Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Inilah Alasan Mengapa Aku Tak Tertarik Mengikuti Lomba Berbayar

Friday, 4 October 2013


Sudah lumrah adanya jika sebuah penerbit, lembaga, media atau perseorangan mengadakan lomba. Lomba sudah pasti menjadi ajang kompetisi menjadi yang terbaik, dinilai oleh juri yang kompeten di bidangnya. Lazimnya sebuah lomba, si peserta pasti menginginkan hadiah dari kemenangannya. Hadiah ini  bagi sebagian orang bukan hanya puncak dari sebuah perlombaan, tentu saja kemenangan menjadi bukti bahwa ia unggul di bidang lomba yang ia ikuti.

Belakangan ini saya seringkali menemukan pengumuman lomba menulis. Cara lomba dan hadiahnya bermacam-macam. Lomba menulis novel, puisi, cerpen, esai, atau karya ilmiah dengan reward diterbitkan menjadi buku itu lumrah. Selain sebagai cara sebuah penerbit mencari naskah bagus, perlombaan semacam ini juga wajar bagi sebuah penerbit yang mungkin sedang kesusahan mencari penulis atau naskah yang bagus. Dalam ajang seperti ini, penerbit sering bermurah hati dengan menambahkan hadiah lomba, selain memberikan kontrak terbit sebuah naskah. Ada juga pernerbit yang tidak memberikan hadiah, namun menambahkan reward si pemenang dengan tambahan jumlah royalti, atau pembayaran sebagian royalti di awal penerbitan naskah. Menyenangkan, tentu saja bagi si pemenang. Lomba berskala besar menjadi sebuah jalan pintas pengakuan keunggulan.

Ada lomba yang berhadiah besar dari penyelenggara (kadang dengan dukungan sponsor), atau ada lomba menulis—yang bagi saya agak aneh—dengan hadiah hanya berupa beberapa eksemplar naskah buku yang ditebitkan. Tidak ada tambahan royalti apalagi hadiah, juga tidak ada penghitungan bagaimana jika naskah (para) pemenang  dicetak masal. Lomba semacam ini paling banter hanya menambahkan diskon pembelian buku bagi pemenang. Aneh sekali. Parahnya, sebelum mengikuti lomba, calon peserta diminta membayar uang pendaftaran.  Menurut saya, lomba sejenis ini adalah lomba yang ganjil. Anehnya, lomba inilah yang sering saya temukan di beberapa pengumuman. Terutama di jejaring sosial facebook.

Lomba berbayar sebenarnya bisa  dimaklumi. Asalkan masih dalam batas wajar. Tidak terlalu mahal, dan hadiah yang dijanjikan ditepati sesuai dengan apa yang tercantum dalam pengumuman lomba. Tentu saja hadiahnya proporsional. Jika hadiahnya terlalu kecil, sementara uang pendaftarannya mahal, maka lomba semacam itu harus dipertanyakan dan dikritisi ulang.

Untuk mempermudah menganalisa, saya akan coba urai kasus lomba ini menjadi dua poin sebagai berikut:
Sistem Lomba Curang Pertama: Pada dasarnya, sebuah lomba diadakan untuk menyaring naskah, bukan mengumpulkan semua naskah. Kalau ada lomba menulis berbayar—ambil saja contohnya dengan biaya pendaftaran Rp.50.000,- —lalu   semua naskah yang masuk diterbitkan, itu artinya penyelenggara sedang mengumpulkan penulis lalu mencetak bukunya dan mengembalikan Rp.50.000,- dalam bentuk buku. Ini jelas bukan lomba, tapi arisan penulisan karya. Di mana kurasi naskahnya? Di mana penilaiannya? Di mana lombanya?  Sistem lomba dengan semua peserta menang atau nyaris semuanya menang ini mungkin sedikit lebih baik (meskipun tetap buruk) dibandingkan model lomba lain yang hanya memilih beberapa pemenang, lalu sisa peserta lain dana pendaftarannya hangus. Tapi, kasus inipun bisa kita lanjutkan dengan hitungan yang lebih teliti. Sebuah buku yang harganya Rp.50.000,- sudah pasti diproduksi lebih murah. Bahkan jika diproduksi dalam jumlah  yang banyak, harga produskinya bisa 1/5 dari harga itu.  Celah selisih harga ini dimanfaatkan oleh penyelenggara untuk bisnis lomba dan mengakumulasi nilai lebih uang pendaftaran.

Sistem Lomba Curang Kedua: Peserta yang ikut disaring dan dipilih oleh dewan juri—anggap saja yang daftar 100 orang—maka pihak lomba sudah mengumpulkan Rp.5.000.000,- dari ‘bisnis’ lombanya itu. Dalam kalkulasi cetak mencetak yang wajar, dana sebanyak itu sudah bisa dipakai untuk mencetak 1000 eksemplar buku (dengan standar buku yang tidak terlalu tebal dan tidak banyak variasi). Kalaupun dipilih 20 orang (anggaplah ini 20 karya terbaik), lalu hadiah lombanya hanya beberapa eksemplar buku,  (misalnya pemenang dapat 5 eksemplar buku, maka 5×20=100 buku),  ke mana sisa 900 buku lainnya? Apakah peserta yang namanya terdaftar di dalam buku dapat royalti, hak atas karyanya yang dimuat dan diperjual belikan?

Kalau perlombaan semacam ini hanya bertujuan untuk membuat sebuah antologi karya penulis, lomba semacam ini tidak layak disebut lomba. Lebih tepat disebut “Proyek Menulis dan Menerbitkan Bersama”, sebab sesungguhnya para penulis yang bergabung sedang melakukan patungan dana untuk mencetak bukunya. Sama sekali bukan berlomba! Mereka harusnya berhak membagi jumlah buku yang dicetak dari total dana yang terkumpul. Itu baru adil.

Bagaimana kalau penerbit atau pihak lomba sebenarnya sedang melakukan bisnis? Pihak lomba sah-sah saja menjadikan dirinya penerbit/percetakan, tapi setidaknya harus dijelaskan mekanisme pasti tentang lomba tersebut. Misalnya, berapa biaya cetak buku, berapa pembagian keuntungan penerbit dan penulis. Agar buku dan tulisan bukan hanya jadi bisnis jual beli semata. Mencari keuntungan lewat proyek semacam ini sah-sah saja, asalkan info yang diberikan lebih terang. Tak ada masalah jika kegiatan semacam ini dinamakan penyelenggara sebagai proyek penerbitan, datangkan kurator yang kompeten, bukan menyebutnya lomba, padahal hanya arisan atau bisnis belaka.

Akan susah rasanya membedakan lomba ini dengan kuis sms yang marak di tv. Sama saja. Jika di tv orang-orang diminta mengirim sms dengan tarif premium yang lebih mahal, lalu nomer mereka diacak dan serpihan akumulasi dana premium yang masuk itu hanya dibagi pada beberapa orang yang beruntung. Apa bedanya lomba penulisan dan sms premium ini dengan judi? Penulis yang lugu diminta menginvestasikan dana lewat uang pendaftaran, lalu yang tidak lolos diterbitkan hanya melongo, mencoba berbahagia dengan membeli buku yang berisi secuil karyanya di sana. Astaga!

Paradoks Dunia Menulis dan Sosil Media, Celah Bagi Mafia
Paradoks dunia kepenulisan dalam sosial media sebenarnya jauh sudah muncul sebelum era populernya facebook. Di era kemunculan Cyber Sastra akhir tahun 90-an. Beberapa kalangan redaktur media cetak memandang sinis karya sastra yang muncul di internet, di blog atau mailing list. Tidak adanya kurasi yang ketat, kebebasan unggah karya sana-sini membuat standar kualitas menjadi lemah dan tak bisa diadu dengan sastra mainstream seperti di koran, jurnal atau majalah. Generasi Cyber menjawabnya dengan dalih merebut hegemoni media. Sebagian melepaskan penilaian karya pada hukum alam rimba raya dunia menulis; yang bagus akan muncul ke permukaan di manapun medianya. Hukum alam berlaku, yang berkarya buruk akan tenggelam dan dilupakan. Dalam ruang kesadaran yang terbangun secara dialektis  semacam itu, Cyber Sastra memberi jawaban yang setimpal, beberapa penulis dunia maya yang tekun pada akhirnya muncul sebagai penulis handal dengan karya yang tak kalah dibandingkan media konvensional selama ini.

Facebook dengan fasilitas note di awal kemunculannya memberi ruang paradoks bagi banyak penulis: Publikasi Vs. Kualitas karya. Facebook memberi nilai positif bagi para penulis pemula memulai kariernya dengan fasilitas note dan fasilitas group. Mereka bisa berinteraksi dan membangun basis komunitas, diskusi intens sekaligus membangun basis pembacanya. Penulis bisa berinteraksi langsung. Menerima kritikan dan bisa merevisi karyanya saat itu juga.

Celakanya; dengan menulis di facebook dan diberi jempol like banyak orang, seorang penulis sudah merasa dirinya berhasil. Kebiasaan tidak mengkritik teman atau sesama komunitas baik online atau offline memperparah situasi. Padahal, memasuki dunia tulis menulis tentu tak segampang itu. Like bukan berarti bagus, dahsyat. Jumlah teman yang makin banyak juga tak berbanding lurus dengan jumlah apresian kritis yang bisa menjadi alat bantu berkembang seorang penulis. Mental instan dan kuper menjadikan makin banyak penulis baru bermunculan dan menjadi lahan empuk bagi oknum “bisnismen lomba” yang curi-curi kesempatan. Seorang bisa mengadakan lomba di sebuah komunitas tanpa modal hadiah atau modal dana sepeserpun. Hanya butuh sambungan internet. Mengumpulkan teman-temannya, mengajak ikut lomba dan membayar, lalu mengakumulasi jumlah uang untuk mencetak buku dan mengantongi selisihnya.

Penulis yang cerdas, tentunya harus kritis. Kemudahan akses masuk dunia perbukuan,  kecanggihan alat cetak semacam buain dan sogokan instan untuk menghasilkan karya yang dangkal dan instan.

Jika saja para perta lomba mau bersabar atau mau sedikit kritis, sebuah grup facebook bisa saja disulap menjadi sebuah minipenerbitan, atau divisi penerbitan melalui mekanisme yang sederhana dan tidak terlalu susah. Mengumpulkan tulisan bersama, patungan dana, lalu mencetak sendiri bukunya. Aman dan lebih elegan daripada mempercayakan nasib karya mereka pada orang-orang yang hanya bisa jualan kertas dan tinta; tidak mementingkan kelayakan karya, tidak mementingkan capaian penulis.  Update wacana penulis, analisa yang cerdik akan mencegah kekecewaan di belakang hari; kekecewaan tentang naskah yang tidak terbit padahal sudah bayar, juga menutup celah penipu-penipu kacangan yang baru belajar jadi mafia di dunia perbukuan.

@irwanbajang, Pemred Indie Book Corner.

Ijin reposting di sini.

PS: "Yang tidak berbayarpun, kalau nggak jelas dan ada indikasi semacam itu juga bisa/patut dicurigai. Ada lomba yang hadiahnya buku dicetak 5 eks sebagai hadiah, sisanya mereka jual banyak tanpa royalti penerbit. Ini juga penipuan."
Selengkapnya: Inilah Alasan Mengapa Aku Tak Tertarik Mengikuti Lomba Berbayar

"Menulis vs. Pekerjaan Harian"

Wednesday, 19 June 2013

Menulis adalah sebuah profesi. Dari dulu sampai saat ini fakta itu belum berubah. Namun ada satu hal yang terkadang sulit dicerna oleh para calon penulis, bahwa profesi ini jarang sekali membuahkan hasil finansial yang memuaskan. Betul, menulis adalah profesi yang menyita waktu. Betul, menulis membutuhkan proses berpikir yang menyita energi. Dan oleh sebab itu konsep bahwa seorang penulis dianjurkan untuk tidak menyandarkan kebutuhan hidupnya dari hasil menulis bisa terkesan…well, kejam.

Nyatanya tidak sedikit penulis serius yang membagi waktunya antara pekerjaan (day job) dan profesi menulis. Tidak sedikit juga penulis serius dan legendaris yang terpaksa mencuri waktu-waktu absurd demi menyelesaikan novel dan cerita pendek mereka, baik itu lewat tengah malam atau beberapa jam sebelum matahari terbit. Dan dari sekian banyak penulis yang reputasinya telah dikukuhkan sebagai tokoh sastra dunia, tidak sedikit yang sempat melakukan pekerjaan serabutan demi melangsungkan hidup. Karena tidak semua buku yang ditulis laku keras di pasaran; dan kalau sudah begitu…tak ada pilihan kecuali banting setir.

Penasaran pekerjaan macam apa yang dilakukan para penulis ternama? Berikut daftar 10 penulis dan pekerjaan harian mereka.

1. Bram Stoker, penulis buku horor dan gotik berjudul ‘Dracula’, bekerja sebagai asisten produksi pertunjukkan teater.

2. Lewis Carroll, penulis buku ‘Alice in Wonderland’, bekerja sebagai ahli perpustakaan dan guru matematika.

3. T.S. Eliot, semasa hidupnya, sering digoda oleh teman-temannya karena memilih profesi yang sangat membosankan sebagai pegawai bank. Meski telah dikenal sebagai penyair serius dengan menerbitkan buku ‘The Waste Land’, ia tidak pernah melepaskan pekerjaan hariannya di bank.

4. Harper Lee, penulis buku ‘To Kill A Mockingbird’, bekerja sebagai agen tiket perjalanan.

5. John Steinbeck, seorang pemenang Nobel Sastra, dan penulis buku ‘Grapes of Wrath’, bekerja sebagai pemandu wisata.

6. Setelah menerbitkan novel pertamanya, Kurt Vonnegut, penulis novel ‘Slaughter House Five’, bekerja sebagai agen dealer mobil.

7. William Faulkner, juga pemenang Nobel Sastra, dan penulis buku ‘As I Lay Dying’, bekerja sebagai tukang pos di kampus universitas.

8. J.D. Salinger, penulis buku ‘Catcher in the Rye’, bekerja sebagai Entertainment Director di sebuah kapal pesiar.

9. Franz Kafka, penulis cerita ‘Metamorphosis’, bekerja sebagai Kepala Sekertaris Hukum di sebuah institusi asuransi pekerja.

10. Ernest Hemingway, penulis buku ‘For Whom The Bell Tolls’, bekerja sebagai reporter dan koresponden jurnal politik.

So … masih semangat nulis kan? 

Sumber Fiksi Lotus
Selengkapnya: "Menulis vs. Pekerjaan Harian"

(Scan) Menulis karena Ibadah Menjadi Lebih Bermakna

Sunday, 25 November 2012

“Menulis karena Ibadah Menjadi Lebih Bermakna”. Judul berita kegiatan Diskusi Kepenulisan dalam rangka launching JPIN Cabang Grobogan, yang dimuat di koran SUARA MERDEKA, edisi Selasa, 11 September 2012.
Sumber Diskusi Launching JPIN Cabang Grobogan (Suara Merdeka, 11 September 2012)
Selengkapnya: (Scan) Menulis karena Ibadah Menjadi Lebih Bermakna

(Scan) Keahlian Menulis Bisa Dipelajari

“Keahlian Menulis Bisa Dipelajari”. Judul berita kegiatan Diskusi Kepenulisan dalam rangka launching JPIN Cabang Grobogan, yang dimuat koran JAWA POS Radar Kudus, edisi Rabu, 13 September 2012.
Sumber Diskusi Launching JPIN Cabang Grobogan (Jawa Pos Radar Kudus, 13 September 2012)
Selengkapnya: (Scan) Keahlian Menulis Bisa Dipelajari

(Scan) Menulis Perlu Bakat, Itu Mitos!

Klik gambar untuk memperbesar
MENULIS PERLU BAKAT ITU MITOS!: Judul berita kegiatan Diskusi Kepenulisan dalam rangka launching JPIN Cabang Grobogan, yang dimuat Surat Kabar DIALOG, edisi Kamis 20 – Rabu 26 September 2012.
Sumber Diskusi Launching JPIN Cabang Grobogan (Surat Kabar DIALOG, 20-26 September 2012)
Selengkapnya: (Scan) Menulis Perlu Bakat, Itu Mitos!

(Scan) Artikel Perempuan, Kecantikan dan Kepalsuan oleh Puitri Hati Ningsih | Suara Merdeka 2010

Friday, 16 November 2012

Suara Merdeka
Edisi 23 Juni 2012

Nah, akhirnya dapet artikelnya.

Perempuan, Kecantikan, dan Kepalsuan
  • Oleh Puitri Hati Ningsih
 MENILIK ajang pemilihan Miss Indonesia, Putri Indonesia, dan kontes pemilihan ratu yang sejenis, dengan memperebutkan mahkota bergilir makin gemebyar  dan berkilau. Apalagi dengan dukungan beberapa perusahaan kosmetik terbesar di negeri ini dan sponsor utama lain.

Gadis-gadis yang lolos seleksi dari segala penjuru provinsi di Tanah Air dikarantina pemilihan selama 14 hari. Secara intensif para unggulan diberi banyak materi sebagai persiapan menghadapi malam penobatan ajang tahunan itu. Para pakar dan profesional memberikan materi secara seimbang antara fisik dan mental. Misalnya, materi kepribadian dan bergaya di panggung.

Tak hanya tubuh yang digarap, tetapi juga jiwa dan kepribadian mereka. Bagaimana sang putri harus berbicara di depan umum, bagaimana cara berjalan yang selaras dengan panggung di bawah sorotan lampu ribuan Watt, serta mengenakan gaun atau adibusana mahakarya seni perancang kelas wahid di negeri ini.
Bagaimana menghadapi kamera, mengemukakan pendapat, dan menjawab tantangan zaman dan menghadapi masalah.

Karena, semboyan yang terkenal dalam kontes pemilihan adalah 3B: brain, beauty, behavior. Putri yang sempurna adalah putri yang cantik luar-dalam, memancarkan inner beauty, memiliki inteligensia, berkepribadian, dan sedap dipandang. Apalagi bila mereka menguasai bahasa asing lebih dari satu, wah, panggung pemilihan bakal lebih semarak, mengagumkan, dan mengundang decak kagum pemirsa televisi di rumah atau hadirin. Itu mungkin akan meruntuhkan teori Newton bahwa kecantikan berbanding terbalik dengan kepintaran.

Sebelum memilih satu putri yang berhak menyandang mahkota dalam satu malam pemilihan itu, dari 20 atau 30 finalis disaring menjadi 10 besar. Dari 10 besar ada kategori putri atau miss yang terpilih menyandang Putri Inteligensia, Putri Bertubuh Indah, Putri Rambut Indah, Putri Lingkungan Hidup, Putri Favorit Pemirsa, Putri Kepribadian, dan lain-lain.

Selain tubuh dan jiwa calon putri yang diperhatikan, juga emosi mereka. Dalam ajang pemilihan itu, meski bersaing ditanamkan pula pada mereka untuk saling memuji dan menyanjung. Tak ada kritik tajam, perdebatan tanpa kekesalan dan keluhan. Karena, itu “dunia surgawi”.

Dari bibir putri bertubuh indah dan berambut sehat lurus, dan berparas bintang harus keluar kata-kata manis dan positif. Sanjung puji, dukungan, dan empati mewarnai pemilihan pemenang. Kalaupun ada masalah atau konflik batin, itu harus mereka sembunyikan jauh di belakang layar yang sunyi.
Karena, para putri itu dikondisikan untuk selalu positif, agung, dan cantik.

Maka, bukan tak mungkin semua di permukaan itu terasa membosankan dan tak asli. Karena, kita tak pernah mendengar kemurnian yang dikhawatirkan menodai pencitraan yang baik pada pemilihan putri. Dalam setiap wawancara pada prapemilihan di arena karantina, para putri itu selalu mengatakan hal-hal indah, berbudi pekerti, dan cenderung tidak kritis.

Beberapa tahun lalu kita dikejutkan oleh kehadiran seorang tokoh, seorang putri Solo yang waktu itu masih bernama GRAY Koes Murtiyah, dari Keraton Kasunanan dengan julukan “Putri Mbalela” karena menentang salah satu kebijakan sang ayahanda, Paku Buwono XII. Juga Angelina Sondakh, salah seorang Putri Indonesia, yang mengkritik penyelenggara panitia dan pemilihan Putri Indonesia dengan menulis buku.

Perempuan takut berkulit hitam dan kusam, maka mereka melindungi tubuh bila bertemu sorot sinar matahari langsung dan selalu memakai lulur dan masker bengkoang. Maka menjadi seorang putri dengan gelar dan tiara di rambut mungkin akan menjadikan mereka tak semerdeka sebelumnya. Dia harus menjaga segalanya; dari kulit, rambut, dan emosi.

Dia kurang nyaman ngudarasa dan tak berani mengkritik tajam, mengeluh, dan melontarkan unek-unek yang mengganjal di hati. Dia harus menjaga dan menahan diri, tak boleh bersaing meski persaingan itu nyata di depan mata. Bahkan dia tak boleh cemburu dan iri hati karena akan menggangu inner beauty-nya. Jadi, akankah acara pemilihan putri dan miss terus berkilau dan memedulikan pikiran mereka bisa merdeka dari protokoler 3B?

Juga memberikan sumbangan pada perubahan nasib perempuan di luar ajang pemilihan dan jadi duta perempuan, bukan semata-mata duta panitia penyelenggara, serta mendukung berderet kekayaan modal? (51)

- Puitri Hati Ningsih, redaktur Pawon Sastra dan aktif di Pengajian Seni.

Selengkapnya: (Scan) Artikel Perempuan, Kecantikan dan Kepalsuan oleh Puitri Hati Ningsih | Suara Merdeka 2010

Pengertian Liberal Arts

Saturday, 27 October 2012

Istilah Liberal Arts merujuk kepada satu kurikulum pendidikan yang berasaskan pendidikan klasik. "Sastra liberal" didefinisikan oleh Encyclopaedia Britannica sebagai "kurikulum universitas yang bertujuan memupuk pengetahuan umum dan meningkatkan kemampuan intelektual, berbeda dari kurikulum yang bersifat profesional, vokasional, atau teknikal."

Abad Pertengahan yang banyak mengadopsi konsep Plato dan Aristoteles memiliki dua jenis pendidikan: pendidikan orang bebas (liberal arts) dan pendidikan budak (vocational training). Budak di sini punya pengertian yang dalam: bukan dalam arti dia diperbudak oleh seseorang, tapi artinya dia diperbudak oleh lower concerns selain truth (termasuk uang dan lain-lain).

Pada mulanya universitas didirikan bertujuan untuk pendidikan yang membebaskan (liberal arts). Dalam universitas Abad Pertengahan.  Liberal Arts terbagi menjadi tujuh golongan, yaitu: Tatabahasa, Retorika, Logika, Geometri, Aritmetika, Musik, dan Astronomi.

Sedangkan Vocational arts lebih mengacu kepada latihan keterampilan dasar kepada spesialisasi suatu bidang tertentu.

Ketujuh Liberal Arts dikategorikan pada bidang verbal(kajian bahasa atau artes sermocinales) dan angka(artes triviales/trivium).
1. Verbal: retorika: dialektika/logika, dan tata bahasa
2. Angka: geometri: astronomi/astrologi, musik, aritmatika
Penjelasan (mohon tambahan/koreksi).
-Logika mencakup filsafat, ilmu politik, ilmu alam, serta pendalaman ilmu-ilmu lainnya.
-Retorika, sejujurnya ini sangat luas, pendidikan karakter, public speaking, dan mungkin teater atau yang lainnya.
-Tata bahasa mencakup linguistik, sastra, dan bahasa.
-Geometri: mempelajari angka dalam kaitannya dengan ruang. Misalnya arsitektur, geodesi, geologi, teknik sipil & struktur ruang lainnya.
-Musik mempelajari vokal, instrumen, sound engineer dan lainnya.
-Aritmatika mempelajari tentang angka dalam angka. Misalnya teori angka, kalkulus, akuntansi dan lainnya.

Konsep Kurikulum Liberal Arts
Agus Suwignyo dalam bukunya Dasar-dasar Intelektualitas (2007), menengarai program ini pada dua muatan, yaitu dalam perspektif kurikulum pendidikan sebagai kurikulum objek kajian, dan disposisi sikap sebagai kurikulum tersembunyi. Kurikulum objek kajian berkaitan dengan ilmu yang dipelajari, mencakup sains formal, sains alam empiris, dan sains sosial empiris. Sementara kurikulum tersembunyi berhubungan dengan etos keilmuan dalam suatu disposisi sikap yang melekat pada kepemilikan ilmu. Disposisi sikap merujuk pada kemampuan mencetuskan gagasan otentik yang mendasari sikap dan perilaku kelimuan.

Pendidikan liberal art menekankan pada pengembangan kemampuan berfikir dan menalar, yakni pengolahan kompetensi untuk menemukan dasar rasional bagi suatu gagasan dan sikap, disamping juga mengolah kopetensi-kempetensi yang umum dan mendasar. Umum artinya tidak spesifik atau khusus; mendasar artinya esensial dan tidak pragmatis. Pendidikan liberal art juga mencakup keseluruhan dimensi kemanusiaan secara utuh, yakni manusia sebagai mahluk yang menalar, berinteraksi dan berkembang, dan menciptakan individu yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab.

Penerapan/ implementasi Liberal Arts
Prinsip bahwa mahasiswa harus memiliki pengetahuan cukup mendalam mengenai sesuatu yang khusus juga tidak boleh dilupakan. Karenanya, tujuan dari pendidikan liberal arts adalah memproduksi para lulusan yang tahu sedikit mengenai banyak subjek dan tahu banyak tentang satu subjek (to know something about everything and to know everything about something). Dari prinsip itu, lahirlah sistem yang dinamakan major dan minor.

Setelah mencapai tahap tertentu (atau telah mencapai sejumlah SKS tertentu,-red) dalam studinya, mahasiswa diberi peluang untuk menentukan disiplin apa yang akan menjadi minat utama (major) dan disiplin apa yang menjadi pelengkap (minor). Misalnya, seorang mahasiswa bisa saja memilih kombinasi major-minor yang tak terbayangkan di negeri ini seperti major pramedikal (untuk menjadi dokter) dengan minor sejarah, politik, atau ilmu budaya. Ketika ia memilih suatu major, universitas telah menentukan mata kuliah-mata kuliah apa saja yang tertera dalam paket itu, demikian pula pada waktu ia memilih minor.
 
Sistem Sekolah
Sistem liberal arts masih digunakan di sekolah-sekolah di Eropa dan Amerika sejak 2000 tahun yang lalu sampai sekarang. Filusuf besar seperti Pythagoras, Plato, dan St Agustinus sangat berjasa dalam pengembangan liberal arts. Para filusuf muslim, seperti Ibn Sina, Al Farabi, dan Ibn Rusyd juga mengembangkan paradigma yang serupa. Tidak mengherankan, jika seorang Al Farabi dikenal sebagai filusuf, musisi, dan dokter sekaligus. Sama dengan Eropa dan Amerika, di Iran pendekatan liberal arts masih dijalankan, walaupun dengan format berbeda. Di Perancis, puncak dari ‘liberal arts’ adalah pemberian pelajaran filsafat di tingkat ‘lycee’ (setara SMU). Seorang siswa harus mampu menulis artikel mengenai filosof tertentu, misalnya mengenai Friedrich Nietzche.

Berbeda dengan di Indonesia, dimana kurikulum sekolah sangat tidak jelas orientasinya. Pelajaran apa yang menjadi prioritas, atau mana pelajaran yang untuk kepentingan ekonomi (pasar) dan mana yang untuk sains, sama sekali tidak jelas. Belum lagi momok ‘ganti menteri ganti kurikulum’ membuat Indonesia sangat sukar membuat kurikulum yang stabil. Hasilnya adalah egoisme sektoral. Sudah banyak perbaikan dan perubahan yang dilakukan Diknas, namun masih banyak pula yang harus dilakukan, termasuk mendesain kurikulum yang stabil dan mengangkat perspektif multisektoral.

Sumber-sumber:
Selengkapnya: Pengertian Liberal Arts

(Scan) Koran Tempo Edisi 18 Juli 2012, Politik Jokowi oleh Bandung Mawardi

Thursday, 25 October 2012

Koran Tempo Edisi 18 Juli 2012
Rubrik Pendapat
Bandung Mawardi, Pengelola Jagad Abjad Solo

Ceritanya kemaren pas maen di kos-an temen, deket Amplas Jogja. Ga tega melihat tumpukan koran setebal 50 CM teronggok. Ga tahunya pas banget nemu artikel mas Kabut.. heheh..
Selengkapnya: (Scan) Koran Tempo Edisi 18 Juli 2012, Politik Jokowi oleh Bandung Mawardi

Menulis Artikel Untuk Koran, Yuk!

Tuesday, 10 April 2012

Bagi sahabat yang sering menulis di koran, tentu banyak manfaat yang diperoleh. Ya, nama jadi terkenal, bisa berbagi ilmu, dapat honor pula. Tapi, banyak yang merasa geregetan karena artikel-artikel yang pernah dikirimkannya ke situ tak kunjung dimuat. Tidak kurang pula yang belum berani mencoba. “Nanti saja, menunggu waktu yang tepat,” dalihnya.

Apabila naskah kita, terutama yang baru mencoba menulis di koran, ternyata dimuat, senangnya bukan main, bukan? Lihat saja beberapa sahabat kompasianer yang naskahnya dimuat di Kompasiana-Freez. Mereka senang sekali, kemudian beberapa diantaranya mengekspresikan kegembiraannya itu melalui postingan. Tentu saja kita semua ikut senang karena sebagian dari teman-teman yang sukses menghasilkan tulisan yang bermutu sehingga bisa tembus Kompasiana-Freez.

Pada prinsipnya ada tujuh hal yang perlu diperhatikan ketika hendak mengirim tulisan ke koran. Pemenuhan terhadap ketujuh hal ini akan memberi peluang lebih besar bagi dimuatnya sebuah artikel (opini). Inilah kelima hal itu:
  1. Temukan topik yang aktual selaras dengan perkembangan pemberitaan;
  2. Kemukakan masalah, dukung dengan data/fakta, dan berikan alternatif solusinya;
  3. Berikan bobot pada artikel itu dengan pemikiran orisinal;
  4. Pakailah bahasa tulis yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
  5. Usahakan artikel yang dikirim didesain dengan rapi sehingga enak dipandang mata;
  6. Hindari menulis hal-hal yang mempertentangkan masalah SARA (suku, agama, ras, antargolongan);
  7. Lengkapi tulisan dengan identitas diri, termasuk no. rekening bank (ssst… ini untuk pengiriman honor jika tulisan dimuat)
Persyaratan tak terlalu rumit, bukan? Masih penasaran? Cobalah menulis untuk koran mulai sekarang. Kalau tidak dimuat, pelajari kembali , temukan masalahnya. Buat lagi artikel baru, kirim lagi. Jangan pernah bosan untuk mencoba. Suatu saat, Anda akan tercengang karena ternyata Anda pun berhasil menembus koran.

Yuk menulis artikel untuk koran.

( I Ketut Suweca , 29 November 2011).


Selengkapnya: Menulis Artikel Untuk Koran, Yuk!

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas