Showing posts with label dunia tulis. Show all posts
Showing posts with label dunia tulis. Show all posts

Incidental Comics: World's Writing

Tuesday, 22 July 2014

Styles of Writing: http://www.incidentalcomics.com/2014/03/styles-of-writing.html

The Writers' Retreat: http://www.incidentalcomics.com/2014/07/the-writers-retreat.html

Understanding Poetry: http://www.incidentalcomics.com/2014/04/understanding-poetry.html

Poet in My Pocket: http://www.incidentalcomics.com/2014/03/poet-in-my-pocket.html

The National Department of Poetry: http://www.incidentalcomics.com/2014/01/the-national-department-of-poetry.html

Reading Is Dangerous: http://www.incidentalcomics.com/2013/07/reading-is-dangerous.html

The Story Coaster: http://www.incidentalcomics.com/2013/07/the-story-coaster.html

Performance-Enhancing Drugs for Writers: http://www.incidentalcomics.com/2013/02/performance-enhancing-drugs-for-writers.html

Genius Is...: http://www.incidentalcomics.com/2013/03/genius-is.html

Creative Blocks: http://www.incidentalcomics.com/2013/03/creative-blocks.html

How to Make Write: http://www.incidentalcomics.com/2013/03/how-to-make-write.html

Day Jobs of the Poets: http://www.incidentalcomics.com/2013/04/day-jobs-of-poets.html

Rules for Freelancers: http://www.incidentalcomics.com/2013/05/rules-for-freelancers.html

Brainstorm: http://www.incidentalcomics.com/2012/10/brainstorm.html

Story Structures: http://www.incidentalcomics.com/2012/11/story-structures.html

Life in the Woods: http://www.incidentalcomics.com/2012/11/life-in-woods.html

Life Drawing: http://www.incidentalcomics.com/2012/12/life-drawing.html

Minimalism is Simple: http://www.incidentalcomics.com/2013/01/minimalism-is-simple.html

The Nature of Ambition: http://www.incidentalcomics.com/2013/01/the-nature-of-ambition.html

Ini rangkuman lengkapnya: http://www.incidentalcomics.com/p/poster-shop.html

Selengkapnya: Incidental Comics: World's Writing

Jean Couteau: Setia Menjadi Penulis

Tuesday, 29 April 2014

(Dimuat di Majalah Arti, Edisi 021/November 2009)

Teks dan Foto Wayan Sunarta
“Bagaimana kabar? Masih terus menulis?” sapa Jean Couteau ramah, saat saya berkunjung ke rumahnya yang bersahaja di tepi sungai Ayung di kawasan Denpasar Utara.
“Kabar baik, Pak Jean. Menulis jalan teruslah,” ujar saya. 
“Ehm, bagus ya. Meski kita tahu menjadi penulis harus siap tetap miskin,” seloroh Jean sembari ketawa. Saya juga ketawa, tentu dengan hati miris.

Ehm, mau bagaimana lagi, menjadi penulis adalah sebuah pilihan sadar yang mesti tetap dijalani. Jean Couteau pun dengan setia tetap melakoni profesinya sebagai penulis sejak bertahun-tahun lampau. Jean senang menulis berbagai hal yang berkaitan dengan kesenian, pariwisata, sosial dan budaya. 

Karier kepenulisan telah dirintisnya sejak mahasiswa. Dia telah banyak menghasilkan tulisan kuratorial dan pengantar pameran seni rupa, tulisan-tulisan lepas di berbagai media massa dalam dan luar negeri, makalah-makalah seminar atau pun tulisan utuh dalam bentuk buku tentang proses kreatif dan pencapaian karya beberapa seniman. 

Banyak perupa muda berbakat asal Bali menjadi tenar dan laris manis di pasar seni rupa salah satunya karena tulisan-tulisannya. Namun kehidupan Jean Couteau tetap saja bersahaja, seakan kemewahan jauh dari garis tangannya. Hal itu menjadi sangat ironis jika dibandingkan dengan pelukis-pelukis yang pernah diorbitkannya hidup dalam gelimang kemewahan.

Jean telah menetap di Bali lebih dari 27 tahun. Bergaul akrab dengan banyak seniman dan intelektual Bali. Dia sangat fasih berbahasa Bali dan Indonesia. Dia memperoleh gelar master dalam bidang Sosiologi dari Universitas Sorbonne, Perancis. Sedangkan gelar doktor diperolehnya dari EHESS (cabang Sorbonne) dengan disertasi mengenai ikonografi gambar Bali. 
Sore itu, kami ngobrol-ngobrol di bawah rindang pohon suar. Air sungai Ayung gemericik melewati celah bebatuan. Kurator dan kritikus seni rupa tersohor asal Perancis itu hanya mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek. Wajahnya yang pucat nampak lelah, meski senyumnya tetap hangat bersahabat.

Kami ngobrol tentang wacana seni rupa Indonesia mutakhir. Jean menilai perupa Indonesia, terutama perupa muda, seakan tidak punya pijakan yang kuat di tengah arus globalisasi dan wacana kontemporer. Misalnya, perupa muda banyak yang ikut trend seni rupa Cina.

Ikut-ikutan trend seni rupa yang laris di pasaran tentu berdampak pada kurangnya menggarap kedalaman karya dan mandegnya kreativitas. Jean mengatakan perupa muda terlalu terpukau pada ikon-ikon global, lupa pada unsur-unsur lokal dan ikon-ikon budaya sendiri. “Pasar terlalu kuat dibandingkan dengan ekspresi diri,” katanya.

Problem terbesar seni rupa Indonesia, menurut Jean, adalah tidak adanya museum seni rupa yang representatif. Sudah saatnya Indonesia memiliki museum seni rupa yang terstruktur yang memajang karya-karya seniman Indonesia secara komplit. Museum sangat berperan untuk membentuk sejarah seni rupa Indonesia. “Tentu kurasi museum juga harus jelas dan terstruktur,” ujarnya.

Selengkapnya: Jean Couteau: Setia Menjadi Penulis

"Menulis vs. Pekerjaan Harian"

Wednesday, 19 June 2013

Menulis adalah sebuah profesi. Dari dulu sampai saat ini fakta itu belum berubah. Namun ada satu hal yang terkadang sulit dicerna oleh para calon penulis, bahwa profesi ini jarang sekali membuahkan hasil finansial yang memuaskan. Betul, menulis adalah profesi yang menyita waktu. Betul, menulis membutuhkan proses berpikir yang menyita energi. Dan oleh sebab itu konsep bahwa seorang penulis dianjurkan untuk tidak menyandarkan kebutuhan hidupnya dari hasil menulis bisa terkesan…well, kejam.

Nyatanya tidak sedikit penulis serius yang membagi waktunya antara pekerjaan (day job) dan profesi menulis. Tidak sedikit juga penulis serius dan legendaris yang terpaksa mencuri waktu-waktu absurd demi menyelesaikan novel dan cerita pendek mereka, baik itu lewat tengah malam atau beberapa jam sebelum matahari terbit. Dan dari sekian banyak penulis yang reputasinya telah dikukuhkan sebagai tokoh sastra dunia, tidak sedikit yang sempat melakukan pekerjaan serabutan demi melangsungkan hidup. Karena tidak semua buku yang ditulis laku keras di pasaran; dan kalau sudah begitu…tak ada pilihan kecuali banting setir.

Penasaran pekerjaan macam apa yang dilakukan para penulis ternama? Berikut daftar 10 penulis dan pekerjaan harian mereka.

1. Bram Stoker, penulis buku horor dan gotik berjudul ‘Dracula’, bekerja sebagai asisten produksi pertunjukkan teater.

2. Lewis Carroll, penulis buku ‘Alice in Wonderland’, bekerja sebagai ahli perpustakaan dan guru matematika.

3. T.S. Eliot, semasa hidupnya, sering digoda oleh teman-temannya karena memilih profesi yang sangat membosankan sebagai pegawai bank. Meski telah dikenal sebagai penyair serius dengan menerbitkan buku ‘The Waste Land’, ia tidak pernah melepaskan pekerjaan hariannya di bank.

4. Harper Lee, penulis buku ‘To Kill A Mockingbird’, bekerja sebagai agen tiket perjalanan.

5. John Steinbeck, seorang pemenang Nobel Sastra, dan penulis buku ‘Grapes of Wrath’, bekerja sebagai pemandu wisata.

6. Setelah menerbitkan novel pertamanya, Kurt Vonnegut, penulis novel ‘Slaughter House Five’, bekerja sebagai agen dealer mobil.

7. William Faulkner, juga pemenang Nobel Sastra, dan penulis buku ‘As I Lay Dying’, bekerja sebagai tukang pos di kampus universitas.

8. J.D. Salinger, penulis buku ‘Catcher in the Rye’, bekerja sebagai Entertainment Director di sebuah kapal pesiar.

9. Franz Kafka, penulis cerita ‘Metamorphosis’, bekerja sebagai Kepala Sekertaris Hukum di sebuah institusi asuransi pekerja.

10. Ernest Hemingway, penulis buku ‘For Whom The Bell Tolls’, bekerja sebagai reporter dan koresponden jurnal politik.

So … masih semangat nulis kan? 

Sumber Fiksi Lotus
Selengkapnya: "Menulis vs. Pekerjaan Harian"

Mengabadikan Ide

Sunday, 25 November 2012

Alangkah bahagianya bila buku yang kita tulis itu terbit dan dibaca oleh banyak orang. Itulah salah satu derai kebahagiaan jiwa seorang penulis yang tidak bisa dikalkulasi dengan uang. Dengan buku, berarti kita telah mendokumentasikan ide dan pikiran kita, untuk terus dikenang dan terus abadi.  Simaklah dua kutipan berikut ini:

“Karya-karya tulis akan kekal sepanjang masa. Sementara penulisnya hancur terkubur di bawah tanah.” [Ali Mustafa Yaqub]
“Jika engkau tidak ingin dilupakan segera setelah berkalang tanah nantinya, tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak ditulis.” [Benjamin Franklin]

Ketika mengisi pelatihan menulis buku, saya sering mengajukan ke peserta sebuah pertanyaan? “Tahukah Anda nama kakek-nenek Anda?” Kebanyakan mereka menjawab, “Tahu!”

Saya bertanya lagi, Tahukah Anda nama kakek-nenek dari kakek-nenek Anda?” Kebanyakan peserta menjawab, “Tidak tahu.”
Ihya’ Ulumuddin, karya monumental Imam Al-Ghazali. Abadilah ilmunya, abadilah namanya. (sumber foto: internet)
Kemudian saya bertanya lagi, “Tahukah Anda Imam Al-Ghazali atau Imam Syafi’i?” Mereka rata-rata menjawab “Tahu.” Imam Al-Ghazali adalah penulis kitab Ihya’ Ulumuddin, dan Imam Syafi’i adalah ulama besar pendiri madzhab Syafi’i.

Saya pun bertanya, “Mengapa Anda tahu Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi’i yang hidup ratusan tahun lalu, sementara Anda tidak tahu nama kakek-nenek dari kakek-nenek Anda sendiri?”

“Jawabannya adalah,” kata saya kemudian, “Karena Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi’i menulis buku, sedang kakek-nenek dari kakek-nenek Anda tidak.”.

Ya, menulis buku memang merupakan salah satu cara mengabadikan nama kita, sekaligus mengabadikan ide dan pikiran kita, agar terus memancarkan manfaatnya sepanjang waktu. Ide dan pikiran yang tidak dibukukan, akan hilang tergerus zaman seiring kematian pemiliknya. Sedang ide dan pikiran yang dibukukan, manfaatnya akan terus abadi menembus zaman.

Semoga bermanfaat. Selamat berkarya!*

Sumber blog JPIN
Selengkapnya: Mengabadikan Ide

Menulis itu ”Memahat” Kata

Oleh: DR. Sulaiman Al-Kumayi, MA (Penasehat JPIN Pusat)

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang sangat fasih berbicara, bahkan sampai dijuluki “singa podium”. Namun, ketika mereka diminta menulis sebuah artikel saja, butuh berhari-hari bahkan berbulan-bulan tulisan mereka tidak jadi-jadi juga. Di lain pihak, para sarjana, bahkan dosen yang fasih berbicara di depan umum dan begitu terobsesi ingin jadi penulis namun belum ada satu pun tulisannya berhasil menembus kreteria layak muat. Kenapa?

Mungkin Anda sudah membaca beratus buku panduan tentang tulis-menulis yang bere­dar di pasaran, namun ketika Anda mencoba mempraktikkan isi panduan tersebut, Anda bengong sendiri dan tulisan Anda lagi-lagi tidak jadi.

Teori sekedar memberi petun­juk, tetapi prakteklah yang paling penting. Di sinilah orang sering dihadapkan langsung dengan berbagai kendala, yang sekiranya kurang gigih tentu akan surut lalu mengubur cita- citanya untuk jadi penulis. Jika demikian, apakah untuk menjadi penulis itu sulit? Jawabnya bisa ya bisa tidak. Meskipun begitu, Anda tidak boleh putus asa untuk menjadi penulis. Saya sendiri memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa menulis dan akhirnya bisa menjadi penulis profesional.

Menurut penelitian Dr. Kazuo Murakami—yang kemudian dibukukannya, The Divine Code of Life: Awaken Your Genes & Discover Hidden Talents (2006)—menyebutkan bahwa gen manusia dapat diubah jika manusia mau mengubahnya. Gen-gen bermanfaat dapat dibangun dengan mengembangkan berfikir positif, dan didukung oleh lingkungan yang kondusif. Ia juga menambahkan, gempuran-gempuran informasi juga berpengaruh terhadap gen kita. Jadi, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengatakan: “ayah saya bukan seorang penulis, maka tidak mungkinlah saya menjadi penulis.”

Ketika seseorang memilih “menulis sebagai profesi”, maka pada saat yang bersamaan haruslah ditanamkan dalam hati bahwa “anda adalah seorang wirausaha.” Bedanya: bahan baku anda adalah ‘kata-kata’ yang harus dikelola sedemikian rupa sehingga laku di pasar. Selain itu, yang harus pula diingat oleh penulis pemula adalah bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dengan potensi luar biasa. Setiap makhluk-Nya mempunyai potensi menjadi penulis-penulis hebat asalkan mau menggali potensi tersebut.

* * *

Di zaman Yunani Kuno, ayah Socrates terkenal sebagai pematung yang ulung. Sang anak yang juga filosof terkemuka dunia itu, sempat bertanya kepada ayahnya tentang keulungannya memahat patung batu singa. “Bagaimana ayah bisa sedemikian hebat dalam memahat patung singa?” Sang ayah menjawab, “Aku sebenarnya hanya mengeluarkan singa tersebut dari penjara. Kupahat tahap demi tahap penjara singa tersebut sehingga  ia dapat keluar dengan bebas.”

Apa yang kita pahat? Yang kita pahat adalah “kata”. Ibarat sebuah batu cadas, kita harus mulai memahat step by step disertai dengan kejelian, ketekunan, dan kesabaran luar biasa agar hasilnya sangat memuaskan. Pemahatan yang dilakukan asal-asalan, dapat dipastikan hasilnya jelek dan tidak indah dipandang mata. Boleh jadi, pahatan Anda tidak lebih dari seonggok sampah batu yang tidak berharga sama sekali.

La Rose, seorang penulis wanita yang produktif ketika ditanya berapa waktu yang diperlukannya dalam merampungkan satu artikel, dengan mantap menukas: puluhan tahun! Menurutnya kemampuan yang dimilikinya sekarang merupakan kelanjutan dari proses puluhan tahun silam. Di awal karirnya, seperti halnya penulis lain, tidak sedikit tulisannya berakhir di tong sampah redaksi. Tetapi ia tidak putus asa, dan terus mencoba memperbaiki gaya kepenulisannya. Akhirnya kegigihan tersebut membuahkan hasil. Bahkan kemudian banyak perusahaan penerbit yang ingin merekrutnya.*

Sumber http://blogjpin.wordpress.com/2012/08/31/menulis-itu-memahat-kata/
Selengkapnya: Menulis itu ”Memahat” Kata

Gairah Menulis

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti (Ketua Umum JPIN Pusat)

Badiatul Muchlisin Asti (Foto: dok. JPIN)

Sahabat JPIN, barangkali ada di antara kalian yang di benaknya masih dipenuhi pertanyaan ini, “Bagaimana menumbuhkan keinginan dan minat yang besar untuk mau (berlatih) menulis secara kontinu?” Pertanyaan ini penting, bahkan sangat penting, karena tumbuhnya keinginan dan minat ini, mempengaruhi gairah menulis. Semakin tinggi minat seseorang menulis, semakin tinggi pula gairah menulisnya.

Hemat saya, kata kunci yang bisa menumbuhkan minat dan menyalakan gairah menulis adalah ada pada kata “Manfaat”. Bobbi DePoter dalam buku fenomenalnya Quantum Learning, menyatakan, bahwa sebelum Anda melakukan hampir segalanya dalam hidup Anda, baik secara sadar maupun tidak, Anda akan bertanya pada diri Anda tentang pertanyaan penting ini, “Apa Manfaatnya BAgiKu?” (AMBAK) Mulai dari pekerjaan sehari-hari yang paling sederhana hingga monumental yang mengubah hidup, segala sesuatu harus menjanjikan manfaat pribadi atau Anda tidak akan termotivasi untuk melakukannya.

Lebih lanjut Bobbi DePorter menyatakan, kadang-kadang AMBAK sangat jelas dalam benak Anda, dan di lain waktu Anda harus mencarinya, atau bahkan menemukannya begitu saja.

Bedah buku “Gurita Pornografi” bersama Ust. Mustaqim (Ketua PD Ikatan Da’i Indonesia Kab. Grobogan) dengan moderator Erwin NS Pambudi, penyiar Radio Purwodadi FM. (Foto: dok. pribadi).

Termasuk dalam konteks motivasi menulis, untuk menghidupkan minat dan menyalakan gairah menulis, kamu perlu menemukan AMBAK menulis. Apa manfaat menulis bagiku? Semakin banyak kamu berhasil menginventarisasi manfaat menulis, lalu berhasil menginternalisasi manfaat-manfaat itu dalam pikiran dan jiwa kamu, maka minat dan gairah menulis itu akan tumbuh dan menyala dalam dirimu.

Semakin banyak kamu berhasil menginternalisasi manfaat-manfaat menulis pada dirimu, maka gairah menulis itu akan semakin menyala-nyala. Apalagi bila kemudian kamu sudah benar-benar merasakan manfaat-manfaat itu secara nyata, maka gairah menulis itu akan menderas seperti air bah yang tak terbendung.

Minat dan gairah menulis saya sendiri, alhamdulillah, tumbuh secara alamiah seiring gairah membaca saya yang tinggi sejak kecil. Ada banyak manfaat dahsyat menulis yang telah saya rasakan. Ada manfaat ekonomi, ekspresi, eksistensi, dan manfaat-manfaat lainnya yang nyaris semuanya telah saya rasakan. Begitu dahsyatnya manfaat menulis yang telah saya rasakan, sehingga menulis telah menyatu, melekat, dan telah menjadi bagian dari hidup saya. Writing is not my hobby. It’s a part of my lifestyle. Saya dan menulis ibarat ikan dan air yang tak mungkin dipisahkan.

Bagaimana dengan kalian?

Salam kreatif. Selamat berkarya! *

Selengkapnya: Gairah Menulis

Menikmati Proses

Banyak yg datang kepada saya, minta dibimbing menulis, namun baru satu-dua tulisannya ditolak oleh redaksi alias gak dimuat, sudah putus asa, memvonis dirinya tidak berbakat menulis, lalu mengucapkan "selamat tinggal" dengan dunia tulis-menulis. Apa-apaan ini? batin saya.

Dia bilang gini "Saya sudah matian-matian cari ide, lalu memeras otak untuk menuliskannya, e ternyata gak dimuat..percuma kan..."

Hehe, saya dalam hati saya bilang, dia pikir koran itu punya kakeknya yang bisa begitu saja memuat karya-karyanya. Asal tahu, setiap rubrik di koran diincar oleh banyak pengirim naskah. Sehingga setiap tulisan akan "berkompetisi" memikat hati redakturnya agar dimuat. Bila setiap edisi, ada 20 naskah yang masuk, sedang di rubrik itu hanya diambil 1 atau 2 naskah saja, berarti harus ada 18 atau 19 naskah yang tersisih. Maka betapa kita harus bermental baja dan mengatur strategi untuk terus-menerus berproses untuk menjadi lebih baik dan berusaha memikat hati redaktur dengan tulisan yang semakin baik, sehingga tulisan kitalah nantinya yang dipilih dan dimuat.

Selengkapnya baca artikel saya "Menikmati Proses" yang diposting di blog resmi JPIN.

Sumber fb Badiatul Muchlisin Asti

Artikel terkait Kesediaan Menjalani Proses
Selengkapnya: Menikmati Proses

Penutup Artikel Bergaya Menggugah

Sunday, 14 October 2012

I Ketut Suweca

Seperti halnya kalimat-kalimat pembuka atau lead, penutup atau ending sebuah artikel pun seyogianya memiliki gaya menggugah. Kalau paragraf pertama diharapkan mendorong pembaca agar tertarik dan lanjut membaca tulisan itu, maka paragraf penutup dimaksudkan agar pembaca terkesan. Lantas bagaimana paragraf  penutup sebuah artikel yang memiliki daya gugah?

Mari kita perhatikan tiga contoh paragraf penutup berikut ini:
1.      “Mahasiswa tak perlu dipandang sebagai juru selamat atau ratu adil yang kedatangannya perlu dinantikan. Mahasiswa juga tidak perlu dipandang eksklusif sehingga harus selalu berjuang sendirian. Mari berkolaborasi untuk Indonesia yang lebih baik” ( Okki Sutanto, Mahasiswa dan Kolaborasi, Kompas, Selasa, 27 Desember 2011, hal. 7).

2.      “Ijinkan penulis mengakhiri tulisan ini dengan puisi Cesaire yang dikutip Frantz Fanon (2000:65): Namaku sakit hati/nama baptisku pengkhianat/statusku pemberontak/usiaku seusia batu/rasku ras manusia/agamaku persaudaraan”. (Fajar Riza Ul Haq, Bakar Diri dalam Demokrasi SBY, Kompas, Selasa, 20 Desember 2011, hal. 6).

3.      “Sebagai penutup, marilah kita renungkan apa yang sebenarnya kita dapatkan dari hidup ini. Bukankah kita datang ke dunia dalam kondisi telanjang? Bukankah kita meninggalkan dunia ini hanya dengan membawa selembar kain putih? Jadi, hanya itukah keuntungan yang kita peroleh sepanjang hidup di dunia?” (Arvan Pradiansyah, Untuk Selembar Kain Putih, Majalah Swasembada, Edisi 1-14 Februari 2007, hal. 126).

Paragraf penutup pada intinya merupakan  kesimpulan dari keseluruhan uraian yang dipaparkan sebelumnya. Kalimatnya menggugah dan benar-benar pilihan. Acapkali ditambahkan dengan kata-kata mutiara, ajakan, pertanyaan, saran, renungan, atau harapan.

Nah, bagaimana dengan penutup artikel yang Anda ciptakan?

Sumber  http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/penutup-artikel-bergaya-menggugah.html
Selengkapnya: Penutup Artikel Bergaya Menggugah

Empat Sifat Utama Manusia Kreatif

Pemerintah sudah mengidentifikasi lingkup industri  kreatif yang mencakup 14 sektor, yakni permainan interaktif, piranti lunak (software), periklanan, riset  dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, film, video dan fotografi, kerajinan, arsitektur, busana (fashion), desain, musik, pasar dan barang seni, serta penerbitan dan percetakan.

Usaha memajukan sektor ekonomi kreatif Indonesia memerlukan insan-insan yang kreatif. Unsur kreativitas inilah yang menjadi modal utama bagi terlahirnya produk-produk kreatif sebagai hasil daya cipta dan karsa manusia. Tanpa kreativitas, maka hasil karya akan monoton, bahkan mungkin tak laku lagi di pasaran. Kreativitas menjadi unsur penentu bagi keberlanjutan hidup industri-industri kreatif untuk menyokong tumbuhnya ekonomi kreatif di negeri ini.

Joseph G. Mason (1999) mengatakan  bahwa semua penelitian mengenai apa yang menyebabkan seseorang menjadi kreatif menunjukkan empat sifat utama. Beberapa eksperimen memperlihatkan bahwa keempat sifat ini bisa diperoleh atau dikembangkan ke suatu tingkat pada setiap individu.  Keempat sifat utama manusia kreatif sebagaimana disebut Joseph G. Mason meliputi: kepekaan terhadap masalah, membuka aliran gagasan, menemukan orisinalitas/keaslian, dan memegang fleksibilitas kreatif.
Kepekaan terhadap masalah.

Setiap apapun yang dikerjakan dan dihasilkan manusia, tak pernah mencapai kesempurnaan. Selalu saja ada kekurangan, selalu saja ada cacat-celanya. Pada setiap produk, senantiasa bisa dilihat mengenai “apa yang bisa diperbaiki”. Dengan landasan pemikiran seperti ini, maka akan dapat diselidiki ‘apa masalah’ yang masih ada pada suatu produk. Kalau produk itu berupa patung, misalnya, maka pertanyaannya yang muncul diantaranya: bagian detail mana yang bisa disempurnakan sehingga hasilnya akan lebih baik lagi ke depan? Kalau itu produk fotografi: bagaimana memanfaatkan teknik yang lebih baik agar foto yang dihasilkan pun lebih bagus?

Menurut Joseph G. Mason, cara termudah untuk memperbaiki kepekaan terhadap masalah sebenarnya sederhana saja, yaitu dengan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang sudah dikerjakan  dengan sempurna. Setiap artikel yang dibuat manusia, setiap operasi bisnis, setiap teknik hubungan manusia, selalu bisa diperbaiki dan pada suatu hari akan berubah menjadi lebih baik. Jika orang dapat mengenali masalah-masalah ini sebagai suatu tantangan bagi upaya kreatifnya, ia akan berada di separuh jalan untuk menemukan pemecahan kreatif.

Pertama, Membuka Aliran Gagasan
Setiap orang sejatinya dapat mengumpulkan sejumlah besar alternatif pemecahan terhadap suatu masalah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Semakin banyak gagasan yang dimiliki, semakin besar kesempatan untuk menemukan pemecahan terbaik yang dapat digunakan. Di samping itu, akan kian terbentang peluang untuk menghindari cara-cara lama dalam mengerjakan segala sesuatu. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk kelancaran aliran gagasan, yaitu: pertama, membuat catatan.  Membuat catatan sudah jamak diketahui dan dipraktikan. Jenis catatan yang harus dibuat adalah yang menangkap setiap gagasan liar. Catatlah segera, tuliskanlah di selembar kertas atau buku yang tersedia. Catat pula pendapat kita terhadap semua masalah yang kita   pikirkan.  Termasuk mencatat segala sesuatu yang diperkirakan berguna di masa depan, betapapun tampak kecilnya kemungkinan itu. 

Tes psikologi tentang kemampuan mengingat sesuatu, menyebutkan: kecepatan lupa adalah 25 persen dalam 24 jam pertama, 85 persen dalam satu minggu. Karena itu, membuat cacatan untuk membantu mengingat menjadi sangat masuk akal. Sistem apapun yang dibuat, sasarannya adalah untuk dapat dengan cepat mengumpulkan dan menemukan kembali segala sesuatu yang telah kita lihat, baca, dengar, atau alami sebelumnya.

Kedua, Menemukan Waktu Kreatif
Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama, yakni 24 jam dalam sehari. Dalam siklus waktu itu, ada saat-saat di mana seseorang menemukan puncak-puncak kreativitasnya, entah pagi, siang, sore, ataupun malam hari. Pada saat-saat itulah dia menjadi begitu kreatif dalam berpikir. Banyak ide-ide lahir pada waktu-waktu tertentu. Itulah saat yang disebut dengan puncak kreatif seseorang. Inilah karunia Tuhan yang tiada duanya, yang pantas dimanfaakan untuk melahirkan gagasan kreatif. Sia-sialah kalau seseorang yang dikaruniai waktu-waktu kreatif tetapi tidak memanfaatkannya dengan baik, malahan memilih berleha-leha.

Siklus kreativitas setiap orang berbeda-beda dan harus diketemukannya sendiri. Setelah menemukan puncak waktu kreatif itu, lalu manfaatkan untuk memikirkan pemecahan masalah dengan tujuan mendapatkan gagasan. Jika dipandang perlu,  gunakan lokasi atau ruang yang  khusus dan sama  dalam setiap waktu kreatif ini. Suasana lingkungan yang mendukung bisa membantu pendakian ke puncak kreativitas dus menghasilkan gagasan-gagasan berharga .

Ketiga, Menentukan Batas Waktu.
Menjadi sifat manusia untuk menunda-nunda penyelesaian masalah. Kalau  bisa dikerjakan besok, mengapa harus sekarang? Begitulah pertanyaan retoris yang cenderung menghasilkan penundaan pemecahan masalah. Kita memang harus bersungguh-sungguh melibatkan diri secara emosional dalam memenuhi batas waktu yang kita tetapkan. Misalnya, dalam sehari kita berencana menemukan 10 alternatif pemecahan sebuah masalah. Dengan kata lain, pada hari itu, kita wajib mendapatkan 10 gagasan, dan berjuang untuk menepati dan memenuhinya. Hal ini akan menjadi suatu dorongan yang sangat baik.

Berikanlah kuota untuk diri sendiri. Tujuan mengembangkan aliran gagasan adalah untuk membangun kapasitas atau kemampuan kita  untuk menghasilkan gagasan. Usahakan kuotanya lebih banyak dari gagasan yang sebenarnya kita butuhkan. Bonus tambahan yang bakal diperoleh: kita mungkin akan menemukan bahwa kualitas gagasan tersebut akan bertambah baik sejalan dengan kuantitasnya. 

Jika kita memiliki satu cara pemecahan masalah, dan ternyata gagal, maka masalah tak terpecahkan. Jika kita  punya satu masalah, tetapi mempersiapkan alternatif 10 gagasan sebagai jalan keluar, maka peluang penuntasan masalah menjadi sangat besar. Modal  kekayaan gagasan ini pun bisa menjadi investasi berharga bagi upaya pemecahan masalah lainnya yang sejenis.

Keempat, Menemukan Orisinalitas/Keaslian
Salah satu sifat manusia kreatif adalah keingintahuannya yang tinggi. Dengan bekal keingintahuan (curiosity) yang tinggi, maka peluang untuk menemukan gagasan-gagasan baru sangat besar. Orang-orang seperti ini selalu bertanya kepada diri sendiri dan orang lain: Mengapa hal itu dibuat dengan  cara seperti itu?  Mengapa harus  mengikuti prosedur ini? Bagaimana kita dapat memperbaiki  cara kita melakukan hal ini? Adakah cara lain yang lebih baik? Bisakah kita menggunakan pendekatan teknologi dalam hal ini? Charles Kettering menyebut cara ini dengan istilah “menantang hal yang pasti secara sistematis”.

Sebuah karya kreatif adalah karya yang menunjukkan unsur kebaruan, orisinalitas. Tak harus seratus persen, memang. Sebagian saja mengandung orisinalitas sudah cukup. Yang terpenting selalu ada unsur kebaruannya setiap kali suatu produk dihasilkan. Tidaklah gampang menemukan kebaruan hingga seratus persen. Jika menunggu kebaruan sebesar itu, maka hasil karya kita tak akan pernah selesai. Hakekatnya, terhadap setiap karya yang dihasilkan, selalu ada peluang untuk perbaikan, penyempurnaan, atau pembaharuan berikutnya.

Kelima, Memegang Fleksibilitas Kreatif
Fleksibilitas kreatif diwujudkan ke dalam bentuk kesediaan untuk mempertimbangkan beragam pendekatan terhadap suatu masalah. Sebagian besar merupakan masalah sikap. Mentalitas yang menghambat biasanya datang dari diri sendiri. Bentuknya mungkin sifat alamiah manusia yang enggan berubah. Dengan berubah, mungkin rasa aman bakal hilang. Zona nyaman (comfort zone) yang telah dinikmati dikhawatirkan bisa terkoyak. Tak ada keberanian untuk berubah, mungkin karena alasan takut salah, dan sebagainya.

Daripada dihantui keengganan berubah dengan bersikeras berpegang pada suatu cara atau gagasan tertentu, orang yang fleksibel  mulai dengan prinsip bahwa apabila satu pemecahan tidak bekerja, dia selalu mendekati masalah tersebut dari sudut lain. Hal ini oleh Joseph G. Mason disebut sebagai “harapan kreatif” Maksudnya, orang kreatif selalu berharap bisa memecahkan masalah betapa pun banyak kegagalan yang dialami yang menunda pemecahannya untuk sementara waktu.

Demikianlah, industri kreatif Indonesia sangat membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif. Usaha menumbuhkembangkannya merupakan proses yang berlangsung secara berkesinambungan. Semoga di negeri ini kian banyak insan-insan kreatif yang berkarya demi kemajuan bersama. 

Sumber http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/empat-sifat-utama-manusia-kreatif.html
Selengkapnya: Empat Sifat Utama Manusia Kreatif

Untaian Kata Penggugah Semangat Menulis

I Ketut Suweca

Sahabat kompasianer, apa kabar? Semoga sehat dan tetap bergairah menuangkan ide-ide melalui artikel di media kompasiana tercinta. Jika sekiranya diantara sahabat perlu penyemangat menulis karena merasa mentok, macet, atau malas, simak dan resapilah untaian penggugah yang saya petik dari berbagai sumber, berikut ini.
***
 
“Kuatkan alasan yang menggerakkan hasrat untuk segera menulis. Dengan motivasi yang kuat, niat kita tak akan berkubang menjadi rencana belaka. Kita harus membentuk spirit yang mantap dan beraksi konkret jika ingin segera melahirkan karya.” (Alberthine Endah)
***
 
”Menulis bukan lagi sebuah kerja elite, sulit, mahal, dan artifisial sebagaimana mulanya. Menulis kini adalah sebuah kerja ‘alamiah’, seperti kita minum, tidur, beranak, bersenandung, atau mencoret-coret gambar. Ia adalah satu kebutuhan dasar. Ia adalah ukuran adab dan kebudayaan. Dan, manusia terisap di dalamnya. Manusia harus bisa menulis, bahkan menjadi penulis.” (Radhar Panca Dahana)
***
 
“Aku memaksakan diriku untuk mulai menulis di saat aku sudah sangat lelah, ketika aku merasa jiwaku setipis kartu remi, ketika tidak ada sesuatu pun yang tampaknya pantas untuk dilakukan untuk lima menit berikutnya. Dan… kegiatan menulis itu ternyata dapat mengubah segalanya.” (Joyce Carol Oats)
***
 
“To be a writer, you must be curious about everything around you, feel more deeply and have more understanding of things than other people.” (Lin Yutang)
***
 
“Orang yang berbakat gagal melihat masalah sebagai hambatan. Sedangkan orang sukses melihat masalah sebagai tantangan yang membuat hidup lebih bergairah. Demikian pula dalam menulis.” (Mohammad Fauzil Adhim).
***
 
“Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” ( Pramoedya Ananta Toer).
***
 
“Membaca, membaca, membaca, jangan lupa membaca. Hidupkan, hidupkan, jangan lupa … menulislah, menulis, dan menulis …” (George Simenon).
***
 
Dalam bingkai semangat berbagi, untaian penggugah semangat ini saya hadirkan untuk para sahabat yang menyukai dunia tulis-menulis. Tiada lain maksudnya, agar gairah kita berkarya yang mungkin sempat redup, bersinar kembali. 
 
Selengkapnya: Untaian Kata Penggugah Semangat Menulis

Menjadikan Blog sebagai Wahana Berlatih Menulis

Oleh I Ketut Suweca

Blog merupakan jenis website atau situs yang banyak dikenal belakangan ini. Blog banyak diminati masyarakat sebagai tempatmenyalurkan pemikiran, karena dapat diperoleh secara gratis. Beberapa situs menyediakan layanan blog gratis ini, diantaranya  Blogger dan Wordpress. Kalau mau berlatih menulis lewat blog, maka pertama-tama kita harus memiliki sebuah blog dulu di internet.Caranya cukup sederhana. Kalau tidak mengetahui cara membuat blog, hanya diperlukan seorang teman yang tahu hal ini untuk diminta bantuan membuatkan. Atau, boleh dicari melalui search engine Google dengan mengetik, misalnya: cara membuat blog. Ikuti prosesnya sesuai petunjuk yang dicantumkan di dalam situs yang memuat tata cara membuat blog itu. Kita juga bisa mendapatkan cara membuat blog dari buku-buku panduan yang dijual di toko-toko buku. Nah, kalau sudah mempunyai blog, maka tinggal kita memposting artikel ke dalamnya secara berkala.

Mulai Berlatih Menulis
Setelah mempunyai blog, lalu apa yang kemudian dilakukan? Tiada lain selain mengisinya dengan tulisan/artikel. Untuk menjadi mahir dalam dunia tulis-menulis, maka berlatih menulis itu sangat penting. Sama dengan orang yang ingin pintar berenang, ia mesti berlatih berenang dengan terjun langsung ke air. Tidak bisa hanya dengan membaca buku bagaimana berenang dengan baik saja seseorang akan langsung bisa mahir berenang. Proses pembelajaran harus dilalui untuk menjadi mahir berenang. Demikian pula dalam hal menulis. Seorang calon penulis atau penulis pemula membutuhkan latihan yang terus-menerus untuk mendapatkan ketrampilan atau keahlian menulis. Ala bisa karena biasa, bukan?

Banyak orang menganjurkan untuk menggunakan buku harian sebagai sarana awal berlatih menulis. Tidaklah salah kalau orang memilih buku harian dalam menuliskan unek-uneknya. Menulis di buku harian, acapkali menyangkut hal-hal yang pribadi yang tidak perlu diketahui publik. Kerahasiaan dan aspek privasinya lebih terjaga. Tulisan di dalam buku harian menjadi semata-mata sebagai dokumen pribadi. Sama sekali tidak untuk dipublikasikan. Berbeda dengan buku harian, blog memiliki banyak kelebihan. 

Manfaat Berlatih Menulis di Blog
Dengan blog, tulisan pasti dimuat. Tidak ada pihak lain yang menentukan sebuah naskah layak dimuat di blog atau tidak. Semuanya ditentukan oleh pemilik blog yang juga sebagai penulis naskah yang hendak di-posting. Kalau di koran/majalah ada Redaksi yang bakal menyeleksi naskah kita, apakah dipandang layak muat ataukah tidak. Sebaik atau sejelek apapun naskah tersebut, tetap ia dapat dipostingke dalam blog sendiri sebagai konten.
 
Melalui blog, penulis blog dapat berbagi. Ilmu kalau tak digunakan bakal hilang dan percuma. Tapi, ilmu kalau diamalkan akan menjadi sangat berguna. Berguna bagi diri sendiri dan berguna pula bagi orang lain.Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk berbagi pengetahuan atau ilmu. Bukankah berbagi ilmu merupakan salah satu bentuk amal yang luhur? Melalui blog itulah kita bisa membagikan pemikiran kepada orang lain.
 
Blog juga dapat dimafaatkan sebagai arena atau wadah menyimpan tulisan (dokumentasi). Blog dapat berfungsi sebagai documentary bagi seseorang. Naskah yang disimpan di komputer atau di flashdisk, acapkali hilang karena dimakan virus. Nah, kalau kita‘menyimpan’ naskah di blog, di samping dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh pembaca lain, juga terdokumentasi dengan aman tanpa takut terkena virus.
 
Melalui tulisan-tulisan di blog, secara tidak langsung kitamemperkenalkan diri kepada dunia. Kalau pengunjung blog bertambah banyak, maka kita akan semakin dikenal. Kunjungan ke blog banyak tergantung pada isi blog kita. Kalau isi blog itu berkualitas sehingga diperlukan oleh pembaca, maka akan semakin banyak pembaca yang membuka blog kita. Sebaliknya, kalau kita mengisi blog sekadarnya saja, seperti sekedar copy-paste dari konten blog lain, maka tak pelak lagi, blog kitatidak akan pernah berkembang dengan baik. Pembaca akan meninggalkan blog semacam itu.
 
Jangan lupa, blog juga bisa dimanfaatkan untuk mencari duit. Istilah populernya adalah bisnis online. Beberapa tahun terakhir banyak sekali situs atau blog yang dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk monetisasi atau meraup duit. Ada banyak jurus untuk mendapatkan income dari blog tersebut. Ambilah contoh, dengan memasang iklan di blog bekerjasama dengan KumpulBloger atau Adsense. Ada banyak orang menjadi kaya dengan monetisasi blog. Tapi, satu hal yang menjadi kunci keberhasilan sebuah blog adalah postingan-nya harus yang berkualitas dan kontinyu. Tulisan-tulisan yang bagus akan mampu menarik pengunjung. Dari sekian banyak pengunjung itu tentu ada diantaranya yang meng-klik iklan yang kita letakkan di blog. Setiap klik terhadap iklan tersebut, kita akan mendapatkan duit dari pemasang iklan.Istilahnya : pay per click (ppc).
 

Apa yang kita posting ke blog menunjukkan kesungguhan dan jati diri kita. Dan, blog itu tak sekali atau dua kali diisi dengan naskah, kemudian selesai. Dituntut kontinyuitas untuk merawat dan menyempurnakannya secara berkesinambungan sehingga semakin lama semakin dikenal sebagai blog yang memiliki kualitas. Penulis (saya) sendiri memiliki sebuah blog sederhana beralamat di http//www.economist-suweca.blogspot.com. Blog itu saya maksudkan sebagai wahana untuk berbagi dengan pengunjung sekaligus sebagai tempat mendokumentasikan sejumlah naskah yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya. Sebagai contoh, naskah yang sudah pernah dimuat di Bali Express saya posting di blog untuk tujuan berbagi dan dokumentasi.
 
Berlatihlah menulis dengan sungguh-sungguh. Posting (masukkan) tulisan itu ke blog yang sudah dibangun. Usahakan memasukkan tulisan terbaik yang bisa dibuat. Postinglah naskah-naskah itu secara periodik, misalnya seminggu dua kali, dua hari sekali, bahkan setiap hari. Jadi, di samping untuk berbagai pengetahuan, mengangkat popularitas, arena menyimpan tulisan, mendapatkan duit, maka lambat laun kemampuan menulis kita pun semakin terasah.
 
Sudah tak terhitung jumlah orang yang memiliki kemampuan menulis dengan mengasahnya melalui media blog. Maka, jangan ditunda lagi, marisering-sering berlatih menulis di blog. Setelah merasa mantap, lanjutkan dengan memasuki mainstream: menulis untuk media massa, seperti koran atau majalah. 

Sumber http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/menjadikan-blog-sebagai-wahana-berlatih.html
Selengkapnya: Menjadikan Blog sebagai Wahana Berlatih Menulis

Kalau Ingin Jadi Penulis, Menulislah!

Oleh I Ketut Suweca

Mari kita tengok seorang balita yang sedang belajar berjalan. Ia tak langsung bisa berjalan seperti orang dewasa, bukan? Dia mungkin akan mulai dari belajar merangkak. Dia mencoba menyeimbangkan kedua kakinya saat bergerak. Setelah bisa merangkak, sedikit demi sedikit ia mencoba berdiri. Setiap kali mencoba berdiri, ia jatuh. Pantatnya berkali-kali terhempas ke lantai. Tapi, ia bangun lagi setiap kali terjatuh. Usaha yang berulangkali dari hari ke hari membuatnya bisa berdiri pada akhirnya. Tak puas hanya sekedar berdiri. Kali ini tiba saatnya mulai belajar melangkah. Dia pun mencoba melangkahkan kakinya satu satu. Pelan-pelan sekali. Badannya oleng dan ia pun jatuh. Begitu terus-menerus terjadi sampai akhirnya balita tadi benar-benar mampu melangkah dengan cukup sempurna. Senyum manis dan tawa kecil melengkapi kemenangannya!
 
Ketika menginjak sekolah dasar, mari kita lihat lagi anak ini belajar naik sepeda gayung. Mula-mula ia belajar menuntun sepedanya di gang kecil di depan rumah. Setelah itu, dia mencoba menaiki sepeda itu dan menggayungnya, dan belum berhasil. Dia jatuh berkali-kali. Beberapa kali lutut dan sikunya lecet lantaran berbenturan dengan permukaan beton di gang tempatnya berlatih. Latihan itu dilakukannya berulang-ulang tanpa putuas asa. Dan, apa hasilnya? Akhirnya ia berteriak gembira: “Aku bisa. Pa, Ma, aku bisa naik sepeda!”
 
Setelah si anak beranjak remaja, mari kita lihat bagaimana ia yang belajar berenang. Ia tidak belajar berenang dari buku-buku tentang teknik berenang. Dia langsung saja terjun ke air kolam yang cukup dangkal. Lalu, ia pun mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Berkali-kali dicoba, tapi belum berhasil. Tanpa pernah bosan, ia berlatih terus-menerus. Dan, akhirnya, suatu hari kemudian, remaja kita ini bisa berenang! “Horee, saya berhasil,” teriaknya yang didengar teman-teman seusianya. Ia tersenyum, manis sekali.
 
Apa kaitan cerita itu dengan aktivitas menulis? Jika ingin menjadi penulis, maka kita pantas belajar dari anak tersebut. Bagaimana ia belajar berjalan ketika masih balita, lalu belajar bersepeda ketika kanak-kanak, dan belajar berenang tatkala remaja. Hikmah yang dapat kita petik: perlunya latihan dan latihan. Kalau orang ingin menjadi penulis andal, tentu diperlukan kesediaan berlatih menulis secara terus-menerus. Tak bisa lain. Membaca buku-buku teknik menulis, walaupun perlu, tapi bakal tak banyak gunanya kalau kita tak kunjung menggoreskan tinta pena di atas kertas atau kalau kita tak mau membuat jemari kita ‘menari’ di atas tuts komputer.
 
Menulis adalah pekerjaan melakukan, pekerjaan ‘action’. Jadi, tulis saja yang ingin ditulis. Apa itu dimaksudkan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di selembar kertas kecil, mengisi buku harian, mengisi blog, atau membuat artikel. Cita-cita menjadi penulis tak akan pernah tercapai kalau kita tak pernah menghasilkan tulisan. Mimpi menjadi penulis saja tak cukup. Yang lebih penting: berani mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Untuk ini, tiada pilihan lain selain menulis dan menulis tanpa pernah berhenti. Kalau hasilnya belum sempurna, tak mengapa. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Teruslah menulis dan menulislah terus.
 
Bagaimana pendapat Anda? Salam.
 
Selengkapnya: Kalau Ingin Jadi Penulis, Menulislah!

Berawal dari Blog, Berakhir Jadi Buku

Ada gejala yang cukup menarik belakangan ini dalam hubungan antara blog dan buku. Sejak dulu hingga kini orang menulis buku memang dengan sengaja untuk dijadikan sebuah buku. Artinya, orang mempersiapkan dan membuat tulisan untuk diwujudkan menjadi buku. Di samping itu, ada juga buku yang merupakan ‘bunga rampai’ dari tulisan-tulisan lepas. Tulisan-tulisan lepas itu berasal dari seorang penulis, bisa pula dari beberapa penulis. Sejumlah tulisan itu dikumpulkan, dirangkai sedemikian rupa, lalu diterbitkan ke dalam bentuk buku. Sedikit-banyak tema tulisan-tulisan itu ada keterkaitannya satu dengan lainnya.

Kini, isi blog-lah yang dimanfaatkan menjadi buku. Tulisan-tulisan yang diposting dan terdokumentasi dalam sebuah blog dipinang penerbit untuk dicetak menjadi sebuah buku. Inilah yang mulai terjadi beberapa tahun terakhir. Sebuah perkembangan yang cukup menarik dan menjanjikan bagi para blogger.
Beberapa contoh konten blog yang jadi buku, diantaranya buku ‘Jalan-Jalan Bali’, yang pada awalnya merupakan isi sebuah blog yang dimiliki seorang blogger Bali. Buku itu menjadi laris manis, karena berisi informasi yang berguna bagi mereka yang hendak melakukan tour ke Pulau Dewata. Lalu, ada pula buku yang diambil dari blog yang juga laris manis bak kacang goreng. Judulnya : Kambing Jantan: Sebuah catatan Harian Pelajar Bodoh. Raditya Dika adalah penulisnya. Pada awalnya ia tak terpikir blognya bakal jadi buku. Ia hanya mengisi blognya dengan tulisan-tulisan ringan. Eh, ternyata ada penerbit yang kepincut dengan konten blognya dan menjadikannya sebuah buku dan ternyata kemudian menjadi laris.
Dan, ada lagi Andrias Harefa. Bukunya yang berjudul Happy Writing bersumber dari blog/webnya yang terkenal itu. Ada pula sedikit tulisan yang diambil dari facebook saat dia meminta pertimbangan pembaca dalam memilih judul yang paling pas bagi buku tersebut. Judul Happy Writing merupakan pilihan para pembaca facebooknya diantara tiga alternatif judul yang ditawarkannya. Ternyata, hampir seluruh pembaca memilih Happy Writing sebagai judul buku yang paling menarik. Ya, akhirnya dipakailah judul tersebut. Di samping memuat pemikiran-pemikiran Andrias seputar dunia tulis-menulis, komentar para pengunjung web-nya pun dimuat sehingga sebuah ide menjadi lengkap dan amat menarik dibaca. Agaknya buku itu bakal laris juga sebagaimana banyak buku Andrias sebelumnya yang best seller. Sekedar diketahui, penulis produktif ini telah menghasilkan 38 judul buku!

Belajar dari hal di atas, maka suatu saat Anda yang punya blog bukan tidak mungkin bakal dilirik penerbit. Tentu saja sepanjang isi blog tersebut menarik minat penerbit. Pertimbangan penerbit, antara lain, apakah informasi yang dikandung dalam blog itu berguna bagi kalangan pembaca dan apakah kalau diterbitkan bakal laku di pasaran? Oleh karena itu, sebagai blogger amatir maupun profesional, mungkin Anda lebih memilih untuk mengisi blog Anda dengan informasi dan pengetahuan yang berguna bagi pembaca/pengunjung blog Anda. Begitu dilakukan secara berlanjut dan konsisten. Siapa tahu, tulisan-tulisan Anda pun kelak dipinang penerbit. Atau, kalau tidak, toh Anda sudah berbagi dengan para pembaca. Berbagi pengetahuan dan informasi, tanpa pamrih, sama saja dengan berbuat amal, bukan?
Nah, selamat ngeblog. Bagaimana pendapat Anda, para pembaca? 

Sumber http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/berawal-dari-blog-berakhir-jadi-buku.html
Selengkapnya: Berawal dari Blog, Berakhir Jadi Buku

Teruslah Menulis, Menulislah Terus

Oleh I Ketut Suweca

Mari kita tengok seorang balita yang sedang belajar berjalan. Ia tak langsung bisa berjalan seperti orang dewasa, bukan? Dia mungkin akan mulai dari belajar merangkak. Dia mencoba menyeimbangkan kedua kakinya saat bergerak. Setelah bisa merangkak, sedikit demi sedikit ia mencoba berdiri. Setiap kali mencoba berdiri, ia jatuh. Pantatnya berkali-kali terhempas ke lantai. Tapi, ia bangun lagi setiap kali terjatuh. Usaha yang berulangkali dari hari ke hari membuatnya bisa berdiri pada akhirnya. Tak puas hanya sekedar berdiri. Kali ini tiba saatnya mulai belajar melangkah. Dia pun mencoba melangkahkan kakinya satu satu. Pelan-pelan sekali. Badannya oleng dan ia pun jatuh. Begitu terus-menerus terjadi sampai akhirnya balita tadi benar-benar mampu melangkah dengan cukup sempurna. Senyum manis dan tawa kecil melengkapi kemenangannya!
 
Ketika menginjak sekolah dasar, mari kita lihat lagi anak ini belajar naik sepeda gayung. Mula-mula ia belajar menuntun sepedanya di gang kecil di depan rumah. Setelah itu, dia mencoba menaiki sepeda itu dan menggayungnya, dan belum berhasil. Dia jatuh berkali-kali. Beberapa kali lutut dan sikunya lecet lantaran berbenturan dengan permukaan beton di gang tempatnya berlatih. Latihan itu dilakukannya berulang-ulang tanpa putuas asa. Dan, apa hasilnya? Akhirnya ia berteriak gembira: “Aku bisa. Pa, Ma, aku bisa naik sepeda!”
 
Setelah si anak beranjak remaja, mari kita lihat bagaimana ia yang belajar berenang. Ia tidak belajar berenang dari buku-buku tentang teknik berenang. Dia langsung saja terjun ke air kolam yang cukup dangkal. Lalu, ia pun mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Berkali-kali dicoba, tapi belum berhasil. Tanpa pernah bosan, ia berlatih terus-menerus. Dan, akhirnya, suatu hari kemudian, remaja kita ini bisa berenang! “Horee, saya berhasil,” teriaknya yang didengar teman-teman seusianya. Ia tersenyum, manis sekali.
 
Apa kaitan cerita itu dengan aktivitas menulis? Jika ingin menjadi penulis, maka kita pantas belajar dari anak tersebut. Bagaimana ia belajar berjalan ketika masih balita, lalu belajar bersepeda ketika kanak-kanak, dan belajar berenang tatkala remaja. Hikmah yang dapat kita petik: perlunya latihan dan latihan. Kalau orang ingin menjadi penulis andal, tentu diperlukan kesediaan berlatih menulis secara terus-menerus. Tak bisa lain. Membaca buku-buku teknik menulis, walaupun perlu, tapi bakal tak banyak gunanya kalau kita tak kunjung menggoreskan tinta pena di atas kertas atau kalau kita tak mau membuat jemari kita ‘menari’ di atas tuts komputer.
 
Penulis 38 judul buku yang sebagaian besar best seller, Andrias Harefa, memiliki anjuran yang bagus. “Untuk menjadi penulis, yang diperlukan hanyalah kemauan. Anda bisa melakukannya saat ini juga. Ya, sekarang juga,” katanya. “Untuk menjadi penulis Anda hanya perlu melahirkan karya tulis. Jika hari ini tulisan Anda muncul di blog atau di milis atau di media manapun yang bisa dinikmati orang, maka dalam arti yang sederhana, Anda sudah jadi penulis. Jadi, apalagi yang Anda tunggu? Menulislah”, anjur pria pendiri Komunitas Writer Schoolen ini.
 
Menulis adalah pekerjaan melakukan, pekerjaan ‘action’. Jadi, tulis saja yang ingin ditulis. Apa itu dimaksudkan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di selembar kertas kecil, mengisi buku harian, mengisi blog, atau membuat artikel. Cita-cita menjadi penulis tak akan pernah tercapai kalau kita tak pernah menghasilkan tulisan. Mimpi menjadi penulis saja tak cukup. Yang lebih penting: berani mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Untuk ini, tiada pilihan lain selain menulis dan menulis tanpa pernah berhenti. Kalau hasilnya belum sempurna, tak mengapa. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Teruslah menulis dan menulislah terus.
 
Bagaimana pendapat Anda, para pembaca? 

Sumber http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/teruslah-menulis-menulislah-terus.html
Selengkapnya: Teruslah Menulis, Menulislah Terus

Perpustakaan Pribadi dan Hasrat Membaca

Oleh I Ketut Suweca

Memiliki perpustakaan pribadi di rumah adalah suatu kebutuhan di era modern sekaligus sebagai prestise. Bagi pandangan kebanyakan orang, perpustakaan di rumah mencirikan tingkat intelektualitas seseorang. Kalau orang memiliki perpustakaan di rumahnya, maka pada umumnya dapat diyakini bahwa si pemilik rumah adalah seorang intelektual, pencinta ilmu pengetahuan, atau seorang pembelajar yang dipastikan gemar membaca.

Perpustakaaan pribadi di rumah memang dapat merupakan simbol intelektualitas seseorang. Anda bisa membayangkan, bagaimana mungkin seseorang disebut intelektual atau pembelajar, kalau ia tidak punya cukup buku dan tidak suka membaca. Bagi seorang pembelajar, buku adalah sahabat karibnya. Oleh karena demikian, agar kesukaan akan buku itu terkondisi dengan baik, maka seyogianya dibangun perpustakaan pribadi di rumah. Bukan sekedar agar dipandang intelek atau mendapatkan predikat pembelajar, melainkan untuk menyiapkan ‘gudang ilmu’ dengan segala kelengkapannya, sehingga si pemilik bisa dengan mudah menyalurkan kebutuhan dan minat membacanya dalam kehidupan privat di rumah sendiri.

Siapkan Sarana

Paling tidak ada empat sarana utama yang perlu dipersiapkan tatkala hendak membangun perpustakaan pribadi di rumah. Pertama, perlu disiapkan sebuah ruang dengan luasan tertentu yang memadai untuk maksud ini. Boleh di ruangan khusus untuk perpustakaan, boleh di ruang tamu, atau di kamar tidur. Sesuaikan dengan ruang yang ada dan kondisi rumah Anda. Diantara pilihan itu, membuat ruangan khusus perpustakaan adalah yang terbaik. Kalau tidak ada ruang khusus, cukuplah dimanfaatkan space yang ada ruang tamu atau kamar tidur.
 
Kedua, siapkanlah rak yang relatif besar untuk meletakkan buku-buku Anda. Rak itu bisa terbuat dari kayu atau dari rangka besi, atau bahan lainnya, terserah Anda. Yang penting rak tersebut cukup kuat untuk menyangga buku-buku Anda ketika jumlahnya kian banyak dan rak itu terisi penuh dan enak dipandang mata. Upayakan rak tersebut tertutup dengan kaca tembus pandang. Ini penting untuk menjaga menghindari buku dari kotoran dan debu. Buku-buku yang tersimpan dengan baik akan lebih awet dan tak cepat kusam dan kotor. Kaca yang transparan dibutuhkan agar tatkala mencari buku, Anda dapat dengan mudah melihatnya tanpa harus membuka kaca. Ukuran rak buku pun hendaklah disesuaikan dengan luasan ruangan.
 

Perhatikan pula di sisi mana dari ruangan itu yang Anda manfaatkan untuk meletakkan rak buku. Upayakan agar posisinya strategis, tidak mengganggu tatkala Anda dan anggota keluarga lalu-lalang, dan mudah dijangkau. Ketinggian rak juga mesti diperhitungkan. Sebaiknya tinggi rak tak lebih dari setinggi jangkauan tangan Anda. Ini dimaksudkan, tatkala mengambil buku pada bagian rak yang paling atas, Anda masih bisa menjangkaunya hanya dengan menjulurkan tangan ke atas tanpa menggunakan tumpuan kursi atau sejenisnya.
 
Ketiga, siapkan buku-buku yang menjadi ‘kekayaan’ Anda itu. Untuk membeli buku-buku dimaksud, tentu Anda harus siap mengeluarkan dana yang lumayan banyak karena harga buku belakangan ini terbilang mahal. Tapi, pastinya buku-buku itu tak mesti dibeli sekaligus. Sisihkan saja sebagian kecil dari penghasilan Anda untuk membeli buku setiap bulannya. Jika memungkinkan, usahakan setiap bulan Anda menambahkan 2-3 buku ke dalam rak buku Anda. Kalau ada cukup uang, lebih banyak buku yang Anda koleksi setiap bulannya tentu lebih baik.
 
Keempat, siapkan sebuah meja baca dan kursi serta lampu yang cukup terang tempat Anda nantinya akan bersantai sambil menikmati bacaan dari gudang ilmu alias perpustakaan pribadi Anda. Di samping penerangan/pencahayaan sirkulasi udara di ruang baca ini hendaknya diperhatikan. Suasana yang nyaman akan membantu Anda membangkitkan mood atau hasrat membaca.
 
Sekedar sebagai ilustrasi, rekan senior saya, Widminarko, meletakkan rak bukunya yang berwarna cokelat tua menempel di salah satu sisi tembok ruangan khusus. Dia memposisi rak itu sedemikian rupa sehingga enak dipandang dan tidak terlalu banyak memakan ruangan. Buku-buku, majalah, dan referensi lain miliknya terlindungi dengan baik karena tertutup kaca yang tembus pandang. Setiap kotak dalam rak itu diletakkan buku-buku yang sejenis dan disertai label jenis buku dimaksud. Tepat di depan rak yang sarat buku itu, ia meletakkan kursi empuk untuk menikmati bacaan yang beragam itu sambil santai. Lampu yang menggantung di langit-langit ruangan bersinar putih bersih menerangi ruangan perpustakaan yang cukup luas itu.
 
Ketika ditanya, apa resep keberhasilannya di dunia kewartawanan, ia bilang, “ Seorang wartawan dan penulis yang baik haruslah tidak pernah berhenti belajar. Ia mesti selalu rajin membaca, mendengar, menonton/melihat, dan mencatat. Kalau orang lain menghadiri rapat atau seminar banyak yang hanya duduk mendengar, saya justru mendengar sambil mencatat dengan seksama. Catatan itu akan membantu dalam mengingat sesuatu di kemudian hari.”
 
“Perpustakaan ini saya buat untuk menunjang aktivitas menulis saya. Saya butuh buku-buku dan sumber bacaan lain untuk menulis. Sebagian besar sudah tersedia di perpustakaan ini,” ujarnya ketika berbincang-bincang dengan penulis di rumahnya yang asri di bilangan utara kota Denpasar belum lama ini.

Sisihkan Waktu

Membangun perpustakaan pribadi adalah sebuah langkah awal yang bagus. Tapi, semua itu belumlah cukup kalau tidak dibarengi dengan kesediaan meluangkan waktu untuk membaca, menggali ilmu pengetahuan dari perpustakaan yang Anda buat. Sisihkan waktu, paling tidak satu atau dua jam setiap hari untuk membaca. Dan, kita tentu sepakat bahwa membaca itu banyak manfaatnya.
 
Yang paling utama, dengan membaca orang pasti bakal bertambah wawasan pengetahuannya. Semakin rajin dan suntuk orang menggali pengetahuan semakin bertambah pula wawasannya sehingga ia bakal menjadi orang yang berwawasan luas. Di samping itu, membaca juga dapat meningkatkan kecerdasan. Seorang atlet binaraga akan kian bagus bentuk otot-otot pada tubuhnya apabila berlatih secara teratur dan benar. 

Demikian pula, dengan membaca maka kecerdasan pun dapat dipastikan akan meningkat karena Anda telah melatih ‘otot-otot’ otak secara berkelanjutan.
 
Nah, selamat membangun perpustakaan dan selamat membaca. 

Sumber http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/perpustakaan-pribadi-dan-hasrat-membaca.html
Selengkapnya: Perpustakaan Pribadi dan Hasrat Membaca

Apa Gunanya Menulis?

Seorang sahabat kompasianer, Maya, berkomentar bahwa mengarang itu ‘olah raga sepuluh jari’. Olah raga sepuluh jari? Ya. Mungkin maksudnya bahwa menulis itu lebih kepada pekerjaan tangan (mengetik dengan sepuluh jari), bukan melulu pekerjaan pikiran. Lebih kepada keterampilan, bukan semata-mata kemampuan intelektual. Keterampilan menulis bisa diperoleh dengan lebih sering berlatih, ya, dengan olah raga sepuluh jari tadi. Saya sepakat dengan Maya.

Berangkat dari komentar sahabat itu, muncul pertanyaan, apa sebetulnya gunanya menulis/mengarang itu? Dengan mengetahui kegunaan/manfaat menulis/mengarang, bisa jadi akan membuat kita kian tertarik dengan aktivitas yang satu ini. Maka, dapat diharapkan kian banyak yang berkiprah dan menekuni pekerjaan menuangkan ide melalui bahasa tulis. Inilah sebagian dari jawaban tentang kegunaan menulis.

Pertama, menulis itu menyehatkan. Dengan menulis seseorang bisa mengekspresikan segala pemikiran, unek-unek, atau ide-idenya ke atas kertas atau ke komputer. Pemikiran atau perasaan yang tadinya berkelindan di dalam hati, dapat dilepaskan ke luar melalui sebuah karya tulis. Kalau, misalnya, unek-unek itu dipendam, mungkin bisa menjadi penyakit. Mengeluarkan unek-unek yang berkecamuk di dalam hati untuk mengurangi beban yang ditanggung menjadi penting dan perlu. Banyak orang stress karena memendam emosi, apakah itu rasa marah, kecewa, sedih, benci, dan sebagainya. Dengan menuliskannya, berarti membuangnya ke luar, sehingga kita menjadi bebas dan lebih sehat secara rohani. Kalau tulisan itu tidak ingin diketahui orang lain, maka dibuang atau dibakar saja setelah selesai ditulis lengkap. Pada saat membuang atau membakarnya, anggap diri kita tengah membuang berbagai penyakit dan kepenatan hati dan pikiran.
 
Kedua, menulis itu membagikan. Ya, melalui kegiatan tulis-menulis dan mempublikasikannya, baik melalui internet, seperti di blog sendiri, di website kompasiana.com atau lainnya, kita sudah membagikan ide-ide yang berguna bagi orang lain. Gagagasan yang kita pilih untuk di-upload tentu saja yang diperkirakan akan bermanfaat bagi orang lain atau pembaca. Pengalaman, pengetahuan, dan ilmu yang kita miliki kita sharing kepada pembaca. Ini artinya juga kita beramal kepada sesama. Demikian pula sebaliknya, sahabat lain pun bakal berbagi pengetahuan dan pengalamannya. Jadi, saling take and give. Indah sekali kalau kita bisa saling berbagi, bukan? Berbagi adalah salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Tuhan.
 
Ketiga, menulis itu mencerdaskan. Bayangkan saja, setiap kali menulis, kita membutuhkan ide atau gagasan untuk dibagikan. Mau tak mau, kita mesti belajar, bukan? Di samping diambil dari pengalaman sendiri, ide-ide itu bisa bersumber dari berbagai bacaan yang pernah kita baca sebelumnya. Akumulasi hasil pembacaan yang dipadukan dengan pengalaman itu kemudian kita tuangkan ke dalam tulisan. Jadi, dengan menulis dengan sendirinya kita dituntut untuk senantiasa mengisi pengetahuan dari berbagai sumber secara berkesinambungan. Untuk itu, kita juga mesti rajin membaca buku, majalah, koran, berselancar di internet, mendengarkan siaran berita televisi dan radio, serta mendengarkan CD yang berguna. Bukankah dengan menambah pengetahuan secara kontinu adalah juga sebuah usaha mencerdaskan diri? Belum lagi kalau kita kaitkan kemampuan berpikir analitis, sistematis, dan kritis yang diperoleh dari aktivitas tulis-menulis. Ini, lagi-lagi, mencerdaskan.
 
Keempat, menulis itu mewariskan. Kalau kita berhasil menerbitkan buku, tidak hanya kita yang membacanya, bahkan juga banyak orang. Bukan hanya dibaca oleh generasi masa kini, bahkan mungkin akan dibaca oleh generasi sesudah kita. Pemikiran-pemikiran yang berguna dan berharga pada akhirnya menjadi klasik dan diteruskan secara turun-temurun melalui buku atau karya tulis lainnya. Kalau kita menulis buku berarti kita telah terlibat dalam karya besar: mewariskan sesuatu yang berharga bagi generasi penerus. Sebuah kebanggaan dan prestasi, tentu saja.
 
Kelima, menulis itu menguatkan. Menguatkan apa? Menguatkan rasa percaya diri! Mungkin saja salah seorang diantara kita merasa kurang memiliki rasa percaya diri, sehingga lebih memilih untuk berdiam diri, tidak bersuara, memilih menjadi orang nomor kesekian, dan selalu merasa tidak mampu mengerjakan sesuatu. Kalau kita kemudian berhasil mengekspresikan ide-ide melalui artikel di media cetak seperti koran atau majalah, hal ini niscaya akan membangkitkan rasa percaya diri. “Oh ternyata saya bisa, terbukti tulisan saya dimuat di koran,” begitu mungkin ungkapan hati ketika untuk pertama kalinya artikel kita berhasil menembus koran. Kepercayaan diri akan muncul secara perlahan-lahan bersamaan dengan peningkatan kuantitas dan kualitas tulisan yang kita buat dan berhasil menembus media massa. Pada akhirnya, kita dengan gagah berani bilang bahwa “dunia tulis-menulis adalah bidang tempat saya menunjukkan jati diri dan kemampuan diri.”
 
Keenam, menulis itu mengisi waktu luang. “Menulis itu mengisi waktu luang secara positif,” ujar Gunawan, sahabat saya di dunia online. “Daripada bengong atau browsing di internet nggak karuan, lebih baik menulis. Waktu itu sangat berguna. Yang tidak bisa memanfaatkan waktu tentulah tergolong orang yang merugi,” tambahnya. Sahabat saya itu benar, menulis adalah salah satu alternatif kegiatan positif yang sekaligus untuk mengisi waktu luang.
 
Ketujuh, menulis itu menghasilkan uang. Benar, ketika artikel kita berhasil dimuat di media massa cetak, kita berhak atas honorarium tulisan itu. Honorarium itu, boleh jadi akan semakin menyemangati kita untuk menulis dan menulis lagi serta mengirimkannya ke berbagai media yang ada. Semakin banyak artikel yang berhasil menembus media massa, semakin banyak uang yang bisa kita raup. Tentu menyenangkan kalau kita mendapatkan tambahan penghasilan setiap bulan dari usaha menulis.
 
Nah, bagaimana pendapat Anda? Menulis itu …… (apa lagi ya?)

Selengkapnya: Apa Gunanya Menulis?

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas