Showing posts with label tentang puisi. Show all posts
Showing posts with label tentang puisi. Show all posts

Kata-kata dalam Sajak: Masalah Logis dan Tidak Logis

Monday, 30 March 2015

Oleh : Dasril Ahmad

SEORANG penyair berada dalam kata, di luar bahasa, kata Wiratmo Soekito dalam bukunya "Kesusastraan dan Kekuasan" (1984). Dalam menyair, penyair lebih akrab atau mengakrabi efektifitas penggunaan tenaga puitik (power puitic) yang terkandung dalam kata. Justru itu, kalau dilakukan studi khusus tentang penggunaan kata-kata dalam sajak dari beberapa penyair, maka bukan mustahil kita akan menemukan ciri pembeda yang merupakan warna khas sajak setiap penyair. Misalnya, penggunaan kata-kata yang dilakukan penyair Chairil Anwar, akan menunjukkan kekuatan sajaknya sendiri dan menjadi warna khas sajaknya itu. Ini akan berbeda dengan sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Hamid Jabbar, Rusli Marzuki Saria, dan lain-lain.

Dengan melakukan studi terhadap penggunaan kata-kata dalam sajak, berarti kita telah menyediakan (membuka) diri untuk menggumuli “jiwa” yang terkandung di dalam sajak tersebut. Kesempatan ini mengharuskan kita untuk menelusuri daya imaji, emosi dan ide-ide yang ditampilkan penyair lewat sajaknya itu. Sebab, penyair menggunakan kata-kata dalam bermacam-macam kombinasi untuk menampilkan imaji, menyampaikan ide-ide, dan untuk mencetuskan atau melahirkan emosi, kata B.P. Situmorang (1981). Dalam hubungan ini pula, kelak kita akan berurusan dengan masalah diksi (pilihan kata) yang dipergunakan penyair dalam sajaknya. Meski sering diungkapkan (malah secara vokal) oleh masyarakat umumnya, bahwa penggunaan kata-kata dalam sajak sering rancu dan tak beraturan, hingga menyulitkan upaya memperoleh pemahaman, namun sebetulnya ungkapann itu tidaklah selalu benar. Seorang Coleridge, misalnya, dengan tegas menyatakan, “Poetry equalie the best words in the best order” (Puisi sama dengan kata-kata terbaik dalam tata tertib/aturan yang terbaik).


Sungguhpun demikian, keluh-kesah masyarakat dalam memahami sajak selalu saja bergema. Salah satu penyebab timbulnya kondisi itu adalah sulitnya merebut makna dari kata-kata yang ditampilkan penyair dalam sajaknya. Pengertian sulit di sini menjurus kepada tindakan memaknai sebuah kata (secara denotatif) yang sering tak relevan (dan juga tak koherensi) dengan makna kata-kata yang mengikutinya di dalam setiap larik sajak. Kendala seperti ini, terkadang tak sulit dicarikan pemecahannya, asalkan kita mampu memaknai kata-kata yang dianggap sulit itu secara konotatif. Dalam hal ini kita akan akrab bergelut dengan masalah symbol, lambang, kias, dan sejenisnya yang diemban oleh kata-kata tersebut terhadap dunia nyata (realitas) yang sering kita temukan dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.

Pada titik ini, sampailah kita pada pengertian bahwa upaya memahami sajak –untuk merebut makna yang dikandungnya— merupakan suatu upaya untuk memahami sekaligus mengarifi diri terhadap persoalan-persoalan hidup dan kehidupan yang realis. Di dalam proses ini pula kelak orang sering menghubungkan pengertian-pengertian yang diungkapkan lewat kata-kata ataupun kelompok kata (frasa) di dalam sajak, dengan kenyataan-kenyataan yang lumrah ditemui, dialami dalam kehidupan sehari-hari yang realis itu. Lewat kaca-banding ini pula kemudian masyarakat (minoritas) penikmat sajak, akan bersua dengan masalah logis dan tidak logisnya pengertian kata-kata dan frasa di dalam sajak dengan realitas keseharian. Sering pula lahir pendapat, kalau makna kata-kata dalam sajak relevan dengan kenyataan hidup keseharian, maka sajak itu tergolong baik, dan begitu pula sebaliknya.  


Mencari hubungan/kaitan logis dan tidak logisnya makna kata-kata/frasa yang digunakan dalam sajak dengan realitas objektif, merupakan suatu tindakan yang kurang menguntungkan untuk dipelihara. Sikap dan tindakan begini kurang lebih berarti mempersempit ruang-gerak pemahaman sebuah sajak yang hakiki; apalagi untuk menjatuhkan vonis baik atau jeleknya sajak tersebut. Adalah tidak menguntungkan kalau sebuah sajak Sitor Situmorang berjudul “Malam Lebaran” yang hanya terdiri dari satu larik, yaitu: “Bulan di atas kuburan”, dinyatakan tidak baik; kalau cuma ditilik dari segi ketidaklogisan pengertian dari ungkapannya dengan realitas objektif keseharian. Sebab, mana pula ada bulan berada di atas kuburan pada malam lebaran? Bukankah realisnya di setiap malam lebaran bulan cuma muncul (kecil) di sore atau menjelang senja hari? Tetapi apabila kita berusaha memaknai kata bulan dan kuburan secara konotatif, maka kita setidaknya akan dapat memahami makna hakiki dari sajak itu. Untuk itu, kita mesti menggeluti dunia simbol-simbol atau perlambangan; bulan adalah lambang kebahagiaan, sedangkan kuburan adalah lambang kesedihan. Jadi di malam lebaran ternyata ada kebahagiaan terletak di atas kesedihan!

Begitu juga, dua buah sajak karya Armeynd Sufhasril yang dimuat di RMI Harian Haluan tgl. 14 Juni 1987 yang lalu, masing-masingnya berjudul “Sepanjang Jalan Setapak di Dusun-Dusun” dan “Sansai”, ditemukan juga beberapa ungkapan yang tidak logis, misalnya ungkapan “pelangi muncul pagi hari/ azan tak terdengar lagi/ surau-surau lengang” (dalam sajak “Sepanjang Jalan Setapak di Dusun-Dusun”) Kemudian ungkapan “sungai keruh kering” (dalam sajak “Sansai”) 


Memang tidak logis kalau dinyatakan, “pelangi muncul pagi hari”, karena lazimnya pelangi muncul adalah pada waktu sore hari. Tetapi, ia menjadi logis kalau kita memaknai kata “pelangi” sebagai simbol dari keindahan, sehingga pengertiannya menjadi “keindahan muncul pagi hari”. Memang juga dirasa tidak logis kalau di dusun (kampung) dinyatakan, “adzan tak terdengar lagi/ surau-surau lengang”. Sebab, lazimnya kehidupan di dusun (apalagi di Minangkabau) suara adzan selalu mewarnai kehidupan masyarakatnya, dan surau pun selalu ramai sebagai tempat beribadah oleh masyarakat yang mayoritas taat beribadah itu. Tapi larik sajak itu menyatakan keadaan yang paradoksal dari kenyataan hidup keseharian masyarakat tersebut. Ini jelas tidak logis. Tetapi ia akan jadi (dan diterima) logis, kalau kita bermurah hari menerima tawaran persoalan yang diungkapkan oleh penyair (lazimnya penyair/sastrawan lewat karyanya selalu menawarkan alternatif dari sekian banyak persoalan hidup) bahwa begitulah suasana hidup dan kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat di dusun-dusun dewasa ini. Suatu warna kehidupan yang tengah dilanda “krisis”.

Begitu juga ungkapan “sungai keruh kering” jelas tidak logis bila dikaitkan dengan realitas hidup sehari-hari. Mana pula ada sungai (pengertian kongkrit) berair keruh dan kering pula. Tetapi pengertiannya akan jadi logis, kalau kita mengaitkan dengan pengertian yang dikandung oleh judul sajak itu sendiri yaitu “Sansai” (Sangsai?). “Judul puisi mengemukakan suatu ide tentang sesuatu. Boleh tentang sesuatu yang terjadi, boleh nama orang, boleh nama tempat, boleh suatu benda atau boleh juga suatu waktu dan suatu massa (B.P. Situmorang, 1981 : 27). Nah, dengan judul “Sansai” berarti sajak ini mengemukakan sesuatu keadaan yang sedang terjadi, yaitu kehidupan yang nestapa tengah melanda masyarakat. Dengan ini pulalah, maka pengertian “sungai keruh kering” terkiaskan secara logis, yaitu sungai (sumber kehidupan) ternyata telah kering, dan terlihat tanah dasarnya yang keruh. Ini menandakan bahwa kehidupan memang betul-betul sengsara, karena sungai tak lagi digenangi air untuk kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari. 



Perlukah masalah logis dan tidak logisnya pengertian kata-kata dalam sajak dipersoalkan? Agaknya ini sebuah pertanyaan yang menarik untuk dikemukakan. Tetapi sebelumnya kita jangan lupa, bahwa penyair Sitor Situmorang pernah mengakui, bahwa perkara logis atau tidak logis baginya bukanlah persoalan. Kemudian, penyair Rusli Marzuki Saria berkomentar, bahwa bagi pernyair, logis atau tidak logisnya pengertian kata-kata dalam sajak bukanlah persoalan esensial. Tetapi hal itu akan menjadi persoalan bagi para kritikus sastra. Sedang, penyair hanya bergumul dengan kata-kata; dengan makna denotasi dan konotasi dari kata-kata tersebut. 
Padang, 26 Juni 2013

- Dasril Ahmad, penulis tinggal di Padang

Sumber: Facebook Dasril Ahmad.   
Selengkapnya: Kata-kata dalam Sajak: Masalah Logis dan Tidak Logis

Pembelajaran Apresiasi Puisi

Wednesday, 31 December 2014

Karya sastra dapat berfungsi sebagai media alternatif yang dapat menghubungkan kehidupan manusia masa lampau, masa kini, masa yang akan datang, juga dapat berfungsi sebagai bahan informasi masa lalu yang berguna dalam upaya merancang peradaban manusia ke arah kehidupan yang lebih baik dan bergairah di masa depan. Dalam tulisan Rapi Tang (2007:4) Wellek dan Warren mengemukakan bahwa dalam aliran kritik Hegel dan Taine, kebesaran sejarah dan sosial karya sastra adalah “dokumen karena merupakan monumen” (document because they are monument).

Sastra pada hakikatnya berkaitan dengan berbagai cabang ilmu. Hakikat sastra ini dapat kita jelaskan dari sudut pengarang, pembaca, atau dari sudut karya sastra itu sendiri. Seorang sastrawan yang akanmencipta sastra sangatlahdituntut memiliki kompetensi bahasa. Hal inilah yang memungkinkan ide, gagasan, atau perasaan yang akan diungkapkan dapat disampaikan. Kompetensi dimaksud bukan hanya sekadar mengetahui kaidah-kaidah yang berlaku atau memahami sistem yang ada pada suatu bahasa. Sastrawan dituntut lebih dari itu. Sastrawan sangat dituntut mampu mengolah bahasa yang akan digunakannya itu secara kreatif sehingga menimbulkan daya pesona bagi pembacanya. Selain itu, ide atau gagasan dan juga perasaan yang akan diungkapkan itu merupakan pengalaman batin sastrawan yang telah melalui proses yang melibatkan berbagai pengetahuan yang dimiliki dan menghendaki pula wawasan yang luas.

Relevansi karya sastra dengan berbagai aspek kemanusiaan atau kemasyarakatan, memberi peranan yang cukup penting sebagai suatu lembaga atau institusi yang dapat dijadikan acuan dalam memahami gejala sosial yang pernah dan atau sedang berkembang pada suatu etnis atau suatu bangsa.

Pembelajaran sastra tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. Pembelajaran lebih menekankan pada usaha perpindahan atau pengawasan pengetahuan, kecakapan dan pembinaan keterampilan kepada mahasiswa serta dapat mengetahui lingkungan kebudayaan. Sedangkan pendidikan lebih menekankan usaha pembentukan nilai-nilai hidup, sikap norma-norma, dan pribadi mahasiswa. Setiap perilaku tersebut tidak terlepas dari usaha pembentukan pribadi individu. Pembelajaran sastra bertujuan untuk membina apresiasi sastra, mahasiswa dapat lebih kreatif, yaitu membina agar memiliki kesanggupan untuk memahami, menikmati dan menghargai suatu karya sastra.

Pembinaan apresiasi sastra dan pembelajaran sastra melalui usaha mendekatkan kepada sastra yakni, menumbuhkan rasa peka, dan rasa cinta kepada sastra dan menumbuhkan minat baca mahasiswa terhadap karya sastra. Dengan usaha ini diharapkan pembelajaran sastra dapat membantu menumbuhkan aspek kejiwaan, sehingga terbentuk suatu pertumbuhan pribadi yang utuh.

Pembaca memiliki kebebasan memberikan makna atau arti sebuah karya sastra. Setiap orang (pembaca) dapat memberikan makna, arti, dan respon terhadap karya sastra yang dibaca atau dinikmatinya. Makna dan arti karya itu dikaitkan dengan pengalaman batin pembaca, pengalaman hidup pembaca, dari situlah makna dibangun. Dengan demikian terjadilah keberanekaragaman makna dari setiap karya sastra.Teori ini dipopulerkan di Indonesia oleh Prof. Umar Yunus.

Pembelajaran apresiasi puisi sebagai bagian dari pembelajaran apresiasi sastra mempunyai salah satu tujuan agar mahasiswa mampu memahami puisi yang dibacanya. Untuk memahami dengan baik, diperlukan pembelajaran apresiasi puisi yang baik pula, yaitu pembelajaran yang memperhatikan konsep dasar pengajaran apresiasi sastra.

Pembelajaran puisi, sungguh akan dapat memberi warna bagi perkembangan mental mahasiswa ke arah yang lebih positif. Sebuah keniscayaan, kalau materi pembelajaran Bahasa Indonesia (terutama pembelajaran sastra) tentulah memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan materi pelajaran lain. Materi pembelajaran sastra (puisi) harus hadir sebagai pembelajaran yang tidak saja sebagai ladang ilmu pengetahuan, namun lebih dari itu harus hadir untuk dinikmati bersama-sama oleh dosen dan mahasiswa.

Pembelajaran puisi bukan sekadar pembelajaran yang diselaraskan dengan kemampuan mahasiswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan matematis yang diajukan dosen.Pembelajaran puisi (juga), sebuah proses pematangan diri mahasiswa yang hasilnya akan diperoleh dalam sebuah proses yang panjang. Proses ketika mahasiswa melakoni kehidupannya yang akan banyak memiliki hubungan simetris dengan peristiwa-peristiwa yang dihadirkan dalam (pembelajaran) puisi, bukan sekadar pembelajaran. Dosen harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan. Ini tentu saja sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, seperti yang termaktub pada Pasal 40 ayat 2 yang menyatakan, seorang pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, inovatif, kreatif, dinamis dan dialogis.

Pembelajaran puisi juga harus diselaraskan antara pembelajaran yang menghasilkan kemampuan mahasiswa dalam menguasai konsep-konsep dasar puisi dengan kompetensi komunikatif mahasiswa secara praktis tentang puisi. Kalau ditarik benang merah, porsi untuk kemampuan praktis mahasiswa harus menjadi prioritas.

Baedhowi (2008: 8) menjelaskan bahwa pendidikan sastra memupuk kecerdasan mahasiswa hampir dalam semua aspek. Peran dosen berada di garis depan dalam pembelajaran sastra. Melalui apresiasi sastra mahasiswa dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup, kecerdasan intelektual (IQ) dapat dilatih. Latihan dilakukan dengan mencari unsur-unsur yang ada dalam karya sastra.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan sastra membawa mahasiswa cerdas secara IQ, EQ, maupun SQ, artinya pendidikan sastra membawa mahasiswa pintar, terampil, dan jujur terhadap pribadinya, dengan gaya bahasa yang indah dan liku-liku kehidupan yang beragam pengarang, yang telah menciptakan karya sastra.


Sumber:
Baedhowi. “Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan”. Makalah disajikan dalam Kongres IX Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Depdiknas. Jakarta 28 Oktober - 1 November 2008.

Departemen Pendidikan Nasional. 1997. Pengajaran Apresiasi Sastra. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendiikan Dasar dan Menengah.

Rapi Tang, Muhammad. 2007. Pendekatan dalam Sosiologi Sastra dan Penerapannya Umar Yunus: Panduan Teori Sastra. Makassar: Program Pascasarjana, Universitas Negeri Makassar.

Link: http://jaririndu.blogspot.com/2014/12/pembelajaran-apresiasi-puisi.html
Selengkapnya: Pembelajaran Apresiasi Puisi

Kecerdasan Puitik: Apa itu Puitik dan Puisi, Serta Hubungan Ketiganya

Wednesday, 12 March 2014

Biar tak ada pengulangan pertanyaan mengenai kecerdasan puitik, apa itu puitik dan puisi, serta hubungan ketiganya:

---------------------------------------
Apakah kecerdasan puitik?
----------------------------------------
Kecerdasan puitik adalah kemampuan menemukan sesuatu, melihat yang tak terlihat, atau menarik hubungan antara hal-hal yang tampak tak berhubungan sekalipun. Di dalamnya terdapat sensitivitas penglihatan untuk detail yang signifikan dan relevan, kepekaan terhadap bahasa verbal maupun visual, dan keahlian naratif maupun figuratif yang memungkinkan bagi penciptaan sesuatu.

----------------------------------------
Apakah kecerdasan puitik berkaitan dengan puisi? Apakah kecerdasan puitik adalah kecerdasan berpuisi?
-----------------------------------------
Ya, kecerdasan puitik berkaitan dengan puisi, kecerdasan berpuisi. Puitik adalah kata sifat bagi puisi atau hal-hal yang berkaitan dengan puisi. Sebagai kata benda, puitik adalah praktik menulis puisi atau komposisi puitik, risalah mengenai sifat, bentuk, dan hukum puisi. Puisi adalah bentuk metafisik, ontik, dari yang puitik.

------------------------------------
Kecerdasan berpuisi? Seberapa pentingkah?
------------------------------------
Tak dipungkiri bahwa puisi bagi kebanyakan orang memiliki reputasi yang buruk, tak lebih dari sekumpulan kata-kata kosong aneh, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa penuh tanda seru, yang tak memiliki relevansi apapun dengan kehidupan. Pandangan itu tentu sebuah kesalahpahaman.

“Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis”—“poiein”, yang artinya “menemukan”—“menciptakan”. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi pertama-tama tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam maupun luar dan pencarian jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan, penting.

Jawaban-jawaban atau realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafor-metafor yang diciptakan melalui penukaran, pengubahan tanda, atau analogi dari aset bahasa berdasarkan prinsip-prinsip similaritas-dissimilaritas, yang ketepatan dan kebermaknaan merupakan taruhannya, termasuk jika berbicara non-sense verse.

*Metafor adalah kreativitas pertama dalam puisi, untuk mengomunikasikan kebaruan2 itu, masih dibutuhkan penemuan-penciptaan strategi-strategi perepresentasian atau penyampaian dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi daya tarik logos, ethos, dan pathos, dari bentuk, gaya, sampai irama dan rima untuk dapat dipahami, diterima, diingat oleh pembaca, dan pada akhirnya menggerakkan pembaca, mempengaruhi kesadaran dan keputusan tindakan mereka.

Sumber Facebook Nuruddin Asyhadie *tambahan dari status terbaru.

NB: 
Kecerdasan puitik itu penting. Anak umur 4 tahun yang hafal 4 Nursery Verse yang secara komposisional benar, akan memiliki kemampuan memahami dan berpikir 4 kali lipat pada umur 10 tahun dari pada teman-teman seumurannya yang pada umur 4 tahun tidak hafal atau hafal kurang dari jumlah itu atau hafal karya yang buruk. Itu berkaitan dengan perkembangan kesadaran fonologis (phonological awareness) dan penalaran spasial (spatial reasoning). Lebih baik usahakan suatu ekstra kurikuler kecerdasan puitik dan jaga mereka dari tulisan-tulisan buruk, yaitu tulisan yang penuh word salad, argumen-argumen lemah, inkohesif dan inkoheren. Sumber.

Kecerdasan puitik itu berkaitan dengan pembangunan kemampuan melihat yang tak terlihat atau penemuan, pemahaman, menganalisis, dan penciptaaan. Berlatih menulis dan membaca puisi, kalau benar berlatihnya, dapat membangun kemampuan-kemampuan itu. Kemampuan menciptakan metafor adalah tanda kejeniusan (Aristotle), tapi bukan metafor dalam pemahaman Goenawan Muhammad, bukan pasemon. Metafor adalah penyibak realitas, syarat-syarat metafor sama dengan syarat-syarat bagi kebenaran, bukan penjauhan realias seperti pasemonnya GM. Sumber.

Link terkait:
Metaphorming, Merangsang Inovasi dan Kreativitas
http://www.koran-sindo.com/node/351486

Thinking Like a Genius: Using Metaphorming to Describe Ideas
http://prezi.com/d28xfs5pkpww/thinking-like-a-genius-using-metaphorming-to-describe-ideas/
Selengkapnya: Kecerdasan Puitik: Apa itu Puitik dan Puisi, Serta Hubungan Ketiganya

Genre Sastra dan Puisi

Friday, 14 February 2014

Genre Puisi itu cuma empat: Lirik, Epik/Naratif, Dramatik, dan Didaktik. 

Balada adalah contoh Puisi Naratif kerna berkisah tentang sebuah peristiwa.

Alexander Pope bukan nulis puisi esei tapi menulis puisi biasa yang isinya membicarakan isu-isu seperti "apa itu manusia", "apa itu esei" dan yang semacamnya. Pola persajakan Pope tradisional khas Bahasa Inggris. Mungkin puisi Pope bisa dikategorikan sebagai Puisi Didaktik kerna bersifat risalah atas suatu pokok.

Ada yang disebut "prose poetry" dan puisi jenis ini adalah cerpen pendek yang liris. Sangat populer di kalangan penyair Prancis abad 19 seperti Baudelaire dan Rimbaud. Disebut "prose poetry" kerna pola persajakannya seperti prosa (gak ada rima dsb yang biasa ditemukan dalam pola persajakan tradisional, seperti pada Pantun di Indonesia misalnya), berkisah macam cerpen tapi lebih pendek daripada cerpen dan bukan cerpen tapi puisi lirik.

Kesalahan lain dalam sejarah Sastra Indonesia adalah begitu saja memakek istilah "puisi mbeling" dan "puisi mantra" yang diciptakan penyairnya. Gak ada kedua jenis puisi itu! Yang benar adalah bahwa keduanya termasuk dalam jenis puisi yang disebut "Nonsense Poetry" dan puisi jenis ini ada di kebanyakan budaya dan pernah sangat populer dalam Sastra Inggris dengan Tokoh terkenalnya Edward Lear dan Lewis Carroll.

(Saut Situmorang)

----------------------------------------------------------

Mengenai posisi poetical essay Pope, ia adalah esei, opini, jadi ESEI DAPAT DITULIS DALAM BENTUK PROSA ATAU PUISI. Ini ada hubungannya dengan distingsi seni dengan ilmu pengetahuan dalam divisi modern setelah French Quarrel, yang merupakan kelahiran sastra modern. Di saat itu puisi tak lagi dipandang sebagai geometri tetapi sejarah, ia tak lagi dipandang sebagai wilayah akal, tetapi imajinasi, yang di sini, berbeda dengan sebelumnya imajinasi dibedakan dengan akal (sebelumnya tak ada pembedaan antara keduanya). KETIKA PUISI DIPANDANG HANYA SEBAGAI WILAYAH IMAJINASI, MAKA IA TAK LEBIH TAK BUKAN ADALAH OPINI, di tingkat inilah PUISI=ESAI.

Fontenelle implies as much in contrasting the 'endless' disputes of 'rhetoric' with the terminable disagreements of 'science'; not only is the former the traditional home of the merely probable (opinion), but Fontenelle describes the main 'trick ofeloquence' as balancing opinions on both sides of a question- a fair description of argument in utramque partem as Academic sceptics such as Cicero understood it, and a method that yields only probabilities. (lihat Patey, Probability, ch. 1, dan soal koneksi imajinasi dengan opini, hal. 134-6.)

Pope adalah pendukung pendivisian Perault and Fontenelle.


Dalam pengantar An Essay on Man, Pope menjelaskan mengapa ia memiih menulis esainya dalam bentuk puisi, tepatnya puisi dalam tradisi Horatian, dan tidak prosa.

Apa saja genre-genre dalam sastra? Karangan ilmiah, esai filsafat, sains, tulisan bisnis, teks hukum, sejarah (beserta sub genrenya: biografi dan otobiografi), naskah drama, puisi, novel, cerpen, adalah genre-genre dalam sastra.

(Nuruddin Asyhadie)

Sumber https://www.facebook.com/groups/233309230175455/permalink/244386269067751 

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Literature     
http://poetry.eserver.org/essay-on-criticism.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Nonsense_verse  
http://www.bartleby.com/201/1.html
http://books.google.co.id/books?id=tt4NAAAAQAAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false
Selengkapnya: Genre Sastra dan Puisi

Tipografi pada Puisi

Thursday, 9 January 2014

  • Tipografi disebut juga sebagai ukiran bentuk; ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi.
Seperti kita ketahui,dalam menuliskan kata-katanya, setiap penyair memiliki kegemaran sendiri-sendiri. Ada yang selalu menuliskan semua katanya dengan huruf kecil semua, ada pula yang selalu menggunakan huruf besar pada setiap permulaan kalimat atau baris baru puisinya. Juga dalam menggunakan tanda-tanda baca. Ada yang dalam seluruh puisinya tanpa menggunakan sebuah tanda bacapun. Tetapi ada pula yang dengan setia menggunakan tanda baca.

Berikut ini beberapa contoh berbagai tipografi tersebut :

1. Menggunakan huruf kecil semua dan tanpa tanda baca,

paman-paman tani utun
ingatlah
musim labuh sawah tiba
duilah

musim labuh kurang tidur ya paman
kerja berjemur dalam lumpur tak makan
sawah-sawah menggempur hancur  
merpatinya wokwok ketekur

(PAMAN-PAMAN TANI UTUN, Piek Ardijanto Suprijadi, Angkatan 66, hal. 462)

2. Menggunakan huruf besar pada setiap awal kalimat, tanpa tanda baca,

Di depan gerbangmu tua pada hari ini
Kami menyilangkan tangan ke dada kiri
Tegak dan tengadah menetap bangunanmu
Genteng hitam dinding kusam berlumut waktu

(ALMAMATER, Taufiq Ismail, Angktan 66, hal. 151)

3. Menggunakan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap,

Kukitari rumahMu.
Kukitari rumahMu bersama jutaan umat
Ketika Kauturunkan rahmat
meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata :
Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami
Ulurkan tanganMu, bimbing kami
ke jalan lurus yang Kauridoi.
Di bumi ini
dan di akhirat nanti.

(SEMENTARA THAWAF, Ajip Rosidi)

4. Sebagian baitnya menjorok ke dalam,

Laksana bintang berkilat cahaya,
Di atas langit hitam kelam,
Sinar berkilau cahya matamu,
Menembus aku kejiwa dalam.
  
    Ah, tersadar aku, 
    Dahulu ....................................
    Telah terpasang lentera harapan
    Tetiup angin gelap keliling.

Laksana bintang di langit atas,
Bintangku Kejora
Segera lenyap peredar pula,
Bersama zaman terus berputar

(SEBAGAI DAHULU, Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air, hal. 51

Mengenai tipografi yang berhubungan dengan susunan baris atau kalimat dalam tiap bait ini pun masih banyak lagi ragamnya.Adapaun maksud penyusunan tipografi yang beraneka macam itu,secara garis besar dapat dibedakan atas 2 (dua) macam :

1). Sekedar untuk keindahan indrawi; maksudnya sekedar agar susunan puisi tersebut nampak indah dipandang.

2). Untuk membantu lebih mengintensifkan makna dan rasa atau suasana puisi yang bersangkutan.

Marilah kita perhatikan dua buah contoh puisi berikut ini,


Bukan tidak saya letakkan,
Buah delima di atas gudang
        Untuk berbuka bulan puasa.

Bukan tidak saya katakan,
Saya hina dari orang,
       Tuan katakan,tidak mengapa.

Pohon cempedak saya tanamkan,
Pohon nanas kutanam juga,
       Batang mengkudu pemagarnya.

Bukan tidak saya katakan,
Tuan emas, saya tembaga,
       Tidak sejodo keduanya.

(M.I. Nasution, PUJANGGA BARU,hal. 240)

DOA PERAHU

tuhanku
        beritahu
                kini

ke manakah
            harus
                 kupergi

ke muara
           menyongsong
                   laut
                            biru

ataukah
         melawan
                 arus
                     menuju
                              hulu

(Ismed Natsir, Horison, Oktober, 1974)

Dan masih banyak gaya yang lain, yang bisa saudara ciptakan sendiri.

Sumber http://dennimlz.blogspot.com/2014/01/tipografi.html
Selengkapnya: Tipografi pada Puisi

Mengenal Epigram dalam Puisi

Epigram adalah puisi dengan bentuk yang sederhana, singkat dan bernas. Tidak menggunakan kosakata yang berlebihan, namun mampu memberikan kesan satir bagi pembacanya. Epigram terdiri dari satu kalimat, satu bait atau 2 bait.  Materi yang diangkat dalam puisi epigram adalah pemikiran atau kejadian.  Istlah Epigram berasal dari Yunani kuno epigraphein yang berarti  “untuk menuliskan sesuatu” atau “ menorehkan tulisan”.

Pada abad kemunculannya, epigram digunakan sebagai catatan pada monumen batu (prasasti)di jaman Yunani kuno. Model epigram modern mulai dipopulerkan oleh penulis Romawi Marcus Valerius Martialis atau lebih dikenal dengan nama Martial.  Kumpulan bukunya terdiri dari 12 jilid dan diterbitkan di Roma antara tahun 86 hingga 103 M selama masa pemerintahan kaisar  Domitian, Nerva dan Trajan.  Serial tersebut disebut 12 Epigram dan berisi kumpulan puisi pendek yang lucu dan riang. Materi yang ditulis dalam Epigram Martialis adalah satir kehidupan kota, skandal  dan romantika pendidikan di masa itu.

Epigram mulai berkembang di Inggris pada abad ke-16 dan 17 berkat karya karya penyair terkenal,antara lain :  John Donne, Robert Herrick, Ben Jonson, Alexander Pope, George Byron, dan Samuel Taylor Coleridge. Di Perancis epigram dikembangkan oleh Nicolas, Boileau-Despréaux dan sang filsuf Voltaire.

Coleridge memberikan penjelasan yang indah tentang epigram:
What is an Epigram? A dwarfish whole,
Its body brevity, and wit its soul.

Tranliterasi :
Apakah Epigram sesungguhnya?  Ia menyingkat semesta
Tubuhnya ringkas, jiwanya cerdas

Coleridge juga memberikan contoh yang lain :
Sir, I admit your general rule,
That every poet is a fool,
But you yourself may serve to show it,
That every fool is not a poet.

Tranliterasi :
Tuan, aku mengakui aturan umum milikmu
Bahwa setiap pujangga adalah dungu
Tapi anda sendiri dapat menunjukannya
Bahwa setiap dungu bukanlah pujangga

Contoh yang lain juga diberikan oleh penyair terkenal Odger Nash : yang berjudul Es Pecah (Breaking Ice)

Candy
Is dandy,
But liquor
Is quicker


Transliterasi :

Permen,
Memang keren,
Tapi minuman keras
Lebih ringkas


Penulis pernah mencoba menulis sebuah epigram yang berjudul Merebut Hari, “Seize the Day!”

everyday is monday
nor a piece of holiday
but everyday is a holy day
for my buddy holy


Contoh Epigram 1 bait yang lain :
“Hasrat“
batu
membisu
itu burung
jangan dikurung


(Liweng-Gun)

Contoh Epigram 1 kalimat
“kulawan seribu tantangan, selama belum enggan”

Demikian sekelumit tentang epigram, semoga bermanfaat.

Sumber http://dennimlz.blogspot.com/2014/01/mengenal-epigram-dalam-puisi.html
Selengkapnya: Mengenal Epigram dalam Puisi

Unsur Analis dalam Puisi

Saturday, 4 January 2014

Struktur Puisi
Banyak hal yang dapat dianalisis dari puisi, misalnya;
(1) Tema (sense), yaitu pokok persoalan (subjek matter), suatu ide, gagasan atau hal yang hendak dikemukakan oleh penulis, baik tersurat atau tersirat.
(2) Tipografi, disebut juga ukiran bentuk puisi, yaitu tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana.
(3) Amanat (intention), yaitu pesan, maksud/tujuan yang mendorong penyair menulis.
(4) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, misalnya sikap rendah hati, menggurui, mendikte, persuasif, dan lain-lain.
(5) Perasaan (feeling), yaitu sikap pengarang terhadap tema (subjek matter) dalam puisinya, misalnya simpatik, konsisten, senang, sedih, kecewa, dan lain-lain.
(6) Enjambemen, yaitu pemotongan kalimat atau frase di akhir larik, kemudian meletakkan potongan itu pada awal larik berikutnya. Tujuannya adalah untuk memberi tekanan pada bagian tertentu ataupun sebagai penghubung antara bagian yang mendahuluinya dengan bagian berikutnya.
(7) Aku lirik, yaitu tokoh aku (pesyair) di dalam puisi.
(8) Verifikasi, yaitu berupa rima (persamaan bunyi pada puisi, di awal, di tengah, dan di akhir); ritma (tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemahnya bunyi).
(9) Citraan (pengimajian), yaitu gambar-gambar dalam pikiran, atau gambaran angan pesyair. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan).
(10) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata dengan cermat, teliti, dan setepat mungkin oleh pesyair.
(11) Kata konkret (concrete words), yaitu penggunaan kata-kata yang tepat (diksi yang baik) atau bermakna denotasi oleh pesyair.
(12) Gaya bahasa (majas, figuratif language), yaitu bahasa kias yang menimbulkan makna konotasi tertentu dalam puisi. Tetapi dalam tulisan ini tidak membahas keseluruhan objek analisis.

Sumber facebook Esti Ismawati.
Selengkapnya: Unsur Analis dalam Puisi

Keselarasan Unsur Puisi

Tuesday, 11 June 2013

Keselarasan unsur puisi:
1) Citraan
2) Majas
3) Rima dan irama
4) Diksi dan idiom

Keterangan:
-Citraan itu pengambaran suatu puisi.
-Diksi dan idiom: ketepatan pemilihan dan pengungkapan kata. Metafora sudah umum pada diksi.
-Ide/gagasan itu hak penulis.

Ini cuma anggapan umum, selebihnya bisa menambahkannya sendiri.

Sumber fb Deddy Firtana Iman
Selengkapnya: Keselarasan Unsur Puisi

Pengertian, Definisi dan Unsur Puisi

Monday, 21 January 2013

PENGERTIAN PUISI
Secara etimologi kata puisi berasal dari bahasa Yunani ‘poema’ yang berarti membuat, ‘poesis’ yang berarti pembuat pembangun, atau pembentuk. Di Inggris puisi disebut poem atau poetry yang artinya tak jauh berbeda dengan to make atau to create, sehingga pernah lama sekali di Inggris puisi disebut maker. Puisi diartikan sebagai pembangun, pembentuk atau pembuat, karena memang pada dasarnya dengan mencipta sebuah puisi maka seorang penyair telah membangun, membuat, atau membentuk sebuah dunia baru, secara lahir maupun batin (Tjahyono, 1988: 50).

Sulit membuat batasan yang memuaskan terhadap pengertian puisi. Namun demikian perlu diterangkan beberapa definisi atau pendapat dari beberapa ahli sastra tentang puisi, untuk memperluas pandangan mengenai pengertian puisi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan lirik dan bait (Depdikbud, 1988: 706).

Ahmad Badrun (1989: 1) menyatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang bersifat puitis. Dijelaskan oleh Rachmat Djoko Pradopo (1987, dalam Ahmad Badrun, 1989: 1) bahwa sesuatu dikatakan puitis jika membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas atau secara umum menimbulkan keharuan. Kata puitis mengandung arti keindahan. Keindahan dan kebenaran merupakan bagian dari aspek pengalaman. Penyair selalu terlibat dalam segala aspek pengalaman secara keseluruhan, misalnya keindahan, keburukan, kesenangan, kematian, penderitaan yang tertuang dengan baik dalam kehidupan nyata ataupun imajinatif.

Puisi sebagai karya sastra menampilkan aspek keseluruhan kehidupan sehingga menimbulkan rangsangan estetis bagi pembaca. 

Coleridge (1960, dalam Zulfahnur, dkk. 1997: 3) memberikan pendapat bahwa puisi merupakan karangan yang terindah dari yang terindah. Puisi hadir membawa keindahan dalam kehidupan dan kesenangan manusia. Keindahan yang dimaksud melingkupi segala aspek pengalaman kehidupan, misalnya kesedihan, kesenangan, kematian, dan penderitaan juga kebahagiaan yang diwujudkan dalam kata-kata yang indah. Puisi dapat pula dipandang sebagai perwujudan pengalaman pengarang yang dituangkan ke dalam bait-bait melalui media bahasa, sehingga dapat mewakili apa yang dirasakannya dan apa yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Bahasa yang digunakan dalam puisi merupakan bahasa multidimensional, yang mampu menembus pikiran, perasaan, dan imajinasi manusia (Zulfahnur, dkk. 1997: 9). Pengertian dari multidimensional yaitu bahasa yang menggunakan lebih dari satu dimensi, yang mencakup: dimensi intelektual, dimensi rasa, dimensi emosional, dan dimensi imajinatif. Oleh karena itu, pencipta memilih kata-kata setepat-tepatnya, disusun dengan sebaik-baiknya, seimbang, senada, seirama, antar unsur saling menyatu, mengikat sehingga menjadi suatu karangan yang utuh sehingga dapat dinikmati oleh pembaca ataupun pendengar.

Spenser (1960, dalam Herman J. Waluyo, 1987: 23) mengungkapkan bahwa puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Dunton (1971, dalam Situmorang, 1983: 10) yang menjelaskan bahwa puisi merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional dan berirama. Bahasa emosional merupakan bahasa yang mampu membangkitkan gejolak jiwa pembacanya. Penyair menggunakan bahasa yang padat dalam mengungkapkan penghayatannya, penggunaan bahasa tersebut bukan sebagai alat saja melainkan juga sebagai tujuan. Pemakaian kata-kata bagi penyair tidak hanya mengandung arti tetapi juga mengandung nilai. Pemahaman kata-kata yang terdapat dalam puisi tidak cukup hanya mengetahui artinya secara harfiah melainkan harus mengetahui secara keseluruhan dengan suasana yang mendukung.

Karya sastra pada dasarnya adalah rekaan pengarang semata, yaitu sesuatu yang bukan dunia nyata (fakta). Kenyataan yang ada dalam kehidupan diangkat pengarang ke alam fiksi melalui daya imajinasi yang tinggi sehingga tetap dapat dihayati oleh pembaca maupun pendengar. Kennedy (1971: 1) mengungkapkan bahwa: “Poetry may state facts but, more important, it makes imaginative statements that we may value even if its facts are incorrect atau “puisi bisa mengungkapkan suatu kenyataan tetapi yang lebih penting bahwa kita juga harus menghargai hasil karya imajinatif sekalipun dalam kenyataannya adalah tidak benar”. Senada dengan pendapat dari Clive Sansom (1960, dalam Herman J. Waluyo, 1987: 23) yang mengatakan bahwa puisi sebagai bentuk pengucapan bahasa yang ritmis yang mengungkapkan pengalaman intelektual yang bersifat imajinatif dan emosional. Hal tersebut berarti bahwa melalui imajinasi kita dapat hidup lebih sempurna, lebih dalam, lebih kaya, dan penuh kehati-hatian. Penyair membutuhkan kekuatan pikiran dan perasaan untuk bisa menciptakan puisi yang bisa membangkitkan emosi pembaca.

Herman J. Waluyo (1987: 25) memberikan batasan mengenai pengertian puisi yaitu bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Hal itu sejalan dengan pendapat Boulton (1979: 9) yang menyatakan bahwa:“The poem is a combination of physical and mental form and we ought to remember all the time that when we separate these in order to define or discuss them we are no longer discussing the poem,” atau “puisi merupakan gabungan dari bentuk fisik dan mental dan sejak semula kita hendaknya mengingat bahwa pemisahan ini dilakukan agar kita tidak berdebat tentang puisi lebih lama lagi”. 

Lebih lanjut Boulton menjelaskan bahwa unsur lahir merupakan penampilan di atas kertas dalam bentuk larik-larik, nada puisi, seperti: irama, persajakan, intonasi, repetisi, dan perangkat kebahasaan lainnya. Struktur batin puisi terdiri dari kaidah sastra yang meliputi: tema, urutan logis antar kata, antar larik, antar bait, pola asosiasi, pola citra dan emosi. Bentuk fisik dan bentuk batin puisi merupakan kesatuan yang bulat dan utuh menyaturaga tidak dapat diceraiberaikan dan merupakan kesatuan yang padu. Jalinan makna dalam membentuk kesatuan dan keutuhan puisi menyebabkan puisi lebih bermakna dan lebih lengkap.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian puisi adalah bentuk kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif yang disusun dalam media bahasa multidimensional yang bersifat puitis. Puisi juga merupakan gabungan struktur batin dan struktur fisik yang keduanya tidak dapat diceraiberaikan. 

DEFINISI PUISI DAN FUNGSI

a. Definisi
Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

HB. Jassin (1991: 40)
Puisi adalah pengucapan dengan perasaan. Seperti diketahui selain penekanan unsur perasaan, puisi juga merupakan penghayatan kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya di mana puisi itu diciptakan tidak terlepas dari proses berfikir penyair. Bahkan aktivitas berfikir dalam puisi merupakan keterlibatan yang sangat tinggi, seperti yang diungkapkan Matheew Arnold yang dikutip Situmorang : “Poetry is the highly organized form of intellectual activity” (Situmorang, 1983: 7).

Lebih lanjut Matheew Arnold mengatakan puisi adalah satu-satunya cara yang paling indah, impresif, dan yang paling efektif mendendangkan sesuatu. Matthew Arnord juga mengungkapkan, puisi adalah. kritikan tentang kehidupan menurut keadaan yang ditentukan oleh kritikan untuk kritikan itu sendiri melalui beberapa peraturan tentang keindahan dan kebenaran yang puitis.

John Dryen, puisi adalah musik yang tersusun rapi. Puisi adalah nada yang penuh keaslian dan keselarasan menurut Isaac Newton (Situmorang, 1991: 8–9).

Thomas Chalye yang dikutip Waluyo mengatakan puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musikal (Waluyo, 1991 : 23 ). Selain unsur musikal, puisi juga merupakan ekspresi pikiran dan ekspresi perasaan yang bersifat imajinatif.

Samuel Johnson, puisi adalah seni pemaduan kegairahan dengan kebenaran, dengan mempergunakan imajinasi sebagai pembantu akal pikiran.

William Wordsworth, puisi adalah luapan spontan dari perasaan yang penuh daya, memperoleh rasanya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali ke dalam kedamaian. puisi adalah pengucapan yang imajinatif dari perasaan yang mendalam, biasanya berirama. Pengucapan secara spontan tentang perasaan yang memuncak timbul dari daya ingatan ketika berada dalam keadaan tenang.

Lord Byron, puisi adalah lavanya imajinasi, yang letusannya mampu mencegah adanya gempa bumi.

Lescelles Abercrombie, puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat. 

Theodore Watts - Dunton (Situmorang, 1980:9), puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

Carlyle, puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik.

Samuel Taylor Coleridge, puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah.

Putu Arya Tirtawirya (1980:9), puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Herman J. Waluyo, puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

Edgar Allan Poe, puisi adalah adalah ciptaan tentang sesuatu keindahan dalam bentuk berirama. Citarasa adalah unsur yang diutamakan. Hubungan dengan budaya intelek atau dengan suara hati hanya merupakan hubungan yang selintas. Jika bukan secara kebetulan, ia tidak akan mengena langsung dengan fungsi utamanya atau dengan kebenaran.

Andrew Bradley, puisi adalah terdiri daripada rangkaian pengalaman tentang bunyi, image, pemikiran dan emosi-yang kita alami sewaktu kita membacanya dengan cara sepuitis mungkin.

Edwin Arlington Robinson, puisi adalah bahasa yang menyampaikan sesuatu yang sukar hendak dinyatakan, tidak dapat diperkirakan puisi itu benar atau sebaliknya.

Auden, puisi lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

Baha Zain, puisi tidak berbicara segalanya dan tidak kepada semua. Ia adalah pengucapan suatu fragmen pengalaman dari suatu keseluruhan seorang seniman.

Muhammad Hj. Salleh, puisi adalah bentuk sastra yang kental dengan musik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana.

Shahnon Ahmad, puisi adalah record dan interpretasi pengalaman manusia yang penting dan digubah dalam bentuk yang paling berkesan.

Usman Awang, puisi bukanlah nyanyian orang putus asa yang mencari ketenangan dan kepuasan dalam puisi yang ditulisnya. Tapi puisi ialah satu pernyataan sikap terhadap sesuatu atau salah satu atau keseluruhan kehidupan manusia.

A. Samad Said, puisi pada hakikatnya adalah satu pernyataan perasaan dan pandangan hidup seorang penyair yang memandang sesuatu peristiwa alam dengan ketajaman perasaannya. Perasaan yang tajam inilah yang menggetar rasa hatinya, yang menimbulkan semacam gerak dalam daya rasanya. Lalu ketajaman tanggapan ini berpadu dengan sikap hidupnya mengalir melalui bahasa, menjadilah ia sebuah puisi, satu pengucapan seorang penyair.

b. Fungsi
Matthew Arnold, puisi merupakan keistimewaan tersendiri, ia memberikan sumbangan kepada perbendaharaan pengalaman atau pengetahuan manusia.

Aristotle, puisi yang bersifat tragis berupaya membersihkan kerohanian manusia melalui rasa simpati atau belas kasihan

Maliere, puisi mampu membawa manusia ke arah jalan yang lurus disamping menggelikan hati.

Shelley, puisi memperkuat organ moral manusia sama seperti pendidikan jasmani yang memperkuat urat-urat dalam badan, dan puisi juga bisa membawa kita untuk melihat apa yang kita tidak pernah kita lihat, untuk mendengar apa yang tak pernah kita dengar.

Waldo Emerson, puisi mengajar sebanyak mungkin dengan kata-kata sedikit mungkin.

Shahnon Ahmad, puisi adalah untuk menyemarakkan kesadaran. Umtuk memanusiakan kembali manusia itu, meninggikan budi pekerti, membentuk perwatakan dan juga membangkitkan semangat untuk bertindak.

Usman Awang, puisi adalah untuk menimbulkan kesedaran atau keinsafan dalam diri dan hati.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat dirumuskan bahwa puisi adalah bentuk karangan kesusastraan yang mengungkapkan pikiran dan mengekspresikan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama secara imajinatif, dengan menggunakan unsur musikal yang rapi, padu dan harmonis sehingga terwujud keindahan. 

Jadi puisi adalah cara yang paling indah, impresif dan yang paling efektif dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Ada juga yang mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan.

Yang Membedakan Puisi dari Prosa
Slamet Mulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.

Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).

Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)

Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.

UNSUR-UNSUR PUISI
Sebuah puisi merupakan ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya dalam satu bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu. Secara garis besar, sebuah puisi terdiri atas 7 unsur, yaitu: tema, suasana, imajinasi, amanat, nada, suasana, dan perasaan. Sedangkan prinsip dasar sebuah puisi adalah berkata sedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin (Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8)).

Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik , bait, bunyi, dan makna. Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut:
(1) Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.

(2) Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan.

(3) Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna. Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi.

(4) Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait. Sedangkan irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya (karena sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata. Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan.

(5) Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah misi penulis puisi disampaikan.

Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur; menurut pendapat Richards dan Waluyo, yaitu "struktur batin dan struktur fisik".
a. Struktur batin
Struktur batin puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1)   Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2)   Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3)   Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4)   Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.

b. Struktur fisik
Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1)   Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2)   Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
(3)   Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
(4)   Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5)   Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
(6)   Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

Disarikan dari berbagai sumber;
http://sutondoscript.blogspot.com/2011/04/landasan-teori-pengertian-puisi-secara.html
http://sastrahobiku.wordpress.com/2013/05/09/puisi-dan-pengertiannya
http://sastrahobiku.wordpress.com/2013/05/09/pengertian-dan-definisi-puisi
http://sastrahobiku.wordpress.com/2013/05/09/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya
http://lusianasianturi.blogspot.com/2013/02/teori-puisi.html
http://eprints.uny.ac.id/9823/3/BAB2%20-%2007204244030.pdf
http://aamaliyahm.blogspot.com/2013/05/teori-sastra-puisi.html

Kritik dan masukan/saran, silakan berbagi.
Selengkapnya: Pengertian, Definisi dan Unsur Puisi

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas