Twitter + Facebook
Ruang Arsip
-
▼
2015
(26)
- April 2015 (6)
- March 2015 (8)
- February 2015 (8)
- January 2015 (4)
-
►
2014
(93)
- December 2014 (2)
- October 2014 (4)
- September 2014 (1)
- August 2014 (6)
- July 2014 (9)
- June 2014 (7)
- May 2014 (4)
- April 2014 (15)
- March 2014 (6)
- February 2014 (13)
- January 2014 (26)
-
►
2013
(126)
- December 2013 (8)
- November 2013 (4)
- October 2013 (11)
- September 2013 (7)
- August 2013 (6)
- July 2013 (12)
- June 2013 (32)
- May 2013 (19)
- April 2013 (2)
- March 2013 (13)
- February 2013 (4)
- January 2013 (8)
-
►
2012
(294)
- December 2012 (18)
- November 2012 (48)
- October 2012 (117)
- September 2012 (2)
- August 2012 (1)
- July 2012 (1)
- June 2012 (3)
- May 2012 (5)
- April 2012 (42)
- March 2012 (24)
- February 2012 (5)
- January 2012 (28)
-
►
2011
(18)
- December 2011 (5)
- November 2011 (2)
- October 2011 (7)
- September 2011 (2)
- May 2011 (2)
-
►
2010
(2)
- October 2010 (2)
-
►
2009
(9)
- December 2009 (1)
- May 2009 (1)
- March 2009 (5)
- January 2009 (2)
-
►
2008
(5)
- September 2008 (1)
- August 2008 (2)
- February 2008 (2)
-
►
2007
(4)
- December 2007 (4)
Ruang Sunyi
Ruang Pengunjung
Translate
ASEAN Literary Festival (ALF) 2015: Persembahan untuk Sitor Situmorang
Monday, 9 March 2015
Info: http://infosastra.com/2015/03/05/asean-literary-festival-2015-persembahan-untuk-sitor-situmorang/
Selengkapnya: ASEAN Literary Festival (ALF) 2015: Persembahan untuk Sitor Situmorang
Diposkan oleh Unknown di 3/09/2015 08:43:00 pm 0 Komentar
Label info even sastra, sitor situmorang
Membaca itu..
"Membaca itu seperti berpikir, seperti berdoa, seperti berbicara dengan
seorang teman, seperti mengekspresikan ide-idemu, seperti mendengarkan
ide-ide orang lain, seperti mendengarkan musik, seperti melihat
pemandangan, seperti berjalan-jalan di pantai." (Roberto Bolano, 2666)
Sumber: Facebook Gambang.
Selengkapnya: Membaca itu..
Sumber: Facebook Gambang.
Diposkan oleh Unknown di 3/09/2015 03:30:00 pm 0 Komentar
Label quotes
Kutipan dari Prof. Dr. Priguna Sidharta Tentang Guru
Friday, 27 February 2015
"Kini
sudah tidak berlaku lagi bahwa seorang guru merupakan sumber mutlak
suatu pengetahuan. Seorang guru tetap berfungsi sebagai guru dalam arti
luhur, jika ia dapat menghibahkan cara berpikir, cara belajar dan cara
bersikapnya kepada anak didik dengan anjuran untuk pada gilirannya
meneruskan apa yang telah diterimanya kepada generasi muda."
(Dari buku "Seorang Dokter dari Losarang: Sebuah Otobiografi Priguna Sidharta" Hal. 211. Terbitan PT Temprint tahun 1993) Dari Facebook Ekohm Abiyasa
Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Priguna_Sidharta
Paper: https://sciencescape.org/author/84465864
(Dari buku "Seorang Dokter dari Losarang: Sebuah Otobiografi Priguna Sidharta" Hal. 211. Terbitan PT Temprint tahun 1993) Dari Facebook Ekohm Abiyasa
"Seorang
guru yang baik dalam ilmu bukanlah guru yang akan membuat anak didiknya
menjadi duplikat dari pribadinya, tetapi adalah guru yang dapat
melimpahkan cara berpikirnya kepada anak didiknya, di mana pada waktu
anak didik ini akan menjadi penerus, dan seterusnya. Guru bukanlah
satu-satunya sumber ilmu, namun guru lebih mengarahkan dan menunjukkan
mana yang baik dan berhasil bila dipelajari dengan tekun. Untuk itu kamu
harus membentuk dirimu sendiri yang sesuai dengan perilaku kehidupanmu
sendiri ketimbang mengagungkan pribadi gurunya yang mungkin tak sesuai
dengan kehidupan dirimu sendiri. Menetapkan disiplin belajar adalah
keharusan, namun bagaimana kamu melaksanakannya adalah kesadaran dan
kelincahanan dirimu sendiri. Dari guru sekarang ini bolehlah ditimba
pengalamannya dan pengetahuan praktisnya."
Ujar Dr. Sie Pek Giok alias Dr. Priguna Sidharta kepada muridnya, Dr. Santoso Sumorahardjo.
(Dari buku "Seorang Dokter dari Losarang: Sebuah Otobiografi Priguna Sidharta" Hal. 357. Terbitan PT Temprint tahun 1993) Dari Facebook Ekohm Abiyasa
Ujar Dr. Sie Pek Giok alias Dr. Priguna Sidharta kepada muridnya, Dr. Santoso Sumorahardjo.
(Dari buku "Seorang Dokter dari Losarang: Sebuah Otobiografi Priguna Sidharta" Hal. 357. Terbitan PT Temprint tahun 1993) Dari Facebook Ekohm Abiyasa
Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Priguna_Sidharta
Paper: https://sciencescape.org/author/84465864
Diposkan oleh Unknown di 2/27/2015 11:55:00 pm 0 Komentar
Label quotes
Puisi Seharusnya
Thursday, 26 February 2015
"Puisi (seharusnya) mampu mengangkat keindahan lebih tinggi di atas kebenaran."
Sakutaro Hagiwara (1886-1942)
Sumber: Facebook Sofyan RH Zaid
Selengkapnya: Puisi Seharusnya
Sakutaro Hagiwara (1886-1942)
Sumber: Facebook Sofyan RH Zaid
Diposkan oleh Unknown di 2/26/2015 10:54:00 pm 0 Komentar
Label quotes
Tiga Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 21/02/15)
Saturday, 21 February 2015
Musim Giling Tebu
pukul sepuluh malam
telinga kecil merekam
bunyi mesin sebuah pabrik tebu
berjarak lapisan kenangan
musim penggilingan tebu
malam-malam itu
pukul sepuluh malam
nasib menyeru kami para pekerja
lembur mengguyur dapur kristal-kristal keringat
suara itu mendentam telinga
sampai usia kelewat amis
raga-raga pucat
meniup asap-asap hitam dalam lubang
corong penebar bau tak sedap
hidup bertanjak dingin
demi hari esok
musim penggilingan tebu
malam-malam itu
Surakarta, 2014
Dadu
kedua kakiku membeku
dikepung dingin
sebeku inikah hatimu?
aku tak pandai merayu
memilikimu seperti melempar sebuah dadu
angka-angka mujur sulit dipilih
angka-angka memilih tanpa tebang pilih
langkah-langkah tersesat!
Surakarta, 2014
Derita Tiada Habis
1
sepasang kaki mengitari halaman basah di musim meranggas
sepasang mata meliuk angkuh pada pukul sepuluh malam
2
kaki sudah tak tahan lagi pada panas pasir
lagu-lagu hanya sesaat mengayun pelan
di telinga tanpa masuk lebih dalam dan singgah lebih lama di jiwa
bukan,
semisal musim kering telah tuntas namun masih saja
terasa sama musim-musim berikutnya
Surakarta, 2014
Sumber: Facebook Zaeni Boli.
Selengkapnya: Tiga Puisi di Halaman Sastra Kalimalang Radar Bekasi (Sabtu, 21/02/15)
pukul sepuluh malam
telinga kecil merekam
bunyi mesin sebuah pabrik tebu
berjarak lapisan kenangan
musim penggilingan tebu
malam-malam itu
pukul sepuluh malam
nasib menyeru kami para pekerja
lembur mengguyur dapur kristal-kristal keringat
suara itu mendentam telinga
sampai usia kelewat amis
raga-raga pucat
meniup asap-asap hitam dalam lubang
corong penebar bau tak sedap
hidup bertanjak dingin
demi hari esok
musim penggilingan tebu
malam-malam itu
Surakarta, 2014
Dadu
kedua kakiku membeku
dikepung dingin
sebeku inikah hatimu?
aku tak pandai merayu
memilikimu seperti melempar sebuah dadu
angka-angka mujur sulit dipilih
angka-angka memilih tanpa tebang pilih
langkah-langkah tersesat!
Surakarta, 2014
Derita Tiada Habis
1
sepasang kaki mengitari halaman basah di musim meranggas
sepasang mata meliuk angkuh pada pukul sepuluh malam
2
kaki sudah tak tahan lagi pada panas pasir
lagu-lagu hanya sesaat mengayun pelan
di telinga tanpa masuk lebih dalam dan singgah lebih lama di jiwa
bukan,
semisal musim kering telah tuntas namun masih saja
terasa sama musim-musim berikutnya
Surakarta, 2014
Sumber: Facebook Zaeni Boli.
Diposkan oleh Unknown di 2/21/2015 10:40:00 pm 0 Komentar
Label publikasi, puisi-puisi
Foto-foto Ultah PAWON Sastra ke-8
Diposkan oleh Unknown di 2/21/2015 01:40:00 pm 0 Komentar
Label galeri, Pawon Sastra Solo
Baca Puisi di Ultah PAWON Sastra ke-8
Friday, 20 February 2015
Bareng Mbak Ary S, kawan blogger Multiply. Enam tahun baru bertemu! Link foto.
Foto-foto oleh: Ary Sri Setyani
Diposkan oleh Unknown di 2/20/2015 11:49:00 am 0 Komentar
Label galeri, Pawon Sastra Solo
Subscribe to:
Posts (Atom)

































