Sajak-sajak Aslan Abidin

Saturday, 4 January 2014

Tebesaya, Gadis Berputih Kebaya

—“di tebesaya,
aku gadis berputih-kebaya. telinga
berselip bunga kamboja, yang putik-sarinya
dapat kau lihat ranum di mataku.”—
tetapi, di tebesaya,
aku hanya lelaki-tualang dan kau berkebaya
ketat bersulam bunga mawar sehalus kulitmu
dengan songket hijau-merak melilit pinggulmu.
depan kedai tarot, saat aku
melintas lewat, kau sodorkan sebuah kartu.
“page of swords!” katamu.

aku tergagap bingung, kau tersenyum senang.
tahu apa aku
tentang kartu tarot? aku bahkan tak mampu
bedakan, gambar penyihir dengan penyair. lagi
pula, tak akan ada ramalan menarik dari
nasibku.
di tebesaya,
aku terkesima pura
kecil tepi persawahan, lengkung penjor,
uap harum dupa sesajen, suara dekur tekukur
dari rimbun dahan beringin.
tetapi sungguh,
wahai gadis berputih-kebaya,
tak akan ada ramalan menarik dari nasibku.
bahkan hingga sejauh tebesaya,
selain putik-sari yang ranum di matamu,
aku masih saja pendatang asing bagi jiwaku.
ubud-makassar, 2004-2008
page of swords, simbol dalam kartu tarot yang
mengacu ke anak muda (perempuan-lelaki) terpelajar.


Sungguh, Aku Ingin Jadi Ustaz

—“engkau
tentu masih mengenal aku, juga seragamku:
baju putih lengan pendek dengan rok abu-abu.
engkau
tentu tak melupakan aku,
ada tato di bawah pusarku, bertuliskan:
milik departemen pendidikan dan kebudayaan
republik indonesia, tidak diperdagangkan.”—
aku tentu
mengenal dan tak melupakanmu. dulu
berkejaran riang di halaman sekolah, kini
berkeliaran penuh mesum di banyak mal. tapi
sungguh, aku ingin jadi ustaz, mengenakan sorban,
baju panjang, dan turun ke jalan mengobarkan
kerusuhan.
o ya, kau
sepertinya belumlah tahu,
aku sekarang juga punya tato di bawah pusar:
bergambar seekor burung dengan sayap dan ekor
mengembang, di hadapannya ada buku terbuka, di
atasnya melengkung tulisan: tut wuri handayani.
aku memang kadang berharap, suatu waktu kau
akan melihat dan membacanya. tapi sungguh, aku
ingin jadi ustaz, dan sesekali membayangkan kau,
menjerit-jerit dalam sebuah film biru.

Yogyakarta, 2007


Polispermigate

perempuan jalang bertubuh pualam
pada simpang jalan itu menyimpan
bejana di tubuhnya. ia menjadi tempat minum
para lelaki pejabat yang datang
menghabiskan uang hasil rampokan
perempuan jalang di simpang jalan,
entah mengapa aku suka mengkhayalkan
diriku tersesat di kamarmu.
dan sebagai bentara para penjahat,
kau kisahkan padaku seluruh
riwayat dari negeri subur para perarmpok
“aku seperti nawang wulan dan
mereka adalah beruang yang rakus mengisap
madu tubuhku. mereka takut aku
menemukan baju dan segera
menguap ke udara.” tapi nawang wulan, aku juga
suka membayangkan kau membuka
celana untukku. dan mungkin aku
akan terkesiap menatap kemaluanmu yang mangap
seperti polisi yang siap menerima suap.

Sumber;
http://aslanabidin.wordpress.com/2012/05/29/tebesaya-gadis-berputih-kebaya/
http://aslan-abidin.blogspot.com/2008/10/sungguh-aku-ingin-jadi-ustaz9.html
http://www.ivankavalera.com/2009/06/aslan-abidin-satu-dari-sedikit.html

0 Komentar:

Post a Comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas