Showing posts with label catatan kecil. Show all posts
Showing posts with label catatan kecil. Show all posts

Tigal Hal dalam Pencarian Ilmu

Sunday, 2 June 2013

Ada tiga hal dalam perjalanan mencari pengalaman dalam belajar (mengais ilmu). Setidaknya menurutku sampai saat ini.

Pertama, luruskan niat
Niatkan diri dalam mencari ilmu. Niat yang kuat, niscaya ilmu mudah masuk. Pegang kuat-kuat niat dalam perjalanan mencari ilmu. Jangan sampai tergoda hal-hal yang menghalangi masuknya ilmu di kepala. Simpan erat ilmu itu di hati dan ingatan. Terus berdo'a agar dimudahkan memahami dan mengamalkannya. Pegang erat ilmu yang kau sukai, lainnya sebagai pengalaman dan pengetahuan.

Kedua, kesempatan
Setiap ada kesempatan, lakukan sesuai niat dan hati. Berangkatlah selagi kesempatan itu menghampirimu. Terlebih ada waktu dan biaya yang cukup, itu lebih memudahkan. Jika ada kesempatan meraih pengetahuan, mengapa tidak dilakukan?

Ketiga, kenekatan
Sungguh dibutuhkan sebuah kenekatan dalam melakukan perjalanan itu. Ketiadaan atau biaya yang minim jangan sampai membuat patah semangat dalam perburuan mencari ilmu. Yakinlah, ketika sampai pada orang-orang atau yang kau anggap guru, kau akan mendapatkan ilmu yang tak bisa dinilai dengan uang. Dan yakin pulalah, ketika niat tak terlaksana, insya Allaah ada jalan lain yang ditunjukkan oleh-Nya. Namun bila ilmu yang kau rasa tidak sesuai yang diharapkan, yakinlah kepada Allah swt. Karena Allah swt selalu saja memberi hikmah dalam setiap kejadian.

Semoga berkah!

Solo, 2 Juni 2013

*dari pengalaman pribadi
Selengkapnya: Tigal Hal dalam Pencarian Ilmu

Keberanian dan "Kegilaan" (ide) untuk Meraih Apa yang Kau Inginkan

Untuk mencapai apa yang kamu inginkan, kamu butuh keberanian dan "kegilaan" (ide). Cobalah dengan sedikit kenekatan dan "kenarsisan". Punyai ide gilamu untuk mencapainya. Meskipun ada beberapa atau banyak orang yang mencibir usahamu itu. Kau jangan lekas menyerah. Segera berbenah dan mengambil hikmah. Niscaya secara tidak sadar kau akan menjumpai apa yang kau inginkan.
Setidaknya kau berusahalah dulu!

Minomartani, Yogyakarta, 15 Mei 2013

*) Ekohm Abiyasa
Selengkapnya: Keberanian dan "Kegilaan" (ide) untuk Meraih Apa yang Kau Inginkan

Kesunyian Abadi

Kesunyian Abadi

Kesunyian abadi saya kira adalah di akhirat. Ketika kita meratapi, meraung dan merasakan kesakitan dalam penyiksaan di neraka. Tak ada orang, seorangpun menemani kita. Kita sendirian! Orang-orang betapa menerima segala sebab dan akibat ketika hidup. Amalan apa yang sudah kuperbuat. Selama ini aku hanya bersenda gurau belaka. Banyak hal terlewatkan olehku. Yang jelas banyak sekali perintah dan larangan masih kulanggar. Apakah ini sudah takdir?

Ada hakikat dan makna. Setiap waktu yang berlalu adalah hikmah-hikmah yang terpetik untuk direnungkan dan diperbaiki. Oh, kiranya aku perlu mengaji lebih banyak lagi. Pada jalur hijau yang dahulu kupelajari. Kehidupan terus berputar. Selalu saja kehidupan sering membawaku pada lumpur.

Diluar sana ada lebih banyak lagi orang bermandi lumpur lebih asyik. Apakah aku seperti mereka yang asyik dengan kehidupan sementara ini. "Kamu harus teliti dan hati-hati. Jangan sampai kau asyik dalam kubangan lumpur itu!" Suara hati selalu mengingatkanku.

Ingatku, ketika bagaimana Nabi Adam diciptakan. Bukankah Nabi Adam diciptakan dengan kesendirian. Dan akhirnya Nabi Adam juga merasa kesepian dalam taman surga-Nya. Hingga Allah pun berkenan menciptakan pendamping untuk menemani Nabi Adam. Diciptakannya Hawa dari tulang rusuk kiri Nabi Adam.

Semua akan berakhir kepada yang mula. Dan kesepian dalam neraka itu sungguh abadi. Itulah, kesunyian ini abadi.

Ada dua pilihan kesunyian, yang manis dan pahit. Manis ketika kita berhasil menamatkan ujian di dunia ini dan masuk surga-Nya. Pahit ketika kita berjalan pada jalur neraka dan masuk ke dalamnya. Apalagi sampai kekal di dalamnya. Untuk selama-lamanya.

"Kamu harus teliti dan hati-hati. Jangan sampai kau asyik dalam kubangan lumpur itu!" Suara hati itu selalu mengingatkanku.
Gandekan-Solo, 21 Maret 2013
Selengkapnya: Kesunyian Abadi

Kosong adalah Isi, Hidup yang Sunyi

Mungkin aku benar-benar butuh psikolog spesial yang pintar menyembunyikan permasalahanku atau keluh kesahku. Aku tidak suka terlalu umbar aib diri. Siapa pula yang suka? Gila kali? Rasanya aku bisa menangkap perihal-perihal "depan" atau kejadian sebelum terjadi beberapa saat. Mungkin itu hanya firasatku saja. Benar firasat saja. Ah gila aku menyombongkan diri. Seringkali memang telingaku berdenging sendiri. Kutangkap sesuara yang mendekat. Namun pula ada yang luput dari radar telingaku ini. Suara-suara besar yang orang tahu. Hahah.. Hanya sebagian kecil saja aku tahu.

Ada kalimat "kosong adalah isi, isi adalah kosong" coba saja engkau praktekkan. Dalam kamar sunyimu, hening tengah malam atau pagi buta benar. Engka tangkap suara sedapatnya. Kemudian rinci lagi suara-suara itu. Suara apakah? Gemericik air kolam/kran, suara kucing mengeong, suara kaki melangkah, suara tikus berdecit, suara setan yang tertawa atau suara turunnya malaikat mencatat aktivitas yang kau lakukan.

Semakin lama tajam juga pendengaranmu.

Mungkin aku benar-benar ingin mengakhiri hidup di alam kasat ini. Sudah pas rasanya aku ingin bertemu dengan Sang Penciptaku. Namun ganjalan masih besar di kepala dan mataku. Terbayang api neraka menyala-nyala begitu hebat. Membakarku!

Seberapa besar amal kebaikanku sampe aku harus mengakhirinya? *jawab sendiri*

Lantas pantaskah orang saling memicingkan mata, atau hanya mata hati mereka saja yang buta?

Hatikupun bisa buta, mengapa mereka tidak?!

Mungkin segalanya memang indah pada waktunya. Semoga kelak, benar-benar aku jumpai Sang Arsitek tubuh manusia dan alam jagat (maya) ini tanpa berlama-lama bercengkerama dengan api neraka. Whatsapp!!
Aionet Jakal KM 14 Jogja, Selasa dini hari 18 September 2012
Selengkapnya: Kosong adalah Isi, Hidup yang Sunyi

(Catatan Hari Ini) Jenuh

Sudah tiga hari ini diriku terjebak dalam kekosongan. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kesana kemari tak tentu arah. Dan tak punya tujuan jelas.

Duh hari!, kau cepatlah berlalu. Diri seperti terkubur hidup-hidup dalam mesin waktu. Aku menjumpai segala hal.

Ingin kesana tapi kaki seperti susah sekali buat melangkah ingin kesana, jarum hati menusuk-nusuk. Seperti permainan saja. Tak kuasa, lemah daya. Hanya ada secelah harapan. Yang ada, menunggu waktu.

Rasanya campur aduk saja. Menikam-nikam. Muka harus tebal biar tahan. Hati juga demikian biar tahan cercaan, fitnah dan kejahatan mulut manusia. Seharusnya aku mengikuti 'rasa' bukan pikir saja. Sebab pikir ini menipuku. Tidak membaur bersama teman-teman seperjuangan. Duh maafkan kawan. Segalanya memang tidak seperti yang kupikirkan, tidak juga yang kau pikirkan.

Semua butuh proses. Proses memerlukan waktu dan sebagainya. Kunci utamanya adalah 'sabar'. Ya bersikap sabar terhadap segala hal. Baik dan buruk.

Aku ingin waktu ini segera meninggalkanku. Pergi dari sini pergi menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga. Lahaula wala quwwata illa billah..

Catatan pada tanggal 6 Oktober 2009
Karanganyar.
Selengkapnya: (Catatan Hari Ini) Jenuh

(Catatan Spiritual) Beberapa Makna (Maksud) dari Gerakan-gerakan dalam Wirid

Beberapa makna (maksud) dari gerakan-gerakan itu.
  • Berdo'alah kepada Allah SWT. Selalu berdo'a kepada-Nya.
  • Pakai 'rasa hati', jangan pake pikir. Karena pikiran itu sering kali menipumu, sedang hati adalah lurus jalan. Tak pernah bohong.
  • Kurang menghormati orang lain. Sering-sering menghormati orang lain (sewajarnya). Misal orang yang emang pantas dihormati, guru, kepala sekolah, wanita yang lebih tua, bertuturlah yang baik pula.
  • Kurang beramal. Masih minim banget kamu dalam beramal.
Ketika dalam kesunyian aku bergerak mengikuti alur. Berbagai arah gerak terdapat menuju. Aku menyerupai seperti orang lain yang pernah kulihat atau dalam film laga televisi. Ada maknanya. Seperti telah tertulis.

Karanganyar, 24 Juli 2009
Selengkapnya: (Catatan Spiritual) Beberapa Makna (Maksud) dari Gerakan-gerakan dalam Wirid

Chapter 13: Ketika Hidup Itu Sebuah Pilihan

Maka akan ku pilih sesuai naluri dan hati nuraniku. Sebab antara aku dan kau pastinya berbeda. Pun kau dengan dia atau mereka pastinya juga berbeda pula. Hanya dengan keyakinan sendiri kita memilihnya.

Sudah terlanjur 'nyemplung' kedalam telaga. Basah jadinya, sekalian saja aku mandi dan menyelam. Berkeliaran dan berpetualang dalam sunyi malam. Melanglang dunia. Menjelajahi alam mimpi dan batin. Lalu aku meraih sedikit kayuh buat kukebut. Menggapainya ternyata tak semudah yang kubayangkan. Namun sepertinya tinggal melangkah saja. Tanpa perlu ragu, tanpa keraguan. Yakinlah!

Tiap malam adalah pelajaran buat kita. Merenung dan bahkan meratap akan perbuatan selama ini, selama hari tadi. Sebab siang hari adalah duri-duri bertebaran lewat mulut-mulut nista. Dan malam banyak petuah bijak. Tinggal pilih dan pahami.

Karanganyar, 16 Juli 2009

Menikmati keadaan. Menuju sebuah kebaikan. Hidup bukannya apa-apa kalau kita tak melakukan apa-apa yang terbaik buat kehidupan kekal nanti. Melangkahlah dengan yakin dan pasti. Senyum kan kau raih. Insya Allah.
Selengkapnya: Chapter 13: Ketika Hidup Itu Sebuah Pilihan

Chapter 12: Akhirnya Aku Merasakannya, dari Sebuah Dilema

Malam tak terlalu dingin. Dengan motor sebagai kendaraan, kami melewati perjalanan malam itu. Jalan yang panjang dan berkelok membuat aku agak capek. Bayangkan saja kami melewati bulak yang sunyi senyap. Hampir tiada manusia beraktifitas. Hanya hewan malam saja rupanya berkeliaran kesana kemari.
***

Sekitar jam delapan malam kami bergegas ke lapangan. Berangkat bersama-sama. Banyak teman rupanya. Aku sendiri tak kenal banyak. Yang datang dari berbagai daerah. Aku hanya kenal sebagian saja/beberapa saja.

Aku baru pertama kalinya ikut. Merasakan apa yang selama ini aku sedikit sekali pahami. Sedikit sekali aku tahu tentang 'itu'. Yah bertambah keyakinan saja aku akan hal itu. Aku merasakan sendiri. Aku melihat sendiri. Aku melakukannya sendiri. Aku bergerak seperti orang gila. Seperti film yang pernah ku/kau tonton di tv. Seperti jurusnya Jackie Chan yang pernah kulihat, Jurus Mabuk. Bergerak tiada aturan. Sekenanya saja melawan arus, mengikuti getaran. Ikuti saja dan rasakan. Berkelana. Kakiku capek juga lama-lama. Akhirnya aku jatuh juga. Bumi seakan berputar-putar dan kepalaku juga ikut berputar-putar. Hampir mau muntah. Heu. Istirahat sejenak.

Banyak pelajaran yang aku ambil selama perjalanan ini. Namun aku masih sangat sangat sangat kecil pengalaman dan ilmu. Ibarat mencelupkan jari ini ke dalam luasnya lautan/samudera. Sungguh banyak yang harus aku gali lebih dalam ini. Alam begitu luas. Tidak satupun tercipta kecuali ada makna/maksud/hikmah/gunanya.

Pelajaran pertama usai hampir tengah malam. Bergegas pulang. Kami sama-sama satu persaudaraan mulai saat itu (pikirku). Banyak teman itu menyenangkan.

Banyak pr yang harus kukerjakan. Banyak hikmah yang harus dipetik dari perjalanan hidup kita/ku. Allah telah menyediakan ini semua untuk umat manusia. Kita wajib bersyukur. Wajib.
***

Siang ini lumayan panas. Sepi lagi. Sedari pagi belum sarapan nasi. Heu. Tetep semangat jalani hari.

Jatipuro-Karanganyar 14 Juni 2009
Ketika malam-malam hening larut. Aku mendapat pelajaran pertama. Ya, nanti akan tahu. Suatu saat. Apa itu? Sebuah pengalaman yang tak kan terlupa. Mengubah hidupku. Pola pikir dan lain sebagainya.Salam.
Selengkapnya: Chapter 12: Akhirnya Aku Merasakannya, dari Sebuah Dilema

Chapter 11: Beradu dengan Sunyi dan Keheningan Lewat Tengah Malam

Semakin lama aku mengucapkan, semakin detak jantung ini terasa. Aku dikelilingi berjuta gambar, wujud tak jelas atau siluet-siluet besar. Berpusing-pusing diri malam tadi. Harusnya aku cari tempat hening sunyi. Tidak dalam kamar kotak yang berjejal.

Rasanya aku pernah mengalaminya sewaktu aku masih kecil. Di rumah mbah putri dulu, Setu. Semakin yakin semakin berputar-putar ombak pikiran ini. Kemana aku ikuti saja. Tidak aku tolak. Bukannya apa-apa. Ada saat jiwa ini mau memberontak keluar selesai. Tapi aku tahan saja.

Aku tidak lama-lama duduk bersila seperti tadi malam. Rasanya baru pertama kalinya dan bukan tempat yang cocok. Besok malam aku coba lagi. Sampai aku merasakan energi. Ya energi besar itu. Energi yang diberikan oleh pak Sofyan. Ya energi itu.

Allahu akbar! Sungguh luas laut hati dan jiwa. Aku belum dapat menyimpulkan kejadian-kejadian secara tepat. Aku masih terlalu awal untuk mempelajarinya. Kawan, bantu aku melihat.

Karanganyar, 09 Juni 2009

Ketika suara diesel buat acara perpisahan di MAN 2008/2009 tadi malam menyeruak. Membakar telingaku. Aku tak bisa konsentrasi 100%. Besok malam saya coba lagi. Di tempah jauh sana, Jatipuro. Insya Allah.
Selengkapnya: Chapter 11: Beradu dengan Sunyi dan Keheningan Lewat Tengah Malam

Chapter 10: Tentang Hujan, Orang Buta dan Dunia yang Membutakan

Kulihat orang itu diseberang jalan. Sembari menunggu seseorang/sesuatu sepertinya. Entahlah, hujan kala itu begitu menderas secara tiba-tiba.

Ternyata seseorang itu tak dapat melihat matanya alias tuna netra. Seseorang itu menunggu seseorang yang mungkin temannya. Lalu menyeberanglah mereka. Seseorang itu memukul-mukulkan tongkat kecilnya kedepan. Bagai mata bantu buat seseorang itu.
***

Sayup-sayup suara adzan Isya terdengar kala hujan itu. Aku lelah menanti riputnya matahari. Diam hening. Temanku baru saja masuk kedalam toko 'Stream' buat beli sesuatu. Entahlah.

Hujan mereda menelanku dalam larut. Akupun berjalan. Menuju keabadian. Dunia ini hanya sementara. Kurasakan saja.

Karanganyar, 7 Juni 2009

Ketika hujan gelap itu mengguyur tiba-tiba. Aku terjebak dalam dua dunia.
Selengkapnya: Chapter 10: Tentang Hujan, Orang Buta dan Dunia yang Membutakan

Chapter 9: Mencatat Huruf

Sunday, 1 April 2012

Membendung air mata yang sedang jatuh ini, tidak mudah bagiku. Karena terlanjur mengelupas rasa sakit ini. Kau sungguh kejam dan tega. Oh mengapa engkau tega melakukan ini? Sebab pula telah patah temali yang terikat. Telah aus oleh waktu. Mungkin?

Karena terlalu banyak juga beban di kepala. Membujur sampah berserakan. Tak ada tempat penampungan atau pembuangan yang layak. Lama-lama membusuk juga kan? Hehe.. Ada banyak kisah yang harus diselesaikan di meja maya ini. Di ruang maya yang luas amat ini. Aku hanya membutuhkan sikap konsisten dalam melarikkan huruf perhuruf. Lalu kau dapat membacanya dengan mimik sedih atau tertawa. Sebab dunia ini begitu beku untuk digenggam sendirian.

Ini bukan pula akhir dari sebuah kisah. Kukira ini adalah sebuah permulaan. Permulaan tentang rindu pada seseorang atau semacamnya. Luka pedih yang ditabur garam, tawa riang karena mendapat tautan hati pada seorang gadis yang diinginkan. Atau mungkin yang lain. Terserah menilai saja. Sebab duniaku dengan duniamu tentu berbeda bukan? Berbagi resah atau rindu sangat menyenangkan kukira. Okelah mari kita tulis saja kenangan yang ada. Setiap peristiwa adalah jejak manis yang baik untuk diabadikan. Di ruang maya ini, manalagi?

Next jemari ini harus kebal kram untuk memulai lagi. 

Jakal km 14 Jogja, 01 April 2012

*) Ekohm Abiyasa
Selengkapnya: Chapter 9: Mencatat Huruf

Chapter 6: Tiba-tiba Hujan

Thursday, 22 March 2012

Tiba-tiba hujan. Pelataran basah. Jalanan basah. Kendaraan mencoba menepi. Orang sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya satu pintaku, semoga tidak mati lampu. Ribet dan repot bila harus ngecek billing client satu-satu. Huft.

Mendung masih setia saja menyelimuti langit. Ku tancap saja lelaguan The SIGIT..

Tapi tiba-tiba saja, terang benderang. Hujan terkalahkan. Itu pertanda apa? Ya, aku suka membaca tanda-tanda dari alam.

Jakal KM 14, 22 Maret 2012
Selengkapnya: Chapter 6: Tiba-tiba Hujan

Chapter 5: Jenuh

Sudah tiga hari ini diriku terjebak dalam kekosongan. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kesana kemari tak tentu arah. Dan tak punya tujuan jelas.

Duh hari!, kau cepatlah berlalu. Diri seperti terkubur hidup-hidup dalam mesin waktu. Aku menjumpai segala hal.

Ingin kesana tapi kaki seperti susah sekali buat melangkah ingin kesana, jarum hati menusuk-nusuk. Seperti permainan saja. Tak kuasa, lemah daya. Hanya ada secelah harapan. Yang ada, menunggu waktu.

Rasanya campur aduk saja. Menikam-nikam. Muka harus tebal biar tahan. Hati juga demikian biar tahan cercaan, fitnah dan kejahatan mulut manusia. Seharusnya aku mengikuti 'rasa' bukan pikir saja. Sebab pikir ini menipuku. Tidak membaur bersama teman-teman seperjuangan. Duh maafkan kawan. Segalanya memang tidak seperti yang kupikirkan, tidak juga yang kau pikirkan.

Semua butuh proses. Proses memerlukan waktu dan sebagainya. Kunci utamanya adalah 'sabar'. Ya bersikap sabar terhadap segala hal. Baik dan buruk.

Aku ingin waktu ini segera meninggalkanku. Pergi dari sini pergi menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga. Lahaula wala quwwata illa billah..

Catatan pada tanggal 6 Oktober 2009
Karanganyar.
Selengkapnya: Chapter 5: Jenuh

Quote Hari Ini: Pengalaman dan Nasihat-nasihat

Pengalaman dan nasihat-nasihat pada masa sebelum kita disini(tempat baru) sebaiknya kau ingat-ingat dan pegang erat. Karena itu akan membantumu beradaptasi dengan lingkungan baru/asing.

Mojosongo, Senin  21 Desember 2009
Selengkapnya: Quote Hari Ini: Pengalaman dan Nasihat-nasihat

Chapter 7: (Catatan Spiritual) Beberapa Makna (Maksud) dari Gerakan-gerakan dalam Wirid #1

Beberapa makna (maksud) dari gerakan-gerakan itu.
  • Berdo'alah kepada Allah SWT. Selalu berdo'a kepada-Nya.
  • Pakai 'rasa hati', jangan pake pikir. Karena pikiran itu sering kali menipumu, sedang hati adalah lurus jalan. Tak pernah bohong.
  • Kurang menghormati orang lain. Sering-sering menghormati orang lain (sewajarnya). Misal orang yang emang pantas dihormati, guru, kepala sekolah, wanita yang lebih tua, bertuturlah yang baik pula.
  • Kurang beramal. Masih minim banget kamu dalam beramal.
Ketika dalam kesunyian aku bergerak mengikuti alur. Berbagai arah gerak terdapat menuju. Aku menyerupai seperti orang lain yang pernah kulihat atau dalam film laga televisi. Ada maknanya. Seperti telah tertulis.

Karanganyar, 24 Juli 2009
Selengkapnya: Chapter 7: (Catatan Spiritual) Beberapa Makna (Maksud) dari Gerakan-gerakan dalam Wirid #1

Chapter 3: Ketika Hidup Itu Sebuah Pilihan

Maka akan ku pilih sesuai naluri dan hati nuraniku. Sebab antara aku dan kau pastinya berbeda. Pun kau dengan dia atau mereka pastinya juga berbeda pula. Hanya dengan keyakinan sendiri kita memilihnya.

Sudah terlanjur 'nyemplung' kedalam telaga. Basah jadinya, sekalian saja aku mandi dan menyelam. Berkeliaran dan berpetualang dalam sunyi malam. Melanglang dunia. Menjelajahi alam mimpi dan batin. Lalu aku meraih sedikit kayuh buat kukebut. Menggapainya ternyata tak semudah yang kubayangkan. Namun sepertinya tinggal melangkah saja. Tanpa perlu ragu, tanpa keraguan. Yakinlah!

Tiap malam adalah pelajaran buat kita. Merenung dan bahkan meratap akan perbuatan selama ini, selama hari tadi. Sebab siang hari adalah duri-duri bertebaran lewat mulut-mulut nista. Dan malam banyak petuah bijak. Tinggal pilih dan pahami.


Karanganyar, 16 Juli 2009

Menikmati keadaan. Menuju sebuah kebaikan. Hidup bukannya apa-apa kalau kita tak melakukan apa-apa yang terbaik buat kehidupan kekal nanti. Melangkahlah dengan yakin dan pasti. Senyum kan kau raih. Insya Allah.
Selengkapnya: Chapter 3: Ketika Hidup Itu Sebuah Pilihan

Chapter 2: "Aku"

Aku..
Kalau sudah merasa tersakiti, terjebak, tertipu dsb maka akan timbul rasa benci atau dendam yang entah kapan berakhirnya.
Itulah aku.
Harap maklum. Untuk saat ini kek na lagi emosi. Hahaha.. Tapi aku sempat tersenyum saat ini. Hatiku lagi kacau entah kenapa?

"Takut, siapa takut!!" Ada bisikan kecil dalam hati.

Entah dunia ini yang membuat pusing hening pening bingung atau aku saja yang terlalu dalam memikirkan. Entahlah. Sepertinya hujan tidak bisa menghapus kesedihan. Berhentipun tiada tanda-tandanya. Hujan jangan kau hukum kami.

Aku..
Tak mau terluka. Tak mau tersakiti. Tak mau tertipu. Tak mau diisengi(sungguh tidak suka). Mendendangkan sejenak lagu spirit itu. Biar lepas bebas penat dan dahaga.

Aku..
Terlalu naif untuk kau kecewakan.

Last Nite, semoga rasaku bertukar saat itu. Amin.

Karanganyar,02 Februari 2009
Selengkapnya: Chapter 2: "Aku"

Chapter 1: Suara Bertahanlah!

Sore ini hujan turun deras membasahi sudut kota. Beberapa hari terakhir sekitar 3 hari yang lalu sungguh sangat menyiksa badan. Panas terasa dan pandangan mata sayu biru. Seperti pilu. Disegenap penjuru otak muncul banyak suara-suara. Suara-suara itu sangat menyiksa. Hampir setiap malam itu aku meracau. Dan kudengar suara-suara itu sangat jelas dikepalaku. Seperti sebuah penyesalan datang bertubi-tubi.

Karanganyar, 25 Januari 2009
Selengkapnya: Chapter 1: Suara Bertahanlah!

Step by Step

Kehidupan selalu bergerak dan ketika level kita sudah naik step by step, lalu kita pastinya akan mencari referensi/ilmu kepada orang atau apalah yang levelnya sama dengan kita atau lebih.

Semoga bermanfaat dan berkah apa-apa yang kita peroleh.
 
Jakal KM 14 Jogja, 14 Nopember 2012
Selengkapnya: Step by Step

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas