Poetry Battle: Karena Langit adalah Takdir

Tuesday, 13 March 2012

aku mencintaimu
karena cinta itu kamu
bagai langit biru
setelah mendung berlalu

adalah serona jingga
rindu yang menggurita
padamu cinta
karena langit adalah takdir kita bersama


aku mencintaimu
karena cinta itu kamu
lembayung senja berwarna dadu
diantara jarak dan waktu

adalah serupa sunyi
malam yang rindu
padamu kasih
karena musim telah memanggil kita menyatu


aku mencintaimu
karena cinta itu kamu
senyum yang tersipu malu
menghapus noda kelabu

adalah seputih melati
senja yang hening
mengutarakan rindu yang berkesudahan
karena kamu menyesapkan rindu terlalu jauh


Ruang Maya, 13 Maret 2012

*) Ditta Larasati (tegak) - Ekohm Abiyasa (miring)

Diambil dari BuMa on Facebook
Selengkapnya: Poetry Battle: Karena Langit adalah Takdir

(Fiksimini) Hatimu Spesial

Friday, 2 March 2012

Cinta itu merah, semerah darahku yang mengalir dalam tubuhku. Begitu rindu menggebu. Rona senja yang menggelora. Rerintik air hujan yang berkeliaran. Suasana yang sangat aku inginkan. Tepat sekali buat menikmati kenangan atau hanya sekedar mengenang wajahmu yang ayu. Ditemani secangkir teh mungkin atau kopi. Kertas-kertas berserakan. Bait-bait puisi yang belum selesai aku bikin. Dirimu memang spesial bagiku. Hatimu sangat spesial.

Kapan lagi kita memesan sunyi yang seperti dulu. Indah rasanya bila kuingat-ingat kenangan yang ada. Segala tumpah ruah dalam otak ini. Ada geletar apa aku tak tahu. Inikah cinta itu? Aku hanya tak menyadarinya. Sekian waktu telah berlalu menyeret memori. Menguliti umur dan menghempaskan

Sesungguhnya hati ini tak memaksa untuk memiliki dirimu. Bagiku cinta itu tetap butuh logika atau rasio. Lihatlah kedalam diri. Siapa kamu? Bisa apa kamu? Bagaimana kamu? Itu adalah kata-kata salah seorang teman saya. Dan kurenung-renungkan, cocok juga.

Ah, tapi seperti dibuat gila aja bila ingat senyumanmu. Aku lihat ketulusan dimatamu. Entah benar atau tidak aku tidak tahu. Dan yang aku rasakan hanyalah sepenggal cerita saja. Pun juga dengan dirimu. Walaupun tak bisa bersatu nantinya, aku berpuas saja sampai apapun nantinya. Biarpun melati tak beraroma semerbak mengelilingi kita, sudah cukup bagiku. Kau pemanis dalam hidupku. Kau begitu special, hatimu. Dirimulah yang menggerakkan di banyak pepuisian yang ada. Disetiap napas, aku bermohon kepada Tuhan, sudilah kiranya Tuhan mengabulkan permintaanku.

"Ya Allah, tautkanlah hatinya dengan hatiku. Satukanlah kami, satukanlah kami, satukanlah kami. Jodohkanlah kami dihari yang berbahagia. Amin"

* * *

Kerlip malam mulai temaram. Rona jingga berpudar pekat menghitam. Ada sesuatu yang mengganjal hati. Benar ketidakpastian (sesuatu). Tak apalah, biarkan saja semuanya berjalan sendiri. 

Mari berdansa, mari bermain saja. Menikmati alam dan rona jingga sebelum benar habis kali ini.Tertawalah cinta, jangan kau bersedih oleh sebab apapun? Aku bersedia memapah kakimu kemana engkau pergi. Sekuat dan semampuku sayang.

Mari berdendang tentang lagu hujan dan senja yang bersemayam dalam hati kita. Kita eratkan rerinduan yang menggelora dalam cangkir-cangkir kopi. Mari bermain-main dengan pelangi. Hidupmu adalah pelangi. Kau adalah pelangi.

Mari lekatkan kening kita. Memadu sunyi diantara rerintik hujan yang berjelaga. Kita tautkan rindu dikejauhan. Hatimu hatiku. Puisi adalah hatimu.

Jakal KM 14 Jogja, 02 Maret 2012
Dalam sebuah Subuh

*) Ekohm Abiyasa
Selengkapnya: (Fiksimini) Hatimu Spesial

(Fiksimini) Kalongs Kecil Bertanya pada Induknya

Monday, 27 February 2012

Suatu saat ada kalong kecil bertanya pada induknya.
"Mak, bapak kemana?"
"Hm.. Bapak lagi nyari makan nak," Si Ibu sedikit gugup.
"Owh, buat adek dan mamak yah?"
"Masih lama gak mak bapak pulangnya?"
"Entahlah nak, kita tunggu saja.."

Ngelus-ngelus anaknya yang kebingungan nyari selimut. Diluar sedikit gerimis bertabur coklat eh kabut.

Jakal KM 14 Jojga, 27 Februari 2012

*) Ekohm Abiyasa

Credit to The Kalongs Family
Selengkapnya: (Fiksimini) Kalongs Kecil Bertanya pada Induknya

(Fiksimini) Menikmati Sendiri

Friday, 24 February 2012

Mungkin berdiam lebih baik, kala saatnya tepat. Dan memang kita harus memilih sikap pada waktu yang tepat atau pas. 

Mungkin ini hanya sebatas harapku saja. Tak menjadi nyata. Huft, betapa capek kalo dibayangkan. Diamlah aku dalam kesendirian. Aku tak menginginkan kesedihan hanya memikirkan sesuatu yang tak pasti. Yang jelas aku hanya menikmati suasana hati ini. Entah bagaimana nantinya. Sesuai harap atau tidak, bukan urusanku.

Mungkin harapku, kan membawamu warnai hari yang cerah.

Jakal KM 14 Jogja, 24 Februari

*) Ekohm Abiyasa
Selengkapnya: (Fiksimini) Menikmati Sendiri

Poetry Battle: Sabudi (Sastra Budaya Indonesia)

Saturday, 18 February 2012

ah kau perang yang berkecamuk
jangan pernah berhenti terpuruk
teruslah bangkit
hingga pucuk tersulit
dan debu kan mereda
saat kau berada diatasnya

SABUDI (sastra budaya indonesia)
mari kita jaga bersama!

ya, menemu senyum diatas bukit
memberi obat penawar atas rasa sakit
pasti menyenangkan memiliki tali hati
dia berkumandang penuh dimalammalam sunyi, memenuhi mimpi


Ruang Maya, 15 Februari 2012

*) Moestoain (tegak) - Ekohm Abiyasa (miring)

Pepuisian diambil dari sini.
Selengkapnya: Poetry Battle: Sabudi (Sastra Budaya Indonesia)

Poetry Battle: Kota yang Seperti Hatimu

Sunday, 5 February 2012

kembali ke kota itu
hanya untuk menemui gerimis, jalanan sepi, dan rumah-rumah tua
selebihnya hanya kekosongan yang ramai. seperti hatimu

diujung pintu hati ini, terbuka untuk kau sambangi
merindukan ketukan dari jemarimu
ketika malammalam jua merambati sekeliling
kau ayunkan senyum simpul malumalu

diujung malam nanti, kuhadiahkan segenap butir rindu yang kumiliki
betapa hangat canda yang kulihat darimu
sehangat pesona jingga membelah waktu dua keping
kau masih suka menebar senyum manis itu

oh, isilah hati ini dengan segenap pasir rindu
jauh debu kian beterbangan
mengucap kata, selamat datang kekasihku
dan kau menggenggam cahaya dipenghujung malam


Ruang Maya, 5 Februari 2012

*) Jee Asha (tegak) - Ekohm Abiyasa (miring)

Taken from Jee's blog
Selengkapnya: Poetry Battle: Kota yang Seperti Hatimu

(Fiksimini) Teka-teki

Saturday, 4 February 2012

Seseorang berlari-lari. Seperti ada yang membuntutinya. Bayang-bayang hitam. Kemudian seseorang itu memaki dirinya sendiri. Gemparlah sekeliling. Seorang tua tergopoh-gopoh menghampirinya. Dengan mata yang tajam seseorang itu membalas kedatangannya. Malam yang sunyi. Mencekam. Kabut beterbangan.

Seseorang itu bercakap-cakap dengan siapa? Atau jangan-jangan "dia" yang pernah muncul dipermukaaan saya? Kenapa semua ini begitu penuh teka-teki?

Dan seulas senyum memancar dari seberang jendela. Entah senyum milik siapa? Nenek, sehatkah kau disana? Oh mengapa juga aku selalu terbayang wajah-wajah nenekku. 

Dada dan kepalaku penuh sesak oleh teka-teki.

Jakal KM 14 Jogja, 4 Februari 2012

*) Ekohm Abiyasa
Selengkapnya: (Fiksimini) Teka-teki

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas