Showing posts with label chairil anwar. Show all posts
Showing posts with label chairil anwar. Show all posts

Tentang Puisi-puisi Chairil Anwar

Wednesday, 29 April 2015

Tengsoe Tjahjono:
Kata-kata puisi Chairil itu cenderung konkret sehingga lebih mudah membangun imaji di benak pembacanya. Selain itu, Chairil cenderung memilih kata-kata yang lazim dipakai sehari-hari. Bagiku kekuatan Chairil justru pada level sintaksis. Dia mampu merangkai kata menjadi kalimat yang penuh daya. Misalnya: cemara menderai sampai jauh, aku ini binatang jalang, sepi menekan mendesak, dll. Penyair Pujangga Baru sebelumnya sibuk memilih kata indah dan ritmis sehingga terkesan monoton...

Djoko Saryono:
Chairil bisa menggunakan diksi arkaik (seperti Pujangga Baru) dengan sangat efektif dan fungsional dibanding Amir Hamzah atau STA: beta, datu, pagut, Radjawane dll. Tak heran, larik dan baris puisi CA lebih bertenaga. Pujangga Baru terlalu konfrontatif terhadap tradisi, tapi Chairil lebih inklusif terhadap tradisi. Tak benar CA sangat berorientasi Barat: ia memungut, menjemput, dan mematut semua sumber menjadi racikan baru.

Tengsoe Tjahjono:
Racikan baru itulah kekuatan Chairil. Ia tak terjebak pada pola melodi klasik saat ingin membangun irama dalam puisinya. Relasi sintaksis yang lingual dan bunyi yang paralingual mampu disenyawakan dengan baik. Baris beta patirajawane misalnya memperlihatkan tautan dua elemen linguistik itu...

Tengsoe Tjahjono:
Originalitas bagiku senyawa antara potensi diri dan dunia baca (teks/dunia). Chairil memiliki garis tangan atau potensi bahasa yang tinggi dan kemauan membaca yang tidak main-main. Perkenalannya dengan banyak penulis dunia itulah yang pada akhirnya melahirkan sosok Chairil yang kita kenal: menciptakan revolusi dalam puitika puisi...

Djoko Saryono:
Kalau buatku, Chairil justru tak mengejar orisinalitas yang nyatanya banyak kejebak pada konservatisme dan revivalisme puitik, linguistik, dan tematik. Chairil justru menemukan otentisitas yang dihasilkan dari daya ciptanya yang hebat dalam memanfaatkan bahan apa pun dan dari mana pun.

Sumber: Facebook Denny Mizhar.
Selengkapnya: Tentang Puisi-puisi Chairil Anwar

Dikutuk-sumpahi Eros

Monday, 11 August 2014

Chairil Anwar (1922-1949)
Oleh: Saut Situmorang* 

Soalnya adalah apa mungkin seseorang mencapai kesadaran akan kematiannya hanya melalui pengalaman patah cinta?

Persoalan cinta adalah persoalan klise dalam dunia sastra. Beribu puisi telah tercipta sejak manusia pintar berkata-kata sampai zaman hyperreal saat ini yang berkisah tentang indahnya cinta dan malangnya mereka yang dikecewakan hatinya. Penyair Dante dari Itali menulis tiga buku besar tentang Neraka, Purgatoria, dan Sorga hanya karena jatuh cinta pada seorang bocah ingusan umur 4 tahun bernama Beatrice yang pertama kali dilihatnya 17 tahun sebelum La Divina Commedia-nya itu tercipta. “Adik seperguruan”-nya Petrarch menciptakan sebuah genre baru dalam puisi yang disebut Soneta hanya untuk seorang Laura yang sampai mati tak pernah berhasil dimilikinya. Bukankah Taj Mahal di India merupakan “puisi konkrit” yang paling konkrit yang pernah diinstalasi demi cinta?

Dalam buku klasiknya tentang sastra Indonesia modern kritikus Belanda A. Teeuw menyatakan bahwa tidak mudah untuk menunjukkan satu karaktek utama yang bisa dipakai untuk menyimpulkan puisi Chairil Anwar dan bahwa “setiap pembaca selalu menemukan sesuatu yang disukainya pada Chairil” (Modern Indonesian Literature, 1967). Alasan Teeuw atas sulitnya untuk menentukan sebuah “dominant mood” atau “central subject” pada puisi Chairil adalah karena dia menulis hanya dalam suatu periode yang pendek dan meninggalkan karya yang “tidak impresif jumlahnya”, “menggambarkan sebuah kepribadian yang sedang berkembang”.

Walau begitu Teeuw masih melihat satu hal yang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sangat dominan dalam puisi Chairil Anwar:

Satu hal yang dimiliki oleh keseluruhan karya Chairil adalah intensitasnya, obsesinya yang radikal atas hidup dalam semua bentuk dan penampakannya, dan karenanya juga pada kematian – karena siapa saja yang hidup dengan serius pasti tak bisa menghindar dari konfrontasi dengan kematian.

Memang intensitas dan keseriusan Chairil dalam menghadapi kehidupan dan kematian merupakan satu hal yang membuatnya jadi legenda dalam sastra Indonesia modern. Melalui puisi barunya dan terutama gaya hidupnya, Chairil telah menciptakan sebuah imaji baru dari sosok Sang Pujangga lama, dari seorang filsuf bersih bertutur lemah-lembut menjadi seorang bohemian muda yang marah, kotor dan gelisah yang disebutnya “binatang jalang”.

Chairil Anwar mungkin merupakan penulis sastra Indonesia modern yang paling banyak ditulis tentangnya, baik dalam tulisan-tulisan akademis seperti skripsi, tesis, atau disertasi, maupun dalam artikel-artikel lepas di koran dan majalah. Satu aspek dari Chairil yang nampaknya sangat menarik perhatian para pembahasnya adalah kesan umum tentang tidak mungkinnya puisi Chairil dipisahkan dari kenyataan hidupnya. Puisi Chairil adalah refleksi dari kehidupan sehari-harinya, rekaman sebenarnya dari pengalaman hidupnya, baik itu cinta, rasa sunyi, maupun kematian, yang secara jujur dituliskannya ke dalam puisinya. Atau seperti yang diyakini A. Teeuw di atas, karya Chairil menunjukkan intensitas obsesinya dengan kehidupan dan kematian sebagai rasa dominan puisinya. Filsafat Eksistensialisme Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, dan Albert Camus biasanya dipakai sebagai landasan untuk menjelaskan kesatuan karya dan hidup pada oeuvre Chairil.

Tapi tulisan-tulisan tentang Chairil tersebut cendrung melupakan satu aspek penting lain, yaitu peranan Cinta atau Eros dalam kehidupan dan karya Chairil. Cinta bahkan bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sangat penting, kalau tidak mau dikatakan yang paling penting, bagi Chairil karena lebih dari separoh dari puisinya “yang tidak impresif jumlahnya” itu merupakan puisi cinta. Dengan Sitor Situmorang atau Rendra sebagai pengecualian, Chairil Anwar mungkin adalah satu-satunya penyair modern Indonesia yang sangat terobsesi dengan cinta (eros). Obsesi atas cinta ini bisa dikatakan merupakan sebuah motif dominan dalam puisi Chairil, sebuah konsekuensi logis dari begitu intensnya dia menghadapi persoalan eksistensial hidup dan kematian. Sentralitas dari tema cinta dalam karya Chairil tidak bisa tidak dihiraukan lagi kalau sebuah pembacaan yang jauh lebih memuaskan ingin dilakukan atas “binatang jalang” yang dua kali dalam puisinya menyatakan dirinya “dikutuk-sumpahi eros” ini.

Pentingnya tema cinta dalam corpus Chairil Anwar mendapat dukungan cukup berarti oleh “penemuan” sebuah sajak cinta Chairil yang hilang oleh seorang Belanda, seperti yang dilaporkan oleh Burton Raffel dalam jurnal Indonesia Circle, No.66, tahun 1995. Sajak yang berjudul “Berpisah dengan Mirat” itu dikatakan telah diambil oleh seorang bernama Wil van Yperen dari sebuah majalah berbahasa Indonesia yang “kalau nggak salah Gelanggang Pemuda, Jan. 47″:

Berpisah dengan Mirat

Matahari tiba2 sudah tinggi, kami 5 x djalan lebih lekas dari
pada biasa. Djam yang menatap kami menggigil seperti
kena malaria rupanja Tiba disetasion ketjil ada lagi 2 a 3
djam untuk berhadapan

Kopi pait dan pendjual tua jang hormat ketawa sadja djadi
alasan untuk bitjara ketika kereta api bawa
aku madju bergerak, kulihat mukamu
terpaling Dan kau hilang..maka mulailah mesin dalam otakku

Mengeri meluar garis, terasa rasa hendak petjah
Penumpang2 lain djuga ikut dimakan njala
dan kering oleh hawa sebaran diriku..kudengar setan datang
Sehabis itulah berdentam dari mulutku Godverd. buat gantidosa.

Dengan membandingkan sajak di atas dengan sajak Chairil “Dalam Kereta”, Burton Raffel mengambil kesimpulan bahwa sajak “Berpisah dengan Mirat” adalah memang benar karya Chairil karena “banyak irama tipikal Chairil ada pada sajak tersebut, dan juga imaji-imaji khasnya”.

Persamaan irama dan imaji pada kedua sajak memang mendukung kesimpulan Burton Raffel tersebut, apalagi kalau kita perhatikan tahun edisi majalah dari mana sajak “Berpisah dengan Mirat” itu dicopy-ulang merupakan masa Chairil produktif menulis puisi.

Sebuah cerita yang pernah hangat beredar di kalangan sastrawan Indonesia adalah tentang sebuah kumpulan sajak pendek Chairil berjudul Kereta Api Penghabisan yang kini hilang tak tentu rimbanya. Sajak “Dalam Kereta” konon merupakan satu-satunya sajak yang berhasil selamat dari peristiwa moksa puitis itu. Dengan memakai sajak “Dalam Kereta” sebagai acuan-tema atas kumpulan sajak pendek Kereta Api Penghabisan, tidaklah sangat keterlaluan untuk membayangkan kalau kumpulan sajak Chairil yang hilang itu merupakan kumpulan puisi cinta.

Sajak cinta di atas juga mengandung sebuah nama perempuan yang selalu akan dikaitkan dengan nama penyair Chairil Anwar, yaitu Mirat atau Sumirat, seorang perempuan muda dari Jawa Timur yang dicintai tapi gagal dikawini oleh Chairil. Chairil adalah juga seorang penyair kereta api terbesar. Memakai kereta api sebagai judul kumpulan sajak cinta yang hilang itu mengisyaratkan perjalanan-perjalanan yang mesti dilakukan Chairil dari Jakarta ke kota kecil Paron di Jawa Timur demi mengejar sang Eros sekaligus menunjukkan kegelisahan hidup, ataupun displacement, yang telah menjadi identitas khas manusia modern.

Dalam hidupnya yang singkat, Chairil mengenal banyak perempuan dan sangat dekat paling tidak dengan tiga orang, Ida, Sri, dan Mirat. Chairil menulis sajak-sajak cintanya yang terdahsyat buat ketiga “les belles dames sans merci”-nya ini, sajak-sajak cinta yang belum tertandingi hingga saat ini, sajak-sajak cinta yang telah jadi sajak-sajak keramat sastra Indonesia modern:

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini? Cinta?
Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Perbedaan sajak cinta Chairil dengan sajak cinta umumnya di sastra Indonesia adalah soal hubungan cinta dengan kematian. Bagi Chairil, cinta sama dengan hidup dan kehilangan cinta berarti kehilangan hidup itu sendiri. Dalam “Sajak Putih” untuk tunangannya Mirat, Chairil melihat cinta Mirat bagi dirinya adalah “darah mengalir dari luka/antara kita Mati datang tidak membelah.semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku//” Yang paling menarik pada Chairil adalah terdapatnya semacam fatalisme yang menghubungkan peristiwa cinta dengan datangnya kematian. Pada sajak-sajak cintanya nampak betapa Chairil selalu “menyalahkan dirinya sendiri” atas gagalnya sebuah hubungan cintanya. Sadomasokisme obsesif Chairil ini selalu diulang-ulang dalam beberapa sajak cintanya sampai akhirnya mencapai klimaks pada kesadaran bahwa kegagalan terbesar dari diri (the self) adalah kematian. Cinta, atau hilangnya cinta, telah membuat Chairil sadar akan adanya kematian.

Inilah hal baru yang dilakukan Chairil pada puisi Indonesia modern, disamping perombakan bentuk dari motif pantun ke sajak bebas. Sejak sajak “cinta” awalnya pun Chairil sudah menyinggung-nyinggung soal kematian:

Nisan
untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

Disamping soal kematian yang sudah mulai masuk ke dalam kesadaran Chairil dalam usianya yang masih cukup muda (20 tahun) waktu menulis sajak “Nisan” di atas, satu hal lain yang juga bisa dilihat di sini yang kelak mewarnai sajak-sajaknya adalah absennya sentimentalisme romantis. Chairil tidak pernah cengeng dalam mengekspresikan perasaannya, apa itu cinta, patah cinta, atau takut mati. Bahasa Chairil sudah matang dan siap pakai, walau mitos tentangnya bercerita tentang perjuangannya berbulan-bulan hanya untuk menemukan satu kata!

Chairil memang bisa dikatakan turut bertanggung jawab atas mitos populer tentang dirinya terutama yang didasarkan pada puisinya yang sangat terkenal itu, “Aku”. Gaya hidup bohemian antara dandy dan gelandangan yang dilakukannya dan beberapa sajaknya yang terkesan mendukung bohemianismenya itu telah membuat Chairil jadi “binatang jalang” individualistis yang anti-sosial. Zaman hidupnya di Jakarta tahun 40an memang mungkin membuat hal ini tidak mustahil. Budaya Barat pada masa-masa itu memang sedang goncang oleh bermacam gerakan revolusi seni dan pemikiran yang umumnya mempertanyakan kembali tradisi. Banyak yang menolak tradisi yang dianggap telah menciptakan malapetaka terbesar dalam sejarah peradaban Barat, yaitu pecahnya Perang Dunia I, sebuah perang terbesar antar sesama orang Eropa beragama Kristen yang memusnahkan jutaan jiwa dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun. Jakarta sebagai salah satu pusat kekuasaan kolonial di Asia tidak bisa lepas dari apa yang terjadi di benua Eropa. Kalahnya Rusia, Inggris, dan Belanda di Asia Timur oleh Jepang juga berdampak luarbiasa bagi wacana pemikiran kontemporer saat itu. Kritik pedas yang dilontarkan oleh Chairil atas majalah Pujangga Baru yang tidak membahas soal naiknya fascisme di Eropa jelas menunjukkan betapa global cara berpikir Chairil dibanding para seniornya tersebut. Mungkinkah S Takdir Alisjahbana menjadi “binatang jalang” walau “polemik kebudayaan” yang dilakukannya memberi kesan seolah dia merupakan seorang eksentrik pada zamannya!

Mitos populer tentang Chairil itu akan lebih bulat dilihat relevansinya kalau mempertimbangkannya juga sebagai sebuah persona, semacam topeng yang dipakai untuk menutupi diri-yang-sebenarnya (the-real-self) yang terekspresi dengan penuh dalam sajak-sajaknya, terutama sajak-sajak cintanya. Dualisme begini cukup biasa terjadi di dunia seni. Ada hal-hal sangat sensitif yang hanya bisa diungkapkan oleh penyair lewat puisi di mana suara narator puisi tidak mesti diartikan sebagai suara senimannya sendiri. Penyair bisa cuci tangan dan meminta pembacanya meminta pertanggungjawaban tekstual pada narator puisinya. Sulit memang untuk menerima fakta bahwa Chairil Anwar adalah binatang jalang yang selalu ditinggal pacarnya! Tapi dualisme antara keeksentrikan seniman dengan karya seninya malah sering membuat seniman tersebut jadi lebih menarik, lebih hidup, lebih manusiawi dibanding yang hitam putih monoton seperti Khalil Gibran yang sangat terkenal di kalangan non-pembaca-sastra Indonesia. Membaca sajak-sajak cinta Chairil akan memberikan sebuah dimensi baru pada apresiasi kita atas dirinya, karyanya, dan mitos tentangnya.

Subjek umum puisi Chairil adalah dirinya sendiri, kesangsiannya, keresahannya, atau nostalgianya. Puisi otobiografis macam begini adalah puisi interior, atau lebih populer dikenal sebagai puisi konfesional. Sebagai puisi konfesional, sajak-sajak Chairil bukanlah komentar-komentar objektif atas dunia eksternal, atas apa yang terjadi di luar diri penyairnya, seperti epik atau balada. Sajak-sajak Chairil adalah simbol-simbol dari sikap dan rasanya dan mesti diinterpretasikan demikian. Inilah ciri khas dari puisi lirik dan puisi Chairil adalah puisi lirik terkuat yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia.*** 

*Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta. 

Selengkapnya: Dikutuk-sumpahi Eros

Puisi "AKU" karya Chairil Anwar di Kota Leiden Belanda

Friday, 31 January 2014

Selengkapnya: Puisi "AKU" karya Chairil Anwar di Kota Leiden Belanda

Chairil Anwar: “Sekali Hidup, Sudah itu Mati”

Saturday, 4 January 2014

Oleh Muhammad Alfian Tuflih
 
Aku mau hidup seribu tahun lagi”, merupakan sebuah baris dalam sajak Chairil Anwar yang berjudul “Aku” atau “Semangat”. Sajak ini ia tulis pada tahun 1943, ketika usianya genap 20 tahun. Setelah menuliskan sajak ini, enam tahun kemudian Chairil meninggal dunia. Tepatnya pada tahun 1949. Beliau dimakamkan di Karet, tempat yang sebelumnya telah disinggungnya dalam sajaknya yang berjudul “Yang Terampas dan Yang Putus”. Sajak ini adalah sajak terakhir yang ditulisnya sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Berbicara mengenai kehidupan Chairil Anwar, beliau lahir pada tanggal 17 Juli 1922 di Medan, dan meninggal 28 April 1949. Bersama dengan Asrul Sani dan Rivai Apin, beliau ikut mendirikan Gelangang Seniman Merdeka tahun 1946, kemudian ia menjadi redaktur Gelanggang (Budaya Siasat) tahun 1948-1949. Terakhir, beliau juga pernah menjadi redaktur Gema Suasana di tahun 1949 sebelum kematiannya (Juanda, 2012;100).

Karya-karya dalam sajak Chairil Anwar telah menjadi sebuah api yang membakar semangat pejuang pada masa itu. Larik-larik puisinya seperti “Hidup hanya menunda kekalahan”, “Sekali berarti sudah itu mati”, “Aku mau hidup seribu tahun lagi” bahkan menjadi pepatah atau kata mutiara. Secara lisan mapun tertulis, larik-larik tersebut kadang-kadang dikutip lepas dari sajaknya. Kanyataan ini membuktikan bahwa sajak-sajak Chairil Anwar telah memasyarakat.

Chairil anwar juga dianggap sebagai pelopor sastra angkatan ’45. Dalam sajaknya “Aku”, Chairil Anwar membktikan bahwa ia merupakan seorang penyair yang memiliki karakteristik. Sajak yang larik terakhir megawali tulisan ini mengandung antara lain bait berikut:

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang
Biar Peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang.

Dari larik-larik sajak di atas, jelaslah bahwa di samping vitalitas, ada sisi lain kehidupannya yang tergambar. Sisi yang tidak bisa terlepas dari kesenian di negeri ini, sisi “kejalangannya”. Sebagai “binatang jalang” Chairil Anwar muncul sebagai ikon kesenian di Indonesia. Bukan Rustam Efendi, Sanusi Pane, atau Amir Hamzah, tetapi Chairil Anwar lah yang dianggap memliki seperangkat ciri seniman: tidak bekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, selalu kekurangan uang, penyakitan, dan tingkah lakunya mnejengkelkan. Asumsi seperti inilah yang berkembang pada masyarakat tentang gambaran seorang seniman. Gambaran yang cocok di analogikan seperti binatang jalang. Tidak berminat mengurus jasmaninya dan lebih mengutamakan khayalannya (Damono,1999;38).

Terlepas dari benar atau tidaknya gambaran mengenai penyair ini, sesungguhnya penggambaran itu sendiri membuktikan adanya sikap mendua terhadap seniman dalam benak masyarakat. Ia dikagumi sekaligus diejek; ia menjengkelkan tetapi selalu dimaafkan. Keinginan untuk hidup dengan cara tersendiri itulah yang sering tidak sesuai dengan cara masyarakat umum. Chairil Anwar dan cara hidupnya yang jalang telah menjadi semcam mitos; kita selalu lupa bahwa sajak-sajak yang ditulisnya menjelang kematiannya menunjukkan sikap yang matang dan mengendap meski usianya pada saat itu baru 26 tahun.

Penyair yang pada usia 20 tahun ini meneriakkan untuk “hidup seribu tahun lagi”, dan pada usia 26 tahun menyadari bahwa “hidup hanya menunda kekalahan.. sebelum pada akirnya kita menyerah.” Sajak ini merupakan semacam simpulan yang diutarakan dengan sikap yang sudah mengendap. Sikap yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang memisahkannya dari gejolak masa lampau. Proses yang begitu cepat, sehingga “ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah”.

Chairil Anwar memang seorang penyair yang sangat luar biasa. Pemuda yang pendidikan formalnya ini tidak terlalu tinggi bagaikan terang dalam gelap namun juga menjadi setitik nila dan sebelanga susu. Ada begitu banyak pujian dan kontroversi yang dilahirkan penyair ini. Salah satunya tentang penolakan beberapa pihak yang menetapkan tanggal 28 April –hari kematian Chairil Anwar- sebagai hari Sastra Indonesia. Penolakan ini dominan dilatarbelangi oleh “plagiatisme” yang dilakukan oleh Chairil menurut asumsi sekelompok orang.

Memang tak dapat dipungkiri, bahwa ia sempat menerjemahkan dan menyadur larik dari sajak-sajak penyair-penyair dunia seperti Archibald MacLeish, W.H. Auden, John Steinbeck, dan Ernest Hemingway. Namun, kecerdasan dan dorongan semangatnya untuk menjadi pembaharu menjadikannya mampu mengatasi serba bacaan itu; ia tidak dikuasai sepenuhnya oleh yang dibacanya, tetapi berusaha benar-benar untuk menguasainya. Salah satu hasilnya adalah sajak saduran “Krawang-Bekasi” dan “Huesca” terjemahan “Poem” karya John Cornford. Sadurannya itu pun kini bisa dikatakan menjadi milik umum, dan ia telah berhasil mencuri perhatian khazanah sastra dunia dnegan sadurannya tadi. T.S Elliot yang salah satu sajaknya pernah diterjemahkan Chairil Anwar menyatakan bahwa “penyair teri meminjam, penyair kakap mencuri.”

Seperti perubahan yang sangat cepat di sekelilingnya, Chairil Anwar pun tumbuh sangat cepat, dan raganya layu dengan cepat pula. Ketika meninggal mungkin saja ia sudah dalam puncak kepenyairannya, tetapi mungkin juga ia masih akan menghasilkan banyak sajak yang lebih unggul bila ia hidup lebih lama. Sebaiknya kita tidak usah berandai-andai. Faktanya, Chairil anwar tidak bisa bekerja lebih lama. Tetapi, ia telah meninggalkan sejumlah sajak untuk kita.

Tidak ada hasil kerja manusia yang sempurna. Sebagian besar sajak Chairil Anwar mungkin sudah merupakan bagian masa lalu yang sudah tidak pantas diteladani sastrawan sesudahnya. Namun, beberapa sajaknya yang terbaik menunjukkan bahwa ia telah bergerak begitu cepat ke depan sehingga banyak penyair masa kini beranggapan bahwa sajak-sajak Chairil bukan merupakan sajak masa lampau. Sajak-sajaknya justru dianggap sajak masa depan yang hanya bisa dicapai dengan bakat, semangat, dan kecerdasan yang tinggi.

DAFTAR RUJUKAN:
Juanda. 2012. Pokok dan okoh Sastra. Makassar: Fakultas Bahasa dan Sastra UNM
Damono, S. Djoko. 1999. Sihir Rendra: Permainan Makna. Jakart” Pustaka Firdaus
Jassin, H.B. 1983. Chairil Anwar Pelopor Angkatan ’45. Jakarta: PT. Gunung Agung.


Selengkapnya: Chairil Anwar: “Sekali Hidup, Sudah itu Mati”

Kajian Puisi 'Senja di Pelabuhan Kecil'

Oleh Muhammad Alfian Tuflih

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Lapis Suara (Sound Stratum)
Sajak tersebut berupa satuan-satuan suara: suara suku kata, kata, dan berangkai merupakan seluruh bunyi (suara) sajak itu: suara frase dan suara kalimat. Jadi, lapis bunyi dalam sajak itu ialah semua satuan bunyi yang berdasarkan konvensi bahasa tertentu, yaitu bahasa Indonesia (Pradopo, 1995). Hanya saja, dalam puisi pembicaraan lapis bunyi haruslah ditujukan pada bunyi-bunyi atau pola-pola bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus, agar didapatkan efek puitis atau nilai seninya. Ini bisa dilihat pada pola bait pertama dan kedua yaitu a a b b. Berbeda dengan bait kedua yang berpola a a b b yang saling dipertentangkan. Dari puisi-pusinya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa dalam menuliskan puisinya, chairil anwar selain bermain dalam ranah metafora, ia juga begitu memperhatikan persajakan dalam penulisan puisinya. Misalnya saja. Dari analisis beberapa puisi ini berdasarkan lapisan suaranya, puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” didominani oleh vokal bersuara berat a dan u. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa puisi ini dari segi lapis suaranya sangat jelas tergambar unsur lambang rasanya (klanksymboliek).

Lapis Arti (units of meaning)
Satuan terkecil disebut fonem. Satuan fonem berupa suku kata dan kata. Kata bergabung menjadi kelompok kata, kalimat, alinea, bait, bab, dan seluruh cerita. Itu semua merupakan sebuah satuan arti (Pradopo, 1995).

Dalam puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” diatas, terasa bahwa penyair sedang dicengkeram perasaan sedih yang teramat dalam. Tetapi seperti pada puisi-puisi Chairil Anwar yang lain, kesedihan yang diungkapkan tidak memberikan kesan cengeng atau sentimental. Dalam kesedihan yang amat dalam, penyair ini tetap tegar. Demikian pula pada puisinya diatas. Di dalamnya tak satu pun kata ”sedih” diucapkannya, tetapi ia mampu berucap tentang kesedihan yang dirasakannya. Pembaca dibawanya untuk turut erta melihat tepi laut dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang telah tua. Kapal dan perahu yang tertambat disana. Hari menjelang malam disertai gerimis. Kelepak burung elang terdengar jauh. Gambaran tentang pantai ini sudah bercerita tentang suatu yang muram, di sana seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan, tanpa cinta, berjalan menyusur semenanjung.

Satu ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar adalah kekuatan yang ada pada pilihan kata-katanya. Seperti juga pada puisi diatas, setiap kata mampu menimbulkan imajinasi yang kuat, dan membangkitkan kesan yang berbeda-beda bagi penikmatnya. Pada puisi diatas sang penyair berhasil menghidupkan suasana, dengan gambaran yang hidup, ini disebabkan bahasa yang dipakainya mengandung suatu kekuatan, tenaga, sehingga memancarakan rasa haru yang dalam. Inilah kehebatan Chairil Anwar, dengan kata-kata yang biasa mampu menghidupkan imajinasi kita. Judul puisi tersebut, telah membawa kita pada suatu situasi yang khusus. Kata senja berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang dan malam, tanpa hiruk pikuk orang bekerja.

Pada bagian lain, gerimis mempercepat kelam, kata kelam sengaja dipilihnya, karena terasa lebih indah dan dalam daripada kata gelap walaupun sama artinya. Setelah kalimat itu ditulisnya, ada juga kelepak elang menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman sang penyair saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa hari-hari telah berlalu dan berganti dengan masa mendatang, diucapkan dengan kata-kata penuh daya: desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran malam yang semakin gelap dan air laut yang tenang, disajikan dengan kata-kata yang sarat akan makna, yakni: dan kini tanah dan air hilang ombak. Puisi Chairil Anwar ini hebat dalam pilihan kata, disertai ritme yang aps dan permainan bunyi yang semakin menunjang keindahan puisi ini, yang dapat kita rasakan pada bunyi-bunyi akhir yang ada pada tiap larik.

Di dalam puisi ini juga digambarkan rasa cinta namun dalam bentuk kesedihan yang mendalam yang dialami oleh si aku namun si aku tetap tegar menghadapinya. Si aku dalam keadaan muram , penuh kegelisahan, dan tidak sempurna dengan kehidupannya. Si aku sedang mancari cintanya yang hilang. Suasana pada saat itu gerimis yang menambah rasa kesedihan dari si aku.

Lapis Ketiga
Lapis satuan arti menimbulkan lapis yang ketiga, berupa objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, dan dunia pengarang (Pradopo, 1995).

Objek-objek yang dikemukakan: gudang, rumah tua, kapal, tali, temali, laut, kelepak elang, ombak, semenanjung. Pelaku atau tokoh adalah si aku. Latar waktu: ketika si aku sendirian meratapi keadaannya.

Dunia pengarang adalah ceritanya, yang merupakan dunia yang diciptakan oleh si pengarang. Ini merupakan gabungan dan jalinan antara objek-objek yang dikemukakan, latar, pelaku, serta struktur ceritanya (alur); seperti berikut:

Si aku merasa kesepian. Ia telah kehilangan cintanya. Sekarang tidak ada lagi cinta seperti dulu, dimana mereka selalu bersama. Si aku sennatiasa mencari cintanya, entah itu di gudang, rumah tua, namun ia tak menemukannya. Kini si aku hanya ditemani sepi. Hari-harinya ia habiskan dengan menelusuri sepanjang semenanjung disertai suara elang yang memecah kesunyian. 

Walaupun dalam kesepian, menariknya penulis selalu mencaoba memberikan gambaran kepada kita tentang beapa tegarnya si aku dalam menghadapi kehidupannya ini.

Lapis Keempat
Lapis “dunia” yang tidak usah dinyatakan, tetapi sudah implisit seperti yang tampak sebagai berikut.

Dipandang  dari sudut pandang tertentu, kekasih sia aku itu begitu menarik bagi si aku. Ini terlihat dari kalimat “ini kali tidak ada yang mencari cinta”, kalimat ini sangat jelas menceritakan tentang bagaimana perasaan si aku setelah ditinggal orang yang dicintainya. Ia pun merasa tidak perlu mencari cinta karena cintanya telah hilang.

Pada bait kedua, digambarkan tentang perasaan sia aku dalam menjalani kesendiriaannya. Si aku hanya ditemani sepi dan kelepak elang. Saking kesepiannya, sampai-samapai si aku mersa air di pantai yang senantiasa berombak, kini seperti sedang tidur.

Pada bait terakhir, menyatakan tentang kepasrahan si aku menjalani kehidupannya. Semuanya telah terjadi, si aku berusaha bangkit. Ia berusaha membangun kembali kehidupan barunya dan mengucapkan selamat jalan pada masa lalunya.

Selengkapnya: Kajian Puisi 'Senja di Pelabuhan Kecil'

Bertemu Putri Tunggal Chairil Anwar

Saturday, 23 November 2013

Evawani Alissa (baju merah) saat meresmikan patung Chairil Anwar di Rumah Budaya Fadli Zon, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, bulan Juli 2013. | Kompas.com/Jodhi Yudono
Catatan Kaki Jodhi Yudono

Hari ini saya hendak bercerita tentang seorang perempuan berusia 66 tahun yang saya temui di Rumah Budaya Fadli Zon yang terletak di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu. Obrolan ini berlangsung mulai dari Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Tanah Datar, dilanjutkan ke Bukit Tinggi, hingga saat menunggu di Bandara Minangkabau, Kota Padang, Sumbar.

Evawani, begitu nama perempuan itu. Dia putri dari seorang perempuan yang pernah direkam dalam satu puisi karya Chairil Anwar. Judulnya "untuk H". Ya, dia memang putri Hapsah Wiraredja dari pernikahannya dengan penyair Chairil Anwar.

Eva yang kelahiran tahun 1947 tidak pernah mengenali ayah kandungnya yang mangkat ketika Eva berusia satu tahun. Bahkan ketika Eva beranjak besar pun, ibundanya tidak segera memberi tahu jika dia adalah anak Chairil. Tiap kali bertanya pada Hapsah, siapa gerangan ayahnya, Eva hanya mendapat jawaban pendek bahwa ayahnya adalah Ahad Natakusumah.

Padahal ya padahal, Eva tulen anak dari Chairil Anwar, penyair besar negeri ini. Chairil Anwar yang lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Dialah penyair yang beroleh julukan "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul "Aku"). Dialah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, dia dinobatkan oleh HB Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.

Chairil dibesarkan di Medan. Pada tahun 1940 saat Chairil berusia 19 tahun, seusai perceraian orangtuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta). Walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Semenjak di Jakarta itulah Chairil mulai menggeluti dunia sastra. Setelah memublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

* * *
Eva menawari saya mencari durian ke Bukit Tinggi pada malam sebelum kami meninggalkan Tanah Datar. Saya tak kuasa menolak, manisnya durian Bukit Tinggi mengalahkan penat seharian.

Di atas mobil yang dikemudikan oleh menantu Eva, saya pun terus bertanya-tanya tentang apa yang diingat Eva saat masih kecil.

Ketika Eva kelas III di SD Manggarai, dulu Sekolah Rakyat Latihan (SRL), sebuah sekolah percontohan, dia sempat difoto. Katanya, untuk dipasang di bukunya HB Jassin. Tak berapa lama, gurunya di kelas III, memanggil dirinya seraya memberi tahu,"Iip, ini ayah kamu," ujar Pak Guru menyapa nama panggilan Eva di masa kecil. Lantas guru itu pun bercerita bahwa di buku itu HB Jassin bercerita mengenai Chairil dan Eva sebagai putrinya.

Eva pun mengenang kisah ayahnya dari HB Jassin. Menurut Jassin, ayahnya merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai Bupati Indragiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orangtuanya selalu memanjakannya. Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orangtuanya.

Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.

Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing, seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti Rainer Maria Rilke, WH Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia.

"Setahu saya, bapak saya adalah Ahad Natakusumah, yang ternyata bapak tiri saya. Sampai di rumah, saya nanya ke mama, apakah benar saya anak Chairil Anwar. Tapi mama malah bilang kalau itu salah cetak," kenang Eva.

Eva menuturkan, sebelumnya, para tetangga sebetulnya sudah menyinggung kalau dirinya mirip Chairil, terutama dari bawah mata ke atas. "Kalau hidung ke bawah mirip mama."

Tetapi, apa kata Hapsah mengenai penuturan para tetangga bahwa dia mirip Chairil? "Mama bilang, 'Oh, itu tetangga kita yang sayang sekali sama kamu. Kamu anak mama sama Pak Ahad'," Eva menirukan penuturan ibunya.

Namun, akhirnya rahasia itu terbongkar juga. Om Ibrahim, adik Hapsah, berterus terang kepada Eva. "Beliau bilang bahwa benar saya ini anak Chairil. Saat itu saya berumur delapan tahun. Akhirnya mama enggak bisa mengelak, mama bilang papa pergi pas saya umur setahun."

Ya, Chairil pergi menghadap ke Ilahi sebelum genap 27 usianya, sementara Eva masih satu setengah tahun. Namun, dalam usia semuda itu nama Chairil telah terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di majalah Nisan pada tahun 1942. Saat itu ia baru berusia 20 tahun. Dan seperti yang kita kenal kini, puisi-puisi Chairil 'berwarna' kelam. Entahlah, barangkali Chairil sudah merasa, kematiannya telah dekat. Maka, hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian.

Namun, saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati, tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946 di Karawang. Kata Eva, hiasan pelaminannya dari bunga teratai yang harus sering diganti karena cepat layu. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, tetapi bercerai pada akhir tahun 1948.

* * *
Setelah pengakuan Hapsah, Chairil bagi Eva bukanlah seorang asing yang berada di sampul buku puisi. Chairil telah menjadi ayah, meski berada di alam lain. Maka pada suatu hari, ibunda Eva memberinya sebuah buku berjudul Deru Campur Debu. Alangkah terkejutnya Eva, ternyata di halaman pertama buku tersebut ada tulisan begini, "Ip, buku banyak salah cetak, nanti kalau kita banyak uang kita bikin percetakan sendiri."

Sayang disayang, buku tersebut hilang sewaktu dipinjam Sjumanjaya yang kala itu hendak membuat film otobiografi Chairil. Turut hilang pula waktu itu selembar tulisan tangan Chairil berupa puisi berjudul "Buat H".

Sebagai seorang penyair, tentu tak banyak harta yang ditinggalkan Chairil buat istri dan anaknya. Menurut Eva, kala dirinya masih kecil, ada radio peninggalan Chairil yang dijual oleh ibundanya.

Yang ditinggalkan Chairil untuk Eva melalui Hapsah hanyalah pesan agar kelak Eva memanggilnya Chairil saja. "Aku kan masih muda, nanti Iip memanggilku Chairil saja. Aku berharap Iip jadi anak yang pintar seperti aku dan tekun seperti kamu," ujar Eva menirukan kata-kata ibunya yang kala itu bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

* * *
Mengenang Chairil adalah mengenang seorang penyair yang memiliki pesona yang tiada tandingannya kala itu, bahkan mungkin hingga kini. Saat Chairil meninggal, yang mengantar kepergian Chairil yang meninggal akibat disentri dan kolera di RSCM, tak putus dari RSCM pemakaman di Pemakaman Karet.

Karet Bivak adalah kuburan yang telah dinujumkan oleh Chairil sendiri melalui puisinya "Yang Putus dan Yang Terempas". Pada puisi tersebut, Chairil menulis... "Di Karet.., di Karet.., daerahku yang akan datang."

Ya ya, vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo), Jakarta, pada tanggal 28 April 1949. Penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan, lebih karena penyakit TBC. Namun, menurut Eva, ayahnya meninggal karena disentri. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A Teeuw, menyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyarah yang terdapat dalam puisi berjudul "Jang Terampas Dan Jang Putus".

Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul "Cemara Menderai Sampai Jauh" ditulis pada tahun 1949, sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul "Aku" dan "Krawang Bekasi". Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, maupun yang diduga dijiplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudul Deru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

* * *
Eva yang kelahiran tahun 1947 dikarunia 3 anak dan 4 cucu, dari pernikahann dengan almarhum Ibnu Sawarno. Anak pertamanya yang bernama Selectia Rizka menuruni bakat kakeknya dalam menulis puisi.

Eva, yang berprofesi sebagai notaris, mengaku bangga sebagai anak Chairil. "Dalam usia muda, Chairil memiliki karya yang berkualitas sehingga sampai saat ini digemari masyarakat. Puisi-puisinya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa," begitu kata Eva, bangga.

Selengkapnya: Bertemu Putri Tunggal Chairil Anwar

Kisah H.B Jassin dan Chairil Anwar

Thursday, 7 November 2013

KISAH HB JASSIN & CHAIRIL ANWAR sebagaimana dituturkan sendiri oleh HB Jassin:

Chairil bukannya manusia yang tidak butuh uang. Suatu kali ia memang membutuhkannya. Lalu ia menerjemahkan sajak pujangga Tiongkok Hsu Chih-Mo, dengan judul Datang Dara Hilang Dara. Dan dicantumkannya namanya sendiri. Dan inilah yang membawa kami pada suatu perkelahian. Saat itu tahun 1949, saya sedang bermain sandiwara di Gedung Kesenian Jakarta. Di belakang layar, saya duduk dan mencoba memasuki sebuah peran. Malam itu saya bukan Jassin. Saya adalah seorang mantri yang bekerja pada seorang apoteker. Rosihan Anwar yang berperan sebagai apoteker itu menyimpan keinginan untuk menghancurkan musuh dengan alat peledak penemuannya. Dan saya, dalam peran itu, mengetahui rahasia ini. Tapi saya tak boleh membuka mulut. Ini semua sudah diatur dalam lakon Api karya Usmar Ismail yang juga menyutradarai sandiwara ini.

Sementara saya duduk meresapi peran itu, tapi hei, kenapa si kurus itu lalu-lalang di muka saya? “Hmh . . . ,” dia mencibir. Dan segera berkelebat ingatan saya pada tulisan terakhir saya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran dan Plagiat. Dan saya segera tahu arti cibiran itu. Meski saya membela Krawang-Bekasi, tak pelak Chairil merasa tersindir dengan tulisan saya itu. “Kamu cuma bisa menyindir saja! Tak ada yang lain!” teriaknya. Saat itu saya sudah telanjur menghayati tokoh mantri yang tertekan. Dan hati saya jadi panas. “Saya juga bisa lebih dari itu!” kata saya. Dan buktinya . . . buk! Saya tumbuk dia. Tubuh kurus itu terpelanting. Orang-orang berkerumun. “Ada apa?” teriak Usmar Ismail. Dan layar siap terangkat. “Jassin memukul Chairil,” teriak yang lain.
Selengkapnya: Kisah H.B Jassin dan Chairil Anwar

Chairil Gagal Menjadi Plagiat

Friday, 12 July 2013

By @ruhlelana

Pada tahun 1945, diantara gemuruh tank-tank sekutu yang di tunggangi tentara NICA, dengan kegagahan para jendral yang kalah pada perang eropa-pasifik, pada sebuah jalan kecil berlubang-lubang, seorang pemuda tanggung mengendap-endap, menengok pada sebuah rumah bilik yang jendelanya terbuka, melihat selembar kertas berisi sebuah tulisan pendek berjudul AKU, sepertinya sebuah puisi. Pemuda tanggung itu, dengan perasaan yang berdegup luar biasa melongokan kepalanya melalui jendela kamar rumah bilik itu, tak ada siapa-siapa. Lantas dengan tergesa dia meraih kertas itu. Tergesa membuat dirinya teledor, tak sengaja tangannya menabrak botol tinta, hingga menciprat ke segala arah, termasuk kertas yang sedang dipegangnya. Bagian akhir dari tulisan yang seperti puisi itu terciprati tinta hingga tulisannya menyatu dengan cipratan tinta, tak bisa terbaca. Sial! Pemuda tanggung itu mengumpat.
 
Tak berlama-lama pemuda tanggung itu dengan hati-hati melipat kertas itu setelah dirasa tintanya cukup mengering, agar tak mengotori tulisan yang masih bisa dibaca. Memasukan kertas itu ke saku celananya, lantas cepat-cepat pergi sebelum pemilik rumah memergokinya.
 
Sudah lama pemuda tanggung bernama Chairil itu melihat lelaki cina botak berkacamata selalu duduk di depan meja tulisnya tepat menghadap jendela berukuran rendah hingga setengah bagian dari tubuh laki-laki itu terlihat dari pinggir jalan yang melintas di depan rumahnya, letak kamarnya berada di sisi sebelah kiri pada sudut paling depan. Sudah sejak lama Chairil menyaksikan lelaki cina botak itu menulis setiap kali dia lewat depan rumah lelaki cina botak itu. Selalu tersenyum setiap kali mata mereka beradu, Chairil selalu membalas senyum itu. Seperti sebuah ritual, hal itu hampir terjadi setiap hari, setiap kali Chairil berangkat menuju pertemuan rutin para pemuda yang membahas rencana pembebasan beberapa Jugun Ianfu di daerah Sukabumi.
 
Sehingga setiap hari Chairil selalu penasaran dengan apa yang ditulis oleh lelaki cina itu, lelaki yang seolah tidak peduli tentang akan adanya sebuah revolusi. Seorang lelaki yang tampak menganggap bahwa revolusi tak lebih dari sekedar tahi kucing. Seorang lelaki yang tidak menghiraukan suara-suara senjata atau bentakan nyaring tentara Jepang atas bangsa pribumi yang melawan kehendaknya.
 
Apa yang sedang dia tulis? Hingga kesempatan itu datang, jendela kamar lelaki cina terbuka, tapi si lelaki tak tampak duduk di depan meja, kursinya kosong. Pikiran itu hadir begitu saja, saat itu, saat melihat selembar kertas dengan tulisan pendek tergeletak begitu saja di meja itu.

Sebenarnya proses plagiasi itu tidak pernah direncanakan dan tidak pernah terjadi. Chairil melempar begitu saja kertas berisi tulisan pendek itu ke dalam tong sampah setelah meremasnya terlebih dahulu. Tulisan sampah, kupikir dia menulis apa. Kupikir tulisan itu berisi sesuatu yang hebat, penemuan baru, teori baru atau sebuah rencana hebat, ternyata hanya sebuah puisi, setiap orang juga bisa melakukannya. Puisi sampah! Lelaki botak sinting! Binatang jalang yang terbuang! Chairil terus mengumpat sebisanya sambil berjalan. Pada sebuah sungai Chairil membasuh tangannya yang ternodai tinta sambil bergumam, AKU… Aku… Aku… aku ini apa?
 
Sejak saat itu di saku bajunya selalu terlipat sebuah kertas dengan satu kata tulisan tangannya sendiri: AKU Didasarkan pada sebuah surat tertanggal 19 Desember ’05 (19 Desember 1945) yang ditandatangani oleh seseorang bernama Chairil dan ditujukan untuk seseorang bernama A Peng. Surat ini saya temukan disebuah Rumah Tua yang hampir roboh di bilangan Cikini pada tahun 1985 saat orang tua saya membeli rumah itu dari sebuah keluarga Batak.

Depok, 15 Maret ‘07

Sumber Ruhlelana
Selengkapnya: Chairil Gagal Menjadi Plagiat

Chairil Anwar Bersama Kelompok Seniman ‘Gelanggang Seniman Merdeka’

Thursday, 18 October 2012

Ada juga foto Chairil Anwar ketika memberikan semacam pidato.

Kedua foto di atas di ambil dari:
http://www.geheugenvannederland.nl di sini dan di sini.

Sedikit penjelasan: https://abusyauqitamim.wordpress.com/2011/12/23/charles-breijer-pengabadi-bayi-repoeblik-indonesia/

Baca juga ini: (Surat Kepercayaan) https://nobodycorpfound.wordpress.com/2011/08/22/kelompok-seniman-gelanggang-seniman-merdeka/
Selengkapnya: Chairil Anwar Bersama Kelompok Seniman ‘Gelanggang Seniman Merdeka’

Chairil Anwar : Poet of A Generation

Wednesday, 27 August 2008

Chairil’s poetic vitality was never in balance with his physical condition, which grew weaker as a result of his chaotic lifestyle. Before he could turn twenty-seven, he had already contracted a number of illnesses. In the last days of his life, he wrote a poem that read thus:

The Seized and the Severed the darkness and passing wind overtake me
and the room where the one I long for shivers with night’s penetration; trees stand like dead memorials but in Karet, yes, Karet Cemetery – my future locale – there, the wind howls, too.

I put my room in order, and myself as well, in the chance that you might come and I may once again unleash a new story for you; but now it’s only my hands that move, emptily my body is still and alone, as frozen stories and events pass by On April 28, 1949, Chairil Anwar passed away at the CBZ Hospital (now R.S. Ciptomangunkusomo) in Jakarta. And indeed, he was buried at Karet Cemetery the next day. In memory of the words he left behind, April 28th is now celebrated as Literature Day in Indonesia.

POEMS OF CHAIRIL ANWAR

My Friend And I
For L.K. Bohang

We share the same path, late at night
with the fog, penetrating
and the rain, drenching our bodies.
Ships freeze in the harbor.
My blood curdles. My mind congeals.
Who is it that speaks?
My friend is but a skeleton
scourged of his strength.
He asks the time!
It is so late.
All meaning has sunk and drowned
and motion has no purpose.
(1943)

No, Woman!
No, woman! What lives in me
still easily evades your fevered and dark embrace,
intent on finding the greenness of another sea,
to be again on the ship where we first met,
surrendering the rudder to the wind,
our eyes fixed on waiting stars.
Something flapping its wings, again conveys
Tai Po and the secret of the Ambonese Sea.
Such is woman! A single vague line
is all I can write
in my flight towards her enigmatic smile.
(1945)

Announcement
To dictate is not my intent,
Fate is separate loneliness-es.
I choose you from among the rest, but
in a moment we are snared by loneliness once more.
There was a time I truly wanted you,
to be as children in crowning darkness,
and we kissed and fondled, not tiring.
I did not want to ever let you go.
Do not unite your life with mine,
for I cannot be with anyone for very long
I write now on a ship, in some nameless sea.
(1946)

Pines in the Distance
Pines scatter in the distance,
as day becomes night,
branches slap weakly at the window,
pushed by a sultry wind.
I’m now a person who can survive,
so long ago I left childhood behind,
though once there was something,
that now counts for nothing at all.
Life is but postponement of defeat,
a growing estrangement from youth’s unfettered love
a knowing there’s always something left unsaid,
before we finally acquiesce.
(1949)

Oleh  Tinuk Yampolsky

Sumber: http://www.seasite.niu.edu/flin/literature/chairil-anwar_lat15.html

THE SEIZED AND THE SEVERED
|Chairil Anwar

the darkness and passing wind overtake me
and the room where the one I long for shivers
with night’s penetration; trees stand like dead memorials

but in Karet, yes, Karet Cemetery – my future locale – there, the wind howls, too

I put my room in order, and myself as well, in the chance that you might come
and I may once again unleash a new story for you;
but now it’s only my hands that move, emptily

my body is still and alone, as frozen stories and events pass by

1949


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
|Chairil Anwar

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

(penginggrisan dilakukan oleh John H. McGlynn)
 


Sumber: Facebook Sunardian Wirodono
Selengkapnya: Chairil Anwar : Poet of A Generation

Sajak-sajak Chairil Anwar

Saturday, 29 December 2007


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943


HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943


SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...


SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946


CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946


MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949


DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949


PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! (1948)

Siasat, Th III, No. 96, 1949


KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak \"Merdeka\" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (1948)

Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.


Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya, Th III, No. 8, Agustus 1954


PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)

Liberty, Jilid 7, No 297, 1954

Aku Berada Kembali.

Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh

1949

Dengan Mirat

Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

1946


Di Masjid
Kuseru saja Dia
sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka
seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
gelanggang kami berperang
Binasa membinasa
satu menista lain gila

Malam

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Malam di Pegunungan

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

Mirat Muda

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati

di pegunungan 1943, ditulis 1949

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.
Rumahku

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak

Kulari dari gedung lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Dipagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
jika menagih yang satu

April 1943


Tjerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattiradjawane
jang didjaga datu datu
Tjuma satu

Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut

beta pattiradjawane
ketika lahir dibawakan
datu dajung sampan

beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
beta api dipantai,siapa mendekat
tiga kali menjebut beta punja nama

dalam sunyi malam ganggang menari
menurut beta punya tifa
pohon pala, badan perawan djadi
hidup sampai pagi tiba

mari menari !
mari beria !
mari berlupa !

awas ! djangan bikin bea marah
beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kirim datu-datu !

beta ada dimalam, ada disiang
irama ganggang dan api membakar pulau .......
beta pattiradjawane
jang didjaga datu-datu
tjuma satu

*berbagai sumber
Selengkapnya: Sajak-sajak Chairil Anwar

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas