Showing posts with label publikasi. Show all posts
Showing posts with label publikasi. Show all posts

Dua Puisi Ekohm Abiyasa di Buletin JEJAK edisi 49 Khusus Puisi

Tuesday, 28 April 2015

Edisi khusus puisi dalam rangka ulang tahun ke-4 FSB (Forum Sastra Bekasi)

Capung

I
aku sudah muak menerima
kekalahan. debu menumpuk di mata
enyahlah kebohongan ini. enyahlah!

aku bersembunyi
di antara gelap malam: cahaya redup dan hingar matamu.
akulah, mata mata gelap tanpa kau ketahui
tanpa perlu tahu.

II
menyembunyikan rahasia rahasia
sudah bukan waktu
hidup ngembara
terbanglah bersama liuk hujan sendu yang sekarat!

Surakarta, 2014


Uban

seperti mata kaca
membelah ragu ketika hujan
meniris air mata tuhan

di dasar laut sembunyi akar akar pilu
di atas langit doa sepucat kapas

seperti keping puzzle melubang teka teki
merunut garis waktu
sepanjang sungai bengawan solo

di dasar hati bermukim sajadah puisi
di atas kepala lingkaran sunyi denyut mengibas
: terlepas

Surakarta, 2014

Download pdf-nya di sini.
Selengkapnya: Dua Puisi Ekohm Abiyasa di Buletin JEJAK edisi 49 Khusus Puisi

Tujuh Puisi Ekohm Abiyasa di Antologi Puisi "Jendela dari Koloni"

Saturday, 25 April 2015


Aku adalah Kamu

aku adalah sepi yang disayat maut cinta
biarkan aku, menerkam tubuh malam

aku adalah ranting yang rapuh terjatuh
biarkan aku, melumat diri menjadi tanah meriuh

aku adalah buih di luap laut
biarkan aku, terombang ambing dalam bisu

aku adalah kapas yang terbang bebas
biarkan aku, mengurai bersama sengal napas

aku adalah kamu,
puisi!

Karanganyar, 2014


Stargaze

I
pada pukul sebelas malam
jarum jam memberat di mata
dunia segera beranjak
ke lipatan lipatan mimpi yang tertunda

melengkapi beberapa potongan, kaca kaca rabun
usia yang embun
aku terpaku, membujur bisu
di ranjang kematianlah segala lalu

II
keclap tiga bintang turun ke bumi
menggeser jemari mengaitkan
dengan sebatang kematian

gemuruh tubuh meriap
dentam jam terasa berat

dua pasang senyum
menutup gelap
tempat aku dulu berbagi bunga
di rumah-Mu aku singgah

Karanganyar, 2014


Catatan Akhir Tahun

apa yang kautahu dari harapan yang kaucatat di buku harian?
segala mimpi dan angan itu, menguap diterpa angin masa lalu

apa yang kaupedulikan
di tahun tahun murung yang kaupesan
dari doa dan air mata?
tahun tahun berlari dari langkah kakimu
lebih cepat dan gesit menggigit sepi
di pundakmu

impian apa yang kaubangun?
dari kamar kosong, dari retakan masa lalu
yang lesap meninggalkan bayanganmu di depan cermin
waktu tak pernah berkompromi
dengan apa aku
dengan siapa aku
Kau?!

Surakarta, 2015


Segelas Kopi Malam Ini

masih tentang
seikat sepi yang panjang

di atas dipan
kekosongan merebah
—derai tawa
para kurcaci
mengalirkan dongeng dan legenda
di sepanjang malam
di sepanjang sepi

para kurcaci itu,
berlarian pada angin
membujuk sepiku

dan masih tentang
segelas kopi yang remang ditancapkan
di jantung perjalanan
di atas kengerian akhir cerita
—jurang kemalangan
hitamku merekah!

Surakarta, 2014


Teka-teki Silang, 2

Ombak laut menurunkan kenangan asin
angin merentangkan sayapnya
ke ujung terjauh masa depan
—silau diri

Diaspora rindu rindu kita yang rumit
tak mampu terlayarkan,
kata kata habis dan tenggelam
—terbuang

Elang terbang datar, menukik
kemudian mencabik
—sisa sisa perjalanan prematur

Nyalakanlah sumbu sumbu ini
mari berpesta api
—biar saja layar terkatung

Nyalakanlah dunia yang menyalak nyalak
mengisi kekosongan hati kita yang berlubang
—yang gagal menemu jawaban

Surakarta, 2015


Kamar 272 dan 275
: di hotel Alexander

I
di sana ada berpasang binar bola mata setelah makan malam
kami bertemu di lobi, tentu saja puisi ini makin subur
di persemaian dua ladang

II
lalu di kamar lantai dua, kami bertiga menghabiskan waktu
mengumbar kekonyolan dan memencet tombol remote televisi
kami sedikit kesal, gambarnya kepyur seperti mata kaca dihujani abu gunung

apakah pertemuan ini begitu takdir?

III
kami segera beranjak memulai perjalanan yang lain
dengan bibit puisi di kantong baju dan celana

Tegal, 2014



Labirin yang Tertinggal

biarkan saya mengetuk pintu
lebih keras dan lama
sudah beberapa lama
saya tidak mendengkur di labirin waktu
yang dahulu menemani dengkuran manja

biarkan saya menarik selimut lebih erat dan tahan
seberapa jauh memimpikan rasa hangat dari baju malam
biarkan saya tertidur lebih dalam

Surakarta, 2014



Seri dokumentasi sastra antologi puisi Pendhapa 17
Diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah (April, 2015)

Bersama 10 penyair muda Soloraya lainnya.
Selengkapnya: Tujuh Puisi Ekohm Abiyasa di Antologi Puisi "Jendela dari Koloni"

Jadwal "Bincang Sastra" bulan Mei 2015 di Radio Solopos FM

Tuesday, 21 April 2015

Sumber
Simak "Penyair Muda Solo Bicara Puisi" dalam Bincang Sastra di Solopos FM
Minggu, 26 April 2015 Pkl. 16.00 WIB

Streaming: http://www.soloposfm.com atau http://www.jogjastreamers.com
Selengkapnya: Jadwal "Bincang Sastra" bulan Mei 2015 di Radio Solopos FM

Tiga Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 21/02/15)

Saturday, 21 February 2015

Musim Giling Tebu

pukul sepuluh malam
telinga kecil merekam
bunyi mesin sebuah pabrik tebu
berjarak lapisan kenangan

musim penggilingan tebu
malam-malam itu

pukul sepuluh malam
nasib menyeru kami para pekerja
lembur mengguyur dapur kristal-kristal keringat

suara itu mendentam telinga
sampai usia kelewat amis
raga-raga pucat
meniup asap-asap hitam dalam lubang
corong penebar bau tak sedap

hidup bertanjak dingin
demi hari esok

musim penggilingan tebu
malam-malam itu

Surakarta, 2014


Dadu

kedua kakiku membeku
dikepung dingin

sebeku inikah hatimu?

aku tak pandai merayu
memilikimu seperti melempar sebuah dadu
angka-angka mujur sulit dipilih
angka-angka memilih tanpa tebang pilih

langkah-langkah tersesat!

Surakarta, 2014


Derita Tiada Habis

1
sepasang kaki mengitari halaman basah di musim meranggas
sepasang mata meliuk angkuh pada pukul sepuluh malam

2
kaki sudah tak tahan lagi pada panas pasir
lagu-lagu hanya sesaat mengayun pelan
di telinga tanpa masuk lebih dalam dan singgah lebih lama di jiwa
bukan,
semisal musim kering telah tuntas namun masih saja
terasa sama musim-musim berikutnya

Surakarta, 2014

Sumber: Facebook Zaeni Boli.
Selengkapnya: Tiga Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 21/02/15)

Puisi dan Pantun buat PAWON Sastra Solo: Sewindu Perjalanan

Friday, 20 February 2015

Sewindu sudah perjalanan Pawon Sastra Solo. Seperti filosofi angka '8' yang tak putus-putus garisnya, tak putus-putus energi semangat beraksara. Semoga ini menjadi awal langkah yang lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Biji Bertunas Tak Habis-habis

1)
turunlah kau, hujan yang angkuh
tenggelamkan manusia manusia congkak
saat ini tak lebih dari ujian perjalanan
yang sarat kerikil dan bebatu gunung
yang menggelinding menancap di punggung punggung

nyanyilah kau, kecoa kecoa kesepian
bareng bau tak sedap di sekelilingmu
tetaplah melenggang di lorong lorong sengang kota
jejak jejak miskin rasa bagi orang orang yang tak mengerti
sesungguhnya engkau ada di antara ketiadaan

2)
burung burung arungi waktu
sayap sayap yang tak letih mengepak
kenangan dan aksara tetap abadi
mengudara di angkasa labirin

kaki kaki kami melangkah lebih pelan dari sayap sayapnya
tangan tangan kami tak lebih cekatan dari patukan patukannya
namun, biarlah pergulatan ini menjadi penanda nanti bahwa
kami ada untuk dikenang
kami ada untuk dipertimbangkan!


Sewindu Perjalanan

perjalanan tak akan berhenti di sini
selayaknya biji biji yang terus bertunas di kebun teh atau kopi
dipetik orang orang yang merasa kesepian
dipetik anak cucu yang hampir kehilangan arah tujuan

pergulatan tak akan berakhir di sini
selayaknya hujan yang tak sudah sudah basahi kenangan
didekap keriangan aksara
digegap sewindu: tahun tahun suka duka!


Delapan Pantun Buat Pawon

1)
ada alun alun
di depan keraton
selamat ulang tahun
sastra pawon

2)
makan tomat di angkringan
minumnya teh botol sosro
sugeng milad ke delapan
pawon sastra solo

3)
mendung mendung enaknya ngopi
di angkringan kota solo
habis mandi dandan rapi
ada tumpengan di balai soedjatmoko

4)
pak rebo tetangganya pak kliwon
kuda lumping goyang goyang
sugeng ambal warso sastra pawon
maju terus dan berumur panjang

5)
sore sore dengar lagunya katy perry
habis itu walang kekek-nya waldjinah
pawon sastra semangat memberi
semoga berkah semoga berkah

6)
jalan jalan ke grojogan sewu
mampir beli apel di pasar tawangmangu
selamat menapak usia sewindu
sukses dan berjaya untukmu

7)
ingat ingat nasihat simbah
jangan tidur sore sore
ingat ingat hari ini pawon sastra ultah
makin dewasa dan makin kece

8)
awan hitam awan mendung
sebuah payung siap sedia
bila adik duduk termenung
tulis tulislah sesuatu buat buletin pawon sastra

Surakarta, 18 Februari 2015

Link: Facebook Ekohm Abiyasa
 
Foto: Yudhi Herwibowo
Link: http://pawonsastra.blogspot.com/2015/02/puisi-buat-pawon-sewindu-perjalanan.html
Selengkapnya: Puisi dan Pantun buat PAWON Sastra Solo: Sewindu Perjalanan

Dua Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 17/01/15)

Saturday, 17 January 2015

Mencuri Lupa

setiap salju yang kuranggaskan
mencukil satu persatu lubang ingatan
menguburnya ke dalam lembah gelap

salju itu mencair
sebelum jingga waktu mengupasnya
aku lebih dulu menggugurkan pelangi
yang bertengger di kepala

setiap hujan yang kutampung
menggigil subuh lebih lekas
ketimbang hangat matahari
menyeret embun-embun
aku lebih giat mencairkan kenangan
yang terbingkai celana usang

salju itu mencair
menggenangi kuburan musim
segenap warna tumpah
beberapa potong episode menjadi abu

Surakarta, 2013



Keping Waktu

pada keping waktu ke sekian
kautabur wajah bulan
hujan yang menuntun langkah kaki

pada almanak dan labirin kenakalan
kau berjalan; pada arah yang kita hafal
jalan sunyi menuju pulang matahari

2013

*foto capture koran oleh Aru.
Selengkapnya: Dua Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 17/01/15)

Puisi Ekohm Abiyasa di Indonesian Poetry Battle on Facebook #5

Thursday, 1 January 2015

photo courtesy of Youtube.com
Copyrights goes to Charles Bowers. Facebook Sartika Dian Nuraini.
Ajari Aku

tuhan, ajari aku
merasai sepi
menuntaskan nyeri
menenggelamkan rasa takut ini
keheningan selalu
memburu mataku!

2014

Versi bahasa Inggris
Teach Me

god, teach me
to feel empty
to resolve the pain
to submerge this fear
serene is always
chasing my eyes!

2014

Sumber: https://indonesianliterarycollective.wordpress.com/2014/12/30/indonesian-poetry-battle-on-facebook-5-winners/

Baca juga, https://indonesianliterarycollective.wordpress.com/2014/12/30/penulis-dan-karya-indonesian-poetry-battle-on-facebook-5/
Selengkapnya: Puisi Ekohm Abiyasa di Indonesian Poetry Battle on Facebook #5

Puisi Ekohm Abiyasa di Indonesian Poetry Battle on Facebook #3

Thursday, 18 December 2014

Sumber gambar: Facebook Sartika Dian Nuraini.
tubuhku terbungkus rindu asing
pada senyap mata kaca terkeping
jiwaku terbalut kalut
pada sepi yang paling
pyar!

2014

Versi bahasa Inggris
my body wrapped by a foreign longing
glass eye of silent
here is my chaotic soul
the most deserted
crack!

2014

Sumber: https://indonesianliterarycollective.wordpress.com/2014/12/17/indonesian-poetry-battle-on-facebook-3-winners/
Selengkapnya: Puisi Ekohm Abiyasa di Indonesian Poetry Battle on Facebook #3

Puisi "Jalak Lawu" di Media Indonesia (07/09/14)

Friday, 10 October 2014

Jalak Lawu

mereka para penutur kesunyian yang baik dan bijak
ketika matahari usai membakar bumi
seperti lanskap raksasa

biarkan kami terbang bebas
biarkan kami hinggap di ranting-ranting meranggas

berita cuaca adalah usia seratus tahun kesendirian
di lembah-lembah dan jurang kepunahan
ribuan kepak sayap dan sarang-sarang

keramaian adalah penjara bagi nasib

Surakarta, April 2014

Posting serupa di Facebook grup sastra minggu.
Bercerita tentang kepunahan burung Jalak yang bermukim di sekitaran gunung Lawu Karanganyar akibat perburuan liar.
Selengkapnya: Puisi "Jalak Lawu" di Media Indonesia (07/09/14)

Puisi "Lone Ranger" di Sastra Mata Banua (06/09/14)

Thursday, 9 October 2014

Lone Ranger

para penjahat itu memotong jantung dan memakannya
mentah-mentah!

roh jahat terlahir di padang pasir
tawar menawar yang keras dengan kematian
tarian para pendosa
di rumah bordil yang menyala
seperti kandang ternak penuh lelaki
bertampang menyeramkan
memanggul senjata

kau lihat
di batu terkutuk itu
kuda-kuda berlarian
para pendosa itu tertawa
menertawai kebodohan kita!

perang tak akan memihak sesiapa
seperti sangkar tanpa burung tanpa kicau
ia telah bersembunyi dengan kematian!

buatlah orang-orang brengsek itu bertekuk lutut!
mereka harus membayar semuanya

burung gagak telah mati
sungai berwarna merah
rumah-rumah dibakar
namun pahlawan tak bisa mati
untuk kedua kali!

kuda hitam kuda putih
membawa mata angin di kakinya
menemu nasib di antara pasir-pasir
di lembah airmata

keadilan adalah lelaki
yang bisa menjaga dirinya sendiri

kesedihan berulang; sekali lagi!
penyesalan seperti laku bisu
menerka gerak kuda-kuda

para penjahat itu merenggutnya kembali!

Surakarta, Mei 2014
Menyimak puisi berjudul 'Lone Ranger' yang dikirimkan oleh Ekohm Abiyasa ke Sastra Mata Banua, seperti:
/roh jahat terlahir di padang pasir
tawar menawar yang keras dengan kematian/

/para pendosa itu tertawa
menertawai kebodohan kita!/

/buatlah orang-orang brengsek itu bertekuk lutut!
mereka harus membayar semuanya/

/sungai berwarna merah
rumah-rumah dibakar
namun pahlawan tak bisa mati
untuk kedua kali!/

/menemu nasib di antara pasir-pasir
di lembah airmata/

/kesedihan berulang; sekali lagi!/

/para penjahat itu merenggutnya kembali!
/

Dalam puisi tersebut, memang secara eksplisit tidak merujuk pada Gaza, tapi keadaan yang digambarkan Ekohm beberapa kata dalam larik puisi mengisyaratkan hal tersebut, yaitu melukiskan kekejamanzionis Israel kepada rakyat Gaza. Atau dapat pula dikaitkan dengan sepak terjang kekejaman ISIS.

Namun, memaknai dari judul puisi, maka akan merujuk dari sepak terjang AS (?) negara-negara padang pasir.(Araska Banjar)

Sumber: Facebook Sastra Mata Banua.
Selengkapnya: Puisi "Lone Ranger" di Sastra Mata Banua (06/09/14)

Bincang Kepenulisan ke-3 JPIN "Asyiknya Menulis Puisi"

Wednesday, 27 August 2014

Bincang Kepenulisan ke-3 "Asyiknya Menulis Puisi" Bersama Ekohm Abiyasa, seorang penikmat sastra terutama puisi. Puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media dan berbagai antologi.

Dapatkan pengalaman menarik, tips-tips menulis puisi, trik menembus koran, dan masih banyak lagi ilmu yang bisa kalian dapatkan melalui acara Bincang Kepenulisan Online ini. Insya Allah akan dilaksanakan pada,
Hari: Sabtu
Tanggal: 30 Agustus 2014
Jam: 20.00 WIB (bakda' Isya) s.d 22.00 WIB
Tempat: di Grup FB Jaringan Pena Ilma Nafia.

Sumber: Grup Facebook JPIN.
Selengkapnya: Bincang Kepenulisan ke-3 JPIN "Asyiknya Menulis Puisi"

Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II 2014





Sumber gambar: Facebook grup Lumbung Puisi.

Pengumuman
Dengan mengetengahkan pertimbangan -pertimbangan:
1. Batas Deadline
2. Ketentuan Lumbung Puisi
3. Lumbung Puisi bukan merupakan lomba maka:
Tambahan pengiriman puisi yang masuk sebelum batas deadline telah diseleksi kembali sehingga memperoleh keputusan akhir sebagai berikut:

Puisi masuk dalam antologi sbb:
001. Abdul Wahid (Karanganyar)
002. Ali Syamsudin Arsi (Banjarbaru)
003. Alra Ramadhan (Kulonprogo)
004. Alya Salaisha-Sinta (Cikarang Kab. Bekasi))
005. Aloeth Pathi (Pati)
006. Anita Riyani (Tanah Bumbu, Kalsel)
007. Andrian Eksa (Boyolali)
008. Anung Ageng Prihantoko (Cilacap)
009. Aulia Nur Inayah (Tegal)
010. Bambang Widiatmoko (Jakarta)
011. Badruz Zaman (Sumenep)
012. Budhi Setyawan (Bekasi)
013. Devi yulianti wafiah(Paseh)
014. Dewa Putu Sahadewa (Kupang)
015. Dhito Nur Ahmad( Makasar)
016. Dhinar Nadi Dewii (Sukoharjo)
017. Diah Natalia (Jakarta)
018. Diah Budiana (Serang)
019. Dian Rusdiana (Bekasi)
020. Dianie Apnialis M (Bandung)
021. Djemi Tomuka (Manado)
022. Devi yulianti wafiah(Paseh)
023. Dwi Rezki Hardianto Putra Rustan (Maros)
024. Elvis Regen (Palembang)
025. Ekohm Abiyasa (Karanganyar)
026. Esti Ismawati (Klaten)
027. En Kurliadi Nf (Sumenep)
028. Fatmawati Liliasari (Takalar)
029. Fasha Imani Febriyanti (Bandung)
030. Fitrah Anugerah (Bekasi)
031. Fitrah Rahim. (Maros)
032. Gampang Prawoto (Bojonegoro)
033. Ghufron Cholid (Sampang)
034. Hasan Bisri BFC (Bogor)
035. Hidayatul Hasanah (Trenggalek)
036. Imam Eka Puji Al-Ghazali (Batuputih)
037. I Putu Wahya Santosa (Bulelelng)
038. Iska Wolandari (Ogan Komering Ilir)
039. Jack Efendi (Bekasi)
040. Julia Hartini (Bandung)
041. Lucky Purwantini(Bekasi)
042. Lukni Maulana
043. M. Amin Mustika Muda (Barito Kuala,Kalsel)
044. M. Ardi Kurniawan(Jogyakarta)
045. Malisa Ladini (Semarang)
046. Ma'sum (Sumenep)
047. Muchlis darma Putra (Banyuwangi)
048. Novia Nurhayati (Bogor)
049. Nurul Hidayah (Banjarmasin)
050. Nyi Mas Rd Ade Titin Saskia Darmawan (Denpasar)
051. Niam At-Majha (Pati)
052. Novi Ageng Rizqy Amalia (Trenggalek)
053. Nur Lathifah Khoerun Nisa (Cilacap)
054. Nastain Achmad (Tuban)
055. Nila Hapsari (Bekasi)
056. Pradita nurmalia (Surakarta)
057. Roni Nugraha Syafroni (Cimahi)
058. Rachmat Juliaini (Makasar)
059. Rachmad Basuni
060. Refa Kris Dwi Samanta (Purwokerto)
061. Seruni Unie (Solo)
062. Syarif hidayatullah (Banjarmasin)
063. Sofyan RH. Zaid (Bekasi)
064. Sokanindya Pratiwi Wening (Medan)
065. Sugi Hartono (Batanghari)
066. Suyitno Ethex (Mojokerto)
067. Sindi Violinda(Medan)
068. Tuti Anggraeni (Bekasi)
069. Thomas haryanto soekiran (Purworejo)
070. Vera Mutiarasani (Karawang)
071. Wadie Maharief (Jogyakarta)
072. Wayan Jengki Sunarta
073. Wintala Achmad (Cilacap)
074. Wong agung utomo (Bekasi)
075. Wulandari ( Nawang Wulan)
076. Yusti Aprilina (Bengkulu Utara)
077. Zen AR
078. Diana Roosetindaro (Surakarta)
079. Ardi Susanti (Tulungagung)
080. Lailatul Kiptiyah
081. Munadi Oke

Indramayu, 22 Agustus 2014

20 puisi terbaik: nama - puisi.

Sumber: https://www.facebook.com/groups/rgbaguswarsono/permalink/810938482271357/

Pesan Jogja

lengang malam senin
tulang-tulang dingin
sesekali asap motor melesap
orang-orang di angkringan bertukar cakap

ini sebuah kota yang dingin
jejak-jejak dan memori selalu mengerling

singgahlah ke gubug lama
tempat di mana kata-kata lahir
tempat di mana rindu-rindu mengalir

Jogja selalu berwarna
sudut-sudut kota
matahari pembatas
halaman yang terlepas

Jogja selalu setia
menanam damai
pada pengembaraan yang kian trengginas

Surakarta, Mei 2014 
Selengkapnya: Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid II 2014

Delapan Puisi Ekohm Abiyasa di Radar Surabaya (Minggu, 27/07/2014)

Sunday, 27 July 2014

Laela

kau tahu, La
manakala air mengalir dari dadamu
yang jatuh pecah
di situ aku menyumpatnya dengan puisi

kau tahu, La
manakala hujan jatuh tak kendali
di situlah aku mengubur kenangan muram
mengalirkannya bersama anak puisi
dari air matamu

Surakarta, April 2014


Jam

malam pecah
pada sebuah kelahiran waktu
sudah menjadi ritus

kepala berputar detak
nyanyi orkestra sepi
dalam pigura pertempuran

jam menanam kosong di bahuku
mata merebus mimpi berkali-kali
tubuh membentur sepi
amboi..

Surakarta, April 2014


Ekor Cicak

angin berdesir mempermainkan daun-daun
jatuh kemalangan
detak jam malam-malam

lelaki berkawan sunyi
begini jadi

cicak mangsa kucing
nyanyi tinggal ekor dicengkeram
begini jadi lelaki sunyi
menggelepar temaram

Surakarta, April 2014



Kunang-kunang Ibu

do'a-do'a kususun
tetes-tetes air mata ibu
mengamini langkah waktu

tamparan
dari serapah-serapah
yang terlontarkan

kemurahan Tuhan
menyalakan kunang-kunang ibu
ke dalam dada

pesan-pesan berbalas
kemuraman jalan petang
atau keberkahan Tuhan
menyalakan lampu-lampu kecil
dalam lelap
; mata-mata

Suarakarta, November 2013


Rindu Ini

segala kenangan
datang bertandang
di hati yang rumpang
bersama derai hujan

semakin lekat
gurauan-gurauan ini
bisikan-bisikan hangat
di telinga
nama-nama musim
terlewati

rindumu,
ya rindumu

sementara hujan
membikin gigil menjadi-jadi
ketakutan di luar perkiraan
rindu yang tersesat itu
terdampar

rindu ini
seperti geladak
menyalakkan hujan

Surakarta, November 2013


Nona Sunyi

Tuan Sajak mengajariku cara bercocok tanam
pada ladangmu yang berhimpun dingin bermalam-malam
pada ruang hatimu, Nona Sunyi

Tuan Sajak memberiku benih-benih huruf
ditaburnya pada rahim-rahim purbamu, Nona Sunyi
kuat dan tangguh-tangguhlah

Kini engkau berpaling kemana, Nona Sunyi
tiada kau gemburkan tunas-tunas rindu yang kutanam
sementara musim-musim berlayapan; berpayar-payar
meninggalkan penantian
meranggaskan rindu-rindu belia

Surakarta, November 2013


Sepanjang Rel Kereta

cinta bersembunyi dari pemburu
pada setiap stasiun
peron-peron menampung hujan

mereka sekedar menumpang
menitipkan bahu dan asap
yang berakar ingatan

perjalanan panjang
menyalin gerimis
; air mata yang manis

Surakarta, Oktober 2013


Prameks Yogya-Solo

1)
alismu seperti hujan hari kamis
rindu-rindu basah
tunas mulutmu yang klimis
senyuman manis

2)
sawah-sawah mengalah
pada parau kemarau
cumbu-cumbu hujan
sore ini tiada

hanya rerintik
menggugurkan daun-daun rindu
sungguh romantik

3)
roda-roda besi
berputar-putar
menyayat puisi-puisi
rindu yang melingkar

4)
dua perempuan itu
mengumbar percakapan
tentang cinta dan tawa
telingaku memuntahkannya

dua perempuan itu
anggun dan cekatan
merangkai cerita
sementara gerimis di luar jendela berhamburan
dan kereta pergi-datang; berlawanan

Yogya-Solo, Oktober 2013

Link http://www.radarsby.com/radarsurabaya%20pdf/6.pdf
Selengkapnya: Delapan Puisi Ekohm Abiyasa di Radar Surabaya (Minggu, 27/07/2014)

Antologi Puisi, HariPuisi Indopos "Bersepeda ke Bulan" (2013)

Tuesday, 22 July 2014

Sumber gambar

Sumber gambar.
Buku antologi puisi "Bersepeda ke Bulan" merupakan himpunan puisi karya penyair-penyair yang dimuat koran Indopos selama rentang satu tahun, 2013.
DAFTAR ISI

M. Subarkah 1
Hasan Aspahani 3
Isbedy Stiawan 5
Abdul Wachid B.S 7
Ni Made Purnamasari 10
Fajri Andika 12
Soni Farid Maulana 13
Liswan Payub 14
Muhammad Ali Fakih 16
Nanang Suryadi 18
Dadang Ari Murtono 20
Alya Slaisha-Sinta 22
Dimas Ari K. Mihardja 24
Budi Hatees 26
Irfan M. Nugroho 27
Budi Saputra 29
Remmy Novaris DM 31
Eddy Pranata PNP 32
Wayan Jengki Sunarta 34
Yanwi Mudrikah 36
F. Pratama 37
Nunung Noor El Niel 38
Ahmad Kekal Hamdani 40
Jufri Zaituna 42
Abdillah Mubarak Nurin 44
Kiki Sulistro 45
Sri Sudarianti 47
Jumardi Putra 48
Esha Tegar Putra 49
May Moon Nasution 50
Kurnia Hidayati 51
Mira MM Astra 53
Iverdixon Tinungki 55
Eko Kun Kajari 57
Assyafa Jelita 58
Irma Agriyanti 59
Siti SIamah 60
Ganjar Sudibyo 62
Nana Riskhi Susanti 63
Maria M. Magdalena 65
Subaidi Pratama 66
Ang Jasman 68
Zulklifi Songyanan 70
Saifa Abidillah 71
Husen Arifin 72
Imam Safwan 75
Junaidi Abdul Munif 77
Viddy AD Daery 79
Rudi Irawan Syafrullah 81
Mohammad Chandra Irfan 84
Pranita Dewi 86
M. Irfan Kurniawan 90
Ekohm Abiyasa 91
Lasinta Ari Nendra Wibawa 93
Asrina Novianti 95
Setiyo Bardono 96
Abdullah Mubaqi 98
Alizar Tanjung 100
Edwar Maulana 102
Budhi Wiryawan 103
Marsten L. Tarigan 105
Nermi Arya 107
Toto ST Radik 110
Selendang Sulaiman 112
Dedet Setiadi 114
Ahmadun Yosi Herfanda 115
Wishu Muhamad 117
Mugya Syahreza Santosa 118
A. Warits Rovi 120
Fatih Kudus Jaelani 122
Eko Roesbiantoro 123
Willy E. Cahyadi 125
Li Sansan Lukiana 127
Fajar M. Fitrah 129
Kamil Dayasawa 130
Isbedy Stiawan Zs 132
Anna Lestari 134
Ulfatin CH 136
Hamzah Muhammad 138
Budhi Setyawan 139
Fakhrunas MA Jabbar 141
DP Anggi 143
Ahmad Wayang 144
Anam Khoirul Anam 146
Sofyan RH Zaid 147
Ardian Je 149
Winarni Dwi Lestari 151
Cikie Wahab 153
Chavcay Syaifullah 155
Intan Pertiwi 157
Yati Mulyati 159
R. Abdul Azis 161
Athiya R. Izzati 162
Putu Gede Pradipta 164
Anisa Isti Yuslimah 166
Gunawan Atmodjo 168
Selengkapnya: Antologi Puisi, HariPuisi Indopos "Bersepeda ke Bulan" (2013)

Puisi-puisi yang Dimuat Solopos dan Radar Surabaya (Minggu, 13/07/2014)

Monday, 21 July 2014

SOLOPOS (3 puisi)

Mimpi Kabur

mimpi tertinggal di kepala semalam
awan-awan menghitam
menuruni lembah-lembah
dasar jiwa

sudah tenang
kausudahi igau
mantra-mantra pelipur
lalat-lalat hitam terbang
mengintai di semak kacau

batu terjal himpit mata-mata elang
pengintai yang kabur dari perang
tempat-tempat sembunyi

Karanganyar, Juni 2014



Negeri Para Anjing

berita-berita televisi
membikin kepala meledak
antara ironi
dan muak yang memuncak

seperti di pasar
janji-janji dan citra-citra positif ditebar-tebar
diobral-obral!

seperti harga daleman yang cuma
sepuluh ribu tiga!

ini 'negeri bohong!'*
bukan lagi tong kosong
mulut-mulut pembohong
tukang-tukang bohong

omong kosong!

begitu para anjing menggonggong

Surakarta, Mei 2014

* Puisi Jumari HS (Negeri Bohong)



Semadi

kudapati bayang tubuh seseorang
di bawah bangku kosong
sebuah ruang gelap begini!

sebuah arca keras berlumur asap-asap dupa
aku mengenalnya sebagai sejarah
yang tak bergerak dari tempatnya berdiam
selalu sepi dari percakapan
ramai-ramai nyamuk berusia abad-abad
dalam abjad-abjad usia purba

diriku masuk ke dalam kamar kosong
mengenali suara-Mu dalam heningku
di mana Kau akan tempatkan ruhku selanjutnya?
apakah hari-hari selalu sesal
menyerupai baiat-baiat do'a para pendosa

kudapati tubuhku melayang
bersama asap-asap dupa
ke langit-langit

Karanganyar, Juni 2014



RADAR SURABAYA (5 puisi)
http://radarsby.com/radarsurabaya%20pdf/6.pdf


Lubang Maut

air mengembara
di segenap pori-pori
lubang-lubang menemu matahari
dicuri angka-angka

tahun-tahun terlipat
pada sungai-sungai mengalir pucat kabisat

burung hantu selalu tahu
merayakan sepi

peluh-peluh menetes pada sebuah takdir
bernama laut

kabut-kabut ganjil membawa akhir
bernama maut!

Surakarta, April 2014



Balok Kayu dan Bulan

berapa lama
kau akan berdiam di halaman
kau mengasihiku sebagai bulan
bermata kosong

o,
bulan selalu bermimpi
berdiam rumah-rumah kayu

seperti pertapaan panjang
waktu yang tepat akan datang

maukah kau membuat rumah?
ayolah, buatkan rumah
bagi mata yang bersinar ini
bulan merengek

tenanglah, bulan
kau akan dapatkan rumah yang sempurna
setelah purnama ketiga puluh

kemarilah
mengunjungi halaman ini
setelah purnama ketigapuluh!

Surakarta, April 2014



Korek Api

tubuh kami
terpenjara dalam buta mata-mata manusia
yang tidak di-manusia-kan

suara kami
adalah barisan desis derita
ujung nyala api

jiwa kami
adalah abu gerilya yang dibungkam mati
api revolusi!

Surakarta, April 2014



Daun Waktu

wajah-wajah kehilangan mimpi
kesunyian berlapis-lapis
mengikis usia terbujur menggaris

daun jati jatuh melipat terlipat
tanah dalam dekap irama rintik
lagu-lagu tak melulu romantik

merdu suara
gesekan reranting di lubang-lubang waktu
kian bisu, daun-daun kosong yang abadi

nasib terukir di dada
dengan warna yang selalu sama
tanda selalu berputar
mengarungi siklus langkah-langkah belukar

garis-garis tuhan berpencar
di telapak tangan
sebagai muram silsilah batang
dan akar-akar

daun-daun selalu jatuh
di kening mimpi menghunus nafsu
serupa gugus bintang di langit hati yang tandus

Surakarta, April 2014



Kanvas

sedianya kau akan melukis
matahari tenggelam di kepalaku

aku selembar kanvas putih yang tak lagi
cemerlang dari sebuah waktu yang hilang
retak dan terbakar

sedianya kau akan melukisnya
dengan satu warna; jingga!

Surakarta, April 2014


Posting di Facebook: https://www.facebook.com/notes/ekohm-abiyasa/puisi-puisi-yang-dimuat-solopos-dan-radar-surabaya-minggu-13072014/755111947872873
Selengkapnya: Puisi-puisi yang Dimuat Solopos dan Radar Surabaya (Minggu, 13/07/2014)

Empat Puisi di Masterpoem Indonesia

Monday, 7 July 2014

Edisi:  Ahad, 06 Juli 2014
Link: http://masterpoem-id.blogspot.com/2014/07/ahad-06-juli-2014.html

Percakapan Sunyi 1

aku sampai
pada bab yang melelahkan ini
semua seperti mimpi kosong
mimpi siang bolong
terbungkam pada sunyi
di beranda gelap sekali
kehilangan cahaya
di mana peta itu Kau simpan, Tuhan?

Desember 2012
 
Percakapan Sunyi 2

seharusnya aku
berdiri sendiri layaknya karang
ombak besar di pantai membungkam tubuh
seharusnya memang
berdiri sendiri
mendengus hujan di kamar mimpi

Jakal KM 14 Yogyakarta, September 2012

Percakapan Sunyi 3

o, mengapa Tuhan menciptakan aku di sini
mengapa tidak di surga saja
atau di mana saja selain bumi
o, mengapa hidup begini
udara mengalir menusuk
sekian sakitnya
aku mohon, jangan hidupkan aku lagi
aku lelah
berpura-pura begini

Jakal KM 14 Yogyakarta, Oktober 2012

Percakapan Sunyi 4

menyusun kata
terlalu gagap bicara
menyulam memori dan ingatan
beberapa kata saja
malam pertigaan kabut menebal
angin gontai
melambatkan harapan-harapan
kadang tenggelam
begitu saja; tanpa desis
terdiam
sedemikian rapi huruf-huruf tercetak

Karanganyar, November 2007

Ekohm Abiyasa: Lahir tahun 1987 di Karanganyar, Jawa Tengah. Penikmat sastra terutama puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di Indopos, Solopos, Joglosemar, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Merapi, Kendari Pos, Frasa, Buletin Sastra Pawon dan lain-lain.

Puisi-puisinya termaktub dalam antologi puisi bersama: Requiem Bagi Rocker (2012), Wuyung Ketundhung (2012), Satu Kata: Istimewa (2012), Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), Indonesia dalam Titik 13 (2013), Merawat Ingatan Rahim (2013), Puisi Menolak Korupsi (2013), Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel (2013), Habis Gelap Terbitlah Sajak (2013).
Selengkapnya: Empat Puisi di Masterpoem Indonesia

Tiga Puisi Ekohm Abiyasa di rumahdunia.com

Tuesday, 1 July 2014

Lahir tahun 1987 di Karanganyar, Jawa Tengah. Penikmat sastra terutama puisi. Karya-karyanya dipublikasikan di Indopos, Solopos, Joglosemar, Suara Merdeka, Suara Karya, Minggu Pagi, Koran Merapi, Kendari Pos, Frasa, Buletin Sastra Pawon dan lain-lain.

1.
Nona Sunyi

Tuan Sajak mengajariku cara bercocok tanam
pada ladangmu yang berhimpun dingin bermalam-malam
pada ruang hatimu, Nona Sunyi

Tuan Sajak memberiku benih-benih huruf
ditaburnya pada rahim-rahim purbamu, Nona Sunyi
kuat dan tangguh-tangguhlah

Kini engkau berpaling kemana, Nona Sunyi
tiada kau gemburkan tunas-tunas rindu yang kutanam
sementara musim-musim berlayapan; berpayar-payar
meninggalkan penantian
meranggaskan rindu-rindu belia

Surakarta, November 2013

***

2.
Gadis Bulan Juni

bulan juni menggenang kenangan
kabur dari sarang-sarang ingatan

aku seperti pelari yang kalah start
kalah cepat

untuk gadis bulan juni
hanya puisi di kantong baju
tiada lain

kita pernah bersama
mengawini sepi

Surakarta, Mei 2014

***

3.
Menjaga Ingatan

saat malam-malam bertamu
aku menjelma burung-burung hantu
menjaga mimpi-mimpimu
dari tangan-tangan
para pencuri ingatan

saat pagi menjelang
aku menjelma cahaya-cahaya rindu
menjaga butir-butir ingatan
dari mata-mata
cahaya matahari

Surakarta, Oktober 2013

***
Gambar: Robinwood karya Edi Bonetsky

Sumber: http://rumahdunia.com/isi/3-puisi-ekohm-abiyasa/
Selengkapnya: Tiga Puisi Ekohm Abiyasa di rumahdunia.com

Empat Puisiku di Antologi Puisi "Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit"

Friday, 27 June 2014

Sumber gambar.

Sumber gambar.
Tegal, Sepoci Sunyi #1

bahari
mengombak waktu
pada senja hati
meriap ketir rindu
sepadan pada
genangan rindu
para kekasih
teh poci mengentalkan kalimat-kalimat
amin pada keindahan
rupa sunyi
di gigir bunyi

secangkir poci
mengeraskan mata
takjub pada karunia
melaut pelangi
di secangkirnya
mengurai detak para pelaut sunyi

rindu ini
tak'kan habis kusesap semalam
hadiah petualang
dari hujan
menumbuk waktu
setia pada kenangan
di ombak
puisi

2013-2014

 

Tegal, Sepoci Sunyi #2

rinduku berlayar
merunut riak bibir
; pantaimu

rindu-rindu
yang mengalir
mengekalkan ketir
; sunyi

rinduku geletar
sisa-sisa waktu meramu lampu
mengarsipkan hening terukir
; debur sunyi

2013-2014

 

Hutan Imajinasi

pohon-pohon hitam
di hutan belukar
kematian burung-burung hantu
menjadi rahim
paling sunyi

seorang pejalan melangkah getir
reranting di kaki
suara desis dari bulan yang jatuh
dari hujan
yang kelewat anyir
berpayung puisi
secarik kenangan
di dahi
yang mulai rapuh

daun-daun menjelma
huruf-huruf
pejalan itu memanggulnya berkarung-karung
sebagai teman dan kekasih hidup
melekatkan
segala murung

Surakarta, 2013

 

Almanak Hujan

hujan dan waktu tersedu
berkeliaran mengunduh rindu
di setiap keping sunyi
yang merambati tubuh

sekiranya waktu bisa digenggam
menyeduh teh panas atau kopi hitam
atas pahit dahaga malam

seorang anak pengembara mengusap wajah
dengan secawan do'a-do'a purba
dari mulut ibunya yang ia ikatkan
pada pinggangnya

Surakarta, 2013

*Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit, Tegal 20-22 Juni 2014

https://www.facebook.com/notes/kosakatakita/ekohm-abiyasa-tegal-sepoci-sunyi-1/824319574259043

------------------------
http://serampaikata.blogspot.com/2014/05/153-nama-penyair-yang-karyanya-akan.html
http://serampaikata.blogspot.com/2014/06/foto-foto-pertemuan-penyair-dari-negeri.html
Selengkapnya: Empat Puisiku di Antologi Puisi "Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit"

153 Nama Penyair yang Karyanya Akan Dimuat dalam Buku DARI NEGERI POCI 5

Tuesday, 13 May 2014

Penyeleksian tahap awal (27/03/14), menyaring puisi 228 penyair dari 400-an penyair seluruh Indonesia yang mengirim karya. Kemudian tahap selanjutnya/final (13/05/14) tersaring 153 nama penyair saja. Dan, alhamdulillah puisiku lolos. Ini pertama kalinya ikut antologi Dari Negeri Poci. Puisi kawan satu kota juga masuk, Pradita Nurmalia. Selamat!

Tim Kurator: Adri Darmadji Woko, dkk.

Direncanakan, acara peluncuran "NEGERI LANGIT, 153 Penyair dari Negeri Poci 5" berlangsung di Tegal, Jawa Tengah, 20 - 22 Juni 2014.
 DNP 1-3
DNP 4
Kover DNP 5: Negeri Langit. Sumber.

Berikut nama 153 penyair yang lolos final:
1.    A‘YAT KHALILI
2.    ABAH YOYOK
3.    ABDUL  SALAM H.S.
4.    ADRI DARMADJI WOKO
5.    AHITA TEGUH SUSILO
6.    AHMAD MUSABBIH
7.    AHMAD WAYANG
8.    ALDY  ISTANZIA  WIGUNA
9.    ALEX  R. NAINGGOLAN
10.  ANTON SULISTYO
11.  ARIEF HIDAYAT
12.  ARIEF SETIAWAN TEGA
13.  ARINDA RISA KAMAL
14.  ARIEYOKO
15.  ARTHER PANTHER OLII
16.  ASPAR  PATURUSI
17.  ASEP SAIFUL ANWAR
18.  AYID  SUYITNO PS
19.  BADRUDDIN SA.
20.  BAGUS BURHAM
21.  BAMBANG WIDIATMOKO
22.  BENI SETIA
23.  BETTA  A. SETIANI
24.  BOY REZA UTAMA
25.  BUDHI SETYAWAN
26.  CUNONG NUNUK SURAJA
27.  DALASARI PERA
28.  DARU MAHELDASWARA
29.  DEDET SETIADI
30.  DG KUMARSANA
31.  DHARMADI
32.  DIAN RUSDIANA
33.  DIMAS ARIKA MIHARDJA
34.  DIMAS INDIANA SENJA
35.  DWI RAHARIYOSO
36.  EDDY PRANATA PNP
37.  EKA BUDIANTA
38.  EKOHM ABIYASA
39.  ELIS TATING BARDIAH
40.  ELLY ANDROMEDA
41.  ENDANG SUPRIYADI
42.  ENDANG WERDININGSIH
43.  ERNI ALADJAI
44.  ERSA SASMITA
45.  ESTI  ISMAWATI
46.  EWITH BAHAR
47.  FAKHRUNNAS MA  JABBAR
48.  FARRA YANUAR
49.  FIRDA RASTRA
50.  FITRAH  ANUGERAH
51.  FRIEDA AMRAN
52.  GALEH PRAMUDIANTO
53.  GUNOTO SAPARIE
54.  GUS NOY
55.  HAMZAH   MUHAMMAD
56.  HANDRAWAN NADESUL
57.  HANDRY TM
58.  HANNA YOHANA
59.  HARDHO SAYOKO SPB
60.  HASAN BISRI  BFC
61.  HENDRA SAPUTRA
62.  HENDRO SISWANGGONO
63.  HENI HENDRAYANI
64.  HERMAN SYAHARA
65.  HIDAYAT RAHARJA
66.  HILMAN SUTEDJA
67.  HUSNUL KHULUQI
68.  IBE  S.  PALOGAI
69.  IMAM SAFWAN
70.  INTAN PERTIWI
71.  IRAWAN MASSIE
72.  ISBEDY STIAWAN  ZS
73.  JANE ARDANESHWARI
74.  JOSHUA IGHO
75.  JULIA  F. GERHANI
76.  KHOER  JURZANI
77.  KIKI SULISTYO
78.  KINANTHI  ANGGRAENI
79.  KURNIA EFFENDI
80.  KURNIAWAN JUNAEDHIE
81.  LAILATUL KIPTIYAH
82.  LASINTA ARI NENDRA
83.  LATIEF S. NUGRAHA
84.  LINA KELANA
85.  LINTANG ISMAYA
86.  LY. JAMILAH
87.  M. ENTHIEH MUDAKIR
88.  M. RIAN AF
89.  MAHBUB JUNAEDI
90.  MARIATI ATKAH
91.  MARINA NOVIANTI
92.  MATRONI MUSERANG
93.  MOH. MIR’OJ  ADHIKA RS
94.  MOHAMAD CHANDRA IRFAN
95.  MUCHLIS DARMA PUTRA
96.  MUH. ALI SARBINI
97.  MUHAMAD BAIHAQI
98.  MUHAMMAD ASQALANI ENESTE
99.  MUHAMMAD TAUFAN
100. NERO TAOPIK ABDILLAH
101. NI  MADEPURNAMASARI
102. NIA SAMSIHONO
103. NONA G. MUCHTAR
104. NOVY  NOORHAYATI
105. NYOMAN  SUKAYASUKAWATI
106. OEKUSI ARIFINSISWANTO
107. ONS UNTORO
108. POETRY ANN
109. PRADITA NURMALIA
110. PRIJONO TJIPTOHERIJANTO
111. PRINGADI ADI SURYA
112. R. YULIA
113. RAHADI ZAKARIA
114. RAHMAT ALI
115. RAMA FIRDAUS
116. RAMA PRABU
117. RATNA AYU BUDHIARTI
118. REDDY SUZAYZT
119. RIAN IBAYANA
120. RIEKA ISTIANINGRUM
121. RIKI UTOMI
122. RINI FEBRIANI
123. RISMUDJI RAHARDJO
124. RITA OETORO
125. ROMLI BURHANI
126. SELENDANG MAYANG
127. SERUNI TRI PADMINI
128. SETIYO BARDONO
129. SHINTA MIRANDA
130. SLAMET RIYADI SABRAWI
131. SOFYAN RH ZAID
132. SONI FARID MAULANA
133. SONNY  H. SAYANGBATI
134. SRI WINTALA ACHMAD
135. STEBBY JULIONATAN
136. SUSY ANING SETYAWATI(SUS S. HARDJONO)
137. SUTIRMAN EKA ARDHANA
138. SYARIFUDDIN ARIFIN
139. SYIHABUL  FURQON
140. TAWAKAL  M.IQBAL
141. THOMAS HARYANTOSOEKIRAN
142. TJAK  S.  PARLAN
143. UDIN  SAPE BIMA
144. UJIANTO SADEWA
145. UKI BAYU SEDJATI
146. VANERA  EL ARJ
147. WAWAN KURNIAWAN
148. WILLY FAHMI AGISKA
149. WINDU MANDELA
150. YADI RIYADI
151. YANIE WURYANDARI
152. YOGIRA YOGASWARA
153. YVONNE  DE FRETES

Sumber/referensi:
Facebook Penerbit Kosakatakita tahap awal
Facebook Penerbit Kosakatakita tahap final 
http://darinegeripoci.wordpress.com/para-penyair 

Acara launching:

ACARA TEMU PENYAIR DARI NEGERI POCI 5 SE INDONESIA 20-22 JUNI 2014

Diumumkan kepada teman2 penyair antologi NEGERI LANGIT: DARI NEGERI POCI 5, bahwa acara peluncuran buku akan diadakan pada:

Hari/ Tanggal   : Jumat tanggal: 20 Juni sd. Minggu  22 Juni 2014.
Acara              : Temu penyair para penyair DARI NEGERI POCI
Tempat           : Gedung Wanita, Dewan Kesenian Tegal, Jl. Setiabudi, Tegal.
Penyelenggara : Dewan Kesenian Tegal, Rumah Sastra Tegal dan Komunitas Radja Ketjil Jakarta


Sehubungan dengan itu, disampaikan beberapa hal penting berikut:

1. Para penyair dari luar kota/ luar pulau yang ingin hadir dalam acara ini, mhn dgn hormat agar menghubungi melalui SMS: Sdr. Adri Darmadji Woko (Jakarta) dengan nmr HP: 0856-177-6210 dan/ atau  Sdr. Joshua Igho (Tegal) dengan nmr HP  0877-300-76863, paling lambat sebelum tanggal 20 Juni. SMS dlm format:  Nama Penyair, Asal Kota, Perkiraan Sampai Tegal.
2. Bagi penyair yang telah melapor, panitia menyediakan akomodasi memadai di Hotel Aleksander, Jalan Jendral Sudirman No 30, Tegal
3. Mohon maaf, fasilitas akomodasi tidak berlaku bagi keluarga/ partner/ teman dari penyair yang ditanggung. Bagi keluarga/partner/ teman akan dikenakan tarip dengan harga diskon.
4. Fasilitas ini juga tidak berlaku bagi penyair yang tinggal di kota Tegal dsktrnya.
5. Lain2:
- Chek in di Hotel Aleksander,  mulai Jumat 20 Juni pukul 14.00 dan check out padaMinggu 22 Juni 2014 pukul 12.00 WIB


Ketua Panitia:
M. Enthieh Mudakir

Sekretaris:
Dyanindra Srikumara (Nindra)

Sumber: Facebook Penerbit Kosakatakita
dan http://darinegeripoci.wordpress.com/2014/05/28/temu-penyair-dari-negeri-poci-negeri-langit

Link-link:
http://www.teraslampung.com/2014/05/temu-penyair-dari-negeri-poci-dihelat.html
Selengkapnya: 153 Nama Penyair yang Karyanya Akan Dimuat dalam Buku DARI NEGERI POCI 5

Tujuh Puisi Ekohm Abiyasa di wartamadani.com (Selasa, 25/03/14)

Tuesday, 25 March 2014

Oleh: Ekohm Abiyasa

Suara Ibu

suara ibu
memecah sepi
di kepala

lirihnya memanggil
segera kawin

sementara aku masih berburu
nasib yang tak jelas

Surakarta, Desember 2013


Membaca Jejakmu, Gus
; Gus Dur

membaca jejakmu, Gus
selalu pahit kopi
serupa tamsil

senyum dalam bingkai itu
menjadi cermin mata batin
samudera hidup
segala mungkin

Surakarta, Oktober 2013



Ziarah Gus Dur

setiap denyut
akan abadi
pada ingatan-ingatan
pencari berkah

setiap suara
akan diamini
sebagai tatap muka
di ruang mahabbah

Surakarta, Juli 2013



Kelakar

ia berkelakar
orang-orang gusar
persoalan-persoalan menjalar
menjadi kepyar

ia berkelakar
mengumbar debar
hidup susah, jangan dibuat gempar
ia memang manusia penuh getar

Surakarta, Juli 2013



Misteri Tidur

ia tertidur pulas
pada rapat kenegaraan
sejatinya ia mendengar dan memperhatikan
apa-apa yang dibahas
selanjutnya orang-orang kaget dan terheran-heran
ia lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang mereka sodorkan

ia yang berbaju hijau
memikul mimpi dari alam lain
kemudian ia terkekeh
tanpa beban
seperti salju yang meleleh

misteri itu
semakin menjadi misteri
semakin menjadi teka-teki
ia bawa sampai kehidupan hakiki

Surakarta, Juli 2013



Janji

sebuah janji urung ditepati
merpati lagi-lagi kehilangan
tempat singgah perjalanan

sebuah janji terpatri
dalam lubang jantung kita
masing-masing mengikat diri

tunduk pada rindu dan tabir malam
yang menggoda burung-burung hantu
menyanyikan lagi-lagi rindu

janji itu tidak lagi berkilau
pucat purnama

Surakarta, Desember 2013



Sepanjang Jalan Solo-Yogya

hujan mengalirkan sungai-sungai kenangan
sepanjang jalan Solo-Yogya

kita menyeduh sepi
berbagi ampas dan menyimpannya
di samping jendela
pada sebuah kereta

rel-rel mendengus
kita menanam huruf di atasnya
kelak tunasnya merambat
di baju anak-anak kita
sebagai sepi yang terulang

Surakarta, Oktober 2013

Sumber http://www.wartamadani.com/2014/03/puisi-suara-misteri-tidur-ekohm-abiyasa.html
Selengkapnya: Tujuh Puisi Ekohm Abiyasa di wartamadani.com (Selasa, 25/03/14)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas