Marbutisme: Kitab Sastra Awut-awut, Bab 21: Energi Puisi

Tuesday, 23 October 2012


oleh Marbuth Sastragila pada 20 Oktober 2012 pukul 12:39 ·

percayalah, bahwa puisi itu adalah anugerah. sesuatu yang diturunkan Tuhan secara ujug ujug tak kepada semua manusia. hanya sedikit dari hamba hamba-Nya yang bisa memaknai dan memahami puisi. hanya sedikit dari hamba hamba-Nya yang bisa menikmati asyiknya mencipta puisi, merasakan manisnya setiap liuk dan lekuk dari kata kata.

sebagaimana setiap anugerah, ia bisa dicabut kapan saja dari siapa saja tak pandang orangnya tak pandang bagaimana caranya bisa hilang tercerabut darinya. tiba tiba saja sang penyair besar tak mampu lagi menuliskan satu kata pun di puisinya. ujug ujug kita yang tadinya biasa berbusa busa memuisi di puluhan status setiap hari tak mampu lagi meracuni pembaca.

menulis puisi memerlukan energi yang luar biasa besarnya, ketulusan, ketekunan, intuisi yang terus dipertajam, cinta, kesunyian, juga dendam

manalah engkau tahu jatuh airmata
kalau kau tahu, dapatkah kau seka

tidak sayang !

yang kau tahu bermain cahaya,
kelamkan aku yang mendamba

puisi Ezzyla Fi adalah sebuah contoh konkrit bagaimana energi puisi berperan dalam terus menyalakan kata kata. rasa yang tertuang dalam puisi puisi yang telah dituliskan dengan sendirinya akan menemukan polanya, akan membentuk karakter tulisannya. puisinya terus melenggang dengan ringannya terus meluncur dengan derasnya, sementara banyak penyair yang dulu kukenal sering sehari lima kali membuat puisi, kini telah almarhum, mati kata

atau contoh konkrit lagi adalah uly giznawati yang cinta dengan kesunyian, atau setidaknya suka dengan segala yang beraroma kesunyian. sehingga dia menamakan dirinya sebagai Ruang Sunyi. walaupun fesbuknya tak sunyi sunyi amat, atau bisa dikatakan sama sekali tak sunyi, hehe.

kesunyian, baginya adalah sebuah energi yang tak ada habisnya. kesunyian adalah gudangnya kata kata. kesunyian baginya ibarat gunung merapi yang menebar debunya secara merata dari jogja hingga kebumen. kesunyian baginya ibarat mesin aspal yang menghitamkan memuluskan jalan raya dari solo hingga jakarta. hahay, saatnya wong solo gantian menjajah jakarta

tak sedikit yang berkata pada saya di kotak obrolan bahwa dirinya kini sudah tak lagi bisa menulis puisi. dulu penyair sekarang penyayur. dulu selalu ada kehampaan, kini telah ada yang menemani. dulu galau, sekarang sakau, xixixi. dulu ada Tan Rusydov yang selalu mengirimiku puisi, kini ronggowarsito telah diboyong dewi arimbi.

tak sedikit yang minta saran pada saya bagaimana cara agar tak kehabisan ide dalam menulis puisi. jangankan kamu, wong saya sendiri sudah tak bisa lagi menuliskan puisi. dulu ketika kesunyian saya benci setengah mati, saya selalu bisa menuliskan puisi. kini percayalah, tak satupun puisi lahir dari tangan saya setelah hampir dua tahun berlalu. kau tahu, berandaku ini selalu terlihat riuh ramai. tapi di sebaliknya, aku berselimut sunyi

seorang penyair membutuhkan ruang hampa di hatinya agar selalu mengalir puisi puisi indahnya. seorang penyair memerlukan jarak, memerlukan jurang, memerlukan sunyi yang menggigil di hatinya untuk terciptanya puisi. seorang penyair memerlukan kutub utara dan selatan agar tercipta tarikan medan magnet yang kuat untuk munculnya energi dalam menulis puisi

begitulah cara kerja puisi cinta antara qais dan layla, penulisnya sengaja selalu memberikan ruang antara qais dan layla. begitu pula lah hamka memberi "ruang hampa" antara zainudin dan hayati, lalu untuk mengabadikan cintanya (tulisan hamka) maka ditenggelamkannyalah kapal van der vijk lalu dibunuhlah zainudin (oleh tangan hamka)

begitulah kenapa yusuf lebih menyukai penjara ketimbang bujuk rayu para ibu ibu darma wanita istri istri para mentri. robbi, assijnu ahabbu ilayya min kaidihinn. Tuhan, aku lebih mencintai penjara ketimbang bujuk rayu mereka. yusuf ingin mengabadikan cintanya pada zulaikha dengan menjatuhkan dirinya pada “kehampaan”. begitu pula zulaikha memenjarakan yusuf agar yusuf tetap abadi hanya miliknya saja, agar suatu nanti ketika suaminya yang mandul sudah mati, yusuf akan kembali padanya dengan cintanya yang masih suci tak menjadi milik siapa siapa. zulaikha dan yusuf sama sama punya cinta yang suci, sengaja kuundang ibu ibu darma wanita agar suamiku tahu bahwa aku tak pernah mengkhianati suamiku, siapa yang tak akan tertarik dengan ketampanan yusuf. namun di antara cinta suci keduanya terbentang dinding yang tinggi, somewhere beetween your heart and mine, there’s a window than i can’t see uuuu .. hehe

saya sangat yakin telah tercipta ribuan puisi antara yusuf dan zulaikha yang tak pernah terbaca oleh manusia. saya yakin puisi antara keduanya jauh lebih dahsyat ketimbang puisi antara qais dan layla, lebih hebat dari sekedar antara zainudin dan hayati

begitulah diciptakan hawa dari tulang rusuk adam, agar adam selalu merasa "hampa" ketika terpisah ruang jarak dan waktu. ada sesuatu yang hilang dari dirinya, lalu dari sanalah muncul rindu dan cinta.

begitulah diciptakan masjidil haram sebagai "kerinduan" dan masjidil aqsha sebagai "kesedihan", agar muncul tangis "keharuan" ketika mencium hajar aswad dan agar derai tangis "dendam" ketika ratap di tembok ratapan. begitulah diciptakan makkah palestina dengan "spasi" di antaranya agar muncul cinta yang sempurna. takkan sempurna cinta manusia kalau hanya mekkah saja tanpa peduli palestina. ada makkah ada palestina agar manusia mengerti indahnya keimanan, agar manusia mengerti sakitnya dikhianati. agar ada dua kutub yang berbeda saling tarik menarik di hati manusia, antara rindu dan dendam.

begitulah, setiap penyair punya energi sendiri sendiri untuk menyalakan puisinya, setiap penyair punya kesunyian sendiri sendiri untuk tetap terbakar kerinduan terbakar cinta. sebagaimana marbut yang senantiasa memelihara dan menghidup hidupkan dendam di hatinya agar tulisannya tetap jilat menyala nyala. dendam bagi marbut adalah energi yang luar biasa untuk menulis sebuah puisi. dendam, bagi saya ibarat segenggam api yang dibawa oleh musa yang diambilnya dari gunung thursina. ia akan membawa terang di kala kegelapan, ia akan menunjuki jalan.

tapi entahlah, sejak hampir dua tahun ini aku seperti lupa caranya membuat puisi. mungkin karena aku sering jatuh cinta dan merasa sunyi. begitulah, cinta dan sunyi telah membuatku mati.

Sumber marbutisme

0 Komentar:

Post a comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas