Tak Ada Nasi Lain novel karya Suparto Brata

Thursday, 18 July 2013

Diskusi sekaligus launching novel Tak Ada Nasi Lain karya penulis sepuh Suparto Brata.

Diskusi di awali pembacaan narasi novel Tak Ada Nasi Lain oleh Kinanthi Anggraini.

Dua pengulas hadir pada malam ini, Pitoyo Amrih (Penulis novel bertemakan Wayang) dan RM. Darmadjadi (Penulis Geger Pecinan). Berikut pendapat atau ulasan mereka.

Pendapat Pitoyo Amrih, gaya penulisan novel Tak Ada Nasi Lain seperti Umar Kayam dan ia suka dengan itu. Buku semacam itu menjadi langka dan menarik untuk dibicarakan. Langka karena penulisnya sendiri mengalami fase atau kejadian selama penggarapan novel. Di mana ia (Suparto Brata) hidup dari jaman penjajahan Belanda, Jepang dan hingga kini masa Reformasi digulirkan. Sehingga membuat jarak begitu pendek. Ia juga mengatakan novel Tak Ada Nasi Lain bisa dijadikan novel sejarah. Pitoyo Amrih juga berpendapat novel bertemakan sejarah itu "Merawat Rasa Sejarah". Dalam novel Tak Ada Nasi Lain itu juga terdapat kisah-kisah pribadi Suparto Brata.

Menurut RM. Danardjati novel Tak Ada Nasi Lain menulis kisah-kisah sejarah pada masa pendudukan Jepang dan awal-awal Demokrasi Terpimpin yang dicetuskan oleh Bung Karno. Kisah-kisah bangsawan dengan filosofi Jawa yang kental tak luput ditulis dengan detil. Para bangsawan jaman dahulu mengalami nasib serupa dengan rakyat biasa. Mereka sama-sama miskin. Namun dari kesamaan itulah menjadi pemersatu.

Suparto Brata sendiri berkisah, bahwa buku-buku di Indonesia tidak laku dijual! Karena negara ini tidak memproduksi pembaca. Beliau terngiang-ngiang tulisan Multatuli (drama Saidah dan Adinda), “Kita tidak berpesta panen padi di sawah, melainkan kita berpesta panen padi yang kita tanam di sawah.” Seperti pesta panen padi di sawah, TETAPI KITA LUPA tidak menanam padi, kita tidak memproduksi massal putera bangsa berbudaya membaca buku dan menulis buku. Begitu beliau mengasosiasikan tulisan Multatuli tersebut.

Sejarah berguna bagi masa lalu, kini dan yang akan datang. Dari sejarah itulah kita belajar memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah terjadi. Dan beliau meminta saran dan kritiknya buat perbaikan karya yang akan datang. 

Beliau juga menekankan pentingnya budaya membaca buku. Terlebih kepada generasi sekarang. "Banyak membaca buku karya orang lain, buku apa saja terutama buku yang kamu suka." Begitulah pesen mbah Suparto Brata. 

Buku Tak Ada Nasi Lain mendapat respon dari Sapardi Joko Damono. Lewat perantara beliau mengatakan, "Biarkan saja novel sejarah melewati batas, tidak seperti tulisan sejarah."

Diskusi malam ini mendapat sambutan meriah dari berbagai kalangan. Para pecinta sastra Solo. Hadir pula Halim HD.

2 Komentar:

Hangsaatmi said...

Jika novel ini = Sanja Sangu Terbela rasanya saya pernah baca, bagus, imajinatif, kreatif, jika ternyata itu ada faktanya, ternyata hidup jadi bangsawan suka juga.
Sekarang ingin baca lagi, dimana dapat dibeli ya?
Selamat berkarya terus ya pakde

Ekohm Abiyasa said...

Maaf saya kurang tahu tentang buku tersebut :D

Terima kasih kunjungannya. Salam.

Post a Comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas