Merapal Arus
Sungai yang tak lagi merapal arus
kutemukan dalam deras hujan di pucuk malam
menggapai riuh yang sama kita serap semasa silam
menari-nari sebuah endapan yang kita rajut bersama angan
Januari, 2010
Janjiku, Pagoda Merah
mestinya esok kita bersua di pagoda merah
dan kau bawa seikat bunga
“ada janji yang terlampau untuk diakui”
kau akan berkisah dan kusimpan mesramu dalam dekapku
kita tertawa, lupakan nista
dengan harum kembang yang selalu kukenang
mestinya…
kaupun jangan datang
agar tiada laku terlarang
mestinya…
Januari, 2010
Kisah Kita
pada gerbong tua telah kubisikkan kisah kita
di sana angin menderit
juga air gemericik dari muka pintu
yang jatuh lewat hujan tahun lalu
maka jamulah aku diantara ingatanmu
lewat gerbong tua yang hampir kita lupa
Januari, 2010
Gumam senja
aku yang terlupa dalam perjalanan
tak sempatsempat berucap dari wajahmu
yang mengumpal di dada kiriku
kau tebarkan jua nyanyian perburuan
dan lenyap di pekat malam
kau hilang
aku tenggelam
Februari, 2010
Ombak
dalam debur jiwaku
kau percikkan kisah rindu
mengalun deras tak kunjung puas
namun diujung tanjung,
kau sematkan karang.
berulangulang tak jua hilang
semua hanyut dalam denyut-denyut laut
Pesan 103
Malam dingin merengkuh sepi —menabur sajian peminta diri
Tuhan... ini pesanku ke seratus tiga —dirantai dalam bait kata
meleburkan makna —dalam langkahku lengah
aku mesti menunggu di hulu nan jauh —meski jenuh dengan karam dan peluh
Tuhan..akankah perlu kertas dan pena? —untuk tuliskan pesan ke seratus tiga
agar Engkau bisa beriku sua –cinta-Mu yang tak ada dua
Tuhan..adakah Kau baca pesanku? di sebuah pintu? untukku tuju —diriku yang merindu-Mu?
Januari, 2010
*) Cikie Wahab, bergiat di Sekolah Menulis Paragraf (SMP), freelance sebagai komikus. Bermukim di Pekanbaru.
Sungai yang tak lagi merapal arus
kutemukan dalam deras hujan di pucuk malam
menggapai riuh yang sama kita serap semasa silam
menari-nari sebuah endapan yang kita rajut bersama angan
Januari, 2010
Janjiku, Pagoda Merah
mestinya esok kita bersua di pagoda merah
dan kau bawa seikat bunga
“ada janji yang terlampau untuk diakui”
kau akan berkisah dan kusimpan mesramu dalam dekapku
kita tertawa, lupakan nista
dengan harum kembang yang selalu kukenang
mestinya…
kaupun jangan datang
agar tiada laku terlarang
mestinya…
Januari, 2010
Kisah Kita
pada gerbong tua telah kubisikkan kisah kita
di sana angin menderit
juga air gemericik dari muka pintu
yang jatuh lewat hujan tahun lalu
maka jamulah aku diantara ingatanmu
lewat gerbong tua yang hampir kita lupa
Januari, 2010
Gumam senja
aku yang terlupa dalam perjalanan
tak sempatsempat berucap dari wajahmu
yang mengumpal di dada kiriku
kau tebarkan jua nyanyian perburuan
dan lenyap di pekat malam
kau hilang
aku tenggelam
Februari, 2010
Ombak
dalam debur jiwaku
kau percikkan kisah rindu
mengalun deras tak kunjung puas
namun diujung tanjung,
kau sematkan karang.
berulangulang tak jua hilang
semua hanyut dalam denyut-denyut laut
Pesan 103
Malam dingin merengkuh sepi —menabur sajian peminta diri
Tuhan... ini pesanku ke seratus tiga —dirantai dalam bait kata
meleburkan makna —dalam langkahku lengah
aku mesti menunggu di hulu nan jauh —meski jenuh dengan karam dan peluh
Tuhan..akankah perlu kertas dan pena? —untuk tuliskan pesan ke seratus tiga
agar Engkau bisa beriku sua –cinta-Mu yang tak ada dua
Tuhan..adakah Kau baca pesanku? di sebuah pintu? untukku tuju —diriku yang merindu-Mu?
Januari, 2010
*) Cikie Wahab, bergiat di Sekolah Menulis Paragraf (SMP), freelance sebagai komikus. Bermukim di Pekanbaru.
Sumber http://www.sagangonline.com/index.php?sg=full&id=434&kat=48
0 Komentar:
Post a Comment
Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.
Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)