10 Kiat Menulis dari Ernest Hemingway

Tuesday, 13 May 2014

1. Menulislah di Pagi Hari
Memulai menulis ketika hari masih pagi akan memberi kamu waktu yang lebih leluasa untuk menyelesaikan tulisan. Selain itu, hal ini ditujukan agar kamu menjadikan menulis sebagai bagian dari kebiasaan harian. Lebih-lebih—karena dilakukan di pagi hari—menulis menjadi sesuatu yang kamu anggap sebuah kegiatan utama dalam rangkaian rutinitasmu.

2. Hindari Membahas Proses Kreatif dengan Orang Lain
“Bagaimana proses kreatif penulis?” adalah salah satu pertanyaan yang jarang sekali luput diajukan kepada penulis dalam kesempatan-kesempatan diskusi atau wawancara. Hemingway memilih untuk tidak menjawab pertanyaan ini ketika diwawancarai. Sebagian orang memprediksi bahwa tindakan itu dilakukan Hemingway karena ia khawatir jangan-jangan hal yang mestinya ia tulis dalam novelnya malah bocor lewat wawancara itu. Sebagian yang lain berprasangka lebih positif. Hemingway lebih suka membicarakan topik lain yang jauh lebih relevan dalam wawancara itu yang mungkin akan membantunya dalam proses menulis selanjutnya.

3. Menulis Sambil Berdiri
Aneh, ya? Hahaha… tapi, Hemingway memang benar-benar melakukannya. Sejak awal karir menulisnya, Hemingway berdiri menghadap ke mejanya lalu mulai menulis.

4. Nikmati Prosesnya dengan Sungguh-sungguh
Kiat yang satu ini sebenarnya tidak hanya berlaku dalam hal menulis. Secara umum, kita memang dianjurkan untuk menikmati tiap proses yang dilalui. Secara khusus, seorang penulis harus merasa nyaman berkutat dengan kata-kata. Penulis harus membangun ikatan khusus yang intim dengan tulisannya.

5. Catatlah Perkembangan Harian
Hemingway punya kebiasaan untuk melihat ulang tulisannya setiap selesai menulis. Tiap harinya, ia mencatat jumlah kata yang berhasil dirangkainya dalam rentang waktu satu hari di sebuah papan yang digantung di dinding ruang kerjanya.

6. Jangan Pernah Remehkan Kesederhanaan
Tidak semua hal harus dilakukan dengan ingar-bingar. Salah satu hal yang dicontohkan oleh Hemingway adalah keengganannya untuk bergantung pada mesin tik yang digunakannya untuk menulis. Ketika ia merasa kurang sreg mengetik, ia akan mengembalikan ‘rasa’ dengan menulis pakai pensil, sesuatu yang jauh lebih sederhana.

7. Menata Waktu untuk Bekerja dan Berhenti Bekerja
“Saya belajar untuk tidak memikirkan tulisan saya sejak saat saya berhenti menulis hari ini sampai akan mulai menulis lagi besok. Dengan begitu, alam bawah sadar saya yang akan melanjutkan pekerjaan itu. Sehingga di waktu yang sama saya harap saya justru bisa mendengarkan orang lain dan memperhatikan hal-hal lain.” Itu pernyataan Hemingway. Ia membagi waktunya untuk bekerja (menulis) dan untuk melakukan hal lain. Dengan cara ini, ia tidak diperbudak oleh pekerjaannya sendiri. Ia tetap bisa berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya, hitung-hitung agar bisa mendapatkan hal-hal baru yang bisa jadi akan mendukung karyanya.

8. Menulislah dengan Benar dan Jujur
“Yang harus dilakukan adalah menulis kalimat kebenaran. Tulislah kalimat paling benar yang kamu tahu.” –Ernest Hemingway
Kebenaran yang dimaksud dalam konteks ini bukan serta merta berarti fakta. Melalui tulisannya, penulis diharapkan mewartakan kebenaran, tentunya dengan jujur. Bagaimanapun bentuk dan gaya tulisan itu, penulis haruslah mempunyai hasrat dalam dirinya untuk membagikan kebenaran pada pembacanya.

9. Jatuh Cintalah
Nah lho! Perasaan ketika jatuh cinta biasanya memberikan efek yang baik pada tubuh dan psikis kita. Hal ini juga berguna bagi mereka yang menulis. Bangkitkanlah perasaan cinta pada pasanganmu atau pada orang yang kejatuhan hatimy. Dengan luapan rasa bahagia dari cinta itu, cobalah menulis.

10. Ketahuilah Banyak Hal, Tapi Jangan Tulis Semua yang Kamu Tahu
Menjadi penulis tentulah membutuhkan pengetahuan yang mumpuni dalam banyak hal, lebih-lebih tentang sesuatu yang ditulisnya. Belajarlah sebanyak-banyaknya namun, satu hal yang perlu diingat adalah tidak perlu mencantumkan semua yang kamu tahu itu dalam tulisanmu. Hemingway menghimbau para penulis untuk belajar mencoba mengabaikan sebagian informasi yang menjadi bahan tulisan. Tidak semua informasi itu harus ditulis. “… bagian yang diabaikan itu akan membangun kekuatan ceritamu dan membuat pembaca merasakan sesuatu yang lebih dari apa yang mereka pahami,” begitu pesannya.

Nah, itu tadi beberapa kiat menulis dari penulis kenamaan Ernest Hemingway. Siapa tahu bisa jadi tambahan referensi solusi untuk proses menulis kita. Jangan khawatir, masing-masing penulis punya kiat dan kebiasaannya sendiri untuk mengatasi permasalahan dalam menulis. Hemingway sudah membagikan ceritanya, bagaimana dengan kamu, Penulis?

MARIA PUSPITASARI, Editor Indie Book Corner.

Disarikan dari Top 10 Writing Tips of Ernest Hemingway, http://top10buzz.com/top-ten-writing-tips-of-ernest-hemingway/

4 Komentar:

membacasunji said...

wah, aku akan mempraktekkannya. tapi yang poin ke 9 kayaknya susah terlaksana hehehe...

*menyedihkan :(

Ekohm Abiyasa said...

Wkwkwkwk..

Coba diganti dengan yang lain, misal: boneka, senja, kamera, Tuhan atau apapun yang kiranya bisa membangkitkan rasa cinta. Cinta yang universal.

membacasunji said...

sudah mulai kulakukan sebelum baca posting ini, kakak guru.. hahahaha... itu contohnya di posting terbaruku yang ndak jelas entah apa. aku juga mulai kembali berburu foto2

Ekohm Abiyasa said...

Ya, teruslah berburu..

Post a Comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas