Showing posts with label malam sekopi sunyi. Show all posts
Showing posts with label malam sekopi sunyi. Show all posts

Foto-foto Diskusi BePe #2 "Malam Sekopi Sunyi" | Kudus, 29 September 2013

Tuesday, 8 October 2013

Kudus bagiku semacam kota yang Keramat. Entah mengapa itu meletup di kepala. Barangkali kemarin malamlah yang menjawab pernyataan itu. Tanggal 28 launching buku puisi buat Gus Dur kemudian berlanjut tanggal 29 diskusi kecil buku kumpulan puisiku, "Malam Sekopi Sunyi" di PKM STAIN Kudus.

Diskusi buku Malam Sekopi Sunyi berlangsung meriah. Ini merupakan suatu apresiasi yang patut saya catat sendiri. Peserta yang hadir begitu antusias mendengar dan menikmati yang tersaji malam itu. Begitupun saya bersyukur mendapat tanggapan dari kawan-kawan pembedah, peserta, dan panitia yang telah menyelenggarakan acara diskusi. Saya bersyukur, puisiku dibedah meski tidak setajam "silet". Hehe. Muhammad Rois Rinaldi (Penyair Cilegon), Dimas Indiana Senja (Penyair Brebes-Purwokerto), dan Bagus Burham (Penyair Kudus), mereka pembedahnya. Acara yang dimoderatori secara dadakan oleh Gus Arafat AHC (Penyair Demak) berlangsung khidmat dan memberi kesan bagi saya. Meski secara sederhana, namun percakapan dan waktu berjalan mengalir. Tidak ada ketegangan.

Dihadiri sekitar 20-an orang. Ada komunitas jeNANG Kudus, komunitas Saung Tawon (Kudus), Teater Satoesh (STAIN Kudus), komunitas LAH (Kudus), Saptorenggo dan lain-lain. Diantara peserta yang hadir, ada satu cewek "terselip". Arini dari "KIAS" (Semarang) membacakan dua puisiku.

Diakhir acara, saya membacakan dua puisi, "Kesunyian Ini Abadi", dengan memakai backsound ambient milik Stargate (Missing Plateu) dari handphone sebagai musik pengiring. Kemudian disusul puisi "Ruh Tubuh" menandai acara diskusi telah selesai.

Sehabis acara, saya berkesempatan untuk jalan-jalan sejenak bersama Gus Dimas dan Gus Arafah AHC ke makam Sunan Kudus. Kira-kira pukul satu pagi kami sampai di sana. Namun Menara Kudus dan makam Sunan Kudus tidak dibuka. Hanya waktu-waktu tertentu saja  (malam Jumat). Meninggalkan jejak dengan sholat. Kemudian kami beranjak pulang ke rumah Gus Arafat AHC melewati jalan-jalan terjal. "Duh, kok dilewatne dalan elek to Gus!" 

Kudus-Jepara-Demak. Melewati rumah penyair Jepara, Asyari Muhammad. Sampai di rumah Gus Arafat AHC pukul dua lebih. Istirah.
BePe #2 Malam Sekopi Sunyi

Performance:
- Ali Reagge (Teater Komunitas Teater Satoesh)
- LPM Paradigma
- Arafat Ahc
- Sholichudin Al-Gholany
- Ullyl Ch
- Fahrudin
- Virgo Chan (Arini Septian Irawati)
- Muhammad Rois Rinaldi
- Ekohm Abiyasa (Pemain Malam yang kopi dan Sunyi)

Pembibir:
- Bagus Burham
- Dimas Indianto S
- M. Rois Rinaldi

Moderator: Arafat AHC

Presented By:
Komunitas jeNANG
Komunitas Saung Tawon
Teater Satoesh
LPM Paradigma

Thank's To:
Chipz Mirza Sastroatmodjo
Komunitas LAH
Dewan Kesenian Cilegon
Pondok Pena "Purwokerto"
KIAS IKIP PGRI "Semarang"
dan seluruh Pembaca yang Sunyi

terkhusus untuk STAIN Kudus

Sumber foto facebook Arafat AHC



Foto terkait launching buku puisi buat Gus Dur.
Selengkapnya: Foto-foto Diskusi BePe #2 "Malam Sekopi Sunyi" | Kudus, 29 September 2013

Launching Malam Sekopi Sunyi pada "Malam 3 Pendaran"

Saturday, 29 June 2013

Malam Sekopi Sunyi pada "Malam 3 Pendaran", perayaan 3 buku 3 penulis Solo,

Balai Soedjatmoko (samping toko Buku Gramedia) Solo
Selasa, 2 Juli 2013
Pukul 19.00

Silakan hadir!

Sumber facebook Yudhi Herwibowo

Untuk pemesanan silahkan sms ke: 0857 496 54481
Format sms: judul buku_jumlah eksemplar_nama_alamat lengkap

http://mozaikindie.wordpress.com/2013/04/02/launching-malam-sekopi-sunyi
http://buku.tokobagus.com/sastra-fiksi/malam-sekopi-sunyi-21342431.html

Foto-foto launching,

 
Foto oleh Aida Vyasa

 
 
Foto oleh Impian Nopitasari di sini dan di sini.

Foto-foto  dan notulen Indah Darmastuti di blog Pawon.
Selengkapnya: Launching Malam Sekopi Sunyi pada "Malam 3 Pendaran"

Malam Seorang Pejalan Jauh - Malam Kesekian (Majalah Sastra Digital, Frasa. Edisi 7 Tahun Pertama (2012) )

Saturday, 5 January 2013

Malam Seorang Pejalan Jauh

malam adalah tempat persinggahan
kepala dalam hati
dalam simpang perjalanan
berartikah engkau disisiku
seberapa

malam adalah tempat cerita
kepalan dalam renungan
ketika siang adalah buangbuang kata
senyum itu memudar
kiasan yang memendar
semu belaka
tahukah engkau, sesakit apa hati?
tentang gelisah

pada malam pertanyaanpertanyaan
mengekal dalam kolom abadi langit
tersimpan rapat untuk jejak kesekian
dan pagi yang membutakan

malam adalah rupa asap beterbangan
dupa seorang pejalan jauh yang kelelahan
menanti hujan makna dalam ladang jiwa yang gelisah

Jakal KM 14 Jogja, 19 September 2012


Malam Kesekian

malam kesekian
kembali menautkan rindu dan kenangan
dalam kota tua dan sejarah prasasti abjad
seperti kota kelahiranku
fenomena dan penuh cerita

malam kesekian
naluri rindu memanggilmanggil namamu

Jakal KM 14 Jogja, 07 Oktober 2012

*) Ekohm Abiyasa

**Dimuat Majalah Sastra Digital, Frasa. Edisi 7 Tahun Pertama (2012)
Selengkapnya: Malam Seorang Pejalan Jauh - Malam Kesekian (Majalah Sastra Digital, Frasa. Edisi 7 Tahun Pertama (2012) )

Kerikil-kerikil Pencerah (Buletin Pawon Sastra Solo edisi #37 tahun VI/2013 dan Malam Sekopi Sunyi (antologi puisi tunggalku))

Saturday, 27 October 2012

: Firdaus Septyan Luthfy

temaram jalanan Jogja mengantarku pada bait kesekian kisah hidup
perjalanan yang melelahkan

temanku, si hati yang gelisah
kemana lagi kerikil hidup ini akan menancap

hidup adalah engkau melempar sebuah dadu dan kau jadi pucat pasi
bukankah ini skenario kehidupan yang mesti dikunyah dan ditelaah
jangan enggan untuk mendekat
mencapai kesejukan batin yang engkau harap
baitbait derita masih menunggu di halaman sunyi

kerikilkerikil membawa pada pencerahan hidup
seperti bunga yang rajin menarik lebah berdatangan

Jogja Undercover, 27 Oktober 2012

*) Ekohm Abiyasa

Catatan:
Dimuat buletin Pawon Sastra edisi #37 tahun VI/2013
Malam Sekopi Sunyi (antologi puisi tunggalku)
Selengkapnya: Kerikil-kerikil Pencerah (Buletin Pawon Sastra Solo edisi #37 tahun VI/2013 dan Malam Sekopi Sunyi (antologi puisi tunggalku))

(Arisan Kata 17) Merapu Sunyi

Tuesday, 27 March 2012

: Murtidjono

disisasisa hening ini aku merapu sunyi
juga bekas jejak yang engkau tanam ditanah merah
mencaduk pesanpesan yang engkau kirim
dalam kerlap malam jua aku bersungut memaknai semua yang kau perankan
atas segenap kisah manusia
engkau hidup terus mengalir menguliti jalan sunyi

bahwa puisi bukan pula hal modular
yang membuat kita hanya puas terkapar
begitu saja
berhenti pada titik langkah
tidak juga engkau menjadi pandik
itu yang kutangkap dari senyum senjamu

di halaman, kosong oleh rerintik air hujan
debudebu beterbangan
beradu langkah dengan cengkiak
betapa muram tanahtanah ini
aku semakin tak mengerti
kukira maukuf saat ini, betapa pula aku ceroboh mengartikan sampaian
pesanpesan yang engkau tawarkan yang engkau pentaskan

namun masih ada waktu buat berkelana
akan kutautkan rindu dipenghujung malam
menyegel pintupintu asing
berukup tepat ditengah sunyi hitam
tingkar pikiran dan kepala dengan berjuta huruf yang berderetderet disekeliling
engkau hidup dikedalaman makna

hingga hilang sudah sunyi menjadi embun
maserasi fajar menggertak aorta
dan matamata yang malas enggan beranjak
memuncak tinggi di nirwana

Jakal KM 14 Jogja, 27 Maret 2012

*) Ekohm Abiyasa

** Kupersembahkan untuk Mengenang seniman Murtidjono

Juga dalam rangka ikut memeriahkan Arisan Kata 17 disini.

11 kata kunci yang digunakan:
  • Maukuf: iman yang tidak diterima, seperti halnya orang munafik yang imannya baru dapat diterima jika kemunafikannya telah hilang;
  • Merapu: memunguti (barang-barang yang terbuang atau tidak berguna); meminta sedekah;
  • Berukup: mengasapi diri dengan membakar setanggi, kemenyan, dsb; sudah diasapi dengan ukup;
  • Menyegel: membubuhkan meterai; membubuhkan cap (dengan lak dsb) pada surat rahasia; menutup rumah (bangunan, barang, dsb) yang disita dengan menempelkan segel pada pintu dsb;
  • Maserasi: pelunakan suatu benda karena suatu cairan; pelunakan jaringan karena terendam dalam cairan, terutama cairan asam, sehingga jaringan pengikat melarut dan bagian jaringan dapat dipisahkan (dalam histologi); perubahan degenerasi yang menyebabkan perubahan warna, pelunakan jaringan, disintegrasi janin yang masih dalam rahim setelah mati (dalam obstetri);
  • Mencaduk: mengangkat atau menaikkan (kepala, ujung belalai, dsb);
  • Sampaian: gantungan; sampiran;
  • Pondik: sombong;
  • Tingkar: me.ning.kar v mengepung (musuh, penjahat, dsb); mengelilingi;
  • Modular: bersifat standar;
  • Cengkiak: semut yang besar dan hitam warnanya;
Posting di multiply ekohm dan apresiasi puisi.
Selengkapnya: (Arisan Kata 17) Merapu Sunyi

Taman Telah Sunyi (SOLOPOS, 15 Mei 201)

Wednesday, 18 May 2011

menghitung deru napasmu
berhamburan setiupsetiup seperti semerbak bunga taman
beterbangan diudara
penuh seluruh memandang

tak ada lagi ceritacerita tentangmu
yang seperti drama sinetron, katamu

kutunggu deru jejak di jalan itu
yang sering kita lewati bersama ketika senja menghangat

detikdetik habis pula kisah
taman telah sunyi
tiada lagi kudengar napasmu menggelora ditelingaku
senja telah menggigil
pada ruh yang terpanggil
tak ada perkabungan
tak ada bunga kamboja sebagai pemisah jarak antara aku dan hasratmu

Karanganyar, 30 Oktober 2010


*) Ekohm Abiyasa

** Dimuat SOLOPOS
Edisi : Minggu, 15 Mei 2011 , Hal.IV
Selengkapnya: Taman Telah Sunyi (SOLOPOS, 15 Mei 201)

Prasasti Abjad (SOLOPOS, 15 Mei 2011)

meredup cahaya senja
lampulampu menyala
waktu makan malam telah tiba
tersaji diatas meja

sendok berubah pena
piring menjadi kertas yang siap menampung katakata

temaram cahaya
hurufhuruf beterbangan diatas kepala
berjejal mengantri begitu lama
memahatkan diri pada rindu menjadi prasastiprasasti abjad

habis sisa perjamuan
hurufhuruf hilang musnah kemana entah
berderetderet kata dan kalimat memenuhi ruang
mencatatkan diri pada sejarah

sendok masih menjadi pena
dan piring telah membatu menjadi prasastiprasasti indah

Karanganyar, 5 April 2011

*) Ekohm Abiyasa

** Dimuat SOLOPOS
Edisi : Minggu, 15 Mei 2011 , Hal.IV
Selengkapnya: Prasasti Abjad (SOLOPOS, 15 Mei 2011)

Filsafat Kopi dan Jingga Senja (Solopos, 14 Nopember 2010)

Tuesday, 26 October 2010

Filsafat Kopi dan Jingga Senja

aku berdiri diantara jingga yang hampir redup
lalu aku jumpai gelap yang mencekam
erat sekali kau menarikku masuk ke pusaran itu
sepanjang perjalanan aku berhasil mengarsirnya
antara garisgaris hidup yang tertanam dikakiku
filsafat kopi memberi warna hitam
:tapi aku menyukai jingga senja


Dimanapun Jingga Berada

di mana pun jingga berada
dia tetap merasuki mataku
coba engkau dengar desau angin
coba engkau nikmati warnanya
resapilah!

dimanapun engkau melangkahkan kaki
karena dia telah menjadi bagianbagian yang hilang
karena dia telah menyatu jua dalam jejakjejak panjang
karena dia takkan lelah menjadi mimpi
karena dia takkan pernah mengkhianati seperti halnya merpati

dimanapun jingga telah berpijak
aku berlari meraihnya
menyandingkan mata dan pena

Karanganyar, 20 Oktober 2010


Aku Rindu Jingga Senja dan Rintik-rintik Hujan Senja
mendung telah terjaga
melelehkan hari yang kian lelah oleh pusaranpusaran waktu
aku berhenti memandanginya
senjaku hilang!

tiada cahya yang melingkari bayangbayang
gelap mendung telah berhasil mengikatnya
ah senjaku tiada nampak nanti
gelap yang semakin menjadi
yang sebentar lagi berubah menjadi titiktitik rahmat

mendung telah membelenggu jingga dan senjaku
aku rindu jingga dan senjaku
tapi aku juga rindu rintikrintik kala senja

Karanganyar, 21 Oktober 2010

#Dimuat Solopos edisi Minggu Legi, 14 Nopember 2010
Selengkapnya: Filsafat Kopi dan Jingga Senja (Solopos, 14 Nopember 2010)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas