Poetry Battle: Jam yang Retak (Detak yang Retak)

Saturday, 26 November 2011


/1/
.
"tak"
...
"tak"
...
"tak"

mengentak
meruak
rata..

aku terjebak
aku terhenyak

ini apa?

...
"tak"
..
"tak"
..
"tak"

Semakin banyak!

Ruang Maya,
Nov 26, '11 5:52 AM

*) Zelva Wardi

/2/
kukira retak
hanya menggertak
dalam sepihak

kukira tak
hanya mengertak
denyut berdetak
jam retak

Ruang Maya, 26 November 2011

*) Ekohm Abiyasa

Taken from multiply.
Selengkapnya: Poetry Battle: Jam yang Retak (Detak yang Retak)

Poetry Battle: Segala Tentangmu

segala tentangmu / menjelma puisi / pahit yang legit

sunyi yang kau beri
tak sesunyi rona pelangi
diambang mimpi, yang terputus arteri


Ruang Maya, 26 November 2011

*) Nana Podungge (tegak) - Ekohm Abiyasa (miring)

Taken from note's multiply.
Selengkapnya: Poetry Battle: Segala Tentangmu

Poetry Battle: Sepotong Senja di Pagi Hari

Monday, 31 October 2011

engkau mengirimiku sepotong senja di pagi hari
saat kaca jendela mobil yang kutumpangi masih di bekasi
embun dan jejak gerimis disepanjang jalan

dan kita bisa menikmati bersama
memesan senja diufuk hati
berguling dalam keindahan rona jingga
memendam ketiadaan dalam kerenyahan tawatawa yang melupa sunyi


alangkah indahnya jika setelah fajar menapak pagi
kemudian tenggelam menjadi senja dalam waktu yang satu
bukankan mereka sama-sama jingga?
sama-sama awal dari segala waktu yang menyembunyi sunyi?

adakalanya senyum buat seseorang yang dirundung kelabu
dimalamnya yang sesunyi kapas dia merenggut sarisari bunga
ditenggelamkan dalam kesedihan yang menyatu
pesanpesan dalam botol masa lalu kita, masihkah kau mengingatnya?


tentu saja aku masih ingat pesanpesan yang pernah kita buat
saat kita berjalan tanpa kepala dan napasnapas kita tercekat di dalam botol menunggu lepas
hei, engkau yang membicara senja menjelang tiga pagi, ini malam kita masih tanpa kepala
berjalan bersama menuju hampa

 sepasang kepak sayap cahaya diatas sana
turun membelai angin lembut mengitari atas kepala kita
menarinari kita dibuatnya
berapa senja ini kita melupa setiup napas yang hilang dari riwayat lelaguan
berlepasan sendiri pasirpasir menuju tempat terbuang
mengapung mempertimbangkan pesanpesan berlepasan


 Ruang Maya, 31 Oktober 2011

*) Jee Asha (Tegak) - Ekohm Abiyasa (Miring)

Taken from here. 

Next http://siteruterubozu.wordpress.com/2011/11/04/dalam-episode-perjalanan/
Selengkapnya: Poetry Battle: Sepotong Senja di Pagi Hari

Poetry Battle: Senja di Kotamu

aku masih ingat semburat jingga yang menembus kacakaca jendela di dalam bus yang kita tumpangi
engkau duduk di sebelahku,
hanya diam mengeja letih di balik kedua kelopak matamu yang tertutup
dan aku hanya tersenyum menikmati senjakala sambil menghitung waktu dan jarak
ah, senja di kotamu selalu penuh kisah ya

semburat memainkan kata atau jemari di kaca jendela rumah
kian tenggelam rona jingga
dia tetap setia pada lelaguan amarah
yang tertimbun dalam dada

Ruang Maya, 31 Oktober 2011

*) Jee(tegak) - Ekohm Abiyasa(miring)

From here.
Selengkapnya: Poetry Battle: Senja di Kotamu

Poetry Battle: Kesetiaan dan Pencundang

Sunday, 30 October 2011

aku ingin kau menemaniku hingga tuhan memanggil
walau usia berjarak asia dan afrika
namun aku tetap setia..

setia yang berjarak atau bertepi
luka menganga tiada peduli
pada apa diri membasah hati
ditemaram senja yang menyeret birahi


hingga pulau berkembang biak dan gunung tumbuh dewasa

meski pula menelan pil pahit
segalanya kadang terasa rumit
waktu-waktu yang terserat membunuh pelan
siapa pencundang?


nurani yang mengerti hati yang tahu siapapun itu kehidupan akan menjawabnya

seperti keterasingan adanya

mereka tak tahu siapa sesungguhnya sunyi
kita tawar menawar atau berkelana
suatu keindahan tersendiri menyelami semburat hati

Ruang Maya, 30 Oktober 2011

*) Catur Mulyadi (Tegak) - Ekohm Abiyasa (Miring)

From here.
Selengkapnya: Poetry Battle: Kesetiaan dan Pencundang

Poetry Battle: Cinta Bagiku

Saturday, 15 October 2011

bagiku cinta sederhana saja
melihatmu tersenyum bagaimanapun caranya
itu cukup

dan akupun punya cara yang sederhana pula
menuliskan namamu dalam lembar kertaskertas sudah cukup rasanya
namun apakah kita hanya cukup berdiam menuntut angin yang berlalu lalang membawa butirbutir cinta
sementara kita hanya tersenyum dalam keengganan meraihnya

apakah cinta masih harus disampaikan
jika lambaian tangan sudah pasti dia berikan
cintaku adalah doa yang tak putus-putus
cintaku adalah diam
melihat dari kejauhan
itu cukup

kadang pula kita harus melempar dadu
tapi
kadang pula kita berdiam menganyam yang kita cintai dengan haru

di sini
lewat kediaman ini
aku sedang membangun syarat-syarat
kediamanku harus ditukar dengan sesuatu yang paling kuinginkan
kebahagianmu
tidak ada yang lain
itu saja cukup

dan jalan kita membentang luas
namun tetap meyakini akan satu hal
bahwa cinta dapat disemat dalam hati yang merindu hujan desember dua belas
keyakinan mengurai jalanjalan terjal

Ruang Maya, 15 Oktober 2011

*) Uchi(tegak) - Ekohm Abiyasa(miring)

Selengkapnya: Poetry Battle: Cinta Bagiku

(Fiksimini) Nenek Penjual Gethuk

Thursday, 6 October 2011

Pagi-pagi benar simbah itu berjalan menuju pasar. Berbekal seperangkat tengggok dan gethuk made in sendiri. Aku menelan lidah sendiri. Berasa tertimpa benda besar dan berat kepala ini. Betapa hidup berjalan tiada henti.

Karanganyar, 6 Oktober 2011

*) Ekohm Abiyasa
Selengkapnya: (Fiksimini) Nenek Penjual Gethuk

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas