Showing posts with label teater. Show all posts
Showing posts with label teater. Show all posts

Catatan Singkat Menyaksikan Teater Peron Surakarta: BU JURAGAN di Teater Arena TBJT Solo, Rabu 12 Juni 2013

Thursday, 13 June 2013

Tatanan panggung yang apik memenuhi Teater Arena malam ini (Rabu, 12 Juni 2013). Sofa dan vas tertata memenuhi panggung. Sehingga mempengaruhi setting.

Credit buat pemeran Sayem, Paijo, Linmas, Bujang dan Bu Juragan. Mereka berperan sangat baik, meski semuanya juga bermain bagus. Terlebih buat Bu Juragan, sangat menguasai panggung.

Diawali film pendek perjalanan Paijo dan Sayem mencari Bujang. Sepedanya kebo-nya sempat dicuri orang lantaran mereka tinggal tidur di suatu tempat. Namun mereka berhasil mendapatkannya kembali sepeda itu. Ini hanya semacam guyonan yang menghibur. Nilai plus. Kemudian Paijo dan Sayem masuk ke panggung dengan sepedanya itu. Melanjutkan perjalanan dari film pendek tadi.

Jalannya Pementasan
Sebagai orang kampung, keterbelakangan pendidikan menjadi kendala dalam pola pikir Paijo, Sayem dan Bujang. Sayem menjadi penurut akan nafsu birahi orang-orang yang memanfaatkan tubuhnya secara "gratis". Dan Sayem tenang-tenang saja, bahkan menikmatinya. Hingga beranak lima dengan orang yang berbeda. Sayem dengan gaya ceplos dan keluguannya tidak menampakkan rasa penyesalannya akan hal itu. Sungguh itu memang terjadi di masyarakat pada pendidikan yang kurang/rendah. Saya memperhatikan juga realnya. Sungguh ironi.

Sayem (Ita) dan Paijo (Cahya) sebagai orang desa (Klaten, Jawa Tengah) mencari saudaranya, Bujang (Sandhi) di belantara kota Ibu Kota Jakarta. Sampai begitu nekatnya bersepeda onthel (pit kebo) menuju kota besar yang mereka sendiri ga tahu apa-apa. Dengan bermodal gambar sebagai penunjuk alamat, mereka mencari Bujang. Paijo dan Sayem (adiknya) mencoba mencari Bujang, lantaran ibunya Bujang kangen. Sampai di suatu taman kota, mereka bertemu seorang petugas hansip (Linmas) yang sedang melewati taman kota. Petugas Linmas, Jarot (Alifi) pun membangunkan mereka berdua yang sedang tidur karena kecapekan. Setelah menceritakan ihwal kedatangan mereka ke Jakarta (Jakarta Timur), Jarot pun membantu mereka dengan syarat Sayem menjadi istrinya. Mereka menerima syarat itu.

Bujang bekerja sebagai pembantu pada seorang wanita yang kaya, namun galak! Ia kerap disiksa dengan perkataan pedas dan amarah juragannya itu (Bu Juragan). Hingga pada suatu waktu, teman-teman Bu Juragan berkunjung ke rumahnya. Mereka memuji keindahan dan kebersihan rumah Bu Juragan. Bujang-lah yang melakukan itu semua. Setelah sedikit cerita bagaimana itu terjadi. Mereka kaget karena perlakuan Bu Juragan pada Bujang yang sering memperlakukan kasar seenaknya. Mereka-pun menasehati Bu Juragan agar Bujang diperlakukan sewajarnya. Namun dasar manusia keras batu, Bu Juragan malah marah mendengar nasehat mereka. Bu Juragan mengusir teman-temannya tersebut. Bujang-pun juga merasa sudah tak betah bekerja pada Bu Juragan. Lima tahun penderitaan Bujang berakhir. Bujang menerima tawaran bekerja pada salah seorang dari mereka.

Hingga pada akhirnya, Bu Juragan merasa ada yang hilang. Teriakan-teriakan memanggil Bujang sering lontarkan, padahal Bujang sudah pergi meninggalkannya.
"Bujaang! Bujaaaaang!"
Ia kesepian.
Bujang-pun merasa ada yang kurang juga. Ia merasa rindu pada teriakan-teriakan Bu Juragan. Bu Juragan dan Bujang gelisah. Bujang memutuskan kembali pada Bu Juragan. Akhirnya mereka bertemu kembali. Bujang merasa senang mendapati pembantu barunya Bu Juragan yang tak lain adalah Paijo dan Sayem, saudaranya dari kampung. Dan suami Sayem (Jarot) ternyata teman Bujang. Kegembiraannya berlipat setelah Bu Juragan mengutarakan niatnya untuk menjadikan Bujang sebagai suaminya.

Namun saya menemukan hal ganjil. Tidak menyinggung soal amanah "Ndoro Kakung" seperti sinopsis di atas. Rasanya tidak ada korelasinya (CMIIW). Dan saya tidak menyangka ini akan menjadi tema cinta.

Selamat berkarya dan berpentas lagi Teater Peron. Salam.

*) Ekohm Abiyasa

Penonton dan penikmat teater.
Selengkapnya: Catatan Singkat Menyaksikan Teater Peron Surakarta: BU JURAGAN di Teater Arena TBJT Solo, Rabu 12 Juni 2013

Catatan Singkat Menyaksikan Teater Keliling Jakarta: JAS MERAH di Teater Arena TBJT Solo, Rabu 26 Desember 2012

Thursday, 27 December 2012

Nonton Teater
Aku datang terlambat sekitar jam 9. Langsung aja tancap gas cari tempat duduk tanpa membeli tiket. Heheh.. Tapi tenang, diakhir pentas akupun langsung menuju tempat pembelian tiket. Membayarnya tentu saja. Akan sangat berdosa jika tak membayarnya. Sebab itu sama saja tidak menghargai karya orang. Bukan masalah nominal uang. Sebenarnya ingin mengajak teman, tapi pada ga bisa. Ya sudah berangkat sendiri. Sedari SMA aku selalu suka menyaksikan pementasan teater terutama di Teater Arena TBJT Solo. Kepuasan batin dan pengalaman baru selalu kudapatkan. Ide dan imajinasi bertambah. Aku bukan teaterawan namun sebagai penikmat teater dan sastra saja, terutama puisi.

Pertunjukan teater selalu menarik diriku untuk datang menyaksikannya. Ada kepuasan batin setelah menonton pertunjukan teater. Apalagi setelah pentas ada diskusi kecil dan sharing pengalaman. Itu membuat batin terasa tenang dan nyaman. Jiwa kita butuh nutrisi. Selalu saja ada hal-hal baru masuk di kepala. Untuk pertunjukan malam ini(tadi), Teater Keliling Jakarta menyuguhkan tema yang bagus terlepas dari adegan yang membuatku greget pengen pulang. Namun secara keseluruhan bagus. Andai aku tidak datang terlambat.

"Jas Merah", Teater Keliling Jakarta.
Tema yang diangkat adalah Jas Merah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Penampilan yang cukup memuaskan bagiku. Meski ada adegan yang membuat aku membencinya jika harus menonton. Interaksi pemain dengan penonton bagus. Si Komer(penggila budaya barat/Amerika) selalu saja mengejutkan penonton. "Oo em jii!" begitu teriaknya ketika memulai percakapan. Penonton bersorak-sorai ketika ada adegan yang lucu maupun sedih. Adegan yang paling berkesan bagiku adalah ketika dihadirkannya para tokoh pahlawan dan perjuangan bangsa Indonesia yakni, Ir. Soekarno, Kartini, Martha Christina Tiahahu (pahlawan dari Maluku) sampai Gajah Mada. Para pemain dan penonton dibawa ke dimensi lain untuk mengingat perjuangan para pendiri bangsa. Dunia yang berbeda dengan yang kita alami. Adegan dan kalimat yang mengalir, membuatku ikut larut begitu saja. Para tokoh pahlawan itu mengungkapkan kembali pengorbanan mereka. Menampar aku dan penonton(generasi muda) sebagai penerus perjuangan mereka.

Bung Karno bercerita bagaimana para pahlawan dalam memperjuangkan nasib bangsa ketika dahulu. Kartini menyampaikan pesan-pesannya. Martha Christina Tiahahu mengisahkan bagaimana ketika dia ikut andil dalam usia belianya melawan penjajah kompeni. Menggerakkan pemuda waktu itu untuk mengusir penjajah. Gajah Mada mengisahkan tentang tekadnya untuk mempersatukan nusantara dengan sumpah saktinya, Amukti Palapa. Masih ingatkah engkau?

Aku menikmati adegan yang bagus ini. Ya, kita diingatkan betapa besar kontribusi dan perjuangan mereka(para pahlawan) dalam membangun dan menciptakan negeri indah ini, Indonesia.

Ketika peradaban barat meracuni sebagian besar pemuda dan rakyat Indonesia. Sehingga budaya dan ke"Indonesia"an hilang sudah. Banyak pemuda yang melupakan sejarah, para tokoh pembangun bangsa, pahlawan dan budaya bangsa ini. Generasi muda sudah tergerus oleh aliran jaman yang sejatinya merusak akar dan tanah negeri sendiri. Tanah dimana kita dilahirkan dan berpijak hingga kini. Seharusnya kebudayaan luar(barat) menjadikan kebudayaan kita menjadi lebih sempurna. Jangan sampai budaya sendiri hilang. Jangan sampai kita mengabaikan tangisan Ibu Pertiwi.

Ibu Pertiwi merintih kesakitan. Diinjak-injak oleh peradaban, oleh kita sendiri yang mati nurani dan budaya oleh arus globalisasi.

Adegan sia-sia ketika  Kor(pemain) menerima telepon dari seseorang. Terkesan percuma dan buang-buang waktu. Panjang lebar dalam percakapan telepon yang gagal membuatku menikmatinya. Seakan tak ada arah pentas ini mau dibawa kemana. Percakapan-percakapan yang seakan monoton. Namun adegan-adegan setelahnya bagus.

Ketika seseorang masuk yang berperan sebagai Ibu Pertiwi. Dia menangis terisak. Sungguh mengenaskan. Tubuhnya dicabik-cabik racun globalisasi. Dibunuh budaya asing yang menakutkan. Kemudian suara merdu mengiringinya. Menyanyikan Ibu Pertiwi sambil terisak. Kuresapi suaranya. Ini suara emas! Tidak saja wajah penyanyinya yang cantik, namun suara dan penghayatannya sungguh keren. Jempol.

Akupun terbawa. Mataku memerah, airmata hendak keluar. Betapa berat nasib bangsa ini. Mau kemana negeri ini. Sia-sia saja perjuangan para pahlawan bangsa dalam berkorban untuk negeri ini. Kalau begini terus hancur sudah. Terjajah lagi dalam bentuk lain. Budaya konsumerisme, foya-foya, korupsi yang mendarah daging, perkelahian antar warga dan lainnya. Mau jadi apa bangsa ini!?

Lagu-lagu yang dibawakan, Ibu Pertiwi, Maju Tak Gentar, Kebyar-kebyar dan lainnya.  

Adegan itu bagus. Sekali lagi aku menikmatinya.

Ketika adegan tari kecak, aku mengimajinasikan: tari kecak adalah budaya tradisional dan dalam adegan itu melawan para penggerogot (berkostum serba hitam) sebagai budaya luar/barat dan akhirnya menang. Ide siapa ini? Briliant!

Dengan melestarikan, mempelajari atau setidaknya kita ingat dan tahu budaya nasional/tradisional kita bisa menjaga budaya dan generasi penerus bangsa. Ibu Pertiwi pasti senang, Indonesia pasti berjaya. Tidak tercemar racun-racun globalisasi. Itu yang aku tangkap. Menarik sekali. ketika para pemain meneriakkan cak-cak kecak, aku langsung begitu terkhayal seperti itu. Setidaknya kita harus berbuat yang lebih baik untuk meneruskan perjuangan para pahlawan kita. Perjuangan belum usai bung!

Untuk membaca sinopsisnya silakan baca scan dibawah ini.
Diakhir pementasan berlanjut diskusi kecil mengenai perjalanan Teater Keliling Jakarta. Terdapat tanya jawab.

Untuk Teater Keliling Jakarta, para pemain dan kru-nya, selamat berpentas dan berjuang melestarikan teater. Disamping menyampaikan pesan-pesan untuk generasi sekarang agar mengingat kembali perjuangan para pendiri bangsa dan para pahlawan. Salutku buat sang sutradara pak Rudolf Puspa yang konsisten dalam dunia teater berpuluh-puluh tahun. Semoga diberi kekuatan dan kesehatan dalam berkarya. Agar generasi muda ikut andil memperjuangkan nasib bangsa lewat teater.

Tidak ada yang sia-sia untuk niat baik yang engkau lakukan. Perjuangan belum usai kawan!

*) Ekohm Abiyasa

Pementasan berikutnya,

Selengkapnya: Catatan Singkat Menyaksikan Teater Keliling Jakarta: JAS MERAH di Teater Arena TBJT Solo, Rabu 26 Desember 2012

Parade Teater PBSI UNY

Friday, 7 December 2012

Sumber UNY
Selengkapnya: Parade Teater PBSI UNY

Mengasah Pisau, Dramatic Reading Karya Hanindawan bersama Teater Dong SMA 7 Surakarta | 27 Nopember

Thursday, 22 November 2012

Sumber facebook
Selengkapnya: Mengasah Pisau, Dramatic Reading Karya Hanindawan bersama Teater Dong SMA 7 Surakarta | 27 Nopember

Teater Seriboe Djendela: DEWI

Wednesday, 14 November 2012

Pentas teater DEWI, by teater @SeriboeDjendela. 23-24 November 2012, at amphitheater TBY. HTM Rp 7.000,-
 Sumber facebook
Selengkapnya: Teater Seriboe Djendela: DEWI

Pentas Teater: Sepekan Motinggo Boesje (Gabungan Teaterawan Yogyakarta) | Desember 2012

Sumber facebook
Selengkapnya: Pentas Teater: Sepekan Motinggo Boesje (Gabungan Teaterawan Yogyakarta) | Desember 2012

Teater Ruang Solo: Mutilasi Purba | Nopember 2012

Friday, 9 November 2012

Kini Bukan Tubuh lagi yang dimutilasi, tapi KEHIDUPANLAH yang ter MUTILASI
 Sumber wisma seni TBJT
Selengkapnya: Teater Ruang Solo: Mutilasi Purba | Nopember 2012

Workshop Teater: Teater Ruang Solo 2012

Workshop Teater: Teater Ruang Solo
Selengkapnya: Workshop Teater: Teater Ruang Solo 2012

Teater Nglilir SMAN 1 Karanganyar: Pentas CANGKIR | November 2012

Friday, 2 November 2012

Pentas CANGKIR 2012
Jumat-Sabtu, 9 - 10 November 2012 pukul 19.30 di Aula SMA N 1 Karanganyar
berapa tiket CANGKIR 2012?
Rp 5.000,- utk 1 hari (dapet 2 judul) kalo beli utk 2 hari sekaligus cuman Rp 8.000,- . MURAH kan?
penonton CANGKIR 2012 akan dibatasi 200 org setiap harinya.


Kami TIDAK MENYEDIAKAN tiket pada HARI H! jadi HATI2 terhadap CALO!

#CANGKIR2012
@TeaterNglilir
Selengkapnya: Teater Nglilir SMAN 1 Karanganyar: Pentas CANGKIR | November 2012

Akulturasi Teater Bangsawan

Sunday, 21 October 2012

Oleh Hang Kafrawi  

Keterbukaan suatu komunitas masyarakat akan mengakibatkan kebudayaan yang mereka miliki akan terpengaruh dengan kebudayaan komunitas masyarakat lain. Selain keterbukaan masyarakatnya, perubahan kebudayaan yang disebabkan “perkawinan“ dua kebudayaan bisa juga terjadi akibat adanya pemaksaan dari masyarakat asing memasukkan unsur kebudayaan mereka. Tentulah hal ini terjadi masyarakat asing tersebut mengusai atau menjajah masyarakat tempatan. Proses perubahan kebudayaan yang kedua biasanya akan mendapat perlawanan dari masyarakat tempatan, tetapi bagaimanapun juga lambat-laun perubahan kebudayaan akan terjadi.

Pengaruh kebudayaan asing terhadap kebudayaan tempatan di suatu dearah atau negara tidak pernah dapat dielak. Walaupun demikian perubahan kebudayaan itu tidak akan menghilangkan kebudayaan tempatan. Dalam mengadopsi kebudayaan lain atau adanya pemaksaan kebudayaan lain, masyarakat tempatan akan mempertahankan kebudayaan yang dimilikinya. Kebenaran atau identitas suatu masyarakat selalu terpancar dari kebudayaan yang turun-temurun dimilikinya.

Manusia dalam suatu masyarakat dengan suatu kebudayaan tertentu dipengaruhi oleh unsur-unsur dari suatu  kebudayaan asing yang sedemikian berbeda sifatnya, sehingga unsu-unsur kebudayaan asing tadi lambat-laun diakomudasi dan dintegrasikan  ke dalam kebudayaan itu sendiri tanpa kehilangan kepribadian dari kebudayaan sendiri, disebut alkuturasi (Koejtaraningrat, 1990, 99).

Banyak sekali pakar Antropologi berselisih pendapat mengenai akulturasi. Bagaimanapun juga penulis meyakini bahwa proses akulturasi terjadi di antara dua kebudayaan dan masing kebudayaan memiliki karakter yang berbeda, bukan antar individu-individu masyarakat. Redfiel mengatakan bahwa akulturasi merupakan proses dua arah atau dua kelompok yang saling mengadakan hubungan (Hari Poerwanto, 2000, 107).

Hubungan yang dimaksud Redfield bisa saja hubungan yang tidak diingini oleh suatu masyarakat, tetapi karena suatu masyarakat lain terlebih dahulu maju maka pengaruh kebudayaannya tidak dapat dielakan. Biasa masyarakat kebudayaan yang maju itu melakukan pemaksaan dalam bentuk menjajah masyarakat lain.   

Perubahan kebudayaan selalu berkaitan dengan kebudayaan yang dipengaruhi dan kebudayaan yang terpengaruhi. Kedua sifat ini menjadi tolok belakang pemikir Antropologi meletakan gagasan akulturasi. Malinowski mengatakan bahwa perubahan kebudayaan mungkin disdebabkan faktor-faktor dan kekuasaan spontan yang muncul dalam komunitas, atau mungkin hal itu terjadi melalui kontak dengan kebudayaan yang berebeda (Hari Poerwanto, 2000, 105).

Dalam proses akulturasi yang berlangsung dengan cara pemaksaan oleh masyarakat asing atau penjajah, biasanya perubahan kebudayaan hanya terjadi pada tatanan permukaan saja. Maksudnya, masyarakat tempatan hanya melaksanakannya pada aktivitas formal saja. Tetapi karena kebudayaan itu sering diperlihatkan maka lama-kelamaan kebudayaan asing itu menjadi kebudayaan tempatan.

Pihak penjajah yang menguasai suatu daerah akan menyebarkan kebudayaannya dengan paksa. Kebudayaan yang mereka miliki, dianggap lebih maju dari kebudayaan tempatan. Selain itu, dengan memaksa kebudayaan, mereka dapat melakukan eksploitasi kekayaan di daerah jajahannya (Soerjono Soekanto, 1942, 307).

Perubahan kebudayaan dengan cara pemaksaan, jelas sekali ada keinginan-keinginan di baliknya. Keinginan ini tentu merugikan masyarakat tempatan, tetapi karena adanya kekuasaan bermain maka masyarakat jajahan menerima. Tentu saja kebudayaan penjajah berbaur dengan kebudayaan jajahan yang mereka miliki selama ini.

Di atas telah disinggung bahwa keterbukaan juga menyebabkan perubahan kebudayaan. Keterbukaan yang dimksud di sini adalah keterbukaan sutau komunitas masyarakat menerima komunitas masyarakat lainnya tanpa ada perselisihan, kalaupun ada perselisihan itu cuma terjadi pada individu-individu dan perselisihan itu bukan menjadi pembahasan akulturasi. Sebab akulturasi ruang lingkupnya bukan individu tetapi pada masyarakat banyak atau kebudayaan.

Proses akulturasi yang tidak mengalami pertentangan di masyarakat tempatan dibawa oleh komunitas masyarakat asing yang memberi pencerahan pada masyrakat tersebut. Para cendikiawan, agamawan dan para pedagang, selalu mendapat tempat di tengah masyarakat dan mereka berpeluang menyebarkan kebudayaan yang mereka punyai (Ediruslan dan Hasan Junus, 1993, 45).

Tidak adanya pertentangan dari masyarakat tempatan disebabkan komunitas kebudayaan asing ini melakukan dengan pendekatan dan juga dilakukan dengan adaptasi kebudayaan yang tidak memaksa. Selain itu, kebudayaan yang mereka bawa berdaya-guna bagi masyarakat tempatan. Ralp Linton mengatakan perubahan kebudayaan yang diterima oleh suatu masyarakat dari masyarakat lainnya disebabkan ada kegunaan bagi masyaraakat lokal untuk memperoleh peradaban yang lebih baik dari sebelumnya (Soerjono Soekamto, 1989, 309).

Proses akulturasi pada prinsipnya mengubah kebudayaan lokal yang terkebelakang  menjadi kebudayaan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan ini tentu tidak berlawanan dengan konsep kebudayaan tempatan. Selain itu, pendekatan penyebaran kebudayaan juga menjadi dasar diterimanya kebudayaan asing menyatu ke dalam kebudayaan tempatan. 

Dalam penyatuan ini, terjadilah “tawar-menawar”, yang mana dari kebudayaan asing itu diterima dan mana yang tidak diterima. Tawar-menawar ini bisa menyebabkan kebudayaan asing yang lebih dominan dan bisa juga kebudayaan asing sebagai pelengkap mengisi kekurangan kebudayaan tempatan.   

Akulturasi Teater Bangsawan Riau

Tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat Riau adalah suku Malayu yang berhubungan erat dengan Malaysia. Pada tahun 1824 terjadilah pemisahan disebabkan adanya perjanjian Tratat of London, jajahan Belanda dinamakan Indonesia dan jajahan Inggris dinamakan Malaysia. Sebelumnya kedua daerah ini saling berhubungan. Untuk itu kebudayaannya juga tidak jauh berbeda.

Sesatu kebudayaan yang berkembang di tanah Malaysia akan menyebar ke daerah Riau. Melaka sebagai pusat kerajaan Melayu, ramai dikunjungi oleh bangsa-bangsa lain. Selain itu kota-kota kecil seperti Johor, Sabah dan Penang merupakan tempat-tempat yang strategis dikungi bangsa-bangsa asing itu. Dari daerah inilah penyebaran kebudayaan sampai ke daerah kepulauan Riau.

Di sinilah awal penyebaran berbagai macam kebudayaan di Riau. Kesenian sebagai cabang dari kebudayaan juga berkembang di daerah ini melalui jalur yang sama. Salah satunya  cabang seni yang berkembang di Riau adalah seni teater. Bidang seni teater khususnya teater Bangsawan menjadi dasar tulisan akulturasi penulis.

Kehidupan seni pertunjukkan tradisional khususnya seni teater di Riau sampai saat ini masih bisa dinikmati, walaupun kehidupannya tidak semeriah di Pulau Jawa. Ada beberapa jenis seni teater di Riau yang berkembang antara lain: Makyong, Mendu, Randai, Mamanda dan Teater Bangsawan.

Pada umumnya, masyarakat Malayu (Riau) tidak menutup diri, sehingga kebudayaan asing bisa masuk dan akulturasi biasanya tidak mengalami pertikaian yang mendasar. 

Sebagaimana seni teater lainnya di Riau, seni teater Bangsawan juga bukan asli kepunyaan masyarakat Riau. Tetapi teater Bangsawan saat ini melekat menjadi hak milik masyarakat Riau. Hal ini disebabkan adanya proses akulturasi di antara kebudayaan Riau dengan kebudayaan Persia. Dalam buku Teater Tradisi Riau¸ Karangan Ediruslan dan Hasan Junus mengatakan bahwa teater Bangsawan berasal dari masyarakat Persia, tetapi karena adanya pertentangan idiologi, sebahagian masyarakat itu hitrah ke India. Masayarakat Parsia yang pindah ke India inilah mengembangkan teater tersebut, kemudian berkembang di Pulau Penang (Malaysia) dan menyebar pula ke daerah Kepuluan Riau (1993, 96).

Zaini KM mengatakan dalam buku Interkultural dalam Teater, teater trans-etnik muncul di Indonesia dari India lewat Malaysia (Penang). Dinamakan Wayang Parsi oleh orang Malaysia. Karena berbagai alasan, kelompok itu pulang ke India dan menjual segala peralatan kepada seorang Malaysia, Mohamad Pushi. Mohamad mengantikan nama teater itu menjadi teater Bangsawan, dimana bahasanya menggunakan bahasa Melayu (2000, 33).

Para pekerja Wayang Parsi datang ke tanah Melayu bertujuan untuk menghibur para pedagang India di kawasan itu. Bahasa yang digunakan tentu bahasa India dan mengangkat cerita dewa-sewa. Walaupun dipergelarkan untuk para pedagang India, pergelaran ini terbuka untuk umum. Jadi orang Melayu juga bisa menikmati pegelaran tersebut.

Setelah orang Melayu menguasai seni pertunjukan itu, maka cerita dan bahasa diadaptasi ke bahasa Melayu dan ceritanya pun diganti dengan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Melayu sendiri. Tarian dan nyanyian juga dimodefikasi sesuai dengan kebudayaan Melayu yang berkiblat pada kebudayaan Timur Tengah.

Cerita-cerita yang selalu mendapat tempat dalam Bagsawan antaranya, Hang Tuah Lima Bersaudara, Sultan Mahmud Mangkat Dijulang dan Laksemana Bintan. CH. E.P. van Kerckhoff mengatakan pada masa untuk menggantikan cerita-cerita berasal dari India, kelompok Bangsawan mencari cerita-cerita asli daerah itu dari cerita sastra lisan yang hidup di tengah masyarakat (Ediruslan dan Hasan, 1993, 100).

Pernyataan ini menyiratkan bahwa masyarakat Melayu ingin melastarikan Wayang Parsi ini dengan kebudayaan tempatan. Selain itu perubahan yang akan terjadi tidak terasa karena menganggap Wayang Parsi bukan milik orang India tetapi sudah menjadi milik orang Melayu. Selain itu, tatacara pelaksanaan pertunjukkan itu diubah menurut kebudayaan Melayu.

Dalam pelaksanaannya untuk memainkan cerita-cerita Malayu asli ini, selalu didahului dengan upacara kenduri kecil, yaitu membaca doa selamat dengan makanan seadanya. Acara itu juga menandakan bahwa masyarakat menyetujui cerita-cerita sakral tersebut dipentaskan.

Biasanya hidangan yang dimakan bersama ialah pulut (ketan) kuning, yaitu kentang yang dikuningkan dengan menggunakan kunyit. Selain itu pulut kuning itu dilengkapi terlebih dahulu dengan lauk pauknya dan pisang. Setelah semua tersedia maka sebelaum pementasan diadakan makan bersama sesama pendukung pementasan di atas panggung tempat pementasan dilaksanakan.

Dasar melaksanakan kegiatan ini adalah cerita-cerita yang akan dipentaskan mempunyai kekuatan gaib dan merupakan cerita mengenai nenek-moyang mereka. Untuk itu sebelum melakukan pementasaan harus minta restu terlebih dahulu, kalau tidak akan terjadi bencana yang tidak diingini. Pelaksaanaan yang sama juga dilakukan oleh kelompok Wayang Parsi dari India, tetapi caranya berbeda. Kalau kelompok Wayang Parsi menggunakan adat istiadat India sedangkan kelompok Bangsawan menggunakan adat istiadat setempat berdasarkan Islam.

Setelah melakukan upacara permohonan tersebut barulah pertunjukan itu dimulai dengan sebuah lagu yang dikarang sendiri atau lagu yang berkembang di masyarakat. Lagu ini hanya berfungsi sebagai penarik penonton agar bersiap-siap mempersiapkan diri menyimak segala pelajaran yang terkandung dalam pertunjukan itu. Pada Wayang Parsi tidak ditemukan lagu pemukaan tersebut.

Penggunaan kostum juga mengalami perubahan yang sangat mencolok. Kalau Wayang Parsi menggunakan baju India, sedangkan pada pertunjukan Bangsawan Bajunya disesuaikan dengan keadaan raja-raja Melayu. Kesamaannya adalah kedua-duanya menggunakan baju yang sangat mewah.

Memang terjadi perubahan dari Wayang Parsi ke Bangsawan. Walaupun demikian bentuk pertunjukannya tidak mengalami perubaahan. Selain itu tema cerita tentang kebesaran-kebesaran penokohan juga tidak mengalami, cuma di Wayang Parsi mengangkaat tokoh-tokoh besar dewa-dewa sedangkan Bangsawan mengangkat kebasaran para sultan (raja).

Perkembangan berikutnya, Teater Bangsawan sudah mengalami perubahan yang sangat signifikan. Dimana pengaruh teater Barat mulai merasuki seni pertunjukan ini. Segala diatur sedemikian rupa sehingga Bangsawan bukan lagi merupakan seni yang sakral dengan segala macam persemahan, tetapi menjadi seni pertunjukan biasa. Segala yang diyakini sebagai penghantar permohonan sebelum pementasan ditiadakaan. Walaupun terjadi perubahan besar dalam Bangsawan, ada nilai-nilai yang mendukung pementasan itu yang tidak hilang. Kostum raja-raja yang mewah, cerita masih berdasarkan cerita rakyat dan kadang kala Setting panggung juga masih dipertahankan, dengan menggunakan terai-terai kain yang melukiskan tempat kejadian dalam pementasan itu.

Teater Bangsawan terus berkembang sampai sekarang. Di daerah Kabupaten Bengkalis Riau, seni teater Bangsawan menjadi ciri khas teater di daerah ini, walaupun “dihukum” oleh ketentuan teater barat. Perbedaan lainnya juga terletak pada cerita. Teater Bangsawan yang hidup di Bengkalis ini, ceritanya lebih mengangkat masalah sosial yang terjadi di daerah itu. Hal ini dilakukan disebabkan adanya tuntutan dari penikmnat seni yang lebih menyukai kejadian yang sedang mereka hadapi.        

Pada saat sekarang ini masyarakat Riau sudah menganggap Bangsawan milik mereka. Dengan demikian Bangsawan terus hidup menjadi identitas seni teater Riau dan untuk itu teater Bangsawan terus saja disosialisasikan ke anak-anak sekolah. Bahkan Dewan Kesenian Riau telah mengadakan festival teater Bangsawan, demi terlestarikan teater tradisional ini di tengah generasi muda Riau.

Penutup

Kebudayaan adalah sesuatu yang dinamis. Setiap saat ia bisa berubah, tentu saja ada penyaringan, sehingga perubahan itu tidak menghilangkan identitas sekaligus  tidak bertentangan dengan kebudayaan tempatan. Apabila berlawanan maka terjadilah penolakkan kebudayaan asing tersebut.

Akulturasi teater Bangsawan di Riau merupakan salah satu perubahan kebudayaan yang tidak mendapat halangan dari masyarakat setempat. Malahan Bangsawan menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan. Tidak itu saja Bangsawan sudah pula dianggap milik masyarakat Riau.

Proses akulturasi Bangsawan merupakan sdalah satu contoh perubahan kebudayaan yang tidak meml;alui pemaksaan. Dapat juga digarisbawahi bahwa kebudayaan asing yang memilikidayaguna bagi masyarakat tempatan, maka kebudayaan itu akan diterima.

Selengkapnya: Akulturasi Teater Bangsawan

Kelompok Bandul Nusantara: Bukan untuk Bersedih (Sebuah Pementasan Teater) | Oktober 2012

Sunday, 7 October 2012

JUDUL : BUKAN UNTUK BERSEDIH
KARYA : MOTINGGO BUSYE
SUTRADARA : M. DHOLLY
TEMPAT : TEATER ARENA TAMAN BUDAYA JAWA TENGAH
HARI DAN TANGGAL : JUM’AT, 12 OKTOBER 2012
JAM : 19.30 WIB
HTM : 5000 Saja

SINOPSIS
Meresapi mutiara-mutiara nilai yang terkandung dalam naskah ini lebih menarik dibanding menyimak alur ceritanya. Seperti kata orang bijak bahwa kebahagiaan adalah apa yang kita fikirkan, bukan apa yang kita rasakan. Pak Abimanyu sang tokoh utama dalam naskah ini hadir memberikan pencerahan cara pandang terhadap sebuah permasalahan hidup yang tidak biasa (luar biasa).
 
Suatu masalah bagi kebanyakan orang mungkin bisa menimbulkan rasa marah, gelisah, gundah, galau, ataupun sedih, tapi tidak demikian bagi Pak Abimanyu, semua itu bisa menjadi hiburan sebagai bagian dari warna-warni kehidupan yang membahagiakan, karena hidup harus menghibur, karena hidup bukan untuk bersedih . . . . .
 
PEMAIN
1. DAMAR TRI A – BAPAK ABIMANYU
2. INDAH PERMATASARI – NYONYA ABIMANYU
3. WINARNO HADI SAPUTRO – PENGEMIS TUA
4. GUSMEL RIYADH – GUMILANG, SOPIR
5. ARINI - HINDUN
6. KENDA – NITA, SEKRETARIS
7. ACIN – PENGEDAR DERMA
8. MARDEK – JA’UL, TUKANG KREDIT
9. RAHMAN - ROBBY
 
MUSIK
1. ANDRI - GITAR
2. ADIT JOSH – GITAR, PERKUSI
3. MAHAWANG – PERKUSI
4. ERWIN – BASS
5. YURISTIAN – VOKAL
6. WIWIT MAHARESTI – VOKAL
7. IRAWAN – TAMBORIN DAN KAWAN-KAWAN
 
KOSTUM & MAKE UP – RUDYASO FEBRIADHI
 
LIGHTING - GIE DJATI WIBISONO
 
SETTING – WAWAN ARYANTO
 
DOKUMENTASI – RIA
 
CREW : BRIAN, DEWANGGA, TAUFIK, ROYAN, NIKO, ALVIAN, RAHMAT, RETNO, AWAN, DEEDEE

Sumber FB @gusmelON
Selengkapnya: Kelompok Bandul Nusantara: Bukan untuk Bersedih (Sebuah Pementasan Teater) | Oktober 2012

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas