(Scan) Koran Merapi Edisi Minggu, 21 Oktober 2012, Temu Sastrawan MPU VII: Tanpa Keterlibatan Sastrawan Yogya oleh Sunlie Thomas Alexander

Thursday, 25 October 2012


Temu Sastrawan MPU VII:
TANPA KETERLIBATAN SASTRAWAN YOGYA
Oleh: Sunlie Thomas Alexander

Dipublikasikan di KORAN MERAPI, Minggu, 21 Oktober 2012

“YOGYAKARTA sejak dulu terkenal sebagai gudang para sastrawan terkemuka. Maka jauh-jauh datang, saya berharap bisa bertemu dan bersilahturrahmi dengan banyak sastrawan Yogya. Bukan hanya 4-5 orang, tetapi mungkin 17, atau bahkan 70 sastrawan karena Yogya adalah tuan rumah. Tapi betapa kecewanya saya ketika tak temukan satu pun nama sastrawan Yogya sebagai peserta!” tukas penyair Banten, Chapcay Saefullah berapi-api dalam pembukaan Temu Sastrawan Nusantara-MPU VII di Hotel Brongto (Senin, 15/10/2012) kemarin.

Ya, sejarah sastra Indonesia kontemporer telah menunjukkan DI. Yogyakarta memang disegani sebagai daerah yang paling subur melahirkan sastrawan. Bukan sekadar penulis populer atau musimam, tapi para sastrawan sekelas Iman Budhi Santosa, Mustofa W Hasyim, Linus Suryadi AG dan Ragil Suwarna Pragolapati (alm), Joni Ariadinata, Joko Pinurbo sampai generasi termuda seperti Satmoko Budi Santoso, Gunawan Maryanto, atau Mutia Sukma yang telah teruji kualitas karyanya dalam kancah kesusastraan nasional, bahkan internasional. Selain itu, Yogya juga menjadi muara kreatif bagi banyak sastrawan ternama garda depan Indonesia yang berasal dari daerah lain kemudian menetap di Yogya, sebut saja: Raudal Tanjung Banua, Saut Situmorang, Afrizal Malna, Agus Noor, Ulfatin CH, Hamdy Salad, Indrian Koto, dll.

Namun inilah ajaibnya: pada Temu Sastrawan Nusantara-MPU VII yang berlangsung 15-17 Oktober 2012 di Yogyakarta, justru Yogya adalah satu-satunya kontingen yang pesertanya tidak diwakili oleh satu orang pun sastrawan! Semua jatah yang mestinya diperuntukkan bagi sastrawan ternyata diisi oleh orang-orang Dinas Kebudayaan DIY sendiri—yang juga redaksi majalah berbahasa Jawa Sempulur milik Disbud DIY. Bahkan yang lebih mengiriskan, banyak sastrawan Yogya—termasuk ‘yang senior’—tak tahu sama sekali tentang event ini.

"Itulah Yogya. Saya sudah ditanya teman-teman dari daerah lain. Saya jawab tidak tahu-menahu. Itulah istimewanya Yogya, Sunlie. Sejak dulu begitu. Dalam konteks hubungan dengan institusi, kita ini bukan hanya anak tiri, tapi anak orang lain. Salam erat,” tulis Iman Budhi Santosa membalas SMS saya.

Dan saya jadi lebih tercengang lagi ketika R. Giryadi, redaktur budaya Surabaya Post yang mewakili Jawa Timur, mengatakan bahwa hal serupa juga terjadi pada Temu Sastrawan MPU tahun sebelumnya di Surabaya. “Waktu itu juga tak ada satu pun sastrawan Yogya!” ujarnya.

Ah, puluhan kali diundang ke berbagai event sastra di beragam tempat di tanah air (terakhir di Ubud Writers & Readers Festival, 3-7 Oktober 2012) dan sempat menjadi Ketua Pelaksana Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkalpinang (Bangka-Belitung), baru kali ini saya melihat ada daerah yang delegasinya tak diwakili oleh sastrawan tapi ‘pegawai Dinas Kebudayaan’! Padahal saya sendiri—bersama Iman Budhi Santosa, Komang Ira Puspitaningsih, dan Dina Oktaviani—sempat mewakili DIY sebagai peserta Temu Sastrawan MPU III di Jawa Barat pada 2008 (waktu itu kami direkomendasi langsung oleh Disbudpar Jabar yang didampingi penyair Acep Zamzam Noor).

Apakah hal ini karena Disbud DIY tak kenal seorang pun sastrawan Yogya yang konon mencapai ratusan itu? Bukankah event sastra seperti Temu Sastrawan MPU ini seyogianya bertujuan membicarakan sastra dan kesusastraan secara serius di mana para sastrawan merupakan pelaku utamanya? Lantas apa faedahnya kegiatan ini bagi Yogya jika tak ada seorang pun sastrawannya berpartisipasi? Atau, jangan-jangan para pegawai Disbud-redaktur Sempulur itu merasa diri mereka juga sastrawan yang layak mendapatkan tempat dalam event sastra nasional? Bisa jadi.

Namun saya masih coba bersabar. Siapa tahu mereka yang merasa pantas mewakili Yogya sebagai sastrawan itu diam-diam memang punya bakat terpendam dalam menulis sastra. Maka dengan penasaran saya pun membuka buku “Antologi Sastra Nusantara (Puisi)” yang diterbitkan oleh Disbud DIY sebagai penunjang event.

Tetapi, astaga! Sejumlah teman sastrawan dari luar daerah seperti A. Muttaqin dan Alex Subairi pun tertawa saat melihat saya terbelalak membaca puisi-puisi dari Yogyakarta yang dimuat dalam buku antologi itu. Betapa tidak, puisi-puisi karya DewaTa, Tatiek Poerwa Kalingga, Suwardi Endraswara, dll ini ternyata (MAAF) tak jauh bedanya dengan puisi-puisi anak SD di majalah Bobo! Sebagai contoh, lihatlah penggalan salah satu puisi tersebut yang saya kutip di bawah ini: Damai malam dalam sepi/ Angan melayang membubung tinggi,/ Tersungging senyum dibibir nan cantik,/ Menatap tawa orang terkasih,/ Bahagia saling berbagi,/ Meski di sini aku sendiri…// (Tatiek Poerwa Kalingga, “Sendiriku…”).

Tenang. Sastrawan kontemporer Indonesia tidaklah seangker Chairil Anwar yang bilang bahwa “yang bukan penyair dilarang ambil bagian” dalam menyingkapi persoalan teks semacam ini. Tapi siapapun yang pernah kuliah sastra toh mengerti bahwa karya sastra seyogianya memiliki standar acuan dan kriteria penilaian. Karenanya dalam dunia sastra, mau tak mau kita harus bisa membedakan antara puisi pop dan puisi serius, antara puisi orang awam dengan puisi yang ditulis seorang penyair. Sehingga di sini, dalam kajian sastra, dengan jelas bisa ditentukan mana yang ‘benar-benar puisi’ dan mana yang ‘sekadar mirip dengan puisi’.

Apabila bagi orang awam, puisi adalah media mencurahkan perasaan lewat kata-kata yang dianggap indah; Dalam kesusastraan, puisi notabene merupakan sebuah upaya terus-menerus seorang penyair dalam membaca ulang diri dan dunianya. Ia adalah pemadatan dari ide dan diksi yang mengkristal sedemikian rupa. Sehingga dalam hal ini, puisi tak lain adalah puncak dari kemampuan berbahasa. Dengan demikian, kendati saat ini Indonesia tak lagi punya kritikus sastra mapan sepeninggalan mendiang HB. Jassin, bukan berarti setiap orang bisa dengan seenaknya mengklaim bahwa puisi yang ditulisnya dengan asal jadi adalah karya sastra. Jika ini yang terjadi, kiamatlah sudah kesusastraan Indonesia!

Hal sama, bahkan lebih parah terjadi pada buku “Antologi Sastra Nusantara (Cerpen)”. Cerpen-cerpen dari Yogya yang terhimpun dalam buku ini bukan saja seperti karya anak SMP belajar mengarang, tetapi karya-karya itu juga mendominasi isi buku hampir 90%.  Paling tidak saya hitung ada 25 cerpen dari Yogya (sementara dari Jatim dan Lampung masing-masing cuma tiga). Yang mana satu orang penulis Yogya rata-rata dimuat 2-5 cerpennya, termasuk menggunakan nama samaran atau lebih dari satu nama pena. Bahkan Dhanu Priya P (dari Balai Bahasa DIY) tercatat menyumbang delapan cerpen. Sungguh menggelikan! Saya benar-benar kaget dan syok. Belum lagi jika mengingat sebagian ‘para cerpenis dan penyair ala Disbud’ ini notabene adalah penyunting kedua buku itu sendiri.

Menurut saya, hal ini bukan saja kontra logika, tetapi sudah kontra etika dan estetika. Dan sungguh memalukan bagi keistimewaan Yogyakarta sebagai kota sastrawan, kota seniman, kota budaya, dan kota pelajar!

Apakah ‘sastrawan-sastrawan Disbud’ ini betul-betul bermuka tembok atau mereka memang memiliki keberanian yang patut diacungi jempol? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, pada wilayah praksisnya, sastra selalu mengajarkan kita tentang nilai-nilai humanisme: demokrasi, keadilan, kejujuran, kearifan, serta sikap tahu diri.(*)

M. Arman, cerpenis Lampung sedang membacakan karyanya dalam Temu Sastrawan Nusantara-MPU VII di Hotel Brongto, Yogya. (Sumber: Antara Lampung)

Penulis adalah cerpenis dan penyair.

Link facebook Sunlie

Baca juga TANGGAPAN DARI DISBUD YOGYA TENTANG TEMU SASTRAWAN MPU DI KORAN MERAPI, 4 NOV 2012 
dan BENI SETIA MENGGUGAT TEMU SASTRAWAN MPU VII DI YOGYAKARTA

0 Komentar:

Post a comment

Bila tertarik ingin berkomentar, memberi kritik maupun saran, silakan ketik komentar Anda di bawah ini.

Salam SABUDI (Sastra Budaya Indonesia)

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas