Lomba Cerpen dan Cerber Majalah Femina 2012-2013

Tuesday, 23 October 2012


Syarat dan ketentuan lomba cerpen dan cerber femina 2012
  1.  Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
  2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, menggunakan ejaan yang disempurnakan.
  3. Naskah harus karya asli, bukan terjemahan.
  4. Tema bebas, namun sesuai untuk majalah femina.
  5. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik dan onlinedan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  6. Peserta hanya boleh mengirim maksimal 2 naskah terbaiknya.
  7. Hak untuk menyiarkannya di media online ada pada PT Gaya Favorit Press.
  8. Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting tanpa mengubah isi.
  9. Naskah yang tidak menang, namun memenuhi syarat, akan dimuat di femina.
  10. Penulis akan mendapat honor sesuai standar femina.
  11. Keputusan juri mengikat. Tidak dapat diganggu gugat dan tidak ada surat-menyurat.
  12. Lomba ini tertutup untuk karyawan Femina Group.
  13. Naskah dikirim ke Redaksi femina, Jl. H.R. Rasuna Said Kav B Blok 32-33, Kuningan, Jakarta Selatan, 12910.
  14. Formulir dapat diunduh di sini http://www.femina.co.id/webTemplate/femina3/images/Sayembara_Cerpen_Formulir.pdf
 Syarat Khusus Cerpen:
1. Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi.
2. Font Arial ukuran 12.
3. Panjang naskah 6-8 halaman, dan dikirim sebanyak dua rangkap disertai 1 (satu) CD berisi naskah.
4. Naskah dilampiri formulir asli, surat pernyataan bermaterai, dan fotokopi KTP.
5. Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerpen femina 2013.
6. Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 November 2012.
7. Pemenang akan diumumkan di majalah femina yang terbit pada bulan Desember 2012.

Syarat Khusus Cerber:
1. Diketik dengan komputer di atas kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi.
2. Font Arial ukuran 12.
3. Panjang naskah antara 40-50 halaman.
4. Dijilid dan dikirim sebanyak dua rangkap, disertai 1 (satu) CD berisi naskah.
5. Naskah dilampiri formulir asli, fotokopi KTP, surat pernyataan bermaterai dan sinopsis cerita.
6. Pada amplop kiri atas ditulis: Sayembara Mengarang Cerber femina 2013.
7. Naskah ditunggu selambat-lambatnya 31 Januari 2013.
8. Pemenang akan diumumkan di femina, terbit akhir Mei 2013.

Hadiah Sayembara Cerpen*
  1. Pemenang I : Rp6.000.000
  2. Pemenang II : Rp4.000.000
  3. Pemenang III : Rp3.000.000
Hadiah Sayembara Cerber*
  1. Pemenang I : Rp15.000.000
  2. Pemenang II : Rp9.000.000
  3. Pemenang III : Rp7.000.000
ket: *Hadiah dikenakan pajak 5% (dengan NPWP) atau 6% (tanpa NPWP)

Sumber majalah Femina
Link terkait Komunitas Paragraf
Selengkapnya: Lomba Cerpen dan Cerber Majalah Femina 2012-2013

Pembacaan dan Diskusi Sastra PKKH UGM #5 | Oktober 2012

Monday, 22 October 2012

Pembacaan dan Diskusi Sastra PKKH UGM #5: 
Puisi-puisi Hamdy Salad, 
Rabu, 24 Oktober 2012, pukul 19.00-23.00 
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM (Purna Budaya)

Sumber Info Seni Jogja
Link terkait
Selengkapnya: Pembacaan dan Diskusi Sastra PKKH UGM #5 | Oktober 2012

Sebuah Eksistensi Karya

Sunday, 21 October 2012

Ketika ditanyakan kepada pengarang apakah itu penyair atau prosais bagi dirinya. Beragam jawaban muncul. Mereka mengatakan bagi saya mengarang itu adalah setabung air kopi. Saya meraciknya dengan memasukkan gula, bubuk pekat kopi, mencampurnya dengan air panas, kemudian mereduknya, tinggal candu dan saya menikmatinya. Bagi sebagian yang lain bagi mereka mengarang itu adalah hidupnya.

Sebab itu menghidupkan karya dalam dirinya. Mereka juga mengatakan bagi saya mengarang itu adalah sebuah ideologi. Ideologi itu harus dijaga. Lebih menariknya ada yang menanggapi secara jantannya, bagi saya mengarang itu adalah mengirim tulisan ke media masa, saya mendapatkan honor dan saya makan dari honor tulisan saya. Juga ada yang mengarang atas nama dakwa. Mengarang itu adalah dakwah dengan Qalam. Orang-orang menikmati karya saya sebagai sebuah pencerahan.

Terlepas dari apa jawaban mereka tentang mengarang, mengarang tetap sebuah proses kreasi mencipta karya. Mencipta mengandung makna menghasilkan hal yang baru. Tentunya menghasilkan yang baru merupakan hasil dari perenungan. Membuka ceceran-ceceran pengalaman. Campuran dan eksperimentasi luka. Kumpulan dari kehidupan memelihara luka, seperti yang diungkapkan Damhuri Muhammad dan perkataan ini kembali dikutip oleh Elly Delfia ketika menyampaikan materi kepenulisan pada Minggu, 20 Maret 2011 di aula Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang. “Pengarang itu mesti memelihara luka.” Proses karya lahir dari luka-luka yang beranak-pinak.

Mengarang bukan proses meniru karya orang lain, atau meng-paste karya, kemudian dengan seunik mungkin mengakui sebagai hak milik. Lalu bagaimana dengan tindakan yang dengan sengaja menjastis karya orang lain sebagai karya hak miliknya? Pada prinsipnya itu bukanlah pengarang. Saat mengakui karya orang lain sebagai hak milik, itu disebut dengan plagiator. Kemudian timbul pertanyaan apa yang disebut dengan praktik plagiasi? Apakah plagiasi itu miniru secara utuh karya orang lain, kemudian menjastisnya menjadi karya sendiri? Atau juga termasuk meniru sebahagian dari karya orang lain kemudian mengaku itu karya kita setelah diberi bumbu-bumbu. Ataukah mengambil setting karangan lain dan menjadikan setting karya kita itu juga termasuk plagiasi? Pertanyaan-tanyaan ini muncul sudah sejak lama, kemudian kembali mencuak setelah terjadinya beberapa plagiat karya pada akhir 2010 dan awal 2011.

Cerpen “Perempuan Tua dalam Rashomon” yang terbit Kompas  (31 Januari 2011) diakui sebagai karya Dadang Ari Murtono, seorang penulis muda Jawa Timur. Padahal sesuai laporan Story edisi 20 pada halaman 79 dalam rubrik “Selasar Cinta”, bahwa karya itu merupakan karya Agutagawa Ryunossuke, seorang cerpenis tersohor Jepang. Karya itu telah diterbitkan olek Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Polemik cerpen itu, sebenarnya juga terjadi sebelum Kompas kembali menerbitkannya. Polemik itu muncul saat cerpen yang sama terbit di Lampung Post (5 Desember 2010). Belum reda polemik plagiasi karya yang sama oleh orang yang sama, tiba-tiba Kompas kembali menerbitkannya. Ibarat memadamkan api dengan minyak, tiba-tiba api membara.

Berbagai kritikan berdatangan bak cendawan musim hujan. Kritikan itu datang tidak hanya kepada penulisnya. Tapi kritikan juga datang kepada media yang bersangkutan. Media dianggap tidak becus mengurus karya. Redaktur tidak membaca karya-karya.

“Jelas-jelas plagiat kok masih diterima, apakah redaksi tidak tahu atau kesengajaan?” “Redaktur sastra perlu menambah asisten, sekalian mengurangi jumlah pengangguran. Mulai sekarang setiap cerpen yang masuk harus dikonfirmasi maksimal sebulan setelah pengiriman agar tidak terjadi pemuatan ganda. Saya sependapat, ini cerpen plagiat, bagaimanapun dalih penulis dan para pendukungnya.” “Saya suka ide cerpen Akutagawa ini. Sangat lurus, secara tiba-tiba meliuk dan diakhiri pada titik hakekat hidup: -semua yang hidup akan mati-semua yang hidup inginkan makanan agar tak mati. Menyikapi plagiat saya punya bahasa menarik: Cerpenis itu pencuri yang mengambil ide dari dunia ini, lalu ia imajinasikan dalam dunia fiksinya. Dunia ini adalah lakon kehidupan dan cerita adalah cerminan dari dunia yang sifatnya bayangan,” tulis Tova Zen, 1 Februari 2011. “Saya kecewa kepada Kompas, karena selain cerpen tersebut  sudah pernah dimuat di Lampung Post, apa pula cerpen plagiat itu bisa lolos dan dimuat di Kompas? Padahal cerpen Dadang Ari Murtono, sempat membuat polemik, masalah plagiat mencuat dan didiskusikan secara terbuka di media facebook oleh beberapa cerpenis termasuk saya. Saya kecewa kepada Kompas,” tulis Bamby Cahyadi, 2 Februari 2011. Ia mengirimkankan pesan kepada Kompas. Kutipan-kutipan kekecewaan ini saya ambil dari situs blog cerpenkompas.wordpress.com. Blog yang memuat cerpen-cerpen  yang terbit di Kompas.

Kasus yang sama juga terjadi pada majalah Story edisi 17, 25 Desember-24 Januari 2011. Kasus plagiat kali ini dilakukan oleh selebritis, Prisa Adinda. Prisa Adinda mengakui karya “Kasih Ibu” sebagai karya dia. Prisa Adinda merupakan artis yang ditantang Story untuk menulis. Ternyata setelah ditelusuri cerpen itu sangat mirip dengan cerpen “Hati Ibu” Milik Desi Somalia Gustina. Cerpen “Hati Ibu” menurut pengakuan Desi telah dimuat di Riau Pos pada ahad 11 Januari 2009 (di konten remaja). Cerpen “Hati Ibu” juga telah keluar sebagai pemenang I pada lomba cerpen tingkat mahasiswa UIR. Desi sendiri tidak terima denga plagiat Prisa Adinda. Kemudian Desi memberikan gugatan kepada Story.

Saya mengetahui itu langsung dari Desi  pada saat diskusi di taman Melati, Padang,  30 Januari 2011. Ia membawakan bukti otentik karya yang diplagiat dan membawa foto kopi karya yang terbit di Story. Pembandingan cerita sangat mirip sekali, mulai dari kata-kata, kalimat, kecuali judul dan tokoh. Judul diganti menjadi “Kasih Ibu” dan nama sapaan tokoh  diganti. Story menjawab gugatan Desi  pada edisi 19/Th.II/ 25Februari-24 maret2011.

Cerpen “Kasih Ibu” dinyatakan tidak pernah dimuat pada Story. Kemudian Story edisi 20/Th/II/25 Maret-24 April 2011, membahas edisi plagiat pada salam redaksi dan rubrik “Selasar Cinta”. “Plagiat dan double sent (pengiriman ganda ke media yang berbeda) memang hal yang berbeda, tetapi tetap saja sama, bahwa ia telah melakukan kesalahan besar, mengabaikan etika kepenulisan dan mencemarkan namanya sendiri.” Reni Erina, Managing Editor, mengakui banyak sms yang masuk ke hand-phone-nya. Pesan-pesan pengakuan bahwa karya itu sebelumnya sudah terbit di media lain. Tapi karena adu gengsi akhirnya dikirim pula ke Story.

Ada apa dengan sastra Indonesia hari ini? Apakah sastra adalah sesuatu yang akan dikubur, dimakamkan bersama penulis-penulis muda? Belum selesai plagiat cerpen “Kasih Ibu” oleh Prisa dan “Perempuan Tua dalam Rashomon” yang diplagiat olehDadang Ari Murtono, lagi-lagi dunia pengarang didatangi kasus yang mirip. “Cerpen ‘Pengisah Akutagawa’ kok hampir mirip dan kalimat-kalimatnya banyak yang sama dengan dengan cerpen ‘Kappa’, miliknya Akutagawa Ryunossuke,” tulis S Yoga dalam blognya. Cerpen “Pengisah Akutagawa” juga ditarik Horison  edisi Maret 2011, bahwa cerpen ini tidak pernah muat di majalah Horison.

Seperti tidak akan usai dan mengungkit kisah lama. Karya-karya Helvy Tiana Rosa juga mengalami plagiator. Cerpen-cerpennya yang terbit di Annida tahun 1992-1997 di plagiat anak negeri tetangga. Terbit dalam sebuah buku kumpulan cerpen. Sebuah novel Fajar Menyinsing di Arkansas milik Helvy juga menjadi sasaran plagiat, tahun 2000.

Kemudian menjawab pertanyaan seputar plagiat.  Wikipedia menjawab, plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Felicia Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan plagiarism. Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri; mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri; mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri; mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri; menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya; Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya; meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya. Jawaban dari  Wikipedia, memberikan jawaban atas plagiat-plagiat yang dilakukan pengarang.

Maraknya kasus plagiat sudah sepatutnya kembali menjadi perhatian dunia sastra. Apakah pengarang tidak iba dengan dirinya? Mewariskan jiwa-jiwa plagiat kepada generasi sesudahnya. Mengarang mestinya menuangkan ide kreatif. Meluapkan dalam bentuk ciptaan karya. Mengarang mesti adalah perenungan terhadap diri pengarang itu sendiri. Dia merupakan ungkapan kejujuran pengarang. Dia juga mesti beranjak dari kesadaran akan karya. Mengarang bukan persoalan mempertahankan egosentris terbit karya di media ini dan media itu. Atau untuk berlomba menjadi siapa yang terbaik. Mengarang bukan pulah sebuah proses manipulasi hak cipta karya. Ataukah seperti jawaban pengarang yang berpikiran bahwa mengarang adalah untuk mendapatkan uang, tak peduli itu karya kita atau tidak, yang penting makan?

Kemudian apa hukuman bagi plagiator dan media? Apakah seperti yang dicemaskan Desi Somalia Gustina, cukup dengan permohonan maaf dari pihak media, kemudian damai. Hukuman bagi plagiator, black list karya, seolah dengan itu persoalan selesai. Sungguh ironis penghormatan terhadap hak cipta karya dan terhadap pengarangnya.***

Alizar Tanjung, Sekretaris Umum FLP Sumbar, lahir di Solok,  10 April 1987. Ia sekarang tercatas sebagai Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.  Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, dan esai, dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional; Harian Tempo, Sindo, Suara Pembaharuan, Jurnal Nasional, Pewarta Indonesia, Berita Pagi, Linggau Post, Singgalang, Padang Ekspress, Haluan, Sabili , Gizone,   Annida Online,  Tasbih, Suara Kampus. Tinggal di Padang.

Sumber http://www.sagangonline.com/index.php?sg=full&id=685&kat=52
Selengkapnya: Sebuah Eksistensi Karya

Menyadari Fungsi Komunikasi Karya Sastra

Oleh : Dr Junaidi 

(Apresiasi Atas Buku Kopi Hujan Pagi Karya Penulis Sekolah Menulis Paragraf)

Kehadiran buku Kopi Hujan Pagi (KHP) memberi napas baru bagi perkembangan kesusastraan di Riau. Sastrawan Riau itu eksis. Mereka terus berkarya baik di media massa maupun buku sastra yang sengaja diterbitkan. Yang paling utama dari buku ini adalah terlihatnya proses pewarisan kreativitas kepengarangan di Riau dari generasi senior ke generasi yang lebih muda. Buku KHP membuktikan sastrawan muda Riau itu aktif, kreatif dan produktif. Mereka mampu menghasilkan karya dan tampaknya mereka percaya bahwa ‘’hidup bila berkarya’’. Apa artinya hidup bagi seorang sastrawan bila tak menghasilkan karya.

KHP merupakan kumpulan puisi dan cerpen yang ditulis penulis muda yang tergabung dalam komunitas Sekolah Menulis Paragraf (SMP). Terdapat sepuluh penulis puisi: Afriyanti, Agus Yoni PW, Azizah Masdar, Cahaya Buah Hati, Chamex, Guri Ridola, Jeni Fitriasha, Refila Yusra, Srikartini Widya Ningsih dan Zurnila Emhar ch. Sedang penulis cerpen terdapat tujuh orang: Cikie Wahab, Febby Fortinella Rusmoyo, Guri Ridola, Jeni Fitriasha, Nurhusni Kamil, Srikartini Widya Ningsih dan Wari Rahmawati. Buku ini diterbitkan Seligi Press, Januari 2012 dan yang jadi editornya Marhalim Zaini. Buku ini dilahirkan oleh sastrawan muda Riau berkat bimbingan para guru di SMP: Marhalim Zaini, Olyrinson, Budy Utamy dan Hary B Kori’un. Mereka adalah para guru sastra di Riau yang secara ikhlas membagikan ilmu dan pengalaman mereka pada sastrawan lainnya.

Judul buku KHP menarik untuk diinterpretasikan. Ada satu frasa ‘’Kopi Hujan Pagi.’’ Frasa ini terdiri tiga kata: kopi, hujan, dan pagi. Bila dilihat hubungan antara satu kata dengan kata lainnya tampak kurang berkaitan. Ada tiga kata tersusun dalam satu frasa tapi maknanya tidak dengan mudah kita tafsirkan. Kopi dapat ditafsirkan sebagai ketekunan dalam menjalankan kreatifitas penulisan sebab ada kebiasan para penulis untuk mendukung kegiatan penulisan didukung oleh kopi sebagai suplemen agar tak mengantuk sehingga bisa terus menulis. Hujan dapat dimaknai dengan banyaknya gagasan yang dimiliki oleh para penulis yang tergabung dalam buku KHP. Sedang pagi bisa dimaknai spirit untuk melakukan kegiatan penulisan yang dilakukan oleh penulis untuk menghasilkan karya sastra. Spirit ‘’pagi’’ sering diartikan sebagai semangat yang lebih kuat daripada siang atau malam. Dengan demikian, judul buku ini mewakili ketekunan, banyaknya ide dan kuatnya spirit berkreativitas yang dimiliki para penulis yang tergabung dalam KHP.   

KHP pantas diberi apresiasi didasarkan beberapa alasan: Pertama, semua penulis yang terdapat dalam buku ini termasuk penulis muda Riau. Mereka lahir sekitar tahun 80-an. Mereka anak-anak muda kreatif, inspiratif dan dedikatif dalam memajukan kreatifitas sastra di Riau. Realitas menunjukkan, tak banyak anak-anak muda Riau yang memiliki kepedulian terhadap sastra. Tapi mereka dengan energi sastra terus bangkit dan berkarya. Tampaknya tak ada keluh kesah yang mengiba-iba dalam komunitas ini. Mereka terus berkarya. Bagi mereka ‘’ada karena karya’’.

Kedua, ditengah anggapan bahwa penerbitan buku sastra menjadi kurang hidup di Riau, KHP bisa muncul dengan kekuatan mereka sendiri. Buku ini mereka terbitkan sendiri dan dengan modal mereka sendiri. Pasar buku sastra di Riau belum begitu marak sehingga tak banyak penerbit komersial yang tertarik menerbitkan buku sastra. Kalau mau menerbitkan buku sastra pengarang harus punya modal sendiri. Kalau ditunggu penyandang dana, apalagi dari pemerintah entah kapan. Bila ada buku sastra yang terbit di Riau, itu adalah proyek idealis atau proyek ‘’thank you’’ untuk memberi kontribusi pada perkembangan sastra Riau. Padahal penerbitan buku sastra di Riau sangat penting sebab ia merekam kreatifitas sastra Riau dan dari rekaman sastra Riau itu dapat dilihat pula semangat zaman yang berkembang di Riau pada suatu masa.

Ketiga, KHP menjadi media yang sangat efektif untuk menguatkan diri para penulis bahwa karya mereka memang layak dibukukan. Ada peningkatan kepercayaan diri bagi penulis muda untuk terus menulis setelah karya mereka diterbitkan dalam bentuk buku. Dalam pengantar KHP disampaikan bahwa buku ini ‘’sebagai ijazah, sebuah tanda bahwa mereka telah berhasil menamatkan belajar di Sekolah Menulis Paragraf.’’ Saya pikir tak ada kata tamat dalam menulis. Eloknya, menulis merupakan proses yang terus berlangsung dan tak ada kata tamat. Tamat dalam menulis berarti meninggalkan dunia penulisan dan masuk ke alam kematian. Saya yakin para penulis yang tergabung dalam KHP takkan berhenti menulis setelah terbitnya buku ini, tapi justru mereka akan makin membuktikan kepada dunia bahwa bisa berkarya.

Keempat, adanya anggapan bahwa para penulis yang tergabung dalam SMP dapat perlakukan khusus dalam satu media, jangan terlalu dipedulikan. Lupakanlah pandangan-pandangan sinis yang merusak semangat kreativitas. Teruslah berkarya tanpa harus merendahkan karya orang lain. Jangan buangkan energi untuk berdebat tentang aliran dan urusan suka tak suka terhadap kelompok lain. Lebih baik mencurahkan energi untuk menghasilkan karya sastra yang bermutu daripada menggerutu tak menentu. Bersaing untuk menghasilkan karya jauh lebih penting daripada menaruh pikiran negatif terhadap orang atau kelompok lain. Karya sastra berkaitan erat dengan perasaan, daya kreasi dan pandangan yang bersifat subjektif. Dunia sastra adalah dunia subjektif yang menghasilkan keragaman pandangan, pendapat, respon dan interprestasi. Dengan demikian, ketika memasuki dunia sastra kita harus siap menerima perbedaan tanpa harus menyalahkan orang lain.  

Komunikasi dalam Sastra
Saya tak mampu berkomentar atau menanggapi setiap karya dalam buku ini. Saya tak terbiasa mengulas satu karya sastra secara dangkal. Keragaman tema dan karya dalam KHP ini juga menyulitkan saya memberi fokus analisis. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan para penulis sastra untuk merenungkan pentingnya perspektif komunikasi dalam dunia kepengarangan. Setelah membaca KHP, saya melihat ada beberapa karya yang terlalu bersifat personal dan terlihat penulisnya terlalu asyik dengan dunia imajinasinya sendiri sehingga mereka agak melupakan pesan komunikasi yang ingin disampaikan melalui karya sastra. Larut dengan imajinasi sendiri adalah hal yang sangat wajar dalam kreativitas kepengarangan. Namun alangkah eloknya imajinasi dan perasaan yang diekspresikan dapat dinikmati secara lebih mudah bagi orang lain. Bukankah Anda menerbitkan karya untuk dinikmati orang lain?

Ada banyak alasan mengapa sastrawan menulis karya sastra. Mulai dari alasan yang sangat personal (seperti iseng, mengisi waktu luang, hobi, curhat dan ekspresi jiwa,) sampai alasan yang lebih bersifat fungsional untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu pada orang lain. Dalam perspektif personal, karya sastra cenderung dijadikan alat untuk pemenuhan kepuasan pribadi pengarang. Yang paling penting pengarang menuangkan ekspresi, gagasan, ide, perasaan atau jiwa mereka ke dalam karya sastra. Bagi pengarang yang menganut paham seperti ini tak peduli ada orang membaca atau tidak karyanya. Mereka juga tak peduli orang mengerti atau tidak karya mereka. Karya sastra yang bersifat personal cenderung menggunakan pilihan kata, tanda dan metafora yang sangat individual dan bahkan liar sehingga orang lain kesulitan memahaminya. Tentunya pengarangnya sendiri yang paling memahaminya. Tema-tema yang diangkat biasanya seputar kehidupan pengarang atau respon pengarang terhadap fenomena alam dan sosial.

Sedang karya sastra yang bersifat fungsional memiliki peran komunikatif dalam masyarakat. Artinya, karya sastra menjadi media komunikasi untuk menyampaikan pesan (message) dari pengarang sebagai penyampai pesan (addresser) dan pembaca sebagai penerima pesan (addressee). Sebenarnya model pendekatan sastra yang dicetuskan Abrams (1976) merupakan model dasar dalam memandang sastra dari perspektif komunikasi, yakni expressive (pengarang), pragmatic (pembaca), mimetic (masyarakat) dan objective (karya sastra). Model komunikasi sastra dapat dijelaskan dengan meminjam enam faktor bahasa yang disampaikan Jakobson (Ratna, 2009), yakni: addresser, addressee, context, message, contact dan code dan enam fungsi bahasa pula, yakni: emotive, connotative, referential, poetic, phatic dan metalingual.

Bagi saya, peran komunikasi karya sastra sangat penting meski sangat kompleks sebab karya sastra tak lagi menggunakan bahasa sederhana tapi bahasa konotatif, metafora dan tanda-tanda yang rumit dalam pemaknaannya. Menariknya, kerumitan dalam sastra itu justru menjadikan karya sastra itu lebih menjadi cari khas karya sastra dan kerumitan itu pula yang memprovokasi pembaca untuk lebih melakukan pembacaan secara mendalam terhadap karya sastra. Memahami karya sastra tak semudah memahami komunikasi sehari-hari. Terlalu banyak faktor yang akan mempengaruhi pemaknaan dalam proses komunikasi dunia sastra. 

Meski komunikasi sastra sangat kompleks, pengarang sebagai penyampai pesan sebaiknya mengupayakan penyampaian pesan secara lebih mudah dengan tak terlalu banyak menggunakan metafora-metafora yang terlalu personal apalagi terlalu liar. Beri ruang secara lebih mudah pada pembaca untuk memahami karya secara lebih mudah. Permudah pesan yang disampaikan dengan tetap menggunakan perangkat-perangkat kesusastraan yang lazim. Selain itu, tinggalkanlah pesan yang lebih bernilai dan memberi sumbangan terhadap nilai-nilai kemanusian. Perasaan personal yang diunggapkan pengarang melalui karyanya tak lagi milik pengarang tapi sudah jadi milik pembaca. Karena pembaca ingin merasakan perasaan pengarang berdasar pengalaman pembaca, karya sastra perlu dirancang untuk bisa dinikmati orang lain.

Permainan kata yang elok dalam karya sastra sebaiknya diperkuat dengan aspek pemaknaan. Setiap kata dalam karya sastra memiliki kekuatan dan kekuatan kata itu perlu dirancang untuk menghasilkan keutuhan makna. Memang proses pemaknaan karya sastra dilakukan oleh pembaca tapi pembaca akan memahaminya sesuai struktur bahasa dan sastra yang disampaikan pengarang melalui karyanya. Di sinilah perlunya kesadaran komunikasi dalam aktivitas kepengarangan.

Kondisi lokal yang terdapat di lingkungan pengarang merupakan energi yang sangat menarik untuk dikomunikasikan oleh pengarang pada orang lain. Karya sastra itu dilahirkan tidak dalam ruang kosong. Karya sastra dikreasikan dalam masyarakat yang memiliki nilai, kebudayaan, semangat zaman, trend dan suasana-suasana khas. Karena itu, karya sastra bisa dijadikan media untuk berbagi pengalaman, gagasan, perasaan dan nilai-nilai antara manusia yang ada di dunia ini. Kita merindukan karya sastra yang mengangkat kearifan lokal yang bisa menginspirasi kehidupan manusia secara universal. Sastra tidak hanya untuk sastra. Sastra adalah untuk umat manusia.***    

Dr Junaidi
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak) dan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Riau.

Selengkapnya: Menyadari Fungsi Komunikasi Karya Sastra

Menyelami Empat Periode Filsafat China

Majalah Sagang Edisi : 142

Oleh Adryan Yahya 

Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat China, yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni, suatu jalan tengah antara dua ekstrem: antara manusia dan sesama, antara manusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Kemudian, perikemanusiaan.

Pemikiran China lebih antroposentris daripada filsafat India dan filsafat Barat. Manusia-lah yang selalu merupakan pusat filsafat China. Ketika kebudayaan Yunani masih berpendapat bahwa manusia dan dewadewa semua dikuasai oleh suatu nasib buta “Moira”, dan ketika kebudayaan India masih mengajar bahwa kita di dunia ini tertahan dalam roda reinkarnasi yang terus-menerus, maka di China sudah diajarkan bahwa manusia sendiri dapat menentukan nasibnya dan tujuannya. Filsafat China dibagi atas empat periode besar:

1. Zaman Klasik (600-200 S.M.)

Menurut tradisi, periode ini ditandai oleh seratus sekolah filsafat: seratus aliran yang semuanya mempunyai ajaran yang berbeda. Namun, kelihatan juga sejumlah konsep yang dipentingkan secara umum, misalnya “tao” (jalan), “te” (keutamaan atau seni hidup), “yen” (perikemanusiaan), “I” (keadilan), “t’ien” (surga) dan “yinyang” (harmoni kedua prinsip induk, prinsip aktif-laki-laki dan prinsip pasif-perempuan).

Konfusianisme

Konfusius (bentuk Latin dari nama Kong-Fu-Tse, “guru dari suku Kung”) hidup antara 551 dan 497 S.M. Ia mengajar bahwa Tao (jalan sebagai prinsip utama dari kenyataan) adalah “jalan manusia”. Artinya: manusia sendirilah yang dapat menjadikan Tao luhur dan mulia, kalau ia hidup dengan baik. Keutamaan merupakan jalan yang dibutuhkan. Kebaikan hidup dapat dicapai melalui “yen” (perikemanusiaan) yang merupakan model untuk semua orang. Secara hakiki semua orang sama walaupun tindakan mereka berbeda.

Taoisme

Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (guru tua) yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran “neti”, “na-itu”: “tidak begitu”) dan dalam filsafat Barat––di mana kesadaran ini disebut––docta ignorantia (ketidaktahuan yang berilmu).

Yin-Yang

“Yin” dan “Yang” adalah dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin itu bersifat pasif, prinsip ketenangan, surga, bulan, air dan perempuan, simbol untuk kematian dan untuk yang dingin. Yang itu prinsip aktif, prinsip gerak, bumi, matahari, api, dan laki-laki, simbol untuk hidup dan untuk yang panas. Segala sesuatu dalam kenyataan kita merupakan sintesis harmonis dari derajat Yin tertentu dan derajat Yang tertentu.

Maoisme
Aliran Moisme didirikan oleh Mo Tse, antara 500-400 S.M. Mo Tse mengajarkan bahwa yang terpenting adalah “cinta universal”, kemakmuran untuk semua orang, dan perjuangan bersama-sama untuk memusnahkan kejahatan. Filsafat Moisme sangat pragmatis, langsung terarah kepada yang berguna. Segala sesuatu yang tidak berguna dianggap jahat. Bahwa perang itu jahat serta menghambat kemakmuran umum tidak sukar untuk dimengerti. Tetapi Mo Tse juga melawan musik sebagai sesuatu yang tidak berguna, maka jelek

Ming Chia

Ming Chia atau (sekolah nama-nama), menyibukkan diri dengan analisis istilah-istilah dan perkataan-perkataan. Ming Chia, yang juga disebut “sekolah dialektik”, dapat dibandingkan dengan aliran sofisme dalam filsafat Yunani. Ajaran mereka penting sebagai analisis dan kritik yang mempertajam perhatian untuk pemakaian bahasa yang tepat, dan yang memperkembangkan logika dan tatabahasa. Selain itu dalam Ming Chia juga terdapat khayalan tentang hal-hal seperti eksistensi, relativitas, kausalitas, ruang dan waktu.

Fa Chia

Fa Chia atau “sekolah hukum”, cukup berbeda dari semua aliran klasik lain. Sekolah hukum tidak berpikir tentang manusia, surga atau dunia, melainkan tentang soal-soal praktis dan politik. Fa Chia mengajarkan bahwa kekuasaan politik tidak harus mulai dari contoh baik yang diberikan oleh kaisar atau pembesar-pembesar lain, melainkan dari suatu sistem undang-undang yang keras sekali. Tentang keenam sekolah klasik tersebut, kadang-kadang dikatakan bahwa mereka berasal dari keenam golongan dalam masyarakat Cina. Berturut-turut:

1. kaum ilmuwan
2. rahib-rahib
3. okkultisme (dari ahliahli magi)
4. kasta ksatria
5. para pendebat, dan
6. ahli-ahli politik.

2. Jaman Neo-Taoisme dan Buddhisme (200 S.M.-1000 M.)


Bersama dengan perkembangan Buddhisme di China, konsep Tao mendapat arti baru. Tao sekarang dibandingkan dengan “Nirwana” dari ajaranBuddha, yaitu “transendensi di seberang segala nama dan konsep” (di seberang adanya).

3. Jaman Neo-Konfusianisme (1000-1900)

Dari tahun 1000 M. Konfusianisme klasik kembali menjadi ajaran filsafat terpenting. Buddhisme ternyata memuat unsur-unsur yang bertentangan dengan corak berpikir China. Kepentingan dunia ini, kepentingan hidup berkeluarga dan kemakmuran material, yang merupakan nilai-nilai tradisional di China, sema sekali dilalaikan, bahkan disangkal dalam Buddhisme, sehingga ajaran ini oleh orang dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali asing. 

4. Jaman Modern (setelah 1900)
Sejarah modern mulai di China sekitar tahun 1900. Pada permulaaan abad kedua puluh pengaruh filsafat Barat cukup besar. Banyak tulisan pemikir-pemikir Barat diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Aliran filsafat yang terpopuler adalah pragmatisme, jenis filsafat yang lahir di Amerika Serikat. Setelah pengaruh Barat ini mulailah suatu reaksi, kecenderungan kembali ke tradisi pribumi. Terutama sejak 1950, filsafat China dikuasai pemikiran Marx, Lenin dan Mao Tse Tung. Inilah sejarah perkembangan filsafat China, yang merupakan filsafat Timur. Yang termasuk kepada filsafat Barat misalnya filsafat Yunani, filsafat Helenisme, “filsafat Kristiani”, filsafat Islam, filsafat jaman renaissance, jaman modern dan masa kini.

Referensi
- Erdino Ferdinan. (2000). Sejarah perkembangan filsafat China
- Clara Eka Yuliani. (1999). Empat periode besar filsafat China
- Jhon Anthonius. (2001). Filsafat Barat

BIOGRAFI PENULIS
Adryan Yahya adalah nama pena, kelahiran Rengat Kab. Indragiri Hulu Riau, 25 Agustus 1988. Penulis adalah anak ke 4 dari 4 bersaudara. Pernah meraih beberapa penghargaan perlombaan diantaranya: Juara II Karikatur Kampus Kita FDIK UIN Suska Riau (2010), Juara II Lomba Cerpen Nasional (Lips Ice Selsun Golden Award) PT. Rohto Laboratories Jakarta (2009), Juara I lomba cerpen tingkat mahasiswa-umum se-Riau Unversitas Lancang Kuning (Unilak) (2009), Juara III lomba cerpen Bahana Mahasiswa Universitas Riau (2009), Juara III lomba cerpen remaja Balai Bahasa Riau (2009), Juara I sayembara menulis cerpen islami Buletin Ar-Royyan, Universitas Riau (2008), Juara II lomba resensi buku tingkat mahasiswa Perpustakaan Soeman HS Pekanbaru (2008), nominasi pemenang penghargaan sayembara novel Ganti Award ke IV se-Riau dengan novel “Metafora dan Alegori”(2008), Juara II lomba karya tulis ilmiah Forum Komunikasi Pemuda Remaja Masjid dan Mushalla (FKPRMM) Pekanbaru (2007), Juara I lomba menulis cerpen islami KAMMI UIN Suska Riau (2007), Juara I lomba karya tulis memperingati hari ibu FS. Nuri UIN Suska Riau (2007), Juara III sayembara penulisan cerita pusaka BM. Syam Award, yang diselenggarakan oleh Yayasan Bandar Serai bekerja sama dengan Cecom Riau (2006), Saat ini ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau. Tulisannya menyebar di beberapa media lokal dan nasional seperti; Riau Pos, Riau Mandiri, Metro Riau, Tribune Pekanbaru, Majalah Sangang, Expresi, Gagasan, Bahana Mahasiswa, Majalah Sabili, Annida, Majalah Say, dll. Selain menulis, ia juga hobi melukis, membuat ilustrasi dan kaligrafi. Bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru. Email: ijaziahmad@yahoo.co.id

Sumber http://www.sagangonline.com/index.php?sg=full&id=549&kat=52
Selengkapnya: Menyelami Empat Periode Filsafat China

Kaidah Estetik

Oleh : Yusmar Yusuf 
Yusmar Yusuf
MANUSIA menjalani tugas dalam cemas. Kerisauan, kecemasan ialah racun yang menyerbuk sibuk. Orang pun sibuk dan bergegas menerawang juga menelaah puisi-puisi bangsa sebelumnya. Dan mereka ini dapatlah disebut sebagai sekumpulan yang memahami syarat kemajuan dunia.

Semakin jauh wawasan dan semakin tinggi spirit, maka seorang penyair akan semakin banyak menelaah. Ia tidak akan membatasi perhatiannya pada puisi satu bangsa. Hal ini terjadi karena seorang penyair berusaha mengekspresikan akal dan jiwanya menjadi sejarah dari jiwa manusia secara universal sekaligus menggambarkan 'wujud' dari apa yang dicapai oleh jiwa-jiwa manusia pada sebuah masa.

Puisi itu adalah nilai kemanusiaan, bukan nilai linguistik. Dia sesuatu yang menjunjung keteguhan terhadap masa lalu, terutama dalam 'kealamiahan dan kejujuran'. Dua wilayah inilah yang hendak diangkut  oleh puisi. Dia bukan sesuatu yang bergerak berdasarkan nilai linguistik, hukum-hukum bahasa yang kaku-baku, tetapi dia menjadi penggambar yang paling jati dari keadaan jiwa manusia dengan tetap mengindahkan kaidah-kaidah kekinian.

Bahwa kenyataan hari ini, persoalan hari ini harus diselesaikan dengan teknik, siasat dan kecerdasan yang tersedia dan dikonstruksi berdasarkan bahan baku kekinian. Bahan baku yang tersedia di masa lalu, ikut memperkaya keputusan, siasat dan teknik yang digunakan pada masa kini. Kaidah-kaidah masa lalu menjadi suatu jalan yang bijak, sesuatu yang memberi nilai tempat 'bercermin' dan 'berkaca' terhadap jiwa-jiwa yang terbelenggu pada masa lalu dan inilah persoalan yang sesungguhnya yang tengah kita hadapi hari ini.

Kecelaruan dalam memahami penggalan masa dan waktu, dia bisa menjadi pembunuh kelindan sejarah yang sedang kita tunggangi hari ini. Fernand Braudel, seorang sejarawan Prancis, menyebut sebuah waktu untuk melukiskan 'waktu sejarah' yang sangat panjang, penuh dinamika tapi sering tak disadari manusia yang melintasinya. Braudel menyebutnya dengan la longe duree. Bagi mereka yang bergelut dengan 'waktu sejarah' nan panjang ini, Braudel berpesan: 'jangan hanya berfikir jangka pendek, jangan percaya bahwa aktor-aktor yang bising itu yang paling autentik' (Nee pas penser dans le seul temps court, ne pas croire que la seuls acteur qui font du bruit soient le plus authentiques).

Puisi sebagai nilai kemanusiaan, karena puisi hampir ditemukan pada semua bangsa dan dalam semua bahasa. Tatkala suatu sajak atau pun bentuk-bentuk stanza yang indah terdapat dalam satu bahasa yang bagus, dia akan bagus pula dilukis dalam bahasa yang lain. Orang boleh mengatakan bahwa, para kreator seni hari ini hanya melakukan pengulangan-pengulangan bentuk. Tidak pernah menemukan bentuk-bentuk baru, dengan pengucapan-pengucapan baru, atau malah membongkar kaidah-kaidah lama yang dihidang dalam rasa kekinian. Walhasil, generasi kini, terperangkap oleh format dan bentuk-bentuk masa lalu yang baku dan pengap.

Sejarah berada pada sebuah benderang yang tak dipertengkarkan. Sejarah tidak berjalan dalam petak-petak interpretasi kreatif yang menyesuaikan dengan elakan-elakan peradaban yang mengemuka pada hari ini. Bentuk, yang telah menjadi, adalah bagian dari sejarah. Dan bentuk yang bergumal dengan sejarah ini pula yang diagung-agungkan oleh generasi kini, tanpa pernah merasa berdosa bahwa kita pada hari ini telah melakukan pemerkosaan dan perampokan terhadap sesuatu yang terjelma dan terhidang di masa lalu.

Sesuatu yang lama bagi kita hari ini adalah bentuk-bentuk liar dalam anggapan zaman di masa lalu. Dia tak lain dari sejumlah keliaran-keliaran bentuk yang asing dan meresahkan 'kemapanan' di sebuah zaman. Generasi kini seolah-olah gagal membangun 'perjumpaan-perjumpaan' baru yang dianggap keluar dari bentuk lama. Kita terkepung oleh keperkasaan tembok-benteng masa lalu. Dalam kepungan-kepungan yang pengap itu pula kita berlagak hendak menukil, mewaris dan menyajikan kaidah-kaidah kemanusiaan kepada dunia dalam semangat hari ini.

Ihwal ini berlangsung, karena orang tidak lagi menyelenggarakan hidupnya dalam cemas yang menyerbuk sibuk. Sibuk mencari, sibuk menemu, sibuk untuk resah, sibuk membangun imaji-imaji baru yang melintas zaman. Sibuk dengan imajinasi agung. Kemanusiaan itu sendiri adalah seperangkat nilai yang disusun berdasarkan imajinasi demi memuliakan manusia di antara makhluk lain. Dan kemanusiaan itu sendiri menjadi masalah besar ketika berhadapan dengan keterikatan manusia akan kekuasaan.

Bahwa kekuasaan sering keras dan ketat untuk orang lain, namun longgar untuk diri sendiri. Bahwa kekuasaan itu membentuk aturan. Dan aturan yang lahir dari seorang penguasa adalah sebuah siasat untuk mengelak. Aturan itu berlaku keras dan ketat untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Tragedi kemanusiaan bergerak linier dengan pelatuk kuasa. Bahwa kekuasaan yang bertabiat awal untuk memuliakan kemanusiaan, malah dia menjadi instrumen untuk memusnahkan kemanusiaan dan keadilan. Ihwal ini berlangsung secara berulang-ulang. Dan puisi, mencatat itu sebagai jiwa sejarah yang koyak dan boyak.

Bentuk elakan yang dibangun penguasa untuk lepas dari aturan yang dibuatnya sendiri, senantiasa vulgar. Puisi, karya seni yang ikut menerkam dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang terhasil oleh kuasa itu tidaklah mesti menghidang vulgarity, namun dia harus tampil langgak dan mengusung moralitas yang berubah bentuk menurut ukuran zaman. Tidak mati dalam telanan tembok masa lalu yang pengap. Karya seni yang bermaksud menjadi tembok moral kemanusiaan itu, tidaklah mesti terperangkap dalam bentuk yang serba vulgar. Sebab vulgarity hanya hadir dari pelantar jiwa yang kasar dan bertabiat memusnahkan. Perilaku koruptif yang dilakukan oleh sekelompok elemen masyarakat yang disebut elite, sesungguhnya mempertontonkan vulgarity. Padahal dalam defenisi apapun di dunia yang beradab, bahwa musuh dari elite itu adalah vulgarity, bukan kemiskinan.

Apapun bentuknya, karya seni tidaklah bermaksud menghidangkan vulgarity. Karya seni dalam sejarah manusia mengusung segi-segi elitisme. Mungkin vulgarity bisa disandingkan dengan perilaku norak. Orang boleh kaya, bisa membeli apa saja yang dia mau. Namun dia tak mau tahu dengan prinsip padu-padan; maka seenak perut akan mengecat ruang tamu dengan warna pink. Dan inilah norak atau vulgarity itu. Bahwa seorang yang kaya-raya belum tentu dia berpenampilan elite, langgak dan sedap dipandang. Bisa saja seorang yang hidup sederhana, dia mampu mengemas dirinya dalam elitisme. Bahwa elitisme itu identik dengan kesehajaan, kesederhanaan; yang telah disentuh di awal tulisan ini sebagai 'kealamiahan dan kejujuran'.

Karya seni yang elitis itu senantiasa menjaga kesehajaan yang memikul tugas-tugas 'naturalism and honesty'. Dan terkadang nature bisa dimaknakan sebagai nurture (sesuatu yang terbawa). Dan kita pun bergerak dalam gegas cemas yang berfungsi menyerbukkan sibuk. Bahwa kehidupan itu mestilah sibuk dan tak kenal henti. Bahwa ketika orang berdiam, pada yang saat sama ujar Sullivan, kita hidup dalam tubuh yang mati.***

Selengkapnya: Kaidah Estetik

Dari “reproduksi kreatif” ke “representasi kritis”: Penemuan kembali kepulauan sastra Melayu

Oleh : Al Azhar 
Sumber : Majalah Sagang Edisi 134
ABSTRACT (RINGKASAN)

Sastra Melayu memiliki korpus teks yang besar, diwujudkan oleh dua teknologi tulisan (Arab Melayu/Jawi dan Latin/Rumi), dengan rentang masa penciptaan sekitar lima abad (sejak abad ke-16). Namun perkembangan pengkajian yang dilakukan setakat ini belum melahirkan tradisi kritik yang sebanding dengan kewibawaan yang terbayang dari kekayaan korpus teksnya, maupun potensi makna yang dikandungnya.

Sebagian besar kritik yang ada seperti terkunci pada identifikasi kenyataan-kenyataan sejarah praktis di sekitar kehadirannya (terutama teks-teks masa lampau), pencirian dan penggolongan genre, makna-makna referensialnya, dan lain-lain. Sedikit sekali kajian yang menjelajahi teks itu sebagai lautan tanda dan makna, dan menilainya sebagai gugusan pulau-pulau pemikiran estetis dan etis yang dapat menggoda khalayak lintas-zaman.

Kajian dan pembentangan hasil sementara yang saya lakukan ini berusaha menganjungkan persoalan kepengarangan (authorship), bertolak dari semangat pengertian yang dikemukakan dalam salah satu esai Foucault berjudul “What is an author?”. Sebagaimana ditekankan Foucault dalam esainya itu, fungsi pengarang ditelusuri melalui jejak-jejak diskursusnya pada ketegangan antara ketiadaan dan keberadaan dirinya dalam teks-teks yang dikaji. Dari identifikasi inilah puitika (dalam pengertian prinsip-prinsip mengarang) ditentukan.

Setakat ini, yang ditelusuri baru teks-teks ’Riau’, dalam arti teks-teks yang dihasilkan para pengarang Riau, dan Sulalatus Salatin (sebuah teks Melayu yang paling sering dijadikan rujukan dalam narasi-narasi kesejarahan Melayu). Dari penelusuran yang dilakukan, diperoleh kesimpulan sementara bahwa para pengarang Riau mengalternatifkan kepengarangannya dalam dua fungsi utama: mereproduksi teks/dunia secara kreatif, atau merepresentasikan pengalaman dunianya secara kritis. Alhasil, teks-teks reproduksi kreatif hadir dengan tawaran menegaskan gagasan kesejarahan yang universal: ketegangan antara kontinuitas dengan diskontinuitas. Kontinuitas ditanamkan dalam jejak keserupaan, seperti hubungan genetik antara orang tua dan anak yang dikokohkan oleh konvensi-konvensi kebudayaan sejagat; sedangkan diskontinuitas disodorkan melalui jejak-jejak perbedaan, seperti galibnya retakan identitas diri antara anak dan orang tuanya.

Teks-teks representasi kritis pula tampil menohok perspektif, pendekatan, dan cara kita mengalami kenyataan serta gejala-gejala. Teks dan dunia yang diperlihatkannya dengan demikian hadir dalam rona yang murung, dan kemurungan itulah yang menjadi epik bagi semangat etiknya: memperbaiki.

Keywords: literature; Malay culture; criticism; poetic; author; Riau.

Selengkapnya: Dari “reproduksi kreatif” ke “representasi kritis”: Penemuan kembali kepulauan sastra Melayu

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas