Pertemuan Penyair Asia Tenggara dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II

Tuesday, 10 June 2014

Keberadaan kesusastraan di tengah kehidupan masyarakat memiliki peranan yang sangat penting. Tidak saja dikarenakan kesusastraan dapat dijadikan indikator pengukuran nilai-nilai sosio-kultural, sosio-politik bahkan para ranah transenden sekalipun, melainkan dapat juga dijadikan sebagai cerminan  peradaban manusia. Sebut saja, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara.

Sungguhlah tidak berlebihan, jika mengatakan kesusastraan sebagai cerminan peradaban manusia, sebagaimana kita ketahui bersama, penandaan masa prasejarah dan sejarah diberlakukan melalui penemuan tulisan, bahkan sebutan prasejarah dewasa ini juga dikenal dengan nama praaksara. Kemudian, kenyataan akan pentingnya kesusastraan sebagai bagian dari kegiatan literasi manusia yang estetis dan luhur, tidak sejalan dengan perkembangannya di era modern ini.

Tingkat kesadaran masyarakat Asia Tenggara—tidak  terkecuali Indonesia—mengalami kemunduran nilai serta minat terhadap dunia sastra. Fakta ini mesti ditanggapi dengan cepat dan mesti ditangani dengan tepat. Bukan perkara bagaimana mesti melainkan bagaimana kita memulai pergerakan yang berkelanjutan serta tepat sasaran.

Gagasan untuk mengundang para penyair dari berbagai negara khusunya di wilayah Asia Tenggara, akhirnya sangat penting untuk dilaksanakan. Akan tetapi, tidak sebagaimana pertemuan-pertemuan penyair yang kerap selesai begitu saja, kegiatan ini diharapkan benar-benar memberikan suatu pengaruh terhadap dunia sastra. Dalam hal ini, tidak sedang berbicara pengaruh dalam artian popularitas atawa selebritas kepenyairan, melainkan mengenai penyair yang benar-benar berbaur dengan pelajar, mahasiswa, pendidik,  dan atau tanpa terkecuali seluruh lapisan masyarakat.

Bagaimana mengaplikasikan wacana yang sebegitu membumi? Melalui kegiatan ini, para penyair akan diajak untuk tinggal di rumah-rumah warga tanpa pengecualian di rumah birokrat yang telah bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal. Hal tidak lain tidak bukan, untuk memberikan kebebasan kepada para penyair untuk mencercap nilai-nilai tanah, udara, dan air dengan gaya dan caranya masing-masing.

Sekolah-sekolah di Kota Cilegon pun telah bersedia menjadi tempat pementasan para penyair, seminar, serta tempat obrolan ringan antara para penyair dan dengan para siswa. Akan ada pembagian kelompok penyair untuk mendatangi sekolah-sekolah yang kami bagi menjadi empat wilayah, yakni Wilayah Selatan, Utara, Timur, dan Barat. Tentu saja, kami pun telah membagi panitia dalam empat kelompok untuk kelancaran acara tersebut.

Kemudian, para penyair diharapkan menuliskan maksimal 3 puisi, esai, atau cerpen semasa tinggal di Kota Cilegon. Karya-karya tersebut akan dibukukan oleh Dewan Kesenian Cilegon dengan sponsor yang turut membantu dan dibagikan di sekolah-sekolah yang ada di Provinsi Banten. Para penyair juga akan mendapatkan bukti penerbitannya masing-masing 1 eksamplar.

Perlu diketahui, tidak hanya penyair yang karyanya termuat dalam buku Lentera Sastra II saja yang diundang. Penyair-penyair yang ingin turut mengisi kegiatan ini sangat dipersilakan, dengan syarat memberitahu lebih dahulu kepada panitia. 

Kira-kira begitu, hal sederhana mengenai Pertemuan Penyair Asia Tenggara, tidak ada yang berlebihan.

AGENDA ACARA:

Adapun agenda acara secara umum dibagi menjadi empat bagian:

1. Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II
-       Gembrung Budaya Indonesia.
-       Pentas Sastra Asia Tenggara.
-       Pentas Sastra Pelajar.

2. Seminar Sastra Negeri Serumpun
-       Dinamika Sastra Asia Tenggara.
-       Indonesia dalam khazanah literasi dunia.
-       Eksotisme Sastra Banten.

3. Penyair Asia Tenggara Masuk Sekolah
-       MA Al-Khairiyah Karangtengah (Utara)
-       SMP IT Raudatul Jannah Cilegon (Selatan)
-       Dua sekolah lagi masih dalam tahap komunikasi (Barat dan Timur)

4. Jelajah Kultur 
-       Komplek Kerajaan Banten Lama.
-       Ziarah Geger Cilegon.
-       Ziarah Produksi Kebudayaan Cilegon.


WAKTU PELAKSANAAN

Pembukaan dan Peluncuran Buku Puisi Penyair Asia Tenggara (Lentera Sastra II)

Hari, tanggal                : Jumat, 08 Agustus 2014
Pukul                           : 15.30-selesai
Tempat                        : Rumah Dinas Cilegon.

Penyair Asia Tenggara Masuk Sekolah

Hari, tanggal                : Sabtu, 09 Agustus 2014
Pukul                           : 08.30-12.00 WIB
Tempat                        : MA Al-Khairiyah Karangtengah (Utara), SMP IT Raudatul Jannah (Selatan), Barat, dan Timur.

Seminar Sastra Asia Tenggara

Hari, tanggal                : Sabtu, 09 Agustus 2014
Pukul                           :15.45-17.15 WIB
Tempat                        : Tentatif

Pentas Sastra Asia Tenggara

Hari, tanggal                : Sabtu, 09 Agustus 2014
Pukul                           : 19.30-23.30 WIB
Tempat                        : Lapangan Bola Mini Cilegon

Jelajah Kultural

Hari, tanggal                : Minggu, 10 Agustus 2014
Pukul                           : 08.00 s.d. selesai.
Tempat                        : Komplek Kerajaan Banten Lama, Situs Geger Cilegon, dll.


NAMA-NAMA PENYAIR YANG AKAN KAMI UNDANG BAIK YANG TERGABUNG DALAM BUKU LENTERA SASTRA II MAU PUN TIDAK TIDAK TERGABUNG DI DALAMNYA:

INDONESIA
  1. Abdul Malik,  (Medan, Sumut)
  2. Achmad Sultoni, (Cilacap, Jateng)
  3. Adri Sandra (Payakumbuh, Padang)
  4. Ady Harboy  (Medan, Sumut)
  5. Aldi Istanzia Wiguna, (Bandung, Jabar)
  6. Alhusni Husni, (Kajhu, Aceh Darussalam)
  7. Arafat AHC, (Demak, Jateng)
  8. Ari Witanto, (DI Yogyakarta)
  9. Arsyad Indradi, (Banjarbaru, Kalsel)
  10. Asrul Irfanto, (Bojonegoro, Jateng)
  11. Aulia Nur Inayah, (Tegal, Jateng)
  12. Ayat Khalili, (Madura, Jatim)
  13. Ayu Cipta, (Tangerang, Banten)
  14. Badruddin SA , (Madura, Jatim)
  15. Bambang Eka Prasetya, (Magelang, Jateng)
  16. Bagus Burhan, (Kudus, Jateng)
  17. Chipz Mirza Sastroatmodjo, (Kudus, Jateng)
  18. Daladi Ahmad, (Magelang, Jateng)
  19. Darman D Hoeri , (Malang, Jatim)
  20. Dedet Setiadi, (Magelang, Jateng)
  21. De Kemalawati, (Aceh)
  22. Dhenok Kristianti, (Bali)
  23. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
  24. Dimas Indiana Senja, (Brebes, Jateng)
  25. Edi S Febri, (Gringsing, Jateng)
  26. DR. TRI Budhi Sastri, (Siduardjo, Jatim)
  27. Ega Prayoga, (Cilegon, Banten)
  28. Ekohm Abiyasa, (Karanganyar, Jateng)
  29. Eni Meiniar Gito, (Rejang Lebong, Bengkulu)
  30. En Kurliadi NF, (Kranji, Bekasi)
  31. Fajar Timur, (Tangerang, Banten)
  32. Farida Sundari, (Sidorejo Hilir, Medan)
  33. Gampang Prawoto, (Bojonegoro, Jatim)
  34. Gia Setiawati Nesa, (Kotamobagu, Gorontalo)
  35. Gie Ferdiyan, (Cilegon, Banten)
  36. Gito Waluyo (Serang, Banten)
  37. Gol A Gong (Serang, Banten)
  38. Helfi Hendri Hanif, (Jakarta)
  39. Helin Avinanto, (Ngawi, Jatim)
  40. Hesti Sartika, (Medan, Sumut)
  41. Irham Kusumah, (Bandung, Jabar)
  42. Irna Novia Damayanti, (Purbalingga, Jateng)
  43. Isroni Muhammad Zulfa, (Banyumas, Jateng)
  44. Julia Asviana, (Pontianak, Kalbar)
  45. Karmila Ratna Dewi, (Malang, Jatim)
  46. Khoer Jurzani , (Sukabumi, Jabar)
  47. Kurnia Hidayati,  (Batang, Jateng)
  48. Lalu Muhammad Syamsul Arifin, (Lombok, NTT)
  49. Marina Novianti, (Bogor, Jabar)
  50. Muh Ali Sarbini, (Gresik, Jatim)
  51. Muhammad Asqalani Eneste, (Riau)
  52. Muhammad Lefand, (Jember, Jatim)
  53. Muhammad Rinaldy, (Palembang)
  54. Nastain Achmad Attabani, (Tuban, Jatim)
  55. Niam At-Majha, (Kudus, Jateng)
  56. Nova Linda, (Pekanbaru)
  57. Nurhadi, (Kendal, Jateng)
  58. Okto Muharman, (Batuhampar, Sumbar)
  59. Oscar Amran , (Bogor, Jabar)
  60. Retno Handoko, (Sumatra Utara)
  61. Riyanto, (Purwokerto, Jateng)
  62. Ruhyati, (Indramayu, Jabar)
  63. Seruni Tri Padmini, (Solo, Jateng)
  64. Sofyan rh Zaid, (Bekasi)
  65. Sri Wintala Achmad, (Cilacap, Jateng)
  66. Sulaiman Djaya (Serang, Banten)
  67. Sus Setyowati Hardjono (Sragen, Jateng)
  68. Syaki Zanky, (Bogor, Jabar)
  69. Teja Alhabd, (Dewan Kesenian Tanjungpinang)
  70. Toto ST Radik (Serang, Banten)
  71. Trisnatun Mpd, (Ajibarang, Jateng)
  72. Vanera El Arj, (Wonosobo, Jateng)
  73. Wanto Tirta, (Ajibarang, Jateng)
  74. Winarno Jumadi, (Bandung, Jabar)
  75. Wahyu Arya (Serang, Banten)
  76. WYAZ Ibnu Sinentang, (Ketapang, Kalbar)
  77. Windu Mandela, (Sumedang, Jabar)
  78. Yasintus T Runesi, (Jakarta)
  79. Yudi Damanhuri, (Tangerang, Banten)
  80. Yupnical Saketi, (Jambi)
  81. Zen AR  (Sumenep, Jatim)
  82. Zulkifli, S.Pd, (Jambi)

SINGAPORE
  1. Rohani Din, (Toa payoh)
  2. Jumadi Safar (Toa payoh)
  3. Faridah Bte Taib,  (National Institute of Education)
  4. Nordita Bte Taib, (Singapore Sports Council)
  5. Nor Aisya Bte Buang, (Marsiling Drive)
  6. Herman Mutiara, (Singapore)
  7. Khaziah Bte Yem, (Ministry of Education, Singapore)
  8. Dodi Alfy AZ, (Changi Airport & Road Sweeper)
  9. Ifa Hanifah, (Singapore)
  10. Khaireen Faezah, (Nanyang)
  11. Norhidayat Bin Mohamad Noor, (Bukit Batok)
  12. Mohd Khair Mohd Yasin, (Singapore)
  13. A.Jaaffar Munasip,  (Woodlands, Singapore)
  14. Kamaria Bte Buang, (Yhisun)

MALAYSIA
  1. Prof. Dr. Wan Abu Bakar, (Kuala Lumpur)
  2. Ampuan Awang, (Kinabalu)
  3. Azmi Nordin, (Klantan)
  4. Che Fauziah binti Idrus, (Kuala Lumpur)
  5. Ilya kalbam, (Kuala Lumpur)
  6. Didi Pengeja Adabi , (Hang Tuah)
  7. Gabriel Kimjuan, (Labuan)
  8. Mahlis Tompang, (Malaka)
  9. Mohd Ayadi, (Klantan)
  10. Norjanah MA, (Pulau Pinang)
  11. Roslan Syarif, (Slangor)
  12. Rosnani Ahmad, (Kedah)
  13. Teratai Abadi, (Kuala Lumpur)
  14. Sani La Bise, (Sabah)
  15. Sharimi Che Rus, (Kedah)
  16. Syafrein Effendi Usman, (Malaka)
  17. Ummi Marsheyta, (Kuala Lumpur)
  18. Umar Uzair, (Kuala Lumpur)
  19. Shirly Idris, (Pulau Penang)
  20. Rosmiaty Shaari, (Malaka)
  21. Djazlam Zainal, (Malaka)
  22. Abdullah Abdul Rahman, (Ipoh)
  23. Ahmad Ahnaf, (Kuala Lumpur)
  24. Ezah Nor, (Kuala Lumpur)
  25. Badaruddin Sabaruddin, (Kuala Lumpur)
  26. Kamelia Kameel, (Kuala Lumpur)
  27. Yatim Ahmad, (Sabah)
  28. Hazwan Arif Hakimi, (Petaling Jaya)
  29. Md Radzi Mustafa, (Kuala Lumpur)
  30. Amran Ibrahim Rasidi, (Kuala Kangsar)
  31. Nur Azian Liza, (Ipoh)
  32. Ibnu Din Assingkiri
  33. Ahmad Sirajudin Mohd Tahir, (Perak)
  34. Afik Ikram Muslimin, (Johor)

BRUNEI DARUSSALAM
  1. Abdullah Tahir , (Tutong)
  2. Haji Jawawi, (Brunei)

TAILAND
  1. Dr. Phaosan Jehwae, (Pattani)
  2. Mahroso Doloh, (Pattani)

TAIWAN & HONGKONG
  1. Aini Sekar Arum, (BMI, Formosa )
  2. Jay Wijayanti, (BMI, Taipei)
  3. Lintang Panjer Sore, (BMI, Hongkong)

HAL-HAL LAIN
  1. Undangan resmi akan diserbarkan secara periodik mulai tanggal 20 Juni 2014.
  2. Untuk mempermudah kawan-kawan berkomunikasi dengan pemerintah setempat, kami mengundang juga dinas kesenian dan kebudayaan setempat.
  3. Tamu undangan akan mendapatkan akomodasi berupa penginapan dan konsumsi selama kegiatan berlangsung.
  4. Tamu undangan diharapkan hadir sebelum acara pembukaan dimulai (Jumat, 08 Agustus 2014 pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat).
  5. Tamu undangan dari luar kota atau luar negeri yang menggunakan pesawat akan dijemput di Bandara/airport Soekarno Hatta, Jakarta dari pukul 09.00-13.00 Waktu Indonesia Barat.
  6. Tamu undangan yang menggunakan kereta akan dijemput di Stasiun Merak dari pukul 09.00-13.00 Waktu Indonesia Barat.
  7. Tamu undangan yang menggunakan Bus umum akan dijemput di Terminal PCI, Cilegon dari pukul 09.00-13. 00 WIB Barat.
  8. Tamu undangan yang datang di atas jam 13.00 akan diberi rute jalan menuju tempat kegiatan oleh panitia.

Demikian informasi sementara mengenai Pertemuan Penyair Asia Tenggara dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra ini disampaikan. Ada pun hal-hal yang ingin ditanyakan silakan diajukan kepada pantia.

Salam hormat kami,

Muhammad Rois Rinaldi
Ketua Pelaksana

Indra Kusumah
Ketua Umum Dewan Kesenian Cilegon

Sumber: Facebook M. Rois Rinaldi
Dan ini.
Link berita: yahoo dan tempo.co / ini.
Selengkapnya: Pertemuan Penyair Asia Tenggara dan Peluncuran Antologi Puisi Lentera Sastra II

Puisi Aji Ramadhan, Kompas, 1 Juni 2014

Saturday, 7 June 2014

Monogram Dua Huruf

Meski kau menuduhku sebagai penyamun, tetap
aku berpaling darimu. Dan meski tujuan kita sama,
aku mencoba pikiran kita bertolak belakang.

Aku ingat, kau tiba-tiba bertanya padaku:
“Jalan apa yang kau loncati. Bagaimana. Dan
Apakah kau tak terjebak untuk mabuk? Kenapa?”

Barangkali kau keliru merabai aku, jika aku ternyata
dapat menjadi si buas yang sopan ketika mendung
belum tercatat sebagai perih. Mungkin kau hanya

membaca di sisi luarku, lalu menduga bahwa aku
adalah si kecil yang berlindung di batu gelap sembari
berdoa dijauhi hari sial. Memang tak salah ketika

kau menuduhku, sebab kau berkeyakinan seekor
harimau yang kencur belum bisa membedakan
antara mangsa dan kawan. Tapi aku menganggap:

Seekor harimau, meski kencur, tetaplah harimau.
Apalagi taring harimau merupakan ruang kerja bagi
dewa maut untuk memulangkan jiwa yang buram.

Dan aku akan menjawab pertanyaanmu: “Sebuah
jalan merupakan buku semu. Dan aku tetap selalu
mabuk, meski jalan kita bertolak belakang.”

Surakarta, 2014


Handuk Hangat

Uap yang mengepul menandakan
aku telah siap melumat kaku dagingmu.

Tujuanku hanya satu, membuatmu
tenang dengan sedikit kejutan tak terduga.

Dan keluarlah kotoran lewat pori-porimu,
seperti lava dingin yang merembes.

Bahkan, aku tak memaksa kotoran
keluar, tapi aku memanfaatkan tarikan.

Dan bersikaplah seolah kau melakukan
kelahiran kembali, biar kau tak sia-sia.

Benar, syarafmu akan mengembang dengan
detak jantung melamban secara berurutan.

Jika kau mau menjawab, apakah kau
setuju aku akan mencuri keterjagaanmu?

Begitu, sayang sekali jika ternyata matamu
tak menyukai kelelapan semurni licinku.

Sekarang minumlah susu itu, lalu duduklah
dan pikirkan kenapa kau melewati kilauku.

Gresik, 2014


Dinding Sekarang

Aduh, saya tidak asli sini, Mas. Semua orang
di sini kebanyakan berasal dari luar. Cuma,
saya dan semua orang di sini bisa tinggal

karena kakek buyut kami pandai membuat
tuan besar senang. Padahal hanya membuatnya
kenyang dan tenang.

Saya dan semua orang di sini tahu, jika
tuan besar sangat berjasa. Untuk menghormati
jasanya, tempat ini kami buatkan dinding dan
di dinding itu kami beri tulisan:

Kami bahagia

dan tuan besar semoga diberkati Tuhan.
Oya, sudah dengar belum, Mas, jika tuan besar
turun tahta? Kami tidak khawatir meski
nanti kami diusir. Kami akan tetap menyambut
tuan besar dan menjamunya hingga muntah.

Surakarta, 2014


Tak Bertuan
: Bawah Tanahnya Dostoyevski

Jangan kalungkan koin emas
di leherku. Aku puas dengan deheman palsu,
timbangan keruh dan pergulatan gelapmu.

Bahagiakan saja aku, demi
sentuhan tak terarah yang bersembunyi
di kedipan matamu. Tapi simpan dulu

serabut hasratmu dan jangan gegabah
untuk membebatku. Karena aku
seorang yang tak mengimamimu.

Aku hanya ingin anjing di tubuhmu
liar. Terus menggonggong sampai kita
melihat bintang merekah di langit utara.

Lalu kau pun berdoa: Tenang,
tanpa sangsi. Sudah kau jangan
pikirkan hidup, karena kita sudah payah

menjalankan alur derita. Mari kita
selesaikan ini, meski kita saling luput
ketika kokok ayam tak patah dan aku

melupakan gonggongan anjing di tubuhmu.

Surakarta, 2014


Langit Tampak Mencolok

Biarkan langit tampak mencolok setelah kurvanya
kehabisan mekar. Dan biarkan juga langit tak lagi elok,
sebab orarenya telah membayang.

Tapi misalkan, langit tak menawarkan pemandangan
tersebut, barangkali aku jadi khawatir jika nanti malah
menampakkan batu-batuan yang beterbangan.

Seperti sabda si suci yang memberikan
kuliah umum kepada kaum gemar berhitung.

Oh, takutlah aku bahwa langit tak disangga pilar gaib.

Dan langit pun rebah di laut, bersama kurva dan
oranyenya. Seperti berubahnya gambar karena luntur.

Dan motif bunga di bajuku yang semula diam, sekarang
pun bergoyang-goyang ingin menjatuhkan putiknya.

Gresik, 2014


Pesta Minum Teh

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.
Beberapa boneka belum meminum
secangkir pun. Si gadis tersenyum

melambai-lambai tangannya.
Memainkan pertemuan secara anggun.

Di pesta minum teh tadi,
boneka kuda tampak sedih. Si gadis cuek
dan lebih bercerita keluguannya.

Boneka lain tampak bahagia melihat aksi
si gadis. Seolah tidak mubazir dihidupkan.

“Ibu peri belum datang, kita tunggu
ibu peri dulu,” kata si gadis.

Pesta minum teh baru 13 menit berlalu.
Boneka kuda sudah frustasi. Diharapkan
si gadis memberhentikan permainannya.

Akhirnya jam pun mendatangkan si mama
menjemput si gadis itu. “Itu, akhirnya ibu peri
datang,” kata boneka kuda dan menyiapkan
diri untuk berlari dalam ilusi.

Surakarta, 2014

* Aji Ramadhan lahir di Gresik, Jawa Tengah, 22 Februari 1994. Ia tinggal di Surakarta. Salah satu buku puisinya adalah Sepatu Kundang (2012).

PUISI KOMPAS, MINGGU, 1 JUNI 2014

Sumber: http://puisikompas.wordpress.com/tag/aji-ramadhan/
Selengkapnya: Puisi Aji Ramadhan, Kompas, 1 Juni 2014

Sastrawan Sejati, Tidak Takut Miskin

Friday, 6 June 2014

Sastrawan sejati berpikir dan bertindak dengan hati yang murni. Ia memahami kejayaan sebagai proses bersyukur. Ia memahami kejatuhan sebagai proses perbaikan diri. Ia akan lebih menghargai orang yang menganggapnya sebagai lawan tetapi bersikap tulus dan terus-terang daripada orang yang dianggapnya sebagai kawan yang bersikap manis di hadapan tetapi menghancurkan di belakang.

Sastrawan sejati selalu melihat setiap persoalan dari berbagai sudut pandang, juga dari pandangan yang bertentangan; ia tidak pernah memutuskan sikap atas sesuatu sebelum memiliki informasi yang cukup.

Sastrawan sejati, jika kalah dalam wacana pemikiran atau perdebatan, tidak akan menghancurkan lawan berpikir dan berdebatnya dengan menggunakan kekuasaan yang ada pada dirinya atau dengan menggunakan kekuasaan yang ada pada orang lain. Ia tidak akan pernah merampas pekerjaan dan hak-hak perdata orang lain dengan cara apa pun.

Sastrawan sejati tidak akan menggadaikan prinsip-prinsip kebaikan universal.

Sastrawan sejati tidak takut gertakan, tidak takut pada kekuasaan yang mengancam, tidak takut memperjuangkan kebenaran.

Sastrawan sejati, tidak takut miskin.  

(Cecep Syamsul Hari, April 2014).

Sumber: Sastra Digital, http://www.sastradigital.com/apps/blog/show/42093871-sastrawan-sejati-tidak-takut-miskin
Selengkapnya: Sastrawan Sejati, Tidak Takut Miskin

10 Kiat Menulis dari Ernest Hemingway

Tuesday, 13 May 2014

1. Menulislah di Pagi Hari
Memulai menulis ketika hari masih pagi akan memberi kamu waktu yang lebih leluasa untuk menyelesaikan tulisan. Selain itu, hal ini ditujukan agar kamu menjadikan menulis sebagai bagian dari kebiasaan harian. Lebih-lebih—karena dilakukan di pagi hari—menulis menjadi sesuatu yang kamu anggap sebuah kegiatan utama dalam rangkaian rutinitasmu.

2. Hindari Membahas Proses Kreatif dengan Orang Lain
“Bagaimana proses kreatif penulis?” adalah salah satu pertanyaan yang jarang sekali luput diajukan kepada penulis dalam kesempatan-kesempatan diskusi atau wawancara. Hemingway memilih untuk tidak menjawab pertanyaan ini ketika diwawancarai. Sebagian orang memprediksi bahwa tindakan itu dilakukan Hemingway karena ia khawatir jangan-jangan hal yang mestinya ia tulis dalam novelnya malah bocor lewat wawancara itu. Sebagian yang lain berprasangka lebih positif. Hemingway lebih suka membicarakan topik lain yang jauh lebih relevan dalam wawancara itu yang mungkin akan membantunya dalam proses menulis selanjutnya.

3. Menulis Sambil Berdiri
Aneh, ya? Hahaha… tapi, Hemingway memang benar-benar melakukannya. Sejak awal karir menulisnya, Hemingway berdiri menghadap ke mejanya lalu mulai menulis.

4. Nikmati Prosesnya dengan Sungguh-sungguh
Kiat yang satu ini sebenarnya tidak hanya berlaku dalam hal menulis. Secara umum, kita memang dianjurkan untuk menikmati tiap proses yang dilalui. Secara khusus, seorang penulis harus merasa nyaman berkutat dengan kata-kata. Penulis harus membangun ikatan khusus yang intim dengan tulisannya.

5. Catatlah Perkembangan Harian
Hemingway punya kebiasaan untuk melihat ulang tulisannya setiap selesai menulis. Tiap harinya, ia mencatat jumlah kata yang berhasil dirangkainya dalam rentang waktu satu hari di sebuah papan yang digantung di dinding ruang kerjanya.

6. Jangan Pernah Remehkan Kesederhanaan
Tidak semua hal harus dilakukan dengan ingar-bingar. Salah satu hal yang dicontohkan oleh Hemingway adalah keengganannya untuk bergantung pada mesin tik yang digunakannya untuk menulis. Ketika ia merasa kurang sreg mengetik, ia akan mengembalikan ‘rasa’ dengan menulis pakai pensil, sesuatu yang jauh lebih sederhana.

7. Menata Waktu untuk Bekerja dan Berhenti Bekerja
“Saya belajar untuk tidak memikirkan tulisan saya sejak saat saya berhenti menulis hari ini sampai akan mulai menulis lagi besok. Dengan begitu, alam bawah sadar saya yang akan melanjutkan pekerjaan itu. Sehingga di waktu yang sama saya harap saya justru bisa mendengarkan orang lain dan memperhatikan hal-hal lain.” Itu pernyataan Hemingway. Ia membagi waktunya untuk bekerja (menulis) dan untuk melakukan hal lain. Dengan cara ini, ia tidak diperbudak oleh pekerjaannya sendiri. Ia tetap bisa berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya, hitung-hitung agar bisa mendapatkan hal-hal baru yang bisa jadi akan mendukung karyanya.

8. Menulislah dengan Benar dan Jujur
“Yang harus dilakukan adalah menulis kalimat kebenaran. Tulislah kalimat paling benar yang kamu tahu.” –Ernest Hemingway
Kebenaran yang dimaksud dalam konteks ini bukan serta merta berarti fakta. Melalui tulisannya, penulis diharapkan mewartakan kebenaran, tentunya dengan jujur. Bagaimanapun bentuk dan gaya tulisan itu, penulis haruslah mempunyai hasrat dalam dirinya untuk membagikan kebenaran pada pembacanya.

9. Jatuh Cintalah
Nah lho! Perasaan ketika jatuh cinta biasanya memberikan efek yang baik pada tubuh dan psikis kita. Hal ini juga berguna bagi mereka yang menulis. Bangkitkanlah perasaan cinta pada pasanganmu atau pada orang yang kejatuhan hatimy. Dengan luapan rasa bahagia dari cinta itu, cobalah menulis.

10. Ketahuilah Banyak Hal, Tapi Jangan Tulis Semua yang Kamu Tahu
Menjadi penulis tentulah membutuhkan pengetahuan yang mumpuni dalam banyak hal, lebih-lebih tentang sesuatu yang ditulisnya. Belajarlah sebanyak-banyaknya namun, satu hal yang perlu diingat adalah tidak perlu mencantumkan semua yang kamu tahu itu dalam tulisanmu. Hemingway menghimbau para penulis untuk belajar mencoba mengabaikan sebagian informasi yang menjadi bahan tulisan. Tidak semua informasi itu harus ditulis. “… bagian yang diabaikan itu akan membangun kekuatan ceritamu dan membuat pembaca merasakan sesuatu yang lebih dari apa yang mereka pahami,” begitu pesannya.

Nah, itu tadi beberapa kiat menulis dari penulis kenamaan Ernest Hemingway. Siapa tahu bisa jadi tambahan referensi solusi untuk proses menulis kita. Jangan khawatir, masing-masing penulis punya kiat dan kebiasaannya sendiri untuk mengatasi permasalahan dalam menulis. Hemingway sudah membagikan ceritanya, bagaimana dengan kamu, Penulis?

MARIA PUSPITASARI, Editor Indie Book Corner.

Disarikan dari Top 10 Writing Tips of Ernest Hemingway, http://top10buzz.com/top-ten-writing-tips-of-ernest-hemingway/

Selengkapnya: 10 Kiat Menulis dari Ernest Hemingway

Musuh atau Hal yang Perlu Dihindari dalam Menulis Puisi

...
Bahwa setiap langkah yang harus ditempuh oleh profesi apa pun, termasuk penyair, memerlukan proses yang panjang, salah satunya adalah proses refleksi, kontemplasi, perenungan, baik mengenai materi yang akan ditulis, maupun bentuk setelah jadi tulisan (setelah jadi puisi). Puisi yang hari ini ditulis, ketika esok hari dibaca lagi, ternyata banyak diksi yang tidak pas, banyak kata yang harus dibuang. Itulah sebabnya Chairil Anwar perlu keranjang sampah untuk mewadahi kertas yang diremas, yang berisi puisi yang gagal.

Puisi adalah karya imajinasi penyair dalam bentuk larik-larik yang bermakna. Puisi adalah bahasa yang padat, mampat. Puisi adalah dunia penuh makna, bahkan menurut Abdul Hadi WM dalam Ayat-ayat Sastra (Junaedhie, 2013) puisi merupakan sarana untuk mencari kebenaran atau memahami hidup. Ia juga merupakan sarana ekspresi atau media untuk mewujudkan hidup, suatu hal yang hakiki bagi manusia. Di dalam puisi, sebagaimana di dalam ilmu dan seni yang lain, tercakup cita-cita manusia akan kebenaran, akan kehidupan. Puisi juga bisa merupakan tanggapan terhadap secara batiniah, lanjut Abdul Hadi WM. Karena itu puisi juga merupakan katarsis, upaya bersih diri dari bentuk-bentuk kehidupan profan dengan nilai-nilai yang transendental. Puisi bisa menjadi sarana ibadah, pernyataan baru, dan cinta yang mendalam dan personal. Puisi menjadikan yang baru tetap baru, yang aktual tetap aktual, karena berurusan dengan hal-hal yang fundamental. Puisi bukan upaya untuk menyulap misteri.

Menulis puisi melibatkan banyak hal yang cukup kompleks : pengalaman, kedalaman, kejujuran, kecerdasan, dan sedikit kegilaan (Sarjono, 2010). Semua dasar kepenyairan bermuara pada keterampilan teknis di satu sisi dan wawasan sang penyair di sisi lain. Mengingat kompleksitas urusan menulis puisi, puisi yang “baik” tidak mungkin lahir dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 

Ada lima musuh puisi yang harus dihindari agar menghasilkan puisi yang yahud menurut Agus R Sarjono. Kelima musuh puisi itu adalah : keumuman, simplifikasi, propaganda dan reklame, klise, dan nasihat. Hindarkan kelima hal tersebut dari puisi anda, jika puisi anda ingin mencapai predikat puisi yahud.

Musuh pertama dalam puisi adalah keumuman. Puisi anti pandangan yang umum. Keumuman harus dihindari. Sebagai contoh, pandangan umum mengenai sosok ibu adalah perempuan yang mengandung 9 bulan, pemberi ASI, mulia, lembut, penuh cinta kasih, penuh pengabdian, dan seterusnya. Jika anda menulis puisi tentang ibu dengan pandangan umum itu, niscaya puisi anda tidak akan menarik. 

Musuh kedua dalam puisi adalah simplifikasi, yang artinya penyederhanaan yang banyak hubungannya dengan kebiasaan menggeneralisir atau menggebyah-uyah.  Pandangan yang menggebyah-uyah, menggeneralisir sangat dekat juga dengan keumuman di atas. Cara pandang yang memukul-rata. Ini tidak akan melahirkan puisi yahud. Bahwa pengemis itu pasti kumal, jorok, kotor. Bahwa guru ngaji itu pasti lurus, saleh, suci. Bahwa Barat itu pasti TOP. Bahwa pacaran itu pasti ada dengan adegan-adegan cinta mesra. Dan seterusnya.

Musuh ketiga dalam puisi adalah propaganda dan reklame. Mengapa propaganda dan reklame menjadi musuh dalam menulis puisi, karena kedua hal tersebut sering lepas dari hubungan personal dengan manusia. Ada indoktrinasi. Ada intimidasi. Sudah pasti, hal ini bertentangan dengan bahasa puisi yang ingin memagut hati, ingin bersunyi dengan hati.

Musuh keempat dalam puisi adalah klise, artinya puisi yang menggunakan kata-kata klise bukan puisi yahud. Kata, frasa, klausa, ungkapan, kalimat klise artinya kata, frasa, klausa, ungkapan, atau kalimat yang sudah ribuan kali digunakan sehingga tidak menimbulkan suasana baru lagi. Penyair yang baik akan menciptakan ungkapan-ungkapan baru sehingga puisinya segar, tidak klise. Beberapa ungkapan klise misalnya wajahmu seperti bulan, matamu seperti bintang timur, pipimu bak pauh dilayang, bibirmu merah delima, dan lain-lain. Di dunia iklan dikenal beberapa ungkapan baru seperti senyum pepsodent, minum makanan bergizi.

Musuh kelima ialah nasihat, maksudnya puisi yang berisi nasihat sangat riskan karena orang yang menasihati jika belum melaksanakan isi nasihat tersebut akan dijuluki orang yang jarkoni, bisa ngajar tetapi tidak bisa nglakoni.  

Musuh keenam (tambahan) adalah rumitisme. Puisi yang dibuat rumit dengan alih-alih agar tidak umum padahal tidak sampai pada makna yang dikehendaki.

Disarikan dari esai "PUISI-PUISI EKO SUSANTO : SEBUAH KRITIK REFLEKTIF" Oleh Esti Ismawati.

Selengkapnya: Musuh atau Hal yang Perlu Dihindari dalam Menulis Puisi

153 Nama Penyair yang Karyanya Akan Dimuat dalam Buku DARI NEGERI POCI 5

Penyeleksian tahap awal (27/03/14), menyaring puisi 228 penyair dari 400-an penyair seluruh Indonesia yang mengirim karya. Kemudian tahap selanjutnya/final (13/05/14) tersaring 153 nama penyair saja. Dan, alhamdulillah puisiku lolos. Ini pertama kalinya ikut antologi Dari Negeri Poci. Puisi kawan satu kota juga masuk, Pradita Nurmalia. Selamat!

Tim Kurator: Adri Darmadji Woko, dkk.

Direncanakan, acara peluncuran "NEGERI LANGIT, 153 Penyair dari Negeri Poci 5" berlangsung di Tegal, Jawa Tengah, 20 - 22 Juni 2014.
 DNP 1-3
DNP 4
Kover DNP 5: Negeri Langit. Sumber.

Berikut nama 153 penyair yang lolos final:
1.    A‘YAT KHALILI
2.    ABAH YOYOK
3.    ABDUL  SALAM H.S.
4.    ADRI DARMADJI WOKO
5.    AHITA TEGUH SUSILO
6.    AHMAD MUSABBIH
7.    AHMAD WAYANG
8.    ALDY  ISTANZIA  WIGUNA
9.    ALEX  R. NAINGGOLAN
10.  ANTON SULISTYO
11.  ARIEF HIDAYAT
12.  ARIEF SETIAWAN TEGA
13.  ARINDA RISA KAMAL
14.  ARIEYOKO
15.  ARTHER PANTHER OLII
16.  ASPAR  PATURUSI
17.  ASEP SAIFUL ANWAR
18.  AYID  SUYITNO PS
19.  BADRUDDIN SA.
20.  BAGUS BURHAM
21.  BAMBANG WIDIATMOKO
22.  BENI SETIA
23.  BETTA  A. SETIANI
24.  BOY REZA UTAMA
25.  BUDHI SETYAWAN
26.  CUNONG NUNUK SURAJA
27.  DALASARI PERA
28.  DARU MAHELDASWARA
29.  DEDET SETIADI
30.  DG KUMARSANA
31.  DHARMADI
32.  DIAN RUSDIANA
33.  DIMAS ARIKA MIHARDJA
34.  DIMAS INDIANA SENJA
35.  DWI RAHARIYOSO
36.  EDDY PRANATA PNP
37.  EKA BUDIANTA
38.  EKOHM ABIYASA
39.  ELIS TATING BARDIAH
40.  ELLY ANDROMEDA
41.  ENDANG SUPRIYADI
42.  ENDANG WERDININGSIH
43.  ERNI ALADJAI
44.  ERSA SASMITA
45.  ESTI  ISMAWATI
46.  EWITH BAHAR
47.  FAKHRUNNAS MA  JABBAR
48.  FARRA YANUAR
49.  FIRDA RASTRA
50.  FITRAH  ANUGERAH
51.  FRIEDA AMRAN
52.  GALEH PRAMUDIANTO
53.  GUNOTO SAPARIE
54.  GUS NOY
55.  HAMZAH   MUHAMMAD
56.  HANDRAWAN NADESUL
57.  HANDRY TM
58.  HANNA YOHANA
59.  HARDHO SAYOKO SPB
60.  HASAN BISRI  BFC
61.  HENDRA SAPUTRA
62.  HENDRO SISWANGGONO
63.  HENI HENDRAYANI
64.  HERMAN SYAHARA
65.  HIDAYAT RAHARJA
66.  HILMAN SUTEDJA
67.  HUSNUL KHULUQI
68.  IBE  S.  PALOGAI
69.  IMAM SAFWAN
70.  INTAN PERTIWI
71.  IRAWAN MASSIE
72.  ISBEDY STIAWAN  ZS
73.  JANE ARDANESHWARI
74.  JOSHUA IGHO
75.  JULIA  F. GERHANI
76.  KHOER  JURZANI
77.  KIKI SULISTYO
78.  KINANTHI  ANGGRAENI
79.  KURNIA EFFENDI
80.  KURNIAWAN JUNAEDHIE
81.  LAILATUL KIPTIYAH
82.  LASINTA ARI NENDRA
83.  LATIEF S. NUGRAHA
84.  LINA KELANA
85.  LINTANG ISMAYA
86.  LY. JAMILAH
87.  M. ENTHIEH MUDAKIR
88.  M. RIAN AF
89.  MAHBUB JUNAEDI
90.  MARIATI ATKAH
91.  MARINA NOVIANTI
92.  MATRONI MUSERANG
93.  MOH. MIR’OJ  ADHIKA RS
94.  MOHAMAD CHANDRA IRFAN
95.  MUCHLIS DARMA PUTRA
96.  MUH. ALI SARBINI
97.  MUHAMAD BAIHAQI
98.  MUHAMMAD ASQALANI ENESTE
99.  MUHAMMAD TAUFAN
100. NERO TAOPIK ABDILLAH
101. NI  MADEPURNAMASARI
102. NIA SAMSIHONO
103. NONA G. MUCHTAR
104. NOVY  NOORHAYATI
105. NYOMAN  SUKAYASUKAWATI
106. OEKUSI ARIFINSISWANTO
107. ONS UNTORO
108. POETRY ANN
109. PRADITA NURMALIA
110. PRIJONO TJIPTOHERIJANTO
111. PRINGADI ADI SURYA
112. R. YULIA
113. RAHADI ZAKARIA
114. RAHMAT ALI
115. RAMA FIRDAUS
116. RAMA PRABU
117. RATNA AYU BUDHIARTI
118. REDDY SUZAYZT
119. RIAN IBAYANA
120. RIEKA ISTIANINGRUM
121. RIKI UTOMI
122. RINI FEBRIANI
123. RISMUDJI RAHARDJO
124. RITA OETORO
125. ROMLI BURHANI
126. SELENDANG MAYANG
127. SERUNI TRI PADMINI
128. SETIYO BARDONO
129. SHINTA MIRANDA
130. SLAMET RIYADI SABRAWI
131. SOFYAN RH ZAID
132. SONI FARID MAULANA
133. SONNY  H. SAYANGBATI
134. SRI WINTALA ACHMAD
135. STEBBY JULIONATAN
136. SUSY ANING SETYAWATI(SUS S. HARDJONO)
137. SUTIRMAN EKA ARDHANA
138. SYARIFUDDIN ARIFIN
139. SYIHABUL  FURQON
140. TAWAKAL  M.IQBAL
141. THOMAS HARYANTOSOEKIRAN
142. TJAK  S.  PARLAN
143. UDIN  SAPE BIMA
144. UJIANTO SADEWA
145. UKI BAYU SEDJATI
146. VANERA  EL ARJ
147. WAWAN KURNIAWAN
148. WILLY FAHMI AGISKA
149. WINDU MANDELA
150. YADI RIYADI
151. YANIE WURYANDARI
152. YOGIRA YOGASWARA
153. YVONNE  DE FRETES

Sumber/referensi:
Facebook Penerbit Kosakatakita tahap awal
Facebook Penerbit Kosakatakita tahap final 
http://darinegeripoci.wordpress.com/para-penyair 

Acara launching:

ACARA TEMU PENYAIR DARI NEGERI POCI 5 SE INDONESIA 20-22 JUNI 2014

Diumumkan kepada teman2 penyair antologi NEGERI LANGIT: DARI NEGERI POCI 5, bahwa acara peluncuran buku akan diadakan pada:

Hari/ Tanggal   : Jumat tanggal: 20 Juni sd. Minggu  22 Juni 2014.
Acara              : Temu penyair para penyair DARI NEGERI POCI
Tempat           : Gedung Wanita, Dewan Kesenian Tegal, Jl. Setiabudi, Tegal.
Penyelenggara : Dewan Kesenian Tegal, Rumah Sastra Tegal dan Komunitas Radja Ketjil Jakarta


Sehubungan dengan itu, disampaikan beberapa hal penting berikut:

1. Para penyair dari luar kota/ luar pulau yang ingin hadir dalam acara ini, mhn dgn hormat agar menghubungi melalui SMS: Sdr. Adri Darmadji Woko (Jakarta) dengan nmr HP: 0856-177-6210 dan/ atau  Sdr. Joshua Igho (Tegal) dengan nmr HP  0877-300-76863, paling lambat sebelum tanggal 20 Juni. SMS dlm format:  Nama Penyair, Asal Kota, Perkiraan Sampai Tegal.
2. Bagi penyair yang telah melapor, panitia menyediakan akomodasi memadai di Hotel Aleksander, Jalan Jendral Sudirman No 30, Tegal
3. Mohon maaf, fasilitas akomodasi tidak berlaku bagi keluarga/ partner/ teman dari penyair yang ditanggung. Bagi keluarga/partner/ teman akan dikenakan tarip dengan harga diskon.
4. Fasilitas ini juga tidak berlaku bagi penyair yang tinggal di kota Tegal dsktrnya.
5. Lain2:
- Chek in di Hotel Aleksander,  mulai Jumat 20 Juni pukul 14.00 dan check out padaMinggu 22 Juni 2014 pukul 12.00 WIB


Ketua Panitia:
M. Enthieh Mudakir

Sekretaris:
Dyanindra Srikumara (Nindra)

Sumber: Facebook Penerbit Kosakatakita
dan http://darinegeripoci.wordpress.com/2014/05/28/temu-penyair-dari-negeri-poci-negeri-langit

Link-link:
http://www.teraslampung.com/2014/05/temu-penyair-dari-negeri-poci-dihelat.html
Selengkapnya: 153 Nama Penyair yang Karyanya Akan Dimuat dalam Buku DARI NEGERI POCI 5

Jenis-jenis Pekerjaan di Industri Penerbitan Buku

Monday, 12 May 2014


Buat kamu yang suka baca (dan juga nulis), bekerja di sebuah industri penerbitan pasti akan terasa sangat menyenangkan. Karena kita akan melakukan berbagai pekerjaan yang sesuai dengan minat. 

Nah, jika sekarang kamu menginginkan bisa bergabung ke dalam tim di sebuah penerbitan, tentunya hal pertama yang harus kamu ketahui adalah jenis-jenis pekerjaan apa saja yang tersedia di sana. Yuk, sekarang kita bahas berbagai jenis pekerjaan yang ada dalam industri penerbitan.
Sebenarnya, penerbitan sama halnya dengan industri lain. Selain direktur atau pimpinan perusahaan yang bertugas mengatur laju perusahaan dan departemen di bawahnya, bagian-bagian yang idealnya ada dalam sebuah industri (penerbitan dan industri lain) adalah formasi untuk:

1.   Sekretaris
Tugas sekretaris di penerbitan relatif sama dengan sekretaris di industri pada umumnya: mengurus surat masuk dan keluar, melakukan kegiatan administratif, membuat catatan meeting redaksi, dan seterusnya. Yang membedakan dengan industri lain adalah tugasnya mengurus surat kerja sama penerbitan buku antara penulis dengan penerbit. Terkadang, di beberapa penerbit, sekretaris juga bertugas mengarsip naskah-naskah masuk, baik yang dikirim melalui email maupun printed out. Namun, di penerbitan yang lain tugas ini menjadi tanggung jawab editor akuisisi. Sekretaris bertanggung jawab secara langsung kepada pimpinan perusahaan.

2.   Keuangan
Tugasnya sama dengan bagian keuangan pada umumnya; mengatur arus kas, membuat laporan penjualan, mengatur gaji karyawan, dan seterusnya. Tentu saja yang membedakan dengan industri lain adalah tugasnya menghitung dan membayar royalti penulis.

3.   Personalia
Bagian ini juga relatif sama dengan industri lain: mengurus karyawan, dari mulai absensi, hak cuti, memberikan surat peringatan, dan seterusnya.

4.   Pemasaran (Marketing)
Sama halnya dengan marketing di industri lain, tugas marketing adalah memasarkan barang (dalam hal ini buku) agar lebih banyak diketahui orang, kemudian dibeli.  Di sebuah penerbitan, marketing biasanya juga punya “suara” apakah sebuah buku layak terbit atau tidak disesuaikan dengan selera pasar ataupun target marketnya. Dalam hal ini, editor akuisisi biasanya akan presentasi tentang sebuah naskah yang menurutnya layak terbit di depan bagian lain, termasuk bagian marketing.  Di zaman serba digital seperti ini, tentunya tugas marketing semakin beragam, misalnya: membuat rencana promo buku di sosial media, merencanakan program-program yang dijalankan online, dan lain-lain.

5.   Produksi
Bagian produksi biasanya dipimpin oleh seorang yang disebut kepala produksi, dia bertanggung jawab penuh pada jadwal cetak buku serta hasil cetakannya (apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan atau belum). Kepala produksi akan menjadi quality control atas hasil cetakan buku-buku penerbitannya. Bagian produksi juga biasanya jadi satu dengan artistik yang bertugas membuat cover dan atau me-layout naskah. Jika penerbitan tersebut punya mesin cetak sendiri, kepala produksi biasanya juga bertugas memimpin pegawai-pegawai di percetakan.

6. Distribusi
Bagian ini bertugas mendistribusikan buku-buku yang sudah selesai dicetak. Dia akan berhubungan dengan toko-toko buku konvensional dan juga toko buku online. Dia juga bertugas memastikan bahwa stok buku di gudang penerbit cukup aman sehingga tidak kehabisan stok jika ada toko yang melakukan repeat order. Jika stok buku sudah mulai sedikit, dia harus melaporkan kepada kepala produksi agar dipertimbangkan untuk segera cetak ulang. Sebaliknya, jika buku di gudang terlalu banyak, dia akan berdiskusi dengan bagian marketing untuk membuat event-event tertentu agar stok buku cepat berkurang.

Yup, itulah enam bagian di industri buku yang tugas dan fungsinya hampir sama dengan industri lainnya. Dalam sebuah penerbit yang sudah besar, keenam bagian tersebut punya sub-bagian lagi, misalnya Kepala Bagian Keuangan yang membawahi: penjualan, pembelian, accounting, dan lain-lain. Ataupun Manajer Marketing yang membawahi: promosi, sales, digital marketer, dan lain-lain. Ada juga penerbit yang menambahkan bagian artistik menjadi sebuah departemen sendiri. Namun, di beberapa penerbit bagian artistik juga terkadang masuk dalam bagian redaksional.

Nah, masih ada satu bagian yang paling membedakan dengan industri lain, yaitu: REDAKSI. Bagi penerbitan yang sudah berskala besar, redaksi akan di bagi menjadi dua, yaitu: redaksi fiksi dan redaksi nonfiksi. Masing-masing dipimpin oleh seorang yang disebut kepala redaksi fiksi dan kepala redaksi nonfiksi. Tugas para kepala ini adalah mengatur dan memastikan bahwa semua pekerjaan sesuai dengan yang direncanakan, bertindak sebagai penghubung antara editor dengan bagian-bagian lain di perusahaan, dan seterusnya.

Kepala redaksi membawahi berbagai macam editor dengan tugas yang berbeda-beda. Sebelum kita masuk tentang macam-macam jenis editor, mari kita flash back terlebih dahulu tentang dunia penyuntingan atau dunia editing ini.

Editor ada dalam dunia penerbitan buku di Indonesia sudah ada sejak 1890. Waktu itu, pekerjaan penyuntingan ini tidak dilakukan oleh pribumi, tapi oleh orang Belanda dan Tionghoa. Pendidikan editing di Indonesia sendiri baru ada sampai setingkat D3, bermula tahun 1980-an di Universitas Padjadjaran Bandung dengan program studi “Editing” serta program studi “Penerbitan” di Politeknik Negeri Jakarta.

Tidaklah mengherankan kalau editor-editor sekarang banyak yang belajar secara outodidak karena memang belum pupulernya program studi editing ini. Sepengetahuan saya, belum ada tingat S1 untuk jurusan penyuntingan/editing (cmiiw). Pada perkembangannya, pekerjaan editor banyak didominasi lulusan sastra karena dianggap paling “dekat” dengan program studi editing. Tentu saja, selain karena program studi editing biasanya masuk dalam Fakultas Sastra, juga karena di jurusan sastra (terutama sastra Indonesia) juga ada mata kuliah yang mempelajari tata bahasa, kesusastraan, dan lain-lain.

Namun, seiring berkembangnya zaman, dunia editing tidak melulu dihuni oleh lulusan sastra. Hal ini bukanlah sebuah kemunduran atau sebaliknya, menurut saya hal ini wajar-wajar saja, karena pada dasarnya kaidah kebahasaan, EYD, dan tata bahasa bisa dipelajari. Yang lebih dibutuhkan di dunia editor menurut saya adalah pengetahuan yang luas dan juga kepekaan terhadap bahasa.  Setuju? :)


Berikut  adalah jenis-jenis pekerjaan di bagian redaksi sebuah penerbitan:

1.   Pimpinan Redaksi (Editor in Chief)
Bertugas mengelola bagian editorial: merancang tema buku yang akan diterbitkan, membuat dan memastikan skedul penerbitan buku sesuai jadwal, memberi keputusan berkaitan dengan editorial, dan mengatur bagian-bagian di bawahnya.

2.   Redaktur Pelaksana (Managing Editor)
Managing Editor merupakan wakil dari editor in chief, bertugas memastikan bahwa semua rencana yang berkaitan dengan bagian redaksi bisa terlaksanan sesuai yang direncanakan.

3.   Senior Editor
Senior editor atau biasa disebut dengan “editor” saja, bertugas melakukan penyuntingan substantif terhadap sebuah naskah yang siap terbit. Editor juga bertugas memberi saran atas perwajahan (cover) buku yang diedit. Selain itu, dia juga biasanya membuat sinopsis buku yang akan diletakkan di back cover. Bersama editor akusisi, editor juga bertugas mencari naskah untuk diterbitkan. Editor merupakan jembatan yang menghubungkan penulis, penerbit dan pembaca. Dia harus membuat karya penulis lebih bagus, pembaca puas, dan penerbit untung. :) 

4.   Editor Akuisisi (Acquisition editor)
Editor akusisi bertugas menyeleksi naskah-naskah masuk dan memberi keputusan apakah naskah tersebut layak terbit atau tidak. Editor akuisisi akan banyak berhubungan dengan penulis, karena dia adalah “orang pertama” yang disapa penulis ketika mengirimkan naskah. Editor akuisisi juga bertanggung jawab terhadap stok naskah siap terbit, jadi jika stok naskah semakin sedikit, dia juga bertanggung jwab untuk mencari naskah.   

5.   Pemeriksa Aksara (Copy Editor)
Copy editor biasa disebut dengan proof reader ataupun sering disebut dengan pemeriksa aksara. Copy editor bertugas melakukan tugas teknis pengeditan berupa perbaikan dan pemeriksaan naskah sesuai kaidah yang berlaku. Pekerjaan copy editor meliputi: memeriksa kesalahan penulisan (tanda baca, ejaan, dsb), memeriksa konsistensi dalam penulisan, memeriksa apakah semua bagian dalam buku yang diedit sudah sesuai dengan fakta terbaru atau belum (untuk buku nonfiksi), dan seterusnya. 

6.   Right Editor
Right editor bertugas mengurus hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta, International Standard Book Number (ISBN), Katalog Dalam Terbitan (KDT), dan hal-hal yang berkaitan dengan hukum lainnya, seperti misalnya berhungan dengan penerbit utama ketika penerbitannya akan menerjemahkan buku luar.

7.   Picture Editor
Editor ini bertugas melakukan urusan visual grafik dalam sebuah buku yang akan diterbitkan, meliputi: lukisan, tabel, foto, diagram, dll. Dia meneliti apakah ukuran tabel sudah sesuai, desain sudah bagus, setting sudah cocok, sampai memilih kertas agar hasil cetakannya sesuai dengan yang diharapkan.  

Yup, itu dia tujuh posisi yang ada pada bagian redaksi sebuah penerbitan. Posisi tersebut mengacu pada penerbitan-penerbitan yang ada di negara maju yang pembagian tugasnya sudah jelas. Yes, idealnya seperti itu, tentu saja masing-masing penerbit punya alasan tersendiri akan memakai atau menggabungkan bagian editor mana saja, disesuaikan dengan kebutuhannya.

Jadi, kalau kamu memang sudah memiliki niat bekerja di dunia penerbitan, mungkin ada baiknya mulai sekarang kamu mempersiapkan diri. Kira-kira apa yang bisa kamu lakukan agar pekerjaan impian di industri buku bisa kamu raih? Tulisan selanjutnya akan kita bahas tentang syarat-syarat menjadi seorang editor di penerbit serta kode etik penyuntingan buku.

Sumber: http://www.stilettobook.com/index.php?page=artikel&id=82
Selengkapnya: Jenis-jenis Pekerjaan di Industri Penerbitan Buku

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas