Showing posts with label penyair. Show all posts
Showing posts with label penyair. Show all posts

Rainer Maria Rilke: Surat untuk Penyair Muda

Wednesday, 25 March 2015

Rainer Maria Rilke. Sumber wikipedia.
Rainer Maria Rilke: Surat untuk Penyair Muda

(Diterjemahkan oleh: Sutardji Calzoum Bachri dari Letters To A Young Poet karya penyair Jerman, Rainer Maria Rilke)

Kau tanyakan apakah sajak-sajakmu bagus. Kau tanyakan padaku. Sebelumnya kau pun telah bertanya pada yang lain. Kau kirim sajak-sajakmu itu ke berbagai majalah. Kau banding-bandingkan dengan sajak-sajak yang lain. Dan kau pun jadi terganggu ketika ada redaktur yang menolak upayamu itu. Kini, (karena kau izinkan aku menasehati kau), aku minta kau jangan lagi melakukan semua ikhtiar semacam itu. Kau melihat ke luar, dan dari segala-galanya itulah yang kini harus tidak boleh kau lakukan.

Tidak ada orang yang bisa menasehati dan menolongmu, tak seorang pun. Hanya satu-satunya cara yang ada: Pergilah masuk ke dalam dirimu. Temukan sebab atau alasan yang mendorongmu menulis: Perhatikan apakah alasan itu menumbuhkan akar yang di dalam ceruk-ceruk hatimu. Bikinlah pengakuan pada dirimu sendiri, apa kau harus mati jika sekiranya kau dilarang menulis. Pertama-tama tanyakan dirimu dalam ketenangan malam: haruskah aku menulis? Menukiklah ke dalam lubuk dirimu agar kau mendapat jawaban yang dalam. Dan jika jawabannya ya, jika pertanyaan yang khidmat tadi dijawab dengan sederhana dan mantap ”aku harus”, maka binalah dirimu sesuai dengan keharusan itu. Hidupmu, baik pada saat-saat yang paling remeh dan sepele sekalipun, haruslah merupakan bukti dan kesaksian dari dorongan menulis itu.

Kemudian cobalah dekati alam. Lantas usahakan seakan-akan kau adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang mengatakan apa yang kau lihat dan apa yang kau alami, yang kau cintai dan kehilangan-kehilanganmu. Jangan tulis sajak cinta. Jauhi dahulu bentuk-bentuk yang sangat familiar dan biasa itu. Karena bentuk yang semacam itu adalah yang paling sulit.

Di dalam tradisi yang bertaburan dengan karya bagus dan sebagian cemerlang itu, diperlukan kekuatan besar dan penuh dewasa untuk bisa memberi sumbangan individual. Maka itu, dari tema-tema umum, berpalinglah pada apa yang diberikan oleh kehidupanmu sehari-hari; Lukislah dukacita dan keinginan-keinginanmu. Pikiran-pikiran yang melintas dalam dirimu. dan keyakinanmu dalam suatu keindahan tertentu. Lukiskan semuanya itu dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, rendah hati dan ikhlas. Gunakanlah benda-benda di sekitarmu, imaji-imaji dirimu dan kenangan-kenanganmu untuk mengekspresikan dirimu.

Jika kehidupanmu sehari-hari terasa miskin dan gersang, jangan sesalkan dirimu, katakanlah pada dirimu, kepenyairanmu tidak cukup untuk dapat menggali kekayaan dirimu. Karena bagi setiap pencipta tidak ada kegersangan dan tidak ada tempat yang penting dan gersang. Bahkan jika kau sekiranya berada dalam penjara dengan tembok-temboknya yang menjauhkan kau dari suara dunia,—bukankah kau tetap masih memiliki masa kanak-kanakmu sebagai gudang khazanah kenangan yang kaya raya? Perhatikanlah itu. Cobalah bangkitkan kembali sensasi-sensasi yang tenggelam dari masa lampau yang jauh itu. Kepribadianmu akan lebih kuat tumbuhnya, kesunyianmu akan berkembang menjadi tempat tinggal yang temaram di mana suara-suara yang lain lewat di kejauhan.

Dan jika dari menengok ke dalam ini, dari menyelam ke dalam ini, dari menyelam ke dalam dunia pribadimu ini, akan muncul sajak-sajak. Tidak usah kau tanyakan pada siapapun apa sajakmu itu sajak yang baik. Juga tak perlu kau upayakan agar majalah dan koran-koran menaruh perhatian terhadap karya-karyamu itu. Karena karyamu itu adalah milikmu yang sejati dan berharga, suatu bagian dan suara dari kehidupanmu. Suatu karya seni menjadi baik jika tumbuh dari kebutuhan yang wajar. Dari cara ia berasal. Di situlah letaknya. Penilaian yang benar: tidak ada cara lain. Maka itu, aku tidak bisa memberi nasihat kecuali ini: pergilah masuk kedalam dirimu, galilah sampai ke dasar tempat kehidupanmu berasal; pada sumbernya itu, kau akan mendapatkan jawaban apakah kau memang harus mencipta. Dengarkan suaranya, tanpa terlalu cerewet menyimak kata-kata.

Barangkali memang sudah merupakan panggilan bahwa kau harus jadi seniman. Maka terimalah takdirmu itu, tanggungkan naik bebannya maupun kebesarannya, tanpa minta-minta penghargaan dari luar dirimu. Karena seorang pencipta haruslah menjadi sebuah dunia bagi dirinya sendiri, dan menemukan segala-galanya di dalam dirinya sendiri, serta di dalam Alam tempat dirinya berada.

Namun setelah masuk ke dalam diri dan ke dalam kesendirianmu, mungkin kau harus melepaskan keinginanmu untuk menjadi penyair; (bagi saya, seseorang bisa hidup tanpa harus menulis daripada samasekali berspekulasi untuk itu). Meskipun demikian, upaya memusatkan perhatian ke dalam diri sendiri yang kuanjurkan itu, tidaklah sia-sia. Bagaimanapun juga hidupmu sejak itu akan menemukan jalannya sendiri. dan kuharapkan hidupmu menjadi baik dan kaya serta tinggi pencapaiannya lebih dari apa yang bisa aku ucapkan.

Apa lagi yang harus kukatakan? Rasanya segala telah mendapat tekanan yang wajar. Akhirnya aku ingin menasehati agar mau menumbuhkan dirimu secara serius. Tidak ada cara yang lebih ganas menghalangi pertumbuhanmu kecuali dengan melihat ke luar, dan upaya mengharapkan jawaban dari luar, terhadap pertanyaan-pertanyaanmu yang agaknya hanya perasaanmu yang paling dalam dan saat-saatmu yang paling hening bisa menjawabnya”. (*)

Catatan Kecil:
Bagian kedua dari sepuluh seri kumpulan surat Surat-surat Rainer Maria Rilke untuk seorang penyair muda merupakan dokumentasi otobiografi yang luar biasa. Sebuah bacaan di mana, di luar keindahan fondasinya sendiri, telah memfasilitasi pengertian yang lebih jernih akan pandangan dan teknik puitik seorang Rilke. Surat kedua Rilke untuk seorang penyair muda itu berhubungan dengan penggunaan ironi sebagai suatu teknik puitik. Sarannya dalam hal ini adalah untuk tidak menggunakannya terlalu banyak, khususnya dalam kondisi-kondisi yang tidak kreatif.

Penyair-penyair modern menggunakan ironi secara ekstensif dan menganggapnya sebagai suatu bagian penting dari teknik puitik yang tidak dapat dilepas oleh penyair. Ironi mengarah kepada sebuah dunia yang jelas-jelas telah pasti –dengan melihat dari sisi yang berlandaskan pada ketidakpercayaan akan suatu sistem. Nada dari puisi juga digambarkan secara luas dari persepsi yang (cenderung) menghakimi dalam konteks turbulensi sosio-politik di masa itu.

Penyair-penyair modern yang datang setelahnya juga menggunakan ironi secara luas untuk menciptakan pernyataan puitik mereka. Sebagai salah satu contoh klasik adalah The Waste Land karya T. S. Eliot. Eliot secara efektif menggunakan ironi untuk menggambarkan kesengsaraan pasca perang dengan sumber daya ilustrasi yang kaya akan mitos-mitos Kristiani dan Oriental, sekaligus. Mitos-mitos menghadirkan sekumpulan kesadaranan akan hal-hal kemanusiaan dan memiliki simbol-simbol efektif yang secara ekstrim memiliki fungsi dalam semua bentuk seni penciptaan ironi.

Puisi Rilke menandai ketibaan penting akan tradisi puitik dalam suatu masa di mana ia menggerakkan sebuah genre puisi yang berisikan pernyataan puitik yang tajam:

“… Jadi, selamatkanlah dirimu dari tema-tema umum ini dan tuliskan apa saja yang keseharian hidup telah berikan kepadamu; gambarkan kesedihan dan kebahagiaanmu, pikiran-pikiran yang melintasi benakmu, dan keyakinanmu akan suatu keindahan– gambarkan semua ini dengan kepekaan hati, kepasrahan penuh. Dan saat engkau menyatakan dirimu sendiri, gunakan benda-benda di sekitarmu, imaji-imaji dari mimpi-mimpimu, dan obyek-obyek yang kau ingat …” (Surat-surat untuk Seorang Penyair Muda – Bagian Pertama)

Rilke jelaslah tidak secara keseluruhan menghindari penggunaan ironi dalan puisi. Ia hanya menyarankan si penyair muda itu untuk menghindari penggunaan ironi itu dalam kondisi-kondisi yang tidak kreatif. Puisi kemudian dialihkan menjadi permainan intelektual, permainan dari pernyataan diri seseorang secara puitik, di mana akan mengasingkan para pembaca dari dunia pengalaman pribadi yang intens dari sang penyair – “emosi-emosi dikumpulkan dalam keharmonisan”. (*)

Sumber: Facebook Remmy Novaris DM

Baca juga: http://fiksilotus.com/2012/06/21/rainer-maria-rilke-surat-untuk-penulis-muda-1
Selengkapnya: Rainer Maria Rilke: Surat untuk Penyair Muda

Foto-foto dan Publikasi Pertemuan Penyair Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit, Tegal 20-22 Juni 2014

Monday, 30 June 2014

Dok. Herman Syahara


Link-link foto:
- Facebook Herman Syahara
- Facebook Abah DAM.
- Facebook Abah DAM lagi
- Facebook Endang Supriyadi
- Facebook Windu Mandela (lumayan lengkap)
- Facebook Metallia
 - Yang terselip DNP5 (dok. Herman Syahara)
- Facebook Bontot Sukandar
- Bincang puisi (dok. Herman Syahara)
- Ekspresi Penyair DNP5 (dok. Herman Syahara)
- Ekspresi Enam Penyair Wanita (dok. Herman Syahara)

Publikasi Pertemuan Penyair DNP5: Negeri Langit, Tegal 20-22 Juni 2014
Selengkapnya: Foto-foto dan Publikasi Pertemuan Penyair Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit, Tegal 20-22 Juni 2014

Taufiq Ismail dan Kenangan Singgalang

Saturday, 4 January 2014

Oleh Muhammad Subhan*

Saya beruntung sempat “bekerja” mengurus Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat—6 km dari kota Padangpanjang atau 11 km dari arah kota Bukittinggi. Saya bekerja sekaligus “study sastra” di rumah itu lebih kurang 4 tahun (2009-2012) dan bergelut dengan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi Penyair Taufiq Ismail.

Koleksi buku Rumah Puisi banyaknya 7.000 judul, atau sekitar 11.000 eksemplar, disusun di dalam 32 almari yang berjejer rapi. Tema buku beragam, mulai dari agama (15 persen), pengetahuan umum (25 persen), kamus (5 persen), ensiklopedia (5 persen), tentu juga sastra (50 persen). Seharian duduk membaca buku di Rumah Puisi yang ruangannya berdinding kaca tidak cepat mendatangkan bosan. Waktu terasa begitu cepat berlalu.

Seumur hidup saya tidak pernah membayangkan bila di masa-masa itu saya akan begitu dekat sekali dengan sosok penyair yang puisi-puisinya saya baca dan saya sukai di buku-buku teks pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD dan SMP, di awal-awal saya mulai menulis. Di Rumah Puisi, saya mendampingi beliau menyambut tamu yang datang berkunjung hampir setiap hari.

Tamu-tamu itu beragam kalangan, mulai dari anak TK, murid SD, pelajar SMP/SMA, mahasiswa, guru/dosen, seniman/sastrawan, walikota/bupati/gubernur, menteri, hingga duta besar negara-negara sahabat. Sebelum Taufiq Ismail berbicara di hadapan para tamu, sayalah yang memulai membuka pembicaraan di hadapan mereka, menyampaikan ucapan selamat datang, sekilas memperkenalkan kegiatan Rumah Puisi, kemudian dilanjutkan oleh Penyair Taufiq Ismail yang bercerita banyak soal sastra dan harapannya untuk kemajuan sastra Indonesia khususnya tentang pentingnya membaca buku dan menulis karangan.

Empat tahun bukan waktu sedikit untuk mengenal dari dekat sosok Taufiq Ismail, dan saya salah seorang yang paling beruntung itu. Saya melihat Taufiq Ismail membaca puisi, menulis puisi, menikmati gayanya berbicara dengan artikulasi yang sangat baik di hadapan tamu, hingga ikut berdiskusi di meja makan, bagai akrabnya persahabatan antara ayah dan anak. Bukan lagi sebatas karyawan dan atasan. Tak hanya itu, beberapa puisi terbaru yang ia tulis di Rumah Puisi, ia cetak (print) lalu diperlihatkannya kepada saya dan meminta saya untuk membacanya.

Tak sungkan pula ia meminta pendapat saya terkait masalah-masalah tertentu khususnya tentang perkembangan sastra di Sumatera Barat. Beberapa kali saya diminta menghubungi penyair-penyair muda Sumatera Barat dan membuat acara diskusi dan baca puisi di Rumah Puisi. Selama di Rumah Puisi, saya merasa bukan sedang bekerja, tetapi benar-benar “mengabdi” dan bergelut dengan segala macam kegiatan sastra. Semua itu, tentu saja sangat saya nikmati.

Bagaimana proses kreatif seorang Taufiq Ismail melahirkan puisi-puisinya?
Di Rumah Puisi, sekitar tujuh atau delapan meter dari meja kerja saya, ada sebuah meja yang posisinya sedikit serong (miring) dengan kursi yang menghadap ke luar jendela kaca. Itulah kursi dan meja kerja Penyair Taufiq Ismail yang digunakannya setiap kali ia pulang ke Rumah Puisi.

Saya tanyakan kenapa meja itu diserongkan posisinya. Beliau menjawab, “agar dapat memandang secara leluasa panorama gunung Singgalang”.

Benarlah, dari posisi meja itu, bila melemparkan pandangan ke luar jendela yang berdinding kaca, terhampar panorama indahnya gunung Singgalang yang sewaktu-waktu diselimuti kabut. Di kaki gunung itu, terhampar sebuah pemukiman penduduk, namanya Pandai Sikek. Di situ kampung ibu Taufiq Ismail.

Dari cerita-cerita beliau—yang juga sering diulang-ulang setiap kali menceritakan riwayat hidupnya di hadapan tamu Rumah Puisi—semasa zaman bergejolak, ketika tentara kolonial Belanda masih berkuasa di Bukittinggi, di saat itu Taufiq Ismail ikut mengungsi bersama ayahnya ke puncak Singgalang.

Tentara Belanda sering masuk ke Pandai Sikek, patroli dan tak jarang menembak penduduk, khususnya laki-laki. Pili, seorang remaja yang masih saudara dekat Taufiq Ismail, ikut menjadi korban penembakan tentara Belanda itu.

Di saat mengungsi bersama ayahnya di puncak Singgalang yang banyak ditumbuhi tanaman tebu, Taufiq Ismail melihat panorama alam yang sangat indah. Layaknya kita melihat pemandangan rumah penduduk, jalan, laut, gunung, bukit-bukit, sawah, sungai, dari atas pesawat udara.

Begitu pula, Taufiq Ismail kecil melihat terbitnya matahari dari balik pinggang Marapi, tenggelamnya di pinggang Singgalang. Dari ketinggian itu pula, ia menatap kampungnya yang sepi, dan kobaran api menyala-nyala sebab rumah-rumah penduduk dibakar tentara Belanda.

Beberapa kali saya menyaksikan ia menyeka air mata dengan sapu tangan membayangkan peristiwa pembakaran kampungnya itu. Itu dilakukan baik ketika menceritakannya kembali kepada saya ataupun kepada tamu-tamunya yang datang ke Rumah Puisi.

Itulah awal proses kreatif Taufiq Ismail melahirkan puisi-puisinya. Di periode awal kepenyairannya (1953-1960) puisi-puisi Taufiq Ismail banyak bercerita tentang alam dengan segala macam peristiwanya. Realitas sosial di masa kanak-kanak yang ia lihat dengan mata kepala ia tuangkan menjadi realitas sastra di dalam puisi-puisinya di kemudian hari.

Bisa kita baca pada puisinya berikut: /Di punggung bukit-bukit awan hujan bergantung biru/ pepohonan di desa mulai dipukul angin beruap lembab/ tangkai-tangkai besi bajak dan penyawah-penyawah berselubung/ harap di jantung/ kerbau-kerbau di-hee, yaaaah! Hee yaaah!/

Begitu juga, dalam puisinya yang lain, menggambarkan kemarau terjadi di kampungnya, ia menulis: /Malam Ramadan dinginnya menusuk ke hulu tubuh/Kemarin tengah hari udara meleleh di Padang Panjang/ Kerbau si sati, kambing coklat mengah-ngah/ Kilangan berputar deriknya ngilu tebu begitu kurus-kurus/.

Dua contoh penggalan puisi Taufiq Ismail berjudul Membajak Kembali dan Kemarau di Desa Bangkirai yang bagaikan lukisan alam itu menjelaskan betapa dekatnya sang penyair dengan alam. Ini yang, menurut saya, menjadi alasan kuat kenapa karya sastra sastrawan-sastrawan Minangkabau periode awal banyak berasyik-masyuk dengan keindahan alam Minangkabau yang menjadi latar cerita.

Sebut saja karya-karya Abdoel Moeis, Marah Rusli, Nur Sutan Sati, Nur Sutan Iskandar, Hamka, AA. Navis dan lainnya. Adalah fakta bahwa Minangkabau (Sumatera Barat) memang kaya dengan keindahan alam.

Walau di periode awal Taufiq Ismail banyak bercerita tentang alam, namun di periode berikutnya ia dapat mengembangkan tema-tema sosial yang terjadi di zamannya. Zaman yang penuh gejolak dan konflik. Puisi-puisi karyanya dapat dibaca di buku Tirani (1966), Benteng (1968), serta Sajak Ladang Jagung (1974). Selain itu, dapat dibaca pula di bukunya yang lain, di antaranya Perkenalkan, Saya Hewan (1976), Puisi-puisi Langit (1990) dan Malu Aku Jadi Orang Indonesia (2005).

Di usia Taufiq Ismail hari ini yang mendekati 79 tahun, saya banyak membaca puisi-puisinya yang bertema religius. Puisi pun menjadi alat (media) dakwah bagi Taufiq Ismail dan memberikan dampak yang luas bagi siapa saja yang membacanya. Kepada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail mengatakan bahwa menulis puisi baginya merupakan sebuah ibadah, gerak hidup jiwa untuk senantiasa mengingat asma-Nya (zikir).

Bagi pembaca yang agak asing dengan ajaran agama Islam, pernyataan semacam itu mungkin dirasakan sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Tetapi tidak demikian bagi seorang Muslim yang taat dan penyair lain yang hidup dalam tradisi keagamaan yang kuat seperti Taufiq Ismail.

Begitulah proses kreatif kepenyairan Taufiq Ismail yang sebagiannya saya cermati langsung. Ia selalu mengatakan kepada saya, banyak-banyak membaca buku lalu menulis karangan. Ia sering mengumpamakan, membaca buku dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Seorang pembaca buku memiliki kekayaan ilmu dan kekayaan itu harus dibagikan, tidak menjadi hak individual semata. Cara membaginya adalah lewat menulis; menulis apa saja! [SELESAI]

 * Muhammad Subhan, Novelis dan jurnalis tinggal di Padangpanjang.

Sumber;
http://infosastra.com/2014/01/01/taufiq-ismail-dan-meja-miring-arah-singgalang-1/
http://infosastra.com/2014/01/02/taufiq-ismail-dan-kenangan-singgalang-2/
Selengkapnya: Taufiq Ismail dan Kenangan Singgalang

Aslan Abidin: Aksara Lokal Tidak Terpakai Lagi!

Aslan Abidin, penulis yang lahir di Soppeng, 31 Mei 1972. Kumpulan sajaknya yang telah terbit, Bahaya Laten Malam Pengantin (Ininnawa, Agustus 2008). Selain itu, sajak-sajaknya dimuat di beberapa majalah dan jurnal puisi, karya-karyanya juga dibukukan dalam beberapa antologi puisi.
 
Ia mulai berkarya sejak di bangku kuliah di Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Kini menjadi seorang dosen sastra di Universitas Negeri Makassar (UNM).
 
Selain menulis sajak, ia juga menulis artikel yang dimuat di beberapa jurnal dan koran lokal serta nasional. Ia pun telah memenangkan beberapa lomba penulisan sajak. Saat ini mengetuai Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) Makassar. Berikut hasil wawancara redaktur edisi ini, Eka Wulandari dengan Aslan Abidin.

Apa saja hal yang menginspirasi Anda menulis?
Menulis adalah perilaku untuk menyampaikan gagasan dan informasi. Cukup menyenangkan bagi saya. Dalam penyampaian gagasan itu terkadang muncul hal baru dan kita terpancing untuk membincangkan dan mendiskusikannya. Menulis adalah pekerjaan manusiawi yang bisa menyadarkan orang. Jadi saya menulis hanya karena keinginan untuk menyampaikan gagasan saja. Siapa tahu tulisan itu mampu memberikan perubahan yang lebih baik.

Menurut Anda, bagaimana budaya literer (baca-tulis) di Makassar?
Sebenarnya budaya baca di Sulawesi Selatan sudah ada sejak abad ke-16. Orang Bugis-Makassar punya aksara sendiri yaitu lontara'. Yang mengherankan orang Bugis agak malas membaca lebih jauh ketika pembahasan politik budaya Bugis berubah menjadi budaya Indonesia. Sebab bangsa kita kan bangsa Bugis, yang terpaksa berubah menjadi bangsa Indonesia. Belum lagi pada saat Islam masuk dengan aksara Arabnya. Sejak kecil, sekitar 10 tahun, anak-anak dipaksa bisa membaca Al-Quran. Lumayan bisa menghabiskan buku tebal itu di masa kecil. Sayangnya agak aneh. Pertama karena itu bahasa asing, kedua kita menghabiskan waktu yang banyak untuk membacanya tanpa tahu artinya. Akhirnya tidak dapat apa-apa.
 
Selanjutnya di sekolah, kita belajar aksara latin. Aksara yang jelas-jelas bukan dari bangsa kita.
 
Saya tidak tahu apa yang salah. Tapi ada yang tidak beres. Entah malas bagaimana atau karena sistem pendidikan yang bermasalah. Orang Bugis akhirnya tidak tumbuh jadi orang cerdas. Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia. Tradisi membacanya tidak berlanjut.

Bagaimana pandangan Anda tentang komunitas sastra dan kepenulisan yang ada di Makassar?

Saat ini ada. Namun secara umum tidak begitu bagus. Ada satu-dua yang suka menulis. Tapi jumlahnya terlalu sedikit di antara banyaknya mahasiswa. Reputasinya juga tidak begitu bagus.

Reputasi yang bagus menurut Anda seperti apa?

Katakanlah, berapa kemudian yang menonjol dalam jangka lama? Mungkin persoalan sistem pendidikan yang tidak mendukung. Juga persoalan budaya membaca-menulis bukan dengan bahasa Ibu. Bahasa kita yang sebenarnya kan bahasa Bugis. Agama yang diajarkan bukan agama Bugis. Penyebaran dan pengajaran Islam bukan melalui bahasa Bugis, tapi bahasa Arab. Malangnya, kita tidak begitu mengerti.

Menurut Anda, bagaimana keberaksaraan lokal saat ini?

Nyaris tidak berkembang! Aksara tidak dipakai lagi. Hanya dipelajari kecil-kecilan di sekolah tingkat dasar dan tingkat lanjut sebagai muatan lokal. Serta dipelajari oleh beberapa mahasiswa di jurusan sastra daerah. Tapi sama seperti mempelajari bahasa asing sebab pengantarnya menggunakan bahasa Indonesia.
 
Tidak ada lembaga yang menguatkan untuk mengharuskan kita belajar bahasa Bugis. Malah saat lahir, bahasa yang pertama kita dengar adalah bahasa Arab, yaitu azan. Meninggal, bahasa Arab juga, yaitu talqin. Maka semakin hari semakin pudar bahasa ibu kita.

Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan agar aksara kita bisa tetap berkembang?

Contoh kecil, beri lembaga dan pranata yang membuat kita mengerti aksara lontara. Sejak Islam dan Indonesia masuk, keduanya mengganti seluruh lembaga Bugis. Jika dulu ritual keagamaan dilakukan dengan berbahasa Bugis, kini tergantikan oleh bahasa arab. Setiap ritual pernikahan dulu yang digunakan adalah bahasa Bugis, kini kita menggunakan bahasa Indonesia.
 
Contoh lain, ada kitab yang wajib kita baca layaknya Al-Quran namun menggunakan aksara Bugis. Membaca khotbah dengan bahasa Bugis. Juga membuat koran dengan aksara lontara.
 
Meski lama, tapi pelan-pelan itu akan mengembalikan orang untuk bisa membaca aksara Bugis.[]

Sumber http://penerbit-ininnawa.blogspot.com/2010/01/aslan-abidin-aksara-lokal-tidak.html

* * *
Penyair yang juga lebih suka menjadi jurnalis ini memiliki buku antologi puisi perdana "Bahaya Laten Malam Pengantin" yang diterbitkan oleh Ininnawa, 2008. Saat itu agak terasa aneh bagi kalangan penyair dan kritikus, sebab 79 sajak yang ada dalam buku tersebut ditulis dalam rentang waktu tiga belas tahun, dari 1993 hingga 2006 saja. Tapi Ahyar Anwar, Doktor Sosiologi Sastra UGM mengatakan, Aslan Abidin adalah satu dari sedikit penyair Sulawesi Selatan yang mendapatkan tempat terhormat dalam jagad sastra nasional hanya dengan dua-tiga sajak.

Realitas dihadirkan Aslan dalam sajak-sajaknya yang erotisme atau lebih tepat disebut erotisme sosial. Apakah Aslan terperangkap dalam sastra pornografi? Kekuatan kata yang menjadikan tubuh sebagai media menjadika Aslan bebas menelanjangi realitas di sekelilingnya. Tidak berbeda dengan para penyair tertentu yang lebih suka menjadikan benda alam sebagai latar. Tapi aslan berhasil dalam hal ini. Entahlah jika memang benar Aslan Abidin termasuk dalam kategori penyair selangkang.

Aslan lahir di kota kalong, Soppeng Sulawesi Selatan, 31 Mei i972. Menuntaskan kuliah di Fakultas Sastra jurusan Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1997. Sajak-sajaknya mengalir di Horison, Basis, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Media Indonesia, Bernas, dan beberapa harian di Makassar. Dibukukan antara lain dalam Mimbar Penyair Abad 21 (1996) Antolog Puisi Indonesia (1997), Sastrawan Angkatan 2000, Kitab Puisi Horison Sastra Indonesia (2002), Puisi Tak Pernah Pergi (2003), dan Tak Ada Yang Mencintaimu Setulus Kematian (2004). Membaca puisi di TIM Jakarta dalam Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Pembacaan Sajak Penyair Delapan Kota (1998), dan Cakrawala Sastra Indonesia (2004). Mengikuti Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Puisi tahun 2002 di Cisarua, Jawa Barat. Mengikuti Ubud Writer and Readers Festiva.tahun 2004 di Bali. Memenangkan beberapa lomba penulisan sajak, antara lain LCPI Tasikmalaya 1999, Art and Peace Bali 1999, dan LCPI Post 2003. Aktif bekerja sebagai wartawan di Makassar. Pernah mengetuai Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) dan lain-lain.

Penyair yang masuk dalam angkatan abad 21 ini memiliki karakter karya yang khas di antara penyair-penyair Sulawesi-Selatan. Kekhasan itu muncul pada sajak-sajaknya yang kerap kali menggunakan ‘tubuh’ sebagai latar.   

Sumber http://www.ivankavalera.com/2009/06/aslan-abidin-satu-dari-sedikit.html
Selengkapnya: Aslan Abidin: Aksara Lokal Tidak Terpakai Lagi!

Puisi-puisi Pablo Neruda

Monday, 27 May 2013


Kewajiban seorang penyair

Bagi siapa saja yang tak mendengarkan laut
jumat pagi ini, bagi siapa saja yang terpenjara
di dalam rumah, kantor, pabrik atau perempuan
atau jalanan atau penambangan atau sel yang kering:
baginyalah aku datang dan tanpa berbicara atau memandang
aku tiba dan membukakan pintu penjaranya
dan sebuah getaran dimulai, samar-samar dan tanpa henti,
sebuah gemuruh petir yang panjang menceburkan dirinya
ke tubuh planet dan buih,
sungai-sungai yang mengerang di samudera pasang,
bintang bergetaran cepat dalam lingkarannya
dan laut berdenyut, mati dan terus berdenyut.
Maka seperti tergambar pada takdirku,
tanpa henti-hentinya aku mesti mendengarkan dan menjaga
keluh kesah laut dalam kesadaranku,
mesti merasakan empasan ombak
dan mengumpulkannya dalam gelas abadi
sehingga di mana pun, barangkali yang di dalam penjara,
di mana pun mereka menderita hukuman pada musim gugur,
aku mungkin hadir bersama gelombang pesan,
aku mungkin keluar-masuk melalui jendela
dan karena mendengarkanku, berpasang mata akan mengangkat dirinya
bertanya: bagaimana aku dapat sampai ke laut?
Dan aku akan melintasi mereka tanpa berkata apa-apa
gema yang terang dari gelombang
pemisahan buih dan pasir,
gemersik garam menyeret dirinya sendiri,
tangisan kelabu burung-burung laut di pantai.
Maka, bagiku, kebebasan dan lautan
akan menjawab bagi hati yang tersembunyi.

 

Kata

Lahirlah
kata dalam darah,
tumbuh dalam tubuh yang tersembunyi, berdenyut,
dan meluncur ke bibir dan mulut.
Lebih jauh dan lebih dekat
tetap saja, tetap saja ia datang
dari mayat para bapa dan dari bangsa-bangsa pengembara,
dari negeri-negeri yang telah menjelma batu,
keletihan negeri-negeri atas kemiskinan bangsanya,
karena kesedihan turun ke jalan-jalan
orang-orang pun berangkat dan tiba
dan menikahi negeri dan air yang baru
untuk menumbuhkan kembali kata-kata mereka.
Maka inilah apa yang ditinggalkan;
inilah gelombang panjang yang menghubungkan kita
dengan orang-orang mati dan permulaan
hidup baru yang belum sampai kepada cahaya.
Tetap saja atmosfer tergetar
oleh kata pertama yang diucapkan
terbungkus
dalam rasa takut dan keluhan.
Ia muncul
dari kegelapan
dan sampai sekarang tak ada petir
yang menggemuruhkan dengan suara baja
kata itu,
kata pertama
yang diucapkan:
barangkali ia hanya riak, sebuah tetesan,
sebelum bular-bularnya yang terjal luruh dan luruh.
Kemudian kata itu dipenuhi dengan makna.
Selalu dengan anak-anak ia dipenuhi kehidupan
Segalanya lahir dan bersuara:
penegasan, kejelasan, kekuatan,
pengingkaran, penghancuran, kematian:
kata kerja mengambil alih seluruh kekuatan
dan keberadaan yang dibungkus kebermaknaan
dalam gerak keanggunan dirinya.
Kata manusia, suku kata, sayap
dari perpanjang cahaya dan perak yang kukuh,
cawan pusaka yang menampung
percakapan-percakapan dengan darah:
di sinilah kesunyian datang bersama-sama dengan
keutuhan kata manusia
dan bagi manusia, tidak berbicara berarti mati:
bahasa memanjang bahkan ke rambut,
mulut berbicara tanpa gerak bibir:
segalanya tiba-tiba, mata adalah kata-kata.
Aku mengambil kata itu dan melesatkannya ke dalam perasaan-perasaanku
meskipun ia tak lebih dari sekedar bentuk kemanusiaan,
susunan-susunannya memesonakanku dan kutemukan jalan
menembus setiap gema dari kata yang diucapkan:
aku mengucapkan dan aku menjadi dan, tanpa berkata-kata, aku mendekat
menyeberangi tepi kata-kata yang membisu.
Aku minum untuk kata yang tumbuh itu
sebuah kata atau sebuah gelas kristal,
di dalamnyalah aku minum
kemurnian anggur bahasa
atau air yang tak pernah habis,
telaga keibuan kata-kata,
dan gelas dan air dan anggur
mengembangkan nyanyianku
karena verba adalah telaga
dan semangat hidup: adalah darah,
darah yang mengungkapkan hakekatnya
dan begitu menentukan istirahatnya sendiri:
kata-kata memberi kristal ke dalam kristal, darah ke dalam darah,
dan hidup ke dalam hidup itu sendiri.

 

Samudera

Tubuh lebih sempurna ketimbang gelombang,
garam membasuh barisan laut,
dan burung yang berkilau
terbang tanpa sisa tanah.

 

Air

Segala yang ada di atas bumi tegak, semak
menusuk dan kehijauannya
menggigit, kelopaknya luruh, berjatuhan
hingga satu-satunya bunga menjadi kejatuhan itu sendiri.
Air adalah hal lain,
tak memiliki petunjuk arah tetapi kejernihan geraknya sendiri,
menembus semua warna mimpi,
pelajaran-pelajaran yang jernih
dari batu
dan di dalam kerja besar itu
adalah cita-cita buih yang tak tercapai.

 

Laut

Sebuah entitas, tetapi bukan darah.
Sebuah pelukan, kematian atau mawar.
Masuklah laut dan mempertemukan hidup kita
dan menyerbu sendirian dan menebarkan tubuhnya dan bernyanyi
pada malam-malam dan hari-hari dan para lelaki dan makhluk-makhluk hidup.
Hakekatnya: api dan dingin: pergesaran.

 

Lahir

Aku datang kepada tepi
di mana tak ada yang perlu berkata,
segalanya tercerap ke dalam cuaca dan lautan,
dan bulan berenang kembali,
seluruh cahayanya keperakan
dan lagi-lagi kegelapan akan pecah
oleh empasan gelombang
dan setiap hari di atas balkon laut
sayap-sayap mengembang, lahirlah api
dan segalanya kembali biru seperti pagi.

 

Menara

Barisan laut membasuh dunia
oh, kebaruan yang abadi,
oh, pedang yang sakti:
kautebas
kekacauan,
di mana sebuah kapal karam tertinggal,
di sana sebuah bintang.
dari satu titik ke titik lain ke titik lain lagi
melintaslah sepanjang barisan laut
kemurnian
dan ia tak berubah, ia suasana,
ia dapat diandalkan, ia ketepatan,
ia kukuh, ia bagian yang tegas
sementara udara berubah dan menyeberangi
menara
yang bebas dari geometri.

 

Planet

Adakah batu-batu air di bulan?
Adakah cairan emas?
Apakah warna musim gugur?
Adakah hari-hari berlarian dari yang satu ke yang lainnya
hingga seperti seikat rambut
mereka terurai? Berapa banyak yang jatuh
–kertas-kertas, anggur, tangan-tangan, mayat-mayat–
dari bumi ke tempat yang jauh itu?
Di sanakah kehidupan terbenam?


Yang telanjang

Cahaya ini adalah Matahari yang berlari,
lingkaran ini adalah Timur,
kekacauan buatan angin
di atas pesan-pesannya yang paling jernih
dan tengah hari menjulang seperti
sebuah tiang yang menyangga langit
sementara garis-garis putih terbang
dari kesunyian ke kesunyian sampai mereka menjelma
burung-burung kecil di udara,
garis-garis menuju kebahagiaan.

 

Di dalam menara

Dalam menara yang suram ini
tak ada perang:
asap, udara, hari
mengepung dan meninggalkannya
dan aku tinggal dengan langit dan kertas,
kesenangan-kesenangan dan dosa-dosa seorang diri.
Menara bumi yang bersih
dengan kebencian dan lautan di kejauhan
bercampur
oleh gelombang di langit.
Berapa banyak suku kata dalam satu baris,
dalam satu kata? Sudahkah aku mengucapkannya?
Keindahan adalah peristiwa embun,
pada permulaan hari ia luruh
memisahkan
malam dari subuh
dan persembahan dinginnya
bertahan
dengan bimbang, menantikan ketajaman matahari
yang akan menggiringnya pada kematian
Sulit dijelaskan
jika kita menutup mata atau jika malam
membukakan di dalam diri kita mata lain yang bercahaya
jika ia menggali ke dalam dinding mimpi kita
hingga suatu pintu terbuka.
Tetapi mimpi
hanyalah pergantian pakaian dalam sekejap:
habis dalam satu debaran
kegelapan
dan jatuh di kaki kita, beranjak
begitu hari membaur dan berlayar bersama kita.
Inilah menara dari mana aku menyaksikan,
antara cahaya dan air yang membisu,
waktu dengan pedangnya,
dan aku mengalir ke dalam hidup,
menghirup seluruh udara,
dipesonakan oleh kesunyian
yang mengukuhkan seluruh kota
dan bicara pada diriku sendiri tanpa tahu siapa diriku
membebaskan daun-daun dari sunyinya
ketinggian.

 

Burung

Ia dilewati dari satu burung ke burung lainnya
seluruh anugerah hari,
yang beranjak dari galur ke galur sepanjang hari,
yang bersembunyi di antara tumbuhan
dalam terbang yang membuka sebuah lorong,
di mana angin akan melintasi
tempat burung-burung tengah memecahkan
udara yang beku dan biru:
ke sanalah masuknya malam.
Kembali dari begitu banyak perjalanan,
aku tergantung dan hijau
antara matahari dan geografi:
aku melihat bagaimana sayap-sayap bekerja,
bagaimana wewangian diteruskan
oleh telegraf bersayap
dan dari atas aku melihat sebuah jalan,
musim-musim semi dan atap-atap,
para nelayan di pelelangan,
pantalon-pantalon buih,
melihat semuanya dari langit hijauku.
Aku tak punya lebih banyak abjad
dari walet-walet dalam kawanannya,
sepercik air jernih
dari seekor burung di atas api
yang menari di luar serbuk sari


Serenada

Dengan tanganku kukumpulkan kekosongan ini,
malam yang menyesatkan, keluarga-keluarga yang bercahaya,
sebuah kidung yang tetap lebih tenang ketimbang kebisuan,
suara bulan, sesuatu rahasia, suatu segitiga,
suatu ukuran keberuntungan.
Inilah malamnya laut, kesunyian ketiga,
sebuah getaran yang membukakan pintu-pintu, sayap-sayap,
penduduk yang tak teraba dan tak sepenuhnya ada
bergetar dan membasuh seluruh nama muara.
Malam, nama dari lautan, tanah air, asal, mawar!

 

Sang pendiri

Aku memilih bayang-bayangku sendiri,
dari kristal garam kuciptakan persamannya:
kutancapkan waktuku pada deras hujan
dan aku bisa tetap hidup
Memang benar kekuasanku yang panjang
memisahkan mimpi-mimpi
dan di luar sepengetahuanku muncullah di sana
dinding-dinding, perceraian-perceraian, tanpa akhir.
Maka aku beralih ke pantai.
Aku melihat pemberangkatan kapal-kapal
menyentuhnya, lembut bagaikan ikan suci:
menggetarkan serupa citraan Tuhan,
kayu-kayunya bersih,
harum serupa madu.
Dan jika ia tak kembali,
kapal itu tak kembali,
setiap orang tenggelam dalam airmatanya
sementara aku kembali kepada kayu
dengan kapak telanjang bagai bintang.
Kepercayaanku rebah di dalam kapal-kapal itu.
Aku tak punya jalan lain kecuali untuk terus hidup.

 

Memandikan seorang bocah

Cinta, makhluk tertua di muka bumi
memandikan dan menyisir patung kanak-kanak,
menegakkan kaki-kakinya, lutut-lututnya,
air mengembang, busa-busa sabun merambat,
dan tubuh yang murni muncul untuk menghisap
udara dari bunga-bunga dan ibunya.
Oh perhatian yang tajam !
Oh muslihat yang manis !
Oh perang penuh kasih sayang !
Sekarang rambut itu tinggal segulung kekusutan
dihujani dari sana-sini dengan arang,
dengan tahi kayu dan oli,
jelaga, kawat-kawat, umpatan-umpatan,
sampai dengan kesabarannya
cinta
menyiapkan bak-bak dan kain-kain pembasuh
sisir-sisir dan handuk-handuk,
dan dari gosokan dan sisiran dan cahaya kekuningan,
dari keberatan-keberatan masa lampau dan dari bunga yasmin
muncullah bocah itu lebih bersih dari sebelumnya
melepaskan diri dari lengan-lengan ibunya
untuk merangkak lagi di atas badainya,
untuk mencari lumpur, oli, air kencing, tinta,
untuk melukai dirinya sendiri, berguling-guling di antara bebatuan
Di jalan itulah, dengan kebaruannya, bocah itu melompat ke dalam hidup
untuk kemudian mendapati saat di mana yang terpenting
adalah menjaga kebersihan, meski tak ada kehidupan.

 

Puji-pujian bagi pakaian yang hendak disetrika

Puisi itu putih :
muncul dari air yang terbungkus bulir-bulirnya
ia kisut dan bertumpuk,
ia mesti dibentangkan menjadi kulitnya planet,
mesti disetrika menjadi putihnya laut,
tangan-tangan terus menggosoknya,
permukaan-permukaannya pun menjadi halus
begitulah segalanya dikerjakan :
tangan-tangan menciptakan dunia setiap hari,
api dikawinkan dengan baja,
kain kanvas, linen dan katun kembali
dari pencucian
dan di luar cahaya seekor burung lahir :
kemurnian yang kembali dari pusaran.

 

Kelahiran-kelahiran

Kita tak akan pernah punya ingatan tentang sekarat
Kita begitu sabar
dengan kehidupan
mencatat habis
tanggal-tanggal, hari-hari,
tahun-tahun dan bulan-bulan,
helai-helai rambut, mulut-mulut yang kita kecup,
dan detik-detik menuju kematian itu
kita biarkan lewat tanpa tercatat :
kita tinggalkan bagi orang lain sebagai kenangan
atau kepada air begitu saja,
kepada air, kepada udara, kepada waktu.
Kita bahkan tak membawa
kenangan akan kelahiran,
padahal dilahirkan begitu baru dan menggemparkan :
dan kini kau tak mampu mengingat detilnya
tak menyimpan sebuah jejak pun
dari cahaya pertamamu.
Kita tahu kita dilahirkan.
Kita tahu bahwa di dalam kamar
atau di dalam hutan
atau di dalam naungan rumah para nelayan
atau di dalam gemersik kebun-kebun tebu
terdapat kesunyian yang luar biasa,
sebuah saat yang suram dan beku seperti
seorang perempuan yang menyiapkan sebuah kelahiran.
Kita tahu kita semua dilahirkan.
Tetapi dari tafsir yang dangkal itu
dari tidak ada menjadi ada, memiliki tangan,
melihat, memiliki mata,
makan dan menangis dan tumbuh besar
dan mencintai dan mencintai dan menderita dan menderita,
dari transisi atau getaran itu
dari kehadiran yang menggairahkan yang mengangkat
satu tubuh lagi seperti cawan kehidupan,
dan dari perempuan yang meninggalkan kekosongan,
ibu yang tertinggal dalam genangan darah
dan kesempurnaannya yang terkoyak
dari akhir dan awalnya, dan kekacauan
yang menggulingkan urat-uratnya, lantai, selimut-selimutnya
sampai semuanya hadir bersama-sama dan menyumbangkan
satu gerombolan lagi dalam jalinan kehidupan,
tak ada, tak ada yang tersisa dalam ingatanmu
tentang lautan buas yang mengumpulkan gelombang
dan merenggut sebiji apel tersembunyi dari pohon.
Tak ada yang bisa kau ingat kecuali nyawamu.

 

Kepada mayat lelaki malang

Hari ini kita menguburkan lelaki kita yang malang :
lelaki yang sangat sangat malang.
Dia selalu dalam nasib buruk
bahkan inilah untuk pertamakalinya
manusianya dimanusiakan.
Karena tak punya rumah, tak pula tanah,
tak punya abjad, tak pula kertas-kertas,
tak pula daging panggang,
maka dari satu tempat ke tempat lainnya, di jalan-jalan,
dia berjalan dalam kekurangan,
mati perlahan demi perlahan
begitulah dia semenjak lahirnya.
Mujur dan sangat jaranglah, mereka semua berpendapat sama
dari uskup sampai hakim
dalam menjaminnya masuk surga
dan kini wafatlah dengan hormat lelaki kita yang malang
ai, lelaki kita yang sangat sangat malang
dia tak akan tahu harus berbuat apa dengan begitu banyak langit.
Dapatkah dia mencangkulnya, menyemainya dan menuainya ?
Dia selalu melakukannya, dengan bengisnya
bertarung dengan tanah terjal
dan kini langit dengan leluasa membentangkan diri bagi cangkulnya,
dan kemudian di antara buah-buahan surga
dia akan mendapat bagiannya, dan di mejanya
di ketinggian sana segalanya tersedia
baginya untuk memuaskan hatinya akan surga
lelaki kita yang malang, yang membawa sebagai nasib baiknya
dari bawah, enam puluh tahun rasa lapar
untuk dikenyangkan, akhirnya, secara hormat,
tanpa pukulan-pukulan dari hidupnya lagi,
tanpa teraniaya demi makanan,
aman bagaikan keturunan raja-raja dalam kotak di bawah tanah
kini dia tak lagi berpindah-pindah untuk melindungi dirinya,
kini tak akan berjuang demi upahnya.
Dia tak pernah mengharapkan keadilan, begitulah dia,
tiba-tiba mereka memenuhi cawannya dan bersulang untuknya :
kini dia telah tersungkur dalam kesenangan.
Betapa beratnya dia sekarang, lelaki yang sangat sangat malang itu !
Kemarin dia cuma setumpuk tulang bermata legam
dan kini kita tahu, dari berat tubuhnya seorang,
ai begitu banyak hal yang dulu tak didapatkannya,
jika kekuatan ini terus-menerus,
mencari tanah-tanah tandus, menyusuri batu-batu,
menuai gandum, membasahi tanah liat,
menggiling belerang, mengusung kayu bakar,
jika lelaki yang begitu besar ini tak punya
sepasang sepatu, oh betapa sengsara, jika seluruh diri lelaki tersendiri
yang dipenuhi daging dan otot ini tak pernah mendapatkan
keadilan selama hidupnya dan semua orang memukulnya,
semua orang menjatuhkannya, dan meski demikian
dia terus saja dengan pekerjaannya, kini dengan mengangkat dirinya
dalam peti mati di atas bahu kita,
setidaknya kita tahu berapa banyak yang dulu tak dimilikinya,
bahwa kita tak membantunya selama hidupnya di dunia.
Kini mulai kita tanggung
segala yang tak pernah kita berikan padanya, dan kini sudah terlambat :
dia menindih kita dan kita tak mampu menanggungnya.
Berapa banyak orang yang menindih mayat kita ?
Dia menindih kita dengan seluruh berat dunia, dan kita terus
mengusung mayatnya di bahu kita. Jelas
bahwa surga dipenuhi makan besar.


Kepada “La Sebastiana”

Kubangun rumah.
Kubuat ia pertama di udara.
Kemudian kukibarkan benderanya di udara
dan kubiarkan ia membentang
dari cakrawala, dari bintang-bintang, dari
cahaya terang dan dari kegelapan.
Dari semen, besi, kaca,
seperti sebuah dongeng,
lebih berharga ketimbang gandum dan seperti emas,
aku harus mencari dan menjualnya,
dan datanglah sebuah truk :
mengosongkan karung-karung
dan karung-karung lainnya,
menara tertancap di tanah kokoh
–tetapi itu belum cukup, kata sang pendiri,
masih ada semen, kaca, besi, pintu-pintu–,
dan aku tak tidur semalaman.
Tetapi ia tetap tumbuh,
jendela-jendela tumbuh
dan dengan sedikit lagi,
dengan desakan rencana dan kerja
dan bekerja keras dengan lutut dan bahu,
ia tumbuh menjadi ada,
ke tempat yang dapat kaulihat dari jendela,
dan agaknya dengan begitu banyak karung
ia dapat berakar dan berkembang
dan, akhirnya, kokoh menggenggam bendera
yang tetap terbentang di langit dengan warna-warninya.
Kuserahkan diriku bagi pintu-pintu termurah,
pintu-pintu yang telah mati
dan telah dibuang dari rumah mereka,
pintu-pintu tanpa dinding, patah,
bertumpuk di timbunan-timbunan rapuh,
pintu-pintu tanpa kenangan,
tanpa jejak sebuah kunci,
dan aku berkata : “Datanglah
kepadaku, pintu-pintu yang ditinggalkan :
akan kuberi kalian sebuah rumah dan sebuah dinding
juga sekepal tangan untuk mengetuk kalian,
kalian akan bergerak lagi seperti jiwa yang terbuka,
kalian akan menjaga tidur Matilde
dengan sayap-sayap yang sangat berguna itu.”
Kemudian datanglah cat
menjilat pada dinding-dinding
membungkusnya dengan biru langit dan merah mawar
hingga mereka mulai berdansa.
Maka menara menari,
pintu-pintu dan anak-anak tangga bernyanyi,
rumah meninggi hingga menyentuh puncaknya,
tetapi uang itu pendek :
kuku-kuku itu pendek,
pendek pula pengetuk-pengetuk pintu, kunci-kunci, marmer.
Namun, rumah
tetap meninggi
dan sesuatu terjadi, suatu debaran
hadir dalam arterinya :
barangkali sebuah insang yang bergejolak
seperti seekor ikan dalam air mimpi-mimpi
atau palu yang mengetuk
seperti siku kondor yang gesit
di papan-papan cemara kita akan berjalan.
Sesuatu pergi dan hidup terus berlangsung.
Rumah tumbuh dan berbicara,
berdiri di atas kakinya sendiri,
memiliki pakaian yang membungkus kerangkanya,
dan seolah datang dari laut sebuah musim semi
berenang bagai bidadari air
mengecup pasir Valparaíso,
kini kita bisa berhenti berpikir : inilah rumah itu :
kini semua yang sempat hilang kembali biru,
segala yang dibutuhkannya hanyalah bersemi.
Dan itulah karya bagi musim semi.
Selamat tinggal selamat tinggal
Oh selamat tinggal selamat tinggal bagi satu tempat dan tempat lainnya,
kepada setiap mulut, kepada setiap kekecewaan,
kepada bulan yang biadab, kepada minggu-minggu
yang terluka hari-harinya dan menghilang,
selamat tinggal bagi suara ini dan bagi sepercik noda
penuh amaranto, dan selamat tinggal
bagi ranjang dan piring sehari-hari,
bagi semua perangkat selamat tinggal itu sendiri,
bagi kursi yang merupakan bagian dari senja yang sama,
bagi jalan yang dibuat sepatuku.
Kutebarkan diriku, tanpa bertanya,
kuganti seluruh kehidupan,
mengganti kulit, lampu-lampu, kebencian-kebencian,
itulah yang mesti kulakukan
tanpa hukum atau permohonan,
apalagi tindakan berantai,
setiap perjalanan baru menggubahku,
kudapatkan kesenangan di sebuah tempat, semua tempat.
Dan baru saja tiba, dengan hormat kuucapkan selamat tinggal,
dengan keindahan yang baru lahir
seperti jika roti tersedia untuk dibuka dan tiba-tiba
melarikan diri dari dunia meja.
Maka kutinggalkan segala bahasa,
mengulang-ulang selamat tinggal seperti sebuah pintu tua,
mengganti film-film, alasan-alasan, makam-makam,
meninggalkan setiap tempat untuk tempat yang lain lagi,
aku tetap hidup, dan hiduplah terus
setengah tidak bahagia,
pengantin lelaki di antara kesedihan,
tak pernah tahu bagaimana dan kapan
siap kembali, tak pernah kembali.
Kita tahu bahwa dia yang kembali tak pernah pergi,
maka kujejak dan kembali kujejaki hidupku
berganti pakaian dan planet,
selalu tumbuh bagi teman-teman,
bagi badai kencang yang menerpa orang-orang buangan,
bagi kesunyian yang hebat pada gemerincing lonceng.

 

Kepada semua orang

Aku tak dapat mengatakan kepadamu secara tiba-tiba
apa yang seharusnya kukatakan kepadamu,
kawan, maafkan aku, kau tahu
bahwa sekalipun kau tak mendengarkan kata-kataku
aku tak menangis atau tertidur
bahwa aku bersamamu meski tak melihatmu
untuk saat-saat indah yang panjang dan sampai kapan pun.
Aku tahu bahwa banyak yang bertanya-tanya,
apa yang dikerjakan Pablo ? Aku di sini.
Jika kau mencariku di jalanan ini
kau akan menemukanku bersama biolaku
mempersiapkan sebuah lagu
mempersiapkan kematian.
Tak ada yang dapat kutinggalkan bagi siapa pun
tidak bagi orang-orang lain itu, tak pula bagimu,
dan jika kau sungguh-sungguh mendengarkan, dalam hujan,
kau akan mendengar
bahwa aku datang dan pergi dan berkeliaran.
Dan kau tahu aku harus pergi.
Bahkan jika kata-kataku tak mampu memahami ini,
yakinlah bahwa akulah seseorang yang pergi.
Tak ada kesunyian yang tak berujung.
Ketika saatnya tiba, harapkanlah aku
dan biarkan mereka semua tahu bahwa aku kembali
di jalanan itu, dengan biolaku.

(Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Dina Oktavini)

Biografi Pablo Neruda
Sumber blog Faisal Kamandobat
Selengkapnya: Puisi-puisi Pablo Neruda

Asal-usul Nama Wiji Thukul - Download Tempo Edisi Khusus Wiji Thukul+Kumpulan Puisi Para Jenderal Marah-marah

Tuesday, 14 May 2013

Wahyu Susilo, adik Thukul, yang kini menjadi analis kebijakan di Migrant Care, lembaga advokasi tenaga kerja Indonesia di luar negeri, berbagi kenangan mengenai kakaknya kepada Tempo. Kisahnya dimuat dalam majalah Tempo edisi Senin, 13 Mei 2013, Edisi Khusus Teka-teki Wiji Thukul, Tragedi Seorang Penyair. (Baca di sini)

Terkenal sebagai penyair dan aktivis, tak banyak yang tahu Wiji Thukul bukanlah nama yang sebenarnya. Pria yang hilang sesudah rezim Soeharto tumbang ini dilahirkan dengan nama Wiji Widodo. Lantas, darimana nama Wiji Thukul bermula disematkan?

Wahyu mengisahkannya. Lulus dari SMP Negeri 8 Solo, Thukul masuk ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Solo, jurusan tari. Menurut Wahyu, tak banyak orang tahu kakaknya itu cukup luwes jika menari. Sampai bersekolah di SMKI itu, Thukul masih aktif di kapel. Suatu ketika, menjelang Natal, anak-anak kapel hendak mementaskan teater bertema kelahiran Kristus. Oleh seorang pemain teater, Thukul diperkenalkan kepada Cempe Lawu Warta, anggota Bengkel Teater yang diasuh penyair W.S. Rendra. Thukul kemudian masuk menjadi anggota Teater Jagat.

Di situlah Lawu kemudian mentabalkan nama Thukul. Nama asli Thukul sesungguhnya adalah Wiji Widodo. Namun, Lawu menghilangkan nama Widodo dan diganti dengan Thukul. Wiji Thukul artinya Biji Tumbuh.

Lawu agaknya mengikuti tradisi di Bengkel Teater. Rendra sering memberi nama parapan kepada anggota bengkel teaternya. Sawung Jabo, misalnya, adalah bukan nama asli. Nama aslinya Mochamad Johansyah. Juga Udin Mandarin, kata Mandarin ditambahkan Rendra. Atau Kodok Ibnu Sukodok, yang nama aslinya Prawoto Mangun Baskoro. Nama Lawu Warta sendiri adalah pemberian Rendra. Adapun Cempe (artinya anak kambing) adalah nama panggilannya di kampung. “Saya sendiri punya nama baptis Katolik, tapi tidak saya pakai,” kata Lawu.

Setelah bernama Wiji Thukul, Thukul sempat menambahkan nama Wijaya di belakangnya menjadi Wiji Thukul Wijaya. Tapi kemudian ia membuangnya karena sering diledek teman-temannya sebagai nama borjuis

Sumber http://www.tempo.co/read/news/2013/05/13/078479918/Asal-usul-Nama-Wiji-Thukul

Download Tempo Edisi Khusus Wiji Thukul+Kumpulan Puisi Para Jenderal Marah-Marah.pdf 
Selengkapnya: Asal-usul Nama Wiji Thukul - Download Tempo Edisi Khusus Wiji Thukul+Kumpulan Puisi Para Jenderal Marah-marah

Pengarang Tua dari Pulau Rote

Tuesday, 27 November 2012

Membaca kisah seorang pengarang tua. Energi yang besar mengalir dalam diriku gara-gara membacanya. Apakah itu sebuah jalan yang harus dipelajari. Jalan kisah asing yang menjadi akrab dengan diri darahku. Darah PUISI!. Dalam hati makin kuat doa dan harap.

Aku makin penasaran dengan sosok pengarang tua itu. Bagiku, itu sungguh hebat. Sudah usia tua pun masih berkelana mengembara dalam imaji. Ia ing
in bertemu dan bercakap tentang puisi. Namun entah kapan bisa bersua dengan beliau. Dan seseorang yang saya anggap suhu berkenan menyampaikan salam untuk beliau, Pengarang Tua.

Beliau begitu hidup. Beliau begitu cakap mengurai kisah perjalanan. Karena puisi adalah energi spiritual dalam diri beliau.

Aku berharap, puisi menjadi jantung. Puisi semakin melebur dalam darah ini. Doa kuat.
Plumbon Mojolaban Sukoharjo, 27 Nopember 2012
*) Ekohm Abiyasa

Selengkapnya: Pengarang Tua dari Pulau Rote

Sajak-sajak Chairil Anwar

Saturday, 29 December 2007


AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943


HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.


DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943


SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...


SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946


CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946


MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949


DERAI DERAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949


PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! (1948)

Siasat, Th III, No. 96, 1949


KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak \"Merdeka\" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi (1948)

Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.


Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

(Februari 1943)
Budaya, Th III, No. 8, Agustus 1954


PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)

Liberty, Jilid 7, No 297, 1954

Aku Berada Kembali.

Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh

1949

Dengan Mirat

Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

1946


Di Masjid
Kuseru saja Dia
sehingga datang juga
Kamipun bermuka-muka
seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada
Segala daya memadamkannya
Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda
Ini ruang
gelanggang kami berperang
Binasa membinasa
satu menista lain gila

Malam

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Malam di Pegunungan

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

1947

Mirat Muda

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati

di pegunungan 1943, ditulis 1949

Nisan

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.
Rumahku

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Kaca jernih dari segala nampak

Kulari dari gedung lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Dipagi terbang entah kemana

Rumahku dari unggun-unggun sajak
Disini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
jika menagih yang satu

April 1943


Tjerita Buat Dien Tamaela

Beta Pattiradjawane
jang didjaga datu datu
Tjuma satu

Beta Pattiradjawane
kikisan laut
berdarah laut

beta pattiradjawane
ketika lahir dibawakan
datu dajung sampan

beta pattiradjawane pendjaga hutan pala
beta api dipantai,siapa mendekat
tiga kali menjebut beta punja nama

dalam sunyi malam ganggang menari
menurut beta punya tifa
pohon pala, badan perawan djadi
hidup sampai pagi tiba

mari menari !
mari beria !
mari berlupa !

awas ! djangan bikin bea marah
beta bikin pala mati, gadis kaku
beta kirim datu-datu !

beta ada dimalam, ada disiang
irama ganggang dan api membakar pulau .......
beta pattiradjawane
jang didjaga datu-datu
tjuma satu

*berbagai sumber
Selengkapnya: Sajak-sajak Chairil Anwar

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas