Komponen Utama Pada Cerita

Tuesday, 3 April 2012

Setiap penulis mempunyai gaya sendiri-sendiri. Trade mark seni yang tidak berbeda jauh dengan lukisan. Ada ciri khas yang sulit di sembunyikan dari masing-masing gaya. Meskipun begitu, cerita masih memiliki komponen utamanya sendiri, terlepas dari siapa penulis atau penceritanya.
 
Di bawah ini adalah potongan komponen cerita yang saya ambil dari Dakota State University di web mereka tentang Creative Writing: Fiction.

Komponen utama cerita

1. Plot: pengorganisaisan peristiwa yang akan ditempatkan pada cerita.
2. Karakter: adalah obyek (binatang atau orang) yang akan menjadi pemeran atau tokoh pada  cerita.
3. Setting: waktu dan tempat di mana cerita berlangsung.
4. Dialog: kata-kata yang diucapkan oleh karakter pada cerita.
5. Point of view: sudut pandang karakter. Misalnya sudut pandang orang pertama atau ketiga.
6. Tema: ide utama atau intisari cerita.
7. Style: gaya bercerita si penulis dalam menggunakan kata-kata.

Semoga bermanfaat.
Sumber2: disini.
Selengkapnya: Komponen Utama Pada Cerita

Keamanan Mengirimkan Naskah Ke Penerbit

Artikel di bawah ini adalah rangkaian percakapan di milis Escaeva antara moderator dan anggota milis. Anggota milis bernama Aulya mempertanyakan tentang keamaan mengirimkan naskah lengkap ke penerbit dan moderator Escaeva (mas Didik Wijaya dan dan Bunga Mega) menjawab. 

Percakapan tersebut saya rangkum menjadi artikel seperti di bawah ini. Semoga berguna, terutama bagi anda para penulis pemula yang belum tertambat dan jatuh hati pada salah satu penerbit.

Pertanyaan dari Aulia
Banyak banget yang nanya ama saya, apakah aman ngirimin naskah full version ke penerbit?
Nah saya juga bingung untuk jawabnya..masalahnya kan emang harus ngirim seluruh naskah biar bisa di riview (udah saya jelasin) tapi mereka masih pada nanya, tanda buktinya apa? Terus misalnya disalah gunakan gimana? (namanya juga manusia)...

Nah untuk itu saya minta dengan sangat temen2 semua tolong bantu jawab..Apalagi Mas Didiek Wijaya....tolong pencerahannya mas..

Terima kasih
Jawaban
Jawaban dari mas Didik Wijaya dan Bunga Mega saya rangkum dan saya jadikan satu seperti dibawah ini:

Tips buat yang mengirim naskah ke penerbit:
  1. Tanya teman yang pernah mengirimkan naskah ke penerbit yang bersangkutan. Apa pernah punya pengalaman buruk.
  2. Tidak ada salahnya mengontak terlebih dahulu penerbit tersebut via email atau telepon. Tanya dulu, jangan dikirim naskahnya dulu.
  3. Salah satu faktor yang menunjukkan penerbit yang 'serius' adalah memiliki alamat usaha yang jelas.
  4. Catat tanggal kapan naskah dikirim. Kalau kirim via email cc juga email tersebut ke Anda sendiri. Untuk jaga-jaga nanti.
  5. Cari tahu siapa yang bertanggung jawab menerima dan memeriksa naskah. Biasanya ada orang yang khusus tugasnya itu. Kalau ada apa-apa Anda tahu siapa yang perlu dikontak.
  6. Kalau perlu jangan kirim semua naskah. Sebagian dulu saja, misalnya satu atau dua bab dulu. Biasanya penerbit tidak berkeberatan. Kalau penerbit ok dan tertarik untuk menerbitkan, baru kirim semua.
  7. Jika mengirimkan via email bisa dipertimbangnya mengirimkan dalam format PDF yang relatif lebih aman dari format Word (Ingat, tetapi tidak aman 100% juga, karena namanya format digital tetap saja dengan perkembangan teknologi tetap bisa dibajak)
  8. Pastikan anda mengetahui kredibilitas penerbit tersebut, apakah penerbit tersebut benar-benar berjalan sesuai prosedur sebagai penerbit yang baik dan profesional.
  9. Saat mengirimkan naskah, bisa anda catat atau simpan bukti pengiriman, tanggal dan simpan hard copy naskah anda. Jika sewaktu-waktu ternyata ada penyalahgunaan terhadap naskah, anda dapat membuktikannya.
Bagaimanapun jika anda terus merasa takut untuk mengirimkan naskah, tentunya akan menghambat keberhasilan anda dalam mneerbitkan sebuah buku, bukan?

Lagipula...dalam aspek apapun, plagiatism dan pembajakan terhadap ide orisinil seseorang tidak dapat dihindarkan. Siapapun bisa membajak karya anda, namun pastikan dan percaya pada diri anda sendiri "ide bisa datang kapan dan dimana saja"

Daripada takut 1 karya anda di bajak, lebih baik memperkaya diri dengan bermacam-macam ide.

Sumber disini.
Selengkapnya: Keamanan Mengirimkan Naskah Ke Penerbit

Cara Sederhana Menonjolkan Tokoh Cerita

Seringkali kita menulis dengan langsung membuat cerita dan tidak terlalu memperhatikan bagaimana karakter yang terlibat di dalamnya. Padahal karakter-karakter itulah yang membuat cerita bernyawa. Kekuatan karakter sangat menentukan bagaimana “rasa” sebuah cerita akan dinikmati oleh pembaca. 

Meskipun ada beberapa teori untuk membuat karakter, saya pribadi lebih menyukai proses ini dengan menggunakan curiculum vitae. Mirip dengan CV yang biasa digunakan ketika melamar kerja. Tentu saja akan lebih baik jika digabung dengan teori lain utuk mendapatkan bentuk karakter yang kuat.

Contoh:
Tokoh protagonis:
  1. Nama: Fernando.
  2. Tempat / tanggal lahir: Jakarta / 13 – Juli – 1985.
  3. Tinggi / BB: 178 cm / 70 kg.
  4. Tempat tinggal: Jakarta pusat.
  5. Pekerjaan: Pengusaha.
  6. Hobi: musik dan olahraga
  7. Wajah: tampan.
  8. Kulit: putih.
  9. Bau badan: wangi.
  10. Cara bicara: tenang, sopan, suara berat.
  11. Gaya berpakaian: trendi, terkadang kasual khas anak muda.
Sekarang, cobalah membuat rangkaian cerita yang melibatkan tokoh di atas.

Contoh:
Fernando memasuki ruangan kerjanya. Langkah berat dan sikap tegak membuat wajah tampanya semakin terlihat. Aura wibawa sebagai seorang pimpinan segera mengisi seluruh ruang kerja. Seluruh karyawan segera berdiri dan memberi salam hormat.

Tokoh antagonis:
  1. Nama: Jambrong.
  2. Tempat / tanggal lahir: Jakarta / 12 – Juni – 1975.
  3. Tinggi / BB: 178 cm / 78 kg.
  4. Tempat tinggal: Jakarta pusat.
  5. Pekerjaan: Preman pasar.
  6. Hobi: mabuk, judi dan malak orang.
  7. Wajah: bercodet dan ada bekas luka di wajahnya.
  8. Kulit: hitam pekat.
  9. Senjata: badik.
  10. Cara bicara: suara keras, tidak sopan dan suka berteriak.
  11. Gaya berpakaian: jeans belel dan kotor, kaos oblong hitam dan jaket kulit lusuh warna hitam.
Sekarang, cobalah membuat rangkaian cerita yang melibatkan tokoh di atas.
Setelah membuat sedikit cerita dari masing-masing karakter, cobalah untuk membuat cerita dengan melibatkan kedua karakter tersebut pada satu ruang yang sama.

Bagi saya, CV ini sangat berguna ketika membuat novel. Pada jalian cerita yang panjang, kadang tokoh tertentu “lama” tidak tersentuh sehingg kita lupa detilnya. Dengan adanya CV, saya bisa melihat kembali tokoh yng bersangkutan. Kita tidak akan kehilangan pegangan pada tokoh tertentu.

Dengan membuat CV, anda akan terbantu ketika membuat cerita karena dapat membayangkan bagaimana si tokoh tersebut tampil. Bagaimana intonasi suaranya, bau tubuhnya, gerak badan dan detil lainnya. Cerita akan terasa lebih bernyawa ketika anda mampu memasuki ruang tiga dimensi cerita, seolah menonton film.

Tentu saja bagiaman CV ini dibuat tergantung pada kebutuhan anda. Masukkan saja semua kebutuhan sesuai keinginan anda. Bahkan catatan yang terdengar tidak masuk akal sekalipun dapat anda masukkan pada CV sang tokoh (ini sangat berguna ketika anda menulis cerita sihir, misalnya.)

Semoga bermanfaat.

Sumber disini.
Selengkapnya: Cara Sederhana Menonjolkan Tokoh Cerita

Tips Penulisan Flash Fiction: Seberapa Pendek Anda dapat Bercerita

Salah satu seni yang tumbuh bersama laju internet adalah Flash Fiction. Ketika pengguna mencari naskah-naskah pendek yang lebih mudah dibaca pada layar komputer.

Flash fiction adalah cerita yang sangat pendek. Ketika menuliskan sebuah flash fiction, ibarat anda maju ke medan perang dengan amunisi kata-kata yang terbatas. Untuk menyelesaikan cerita dan memenangkan perang, anda membutuhkan strategi dan teknik-teknik tersendiri.

Flash fiction sendiri memiliki definisi adalah sebuah cerita dengan panjang kata antara 300 sampai 1000 kata. Lebih panjang dari micro fiction (10-300 kata) tetapi lebih pendek cerita pendek yang telah kita kenal sebelumnya (3000-5000 kata.)

Flash fiction biasanya adalah sebuah cerita dengan satu tindakan atau langkah, terkadang merupakan titik puncak dari beberapa kejadian yang tidak tertulis atau disebutkan.


Artikel ini menawarkan beberapa teknik penulisan flash fiction. Anda dapat menggunakan teknik di bawah ini secara terpisah atau menggabungkannya.

Sebelumnya, saya membuat sebuah flash fiction berdasarkan teori ini. Saya jadikan contoh dan mari kita sama-sama belajar.

===================================================
Contoh cerita (FF saya ini saya sertakan sebagai pembanding)

Supadmi menyesali mimpi

Supadmi mencintai sang suami. Itu pasti. Malam ini Supadmi bermimpi indah sekali. Tentang hangat matahari dan kilau sungai-sungai.

Supadmi ingin berbagi mimpi dengan sang suami.

ooOOoo

Raga Sartono sakit luar biasa oleh luka-luka. Semakin perih oleh terjangan air samudra. Sartono masih bernyawa ketika tangan-tangan jahat melempar tubuhnya. Dia mati mengambang keesokan harinya.

Sartono mencintai sang istri. Itu pasti. Di akhir hayatnya, dia tak mau berbagi derita dengan Supadmi sang istri.

ooOOoo

"Oh, Sang Widhi. Kenapa aku kejam sekali. Memimpikan indahnya kilau sungai-sungai?" Raung Supadmi ketika menerima hasil otopsi.

“Tak pantas aku bermimpi kilau sungai, ketika raga suamiku tersayat pisau belati.” Dia menyesali mimpi-mimpinya.

Supadmi meraung meratap. Seperti Gandari yang menyesali kebutaan Destarata, Supadmi bersumpah tak akan bermimpi lagi.

===================================================

1) Ide kecil

Cobalah untuk melihat ide yang lebih kecil pada sebuah cerita besar.

Untuk menuliskan hubungan antara orangtua dan anak, anda membutuhkan novel untuk menuliskannya. Pikirkan tema yang lebih kecil dari tema di atas. Gambarkan bagaimana perasaan anak yang keinginnnya tidak terpenuhi. Bagaimana sikap bapak pada tagihan telepon yang membengkak. Bagaimana ibu menyikapi rapor merah anaknya.

Cari dan pikirkan topik-topik kecil lalu mulailah membuat cerita.

Pada contoh cerita di atas, ide sederhana yang saya pakai adalah kesetiaan pasangan.

2) Lupakan pengantar pada pembukaan cerita

Ketika anda menuliskan cerita, jangan mengambil dua halaman hanya untuk menjelaskan pengantar cerita. Cari cara untuk menjelaskan semuanya pada paragraph pertama, lalu lanjutkan dengan sisa cerita.
Pada contoh di atas, saya memulai cerita tentang kejadian yang dialami oleh sang istri.

3) Mulai dari pertengahan aksi

Senada dengan teknik nomor 2, mulailah bercerita di bagian tengah aksi. Seorang pria berlari. Bom berhasil dijinakkan. Seekor monster di dalam rumah. Anda tidak perlu mendeskripsikan lebih jauh lagi. Pembaca dapat membuat persepsinya sendiri berdasarkan cerita anda.
Saya memulai cerita di atas dari pertengahan aksi.

4) Fokus pada satu gambaran terkuat

Carilah satu gambaran terkuat lalu fokus hanya pada gambaran itu pada keseluruhan cerita.
Gambaran terkuat yang menjadi bahasan pokok adalah kesetiaan yang sekaligus menjadi ide cerita.

5) Buatlah pembaca menebak-nebak sampai akhir cerita

Pertahankan misteri cerita selama mungkin. Pembaca mungkin tidak memiliki gambaran tentang apa yang terjadi pada sebagian besar cerita. Ini akan memaksa mereka untuk terus membaca. Di bagian akhir cerita, anda harus membayarnya dengan eksekusi cerita yang menarik.
Pada contoh di atas yang terdiri dari tiga segmen, baru pada segmen terakhir semua cerita terhubung.

6) Gunakan referensi atau rujukan

Dengan menggunakan referensi yang mengarah pada sebuah kejadian (yang terkenal) anda dapat menghemat banyak kata. Rujuk ke peristiwa sejarah. Gunakan situasi yang terkenal. Misalnya jika anda membuat cerita dengan set kapal Titanic, anda tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi pada kapal itu karena semua orang telah mengetahuinya. Anda dapat menggunakan kata-kata anda untuk membuat gambaran yang lain.
Perhatikan penggunaan kisah Gandari dan Destarata yang saya masukkan. Cerita terkenal bagian dari Mahabarata. Penggalan kisah itu mampu membawa pikiran ke kisah komplek dan memberikan gambaran bagaimana kuatnya niat sang istri.

7) Teknik memutar atau kembali ke awal cerita.

Mirip dengan teknik nomor 5, teknik ini mengijinkan penulis untuk membuat beberapa eksekusi akhir pada bagian akhir cerita. Bayangkan saja gaya sebuah guyonan, bagaimana guyonan baru terlihat lucunya di bagian akhir.
Saya tidak memasukkan teknik ini pada cerita di atas. Cari ide sendiri ya...:-)

Menulis sebuah flash fiction merupakan tantangan. Analoginya, anda seperti tentara yang maju ke medan laga dengan sedikit peluru. Dengan sedikit kata-kata, anda harus bisa membuat sebuah cerita.
Sebuah tantangan menarik tentunya. Jadi, kenapa anda tidak mencoba membuat sebuah flash fiction sekarang?

Ada masukan? Silakan anda tambahkan tips dan mari kita tunjukkan seberapa pendek kita dapat bercerita !

Terjemahan bebas dari artikel G.W. Thomas dengan penambahan contoh.

Sumber disini
Selengkapnya: Tips Penulisan Flash Fiction: Seberapa Pendek Anda dapat Bercerita

Prinsip Dasar Penulisan: Show, Don’t Tell

Prinsip ini tentu telah sering didengar oleh para penulis. Kalimat ini terdengar mudah diaplikasikan tetapi kadang membuat kita kebingungan pada batas sebenarnya dari prinsip ini. Apa maksud sesungguhnya? Kalau toh sudah memahami arti sebenarnya lalu akan meningkat menjadi pertanyaan: “apakah saya sudah cukup mampu untuk memenuhi maksud kalimat itu?” 

Sebagai gambaran, pertanyaan apakah tulisan anda sudah mampu membawa pembaca masuk ke dunia tiga dimensi layaknya menonton film? Jika sudah, berarti Anda telah berhasil memenuhi prinsip ini.

Beberapa tips yang saya dapatkan dari http://www.dailywritingtips.com/ di bawah ini mungkin dapat membantu Anda menulis, memaparkan dan menggambarkan cerita dengan lebih baik.

1. Gunakan dialog
Salah satu cara memberi gambaran cerita yang baik adalah melalui dialog. Dengan dialog Anda memiliki ruang untuk menggambarkan karakter, emosi dan mood tokoh cerita.
Bandingkan dua penggambaran di bawah ini:
1. Ibu marah sekali pada Tono karena sering memecahkan gelas.
2. “Berapa kali kau pecahkan gelas, Tono?!” Teriak ibu.
Emosi dan suasana lebih tergambarkan pada contoh nomor dua.

2. Gunakan bahasa yang “tajam” mewakili
Untuk pembaca yang sudah terbiasa dengan gaya Anda, mereka perlu untuk melihat, merasakan, mendengarkan dan menyentuh dunia yang Anda ceritakan. Cobalah untuk menggunakan bahasa yang memberikan beberapa gambaran masuk akal dan jangan hanya sekilas. Point ini harus Anda lakukan ketika tulisan Anda telah cukup di kenal. Anda beda antara di kelas yang lebih tinggi dari penulis pemula, butuh lebih banyak “modal” untuk tetap menjaga kualitas tulisan Anda.

3. Jadilah deskriptif
Tentu Anda masih ingat tentang pelajaran bahasa Indonesia tentang kata sifat dan kata keterangan ketika berada di sekolah dasar. Ketika kita berbicara soal deskriptif, kita akan segera kembali mengingat pelajaran-pelajaran itu. Tetapi perlu Anda ingat bahwa menjadi deskriptif lebih dari sekedar memasukkan kata-kata deskriptif. Anda harus berhati-hati untuk memilih kata yang tepat dan menggunakannya untuk menggambarkan maksud Anda. Tepat, jelas dan tanpa banyak menghamburkan kata.

Perhatikan contoh deskripsi antara Tell dan Show di bawah ini:

Tell: Dia duduk di kursi sambil memegang gitar.
Tidak ada yang salah dengan kalimat di atas. Kalimat di atas memberikan informasi dasar pada pembaca, tetapi tidak memberikan gambaran suasana yang terjadi.

Bandingkan dengan contoh di bawah ini:

Show: Matanya terpejam, dan dia memeluk gitar dengan lengannya layaknya memeluk seorang kekasih dan tak ingin melepaskannya.

Contoh kedua memberikan informasi dasar dan memberikan gambaran pada keterangan dasar itu. Contoh itu juga menggunakan kalimat tambahan untuk membantu menciptakan penggambaran yang tepat.

Ketika menggunakan deskripsi, penting bagi Anda untuk tidak terlalu memaksa karena akan semakin mengaburkan deskripsi. Alih-alih memperjelas gambaran yang ingin Anda sampaikan, tetapi justru akan mengaburkannya.

4. Spesifik, jangan samar
Penggunaan kalimat yang samar dan kabur akan membingungkan pembaca. Jangankan mengetahui maksud Anda, bisa-bisa pembaca akan sibuk menebak maksud Anda dan membuatnya frustasi.

Perhatikan contoh kalmat di bawah ini:

“Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya sepanjang hidupku.”
Alangkah baiknya jika Anda menggali dan mendeskripsikan perasaan itu lalu putuskan cara terbaik untuk menggambarkan perasaan itu pada pembaca.

Semoga berguna.

Sumber disini.

Tambahan,
Saya rasa ini senada dengan quote dari Anton Chekhov; "Jangan ceritakan pada saya bahwa bulan sedang bersinar; tapi tunjukkan kilau cahaya bulan di atas pecahan gelas kaca."
Selengkapnya: Prinsip Dasar Penulisan: Show, Don’t Tell

(Tips Penulisan) Klise: "Kesalahan" Dasar pada Penulisan

Klise bisa datang dengan banyak bentuk, cara  dan ukuran. Klise pada tulisan yang melekat pada banyak prasa dan kalimat.  Saya mencoba mencatat kesalahan yang sering terjadi pada buku-buku yang pernah saya baca. Semoga bermanfaat.

1. Klise “bawaan”

Masih ingat cerita yang biasa anda dengar ketika kecil? Beberapa bagian cerita mungkin menempel di bawah sadar anda.
Sebagai contoh, berapa banyak buku yang dimulai dengan kalimat “pada suatu hari” atau cerita tentang tokoh yang terbangun tiba-tiba karena dering alarm? Tempelan klise yang seringkali tak disadari oleh penulis. Memperlakukan bukaan cerita sama dengan bukaan hari. Awal cerita – tanpa sadar – dianggap sebagai awal hari. Klise bukan?

Jika anda melakukan itu, jangan ulangi lagi. Klise.

2. Percakapan ala telepon

Klise “mematikan” yang lain adalah mengadaptasi gaya percakapan telepon pada percakapan cerita anda.
Coba bayangkan percakapan di bawah ini, adegan pertemuan dua orang teman.

“Halo Jon.” Sapa Amir.
“Halo, Mir.” Jawab Jono.
“Apa kabar?” Tanya Amir.
“Baik.” Jawab Jono
“Aku kangen.”
“Sama.”

Tidak indah bukan? Kalau anda masih melakukannya, segera ubah!

3. Detil yang menyiksa

Maksud hati ingin memberikan gambaran yang baik, tapi justru membingungkan pembaca. Percayalah kalau pembaca cukup cerdas untuk menggunakan persepsi dan imajinasinya pada detil kecil yang tak perlu. Detil, jelas berbeda dengan bertele-tele.  Bagi pembaca, bukankah lebih baik membeli novel 200 halaman yang padat daripada 400 halaman yang bertele-tele.  Prinsip dasar penulisan “show, don’t tell” berlaku di sini.
Di bawah ini adalah ilustrasi berangkatnya tokoh bernama Tono menuju kantor.

Tono telah berpakaian dan segera menuju garasi. Dia mengambil kunci, membuka pintu, menyalakan mesin, mengoper persneling dan segera menyusuri jalan raya.

Anda bisa melihat bertele-telenya cerita di atas? Hanya 1 scen sederhana dan terasa menyiksa.

4. Detil yang berantakan

Perhatikan penggalan di bawah ini:

Tono bangun lebih pagi, dia segera beranjak dari tempat tidur dan menata rapi semuanya. Lalu dia mengambil handuk di jemuran dan segera menuju kamar mandi. Bersenandung sambil menikmati pancuran air. Sabun yang dipakainya adalah produk terkenal dari Eropa. Iklannya tayang di televisi setiap hari dan papan reklamenya menghiasi jalan-jalan utama. 20 menit akhirnya Tono selesai mandi. Tono tersenyum merasakan segarnya pagi.

Apa fokus dari penggalan di atas? Cerita tentang Tono yang sedang mandi jelas terganggu oleh detil sabun mandi.
Fokus!

Ada tambahan? Silakan anda tulis pada komen. Kita berbagi.
Artikel terkait, "show dont tell" dapat anda baca di sini...

Semoga bermanfaat.

Sumber disini
Selengkapnya: (Tips Penulisan) Klise: "Kesalahan" Dasar pada Penulisan

Chapter 9: Mencatat Huruf

Sunday, 1 April 2012

Membendung air mata yang sedang jatuh ini, tidak mudah bagiku. Karena terlanjur mengelupas rasa sakit ini. Kau sungguh kejam dan tega. Oh mengapa engkau tega melakukan ini? Sebab pula telah patah temali yang terikat. Telah aus oleh waktu. Mungkin?

Karena terlalu banyak juga beban di kepala. Membujur sampah berserakan. Tak ada tempat penampungan atau pembuangan yang layak. Lama-lama membusuk juga kan? Hehe.. Ada banyak kisah yang harus diselesaikan di meja maya ini. Di ruang maya yang luas amat ini. Aku hanya membutuhkan sikap konsisten dalam melarikkan huruf perhuruf. Lalu kau dapat membacanya dengan mimik sedih atau tertawa. Sebab dunia ini begitu beku untuk digenggam sendirian.

Ini bukan pula akhir dari sebuah kisah. Kukira ini adalah sebuah permulaan. Permulaan tentang rindu pada seseorang atau semacamnya. Luka pedih yang ditabur garam, tawa riang karena mendapat tautan hati pada seorang gadis yang diinginkan. Atau mungkin yang lain. Terserah menilai saja. Sebab duniaku dengan duniamu tentu berbeda bukan? Berbagi resah atau rindu sangat menyenangkan kukira. Okelah mari kita tulis saja kenangan yang ada. Setiap peristiwa adalah jejak manis yang baik untuk diabadikan. Di ruang maya ini, manalagi?

Next jemari ini harus kebal kram untuk memulai lagi. 

Jakal km 14 Jogja, 01 April 2012

*) Ekohm Abiyasa
Selengkapnya: Chapter 9: Mencatat Huruf

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas