Tipografi pada Puisi

Thursday, 9 January 2014

  • Tipografi disebut juga sebagai ukiran bentuk; ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi.
Seperti kita ketahui,dalam menuliskan kata-katanya, setiap penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri. Ada yang selalu menuliskan semua katanya dengan huruf kecil semua, ada pula yang selalu menggunakan huruf besar pada setiap permulaan kalimat atau baris baru puisinya. Juga dalam menggunakan tanda-tanda baca. Ada yang dalam seluruh puisinya tanpa menggunakan sebuah tanda bacapun. Tetapi ada pula yang dengan setia menggunakan tanda baca.

Berikut ini beberapa contoh berbagai tipografi tersebut :

1. Menggunakan huruf kecil semua dan tanpa tanda baca,

paman-paman tani utun
ingatlah
musim labuh sawah tiba
duilah

musim labuh kurang tidur ya paman
kerja berjemur dalam lumpur tak makan
sawah-sawah menggempur hancur  
merpatinya wokwok ketekur

(PAMAN-PAMAN TANI UTUN, Piek Ardijanto Suprijadi, Angkatan 66, hal. 462)

2. Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca,

Di depan gerbangmu tua pada hari ini
Kami menyilangkan tangan ke dada kiri
Tegak dan tengadah menetap bangunanmu
Genteng hitam dinding kusam berlumut waktu

(ALMAMATER, Taufiq Ismail, Angktan 66, hal. 151)

3. Menggunakan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap,

Kukitari rumahMu.
Kukitari rumahMu bersama jutaan umat
Ketika Kauturunkan rahmat
meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata :
Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami
Ulurkan tanganMu, bimbing kami
ke jalan lurus yang Kauridoi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.

(SEMENTARA THAWAF, Ajip Rosidi)

4. Sebagian baitnya menjorok ke dalam,

Laksana bintang berkilat cahaya,
Di atas langit hitam kelam,
Sinar berkilau cahya matamu,
Menembus aku kejiwa dalam.
  
    Ah, tersadar aku, 
    Dahulu ....................................
    Telah terpasang lentera harapan
    Tetiup angin gelap keliling.

Laksana bintang di langit atas,
Bintangku Kejora
Segera lenyap peredar pula,
Bersama zaman terus berputar

(SEBAGAI DAHULU, Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air, hal. 51

Mengenai tipografi yang berhubungan dengan susunan baris atau kalimat dalam tiap bait ini pun masih banyak lagi ragamnya.Adapaun maksud penyusunan tipografi yang beraneka macam itu,secara garis besar dapat dibedakan atas 2 (dua) macam :

1). Sekedar untuk keindahan indrawi; maksudnya sekedar agar susunan puisi tersebut nampak indah dipandang.

2). Untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan.

Marilah kita perhatikan dua buah contoh puisi berikut ini,


Bukan tidak saya letakkan,
Buah delima di atas gudang
        Untuk berbuka bulan puasa.

Bukan tidak saya katakan,
Saya hina dari orang,
       Tuan katakan,tidak mengapa.

Pohon cempedak saya tanamkan,
Pohon nanas kutanam juga,
       Batang mengkudu pemagarnya.

Bukan tidak saya katakan,
Tuan emas, saya tembaga,
       Tidak sejodo keduanya.

(M.I. Nasution, PUJANGGA BARU,hal. 240)

DOA PERAHU

tuhanku
        beritahu
                kini

ke manakah
            harus
                 kupergi

ke muara
           menyongsong
                   laut
                            biru

ataukah
         melawan
                 arus
                     menuju
                              hulu

(Ismed Natsir, Horison, Oktober, 1974)

Dan masih banyak gaya yang lain, yang bisa saudara ciptakan sendiri.

Sumber http://dennimlz.blogspot.com/2014/01/tipografi.html

1 Komentar:

thanks bro

Post a Comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas