Sejak meninggalkan tanah kelahirannya di Sumba, Umbu ingin melanjutkan sekolah di Taman Siswa Yogya, tapi terlambat karena pendaftaran telah ditutup. Akhirnya Umbu meneruskan sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta.
Ketika bersekolah di SMA Bopkri itulah kebiasaannya menulis puisi tumbuh subur dan seringkali menelantarkan pelajaran lainnya. Di sekolah Bopkri itu pula Umbu menemukan  seorang guru yang baginya ikut mempengaruhi jalan hidupnya kemudian, Ibu Lasia Sutanto, guru Bahasa Inggris.  Setiap kali ada pelajaran guru itu, Umbu suka diam-diam menulis puisi. Umbu sendiri tidak mengerti, yang istilah Umbu entah setan atau dewa apa yang menyebabkannya begitu. Padahal Umbu sudah ditegur beberapa kali karena dianggap mengganggu jalannya pelajaran dan konsentrasi teman-temannya di kelas.
Akhirnya karena jengkel dengan ulah Umbu, kawan-kawannya mendesak Ibu Lasia agar menghukum Umbu membaca puisi di depan kelas. Ibu Lasia berpikir dan merenung, kemudian memutuskan bahwa nanti kalau puisi Umbu sudah dimuat koran, baru dikritik. Ibu guru yang pernah menjadi Menteri Peranan Wanita pertama RI itu kemudian memasukkan puisi Umbu ke laci mejanya, dan pelajaran pun kembali berjalan. Tapi Ibu Lasia penasaran juga dengan apa yang ditulis Umbu, puisi itu dikeluarkan lagi dari laci mejanya, dimasukkan lagi, dikeluarkan lagi, begitu seterusnya. Mungkin saat itu Umbu berpikir bahwa Ibu Lasia berminat pada karyanya dan memberikan angin segar bagi proses kreatifnya. Sebab semestinya Umbu pantas dihukum karena sudah beberapa kali melanggar aturan kelas. Sejak itulah Umbu rajin menulis puisi dan kemudian dimuat di beberapa koran.
Tamat dari Bopkri, ibunya menginginkan Umbu melanjutkan kuliah ke fakultas Kedokteran Hewan, tapi Umbu menolak dengan alasan dia lemah dalam pelajaran Ilmu Alam. Diam-diam Umbu kemudian melanjutkan kuliah di Fisipol UGM jurusan Ilmu Sosiatri dan di Universitas Janabadra jurusan Sosiologi.
(Umbu sedang menunjukkan calon antologi puisinya)
Di Yogya, sejak tahun 1950-an, Umbu sudah menulis puisi dan esai. Tetapi puisinya jarang yang menonjol dan menarik perhatian para kritikus sastra. Perannya dalam perkembangan puisi Indonesia modern adalah sebagai bidan bagi kelahiran penyair-penyair muda yang kelak menguasai dunia perpuisian mutakhir di Indonesia. Pada tahun 1968, di Yogya, bersama penyair Suwarna Pragolapati, Iman Budi Santosa, dan Teguh Ranusastra Asmara, Umbu membidani dan mengasuh Persada Studi Klub (PSK) yang menguasai rubrik puisi di Mingguan Pelopor Yogya. Komunitas sastra itu kemudian melahirkan nama-nama besar, seperti Emha Ainun Najib, Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Yudistira Adi Nugraha. Umbu pun dikenal sebagai Presiden Malioboro dan penyair yang punya bakat mendidik.
Di Yogya-lah Umbu mengawali petualangan batinnya. Dia seperti kuda Sumba yang gampang-gampang susah dikendalikan. Keyakinannya pada puisi seperti angin sabana, mengalir terus tanpa ada yang mampu menahannya. Darah petualang, puisi dan angin sabana pula yang membuat Umbu terdampar di Tanah Dewata, yang mungkin menjadi tujuan terakhir pengembaraannya.
Umbu yang menetap di Bali sejak tahun 1979 selalu punya cara-cara unik untuk menggairahkan dunia perpuisian dan membangkitkan gairah apresiasi sastra. Dia membuat jadwal pertemuan rutin, kunjungan ke semua kabupaten untuk mengadakan apresiasi puisi, atau dengan sentuhan-sentuhan pribadi yang membuat anak-anak muda merasa berada dalam sebuah ikatan keluarga besar.
Di Bali, pada era 1980-an dan 1990-an Umbu mengklasifikasikan puisi-puisi yang dimuat di ruang sastranya ke dalam 4 kelas, yakni: kelas “Pawai” bagi pemula yang baru belajar menulis puisi, kelas “Kompetisi” bagi penyair yang cukup gigih mengirim puisi ke gawangnya dan siap diadu dengan penyair lain yang selevel, kelas “Kompro” atau “Kompetisi Promosi” bagi penyair yang telah lolos dalam sejumlah babak kompetisi dan siap diadu di luar kandang, kelas “Posbud” atau “Pos Budaya” bagi penyair yang telah dianggap handal menggoreng dan menendang bola kata-kata ke gawangnya hingga gol.
(Umbu dan Kartu Kehidupan)
Umbu menggunakan berbagai cara untuk menggugah kepercayaan diri penyair Bali, salah satunya Umbu pernah mencantumkan besar-besar slogan “Posbud = Horison” di ruang sastranya. Artinya puisi-puisi yang berhasil masuk kelas Posbud kualitasnya dianggap sama dengan puisi-puisi yang dimuat Majalah Sastra Horison. Tapi efeknya pada era itu karya penyair Bali jarang yang muncul di media nasional karena mereka sudah merasa puas setelah menembus Posbud di ruang Umbu. Belakangan muncul kelas “Solo Run” bagi penyair yang karyanya ditampilkan tunggal dalam satu halaman penuh koran. Dan tentu saja ini kelas yang sangat sulit ditembus penyair.
Sistem yang dibuat Umbu itulah yang bikin para penyair muda Bali “mabuk kepayang” dan tergila-gila menulis puisi. Apalagi pada setiap kesempatan pemuatan puisi-puisi kelas Pawai dan Kompetisi, Umbu rajin mengontak dan menggoda para penyair muda lewat kata-kata yang membakar semangat untuk berkarya lebih bagus. Seringkali dibarengi dengan pemuatan foto para penyair yang dikontak Umbu lewat kolom kecil bertajuk “Stop Press.” Anak muda yang awalnya tidak suka puisi pun jadi ikut-ikutan menulis puisi, mungkin karena ada keinginan fotonya dimuat Umbu. Bahkan kelas Pawai dan Kompetisi pun terbagi menjadi sejumlah angkatan yang beranggotakan 5-10 penyair muda. Saya masuk dalam penyair “Kompetisi Angkatan Ke-17”.
Kegemaran Umbu menonton sepak bola mengilhaminya membuat sistem unik untuk ruang sastranya, seperti konsep pos pawai, kompetisi, solo-run. Sistem seperti itu ternyata berhasil menggugah anak-anak muda di Bali untuk bersastra dan berkompetisi menunjukkan karya yang paling unggul. Apalagi Umbu juga memuat esai-esai dan kritik puisi dari para penulis muda itu. Rubrik sastra Umbu yang unik dan meriah itu pun menjadi ruang polemik sastra (puisi) di antara mereka. Penyair A mengomentari karya penyair B, penyair C membantai puisi penyair D, penyair E membela penyair D, begitu seterusnya. Saya rasa pada era itu ada seratusan penyair di Bali yang berebutan menendang bola kata-kata ke gawang Umbu. Dan Umbu adalah penjaga gawang yang bertangan dingin menangkap bola demi bola kata itu.
(Umbu sedang memberikan apresiasi sastra di SMA 2 Amlapura, 2009)
Pada era 2000-an, Umbu mengubah konsep rubriknya menjadi “Posis” atau “Pos Siswa” sebagai ruang untuk menampung tulisan-tulisan dari para siswa, “Posmas” atau “Pos Mahasiswa” bagi tulisan-tulisan dari mahasiswa, dan “Pos Solo Run” bagi penulis yang tampil tunggal. Umbu juga menyediakan ruang bagi para guru yang suka menulis esai-esai pendek. Terkadang sejumlah puisi dan prosa berbahasa Bali pun dimuat di rubriknya sebagai bentuk perhatiannya pada sastra daerah.
Pada Agustus 1995, SMK bubar karena suatu permasalahan intern. Saat itu SMK menjelang perayaan ulang tahun ke-10. Banyak anggota SMK yang merasa kehilangan tempat berkumpul. Mereka tercerai-berai dan tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Umbu yang suka menyambangi para penyair yang berkumpul di SMK juga merasa terpukul dan kehilangan. Sanggar yang berlokasi di jantung Kota Denpasar itu merupakan tempat yang ideal dan romantis bagi Umbu karena berdekatan dengan Pasar Kumbasari yang buka 24 jam. Mungkin Umbu terkenang Pasar Beringharjo di Yogya saat dia dulu mengembalakan penyair-penyair muda Yogya.
 Di pasar Kumbasari itulah Umbu suka mengajak para penyair muda Denpasar menyelami kehidupan yang sebenarnya dan membuka hati pada rakyat kecil yang bekerja membanting tulang hingga dinihari. Umbu suka memperhatikan kesibukan ibu-ibu pedagang sayur, gadis-gadis buruh junjung, pedagang nasi jenggo, kusir dokar dan kegiatan rakyat jelata lainnya. Kadangkala Umbu mengajak penyair-penyair muda pesta soto babad di sudut pasar itu sambil ngobrol ngarol-ngidul dan memperhatikan kesibukan pasar. Apalagi kalau purnama bercahaya indah menghiasi langit malam Denpasar, Umbu akan terkenang lagu “Denpasar Moon” yang dinyanyikan Maribeth. Umbu memang penyair romantis. Pernah suatu kali dia mengajak saya dan beberapa kawan penyair melihat bulan terbit di tepi sawah di ujung timur Kota Denpasar sambil nongkrong di warung kopi tepi jalan. Dia berseru kegirangan ketika bulan bulat merah muncul perlahan dari sawah yang berbatasan dengan laut Sanur itu. Kami duduk berlama-lama di sana sampai bulan merambat tinggi.
 Setahun setelah SMK bubar, kami menggunakan sebuah rumah kecil di Jalan Bedahulu, di sudut utara Kota Denpasar, sebagai markas. Pada awalnya rumah itu ditempati oleh Nuryana Asmaudi, Raudal Tanjung Banua dan Riki Dhamparan Putra atas kemurahan hati seorang anggota keluarga Puri Kesiman yang memiliki rumah itu. Saat itu Raudal dan Riki baru setahun tinggal di Bali. Saya sering berkunjung ke rumah itu bersama kawan-kawan seniman, ngobrol ngarol ngidul hingga menjelang dinihari.
Di depan rumah itu ada tegalan tak terurus yang ditumbuhi rumpun bambu, di sebelahnya ada sungai kecil dan masih dekat dengan persawahan. Seringkali angsa-angsa peliharaan tetangga memecah keheningan malam dengan lengking suaranya. Suatu kali Umbu datang ke sana dan langsung jatuh cinta dengan tempat itu.  Umbu memberi nama tempat itu “Intens-Beh” yang merupakan akronim dari “Institut Tendangan Sudut Bedahulu”.
Umbu mengkavling sebuah kamar kosong yang kadang-kadang saja ditempatinya. Seniman-seniman muda suka berkumpul di sana, diskusi, ngobrol kebudayaan, baca-baca puisi, merayakan ulang tahun teman, main gitar, pacaran, ngrumpi. Di tempat itulah saya mengenal Umbu lebih dekat dan akrab, mendengar petuah-petuahnya, konsep-konsepnya tentang dunia perpuisian.
(Umbu dan Kuda Putih, 1999)
Jauh sebelum Umbu memindahkan “pusat pemerintahan” ke padepokan Intens-Beh, Umbu dikenal sebagai penyair yang berumah di atas angin. Tak seorang pun tahu di mana tempat tinggal tetapnya. Di mana Umbu suka, di situlah rumah baginya. Dia jarang mau datang ke acara-acara kesenian, meski diundang secara khusus. Tapi dia akan muncul tiba-tiba ketika acara itu menarik perhatiannya, atau hanya mengamati jalannya acara dari jarak yang jauh atau dari balik kegelapan. Pernah seorang kawan penyair mencoba membuntuti Umbu berharap menemukan tempat persembunyiannya, tapi kawan itu kehilangan jejak ketika Umbu tiba-tiba membelok di sebuah tikungan. Dia seperti tahu sedang dibuntuti. Kebiasaan Umbu ini tercermin dalam salah satu baris puisinya: sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.
Umbu memiliki banyak tempat persinggahan di Bali. Hampir di setiap kabupaten ada kawan akrab Umbu yang menyediakan ruang khusus bagi tempat semayamnya. Umbu suka muncul tiba-tiba di tempat-tempat persinggahannya itu dan biasanya dia akan diladeni secara khusus. Kalau sudah begitu Umbu benar-benar mirip seorang raja yang sedang melakukan kunjungan ke bawahannya. Biasanya kawan yang dikunjungi Umbu merasa mendapat kehormatan menjamu tamu istimewa itu.
Sejumlah anak muda yang tertarik pada puisi kemudian berkumpul di tempat itu dan dengan takzim mendengar petuah-petuahnya tentang dunia puisi dan pentingnya puisi bagi pertumbuhan mereka. Tidak hanya itu, Umbu juga memotivasi mereka akan pentingnya komunitas sastra yang mampu mewadahi aspirasi dan kreativitas mereka. Maka bermunculanlah sanggar-sanggar sastra dan kelompok-kelompok teater yang dimotivasi Umbu. Kota Negara di Jembrana dan Singaraja pernah ramai dengan komunitas-komunitas kecil dan kegiatan sastra dan teater yang tidak bisa dilepaskan dari peranan Umbu.
Umbu juga menggairahkan kehidupan bersastra di sejumlah pelosok desa di Bali, seperti Desa Marga di Tabanan. Biasanya Umbu bekerjasama dengan seniman-seniman yang dipercayainya di tempat itu untuk membuat kegiatan-kegiatan apresiasi sastra dan sebagainya. Dan tentu saja Umbu tidak pernah kekurangan orang untuk melakukan kerja-kerja kesenian kayak itu, meski tanpa bayaran. Mereka dengan senang hati dan terhormat mengikuti petunjuk-petunjuk Umbu.
Umbu bukan tipe redaktur sastra yang hanya duduk di belakang meja. Dia menjalankan konsep “turba” atau “turun ke bawah” dengan senang hati dan keyakinannya pada jalan puisi. Yang paling membahagiakan jiwanya adalah puisi mampu merasuki jiwa generasi muda dan bisa menjadi pelengkap hidup mereka. Tidak ada keinginan Umbu mencetak mereka menjadi pasukan penyair, sebab dunia kepenyairan adalah pilihan sadar dalam kehidupan. Yang terpenting bagi Umbu adalah membekali generasi muda dengan puisi sehingga lahir dokter yang berwawasan puisi, insinyur yang paham puisi, dan sebagainya.
Sebab puisi bagi Umbu adalah empati dan simpati pada kehidupan dalam maknanya yang sangat luas. Bagi Umbu, puisi adalah kehidupan dan kehidupan adalah puisi. Penyair Bali generasi 1980-an, 1990-an, 2000-an, rata-rata pernah bergesekan dengan vibrasi Umbu, meski tidak semuanya lantas menjadi penyair yang dikenal di tingkat nasional. Cara Umbu memperkenalkan mereka pada puisi dan juga kesenian kini seringkali menjadi klangenan dalam obrolan para mantan penyair yang kebanyakan telah menjadi orang penting di Bali.
(Wayan Sunarta, Umbu, Phalayasa Sukmakarsa)
Umbu memang termasuk orang yang susah ditemui dan dilacak jejaknya. Dia akan segera menghilang jika ada tamu istimewa yang mencarinya. Emha Ainun Najib beberapa kali gagal bertemu Umbu, padahal Emha adalah murid kesayangan Umbu saat di Yogya. Umbu menghindari Emha adalah semata-mata untuk menjaga rasa kangennya dengan Emha dan Yogya. Taufik Ismail pun gagal bertemu Umbu ketika penyair Horison itu berkunjung ke Bali. Pendek kata, banyak sastrawan berkelas nasional yang ingin bertemu Umbu, tapi Umbu selalu menghilang, menghindari pertemuan. Pertemuan akan terjadi hanya karena dua sebab: Umbu memang ingin bertemu dan Umbu dijebak.
Jika Umbu ingin bertemu dia akan mengontak orang itu secara khusus lewat telepon atau lewat kurir kepercayaannya dan tempat pertemuan pun telah disiapkan. Atau Umbu akan datang tiba-tiba nyamperin orang yang ingin ditemuinya. Pertemuan juga bisa terjadi secara terpaksa karena Umbu dijebak. Ada cerita menarik tentang hal ini. Karena kebelet ingin bertemu Umbu, Emha pernah menjebak Umbu di rumah Hartanto, seorang kawan dekat Umbu. Hartanto tidak tega melihat Emha yang uring-uringan ingin ketemu gurunya itu dalam sebuah kunjungannya ke Bali. Hartanto kemudian memancing Umbu keluar dari sarangnya dengan umpan sop ikan kesukaan Umbu. Tentu dengan senang hati Umbu datang ke rumah Hartanto. Di meja makan Emha telah menunggu dengan rasa kangen yang amat sangat. Umbu pun tidak bisa lari. Mungkin pintu ruangan juga telah dikunci dari luar oleh Hartanto. Konon, Emha dan Umbu hanya saling berdiam diri, masing-masing seperti mengukur dan menakar perasaan.
Pergaulan di Tensut-Beh menjadi kenangan tersendiri bagi saya, terutama ketika berhadapan dengan sosok Umbu. Meski Umbu lebih suka berdiam diri dan hening, dia termasuk sosok pribadi yang sederhana dan hangat. Pada masa-masa Umbu betah di Tensut-Beh, kami biasa berdiskusi berbagai macam persoalan, mulai dari dunia kesenian, mutu puisi mutakhir, persoalan politik bangsa, hasil pertandingan bola, kegiatan mahasiswa, sampai persoalan remeh temeh lainnya, seperti gosip penyair, pacar penyair, menu masakan dan merek rokok kesukaannya.
Biasanya Umbu akan bicara atau berkomentar jika dipancing duluan. Dan ada saja di antara kami yang memancing Umbu bicara tentang suatu pokok persoalan. Biasanya kami ngobrol sambil menunggu makan malam disiapkan oleh penghuni tetap Tensut-Beh, yakni Mas Nuryana. Mas Nur, begitu panggilan Nuryana, selain sebagai penulis dikenal juga jago masak. Dia paling banyak tahu masakan kesukaan Umbu, seperti sayur daun pepaya, daun singkong, jukut (sayur) gonde, nasi beras merah. Dan kami tidak pernah kekurangan makanan. Ada saja yang membawa oleh-oleh buat Umbu. Beras merah dan sayur gonde dibawa dari Marga, Tabanan, oleh seorang kawan dari sana. Daun pepaya dan singkong dipetik langsung dari kebun belakang rumah. Habis makan malam obrolan kembali sambung menyambung ditemani kopi dan rokok, bahkan sering sampai dinihari.
Umbu sangat kuat merokok, sama kuatnya dengan kebiasaannya duduk berjam-jam beralaskan kardus bekas plat koran yang dibawanya dari Bali Post. Dia hanya akan berdiri jika mau kencing atau masuk kamarnya. Dengan beralaskan kardus itu pula kami merebahkan diri di lantai karena mata letih. Masing-masing penghuni Tensut-Beh memiliki satu lembar kardus yang dihadiahi Umbu, lengkap dengan memo dan tanda tangannya. Biasanya ada saja kawan yang mampu menemani Umbu ngobrol sampai dinihari, sementara kawan-kawan lain tergeletak dan ngorok di lantai.
(Umbu dan penulis sedang menikmati bir)
Umbu suka minum bir. Biasanya ada saja kawan yang membawakan bir untuknya. Kemudian bir itu dibagi-bagikan kepada kami. Seorang kawan pecinta sastra yang bekerja sebagai bar tender kadangkala juga membawakan sisa-sisa minuman mahal untuk Umbu dan kami. Di Tensut-Beh kami seperti keluarga besar dengan Umbu sebagai “God Father”-nya. Ada saja tamu-tamu yang datang khusus untuk menemui Umbu di sana. Kalau Umbu tidak berkenan bertemu biasanya dia akan ngumpet seharian di kamarnya, tentu sambil menahan kencing. Dia akan nongol lagi jika tamu itu sudah pergi, kadangkala sambil menenteng botol bekas yang berisi air seni.
Kamar Umbu di Tensut-Beh tidak pernah terbuka lebar, selalu tertutup. Kordennya juga ditutup rapat-rapat. Karena penasaran, saya pernah mengintip kamarnya dari kisi-kisi lubang angin. Luar biasa! Samar-samar saya melihat seni instalasi. Lembaran kardus bekas plat koran dan tikar bersusunan membentuk kasur. Di samping kasur-kardus, koran bekas bertumpuk-tumpuk seperti benteng. Di sela-sela “benteng koran” itu, kertas-kertas yang mungkin berisi berkas-berkas puisi dan catatan-catatan kecil juga bersusunan. Umbu suka bersila berlama-lama di depan berkas-berkas itu sampai tiba jam makan. Botol-botol plastik kosong bekas air mineral berjejer rapi di pinggir dinding kamar Umbu. Yang menggelikan kamar yang berukuran kira-kira 3 x 4 meter itu dibelah oleh seutas tali nilon tempat Umbu menggantung pakaian-pakaiannya dan tas-tas kresek yang entah berisi apa. Umbu menata kamarnya dengan sangat rapi dan unik.
Umbu sangat memperhatikan kesehatan. Setiap bangun tidur, hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, topi pet dipakai terbalik, dia akan langsung ke belakang sambil menggigit tangkai sikat gigi. Umbu paling cemas dan menjadi sangat pemurung jika mendengar kabar kematian, apalagi yang menimpa sahabat-sahabat dekatnya. Bahkan dia sangat cemas berboncengan dengan sepeda motor. Saya pernah memboncengnya dengan motor butut Suzuki RC 80 yang doyan mogok. Karena badannya yang berat tentu saja motor saya oleng memboncengnya. Dengan nada suara cemas dia wanti-wanti mengingatkan saya agar pelan-pelan dan hati-hati. Dalam hati saya tertawa geli, saya tidak sadar kalau sedang membonceng seorang keturunan raja yang sangat dihormati dalam dunia perpuisian.
Sebagai penyair, karya-karya Umbu tidak terlalu banyak dan tidak begitu dikenal luas. Dia lebih dikenal sebagai seorang pendidik, guru puisi, motivator, “provokator kegiatan sastra”, pencari bakat penyair, sahabat dan ayah yang tulus. Dia sangat jarang mempublikasikan karya dan terkesan menghindar dari publisitas. Pernah pengurus salah satu penerbit besar di Jakarta datang menemuinya ke Bali karena ingin mengumpulkan dan membukukan seratus puisinya. Umbu menyanggupi. Tapi sampai sekarang Umbu tidak pernah menyetorkan puisi-puisinya ke penerbit tersebut.
(Umbu sedang merenungi puisi di tepi jalan di Denpasar, 2007)
Sepertinya, Umbu menulis puisi hanya untuk dirinya sendiri. Puisi-puisi tersebut tersimpan rapi dalam map-mapnya dan mungkin tak seorang pun pernah melihatnya. Segelintir puisi Umbu hanya bisa ditemui dalam beberapa buku kumpulan puisi bersama, seperti “Tonggak” yang dieditori Linus Suryadi AG, “Bonsai’s Morning”, “Teh Ginseng.”  Dalam rangka memasyarakatkan puisi-puisi Umbu, penyair Tan Lioe Ie yang juga seorang mantan penyanyi kafe mengaransemen sejumlah puisi Umbu menjadi karya musikalisasi puisi dan telah terkumpul dalam sebuah album sederhana berjudul “Kuda Putih.”
Pembicaraan mengenai sosok Umbu tidak akan pernah habis. Hampir setiap seniman yang pernah bersentuhan dengan Umbu, akan mempunyai kenangan dan cerita tersendiri tentang Umbu. Kalau cerita-cerita itu dikumpulkan tentu akan menjadi sebuah buku yang cukup tebal. Umbu memang sosok manusia yang langka dan unik. Kecintaannya pada dunia puisi seakan melebihi segalanya. Hal itu tercermin dalam salah satu baris puisinya yang berjudul “Melodia”: cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan, karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.***

(Desa Ababi, Karangasem, Bali, 30 Maret 2007) 

Selengkapnya: Pertemuan dengan Umbu

Si Kakek, Burung Bulbul, dan Garcia Marquez

Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu 27 April 2014
Klik gambar untuk memperbesar


Sumber: http://linkis.com/bit.ly/iFKdo
Selengkapnya: Si Kakek, Burung Bulbul, dan Garcia Marquez

Fiksimini: Kabut Gelap

"Kiamat! Kiamat!"

Orang-orang panik dan berlarian menuju tempat sembunyi. Kemana mereka akan bersembunyi? Sementara ini tak ada tempat yang baik untuk bersembunyi dari kuasa Tuhan. Oh!

Aku cemas dan panik. Namun tak dapat berbuat apa. Aku tidak berlarian seperti orang-orang.

Langit mendung. Cahaya matahari diselimuti kabut-kabut tebal berwarna abu-abu kehitaman. Aku benar-benar takut dan kawatir. Ini seperti puncak ketakutanku selama ini selain dosa-dosa yang ada di dalam tubuh ini.

Di depanku, seorang penyair berdiri tegak menatap langit. Kulihat di wajahnya, tanpa ada rasa takut dan semacamnya. Seperti orang kebanyakan. Dia begitu tenang. Orang-orang masih berlarian. Pikiranku sendiri semakin kalut. Buram!

* * *

Aku dan Sang Penyair naik mobil keliling ke suatu tempat. Di sebuah gang kecil mobil merayap. Kudapati orang-orang masih menyimpan cemas dan ketakutan. Aku pun demikian. Namun bersama Sang Penyair ini, seakan damai menyertaiku.

Sang Penyair berambut gimbal dan berkumis. Tahukah kau? Ia mirip Saut Situmorang. Iya! Benar-benar mirip sekali. Jangan-jangan ia meng-kloning diri di alam pikiranku. Sudah dua kali ini ia mampir di imajinasi dalam kepalaku.

Yang pertama, ada Katrin Bandell istri Sang Penyair. Aku meminjam sepeda motor Sang Penyair buat pulang. Kemudian selang beberapa hari, kiranya dua hari aku berkunjung ke rumah mereka untuk mengembalikan sepeda motornya. Tak ada kata-kata yang terucap. Senyuman tersungging dari mulut mereka. Ramah sekali dan baik.

Yang kedua, hanya Sang Penyair saja yang mampir di malam ini. Ia membawa damai.

Dari buku yang pernah kubaca, inilah yang dimaksudkan kejadi kiamat itu. Angin puting beliung berputar-putar mengitari cahaya matahari. Cahaya matahari kalah. Gelap semakin menjadi, dimana-mana.

Tobat tak segera datang. Namun cemas semakin akut. Ada apa ini?

Surakarta, April 2014
Selengkapnya: Fiksimini: Kabut Gelap

Fiksimini: Memancing

Aku, Ayah dan adik laki-lakiku pergi memancing di sebuah sungai. Sungai yang seringkali kudatangi untuk bermain dan mandi ketika siang mulai terik. Pukul sepuluh pagi.

Aku sering mendapat ikan daripada ayah dan adikku. Ayah berujar, entah apa. 

Kami kemudian menceburkan diri ke sungai yang dalamnya setinggi leherku. Kami berenang-renang. Tertawa dalam air. Bagaimana bisa? Wajah kami gembira. Terpukul oleh tangan, air-air sungai. Kami bermain air sampai puas. Kebahagian yang sederhana.

Matahari semakin menyengat. Seperti panas besi yang menempel di kulit.

Surakarta, April 2014
Selengkapnya: Fiksimini: Memancing

Mengabdi pada Puisi

Monday, 28 April 2014

Bali Post Minggu Juli 1979. Sumber foto.
Mengabdi Pada Puisi

Teks: Wayan Sunarta

cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan


(Melodia, Umbu Landu Paranggi)

Umbu Landu Paranggi telah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk puisi. Sejak masa-masa dia dinobatkan sebagai “Presiden Malioboro” pada tahun 1969-an, hingga menjadi pengembara di pelosok-pelosok Bali, demi memberikan sentuhan puisi kepada para remaja yang sedang mencari jati diri.

Umbu pun menjadi legenda di bumi kepenyairan Indonesia. Banyak yang telah mendengar sepak terjangnya, membicarakan dan mengulas sosoknya di berbagai media massa. Banyak yang memuji dan memuja serta merindukan kehadirannya. Banyak yang ingin mengundangnya secara khusus dalam kegiatan sastra. Namun, sangat banyak yang terpaksa gigit jari, karena tak pernah bisa bertemu atau menyaksikan kehadirannya secara langsung, apalagi bercengkrama dengannya. Keberadaan Umbu seperti mitos, antara ada dan tiada, antara fakta dan fiksi.

Namun, sesungguhnya Umbu hanyalah manusia biasa, yang tak lepas dari kelemahan dan kekurangannya. Umbu pun sering merasa kesepian di tengah-tengah “mitos besar” yang dibangun untuk dirinya. Tak jarang tengah malam dia menelepon orang-orang tertentu, hanya untuk ngobrol gosip-gosip terkini. Di lain waktu, teman-temannya yang paham kesepiannya, sesekali “menculik”nya dari tempat kerjanya, mengajaknya minum bir sembari ngobrol ngalor-ngidul hingga larut malam.

Pengabdian Umbu yang tanpa pamrih pada dunia puisi yang membuat banyak orang salut dan terharu. Baginya, puisi adalah kehidupan. Dan, kehidupan adalah puisi. Keyakinannya pada puisi seperti angin sabana, mengalir terus tanpa ada yang mampu menahannya. Semua itu dilakukannya hanya untuk menyemai benih-benih puisi di kalangan remaja, dan mereka tidak harus menjadi penyair.

Umbu sama sekali tak berniat mencetak barisan penyair. Sebab, menurutnya, seseorang menjadi penyair adalah pilihan hidup atau panggilan jiwa, bukan hasil cetakan. Yang paling membahagiakannya adalah ketika puisi mampu merasuki jiwa remaja dan bisa menjadi pelengkap hidup mereka. Sehingga nantinya lahir sarjana-sarjana yang berwawasan puisi, dokter yang paham puisi, tentara atau polisi yang pernah menggauli puisi, atau birokrat yang memberi perhatian pada puisi, dan sebagainya.

Umbu merasa kerja kerasnya di dunia sastra selama ini belumlah apa-apa. Mungkin itu sebabnya dia tak pernah mau menerima berbagai award yang diberikan kepadanya. Dia juga tak mau memenuhi undangan kegiatan sastra yang di dalamnya berisi pamer ketokohan. Dia sengaja menghindar dari kemeriahan tepuk tangan. Bahkan, dia pun tak bersedia datang ke acara peringatan 30 tahun kehadirannya di Bali, yang digelar berkaitan dengan Pesta Kesenian Bali 2009. Namun, dengan senang hati dia akan hadir jika yang mengundangnya anak-anak sekolah yang sedang menggelar kegiatan apresiasi sastra.

Lelaki yang bernama lengkap Umbu Wulang Landu Paranggi ini adalah cucu salah seorang raja Sumba. Dia dilahirkan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Meski lahir di Sumba, Umbu selalu menganggap Yogyakarta adalah tempat kelahiran keduanya. “Yogya pernah membuat saya jatuh hati, rata dengan tanah,” ujarnya.

Lulus SMP, Umbu merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah di Taman Siswa, karena terkesan dengan model pengajaran Ki Hajar Dewantara. Tapi sayangnya, dia terlambat mendaftar. Akhirnya, dia sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta. Pada masa-masa SMA itulah “racun” puisi menjalari jiwanya, dan seringkali menelantarkan pelajaran lainnya. Saat itu pula dia menemukan seorang guru yang memengaruhi jalan hidupnya, Ibu Lasia Sutanto, guru Bahasa Inggris, yang kemudian menjadi Menteri Peranan Wanita Pertama Republik Indonesia.

Setiap kali ada pelajaran Bahasa Inggris, Umbu diam-diam menulis puisi. Umbu pun sering ditegur karena dianggap mengganggu proses belajar mengajar. Karena jengkel dengan ulah Umbu, kawan-kawannya mendesak Ibu Lasia agar menghukumnya dengan cara membaca puisi di depan kelas. Ibu guru yang bijak itu tidak menghukum Umbu, melainkan menyarankan Umbu agar mengirimkan puisi-puisinya ke koran. Dan jika dimuat, teman-teman kelasnya wajib mengritik puisi-puisinya. Ibu Lasia kemudian menahan puisi-puisi Umbu di laci mejanya, namun diam-diam membacanya, mungkin penasaran dengan apa yang ditulis Umbu. Sejak itu, Umbu makin rajin menulis puisi dan mengirimkannya ke koran.

“Saat itu saya berpikir Ibu Lasia menyukai puisi-puisi saya. Itu yang membuat saya tambah semangat menulis puisi. Semestinya saya pantas dihukum karena sudah beberapa kali melanggar aturan kelas,” kenangnya.

Setamat SMA, ibunya menyarankan Umbu melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan. Tapi dia menolak dengan alasan lemah dalam pelajaran Ilmu Alam. Dia kemudian mengambil jurusan Ilmu Sosiatri di Fisipol UGM dan Sosiologi di Universitas Janabadra, namun tak satu pun yang diselesaikannya.

Sekitar Maret 1969, Umbu terlibat membidani dan mengasuh Persada Studi Klub (PSK) dan menggawangi rubrik sastra di mingguan “Pelopor” Yogya yang bermarkas di Jalan Malioboro. Komunitas PSK itu melahirkan banyak nama besar yang turut memengaruhi perkembangan Sastra Indonesia. Karena kebiasaannya nongkrong di kawasan Jalan Malioboro, Umbu dijuluki “Presiden Malioboro”.

Sejak tahun 1979 hingga kini, Umbu menetap di Bali dan menjadi penjaga gawang rubrik sastra di Bali Post. Kebiasaannya memprovokasi kalangan remaja untuk berpuisi semakin berkembang pesat di Bali. Dia selalu punya cara-cara unik dan seringkali tak terduga untuk menggairahkan dan membangkitkan kegiatan apresiasi sastra. Misalnya, menjadwalkan pertemuan rutin, mengunjungi pelosok-pelosok Bali untuk apresiasi puisi, atau dengan pendekatan personal yang membuat para remaja “mabuk” puisi. Dia biasa mengunjungi calon-calon penyair yang dianggapnya berbakat untuk sekedar ngobrol atau membawakan hadiah berupa buku-buku puisi. Dia juga sangat memerhatikan proses kreatif masing-masing penyair yang diasuhnya, bahkan mengikuti perjalanan hidup penyair bersangkutan.

Di Bali, pada era 1980-an dan 1990-an, bermunculan ratusan remaja yang gemar menulis puisi. Dari yang sekedar ikut-ikutan hingga yang sungguh-sungguh ingin jadi penyair. Umbu suka menggunakan istilah-istilah unik untuk menggairahkan rubrik puisi yang digawanginya, seperti “Pawai”, “Kompetisi”, “Kompetisi Promosi”, “Posbud”, “Solo Run”. Istilah-istilah itu merupakan kelas-kelas pencapaian para penyair menurut penilaian Umbu. Pada tahun 2000-an, Umbu mengubah konsep rubriknya menjadi “Posis atau Pos Siswa” untuk puisi-puisi dari siswa SMP/SMA, “Posmas atau Pos Mahasiswa” untuk esai pendek atau puisi dari mahasiswa. Selain itu, Umbu juga sering memuat esai-esai pendek dari para guru yang suka menulis. Semua itu dilakukannya untuk menggairahkan kesusastraan dan minat menulis di kalangan remaja dan guru.

Sebagai penyair, karya-karya Umbu tidak terlalu banyak dan tidak begitu dikenal luas. Dia sangat jarang mempublikasikan puisi-puisinya, hanya untuk dirinya sendiri. Puisi-puisi terbarunya sering disembunyikannya, entah dimana. Namun, beberapa puisinya pernah muncul dalam sejumlah antologi bersama, seperti “Tonggak 3”, “Bonsai’s Morning”, “Teh Ginseng.” Beberapa puisinya juga bisa didengar lewat album musikalisasi puisi bertajuk “Kuda Putih” yang digarap oleh Penyair Tan Lioe Ie.

Umbu tidak hanya peduli puisi, dia juga mengikuti perkembangan seni lainnya, semisal seni rupa, teater, musik, bahkan kesenian tradisional Bali. Dia mengagumi penari legong legendaris, Ni Reneng (kawan dekat Ni Pollok) dan penari Gambuh, I Gde Geruh. Bagi Umbu, kesenian tradisi adalah mata air yang mesti terus dijaga dan dihargai.

Membicarakan sosok Umbu tidak akan pernah habis. Hampir setiap seniman yang pernah bersentuhan dengan Umbu, mempunyai kenangan dan cerita tersendiri tentang Umbu. Kalau cerita-cerita itu dikumpulkan tentu akan menjadi sebuah buku yang sangat tebal.
Selengkapnya: Mengabdi pada Puisi

Bersama Umbu Landu Paranggi (05/04/14) (Dok. Wayan Jengki Sunarta)

Selengkapnya: Bersama Umbu Landu Paranggi (05/04/14) (Dok. Wayan Jengki Sunarta)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas