Genre Sastra dan Puisi

Friday, 14 February 2014

Genre Puisi itu cuma empat: Lirik, Epik/Naratif, Dramatik, dan Didaktik. 

Balada adalah contoh Puisi Naratif kerna berkisah tentang sebuah peristiwa.

Alexander Pope bukan nulis puisi esei tapi menulis puisi biasa yang isinya membicarakan isu-isu seperti "apa itu manusia", "apa itu esei" dan yang semacamnya. Pola persajakan Pope tradisional khas Bahasa Inggris. Mungkin puisi Pope bisa dikategorikan sebagai Puisi Didaktik kerna bersifat risalah atas suatu pokok.

Ada yang disebut "prose poetry" dan puisi jenis ini adalah cerpen pendek yang liris. Sangat populer di kalangan penyair Prancis abad 19 seperti Baudelaire dan Rimbaud. Disebut "prose poetry" kerna pola persajakannya seperti prosa (gak ada rima dsb yang biasa ditemukan dalam pola persajakan tradisional, seperti pada Pantun di Indonesia misalnya), berkisah macam cerpen tapi lebih pendek daripada cerpen dan bukan cerpen tapi puisi lirik.

Kesalahan lain dalam sejarah Sastra Indonesia adalah begitu saja memakek istilah "puisi mbeling" dan "puisi mantra" yang diciptakan penyairnya. Gak ada kedua jenis puisi itu! Yang benar adalah bahwa keduanya termasuk dalam jenis puisi yang disebut "Nonsense Poetry" dan puisi jenis ini ada di kebanyakan budaya dan pernah sangat populer dalam Sastra Inggris dengan Tokoh terkenalnya Edward Lear dan Lewis Carroll.

(Saut Situmorang)

----------------------------------------------------------

Mengenai posisi poetical essay Pope, ia adalah esei, opini, jadi ESEI DAPAT DITULIS DALAM BENTUK PROSA ATAU PUISI. Ini ada hubungannya dengan distingsi seni dengan ilmu pengetahuan dalam divisi modern setelah French Quarrel, yang merupakan kelahiran sastra modern. Di saat itu puisi tak lagi dipandang sebagai geometri tetapi sejarah, ia tak lagi dipandang sebagai wilayah akal, tetapi imajinasi, yang di sini, berbeda dengan sebelumnya imajinasi dibedakan dengan akal (sebelumnya tak ada pembedaan antara keduanya). KETIKA PUISI DIPANDANG HANYA SEBAGAI WILAYAH IMAJINASI, MAKA IA TAK LEBIH TAK BUKAN ADALAH OPINI, di tingkat inilah PUISI=ESAI.

Fontenelle implies as much in contrasting the 'endless' disputes of 'rhetoric' with the terminable disagreements of 'science'; not only is the former the traditional home of the merely probable (opinion), but Fontenelle describes the main 'trick ofeloquence' as balancing opinions on both sides of a question- a fair description of argument in utramque partem as Academic sceptics such as Cicero understood it, and a method that yields only probabilities. (lihat Patey, Probability, ch. 1, dan soal koneksi imajinasi dengan opini, hal. 134-6.)

Pope adalah pendukung pendivisian Perault and Fontenelle.


Dalam pengantar An Essay on Man, Pope menjelaskan mengapa ia memiih menulis esainya dalam bentuk puisi, tepatnya puisi dalam tradisi Horatian, dan tidak prosa.

Apa saja genre-genre dalam sastra? Karangan ilmiah, esai filsafat, sains, tulisan bisnis, teks hukum, sejarah (beserta sub genrenya: biografi dan otobiografi), naskah drama, puisi, novel, cerpen, adalah genre-genre dalam sastra.

(Nuruddin Asyhadie)

Sumber https://www.facebook.com/groups/233309230175455/permalink/244386269067751 

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Literature     
http://poetry.eserver.org/essay-on-criticism.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Nonsense_verse  
http://www.bartleby.com/201/1.html
http://books.google.co.id/books?id=tt4NAAAAQAAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false

0 Komentar:

Post a Comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas