Ulasan Buku Puisi “Habis Gelap Terbitlah Sajak”: Luka, Derita, Do'a dan Air Mata Perempuan Indonesia

Sunday, 5 January 2014

Oleh Esti Ismawati
Buku kumpulan puisi berjudul “Habis Gelap Terbitlah Sajak” (Forum Sastra Surakarta, Penyunting Sus S. Hardjono, November 2013) ini memuat 113 puisi karya 99 pesyair. Kata Pengantar diberikan oleh Dimas Arika Miharja. Dari judul buku puisinya tampak bahwa puisi-puisi di buku ini bertema perempuan, semangat perempuan, sedang yang menulis adalah perempuan dan laki-laki. “Habis Gelap Terbitlah Sajak” mengingatkan kita pada kumpulan tulisan-tulisan Kartini dan kawan-kawannya dari Belanda : “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku ini memang diilhami oleh semangat Kartini.

Seperti dikatakan oleh Muhammad Rois Rinaldi, Ketua Komite Sastra Cilegon di cover belakang buku ini, perempuan dalam puisi atau puisi untuk perempuan bukan hal yang berlebihan. Karena keduanya memiliki ciri khas yang sama, yakni keindahan, keistimewaan, dan kekuatan. Puisi-puisi yang dimuat dalam buku ini ditulis oleh pesyair perempuan dan laki-laki, oleh karena itu sangat layak untuk ditelaah, ditafsirkan, direnungi, dipahami. Apakah gaya pengungkapan antara perempuan dan laki-laki berbeda meski objek yang dilihat sama. Bukan hanya lantaran topik yang sama yang ditulis perempuan dan laki-laki bisa beda, bahkan topik yang sama yang ditulis sesama pesyair laki-laki pun bisa berbeda. Perhatikan dua puisi di bawah ini :

PEREMPUAN PEMECAH BATU
                                    Asyari Muhammad
perempuan-perempuan bukit kapur 
membangun monumen dari keringatnya sendiri

perempuan-perempuan bukit kapur
kini wajahmu terbakar matahari
tergeletak di antara batu-batu
engkau tak sempat memanennya
lantaran sepi

perempuan-perempuan bukit kapur
wajahmu kian keriput
rambutmu semakin memerah
sedang batu-batu tak ijinkan engkau layu
(HGTS, halaman 10).


PEREMPUAN PEMECAH BATU
                                    Ekohm Abiyasa
gugur melati di tanah batu
tinggi gunung setegak cintamu
perempuan pemecah batu
mencari emas di bongkahan pilu

gugur hujan menetes rindu
pada rumah dan anak-anakmu
memecah batu-batu
membangun harap di gigir waktu
(HGTS, halaman 48).

Dua puisi di atas sama-sama menggambarkan derita perempuan. Pada puisi karya Muhammad, perempuan pemecah batu digambarkan sebagai sosok yang luar biasa dalam derita fifiknya : membangun monumen dari keringatnya sendiri, wajahnya terbakar matahari, wajahnya kian keriput, dan rambutnya semakin memerah. Pada puisi Ekohm derita perempuan pemecah batu itu digambarkan sebagai sosok yang lebih menderita lagi tetapi dengan bahasa yang abstrak, penuh simbolisme : mencari emas di bongkahan pilu, membangun harap di gigir waktu.

Di awal tulisan ini saya katakan bahwa “Habis Gelap Terbitlah Sajak” berisi doa dan air mata tidaklah berlebihan. Di dalam buku ini, hampir semus sosok perempuan ditampilkan dalam sosok yang memilukan, sebagaimana dapat dibaca pada puisi berikut ini :

BIBIR BERGINCU
                        Asrining Nurfauzie
Bibir bergincu
Tersenyum di keremangan lampu
Menyapa dengan geletar syahdu
Di sudut taman kala lenguh temaram
Bibir bergincu bersandar pada deras rayuan
Mengajak malam berhias kenikmatan
“Jangan tanyakan apakah aku suka
Aku terpasung kemiskinan nan mendera
Anakku menjerit lapar dahaga”
Bibir bergincu menangis dalam tawa
Rasakan kontradiksi di lipatan jiwa
Di antara peran yang dia mainkan
Di antara dosa dan keterpaksaan.
(HGTS, halaman 8).

Memahami puisi ini kita diingatkan lagu Titik Puspa yang ditulis lebih dari 35 tahun yang lalu, berjudul “Kupu-kupu Malam”. Persis isinya. Titik Puspa dengan halus mengatakan : “dosakah yang ia kerjakan, sucikah mereka yang datang, kadang ia tersenyum dalam tangis, kadang ia menangis di dalam senyuman”. Jadi, persoalan perempuan itu apakah benar-benar tidak beranjak dari tahun ke tahun atau bahkan dari abad ke abad?. Mari kita simak lagi puisi berikut ini untuk menegaskan apa yang saya katakan di atas :

JALAN PEREMPUAN
                        Muhammad Asqalai Eneste
di altar sebuah ruang ia mengadu
di latar sebuah raung ia mengibu

lalu lengang menganal mahkota
hanyuti lubang kekalkan nyawa

kepada kelahiran
isa namanya
kepada pengasingan
maryam nasibnya
kepada pengembara
masehi sejarahnya

ini setapak jalan berawal wanita
telapak berujung alamat surga :
anak yang berpijak di
kaki-Nya
(HGTS, halaman 82).

Atau puisi di bawah ini

TANAH WARISAN
                        Ningsih Hajar
Air mata susu ibunda
mengalir ke muara yang tandus
melewati jurang dan lembah
terbentur karang dan kerikil
mengarungi arus ke muara
anak-anak bangsa berjuang
melawan keganasan tangan penguasa
menggali makna ideologi bangsa
dan pada rapuhnya pangkuan bunda
mereka berlutut menciumi bau tanah
warisan para leluhur dan penjajah
sambil bernyanyi berkibarlah bendera!
(HGTS, halaman 84).

Atau puisi di bawah ini

IBUKU BERKERUDUNG PILU
                                    Bambang Eka Prasetya
Wajah cantik Ibu tercabik menggumpal nanah
Dari celah pelupukmu menetes darah
Beredar khabar di seluruh pelosok negeri
Anak-anak yang lahir dari rahimmu kini
Menjelma menjadi tikus-tikus lapar
Bermulut dusta bermata nanar berbinar
Bertaring pena berlumur racun hasutan
Berbulu surat keputusan berbagai jabatan
Mereka bergerak serentak ke seluruh penjuru
Menggasak pundi-pundi rumah tak ada sisa
Jantungmu tak lagi sanggup menahan pilu
Mereka berpesta pora beralas derita sesama
Tak ada lagi dendang pada sekujur tubuhmu
Pun nyanyian burung dan sorai daun-daun hijau
Tanpa makna kau pandang laku anak-anakmu
Harapan terkubur dalam derita panjangmu
Sampai kapan tubuh muliamu digerogoti
Anak-anak bangsa berjiwa dan berraga korupsi
(HGTS, halaman 12).

Dan seterusnya. Masih banyak lagi derita yang dikisahkan oleh para pesyair tentang  perempuan Indonesia di buku ini, misalnya puisi Nunung Noor El Niel (HGTS, halaman 87) yang berjudul “Tembikar” sebagai berikut : siang tiba-tiba saja membuatku melepuh / begitu terikkah rasamu hingga membuatku / meranggas dan berpeluh lalu aku harus / mencari telaga untuk membasuh diriku / di sana pun yang tersisa hanya lumpur / aku hanya dapat berkubang / dengan penyesalan yang panjang / di mana diriku seolah terbentuk dari lempung. Demikianlah derita itu, dan masih banyak lagi.

Di antara puisi-puisi di buku ini, banyak juga yang menyuarakan doa, seperti pada puisi  Meguri Soma berikut ini : “Di puncak doa pada malam-malam panjang kota Denpasar / bakaran dupa masih mengepulkan maha rindumu. “Tirtayatra tak sekedar perjalanan tradisi”, katamu / “Bertamu untuk meneguhkan kasih tak bertepi. Atau puisi Muhammad Gufron Cholid berjudul “Perempuan Ungu” berikut ini, “Perempuan ungu Adalah kau / bulanku Menasbihkan rindu / Dalam doa yang syahdu”. Atau puisi Bambang Eka Prasetya berjudul “Perempuan Pendoa” berikut ini : “Berjuta tangismu membelah senja / pecah sudah di atas altar itu / berlaksa kau panjatkan doa / dalam hening malam kelabu”.

Dari judul-judul puisi yang ada pun bisa ditebak apa yang sedang dirasakan oleh perempuan Indonesia ini, misalnya pada puisi karya Asih Prasetyawati berjudul “Balada Orang Tua Tunggal”, puisi karya Asrina Novianty berjudul “Tulang Rusuk”, puisi karya Ardi Susanti berjudul “Padamu Ibu” (Padamu ibu / air mata yang menemaniku / adalah restu tak berpenghabisan / senyum yang mengiriku / adalah kasih tak terbalaskan, dst). Puisi karya Melur Seruni berjudul Antara Air Mata dan Kerinduan, puisi karya Sus S. Hardjono berjudul “Aku Perempuan” (aku perempuan, adalah bunga lembut, bila kau petik selalu patah, dan kau akan menyambungnya dengan rusukmu. Aku perempuan, yang lemah, dan kau tangkai yang akan menguatkan...dst).

Jika ditarik garis besar, tema utama yang terdapat dalam puisi-puisi HGTS ini adalah peran perempuan di sektor domestik. Dan kita semua tahu, betapa beratnya peran perempuan di sektor ini : masak, macak, manak (memasak, berdandan, melahirkan). Atau ada yang bilang : mamah, mlumah, olah-olah, umbah-umbah (makan, melayani kebutuhan biologis suami, memasak, mencuci, mengepel, bersih-bersih rumah). Itulah dunia perempuan Indonesia (khususnya Jawa) yang dicitrakan sendiri oleh perempuan (dan laki-laki) hingga saat ini.

Menyadari betapa tak berubahnya peran perempuan dari abad ke abad (dan karena jenuh atau bosan dengan tema-tema itu) saya tulis puisi untuk perempuan di bawah ini :

“Sehalus Sembadra, setangkas Srikandi
dikau perempuan Indonesia
seindah purnama, seterang mentari
dikau perempuan Indonesia
seharum melati, semerbak mewangi
dikau perempuan Indonesia.

Gagah langkahmu nan perwira
tinggi citamu nan mulia
lembut gemulai, anggun mempesona
bahanakan sluruh jagat raya..

senyum ketulusan, halus keibuan
ikhlas tunaikan bakti
genggam jiwa ksatria
mengemban cita suci Ibu Indonesia”.

Marilah kita sadari betul bahwa saat ini permpuan Indonesia bisa dikatakan sudah ‘duduk sama rendah berdiri sama tinggi’ dengan kaum lelaki, jadi jangan lagi mengecilkan atau dikecilkan arti kehadiran perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia juga bisa berperan di sektor publik, bukan hanya di sektor domestik. Bahkan peran di sektor publik itu demikian berkibar sehingga dunia pun mengakuinya. Megawati (Ketua Umum Parpol Besar), Sri Mulyani Indrawati (Bank Dunia), Nafsiah Mboi (Menkes), dan masih banyak lagi. Harus disyukuri dengan cara : bangkit dan mengubah citra diri perempuan yang lemah dan tak berarti, menderita dan berurai air mata, tak berdaya, dan seterusnya. Hidup Perempuan Indonesia.

Klaten, 4 Januari 2014

Sumber facebook Esti Ismawati

Nama-nama penyair dalam buku HGTS. 

2 Komentar:

pemuda banten said...

mantep!

Ekohm Abiyasa said...

Makasih pemuda banten aka Gus Rois :D

Post a Comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas