Puisi "AKU" karya Chairil Anwar di Kota Leiden Belanda

Friday, 31 January 2014

Selengkapnya: Puisi "AKU" karya Chairil Anwar di Kota Leiden Belanda

Pengumuman Hasil Seleksi: Antologi Puisi Penyair Lima Negara (Puisikan Bait Kata Suara)

Wednesday, 22 January 2014

Sedianya pakai cover ini.

Akhirnya pakai yang ini. Sumber gambar.
Cover LENTERA SASTRA II, Kumpulan Puisi Penyair Lima Negara Asia Tenggara + Taiwan & Hongkong.

Menyeleksi ribuan puisi dari ratusan penyair bukan persoalan mudah. Terlebih lagi penyair yang mengirim karyanya dari berbagai negara yang pastinya memiliki bahasa berbeda. Dikarenakan itulah, kami memahami betul betapa keputusan ini tidak akan memuaskan semua pihak. Tetapi kami juga meyakini, kawan-kawan penyair sudah memahami bahwa lolos atau tidak lolos dalam proses penyeleksian bukan alasan untuk kecewa, melainkan alasan untuk terus meningkatkan  kreativitas kekaryaannya.

Adapun kreteria umum yang digunakan untuk menyeleksi melingkupi beberapa aspek, yakni:
1) Kreativitas, kreativitas berkaitan dengan cara melihat suatu keadaan dan menjadikannya puisi yang menarik. Ada penyair yang mengangkat tema-tema berat sementara dari puisinya kadang tidak sanggup mengangkat bobot seberat yang diinginkan tema. Sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi bias atau kekuatan ruh puisi yang hilang. Ada pula yang mengangkat puisi dari hal-hal sederhana tetapi sanggup membawa bobot pesan yang memukau.

2) Orisinalitas, kemurnian puisi tentu saja harus dipahami setelah menerim pengaruh dari bahan bacaan serta pengaruh lainnya. Setelah itu barulah berbicara kemurnian. Yakni tidak menggunakan karya orang lain atau menyalin sebagian apa lagi keseluruhan puisi orang lain.

3) Musikalitas, rima dan irama puisi terjaga (tidak patah) sehingga pembaca tidak merasa tenggorokannya tersedak lantaran puisi tiba-tiba kehilangan musikalitasnya. Hal ini mohon tidak dipahami sebagaimana rima pada puisi-puisi lama. Melainkan musikalitas pada kadar puisi kekinian.

4) Kepaduan, yang dimaksud kepaduan adalah keterjagaan tema dalam larik dan bait yang dibuat. Serta logika puitik yang masih mungkin dapat diterima.

5) Unik, dalam proses penyeleksian yang paling menyulitkan adalah memilih karya yang sesungguhnya sama bagu, sama indah, dan sama-sama memiliki kekuatan ruh penuh. Akan tetapi di lain sisi, tema yang diangkat sama, cara melihat sebuah tema juga sama, bahkan cara penulis memposisikan dirinya dalam puisi juga sama. Inilah yang akhirnya membuat kami harus memilih di antara kesamaan itu, yakni hanya satu di antaranya yang kami pilih.

6) Dan kelima (seharusnya keenam) adalah memberikan kepercayaan kepada penyair-penyair muda yang potensial untuk turut masuk dalam antologi ini. Karena kami sangat percaya bahwa perlu ada ruang bagi penyair-penyair muda untuk mempublikasikan karya-karyanya.
Dari beberapa kriteria tersebut menghasilkan pertimbangan dari berbagai hal sehingga muncul nama-nama berikut:
  1. Abdullah Tahir = Tutong - Brunei Darussalam
  2. Abdullah Abdul Rahman = Ipoh - Malaysia
  3. Abdul Malik = Medan - Indonesia
  4. Achmad Sultoni = Cilacap – Jateng-Indonesia
  5. Adri Sandra = Paya Kumbuh - Padang-Indonesia
  6. Ady Harboy = Medan - Sumut - Indonesia
  7. Ahmad Ahnaf - Kuala Lumpur - Malaysia
  8. Ahmad Sirajudin Mohd Tahir = Perak – Malaysia
  9. Aini Sekar Arum = BMI - Formosa – Taiwan
  10. Aldi Istanzia Wiguna = Ciparay - Bandung – Indonesia
  11. Alhusni Husni = Kajhu - Aceh - Indonesia
  12. Ampuan Awang = Kinabalu - Malaysia
  13. Arafat AHC = Demak-Jateng-Indonesia
  14. Ari Witanto = DI Yogyakarta – Indonesia
  15. Arsyad Indradi = Banjarbaru - Kalsel - Indonesia
  16. Asrul Irfanto = Bojonegoro – Jateng-Indonesia
  17. Aulia Nur Inayah = Tegal - Jateng - Indonesia
  18. Ayat Khalili = Madura – Jatim-Indonesia
  19. Ayu Cipta=Tangerang-Banten-Indonesia
  20. Azmi Nordin = Kelantan – Malaysia
  21. Badruddin SA = Madura-Jatim-Indonesia.
  22. Bambang Eka Prasetya = Magelang - Jateng – Indonesia
  23. Bagus Burhan = Kudus - Jateng-Indonesia
  24. Che Fauziah binti Idrus=Malaysia
  25. Chipz Mirza Sastroatmodjo = Kudus-Jateng-Indonesia
  26. Darman D Hoeri = Malang - Jatim - Indonesia
  27. Dedet Setiadi = Magelang - Jateng - Indonesia
  28. Deodatus D Parera = Kupang-Indonesia
  29. De Kemalawati = Aceh - Indonesia
  30. Didi Pengeja Adabi = Hang Tuah-Malaysia
  31. Dimas Arika Mihardja = Jambi - Indonesia
  32. Dimas Indiana Senja = Brebes - Jateng - Indonesia
  33. DR. TRI Budhi Sastrio = Sidoarjo = Jatim-Indonesia
  34. Ega Setyatama = Cilegon - Banten - Indonesia
  35. Ekohm Abiyasa = Karanganyar - Jateng-Indonesia √
  36. Eni Meiniar Gito = Rejang Lebong - Bengkulu - Indonesia
  37. En Kurliadi NF = Kranji - Bekasi Barat-Indonesia
  38. Fajar Timur = Tangerang - Banten - Indonesia
  39. Farida Sundari = Sidorejo Hilir - Medan – Indonesia
  40. Gabriel Kim Juan = Labuan - Malaysia
  41. Gampang Prawoto = Bojonegoro - Jatim - Indonesia
  42. Gia Setiawati Nesa = Kotamobagu - Gorontalo – Indonesia
  43. Gie Ferdiyan = Cilegon - Banten - Indonesia
  44. Helfi Hendri Hanif = Jakarta - Indonesia
  45. Helin Avinanto / Helin Supentul = Ngawi-Jatim-Indonesia
  46. Hesti Sartika = Medan - Sumut- Indonesia
  47. Irham Kusumah = Bandung-Jabar-Indonesia
  48. Irna Novia Damayanti = Purbalingga - Jateng– Indonesia
  49. Isroni Muhammad Zulfa = Banyumas – Jateng-Indonesia
  50. Jay Wijayanti = BMI - Taipei - Taiwan
  51. Julia Asviana = Pontianak - Kalbar - Indonesia
  52. Kamaria Bte Buang = Singapura
  53. Khaziah Bte Yem = Singapura
  54. Khoer Jurzani = Sukabumi - Jabar-Indonesia
  55. Kurnia Hidayati = Batang - Jateng - Indonesia
  56. Lalu Muhammad Syamsul Arifin = Lombok - NTT – Indonesia
  57. Lintang Panjer Sore = BMI - Hongkong
  58. Mahlis Tompang = Malaka – Malaysia
  59. Mahroso Doloh = Patani - Thailand
  60. Marina Novianti = Bogor-Jabar-Indonesia
  61. Mohd Ayadi = Kelantan - Malaysia
  62. Muh Ali Sarbini = Gresik - Jatim– Indonesia
  63. Muhammad Asqalani Eneste = Riau-Indonesia
  64. Muhammad Gusti Kurniawan / Zulkifli = Jambi -Indonesia
  65. Muhammad Lefand = Jember - Jatim - Indonesia
  66. Muhammad Rinaldy = Palembang – Indonesia
  67. Nastain Achmad Attabani = Tuban - Jatim-Indonesia
  68. Niam At-Majha = Kudus - Jateng - Indonesia
  69. Nordita Bte Taib = Singapura
  70. Norjanah MA = Pinang - Malaysia
  71. Nova Linda = Pekan Baru - Indonesia
  72. Nurhadi = Kendal - Jateng - Indonesia
  73. Okto Muharman = Batu Hampar - Sumbar-Indonesia
  74. Oscar Amran = Bogor - Jabar - Indonesia
  75. Puspita Ann = Solo-Jateng-Indonesia
  76. Retno Handoko = Sumut-Indonesia
  77. Riyanto = Purwokerto - Jateng - Indonesia
  78. Rohani Din = Toa Payuh - Singapura
  79. Roslan Syarif = Selangor - Malaysia
  80. Rosnani Ahmad = Kedah - Malaysia
  81. Ruhyati = Indramayu - Jabar - Indonesia
  82. Sani La Bise = Sabah - Malaysia
  83. Seruni Tri Padmini = Solo - Jateng-Indonesia
  84. Sharimi Che Rus = Kedah - Malaysia
  85. Sofyan rh Zaid = Bekasi – Jabar-Indonesia
  86. Sri Wintala Achmad = Cilacap - Jateng-Indonesia
  87. Sus Setyowati Hardjono = Sragen - Jateng - Indonesia
  88. Syaki Zanky = DI. Yogyakarta – Indonesia
  89. Syafrein Effendi Usman = Malaka - Malaysia
  90. Tara Pangestu = BMI - Hongkong
  91. Trisnatun Mpd = Aji Barang - Jateng - Indonesia
  92. Ummi Marsheyta = Malaysia
  93. Vanera El Arj = Wonosobo - Jateng - Indonesia
  94. Winarni Dwi Lestari = Karawang - Jabar – Indonesia
  95. Winarno Jumadi = Bandung – Jabar-Indonesia
  96. WYAZ Ibnu Sinentang = Ketapang - Kalbar - Indonesia
  97. Yasintus T Runesi = Cilandak - Jakarta – Indonesia
  98. Yudi Damanhuri = Tangerang - Banten - Indonesia
  99. Yupnical Saketi = Jambi – Indonesia
  100. Zen AR = Sumenep - Jatim – Indonesia

Antologi ini akan diterbitkan pada 30 Maret 2014 dan launching pada Sabtu-Minggu, 14-15 Juni 2014 di Kota Cilegon, Provinsi Banten, Indonesia. Antologi pertama di-launching di Batu Muda Kuala Lumpur. Harapan kami di tahun mendatang dapat di-launching di Singapura. Demikian pengumuman ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Ralat waktu launching..
Sumber gambar: Facebook Nurhadi.

Komunitas Puisikan Bait Kata Suara, 20 Januari 2014.

TTD KURATOR:
1. Ka Tyo (Penyair, Pembina Lentera Foundation, Jakarta, Indonesia)
2. Muhammad Rois Rinaldi (Penyair, Pimred Tabloid RR, Cilegon, Indonesia)
3. Noor Aisya (Penyair, Pembina PBKS & Pendiri Lentera Faoundation, Singapura)

MENGETAHUI:
  1. Sonny H. Sayangbati (Penyair, Penasehat PBKS & Lentera Foundation, Jakarta, Indonesia)
  2. Yatim Ahmad (Penyair, Penasehat PBKS, Wartawan Sabah, Malaysia)
  3. Mahbub Junaedi (Penyair, Pembina PBKS, Bumi Ayu, Indonesia)
DAN SELURUH PENGURUS PBKS
  1. Bard Vilanova (Penyair, Distributor PBKS, Malaysia)
  2. Ezah Nor (Penyair, Desain Grafis PBKS, Malaysia)
  3. Comic Comot (Penyair, Kontributor PBKS, Malaysia)
  4. Fahmi Mcsalem (Penyair, Kontributor, Pasuruan, Indonesia)
  5. Luluk Andrayani (Penyair, Kontributor PBKS, Hongkong)

Info berita di tempo.co Senin, 20 Januari 2014 | 12:56 WIB

TEMPO.CO, Tangerang - Sebanyak 101 penyair berasal dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand lolos dalam seleksi penerbitan antologi puisi Asia Tenggara yang sedianya akan diluncurkan pada Juni mendatang di Indonesia.

Seleksi antologi puisi yang dilakukan komunitas Puisikan Bait Kata Suara ini menyaring ribuan karya penyair muda dari berbagai negara, termasuk penyair Indonesia yang bermukim di Taiwan dan Hong Kong.

Menurut salah seorang kurator asal Indonesia, Muhammad Rois Rinaldi, penyeleksian karya ini terhitung tidak mudah karena beragam karya ditulis dengan bahasa berbeda. Namun, kata Rois, yang merupakan penyair muda asal Cilegon, Banten, ini, kurator memilih karya bersandar pada kriteria dengan berbagai aspek, seperti kreativitas, orisinalitas, musikalitas, dan unik.

"Ada penyair bermaksud mengangkat tema berbobot, namun apa daya kekuatan roh puisi hilang lantaran tidak sebanding dengan tema yang diangkat, sehingga pesan tidak sampai kepada pembaca. Sebaliknya, ada pula penyair dengan tema sederhana namun sanggup membawa pesan yang memukau," ujar Rois kepada Tempo, Senin, 20 Januari 2014.

Seleksi juga memfokuskan kepada penyair muda yang dari segi kemapanan kepenyairan belum terlalu kuat di negaranya, namun produktivitas karya terus bergulir hingga saat ini. Sejumlah penyair Indonesia yang lolos dalam seleksi ini antara lain Bambang Eka Prasetya (Magelang), Arsyad Indradi (Banjar Baru, Kalimantan Selatan), Ayu Cipta (Tangerang, Banten), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Dimas Indiana Senja (Brebes, Jawa Tengah), Ekohm Abiyasa (Karanganyar, Jawa Tengah) Sus Setyowati Hardjono (Sragen, Jawa Tengah), dan sejumlah penyair lain.

Sedangkan sejumlah penyair dari negara lain seperti Abdullah Tahir (Tutong, Brunei Darussalam), Nordita Bte Taib (Singapura), Mahroso Doloh (Patani, Thailand), dan Che Fauziah binti Idrus (Malaysia).

Yang menarik, para penyair Indonesia yang masuk antologi puisi ini aktif tergabung dalam Gerakan Puisi Menolak Korupsi. Sebuah gerakan yang terus digelorakan para penyair Indonesia dalam penolakan korupsi di Tanah Air. Mereka juga gencar membacakan karya puisi antikorupsi dengan cara berkeliling dari kota ke kota di Indonesia dengan biaya pribadi.

Antologi puisi ini sedianya merupakan antologi puisi kedua. Untuk antologi pertama diluncurkan di Batu Muda, Kuala Lumpur, pada 2013 lalu. Berikutnya, setelah Indonesia, antologi ini akan diluncurkan di Singapura. (Ayu Cipta)

Berita serupa juga diposting di id.berita.yahoo.com
http://www.jendelasastra.com/berita/pengumuman-hasil-seleksi-antologi-puisi-penyair-lima-negara 

Baca juga: http://serampaikata.blogspot.com/2014/06/pertemuan-penyair-asia-tenggara-dan.html 

Surat undangan:
Sumber gambar.

Selengkapnya: Pengumuman Hasil Seleksi: Antologi Puisi Penyair Lima Negara (Puisikan Bait Kata Suara)

Bapa Jadi Bapak, Tuan Jadi Tuhan, Bangsa Jadi Bangsat

Thursday, 16 January 2014

Oleh Remy Sylado
 
(KOMPAS, 11 September 2002)


Satu-satunya ejaan baku yang pernah dikenal di masa lampau, selama berabad-abad, untuk perkataan yang padan dengan ayah, adalah bapa, bukan bapak. Demikian kita simak lema ini dalam salah satu kamus bahasa Indonesia yang terdahulu, Kamus Moderen Bahasa Indonesia oleh Sutan Mohammad Zain.

Dengan mengacu itu, di bawah nanti kita akan melihat terjadinya perubahan harafiah dari bapa menjadi bapak, yang kemudian berkembang menjadi dua entri yang sama-sama terpakai, masing-masing bertalian dengan tradisi yang melahirkan semacam truisme yang khas disertai rasa percaya, yang membuatnya terbatas di satu pihak, dan tradisi yang berkembang dan membuatnya berubah dan menjadi leluasa di lain pihak.

Sebegitu jauh, dua lema itu, yaitu bapa dan bapak, baru kita jumpai pembedaannya secara harafiah, tanpa uraian yang jelas, melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia di bawah selia Anton M Moeliono. Apa yang dicatat oleh kamus resmi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen P&K, atas dua kata tersebut, memang tidak kita jumpai dalam kamus standar sebelumnya, Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh WJS Poerwadarminta. Dalam kamus Poerwadarminta itu kita hanya membaca satu lema saja, yaitu: bapa(k). Ini artinya, kata ini bisa dibaca bapa, bisa juga bapak. Huruf ‘k’ di situ, sesuai dengan ejaan Suwandi, dimaksudkan sebagai ganti tanda (‘), yang dalam tulisan Melayu lama beraksara Arab gundul biasanya ditandai dengan hamzah.

Walaupun memang tanpa uraian yang jelas mengenai mengapa ada bapa dan ada pula bapak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, toh dengan menghadirkan saja dua lema dengan perbedaan harafiah, tanpa disertai pula tanda anak panah yang lazim untuk rujuk silang, maka cukup beralasan disimpulkan bahwa kamus ini telah menunjukkan dua tradisi yang dimaksud di atas.

Sebelum kita memeriksa lebih rinci mengenai hal itu, coba kita perhatikan terlebih dulu soal bagaimana kamus ini memberi deskripsi akan kedua lema tersebut:

bapa, orang laki-laki yang dipandang sebagai orang tua…

bapak, 1 orang tua laki-laki, ayah; 2 orang laki-laki yang dalam pertalian kekeluargaan boleh dianggap sama dengan ayah; 3 orang yang dipandang sebagai orang tua atau orang yang dihormati; 4 panggilan kepada orang laki-laki yang lebih tua dari yang memanggil; 5 orang yang menjadi pelindung; 6 pejabat…

Khusus menyangkut lema bapa, maka dengannya kita dapat melihat dengan jelas akan hubungan tradisi bahasa tulis yang berpangkal pada masa di mana perkataan ini pertama kali muncul dalam pustaka bahasa Indonesia beraksara Latin. Pustaka pertama Indonesia yang beraksara Latin tentu saja muncul di sini setelah bangsa-bangsa Barat menjelajah kemudian menjajah Indonesia.

Salah satu buku penting dari kepustakaan lama yang dalamnya tersua perkataan bapa dengan pengertian yang khas, pertalian yang unik, dan penghayatan yang istimewa bagi pemakainya, adalah terjemahan Melayu atas kitab suci Nasrani. Penerjemahan kitab suci Nasrani, yang notabene merupakan buku-buku awal bahasa Indonesia dengan huruf Latin, seluruhnya dikerjakan oleh orang-orang Belanda sejak tahun 1629-hampir seratus tahun setelah sekolah pertama di Indonesia dengan sistem pendidikan dan pengajaran Barat didirikan di Ambon oleh Portugis-dan terus berulang direvisi dalam setiap abadnya sampai abad ke-20.

Adalah Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh JS Badudu (yang bertolak dari kamus Sutan Mohammad Zain), kita baca dua lema ini, bapa dan bapak dalam deskripsi yang memperjelas hakikatnya masing-masing. Pada entri bapa, kita baca keterangan yang lazim digunakan oleh pihak Nasrani, yaitu Allah Bapa. Keterangannya, “sebutan dalam agama Kristen yang sama dengan dalam agama Islam Allah Subhanahu Wa Taala.” Sementara, dalam kamus Sutan Mohammad Zain tadi, keterangannya untuk kata bapa adalah, “kurang halus dari pada ayah, lebih halus dari pada pa’ saja.”

Secara khusus, pertalian antara bapa dan Allah dalam kitab suci Nasrani sebagai buku awal kepustakaan Indonesia beraksara Latin itu, adalah dari perikop Matius 6, yaitu tentang doa yang diajarkan Isa Almasih-dalam terjemahan sekarang-adalah “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu.” Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Barat dari mana terjemahan Indonesia berangkat, kalimat ini berbunyi, Belanda: “Onze Vader, Die in de hemelen zijt. Uw Naam worde geheiligd”; Inggris: “Our Father which art in heaven, hallowed be thy name”; Perancis: “Notre Pére qui es aux cieux. Que ton nom soit sanctifié”; Portugis: “Pai nosso que estás nos céus, santificado seja o teu nome.” Dengan memberi contoh terjemahan-terjemahan bahasa Eropa, yang semuanya bersumber dari teks asli bahasa Yunani, maksudnya untuk menyimak dan membandingkan, bahwa dalam bahasa-bahasa Eropa tersebut tidak ada perbedaan antara vader-father-pére-pai bagi God-God-Dieu-Deus dan bagi mens-man-homme-homem; tidak seperti dalam bahasa Indonesia kalangan Nasrani yang membedakan bapa bagi Allah, dan bapak bagi manusia. Mungkin di situlah kelebihan bahasa Indonesia.

Dalam kamusnya yang disebut di atas, Sutan Mohammad Zain mengaku, memasukkan pelbagai kata dari kepustakaan lama untuk bahan studi bidang sastra, dari kamus yang standar dan terpakai sampai menjelang penyerahan kedaulatan RI, yaitu kamus bahasa Melayu karya HC Klinkert. Dalam daftar pustaka acuan dari kamus bahasa Indonesia yang diselia Anton M Moeliono itu juga kita baca dua kamus karya HC Klinkert tersebut, yaitu Nieuw Maleisch-Nederlandsch Woordenboek dan Nieuw Nederlandsch-Maleisch Woordenboek.

Nama Klinkert sendiri di kalangan Nasrani sejak abad ke-19 dikenal sebagai penerjemah kita-kitab injil bahasa Melayu yang paling bagus. Terjemahan injilnya dalam bahasa Melayu, sebagai kitab diterbitkan pada tahun 1863, menyangkut kata bapa dari perikop Matius 6 tersebut, bahkan masih diajarkan oleh orang-orang tua di Minahasa sampai tahun 1970-an. Terjemahan Klinkert untuk ayat ini adalah, (sesuai yang tercetak), “Bapa kami jang ada disorga, dipermoeliakanlah kiranja Namamoe.” Kalimat terjemahan Klinkert ini telah dibuat menjadi ‘paereten’ (jimat yang dibungkus kain merah untuk diikatkan di pinggang supaya konon untuk kebal peluru) oleh prajurit-prajurit asal Minahasa yang dibina menjadi mersose (marechaussee) di Magelang, Jawa Tengah (Jateng) untuk keperluan perang di Aceh akhir abad ke-19.

Walau berkutat dengan bahasa, dan menjadi ahli, sebetulnya Klinkert tidak berlatar sekolah tinggi bahasa. Sebelum berangkat ke Indonesia, selagi masih di Nederland, ia bekerja berganti-ganti dan berpindah-pindah, mulai dari buruh pabrik, tukang ukur tanah, sampai masinis kapal. Karena kecelakaan yang dideritanya dalam pekerjaannya selaku masinis kapal, ia berhenti, lantas mendaftar untuk menjadi zending gereja Menonite-yaitu gereja yang oleh awam dimasukkan dalam gugus Reformasi, embrio dari gereja Jawi-yang bertugas di sekitar Muria, Jateng.

Awal mula Klinkert menerjemahkan injil karena melihat terjemahan yang sudah ada sebelumnya, yang telah dibuat atas titah pemerintahan kolonial, oleh Melchior Leijdecker, sulit dipahami oleh pemakai bahasa Melayu umum, yaitu Melayu yang digunakan di pasar-pasar. Terjemahan yang terbit tahun 1733, dianggap sangat sulit, karena terlalu banyaknya kata serapan Arab dan Persia di luar Sansekerta yang dipakainya, dan tidak dipahami oleh khalayak biasa yang tidak berpengalaman membaca sastra Melayu beraksara Arab gundul. Alkitab terjemahan Leijdecker itu adalah “Elkitab, ija itu segala surat Perdjandjian Lama dan Baharuw atas titah Segala Tuwan Pemarentah Kompanija. Untuk perikop tentang doa yang menyangkut kata bapa tersebut. dalam terjemahan Leijdecker adalah. “Bapa kamij jang ada disawrga, namamu dipersutjikanlah kiranja.”

Sebelum Leijdecker mengerjakan terjemahannya itu, terjemahan-terjemahan bahasa Melayu untuk kitab suci Nasrani, yang notabene merupakan tonggak dari buku bahasa Indonesia awal yang bertuliskan huruf Latin, adalah yang dikerjakan oleh Albert Cornelisz Ruyl pada tahun 1629, dicetak di Enkhuizen, Belanda: serta terjemahan Daniel Brouwerius pada tahun 1668, dicetak di Amsterdam, Belanda. Dalam terjemahan Ruyl dan Brouwerius, kata yang dimaksud di atas, dieja dobel ‘p’, yaitu Bappa. Pada terjemahan Ruyl kalimatnya adalah “Bappa kita yang berdudok kadalam surga, bermumin menjadi akan namma-mu”; sedangkan pada terjemahan Brouwerius kalimatnya adalah “Bappa cami, jang adda de Surga. Namma-mou jadi bersacti.”

Untuk melihat lebih persis bagaimana kata bapa, bukan bapa’, atau bapak, ditulis dengan cara Melayu lama yang awalnya menggunakan huruf Arab gundul, kita dapat memeriksa pula perikop yang sama ini dalam terjemahan yang dikerjakan oleh William Girdlestone Shellebear, perwira tinggi yang bertugas di Singapura pada tahun 1886. Sebagai komandan dari pasukan laskar Melayu, Shellebear belajar bahasa Melayu dari seorang munsyi terpandang, Datuk Dalam Johar, anak didik langsung dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Untuk kata padan ayah yang dimaksud, dapat kita simak dalam terjemahannya dengan huruf Arab gundul, yang kita latinkan di sini, ejaannya menjadi, “ya bapa kami yang disurga, terhormatlah kiranya namamu.” Jika kita simak teks ini dalam huruf Arab gundul sesuai yang ditulis oleh Shellebear, maka kata bapa itu adalah ( ), bukan (), atau (), sebagaimana yang berkembang di Indonesia.

Jika kita memeriksa kamus bahasa Malaysia, misalnya Kamus Harian karya Mohd. Salleh Daud dan Asmah Haji Omar (yang pernah dicetak di Indonesia atas izin Federal Publications, Selangor Malaysia), maka di sini pun kita hanya melihat satu saja lema yang baku dalam bahasa Malaysia, yaitu bapa.

Tapi akhirnya memang harus dikatakan, bahwa menariknya bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berkembang-yang antara lain dengan memindai kata bapa yang menjadi bapak dengan deskripsi beragam atas lema yang kedua di konteks ini-menunjukkan bahwa bahasa ini tidak sama lagi dengan bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia. Sertamerta yang hendak dipindai di atasnya, adalah, bagaimana tradisi yang tertera dalam perikop tersebut, yang awalnya dari pola patriarkhat semit, dalam hal ini Yahudi, melalui pewartaan yang inklusif dengan hellenisme, atau katakanlah Yunani kafir, untuk kata yang aslinya adalah pater, dalam bahasa Indonesia menjadi bapa dan kemudian bapak sebagai suatu perkataan dengan kandungan figuratif dan literal atas sosok seorang ayah, telah berkembang menjadi banyak ragam makna mencakup kaitannya dengan sosiologis dan hubungannya dengan politik. Dalam bahasa Yunani, dari mana kitab injil pertama-tama ditulis, tidak ada beda antara pater untuk Theos (Allah), dan pater untuk anthropos (manusia), sebagaimana halnya juga terjemahan-terjemahan injil dalam bahasa-bahasa Eropa umumnya seperti yang sudah kita simak di atas.

Dalam bahasa Indonesia sekarang, yang akan kita lihat berikut ini, terasa bahwa ketika kata bapak kita gunakan di luar rumah, jadi bukan kepada ayah sendiri, dengannya ada hubungan unik yang hanya bisa dipahami dan kemudian diejawantah dalam pikiran manusia Indonesia sendiri. Perkataan yang bermula melintas dalam tatanan budaya nasional, yang artinya berkonteks politik ini, sebagai suatu pengertian yang mengandung nilai persaudaraan, hakikat kesedarahan, dan rasa senasib-sepenanggungan dalam prayojana kebangsaan, pelan-pelan berubah bersama dengan perubahan politik yang mengubah juga tatanan sosial, jadi suatu istilah yang berjarak, yang acapkali diucapkan dengan perasaan jengkel.

Dulu, ketika presiden pertama RI berkenan dipanggil bung, yaitu sebutan akrab untuk abang atau kakak, maka dengannya memang terlihat kemauan untuk menaruh orang yang memanggilnya sebagai saudara, sedarah, keluarga. Tapi ketika presiden pertama itu dimakzulkan oleh Orde Baru, maka presiden kedua lebih berkenan dipanggil bapak. Namun, bapak yang disebutkan untuk presiden kedua tersebut-apalagi setelah kelewat rajinnya menteri penerangannya tampil di televisi untuk mengulang-ulang kalimat yang sama, “menurut petunjuk bapak presiden”-maka lambatlaun sebutan ini kehilangan fatsoen untuk membangkitkan takzim, sebaliknya orang banyak merasakannya sebagai suatu istilah berjarak yang mengandung ancaman ketakutan, momok, teror.

Dari masa itu juga kita merekam beberapa istilah yang berlatar pada perubahan tatanan karena pelaku-pelaku politik yang menjadi aneh antaranya karena kehilangan hatinurani, menjalar ke dalam perilaku para birokrat disegala urusan. Istilah yang pernah dimasyhurkan oleh Mochtar Lubis pada orasinya yang bagus itu, adalah ABS (asal bapak senang), berlanjut dengan istilah lain antara bapakisme dan ABG (anak bapak gua), yang semuanya dihubungkan dengan kelakuan-kelakuan norak, korupsi: maling duit negara buat foya-foya dengan bini muda.

ADA lagi perkataan yang hebat sekali, terjadi dalam bahasa orang Indonesia, yang awalnya tersua dalam bahasa tulis Melayu berhuruf Latin, juga melintas dari tradisi gereja, yaitu perkataan yang dengan sendirinya dipahami dari sudut teologi Nasrani, menyangkut substansi ilahi dalam insani. Perkataan yang dimaksudkan adalah Tuan dan Tuhan.

Pemakai bahasa Indonesia semuanya mengerti bahwa perkataan tuan sifatnya insani, dan perkataan tuhan sifatnya ilahi. Artinya, walaupun dalam kata tuan diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan beberapa catatan, antara lain: satu orang tempat mengabdi, dua yang memberi pekerjaan, tiga orang laki-laki yang patut dihormati, tetap saja dalamnya tidak mengandung pengertian ilahi.

Sebentar lagi kita akan melihat perubahan ejaan dari Tuan ke Tuhan dalam kitab suci Nasrani terjemahan Melayu dengan huruf Latin. Melalui itu dapat gerangan kita simpulkan bahwa pencarian ejaan yang lebih aktual untuk sebutan khusus bagi Isa Almasih dalam terjemahan bahasa Melayu beraksara Latin-yang bersumber dari injil asli bahasa Yunani untuk perkataan Kyrios-menjadi Tuhan dan sebelumnya Tuan, serta-merta telah melahirkan juga eksegesis yang jamak. Sebelum kita memeriksa bukti itu dengan membuka pelbagai versi terjemahan kitab suci Nasrani tersebut-semuanya masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Lembaga Alkitab Indonesia, yang sebagian fotokopinya kami sertakan di sini-patutlah terlebih dulu kita melihat juga bagaimana orang Nasrani sekarang mencatat perkataan Tuhan dalam kamus-kamusnya tentang gereja.

Agaknya buku pertama yang memberi keterangan tentang Tuhan dengan cara yang mungkin mengejutkan awam adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. Keterangannya di situ, Tuhan, “arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.” Ensiklopedia yang hanya satu jilid ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih kita baca lagi dalam ensiklopedianya yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja.

Melihat keterangan itu, dan melihat pula pemakaian kata Tuhan merupakan sesuatu yang mudasir dalam agama Kristen, maka boleh dibilang hal itu sepenuhnya merupakan masalah teologi Kristen. Sesuai data yang kita punyai, istilah Tuhan yang berasal dari kata Tuan, pertama hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitabsuci Nasrani tersebut.

Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, Kyrios, dengan kaitannya pada tradisi Ibrani untuk kata Adon, Adonai, dengan aktualitas sebagai raja dalam kata Yahweh. Maka, memang akan membingungkan, jika orang membaca kitabsuci Nasrani terjemahan Indonesia. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios juga diterjemahkan menjadi Tuhan.

Dalam kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, untuk kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan ini diperuntukkan bagi Isa Almasih, diterjemahkannya menjadi tuan. Coba kita periksa itu dalam buku kelima Perjanjian Baru, dari bagian surat injili Paulus kepada umat di Roma. Kita baca bagian 1:1-4, yaitu, “Paulo Jesu Christo pounja hamba, Apostolo bapangil, bertsjerei pada Deos pounja Evangelio, (Nang dia daulou souda djandji derri Nabbi Nabbinja, dalam Sagrada Scriptoura). Derri Annanja lacki lacki (jang souda berjadi derri bidji David dalam daging: Jang dengan coassa souda caliatan jang Annac Deos, dalam Spirito yang bersaksiakan carna bangon derri matti) artinya Jesu Christon Tuan cami.”

Berhubung terjemahan Brouwerius ini dianggap sulit, antara lain banyaknya serapan kata bahasa Portugis, dan karenanya hanya mudah dipakai di kalangan komunitas bekas-bekas budak Portugis, para Mardijker, maka timbul gagasan orang-orang saleh di antara bedebah-bedebah VOC untuk menerjemahkan kembali seluruh bagian Alkitab: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bahasa Melayu yang benar-benar bagus. Tugas itu diserahkan kepada Melchior Leijdecker, pendeta tentara yang berlatar pendidikan kedokteran.

Melalui terjemahan Leijdecker-lah kita menemukan perubahan harafiah dari Tuan menjadi Tuhan. Dalam kitab terjemahannya ini, ‘Elkitab, ija itu segala suat Perdjandjian Lama dan Baharuw atas titah Segala Tuawan Pemarentah Kompanija, pada perikop yang sama dengan terjemahan Brouwerius di atas, teksnya adalah, “Pawlus sa’awrang hamba ‘Isaj ‘Elmeseih, Rasul jang terdoa, jang tasakuw akan memberita Indjil Allah, (Jang dihulu telah dedjandjinja awleh Nabijnja, didalam Suratan yang khudus). Akan Anaknja laki (jang sudah djadi deri beneh Daud atas perij daging: Jang telah detantukan Anakh Allah dengan kawasa atas perij Rohu-’Itakhdis, deri pada kabangkitan deri antara awrang mati,) janij ‘Isaj Elmeseih Tuhan kamij.”

Jelas, yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan-sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere-melalui Leijdecker berubah menjadi Tuhan. Nanti pada abad-abad berikut, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani & ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih-masalah rumit yang memang telah menyebabkan gereja bertikai dan setelah itu melahirkan kredo-kredo: Nicea, Constantinopel, Chalcedon-akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.

Apa yang dilakukan Leijdecker, mengapa Tuan menjadi Tuhan, merupakan masalah khas bahasa Indonesia. Hadirnya huruf ‘h’ dalam beberapa kata bahasa Indonesia, seperti ‘asut’ menjadi ‘hasut’, ‘utang’ menjadi ‘hutang’, ‘empas’ menjadi ‘hempas’, ‘silakan’ menjadi ‘silakan’, agaknya seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa. Misalnya tertulis ‘hana’ dibaca ‘ono’, ‘hapa’ dibaca ‘opo’. Di samping itu gagasan Leijdecker mengeja Tuhan untuk mengiring lafaz palatal ‘n’ dengan tepat. Banyak orang yang baru belajar Melayu, bekas budak Portugis asal Goa, terpengaruh Portugis, melafaz ‘n’ menjadi ‘ng’. Juga di Ambon, di pusat tujuan bangsa-bangsa Barat untuk memperoleh rempah-rempah, Tuan dibaca Tuang. Bahkan setelah Leijdecker mengeja Tuhan pun, orang Ambon tetap membacanya Tuang, sampai sekarang. Maka, di Ambon Tuang Ala berarti Tuhan Allah. Selain itu orang Kristen Ambon menyebut Allah Bapa sebagai Tete Manis, harafiahnya berarti ‘kakek yang baik’.
Leijdecker sendiri banyak melakukan kerancuan transliterasi atas kata-kata Melayu dari aksara Arab gundul ke Latin. Melalui contoh acuan perikop di atas, terlihat jelas, bahwa ia tidak mengetahui ketentuan menulis kata-kata Melayu dalam aksara Arab gundul. Umpamanya, agar ‘w’ dan ‘y’ berbunyi ‘o’ dan ‘i’ di depannya harus dipasang alif. Contohnya ‘orang’ adalah (), ‘oleh’ adalah (), ‘itu’ adalah ().

Sudah tentu terjemahan Leijdecker itu tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Karenanya, di abad berikut, di zaman penjajahan Inggris, timbul gagasan untuk merevisi terjemahan Leijdecker tersebut. Robert Hutchings, pastor gereja Anglikan, menghitung sekitar 10.000 kata yang diacu Leijdecker itu tidak tersua dalam kamus Melayu karya William Marsden yang standar baru itu. Terjemahan revisi ini terbit pada tahun 1817, dicetak di Serampura, India.

Sebelum itu, dua tahun setelah Gubernur Jenderal Inggris Raffles, menggantikan kedudukan Gubernur Jenderal Belanda Janssens, telah datang seorang zending dari lembaga London Missionary Society, yaitu William Milne, ke Malaka menemui Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, meminta bantuannya untuk merevisi terjemahan Leijdecker. Lalu, bersama Claudius Thomsen, mereka mengerjakan revisi atas terjemahan Leijdecker tersebut. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi merasa terganjel khususnya pada sebutan ‘bapa’ kepada Allah, dan ‘anak Allah’ kepada Isa Almasih. Memang, perkataan itu dipahami pihak Nasrani sebagai acuan teologis, bukan antropologis, untuk mengaktualkan hakikat masyiah dari leluri Ibrani, yang berkonteks diurapi dan bangkit dari kematian.

Setelah itu masih dilakukan lagi revisi-revisi terjemahan Melayu atas kitabsuci Nasrani tersebut oleh pihak zending Inggris. Yang berikut dipimpin oleh Benjamin Keasberry, dan karyanya itu dibantu pula oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Revisi terjemahan ini terbit pada tahun 1852, dicetak di Singapura.

Namun, di antara sekian banyak revisi yang dikerjakan sepanjang abad ke-19 sampai abad ke-20, bahkan sampai bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan Indonesia, terlihat dengan jelas, bahwa lema yang digagas Leijdecker untuk menyebut Isa Almasih, Tuhan, telah terus terpakai. Penyusun kamus di abad ke-19 pun membakukannya sebagai lema tersendiri di luar Tuan.

Terjemahan kitabsuci Nasrani yang dianggap tertib bahasa Melayunya adalah yang dikerjakan Klinkert. Ia membakukan Tuhan dalam kitab terjemahan itu menurut pengertian yang sama dengan bahasa sekarang. Klinkert menulis dua versi, yaitu edisi Melayu rendah, Wasijat Yang Baroe, terbit pada tahun 1875; dan edisi Melayu tinggi, Kitaboe’lkoedoes, terbit pada tahun 1879. Versi yang kedua ini merupakan kitab yang paling populer di Minahasa. Di Minahasalah tempat lahirnya gereja protestan yang berorientasi kebangsaan, lima tahun setelah Sumpah pemuda, yaitu KGPM.

Kini, secara linguistik, tidak ada masalah bagi kata Tuhan yang muradif dengan pengertian ilahi. Nama ini pun sudah maktub dalam Pancasila. Yang tidak kurang melahirkan pertanyaan, mengapa sila pertama itu berbunyi ‘ketuhanan yang mahaesa’, ‘bukan ‘Tuhan yang mahaesa’ saja. Dengan ‘ketuhanan’, terkesan seakan-akan ada banyak Tuhan di Indonesia, tapi hanya satu Tuhan yang mesti disembah. Memang, dalam kalimat ini kita meraba adanya kompromi politis dari pendiri-pendiri republik. Tidak muncul diskusi bahasa mengenai hal itu sebelum amandemen yang lalu.

TAPI, agaknya bukan itu masalah paling menarik saat ini menyangkut kata Bapak dan Tuhan. Yang paling menarik saat ini adalah menyaksikan Bapak-Bapak-yang duduk di eksekutif, legislatif, yudikatif-yang kelihatannya sudah tidak takut lagi kepada Tuhan. Sudah ketahuan korupsi atau menerima suap, masih berani bersumpah demi nama Tuhan bahwa mereka bersih. Lebih celaka lagi, sudah divonis pun oleh pengadilan, masih ngotot menganggap diri tidak bersalah. Malahan Bapak-Bapak separtai pun membela mati-matian kepada Bapak ketua partai. Yang dilakukan oleh Bapak-Bapak separtai terhadap Bapak ketua partai adalah suatu ‘solidaritas dalam kebersalahan’. Astaga, Bapak-Bapak yang sudah tidak takut lagi kepada Tuhan itu, mengira bahwa Tuhan tidak melihat dusta dan tipunya itu, agaknya sedang mengubah kualitas bangsa menjadi bangsat!

Selengkapnya: Bapa Jadi Bapak, Tuan Jadi Tuhan, Bangsa Jadi Bangsat

Proses Kreatif Remy Sylado

Judul asli artikel, Sebelas Jari Penolak Kutukan Dewa

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ruang 2 x 3 meter itu sumpek dan sedikit berdebu. Tak ada sinar matahari menembus ke dalam. Rak yang mengelilingi kamar itu dipenuhi koleksi buku, kaset, dan cakram padat. Tak ada lagi ruang di rak. Berbagai buku yang tak muat diletakkan di lantai. Di ruang kecil itu, dua lampu neon berpendar menerangi. Sinarnya terarah pada meja yang juga penuh barang. Satu mesin ketik kecil berada di tengahnya. Di ujung kiri meja, sebuah minicompo merek Philips makin memadati meja itu.

Inilah “gua” Yapi Tambayong alias Remy Sylado. Di ruang kerja penuh harta karun ini, Remy menghasilkan karyanya. Ruang kerja serupa juga menempati rumahnya di Bandung dan Bogor. “Tapi di Bandung dan Bogor lebih luas dan terbuka,” kata Remy yang ditemui Tempo di rumahnya, Cipinang Muara, Jakarta Timur, Jumat pekan lalu.

Ruang kerja boleh berantakan, tapi tidak karyanya. Remy, 65 tahun, termasuk produktif menulis novel. Dalam waktu bersamaan, selama sekitar enam bulan, ia mampu menyelesaikan tiga novel. Dua di antaranya sudah diterbitkan: Hotel Prodeo dan Aku Mata Hari, yang juga dimuat di harian Kompas sebagai cerita bersambung. Satu novelnya, direncanakan berjudul Selamat Tinggal Pertiwi, tinggal menunggu dicetak.

Remy tengah menggarap Menjadi Penulis? Siapa Takut! yang berisi cara-cara menjadi penulis. Selain itu, buku Presiden Menyanyi, yang mengulas lagu-lagu ciptaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, masih dalam pengerjaan. Di luar itu, ia masih bergelut dengan kesibukan lain, seperti teater. Dan semua itu, juga karya-karyanya yang lain, dituangkan melalui lembaran kertas di mesin ketik.

Hotel Prodeo menghabiskan 1.200 (setelah dicetak menjadi 1.016 halaman) lembar kertas kuarto, dan Aku Mata Hari sekitar 700 halaman. Tidak, Remy tak mengetik dengan 10 jari. Ia menerapkan sistem 11 jari alias dua telunjuk yang memukul tombol-tombol mesin ketik.

Menurut Remy, cara pengerjaan karya-karyanya tak berbeda dengan para penulis lain. Gagasannya bisa muncul begitu saja. Gagasan Hotel Prodeo, misalnya, timbul ketika Remy teringat akan kasus pemerkosaan dalam kerusuhan Mei 1998. Ia lalu membandingkannya dengan kondisi saat ini untuk memperkaya ide itu.

Adapun ide pembuatan Aku Mata Hari justru berawal saat peluncuran Kamus Bahasa dan Budaya Manado di Cafe Mata Hari Domus. Saat itu, pemilik kafe, Taufik Rahzen, berharap Remy mau menulis soal Mata Hari yang bernama asli Margaretha Geertruida, perempuan yang menjadi agen mata-mata ganda untuk Jerman dan Prancis.

Setelah mendapat ide, Remy pun menggelar riset pribadi. Ia sering berselancar di dunia maya atau berkunjung ke Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional untuk mendapat detail bahan yang dibutuhkannya. Ia juga datang ke lokasi yang akan menjadi latar tempat cerita. Bahkan riset Selamat Tinggal Pertiwi dilakukannya dengan menginap selama tiga bulan di rumah bekas tentara Belanda di Indonesia. Di rumah yang terletak di Deventer, Belanda, itu Remy mewawancarai mantan tentara berusia 82 tahun dan juga para keponakannya.

Selesai meriset, Remy mulai berkutat dengan mesin ketik. Hampir separuh hari bisa dihabiskannya. Saat mengetik, ia tak menunggu ilham datang tapi, “Sayalah yang memerintahkan ilham itu,” katanya. Untuk memperkaya tulisan, Remy rajin membuka kamus. Berbagai kamus bahasa, seperti Inggris, Jerman, Mandarin, Prancis, sampai Jawi Kuna, ada di dekat mejanya. Saat inilah ia bersyukur pernah menjadi wartawan sehingga mampu menjungkirbalikkan kata. “Bukan sarjana bahasa, tapi wartawanlah yang menjadi pelaku bahasa Indonesia sejati,” ujarnya.

Remy mengaku sudah terbiasa memecah konsentrasinya untuk novel-novel yang dikerjakannya berbarengan. Kebiasaan itu diperolehnya saat bergiat di teater. “Kalau di panggung, saya berkonsentrasi sebagai satu karakter, dan kalau sudah berbeda panggung atau kembali ke kehidupan nyata, karakternya tentu berubah lagi. Menulis ya seperti itu,” kata Remy, yang juga menjadi musisi dan munsyi.

Remy percaya manusia memiliki banyak karunia Ilahi. Maka ia tak setuju seseorang harus berkonsentrasi pada satu bidang saja untuk mencapai hasil maksimal. Ia mencontohkan, Leonardo da Vinci memiliki berbagai keahlian seni, seperti melukis dan mematung, serta menjadi ahli anatomi tubuh. “Kalau ngikutin satu bidang saja, sama saja dengan menerima kutukan dewa,” katanya diiringi tawa.

Tak selamanya pengetikan lancar. Kadang outline yang telah dibuatnya berubah lagi. Kadang pula bahannya kurang lengkap. Jika ketikan di satu kertas sudah hampir selesai dan ada kesalahan di tengah, Remy terpaksa menghapus bagian yang telah diketik dengan penghapus cair. Saat mengetik ulang, kadang ia menemukan jalan cerita lain yang lebih menarik. Jadilah ia merintis alur baru supaya tulisannya makin hidup.

Jika sedang mumet dan tak bisa mengetik, Remy pun beralih melukis. Sebagai alat bantu, Remy kadang mendengar musik instrumen. Saat mengetik, ia anti pada lagu bersyair karena kata-kata dalam lagu bisa masuk dalam tulisan. Kalau sudah begitu, ya dihapus lagi. Toh, semua itu tak dijalaninya dengan kesal. “Saya menikmati semua proses itu,” ujarnya.
[PRAMONO]

Selengkapnya: Proses Kreatif Remy Sylado

Sesuatu yang Harus Disadari oleh Penerbit dan Penulis Indonesia

Sebuah tulisan yang secara komposisi baik (apapun komposisinya, seeksperimental apapun) dapat meningkatkan kecerdasan, karena akan meningkatkan kesadaran fonologis yang berhubungan dengan kemampuan memahami sesuatu dan spatial reasoning yang berkaitan dengan kemampuan berpikir.

Jika kalian terus-menerus mengonsumsi tulisan-tulisan yang penuh diksi salah, word salad, rujak kata, kalimat-kalimat tak bermakna, paragraf-paragraf yang inkoheren, dokumen yang tak kohesif, argumentasi-argumentasi yang kacau, penggambaran-penggambaran yang tak tepat, apa yang terjadi dengan diri kalian? 

Ya, kalian akan mengidap Vickyia (bukan "ism" atau "sation" sebagaimana selama ini dibubuhkan pada fenomena Vicky yang tentu merupakan ketakpahaman terhadap kasus tsb), thought dissorder. 

Mau menjadi idiot? Mau membiarkan anak-anak kalian jadi idiot?

Jadi buku berbahaya, pertama-tama bukan masalah voice, suara, opini, pendapat, nilai yang ditawarkan, tetapi bagaimana ia ditulis, diaransemen.

* Nuruddin Asyhadie

Selengkapnya: Sesuatu yang Harus Disadari oleh Penerbit dan Penulis Indonesia

(Tokoh Kita) Sosiawan Leak, Majalah Jaya Baya edisi Minggu Oktober 2013

Wednesday, 15 January 2014

Tokoh kita bulan ini.
Tulisan iki mono, kamot ana Majalah Jaya Baya Surabaya
Nomer 6 Minggu I, Oktober 2013 dengan cover majalah bergambar wayang Dewi Sri.

Sumber Facebook PMK (Aming Aminoedhin)

http://gerakanpuisimenolakkorupsi.blogspot.com/2013/10/tokoh-kita-sosiawan-leak-majalah-jaya.html
Selengkapnya: (Tokoh Kita) Sosiawan Leak, Majalah Jaya Baya edisi Minggu Oktober 2013

Apa Sebetulnya yang Harus Ditulis oleh Penulis Indonesia?

Saturday, 11 January 2014

Oleh Benz Bara

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah artikel menarik yang membahas tentang dunia sastra. Artikel tersebut adalah rekaman wawancara dengan seorang penerjemah karya sastra bernama Gioia Guerzoni. Menurut paragraf pembuka artikel itu, Gioia Guerzoni yang berkewarganegaraan Italia adalah satu dari segelintir orang yang ikut memperkenalkan karya-karya sastra Asia kepada khalayak pembaca Eropa. Belakangan, Guerzoni fokus menerjemahkan karya-karya sastra Asia Tenggara.

Pertengahan terakhir tahun 2013, saya lebih banyak membaca buku-buku luar ketimbang buku-buku penulis Indonesia. Kebanyakan adalah buku-buku peraih penghargaan sastra, baik itu Nobel Prize maupun Pulitzer Prize. Seiring membaca buku-buku tersebut, secara polos saya menyimpan keinginan yang muluk dalam dada saya: saya ingin menjadi seperti mereka, menulis buku yang dibahas orang sedunia dan memenangi penghargaan sastra paling bergengsi di dunia. Keinginan yang konyol, memang. Tapi biarlah bagian diri saya yang polos tetap memelihara keinginan itu, hingga akhirnya akan terbukti apakah saya bisa mewujudkannya atau tidak (kalaupun tidak, tidak akan menjadi masalah, saya orang yang senang memimpikan hal-hal muluk, begitu cara saya menjalani hidup yang menjemukan ini).

Saya tidak akan bicara tentang mimpi muluk saya itu. Saya akan bicara tentang satu hal yang saya pikir perlu untuk diketahui oleh penulis Indonesia, terutama penulis-penulis muda dan baru seperti saya.

Pada artikel wawancara dengan Gioia Guerzoni, dia berkata bahwa salah satu cerita yang penting bagi khayalak pembaca Eropa (atau luar Indonesia pada umumnya) adalah cerita tentang “kota”. Saya kira yang dimaksud “kota” di sini tentu adalah kota di Indonesia. Menurut Guerzoni yang telah menerjemahkan beberapa karya pemenang Man Booker Prize seperti Jonathan Lethem dan Paula Fox (saya tidak tahu buku apa yang mereka tulis, saya hanya mengutip keterangan ini dari artikelnya langsung), khalayak Eropa (luar Indonesia) ingin tahu apa yang sedang terjadi di Indonesia, atau di kota-kota di Indonesia.

Keterangan yang saya dapatkan dari Gioia Guerzoni itu sedikit banyak memiliki kaitan dengan apa yang saya dengar dari Richard Oh, ketika secara kebetulan saya bertemu dengannya di Reading Room, Jakarta, saat saya sedang bermain-main di tempat yang memiliki koleksi buku banyak sekali itu (karena ingin mengontrol diri, saya hanya membeli satu buku: Letters to Milena Franz Kafka). Oh berkata (kalimatnya tidak persis begini tapi kira-kira beginilah isi ucapannya), “Saya nggak paham mengapa penulis-penulis sekarang kok pada senang menulis cerita-cerita tentang luar negeri. Dengan judul-judul buku luar negeri dan sampul yang terasa luar negeri.” Saya mengernyitkan dahi sedikit, sebelum dia melanjutkan ucapannya. “Orang-orang luar itu membaca buku-buku Indonesia karena ingin menemukan apa yang tidak ada di negara mereka.” Oke, saya pikir, masuk akal.

Lalu, sebelum saya sempat merespons, Richard Oh melanjutkan lagi gerutuannya dengan memberikan sedikit contoh yang mendukung argumennya. “Kau tahu Eka Kurniawan? Eka Kurniawan itu bacaannya banyak buku-buku luar. Tapi ketika dia menulis, dia menulis tentang Indonesia.” Belakangan saya senang membaca jurnal-jurnal Eka Kurniawan di blognya, dan ya, saya menemukan banyak referensi buku luar dari sana (beberapa buku yang masuk daftar pencarian saya, saya peroleh dari blog Eka). Meskipun tanpa membaca blognya, saya tahu Eka Kurniawan pasti banyak membaca buku-buku luar.

Sambil mengingat buku-buku luar apa saja yang saya temukan di blog Eka, saya menyimak kalimat Oh berikutnya: “Yang diambil Eka Kurniawan dari penulis luar negeri adalah tekniknya. Tapi konten yang ia tulis, kontennya adalah Indonesia.” Benar juga. Lalu, seakan melihat sebuah pertanyaan tersirat pada kerutan di dahi dan tatapan saya, Oh melanjutkan bicara. “Ya tidak apa-apa misalnya mengambil latar luar negeri, tetapi isu yang diangkat pada cerita tersebut tetaplah harus isu tentang Indonesia.”

Terus terang, perkataan Richard Oh yang hanya singkat itu memberi sedikit pencerahan pada saya yang, sebagai penulis baru dan masih pemula, sebetulnya juga memiliki hasrat untuk menulis cerita-cerita dengan latar maupun suasana luar negeri seperti banyak penulis muda lain yang mengeluarkan novel-novel dengan latar luar negeri (saya tidak banyak membaca novel-novel Indonesia berlatar luar negeri itu, jadi saya tidak tahu apakah pada ceritanya mereka mengangkat isu Indonesia atau tidak).

Kembali ke artikel wawancara dengan Gioia Guerzoni.

Satu hal lain yang saya dapatkan dari wawancara tersebut adalah, ternyata di mata khayalak luar negeri, hal atau isu yang “khas Indonesia” salah satunya adalah permasalahan tentang demokrasi. Bisa jadi ini karena Indonesia merupakan negara yang memiliki usia demokrasi paling muda (saya tidak begitu mempelajari topik ini tapi setidaknya demikianlah yang pernah saya dengar dari teman-teman yang menyenangi dunia politik dan pemerintahan).  Satu kata kunci lagi tertangkap untuk menulis buku yang dapat menarik khalayak luar Indonesia setelah “cerita tentang kota”, yakni “demokrasi”.

Saya mengingat-ingat buku-buku pemenang Nobel Sastra yang sudah saya baca. Tidak banyak. Saya baru membaca Naguib Mahfouz, Gabriel Garcia Marquez, Alice Munro, Mo Yan, dan Hermann Hesse. Dari buku-buku mereka, ternyata ada satu kesamaan yang saya tangkap: mereka semua menulis tentang bangsa mereka dan kondisi negara atau kota atau lingkungan dimana mereka tinggal. Para pemenang Nobel Sastra itu (maksudnya yang sudah saya baca) kesemuanya berbicara tentang situasi zaman dimana mereka hidup. Mahfouz bicara tentang Mesir, Munro bicara tentang Ontario, Mo Yan bicara tentang Cina, Garcia Marquez bicara tentang Kolombia, dan seterusnya.

Setelah melihat fakta tersebut, saya tersadar bahwa pada akhirnya seorang penulis haruslah mengenal zamannya dan mengetahui kondisi bangsa dan negaranya sendiri. Percakapan singkat dengan Richard Oh membuat saya sedikit tertampar, sebab selama ini saya cenderung cuek dengan apa yang terjadi di negara yang saya tinggali ini. Saya tak pernah ambil pusing dengan masalah yang tengah menimpa Indonesia. Saya pikir, sudah ada orang-orang lain yang mengurus hal-hal memusingkan itu. Hal demikian membuat saya tidak mengenal Indonesia sehingga saya tidak mampu menulis apapun tentang Indonesia. Akibatnya, saya jadi penulis Indonesia yang menulis tentang negara dan budaya lain dan terasing dari budaya dan negaranya sendiri.

Saya tidak tahu apakah kondisi seperti itu-tercerabut dari negara dan budayanya sendiri itu merupakan hal yang baik atau buruk bagi seorang penulis. Tetapi fakta lain yang tidak bisa saya pungkiri sebagai orang Indonesia adalah kenyataan bahwa Indonesia memiliki keunikannya sendiri dibanding negara lain. Keunikan inilah yang saya rasa semestinya menjadi sumber ide dan digarap dengan baik oleh penulis-penulis Indonesia sendiri. Kasarnya kira-kira begini: meski peribahasa berkata lain, namun lumbung ide yang sangat kaya sudah berada di depan mata, di bawah kaki sendiri, mengapa pula mencari jauh-jauh ke negeri Cina atau benua Eropa?

***

Selengkapnya: Apa Sebetulnya yang Harus Ditulis oleh Penulis Indonesia?

Sedikit Mengenal Haiku

Thursday, 9 January 2014

Haiku (orisinalnya) adalah salah satu dari sekian jenis puisi Jepang, dimana pada penciptaannya banyak mengemukakan tentang alam, dengan patron 17 suku kata dengan silabel 5-7-5. Salah satu contoh haiku adalah senryu, konsepnya sama dengan haiku, cuma senryu lebih membebaskan tema dan ringan pada haiku klasik, perlu ada refleksi waktu.

Haiku hanyalah matra, sajak adalah anatominya, kata-kata adalah strukturnya, hanya dengan cara memperlebar cara pandang terhadap sebuah matra, kita akan lebih dalam mengenal dan mempelajari anatomi kita.

Sekali lagi, haiku hanyalah matra, ia hanya sebagian matra dari keragaman dari induknya, yaitu PUISI, keterkaitan puisi itu  adalah dialog, bagaimana dialog secara vertikal dan dialog secara horizontal.

Kalau kita membuat puisi itu inspirasinya dari mana ? Alam interior atau pikiran ? Kalau orang bilang, alam interior katanya itu alam gaib, di situ terjadi dialog antara kita dan batin kita, pun kepada horizontal, bagaimana kita melakukan dialog pula antara kita dan latar kita (baca : sekitar kita).

Terori berpuisi itu pada dasarnya sama, hanya butuh ketekunan dan eksplorasi yang mendalam terhadap alam interior kita, bagaimana kita menyampaikannya itu kembali lagi pada kematangan teknis.

Demikian sedikit menyinggung haiku. (sumber Dave Sky)

Tjiptaadi Iman Resoatmodjo

HAIKU (batja haik')

Nama sadjak jang se-pendek2nja dalam sastera Djepun, terbentuk dari 17 patah-kata, terkadang dalam tiga baris, kegandjilannja lagi, bahwa sadjak ini tiada bersadjak dan tiada pula berirama, tetapi tiada mengapa, sebab bahasa Djepun itu maha merdu.

Adapun haiku itu ialah nama pada pigura.
Dimanakah pigura itu?
Pigura itu tersembunji dalam hati sanubari pembatjanja.

 Adapun haitu itu ialah panggilan pada pikiran pembatja, terhadap kedjadian 'alam jang telah lampau, jang menggetarkan taliketjapi-hati pudjangga.
 Umpamanja :

Paja tua beradu tjendera
Tersingkir, sunji
Katak terdjun, plung


(komentar saya;Denni : barangkali kalau diterjemahkan seperti ini jadi bukan 17 patah kata eh atau suku kata ya?)

Dekat teratak Basho ada (Basho) sebuah paja tempat ikan, katakpun banjak hidup dalamnja. alam sekeliling sunji, Basho dalam tafkur. Plung, katak terdjun dalam air. Terasalah pada Basho bagaimana sunjinja hari itu, hingga plung itu sampai ke telingnja

* * *
Copas apa adanya dari "Setanggi Timur" Amir Hamzah terbitan Pudjangga Baru Tahun VII No. 4 Tahun 1939. dicetak oleh Pustaka Rakjat.

* karena merupakan sajak Jepang sebagaimana kultur masyarakat yang erat dengan sajak, lukisan dan kaligrafi, biasanya haiku ini menyatu dengan lukisan ditorehkan sebagai kaligrafi yang indah (seindah ucapannya - dalam bahasa aslinya tentu -). Di sana tidak disebutkan rumus 5 - 7 - 5 tetapi hanya 17 patah kata (dalam bahasa Jepang sama dengan suku kata gak ya?)

Menyusun haiku dalam bahasa lain termasuk bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sudah tentu sangat sulit karena dalam bahasa tersebut sulit menggabungkan dua kata benda atau lebih menjadi sebuah kalimat tanpa menggunakan kata hubung atau kata kerja sebagai perantaranya. Apalagi menggunakan rumus 17 patah-kata (atau suku kata?), bisa jadi ketemunya malah puisi dengan tipologi mirip genre-nya Sutardji Calzoum Bachri "O Amuk Lapak".

Sumber: http://dennimlz.blogspot.com/2014/01/berkenalan-dengan-haiku.html

Link terkait:
http://blog.bhaktiutama.com/2011/03/ordinary-haiku
http://blog.bhaktiutama.com/2011/10/haiku-katak-matsuo-basho

Update
Diambil dari grup Facebook NewHaiku, link satu - dua
Selengkapnya: Sedikit Mengenal Haiku

Tipografi pada Puisi

  • Tipografi disebut juga sebagai ukiran bentuk; ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi.
Seperti kita ketahui,dalam menuliskan kata-katanya, setiap penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri. Ada yang selalu menuliskan semua katanya dengan huruf kecil semua, ada pula yang selalu menggunakan huruf besar pada setiap permulaan kalimat atau baris baru puisinya. Juga dalam menggunakan tanda-tanda baca. Ada yang dalam seluruh puisinya tanpa menggunakan sebuah tanda bacapun. Tetapi ada pula yang dengan setia menggunakan tanda baca.

Berikut ini beberapa contoh berbagai tipografi tersebut :

1. Menggunakan huruf kecil semua dan tanpa tanda baca,

paman-paman tani utun
ingatlah
musim labuh sawah tiba
duilah

musim labuh kurang tidur ya paman
kerja berjemur dalam lumpur tak makan
sawah-sawah menggempur hancur  
merpatinya wokwok ketekur

(PAMAN-PAMAN TANI UTUN, Piek Ardijanto Suprijadi, Angkatan 66, hal. 462)

2. Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca,

Di depan gerbangmu tua pada hari ini
Kami menyilangkan tangan ke dada kiri
Tegak dan tengadah menetap bangunanmu
Genteng hitam dinding kusam berlumut waktu

(ALMAMATER, Taufiq Ismail, Angktan 66, hal. 151)

3. Menggunakan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap,

Kukitari rumahMu.
Kukitari rumahMu bersama jutaan umat
Ketika Kauturunkan rahmat
meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata :
Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami
Ulurkan tanganMu, bimbing kami
ke jalan lurus yang Kauridoi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.

(SEMENTARA THAWAF, Ajip Rosidi)

4. Sebagian baitnya menjorok ke dalam,

Laksana bintang berkilat cahaya,
Di atas langit hitam kelam,
Sinar berkilau cahya matamu,
Menembus aku kejiwa dalam.
  
    Ah, tersadar aku, 
    Dahulu ....................................
    Telah terpasang lentera harapan
    Tetiup angin gelap keliling.

Laksana bintang di langit atas,
Bintangku Kejora
Segera lenyap peredar pula,
Bersama zaman terus berputar

(SEBAGAI DAHULU, Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air, hal. 51

Mengenai tipografi yang berhubungan dengan susunan baris atau kalimat dalam tiap bait ini pun masih banyak lagi ragamnya.Adapaun maksud penyusunan tipografi yang beraneka macam itu,secara garis besar dapat dibedakan atas 2 (dua) macam :

1). Sekedar untuk keindahan indrawi; maksudnya sekedar agar susunan puisi tersebut nampak indah dipandang.

2). Untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan.

Marilah kita perhatikan dua buah contoh puisi berikut ini,


Bukan tidak saya letakkan,
Buah delima di atas gudang
        Untuk berbuka bulan puasa.

Bukan tidak saya katakan,
Saya hina dari orang,
       Tuan katakan,tidak mengapa.

Pohon cempedak saya tanamkan,
Pohon nanas kutanam juga,
       Batang mengkudu pemagarnya.

Bukan tidak saya katakan,
Tuan emas, saya tembaga,
       Tidak sejodo keduanya.

(M.I. Nasution, PUJANGGA BARU,hal. 240)

DOA PERAHU

tuhanku
        beritahu
                kini

ke manakah
            harus
                 kupergi

ke muara
           menyongsong
                   laut
                            biru

ataukah
         melawan
                 arus
                     menuju
                              hulu

(Ismed Natsir, Horison, Oktober, 1974)

Dan masih banyak gaya yang lain, yang bisa saudara ciptakan sendiri.

Sumber http://dennimlz.blogspot.com/2014/01/tipografi.html
Selengkapnya: Tipografi pada Puisi

Mengenal Epigram dalam Puisi

Epigram adalah puisi dengan bentuk yang sederhana, singkat dan bernas. Tidak menggunakan kosakata yang berlebihan, namun mampu memberikan kesan satir bagi pembacanya. Epigram terdiri dari satu kalimat, satu bait atau 2 bait.  Materi yang diangkat dalam puisi epigram adalah pemikiran atau kejadian.  Istlah Epigram berasal dari Yunani kuno epigraphein yang berarti  “untuk menuliskan sesuatu” atau “ menorehkan tulisan”.

Pada abad kemunculannya, epigram digunakan sebagai catatan pada monumen batu (prasasti)di jaman Yunani kuno. Model epigram modern mulai dipopulerkan oleh penulis Romawi Marcus Valerius Martialis atau lebih dikenal dengan nama Martial.  Kumpulan bukunya terdiri dari 12 jilid dan diterbitkan di Roma antara tahun 86 hingga 103 M selama masa pemerintahan kaisar  Domitian, Nerva dan Trajan.  Serial tersebut disebut 12 Epigram dan berisi kumpulan puisi pendek yang lucu dan riang. Materi yang ditulis dalam Epigram Martialis adalah satir kehidupan kota, skandal  dan romantika pendidikan di masa itu.

Epigram mulai berkembang di Inggris pada abad ke-16 dan 17 berkat karya karya penyair terkenal,antara lain :  John Donne, Robert Herrick, Ben Jonson, Alexander Pope, George Byron, dan Samuel Taylor Coleridge. Di Perancis epigram dikembangkan oleh Nicolas, Boileau-Despréaux dan sang filsuf Voltaire.

Coleridge memberikan penjelasan yang indah tentang epigram:
What is an Epigram? A dwarfish whole,
Its body brevity, and wit its soul.

Tranliterasi :
Apakah Epigram sesungguhnya?  Ia menyingkat semesta
Tubuhnya ringkas, jiwanya cerdas

Coleridge juga memberikan contoh yang lain :
Sir, I admit your general rule,
That every poet is a fool,
But you yourself may serve to show it,
That every fool is not a poet.

Tranliterasi :
Tuan, aku mengakui aturan umum milikmu
Bahwa setiap pujangga adalah dungu
Tapi anda sendiri dapat menunjukannya
Bahwa setiap dungu bukanlah pujangga

Contoh yang lain juga diberikan oleh penyair terkenal Odger Nash : yang berjudul Es Pecah (Breaking Ice)

Candy
Is dandy,
But liquor
Is quicker


Transliterasi :

Permen,
Memang keren,
Tapi minuman keras
Lebih ringkas


Penulis pernah mencoba menulis sebuah epigram yang berjudul Merebut Hari, “Seize the Day!”

everyday is monday
nor a piece of holiday
but everyday is a holy day
for my buddy holy


Contoh Epigram 1 bait yang lain :
“Hasrat“
batu
membisu
itu burung
jangan dikurung


(Liweng-Gun)

Contoh Epigram 1 kalimat
“kulawan seribu tantangan, selama belum enggan”

Demikian sekelumit tentang epigram, semoga bermanfaat.

Sumber http://dennimlz.blogspot.com/2014/01/mengenal-epigram-dalam-puisi.html
Selengkapnya: Mengenal Epigram dalam Puisi

Redirect Postingan 'Gerakan Puisi Menolak Korupsi'

Monday, 6 January 2014

Segala postingan seputar 'Gerakan Puisi Menolak Korupsi' (agenda, info road show, foto-foto dan dokumentasi) saya alihkan ke blog baru di bawah ini. Silakan berkunjung. Terima kasih.

Selengkapnya: Redirect Postingan 'Gerakan Puisi Menolak Korupsi'

Penerbitan Antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid 3 Pelajar Indonesia (SD, SMP, SMA) GRATIS!

Sunday, 5 January 2014

Sumber gambar
Klik gambar untuk memperbesar. Sumber gambar.
Undangan untuk Bergabung dalam Penerbitan Buku
Kumpulan PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid 3, Pelajar Indonesia

Salam,

Mencermati berbagai informasi serta menyerap banyak respon menyoal Gerakan PUISI MENOLAK KORUPSI (PMK) utamanya dari kalangan pelajar, kami berencana menerbitkan Buku Kumpulan PMK Jilid 3 yang memuat karya para pelajar dari seluruh pelosok Indonesia.

Penerbitan tersebut mendesak dilakukan sebab makin maraknya tindak korupsi (hingga kasus-kasus terkini), di samping karena korupsi tidak bisa dihentikan dalam waktu singkat serta cenderung membutuhkan perjuangan yang lama dan panjang. Dari sudut pandang inilah pelajar sebagai generasi masa depan memiliki peran penting dan mendasar dalam membangun perikehidupan berbangsa & bernegara yang lebih bermartabat di jaman mendatang.

Proses penerbitan PMK Jilid 3 tersebut akan mengutamakan azas kemandirian berdasar manajemen yang transparan, guna mengawal fungsi & kedudukan puisi (karya sastra) sebagai pembangun watak dan moral manusia ke arah kehidupan yang lebih beradab dan berkebudayaan.

Penerbitan tersebut bersifat nirlaba, tanpa biaya dan terbuka bagi siapa pun yang berstatus Pelajar Indonesia dari tingkat SD, SMP, SMA, dan yang sederajat. Oleh karena itu kami memohon dukungan konkret kawan-kawan pelajar untuk mengirimkan puisi dengan syarat:

1. Puisi adalah karya asli, bukan jiplakan atau saduran (dikuatkan dengan surat pernyataan).
2. Puisi bertema korupsi, ditulis dalam gaya bebas (sesuai ekspresi masing-masing penulisnya).
3. Setiap pelajar diperbolehkan mengirimkan lebih dari 1 judul puisi.
4. Puisi disertai data diri, alamat (rumah & sekolah), copy kartu pelajar serta foto close up dikirim ke:
email: sosiawan.leak@yahoo.com
atau inbox FB: Leak Sosiawan
atau alamat: Sosiawan Leak, Jl. Pelangi Utara III, No 1, Perumnas Mojosongo, Solo 57127.
5. Puisi berikut perlengkapannya dapat dikirim sejak 1 Desember 2013 hingga 1 Pebruari 2014.
6. Puisi yang masuk akan diseleksi secara obyektif, serta diterbitkan pada 31 Maret 2014.
7. Pelajar yang puisinya lolos seleksi akan mendapatkan Buku Kumpulan PMK Jilid 3 masing-masing 2 eksemplar secara cuma-cuma.
8. Setelah perencanaan matang, Buku Kumpulan PMK Jilid 3 tersebut akan di launching secara mandiri & nirlaba di sejumlah kota di Indonesia dengan melibatkan penulisnya.
9. Ketentuan lain yang belum tercantum dalam edaran ini dapat dikomunikasikan langsung kepada kami.

Terima kasih, kami tunggu respon kawan-kawan pelajar. Semoga tuhan selalu melindungi kita.

Salam hangat, doa kuat!

Sosiawan Leak
(Koordinator Gerakan Puisi Menolak Korupsi)


Sumber facebook

Postingan serupa http://dennimlz.blogspot.com/2013/12/penerbitan-buku-kumpulan-puisi-menolak.html
dan http://gerakanpuisimenolakkorupsi.blogspot.com/2013/12/penerbitan-antologi-puisi-menolak.html
Selengkapnya: Penerbitan Antologi PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid 3 Pelajar Indonesia (SD, SMP, SMA) GRATIS!

Ulasan Buku Puisi “Habis Gelap Terbitlah Sajak”: Luka, Derita, Do'a dan Air Mata Perempuan Indonesia

Oleh Esti Ismawati
Buku kumpulan puisi berjudul “Habis Gelap Terbitlah Sajak” (Forum Sastra Surakarta, Penyunting Sus S. Hardjono, November 2013) ini memuat 113 puisi karya 99 pesyair. Kata Pengantar diberikan oleh Dimas Arika Miharja. Dari judul buku puisinya tampak bahwa puisi-puisi di buku ini bertema perempuan, semangat perempuan, sedang yang menulis adalah perempuan dan laki-laki. “Habis Gelap Terbitlah Sajak” mengingatkan kita pada kumpulan tulisan-tulisan Kartini dan kawan-kawannya dari Belanda : “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini memang diilhami oleh semangat Kartini.

Seperti dikatakan oleh Muhammad Rois Rinaldi, Ketua Komite Sastra Cilegon di cover belakang buku ini, perempuan dalam puisi atau puisi untuk perempuan bukan hal yang berlebihan. Karena keduanya memiliki ciri khas yang sama, yakni keindahan, keistimewaan, dan kekuatan. Puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini ditulis oleh pesyair perempuan dan laki-laki, oleh karena itu sangat layak untuk ditelaah, ditafsirkan, direnungi, dipahami. Apakah gaya pengungkapan antara perempuan dan laki-laki berbeda meski objek yang dilihat sama. Bukan hanya lantaran topik yang sama yang ditulis perempuan dan laki-laki bisa beda, bahkan topik yang sama yang ditulis sesama pesyair laki-laki pun bisa berbeda. Perhatikan dua puisi di bawah ini :

PEREMPUAN PEMECAH BATU
                                    Asyari Muhammad
perempuan-perempuan bukit kapur 
membangun monumen dari keringatnya sendiri

perempuan-perempuan bukit kapur
kini wajahmu terbakar matahari
tergeletak di antara batu-batu
engkau tak sempat memanennya
lantaran sepi

perempuan-perempuan bukit kapur
wajahmu kian keriput
rambutmu semakin memerah
sedang batu-batu tak ijinkan engkau layu
(HGTS, halaman 10).


PEREMPUAN PEMECAH BATU
                                    Ekohm Abiyasa
gugur melati di tanah batu
tinggi gunung setegak cintamu
perempuan pemecah batu
mencari emas di bongkahan pilu

gugur hujan menetes rindu
pada rumah dan anak-anakmu
memecah batu-batu
membangun harap di gigir waktu
(HGTS, halaman 48).

Dua puisi di atas sama-sama menggambarkan derita perempuan. Pada puisi karya Muhammad, perempuan pemecah batu digambarkan sebagai sosok yang luar biasa dalam derita fifiknya : membangun monumen dari keringatnya sendiri, wajahnya terbakar matahari, wajahnya kian keriput, dan rambutnya semakin memerah. Pada puisi Ekohm derita perempuan pemecah batu itu digambarkan sebagai sosok yang lebih menderita lagi tetapi dengan bahasa yang abstrak, penuh simbolisme : mencari emas di bongkahan pilu, membangun harap di gigir waktu.

Di awal tulisan ini saya katakan bahwa “Habis Gelap Terbitlah Sajak” berisi doa dan air mata tidaklah berlebihan. Di dalam buku ini, hampir semus sosok perempuan ditampilkan dalam sosok yang memilukan, sebagaimana dapat dibaca pada puisi berikut ini :

BIBIR BERGINCU
                        Asrining Nurfauzie
Bibir bergincu
Tersenyum di keremangan lampu
Menyapa dengan geletar syahdu
Di sudut taman kala lenguh temaram
Bibir bergincu bersandar pada deras rayuan
Mengajak malam berhias kenikmatan
“Jangan tanyakan apakah aku suka
Aku terpasung kemiskinan nan mendera
Anakku menjerit lapar dahaga”
Bibir bergincu menangis dalam tawa
Rasakan kontradiksi di lipatan jiwa
Di antara peran yang dia mainkan
Di antara dosa dan keterpaksaan.
(HGTS, halaman 8).

Memahami puisi ini kita diingatkan lagu Titik Puspa yang ditulis lebih dari 35 tahun yang lalu, berjudul “Kupu-kupu Malam”. Persis isinya. Titik Puspa dengan halus mengatakan : “dosakah yang ia kerjakan, sucikah mereka yang datang, kadang ia tersenyum dalam tangis, kadang ia menangis di dalam senyuman”. Jadi, persoalan perempuan itu apakah benar-benar tidak beranjak dari tahun ke tahun atau bahkan dari abad ke abad?. Mari kita simak lagi puisi berikut ini untuk menegaskan apa yang saya katakan di atas :

JALAN PEREMPUAN
                        Muhammad Asqalai Eneste
di altar sebuah ruang ia mengadu
di latar sebuah raung ia mengibu

lalu lengang menganal mahkota
hanyuti lubang kekalkan nyawa

kepada kelahiran
isa namanya
kepada pengasingan
maryam nasibnya
kepada pengembara
masehi sejarahnya

ini setapak jalan berawal wanita
telapak berujung alamat surga :
anak yang berpijak di
kaki-Nya
(HGTS, halaman 82).

Atau puisi di bawah ini

TANAH WARISAN
                        Ningsih Hajar
Air mata susu ibunda
mengalir ke muara yang tandus
melewati jurang dan lembah
terbentur karang dan kerikil
mengarungi arus ke muara
anak-anak bangsa berjuang
melawan keganasan tangan penguasa
menggali makna ideologi bangsa
dan pada rapuhnya pangkuan bunda
mereka berlutut menciumi bau tanah
warisan para leluhur dan penjajah
sambil bernyanyi berkibarlah bendera!
(HGTS, halaman 84).

Atau puisi di bawah ini

IBUKU BERKERUDUNG PILU
                                    Bambang Eka Prasetya
Wajah cantik Ibu tercabik menggumpal nanah
Dari celah pelupukmu menetes darah
Beredar khabar di seluruh pelosok negeri
Anak-anak yang lahir dari rahimmu kini
Menjelma menjadi tikus-tikus lapar
Bermulut dusta bermata nanar berbinar
Bertaring pena berlumur racun hasutan
Berbulu surat keputusan berbagai jabatan
Mereka bergerak serentak ke seluruh penjuru
Menggasak pundi-pundi rumah tak ada sisa
Jantungmu tak lagi sanggup menahan pilu
Mereka berpesta pora beralas derita sesama
Tak ada lagi dendang pada sekujur tubuhmu
Pun nyanyian burung dan sorai daun-daun hijau
Tanpa makna kau pandang laku anak-anakmu
Harapan terkubur dalam derita panjangmu
Sampai kapan tubuh muliamu digerogoti
Anak-anak bangsa berjiwa dan berraga korupsi
(HGTS, halaman 12).

Dan seterusnya. Masih banyak lagi derita yang dikisahkan oleh para pesyair tentang  perempuan Indonesia di buku ini, misalnya puisi Nunung Noor El Niel (HGTS, halaman 87) yang berjudul “Tembikar” sebagai berikut : siang tiba-tiba saja membuatku melepuh / begitu terikkah rasamu hingga membuatku / meranggas dan berpeluh lalu aku harus / mencari telaga untuk membasuh diriku / di sana pun yang tersisa hanya lumpur / aku hanya dapat berkubang / dengan penyesalan yang panjang / di mana diriku seolah terbentuk dari lempung. Demikianlah derita itu, dan masih banyak lagi.

Di antara puisi-puisi di buku ini, banyak juga yang menyuarakan doa, seperti pada puisi  Meguri Soma berikut ini : “Di puncak doa pada malam-malam panjang kota Denpasar / bakaran dupa masih mengepulkan maha rindumu. “Tirtayatra tak sekedar perjalanan tradisi”, katamu / “Bertamu untuk meneguhkan kasih tak bertepi. Atau puisi Muhammad Gufron Cholid berjudul “Perempuan Ungu” berikut ini, “Perempuan ungu Adalah kau / bulanku Menasbihkan rindu / Dalam doa yang syahdu”. Atau puisi Bambang Eka Prasetya berjudul “Perempuan Pendoa” berikut ini : “Berjuta tangismu membelah senja / pecah sudah di atas altar itu / berlaksa kau panjatkan doa / dalam hening malam kelabu”.

Dari judul-judul puisi yang ada pun bisa ditebak apa yang sedang dirasakan oleh perempuan Indonesia ini, misalnya pada puisi karya Asih Prasetyawati berjudul “Balada Orang Tua Tunggal”, puisi karya Asrina Novianty berjudul “Tulang Rusuk”, puisi karya Ardi Susanti berjudul “Padamu Ibu” (Padamu ibu / air mata yang menemaniku / adalah restu tak berpenghabisan / senyum yang mengiriku / adalah kasih tak terbalaskan, dst). Puisi karya Melur Seruni berjudul Antara Air Mata dan Kerinduan, puisi karya Sus S. Hardjono berjudul “Aku Perempuan” (aku perempuan, adalah bunga lembut, bila kau petik selalu patah, dan kau akan menyambungnya dengan rusukmu. Aku perempuan, yang lemah, dan kau tangkai yang akan menguatkan...dst).

Jika ditarik garis besar, tema utama yang terdapat dalam puisi-puisi HGTS ini adalah peran perempuan di sektor domestik. Dan kita semua tahu, betapa beratnya peran perempuan di sektor ini : masak, macak, manak (memasak, berdandan, melahirkan). Atau ada yang bilang : mamah, mlumah, olah-olah, umbah-umbah (makan, melayani kebutuhan biologis suami, memasak, mencuci, mengepel, bersih-bersih rumah). Itulah dunia perempuan Indonesia (khususnya Jawa) yang dicitrakan sendiri oleh perempuan (dan laki-laki) hingga saat ini.

Menyadari betapa tak berubahnya peran perempuan dari abad ke abad (dan karena jenuh atau bosan dengan tema-tema itu) saya tulis puisi untuk perempuan di bawah ini :

“Sehalus Sembadra, setangkas Srikandi
dikau perempuan Indonesia
seindah purnama, seterang mentari
dikau perempuan Indonesia
seharum melati, semerbak mewangi
dikau perempuan Indonesia.

Gagah langkahmu nan perwira
tinggi citamu nan mulia
lembut gemulai, anggun mempesona
bahanakan sluruh jagat raya..

senyum ketulusan, halus keibuan
ikhlas tunaikan bakti
genggam jiwa ksatria
mengemban cita suci Ibu Indonesia”.

Marilah kita sadari betul bahwa saat ini permpuan Indonesia bisa dikatakan sudah ‘duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ dengan kaum lelaki, jadi jangan lagi mengecilkan atau dikecilkan arti kehadiran perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia juga bisa berperan di sektor publik, bukan hanya di sektor domestik. Bahkan peran di sektor publik itu demikian berkibar sehingga dunia pun mengakuinya. Megawati (Ketua Umum Parpol Besar), Sri Mulyani Indrawati (Bank Dunia), Nafsiah Mboi (Menkes), dan masih banyak lagi. Harus disyukuri dengan cara : bangkit dan mengubah citra diri perempuan yang lemah dan tak berarti, menderita dan berurai air mata, tak berdaya, dan seterusnya. Hidup Perempuan Indonesia.

Klaten, 4 Januari 2014

Sumber facebook Esti Ismawati

Nama-nama penyair dalam buku HGTS. 
Selengkapnya: Ulasan Buku Puisi “Habis Gelap Terbitlah Sajak”: Luka, Derita, Do'a dan Air Mata Perempuan Indonesia

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas