Sastrawan Sejati, Tidak Takut Miskin

Friday, 6 June 2014

Sastrawan sejati berpikir dan bertindak dengan hati yang murni. Ia memahami kejayaan sebagai proses bersyukur. Ia memahami kejatuhan sebagai proses perbaikan diri. Ia akan lebih menghargai orang yang menganggapnya sebagai lawan tetapi bersikap tulus dan terus-terang daripada orang yang dianggapnya sebagai kawan yang bersikap manis di hadapan tetapi menghancurkan di belakang.

Sastrawan sejati selalu melihat setiap persoalan dari berbagai sudut pandang, juga dari pandangan yang bertentangan; ia tidak pernah memutuskan sikap atas sesuatu sebelum memiliki informasi yang cukup.

Sastrawan sejati, jika kalah dalam wacana pemikiran atau perdebatan, tidak akan menghancurkan lawan berpikir dan berdebatnya dengan menggunakan kekuasaan yang ada pada dirinya atau dengan menggunakan kekuasaan yang ada pada orang lain. Ia tidak akan pernah merampas pekerjaan dan hak-hak perdata orang lain dengan cara apa pun.

Sastrawan sejati tidak akan menggadaikan prinsip-prinsip kebaikan universal.

Sastrawan sejati tidak takut gertakan, tidak takut pada kekuasaan yang mengancam, tidak takut memperjuangkan kebenaran.

Sastrawan sejati, tidak takut miskin.  

(Cecep Syamsul Hari, April 2014).

Sumber: Sastra Digital, http://www.sastradigital.com/apps/blog/show/42093871-sastrawan-sejati-tidak-takut-miskin

0 Komentar:

Post a comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas