Showing posts with label esai. Show all posts
Showing posts with label esai. Show all posts

Kata-kata dalam Sajak: Masalah Logis dan Tidak Logis

Monday, 30 March 2015

Oleh : Dasril Ahmad

SEORANG penyair berada dalam kata, di luar bahasa, kata Wiratmo Soekito dalam bukunya "Kesusastraan dan Kekuasan" (1984). Dalam menyair, penyair lebih akrab atau mengakrabi efektifitas penggunaan tenaga puitik (power puitic) yang terkandung dalam kata. Justru itu, kalau dilakukan studi khusus tentang penggunaan kata-kata dalam sajak dari beberapa penyair, maka bukan mustahil kita akan menemukan ciri pembeda yang merupakan warna khas sajak setiap penyair. Misalnya, penggunaan kata-kata yang dilakukan penyair Chairil Anwar, akan menunjukkan kekuatan sajaknya sendiri dan menjadi warna khas sajaknya itu. Ini akan berbeda dengan sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Hamid Jabbar, Rusli Marzuki Saria, dan lain-lain.

Dengan melakukan studi terhadap penggunaan kata-kata dalam sajak, berarti kita telah menyediakan (membuka) diri untuk menggumuli “jiwa” yang terkandung di dalam sajak tersebut. Kesempatan ini mengharuskan kita untuk menelusuri daya imaji, emosi dan ide-ide yang ditampilkan penyair lewat sajaknya itu. Sebab, penyair menggunakan kata-kata dalam bermacam-macam kombinasi untuk menampilkan imaji, menyampaikan ide-ide, dan untuk mencetuskan atau melahirkan emosi, kata B.P. Situmorang (1981). Dalam hubungan ini pula, kelak kita akan berurusan dengan masalah diksi (pilihan kata) yang dipergunakan penyair dalam sajaknya. Meski sering diungkapkan (malah secara vokal) oleh masyarakat umumnya, bahwa penggunaan kata-kata dalam sajak sering rancu dan tak beraturan, hingga menyulitkan upaya memperoleh pemahaman, namun sebetulnya ungkapann itu tidaklah selalu benar. Seorang Coleridge, misalnya, dengan tegas menyatakan, “Poetry equalie the best words in the best order” (Puisi sama dengan kata-kata terbaik dalam tata tertib/aturan yang terbaik).


Sungguhpun demikian, keluh-kesah masyarakat dalam memahami sajak selalu saja bergema. Salah satu penyebab timbulnya kondisi itu adalah sulitnya merebut makna dari kata-kata yang ditampilkan penyair dalam sajaknya. Pengertian sulit di sini menjurus kepada tindakan memaknai sebuah kata (secara denotatif) yang sering tak relevan (dan juga tak koherensi) dengan makna kata-kata yang mengikutinya di dalam setiap larik sajak. Kendala seperti ini, terkadang tak sulit dicarikan pemecahannya, asalkan kita mampu memaknai kata-kata yang dianggap sulit itu secara konotatif. Dalam hal ini kita akan akrab bergelut dengan masalah symbol, lambang, kias, dan sejenisnya yang diemban oleh kata-kata tersebut terhadap dunia nyata (realitas) yang sering kita temukan dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.

Pada titik ini, sampailah kita pada pengertian bahwa upaya memahami sajak –untuk merebut makna yang dikandungnya— merupakan suatu upaya untuk memahami sekaligus mengarifi diri terhadap persoalan-persoalan hidup dan kehidupan yang realis. Di dalam proses ini pula kelak orang sering menghubungkan pengertian-pengertian yang diungkapkan lewat kata-kata ataupun kelompok kata (frasa) di dalam sajak, dengan kenyataan-kenyataan yang lumrah ditemui, dialami dalam kehidupan sehari-hari yang realis itu. Lewat kaca-banding ini pula kemudian masyarakat (minoritas) penikmat sajak, akan bersua dengan masalah logis dan tidak logisnya pengertian kata-kata dan frasa di dalam sajak dengan realitas keseharian. Sering pula lahir pendapat, kalau makna kata-kata dalam sajak relevan dengan kenyataan hidup keseharian, maka sajak itu tergolong baik, dan begitu pula sebaliknya.  


Mencari hubungan/kaitan logis dan tidak logisnya makna kata-kata/frasa yang digunakan dalam sajak dengan realitas objektif, merupakan suatu tindakan yang kurang menguntungkan untuk dipelihara. Sikap dan tindakan begini kurang lebih berarti mempersempit ruang-gerak pemahaman sebuah sajak yang hakiki; apalagi untuk menjatuhkan vonis baik atau jeleknya sajak tersebut. Adalah tidak menguntungkan kalau sebuah sajak Sitor Situmorang berjudul “Malam Lebaran” yang hanya terdiri dari satu larik, yaitu: “Bulan di atas kuburan”, dinyatakan tidak baik; kalau cuma ditilik dari segi ketidaklogisan pengertian dari ungkapannya dengan realitas objektif keseharian. Sebab, mana pula ada bulan berada di atas kuburan pada malam lebaran? Bukankah realisnya di setiap malam lebaran bulan cuma muncul (kecil) di sore atau menjelang senja hari? Tetapi apabila kita berusaha memaknai kata bulan dan kuburan secara konotatif, maka kita setidaknya akan dapat memahami makna hakiki dari sajak itu. Untuk itu, kita mesti menggeluti dunia simbol-simbol atau perlambangan; bulan adalah lambang kebahagiaan, sedangkan kuburan adalah lambang kesedihan. Jadi di malam lebaran ternyata ada kebahagiaan terletak di atas kesedihan!

Begitu juga, dua buah sajak karya Armeynd Sufhasril yang dimuat di RMI Harian Haluan tgl. 14 Juni 1987 yang lalu, masing-masingnya berjudul “Sepanjang Jalan Setapak di Dusun-Dusun” dan “Sansai”, ditemukan juga beberapa ungkapan yang tidak logis, misalnya ungkapan “pelangi muncul pagi hari/ azan tak terdengar lagi/ surau-surau lengang” (dalam sajak “Sepanjang Jalan Setapak di Dusun-Dusun”) Kemudian ungkapan “sungai keruh kering” (dalam sajak “Sansai”) 


Memang tidak logis kalau dinyatakan, “pelangi muncul pagi hari”, karena lazimnya pelangi muncul adalah pada waktu sore hari. Tetapi, ia menjadi logis kalau kita memaknai kata “pelangi” sebagai simbol dari keindahan, sehingga pengertiannya menjadi “keindahan muncul pagi hari”. Memang juga dirasa tidak logis kalau di dusun (kampung) dinyatakan, “adzan tak terdengar lagi/ surau-surau lengang”. Sebab, lazimnya kehidupan di dusun (apalagi di Minangkabau) suara adzan selalu mewarnai kehidupan masyarakatnya, dan surau pun selalu ramai sebagai tempat beribadah oleh masyarakat yang mayoritas taat beribadah itu. Tapi larik sajak itu menyatakan keadaan yang paradoksal dari kenyataan hidup keseharian masyarakat tersebut. Ini jelas tidak logis. Tetapi ia akan jadi (dan diterima) logis, kalau kita bermurah hari menerima tawaran persoalan yang diungkapkan oleh penyair (lazimnya penyair/sastrawan lewat karyanya selalu menawarkan alternatif dari sekian banyak persoalan hidup) bahwa begitulah suasana hidup dan kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat di dusun-dusun dewasa ini. Suatu warna kehidupan yang tengah dilanda “krisis”.

Begitu juga ungkapan “sungai keruh kering” jelas tidak logis bila dikaitkan dengan realitas hidup sehari-hari. Mana pula ada sungai (pengertian kongkrit) berair keruh dan kering pula. Tetapi pengertiannya akan jadi logis, kalau kita mengaitkan dengan pengertian yang dikandung oleh judul sajak itu sendiri yaitu “Sansai” (Sangsai?). “Judul puisi mengemukakan suatu ide tentang sesuatu. Boleh tentang sesuatu yang terjadi, boleh nama orang, boleh nama tempat, boleh suatu benda atau boleh juga suatu waktu dan suatu massa (B.P. Situmorang, 1981 : 27). Nah, dengan judul “Sansai” berarti sajak ini mengemukakan sesuatu keadaan yang sedang terjadi, yaitu kehidupan yang nestapa tengah melanda masyarakat. Dengan ini pulalah, maka pengertian “sungai keruh kering” terkiaskan secara logis, yaitu sungai (sumber kehidupan) ternyata telah kering, dan terlihat tanah dasarnya yang keruh. Ini menandakan bahwa kehidupan memang betul-betul sengsara, karena sungai tak lagi digenangi air untuk kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari. 



Perlukah masalah logis dan tidak logisnya pengertian kata-kata dalam sajak dipersoalkan? Agaknya ini sebuah pertanyaan yang menarik untuk dikemukakan. Tetapi sebelumnya kita jangan lupa, bahwa penyair Sitor Situmorang pernah mengakui, bahwa perkara logis atau tidak logis baginya bukanlah persoalan. Kemudian, penyair Rusli Marzuki Saria berkomentar, bahwa bagi pernyair, logis atau tidak logisnya pengertian kata-kata dalam sajak bukanlah persoalan esensial. Tetapi hal itu akan menjadi persoalan bagi para kritikus sastra. Sedang, penyair hanya bergumul dengan kata-kata; dengan makna denotasi dan konotasi dari kata-kata tersebut. 
Padang, 26 Juni 2013

- Dasril Ahmad, penulis tinggal di Padang

Sumber: Facebook Dasril Ahmad.   
Selengkapnya: Kata-kata dalam Sajak: Masalah Logis dan Tidak Logis

Dikutuk-sumpahi Eros

Monday, 11 August 2014

Chairil Anwar (1922-1949)
Oleh: Saut Situmorang* 

Soalnya adalah apa mungkin seseorang mencapai kesadaran akan kematiannya hanya melalui pengalaman patah cinta?

Persoalan cinta adalah persoalan klise dalam dunia sastra. Beribu puisi telah tercipta sejak manusia pintar berkata-kata sampai zaman hyperreal saat ini yang berkisah tentang indahnya cinta dan malangnya mereka yang dikecewakan hatinya. Penyair Dante dari Itali menulis tiga buku besar tentang Neraka, Purgatoria, dan Sorga hanya karena jatuh cinta pada seorang bocah ingusan umur 4 tahun bernama Beatrice yang pertama kali dilihatnya 17 tahun sebelum La Divina Commedia-nya itu tercipta. “Adik seperguruan”-nya Petrarch menciptakan sebuah genre baru dalam puisi yang disebut Soneta hanya untuk seorang Laura yang sampai mati tak pernah berhasil dimilikinya. Bukankah Taj Mahal di India merupakan “puisi konkrit” yang paling konkrit yang pernah diinstalasi demi cinta?

Dalam buku klasiknya tentang sastra Indonesia modern kritikus Belanda A. Teeuw menyatakan bahwa tidak mudah untuk menunjukkan satu karaktek utama yang bisa dipakai untuk menyimpulkan puisi Chairil Anwar dan bahwa “setiap pembaca selalu menemukan sesuatu yang disukainya pada Chairil” (Modern Indonesian Literature, 1967). Alasan Teeuw atas sulitnya untuk menentukan sebuah “dominant mood” atau “central subject” pada puisi Chairil adalah karena dia menulis hanya dalam suatu periode yang pendek dan meninggalkan karya yang “tidak impresif jumlahnya”, “menggambarkan sebuah kepribadian yang sedang berkembang”.

Walau begitu Teeuw masih melihat satu hal yang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sangat dominan dalam puisi Chairil Anwar:

Satu hal yang dimiliki oleh keseluruhan karya Chairil adalah intensitasnya, obsesinya yang radikal atas hidup dalam semua bentuk dan penampakannya, dan karenanya juga pada kematian – karena siapa saja yang hidup dengan serius pasti tak bisa menghindar dari konfrontasi dengan kematian.

Memang intensitas dan keseriusan Chairil dalam menghadapi kehidupan dan kematian merupakan satu hal yang membuatnya jadi legenda dalam sastra Indonesia modern. Melalui puisi barunya dan terutama gaya hidupnya, Chairil telah menciptakan sebuah imaji baru dari sosok Sang Pujangga lama, dari seorang filsuf bersih bertutur lemah-lembut menjadi seorang bohemian muda yang marah, kotor dan gelisah yang disebutnya “binatang jalang”.

Chairil Anwar mungkin merupakan penulis sastra Indonesia modern yang paling banyak ditulis tentangnya, baik dalam tulisan-tulisan akademis seperti skripsi, tesis, atau disertasi, maupun dalam artikel-artikel lepas di koran dan majalah. Satu aspek dari Chairil yang nampaknya sangat menarik perhatian para pembahasnya adalah kesan umum tentang tidak mungkinnya puisi Chairil dipisahkan dari kenyataan hidupnya. Puisi Chairil adalah refleksi dari kehidupan sehari-harinya, rekaman sebenarnya dari pengalaman hidupnya, baik itu cinta, rasa sunyi, maupun kematian, yang secara jujur dituliskannya ke dalam puisinya. Atau seperti yang diyakini A. Teeuw di atas, karya Chairil menunjukkan intensitas obsesinya dengan kehidupan dan kematian sebagai rasa dominan puisinya. Filsafat Eksistensialisme Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, dan Albert Camus biasanya dipakai sebagai landasan untuk menjelaskan kesatuan karya dan hidup pada oeuvre Chairil.

Tapi tulisan-tulisan tentang Chairil tersebut cendrung melupakan satu aspek penting lain, yaitu peranan Cinta atau Eros dalam kehidupan dan karya Chairil. Cinta bahkan bisa dikatakan sebagai sesuatu yang sangat penting, kalau tidak mau dikatakan yang paling penting, bagi Chairil karena lebih dari separoh dari puisinya “yang tidak impresif jumlahnya” itu merupakan puisi cinta. Dengan Sitor Situmorang atau Rendra sebagai pengecualian, Chairil Anwar mungkin adalah satu-satunya penyair modern Indonesia yang sangat terobsesi dengan cinta (eros). Obsesi atas cinta ini bisa dikatakan merupakan sebuah motif dominan dalam puisi Chairil, sebuah konsekuensi logis dari begitu intensnya dia menghadapi persoalan eksistensial hidup dan kematian. Sentralitas dari tema cinta dalam karya Chairil tidak bisa tidak dihiraukan lagi kalau sebuah pembacaan yang jauh lebih memuaskan ingin dilakukan atas “binatang jalang” yang dua kali dalam puisinya menyatakan dirinya “dikutuk-sumpahi eros” ini.

Pentingnya tema cinta dalam corpus Chairil Anwar mendapat dukungan cukup berarti oleh “penemuan” sebuah sajak cinta Chairil yang hilang oleh seorang Belanda, seperti yang dilaporkan oleh Burton Raffel dalam jurnal Indonesia Circle, No.66, tahun 1995. Sajak yang berjudul “Berpisah dengan Mirat” itu dikatakan telah diambil oleh seorang bernama Wil van Yperen dari sebuah majalah berbahasa Indonesia yang “kalau nggak salah Gelanggang Pemuda, Jan. 47″:

Berpisah dengan Mirat

Matahari tiba2 sudah tinggi, kami 5 x djalan lebih lekas dari
pada biasa. Djam yang menatap kami menggigil seperti
kena malaria rupanja Tiba disetasion ketjil ada lagi 2 a 3
djam untuk berhadapan

Kopi pait dan pendjual tua jang hormat ketawa sadja djadi
alasan untuk bitjara ketika kereta api bawa
aku madju bergerak, kulihat mukamu
terpaling Dan kau hilang..maka mulailah mesin dalam otakku

Mengeri meluar garis, terasa rasa hendak petjah
Penumpang2 lain djuga ikut dimakan njala
dan kering oleh hawa sebaran diriku..kudengar setan datang
Sehabis itulah berdentam dari mulutku Godverd. buat gantidosa.

Dengan membandingkan sajak di atas dengan sajak Chairil “Dalam Kereta”, Burton Raffel mengambil kesimpulan bahwa sajak “Berpisah dengan Mirat” adalah memang benar karya Chairil karena “banyak irama tipikal Chairil ada pada sajak tersebut, dan juga imaji-imaji khasnya”.

Persamaan irama dan imaji pada kedua sajak memang mendukung kesimpulan Burton Raffel tersebut, apalagi kalau kita perhatikan tahun edisi majalah dari mana sajak “Berpisah dengan Mirat” itu dicopy-ulang merupakan masa Chairil produktif menulis puisi.

Sebuah cerita yang pernah hangat beredar di kalangan sastrawan Indonesia adalah tentang sebuah kumpulan sajak pendek Chairil berjudul Kereta Api Penghabisan yang kini hilang tak tentu rimbanya. Sajak “Dalam Kereta” konon merupakan satu-satunya sajak yang berhasil selamat dari peristiwa moksa puitis itu. Dengan memakai sajak “Dalam Kereta” sebagai acuan-tema atas kumpulan sajak pendek Kereta Api Penghabisan, tidaklah sangat keterlaluan untuk membayangkan kalau kumpulan sajak Chairil yang hilang itu merupakan kumpulan puisi cinta.

Sajak cinta di atas juga mengandung sebuah nama perempuan yang selalu akan dikaitkan dengan nama penyair Chairil Anwar, yaitu Mirat atau Sumirat, seorang perempuan muda dari Jawa Timur yang dicintai tapi gagal dikawini oleh Chairil. Chairil adalah juga seorang penyair kereta api terbesar. Memakai kereta api sebagai judul kumpulan sajak cinta yang hilang itu mengisyaratkan perjalanan-perjalanan yang mesti dilakukan Chairil dari Jakarta ke kota kecil Paron di Jawa Timur demi mengejar sang Eros sekaligus menunjukkan kegelisahan hidup, ataupun displacement, yang telah menjadi identitas khas manusia modern.

Dalam hidupnya yang singkat, Chairil mengenal banyak perempuan dan sangat dekat paling tidak dengan tiga orang, Ida, Sri, dan Mirat. Chairil menulis sajak-sajak cintanya yang terdahsyat buat ketiga “les belles dames sans merci”-nya ini, sajak-sajak cinta yang belum tertandingi hingga saat ini, sajak-sajak cinta yang telah jadi sajak-sajak keramat sastra Indonesia modern:

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini? Cinta?
Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Perbedaan sajak cinta Chairil dengan sajak cinta umumnya di sastra Indonesia adalah soal hubungan cinta dengan kematian. Bagi Chairil, cinta sama dengan hidup dan kehilangan cinta berarti kehilangan hidup itu sendiri. Dalam “Sajak Putih” untuk tunangannya Mirat, Chairil melihat cinta Mirat bagi dirinya adalah “darah mengalir dari luka/antara kita Mati datang tidak membelah.semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku//” Yang paling menarik pada Chairil adalah terdapatnya semacam fatalisme yang menghubungkan peristiwa cinta dengan datangnya kematian. Pada sajak-sajak cintanya nampak betapa Chairil selalu “menyalahkan dirinya sendiri” atas gagalnya sebuah hubungan cintanya. Sadomasokisme obsesif Chairil ini selalu diulang-ulang dalam beberapa sajak cintanya sampai akhirnya mencapai klimaks pada kesadaran bahwa kegagalan terbesar dari diri (the self) adalah kematian. Cinta, atau hilangnya cinta, telah membuat Chairil sadar akan adanya kematian.

Inilah hal baru yang dilakukan Chairil pada puisi Indonesia modern, disamping perombakan bentuk dari motif pantun ke sajak bebas. Sejak sajak “cinta” awalnya pun Chairil sudah menyinggung-nyinggung soal kematian:

Nisan
untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.

Disamping soal kematian yang sudah mulai masuk ke dalam kesadaran Chairil dalam usianya yang masih cukup muda (20 tahun) waktu menulis sajak “Nisan” di atas, satu hal lain yang juga bisa dilihat di sini yang kelak mewarnai sajak-sajaknya adalah absennya sentimentalisme romantis. Chairil tidak pernah cengeng dalam mengekspresikan perasaannya, apa itu cinta, patah cinta, atau takut mati. Bahasa Chairil sudah matang dan siap pakai, walau mitos tentangnya bercerita tentang perjuangannya berbulan-bulan hanya untuk menemukan satu kata!

Chairil memang bisa dikatakan turut bertanggung jawab atas mitos populer tentang dirinya terutama yang didasarkan pada puisinya yang sangat terkenal itu, “Aku”. Gaya hidup bohemian antara dandy dan gelandangan yang dilakukannya dan beberapa sajaknya yang terkesan mendukung bohemianismenya itu telah membuat Chairil jadi “binatang jalang” individualistis yang anti-sosial. Zaman hidupnya di Jakarta tahun 40an memang mungkin membuat hal ini tidak mustahil. Budaya Barat pada masa-masa itu memang sedang goncang oleh bermacam gerakan revolusi seni dan pemikiran yang umumnya mempertanyakan kembali tradisi. Banyak yang menolak tradisi yang dianggap telah menciptakan malapetaka terbesar dalam sejarah peradaban Barat, yaitu pecahnya Perang Dunia I, sebuah perang terbesar antar sesama orang Eropa beragama Kristen yang memusnahkan jutaan jiwa dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun. Jakarta sebagai salah satu pusat kekuasaan kolonial di Asia tidak bisa lepas dari apa yang terjadi di benua Eropa. Kalahnya Rusia, Inggris, dan Belanda di Asia Timur oleh Jepang juga berdampak luarbiasa bagi wacana pemikiran kontemporer saat itu. Kritik pedas yang dilontarkan oleh Chairil atas majalah Pujangga Baru yang tidak membahas soal naiknya fascisme di Eropa jelas menunjukkan betapa global cara berpikir Chairil dibanding para seniornya tersebut. Mungkinkah S Takdir Alisjahbana menjadi “binatang jalang” walau “polemik kebudayaan” yang dilakukannya memberi kesan seolah dia merupakan seorang eksentrik pada zamannya!

Mitos populer tentang Chairil itu akan lebih bulat dilihat relevansinya kalau mempertimbangkannya juga sebagai sebuah persona, semacam topeng yang dipakai untuk menutupi diri-yang-sebenarnya (the-real-self) yang terekspresi dengan penuh dalam sajak-sajaknya, terutama sajak-sajak cintanya. Dualisme begini cukup biasa terjadi di dunia seni. Ada hal-hal sangat sensitif yang hanya bisa diungkapkan oleh penyair lewat puisi di mana suara narator puisi tidak mesti diartikan sebagai suara senimannya sendiri. Penyair bisa cuci tangan dan meminta pembacanya meminta pertanggungjawaban tekstual pada narator puisinya. Sulit memang untuk menerima fakta bahwa Chairil Anwar adalah binatang jalang yang selalu ditinggal pacarnya! Tapi dualisme antara keeksentrikan seniman dengan karya seninya malah sering membuat seniman tersebut jadi lebih menarik, lebih hidup, lebih manusiawi dibanding yang hitam putih monoton seperti Khalil Gibran yang sangat terkenal di kalangan non-pembaca-sastra Indonesia. Membaca sajak-sajak cinta Chairil akan memberikan sebuah dimensi baru pada apresiasi kita atas dirinya, karyanya, dan mitos tentangnya.

Subjek umum puisi Chairil adalah dirinya sendiri, kesangsiannya, keresahannya, atau nostalgianya. Puisi otobiografis macam begini adalah puisi interior, atau lebih populer dikenal sebagai puisi konfesional. Sebagai puisi konfesional, sajak-sajak Chairil bukanlah komentar-komentar objektif atas dunia eksternal, atas apa yang terjadi di luar diri penyairnya, seperti epik atau balada. Sajak-sajak Chairil adalah simbol-simbol dari sikap dan rasanya dan mesti diinterpretasikan demikian. Inilah ciri khas dari puisi lirik dan puisi Chairil adalah puisi lirik terkuat yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia.*** 

*Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta. 

Selengkapnya: Dikutuk-sumpahi Eros

Sastra yang Tidur Dalam Kulkas

Oleh: Saut Situmorang*

“Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.” Demikianlah bunyi empat baris pertama prose-poem Afrizal Malna yang berjudul “Persahabatan Dengan Seekor Anjing” dari bukunya Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (Bentang, 2002).

Sajak prosa Afrizal tersebut, bagi saya, merupakan semacam metafor atas apa yang selama ini dikenal sebagai “sastra Indonesia”. Saya bilang selama ini karena, bagi saya, saat ini sudah tak ada lagi “sastra Indonesia” itu. Walau bahasa ekspresinya masih memakai bahasa “Indonesia”, tapi isi dari “sastra” yang disebut sebagai “sastra Indonesia” tersebut sudah bukan sastra lagi melainkan sesuatu yang cuma berpretensi sebagai “sastra” belaka. Dunia “sastra Indonesia” saat ini telah menjadi sebuah “negara” dalam sebuah “kulkas” dengan “partai-partai spanduk dan kaos oblong”. Sebuah negara “yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing” sambil “mencekik suara rakyat”nya sendiri, yaitu para sastrawan, para seniman sastra, yang dalam kepala masing-masing tak ada ambisi ekstra-literer kecuali hanya bagaimana mencipta karya-karya sastra yang baik dan perlu untuk dibaca oleh pembaca lokal maupun internasional. Baik karena memang ditulis sebagai sebuah karya seni dan perlu untuk dibaca karena memang menawarkan sebuah ide, sebuah pemikiran yang bisa memperkaya pengalaman intelektual pembacanya. Para seniman sastra yang mempertaruhkan reputasi kesenimannya hanya pada mutu karyanya, bukan pada politik berkesenian yang semata-mata didukung oleh besarnya jumlah uang dan dusta belaka.

Arogansi yang cuma bersandar pada besarnya jumlah uang dan retorika dusta sudah merajelela dalam dunia kang ouw sastra Indonesia. Para dilettante sastra, para petualang sastra merajalela, menjadi paus-paus sastra baru, mencipta kanon-kanon sastra baru. Tapi tak pernah sekalipun para paus-paus sastra baru ini mampu membuktikan di mana sebenarnya kedahsyatan kanon-kanon sastra baru yang mereka ciptakan itu. Berhasilnya mereka menjadi paus-paus sastra baru yang mencipta kanon-kanon sastra baru pun bukan disebabkan oleh kedahsyatan argumentasi teori seperti yang biasanya terjadi dalam sebuah dunia yang demokratis dan beradab tapi cuma karena dominasi besarnya jumlah uang dalam bentuk media massa yang mereka miliki semata. Media mereka inilah yang menjadi alat retorika dusta mereka. Media mereka inilah arogansi mereka.

Impotensi kritik sastra di Indonesia merupakan sebuah penyebab utama merajalelanya para dilettante sastra. Otoritas akademis/teoritis sebuah institusi kritik sastra di “negara yang sibuk mengurus makanan anjing” ini sudah digantikan oleh otoritas modal kapitalis.

Kondisi pascakolonial ini makin diperparah oleh munculnya sebuah fenomena baru, yaitu maraknya keberadaan komunitas pengarang. Komunitas pengarang yang sejatinya adalah perkumpulan sekelompok pengarang independen yang berideologi artistik yang sama — seperti yang kita kenal dalam sejarah peradaban Barat pada para pengarang Neo-Klasik, para pengarang Romantik, para pengarang Simbolis, para pengarang Ekspresionis, para pengarang Futuris, para pengarang Imagis, para pengarang Dada, Surrealis, Absurd, Eksistensialis, Realis-Magis, Beat, L-A-N-G-U-A-G-E, Konkrit, Marxis, Feminis, Pascakolonial, Posmo… — di negeri ini ternyata cuma menjadi komunitas sastra arisanis belaka.

Namanya saja “komunitas pengarang” tapi orientasi hidupnya bukanlah mengarang dalam pengertian kreatif kata tersebut melainkan menunggu antrean arisan untuk diundang baca puisi atau baca prosa oleh komunitas sastra yang paling dominan kekuasaan uangnya.

Idealisme para leluhur mereka yaitu para pengarang Barat (yang sering mereka ejek atau puja-puji setinggi langit walau tak pernah mereka baca/pahami dengan sebenarnya itu) yang telah berhasil mewariskan beragam aliran estetika di atas telah mereka campakkan ke dalam tong sampah sejarah. Akibatnya, bukan pluralisme gaya menulis yang terjadi tapi keseragaman fascis estetika. Bukan keseragaman eksplorasi artistik yang menghasilkan gerakan seni (art movement), tapi fetishisme selera seseorang, atau dua orang, yang menjadi duta besar kepentingan politik komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya. Koran dan majalah adalah kedutaan-besar komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya.

Skandal sastra adalah kanonisasi sastra, tapi dalam versi Indonesia, skandal sastra adalah sekedar skandal sastra. Skandal sastra yang disebabkan buku puisi Baudelaire Les fleurs du mal (1857) di Prancis, yang disebabkan novel Lady Chatterley’s Lover (1928) DH Lawrence di Inggris, yang disebabkan novel esek-esek Henry Miller Tropic of Cancer (1934) atau buku puisi Howl (1956) Allen Ginsberg di Amerika Serikat, misalnya, telah membuka sebuah horison kemungkinan gaya mengarang yang baru pada masing-masing budaya, telah menyebabkan musim semi artistik pada dunia sastra masing-masing budaya.

Tapi skandal sastra pada apa yang dulu disebut “sastra Indonesia” itu cuma memperparah kondisi impotensi kritik sastra dan meningkatkan kekuatan dominasi komunitas sastra tertentu yang memang sengaja menciptakan skandal-skandal sastra tersebut.

Skandal sastra adalah alat untuk melegitimasi sekaligus memperkokoh status quo komunitas sastra yang paling besar kekuasaan uangnya. Skandal sastra itu sendiri bisa mengambil bentuk pembuatan klaim-klaim pseudo-kritik sastra atas karya-karya sastra tertentu, biasanya menjatuhkan untuk karya produk komunitas lain dan mengelu-elukan kalau dikarang anggota komunitas sendiri. Klaim-klaim pseudo-kritik sastra itu sendiri diumumkan bukan lewat jalur komunikasi informasi yang netral tapi melalui media massa nasional yang dimiliki komunitas yang berkepentingan dimaksud. Skandal sastra juga dilakukan lewat pemberian hadiah sastra kepada pengarang-pengarang tertentu atau, ini yang paling sering menjadi pilihan strategis, melalui undangan festival sastra yang diselenggarakan komunitas yang berkepentingan dimaksud. Tapi dengan satu catatan pinggir: para pengarang “tertentu” yang dipilih tersebut memang sudah tertentu ideologi kepengarangannya, yaitu minimum bukan merupakan pengarang yang akan kritis terhadap sepak-terjang komunitas dimaksud. Seorang pengarang boleh saja kritis atas dekadensi kultural yang dikembangbiakkan komunitas dimaksud tersebut tapi asal dia tutup mulut dan pura-pura tidak tahu maka kesempatan untuk terpilih dalam arisan menikmati kue kesastraan ala komunitas tersebut sudah jauh lebih terpastikan.

Seperti yang diteriakkan penyair Beat, Allen Ginsberg, dalam baris pembuka yang sangat terkenal dari puisi panjangnya Howl yang kontroversial itu, “I saw the best minds of my generation destroyed by madness, starving hysterical naked”, begitulah yang saya lihat sudah dan sedang terjadi pada otak-otak cemerlang generasi saya yang rusak karena gila ketenaran instan 15-minute fame ala MTV, lapar histeris akan legitimasi status kesastrawanannya, oleh silau ilusi pseudo-kosmopolitanisme yang dengan naif disangkanya direpresentasikan oleh komunitas yang “kekuatannya” semata-mata bersandar pada besarnya jumlah uang yang dimilikinya, bukan pada canggihnya pengetahuan dan kemampuannya.

Kenapa saya terus menerus menyinggung soal “besarnya jumlah uang” yang dimiliki oleh komunitas (-komunitas) sastra tertentu dalam esei saya ini? Jawabannya sederhana; dalam bahasa bangsa saya bangsa Batak Toba dikatakan bahwa “hepeng do na mangatur negaraon”. Memang uanglah yang mengatur negara “yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing” ini, yang terpesona pada superfisialitas, pada kosmetik, pada obskuritas.

Bagaimana mungkin bisa memiliki media cetak yang art paper kertasnya dan berkilauan sampul pembungkusnya tanpa memiliki uang dalam jumlah yang besar! Bagaimana mungkin bisa menyelenggarakan apa yang dengan arogan mereka klaim sebagai “festival sastra internasional” (walau tak ada orang yang pernah mendengar nama-nama apalagi membaca karya dari yang mereka katakan sebagai “para sastrawan internasional” tersebut!) kalau tak punya uang dalam jumlah yang besar!

Yang kemudian menjadi persoalan (di luar persoalan “keinternasionalan” dan “keseniman” para undangan dari luar tadi) tentu saja adalah asal-usul dari uang yang jumlahnya besar itu sendiri. Kecurigaan saya, nama eksotis Dunia Ketiga “sastra Indonesia” yang digadaikan di luar sana (di mana konsep “dosa sejarah” kolonialisme Barat sudah menjadi moralisme baru political correctness dalam konteks wacana pascakolonialisme) untuk mengongkosi penyelenggaraan sebuah event sastra “internasional” yang sekaligus dijadikan alat legitimasi domestik atas kosmopolitanisme komunitas lokal yang melakukannya. Di sinilah retorika dusta telah menjadi diplomasi kultural yang canggih. Atau dalam bahasa pepatah orang awak di Sumatera sana: Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati.

Kenapa semua ini bisa terjadi justru setelah negeri ini terlepas dari cengkraman kediktatoran penguasa militer? Jawab kenapa.***

*Saut Situmorang, penyair dan eseis, tinggal di Jogjakarta.

Selengkapnya: Sastra yang Tidur Dalam Kulkas

Susastra untuk Keluarga

Sunday, 27 July 2014

Oleh : Mathori A Elwa. Penyair. Editor Senior Nuansa Cendekia,  Tinggal di Jogjakarta.

Mereka, para sastrawan, penulis, jurnalis, dan kaum cerdik-cendekia– tentu saja yang telah memiliki level kesadaran intelektual tinggi– menyadari pentingnya kesusastraan sebagai nafas hidup mereka. Sebagian karena alasan praktis, sebagian karena alasan yang abstrak.

Alasan praktis biasanya merujuk pada pentingnya merawat dan mengembangkan imajinasi dalam diri manusia. Imajinasi dalam pengertian ini adalah sebuah basis kreatif alam-pikir individu yang harus dirawat dan dikembangkan, karena dengan itulah kreativitas itulah hidup akan senantiasa berkembang.

Imajinasi juga dianggap penting mengingat manusia hidup tidak cukup hanya menggunakan rasio murni, atau menurut Imanuel Kant, tak cukup dengan mengandalkan “nalar instrumental”. Dengan sastra (dalam hal ini fiksi), diharapkan pula dari sini muncul kecerdasan yang harmonis antara otak kanan dan otak kiri.

Lain daripada itu, fiksi,–terutama karya-karya bermutu–, tidak mengajak manusia terjebak pada tahayul. Dengan itulah mengapa sastra diperlukan manusia modern, karena ia tetap memenuhi syarat untuk hidup dalam ruang rasionalitas modern, tetapi menjebak pola-pikit ke dalam “rasio-instrumental”, yang kaku, melainkan mengembangkan nalar secara kreatif, dinamis dan bahkan mengajak kita hidup lebih humanis.

Argumen mendasar di atas itu kemudian menyadarkan kaum cerdik cendekia senantiasa menggemari susastra dari beragam jenis. Tak jarang, kegemaran mereka membaca susastra sangat gila. Kecanduannya dari remaja hingga menjelang masuk liang kubur meliputi bacaan jenis puisi, novel, hingga studi susastra ilmiah.

Namun, harus pula diakui bahwa dari penggila susastra itu hanya menyadari/merasakan manfaatnya, tetapi  sering tidak mampu menjelaskan alasan mengapa ia gemar gila susastra. Rata-rata mereka hanya mampu menjawab sebagai hobi. Tetapi alasan sebagai sekadar hobi sekalipun, tetaplah baik. Sebab rata-rata penghobi susastra kebanyakan adalah golongan orang-orang yang memiliki jiwa intelektualitas tinggi.

Keluarga bermutu peduli susastra
Sedikit alasan di atas, paling tidak akan membuka kesadaran kita mengapa susastra tetap hidup di masyarakat modern, bahkan semakin maju kebudayaan masyarakat, semakin banyak pecinta susastranya. Negara Inggris, Jepang, Korea Selatan, Belanda, Amerika Serikat, Perancis, Italia, dan beberapa negara maju lainnya telah membuktikan sebagai bangsa dengan masyarakat penggila sastra yang luar biasa.

Dengan kata lain, saya ingin memastikan bahwa susastra memang menempati golongan masyarakat “elit”, dalam artian elit secara intelektual, atau elit secara adab, dan bukan semata elit secara ekonomi. Sebab, harus diakui, tidak setiap orang kaya, bahkan mereka yang elit dari sisi sosial seperti ningrat atau menak, menggilai susastra.

Orangtua perlu sastra agar pikiran memiliki ruh, dan yang lebih penting lagi adalah mampu menyelami dunia batin imajinasi. Ini sangat penting karena kebanyakan anak-anak kita sangat lekat hidup dengan dunia imajinasi yang penuh kreativitas.

Dengan menetapkan sastra sebagai bagian dari keluarga, kelak anak-anak kita ketika dewasa akan hidup dengan jiwa dan karakter yang lebih baik. Orangtua,–yang sekalipun selama masa mudanya, bahkan sampai tua kurang menyukai dunia susastra,– tentu perlu mengubah pandangannya tentang susastra yang tidak penting menjadi susastra itu maha penting. Seandainya, tetap merasa tidak suka membaca, paling tidak harus memiliki kepedulian untuk menanamkan pentingnya susastra bagi anak-anaknya. Tentu bukan sekadar anjuran, melainkan mengajak anak-anak membaca, dan orantua bijak selalu membelanjakan buku-buku susastra kepada anak-anaknya.

Tema-tema susastra tidak terlalu sulit dipetakan. Ada fiksi seperti novel dan cerpen, termasuk komik, ada pula karya puisi atau bentuk cerita lainnya. Cerita-cerita rakyat, legenda, kisah hikmah, atau roman sebanyak mungkin diberikan kepada anak-anak remaja. Perpustakaan sekolah sejauh ini kurang memenuhi kebutuhan bacaan tersebut, karena itulah orangtua harus mengalokasikan belanja buku-buku penting tersebut sebagai bacaan remaja.

Pada level dewasa, selevel usia SMA dan mahasiswa, novel-novel karya penulis-penulis besar dunia harus mulai dibaca. Bacaan sastra bermutu karya Leo Tolstoy, H.G. Well, Najib Mahfudz, Rudyat Kipling, William Shakespeare, Rabindranat Tagore, Dostoevky, John Galwrthy, Edgar Allan Poe, Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal, Kahlil Gibran, Najib Kaelani, Marx Twain, Albert Camus, setidaknya disediakan di perpustakaan keluarga.

Begitu juga karya terbaik sastrawan Indonesia seperti Idrus, Muchtar Lubis, Aoh K Hadimadja, Pramudya Ananta Toer, Remy Sylado, Ali Audah, Ramadhan KH, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Titis Basino, Gerson Poyk, YB Mangunwijaya, Ajip Rosidi, Umar Kayam, Budhi Dharma, NH Dini, Seno Gumira Adjidarma, AS Laksana,  Hamzah Fansuri, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Muhamad, WS Rendra, A Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, Dorothe Rosa Herliany, Widji Thukul, Linda Christanty, sebaiknya sudah menjadi koleksi para remaja kita. Karya-karya penulis Indonesia yang saya sebut itu mungkin bukunya tidak best-seller seperti Laskar Pelanginya Andreas Hirata atau Supernova-nya Dewi Lestari, tetapi kedudukan nilainya tentu lebih tinggi di banding susastra popular.

Melawan televisi
Jika hobi mengoleksi karya susastra sudah menjadi kebiasaan, waktu “luang” anak-anak remaja dalam lingkungan keluarga secara otomatis akan lebih penting digunakan untuk membaca, bukan menonton televisi. Keluarga yang tidak memiliki koleksi bacaan yang bagus, waktunya dihabiskan untuk menonton televisi atau cilakanya sekarang banyak membaca berita online yang buruk mutunya.

Penelitian menunjukkan bahwa tontonan televisi yang digemari mayoritas keluarga kita pasti tidak mendidik. Bahkan kini mulai tumbuh kesadaran di kalangan keluarga terdidik, di rumah mereka tidak lagi menyediakan televisi, melainkan VCD, agar selera anak-anak mereka dapat diarahkan secara positif.  Terbukti, bahwa keluarga demikian pasti menggemari tontonan dan bacaan bermutu, bukan tontonan dekaden dan membodohkan.

Waktu remaja, Rabindranat Tagore biasa mendengarkan dengan khusuk ayahnya mendendangkan syair-syair Jalaluddin Rumi di samping Bagawatgita. Tak heran jika Tagore tumbuh sebagai seorang yang berpandangan luas dan imajinasinya tumbuh amat subur. Kita mengenalnya sebagai pujangga besar India. Tradisi membaca karya sastra dan kitab suci secara bersamaan sebenarnya berlaku di dunia Timur, terutama di kalangan keluarga kelas menengah.  Pendiri Tempo Group, Goenawan Mohammad sejak remaja banyak dipasok pengetahuan oleh ayahnya dengan bacaan-bacaan berjimbun dan diarahkan untuk memahami susastra. Ada pula tokoh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholis Madjid yang terbukti menjadi manusia berkualitas kelas internasional karena tradisi keluarganya sangat kuat dengan literatur susastra.

Di Indonesia, terutama pada keluarga kaum santri sebenarnya sudah punya potensi dengan dekatnya mereka dengan susastra Arab.  Selain membaca Kitab suci Al-Quran, keluarga santri juga menyertakan bacaan susastra bermutu seperti susastra klasikAl-Barjanji, Maulid Diba’, Simdud Durar dll. Bahkan ketika memiliki hajat, misalnya mau membangun rumah, karya sastra yang bertajuk Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jilani dibaca dengan melalui prosedur tertentu, yakni membuat ingkung (memasak ayam jantan) dan beberapa jenis makanan dan minuman tertentu; pemasaknya orang yang sudah tidak bisa haid, ketika memasak tidak boleh berbicara alias harus “topo bisu”, dan seterusnya).

Sementara di sebagian kalangan keluarga keturunan Cina, bacaan-bacaan tentang susastra dan sejarah Tiongkok juga cukup menjadi tradisi yang bisa diandalkan. Itu adalah modal besar bagi bangsa kita untuk menghargai karya sastra secara kreatif.

Pembentukan karakter dimulai dari keluarga. Dan karya sastra bermutu mengisi jiwa kita dengan asupan cahaya spiritualitas, seperti halnya Kitab Suci mengisi jiwa kita dengan cahaya Ilahi. Keluarga tanpa asupan kedua jenis spiritualitas demikian dapat dipastikan jiwanya kering kerontang, karakternya rapuh, wataknya kaku dan keras, hatinya angkuh, tak sudi belajar kepada orang lain, anti-kritik, dan —celakanya— senang menyaksikan pembunuhan atau tayangan horor, –lebih celaka lagi– hobi membunuh sesama manusia

Karena itu, jika kita sekarang sedang mendengar slogan “revolusi mental” barangkali salahsatu agenda terpentingnya adalah menjadikan setiap keluarga sebagai keluarga yang memiliki kesukaan terhadap karya susastra bermutu.

Sebab, kalau sekedar banyak baca tetapi bacaannya adalah karya kurang berkualitas, atau bahkan hanya sekadar baca informasi online yang muatannya kebanyakan sampah, sulitlah kita berharap munculnya manusia-manusia Indonesia yang berbudi pekerti sejalan dengan idealitas pancasila .[]

Selengkapnya: Susastra untuk Keluarga

Apresiasi Sastra dan Karakter Bangsa

Thursday, 26 June 2014

Oleh: Kalis Mardi Asih

Moral atau karakter adalah unsur isi yang tak dapat dipisahkan dari karya sastra. Karya sastra adalah karya estetis yang memiliki fungsi untuk menghibur serta memberi kenikmatan emosional dan intelektual. Pandangan Aristoteles mengenai teori mimetic menyatakan dalam proses penciptaan sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan, melainkan sekaligus menciptakan sebuah ”dunia” dengan kekuatan kreativitasnya.

Aristoteles memandang sastra sebagai sesuatu yang tinggi dan filosofis, bahkan mempunyai nilai lebih tinggi dibanding karya sejarah (Luxemburg dkk, 1992 : 16-7). Pesan religius dan keagamaan serta pesan kritik sosial yang senantiasa lekat dalam karya sastra menyebabkan sastra mendapat tempat khusus dalam kurikulum pendidikan kita, khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Sastra dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagaikan cat warna dalam karya seni lukis. Sayangnya, dewasa ini isu tentang nasionalisme anak bangsa dipertanyakan karena fenomena produk budaya asing yang lebih digemari daripada produk dalam negeri. Film-film serta lagu-lagu Barat dan Korea lebih diminati remaja kita dibanding hasil karya anak negeri. Mereka fasih bernyanyi atau melafalkan bahasa asing untuk berkomunikasi dengan teman sejawat.

Tanpa disadari, produk-produk turunan seperti pakaian, makanan, dan aksesori dari negara asing pun laris manis menjajah industri dalam negeri. Produk budaya asing tak berarti buruk, namun produk budaya lokal pasti lebih kaya dan mengajarkan nilai-nilai kearifan dan kebangsaan dalam bermasyarakat.

Bahasa sebagai bagian peradaban yang paling tak dapat kita pisahkan dari keseharian karena kebutuhan untuk berkomunikasi serta bersosialisasi adalah warisan budaya yang tak ternilai harganya. Banyak akademisi dan ahli bahasa yang kemudian meneliti bahasa. Mayoritas dari penelitian itu menghasilkan hipotesis mengenai tingkat kemudahan masing-masing bahasa saat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah anggapan bahwa bahasa asing lebih ekspresif digunakan di kalangan para remaja kita yang sedang memasuki fase pubertas. Namun, apakah benar masalahnya ada pada unsur struktur kebahasaan? Apakah generasi muda kita memikirkan unsur intrinsik bahasa dalam menyerap produk-produk budaya? Bagaimana metode analisis wacana dan sistem pembelajaran yang tepat untuk menjadi solusi degradasi moral bangsa?

Selama ini, ruang-ruang belajar di sekolah tampak mati. Pembelajaran seolah-olah terjadi, namun kenyataannya yang ada hanya tak lebih dari sekadar ceramah teori. Setelah mendapat teori, siswa kemudian dituntut berproduksi atau berkarya, tak peduli bagaimana kualitas karya tersebut.

Hal inilah yang menyebabkan kita menghasilkan banyak karya sastra, namun tak pernah menyumbangkan ilmu sastra untuk dunia ilmu pengetahuan. Kita juga tak terdidik menjadi bangsa yang kritis karena ada satu jenjang pembelajaran yang kita lewati, yakni apresiasi karya.

Stilistika kesastraan merupakan sebuah metode analisis karya sastra secara objektif dan ilmiah tentang karakteristik khusus sebuah karya. Nurgiyantoro (2007: 280) menyatakan kajian stilistika dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan antara apresiasi estetis (perhatian kritikus) di satu pihak dengan deskripsi linguistik (perhatian linguis) di pihak lain.

Dua unsur ini dapat diobservasi dengan bebas tanpa keharusan dari titik mana dahulu kita harus berangkat sebab baik linguistik maupun wawasan estetis-literer dapat saling menstimulasi. Hal tersebut tampak dari unsur-unsur dalam stile yakni unsur leksikal atau diksi, unsur gramatikal yang mengacu pada struktur kalimat, serta unsur retorika atau cara penggunaan bahasa untuk mendapatkan efek estetis.

Kompleksitas dalam stilistika memang bukan hal yang mudah, namun dengan mengasah kepekaan siswa terhadap hal-hal seperti ini diharapkan akan lahir kembali karya-karya sastra yang monumental sehingga produk budaya bangsa sendiri akan dicintai dan mendapat penghargaan dari generasi penerus bangsa.

Dalam praktik di kelas, guru dapat menciptakan suasana yang nyaman ketika siswa diberi waktu khusus untuk menyelesaikan bacaan, menonton film, atau menikmati sebuah lagu. Guru juga dapat mengajarkan siswa untuk membandingkan karya-karya yang monumental pada zamannya, misalnya karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) yang menyajikan agama (syariat) sebagai sesuatu yang diyakini para tokohnya dengan karya-karya A.A. Navis yang menyajikan unsur keagamaan dan religiositas secara koheren dalam cerita.

Guru juga dapat menghadirkan karya-karya masa kini seperti membandingkan karya Ayu Utami, Mustofa Bisri, Darwis Tere Liye, Andrea Hirata, dan lain-lain. Melalui kegiatan semacam itu, siswa akhirnya mengerti bahwa sebuah karya merupakan anak zaman yang memiliki pengaruh penting dalam kehidupan berbangsa.

Guru diharapkan dapat memberikan kesimpulan bahwa karya sastra yang baik adalah karya yang dapat mengubah persepsi dan kehidupan banyak orang, bukan hanya karya komoditas kejar tayang. Empat pilar penyangga budaya yakni mitos, logos, ethos, dan patos juga wajib diinternalisasikan dalam kegiatan pembelajaran. Mitos adalah kesamaan cita-cita dan nilai-nilai norma yang diusahakan dan dijunjung bersama oleh pemiliknya.

Mitos ini berarti menyangkut ideologi atau falsafah hidup bangsa. Mitos didukung logos, yakni pemikiran yang diasah untuk mewujudkannya serta ethos yang merupakan kemampuan mengorganisasi berbagai kemampuan manusia (cipta, rasa, dan karsa). Dua hal ini diterjemahkan dalam sistem pendidikan nasional dan atau kurikulum.

Produk budaya yang dihasilkan erat kaitannya dengan patos yang tak lain merupakan kemampuan yang muncul dari pengalaman manusia. Demikianlah, kegiatan apresiasi (di dalamnya juga kritik sastra) adalah upaya untuk memperkaya wawasan dalam empat pilar penyangga budaya tersebut.

Seiring perkembangan zaman kapitalistik, peningkatan frekuensi serta kapasitas produksi industri menjadi hal yang diutamakan. Semakin banyak penerbit-penerbit indie bermunculan sehingga siapa pun dengan bebas dapat menerbitkan karyanya. Terlebih di zaman teknologi informasi, siapa saja dapat mengunggah karya melalui laman pribadi (blog) atau media sosial.

Diperlukan kemampuan dan kepekaan khusus agar kita dapat menempatkan karya-karya yang memang bermutu pada posisi yang semestinya. Melalui pendekatan stilistika dalam kegiatan apresiasi sastra, generasi muda kita akhirnya dapat menilai kualitas produk-produk budaya. Dan akhirnya, semoga cita-cita pendidikan untuk membendung degradasi moral dapat tercapai melalui sesuatu yang indah: karya sastra!

Kalis Mardi Asih (kalis.mardiasih@gmail.com)
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret 

Sumber: http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/03/mimbar-kampus-apresiasi-sastra-dan-karakter-bangsa-443741

Diposting harianjogja pada Selasa, 3 September 2013 
Selengkapnya: Apresiasi Sastra dan Karakter Bangsa

Si Kakek, Burung Bulbul, dan Garcia Marquez

Tuesday, 29 April 2014

Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu 27 April 2014
Klik gambar untuk memperbesar


Sumber: http://linkis.com/bit.ly/iFKdo
Selengkapnya: Si Kakek, Burung Bulbul, dan Garcia Marquez

Ekstasi Puisi

Thursday, 10 October 2013

Oleh Saut Situmorang

Di saat sedang membaca puisi, terutama kalau puisi yang sedang saya baca itu mampu menimbulkan apa yang oleh si pemikir Junani Kuno Aristoteles disebut sebagai “katharsis”, yaitu semacam rasa nikmat ekstasi-tekstual, atau tekstasi, saya selalu dikonfrontasi oleh sebuah pertanyaan: Kenapa bisa timbul tekstasi tersebut? Apa yang menyebabkannya?

Tapi perlu saya tambahkan buru-buru bahwa “rasa nikmat ekstasi-tekstual” atau “tekstasi” itu tidak terjadi karena saya kebetulan membaca puisi seorang penyair yang sudah terkenal. Maksud saya, terkenal-tidaknya “nama” seorang penyair, bagi saya, tidak otomatis menimbulkan katarsis dalam peristiwa pembacaan yang saya lakukan. Reputasi biografis seorang penyair terkenal paling-paling cuma menambah rasa suspense, atau harapan-untuk-kejutan, yang lebih besar saja bagi kemungkinan terjadinya sebuah katarsis. Bahkan tidak jarang banyak sajak para penyair terkenal ternyata hanya mampu untuk tidak menimbulkan respon apa-apa pada diri saya, kecuali rasa mual tekstual, setelah membacanya, sehingga membuat saya heran kok sajak beginian bisa keluar dari imajinasi seorang yang terkenal. Malah sangat sering membuat saya menggerutu, apa sebenarnya yang membuat si penyair bisa terkenal. Sebaliknya, tidak jarang ada sajak penyair keroco, penyair sekedar, bahkan penyair pemula yang justru membuat saya terangsang secara tekstual, dan menimbulkan katarsis tadi. Jadi, belajar dari pengalaman, ternyata dalam dunia kepenyairan, dalam dunia kang-ouw puisi, nama bukanlah merek yang bisa menjamin atau menentukan mutu, seperti di dunia kapitalisme konsumer. Kembali ke pertanyaan di awal esei saya ini, lantas apa yang menyebabkan sebuah puisi bisa menimbulkan katarsis setelah membacanya?

Jawaban akademis yang biasanya diberikan adalah apa yang dalam teori sastra disebut sebagai faktor “kesastraan” (literariness) sebuah teks sastra. Faktor kesastraan sebuah teks sastra, puisi misalnya, tak lebih tak kurang adalah unsur-unsur linguistik yang diyakini merupakan elemen-elemen paling penting dalam anatomi teks, yakni pola-pola bunyi dan sintaksisnya seperti repetisi, aliterasi, rima, irama dan bentuk-bentuk stanzanya, termasuk juga kadar sering munculnya kata-kata kunci atau imaji-imaji tertentu. Inilah yang disebut sebagai “alat artistik” (bahasa) puisi itu yang fungsinya bukan sebagai hiasan-tambahan bagi makna puisi, tapi justru menyebabkan perombakan total bahasa di tingkat semantik, bunyi dan sintaksisnya. Singkatnya, faktor kesastraan inilah yang membuat bahasa teks sastra seperti puisi dianggap unik, berbeda, dari bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari manusia. Atau dalam kata lain, inilah bedanya bahasa puitis dari bahasa prosais itu.

Bagi saya sendiri, kesastraan bahasa puisi seperti yang diungkapkan kaum Formalis Rusia di atas masih belum cukup untuk membuat sebuah puisi berhasil menjadi puisi, mampu menciptakan katarsis. Ada faktor lain di luar faktor linguistik (pola persajakan/versifikasi, misalnya) yang juga memiliki fungsi artistik yang tidak kalah pentingnya dalam membuat “sebuah sajak menjadi” (dalam istilah Chairil Anwar). Faktor lain ini adalah apa yang oleh kaum Kritik Baru (New Criticism) Amerika disebut sebagai “relasi timbal-balik yang kompleks antara aspek-aspek ironi, paradoks, dan metafor dari makna bahasa sebuah karya, serta pengorganisasian ketiganya di sekitar sebuah ‘tema’ kemanusiaan yang penting”. Kombinasi dari kedua pandangan inilah, bagi saya, yang menjadi “kesastraan” sebuah puisi, yang memungkinkannya untuk menimbulkan ekstasi-tekstual pada pembacanya. Paling tidak, di sisi lain, kedua definisi “kesastraan” puisi ini mesti disadari seseorang yang ingin melakukan sebuah close-reading atas puisi, sebuah pembacaan yang mendetil dan jelas atas kompleksitas antar-relasi dan ambiguitas dari unsur-unsur yang membangun sebuah karya.

Kombinasi kedua pandangan di atas biasanya akan kita temukan dalam sajak yang menjadi. Dan sajak yang menjadi ini biasanya adalah sajak yang bercerita, sajak yang memiliki sebuah topik pembicaraan, bisa tentang percintaan, kelahiran, kematian, matahari dan bulan, atau ketuhanan, yaitu pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman, mengutip Chairil lagi, dan tidak sekedar berindah-indah dengan permainan kata atau dengan musikalitas kesamaan bunyi kata. Bagi selera saya sendiri, semua sajak Chairil dan sajak-sajak Rendra dalam kumpulan Blues untuk Bonnie adalah sajak-sajak bercerita yang menjadi.

Kematangan penguasaan bahasa (dalam phrasing diksi dan irama metrikalnya) dan intensitas penghayatan pengalaman hidup merupakan dua hal yang tak dapat ditawar-tawar bagi seseorang yang ingin menjadi seorang penyair yang menjadi. Kemampuan teknis yang matang untuk menceritakan pengalaman hidup yang dengan intens dihayati adalah ciri utama puisi Chairil dan puisi Rendra di atas. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai imajinasi itu. Satu saja dari kedua persyaratan utama untuk menjadi penyair yang menjadi ini tidak dimiliki, maka apa yang kita hadapi bukanlah sebuah imajinasi tapi khayalan kosong belaka. Dan penyair yang bisanya hanya berkhayal belaka bukanlah seorang penyair yang menjadi, tapi cuma seseorang yang menjadi penyair sekedar, malah mungkin, tanpa disadarinya sendiri, cuma seseorang yang menjadi penyair gagal.

Karena, seperti yang diyakini Chairil sendiri:
“Sebuah sajak yang menjadi adalah suatu dunia. Dunia yang dijadikan, diciptakan kembali oleh si penyair. Diciptakannya kembali, dibentukkannya dari benda (materi) dan rohani, keadaan (ideeel dan visueel) alam dan penghidupan sekelilingnya, dia juga mendapat bahan dari hasil-hasil kesenian lain yang berarti bagi dia, berhubungan jiwa dengan dia, dari pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat orang lain, segala yang masuk dalam bayangannya (verbeelding), anasir-anasir atau unsur-unsur yang sudah ada dijadikannya, dihubungkannya satu sama lain, dikawinkannya menjadi suatu kesatuan yang penuh (indah serta mengharukan) dan baru, suatu dunia baru, dunia kepunyaan penyair itu sendiri.

Jalan, ketumbuhan, proses dari penciptaan kembali ini, datangnya, keluarnya, tersemburnya dari konsepsi si penyair, penglihatannya (visie), cita-citanya (ideaal-ideaal), perasaan dan pergeseran hidupnya, pandangan hidupnya, dasar pikirannya. Semua cabang-cabang dan ranting-ranting dari bahan pokok yang besar ini haruslah sesuatu yang dialami, dijalani (dalam jiwa, cita, perasaan, pikiran atau pengalaman hidup sendiri) oleh si penyair, menjadi sebagian dari dia, suka dan dukanya sendiri kepunyaannya, kepunyaan rohaninya sendiri. Dan ditambah lagi dengan tenaga mencipta, tenaga membentuk, yang mengatur dengan pikir serta rasa, dengan pertimbangan dan pikiran sehingga terjadilah suatu kehidupan, suasana, kehidupan dan tokoh (gestalte).”

Kalau kita perhatikan pernyataan kredo puisi Chairil yang sengaja saya kutip dengan panjang itu maka terlihatlah betapa bagi Chairil penghayatan kehidupan yang intens (alam dan penghidupan sekeliling, hasil-hasil seni lain, pikiran-pikiran orang lain) merupakan unsur utama sajak yang menjadi itu. Begitu juga dengan kematangan teknik, yang dengan khas disebut Chairil sebagai “tenaga mencipta, tenaga membentuk, yang mengatur dengan pikir serta rasa, dengan pertimbangan dan pikiran”. Hidupnya istilah-istilah yang dipakai Chairil dalam kutipan di atas, tidak bisa tidak, menunjukkan betapa bagi dirinya sebuah sajak yang menjadi itu bukanlah sebuah sajak yang asal-jadi. Intensitas adalah segalanya. Itulah sebabnya bagi dia sebuah sajak yang menjadi adalah suatu dunia, suatu dunia baru, yang indah serta mengharukan, dan dunia itu menjadi kepunyaan penyair itu sendiri. Dan memang intensitas penghayatan kehidupan dan kematangan berbahasalah yang kita alami setiap kali kita membaca puisi Chairil. Pengalaman pembacaan macam inilah yang menimbulkan katarsis, tekstasi, atau rasa yang indah serta mengharukan itu.

Sumber boemipoetra
Selengkapnya: Ekstasi Puisi

Pentingnya Sastra di Sebuah Bangsa oleh Dorothea Rosa Herliany

Sunday, 6 October 2013

                        Frankfurt Book Fair merupakan pemeran buku terbesar di dunia, juga salah satu event budaya peling penting di Eropa. Diselenggarakan sekali setahun, pada bulan Oktober (9-13 Oktober). Pameran ini menjadi perhatian ribuan media dan publik di negara-negara berbahasa Jerman, juga di seluruh Eropa, bahkan dunia internasional. Ribuan penerbit dan perusahaan media dari seluruh dunia menghadirinya. Jumlah pengunjung sampai ratusan ribu. Pameran buku paling bersejarah (mulai menjadi tradisi sejak 500 tahun lalu ketika Johanes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, penemu mesin cetak, menjual bukunya yang pertama Gutenberg Bible di pameran Buku Frankfurt tahun 1456) itu merupakan tempat bertemunya ribuan agen, pustakawan, penerjemah, penerbit, pencetak, wartawan, budayawan, seniman, sarjana, dan tentu saja sastrawan dari seluruh dunia. Sastra akan menjadi fokus utama pameran buku ini.
                Mengapa sastra yang menjadi fokus utama di sana? Karena dunia mengukur peradaban sebuah bangsa itu melalui novel yang ditulis para sastrawan. High level culture is high level novel. Mengapa? Sebab melalui bacaan itulah orang dari berbagai negara bisa mengetahui watak dan jati diri manusia dalam sebuah bangsa secara lebih jujur dan utuh. Ada watak dan peristiwa di dalamnya, juga pembaca bisa menenggalamkan diri ke dalam jiwa dan batin manusia Indonesia yang nyata. Di dalamnya ada cita-cita manusianya, perjuanganya, cinta, iman, tanggung jawab, persahabatan, kebebasan, kehormatan, dan lain-lain. Hal ini tidak bisa ditemukan pada bacaan lain semisal buku politik, sejarah, bahkan antropologi atau buku seni lain. Melalui novel, segala permasalahan kemanusiaan yang lebih dalam daln lebih kompleks akan mampu diketahui oleh pembaca dengan tenang dan jernih.
                Puisi juga ada dalam posisi yang sama. Bahkan, isi puisi lebih menampilkan semangat, spirit, keindahan bahasa, dan kreativitas manusia dalam sebuah bangsa. Hanya bedanya, puisi itu dimana saja di dunia ini, ia hanya bisa dinikmati oleh sedikit orang saja. Lain dengan novel yang lebih banyak orang bisa menikmatinya. Oleh karena itu, novellah akhirnya yang menjadi primadona. Film atau teater bisa saja mengambil peran yang sama dalam konteks ini, tapi ia tidak bisa dibolak-balik, dibaca-baca ulang dengan mudah bagian-bagian pentingnya untuk direnungkan, sebagaimana watak sebuah buku. Sayangnya di Indonesia sastra sepertinya hanya dipandang dengan sebelah mata saja.

Tamu Kehormatan

                Bulan Juni 2013 sudah diputuskan Indonesia akan menjadi tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair 2015. Kesepakatan tentang kerja sama itu sudah ditandatangani antara pihak Indonesia, dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan pihak Jerman yang diwakili oleh Direktur Frankfurt Book Fair Juergen Boos. Bagaimana Indonesia menyiapkan hal ini semua? Saya, kebetulan sedang di Berlin, sudah ditanya banyak pihak Jerman tentang hal ini. Sebab, berdasarkan Road Map to Indonesia as Guest of Honour at the Frankfurt Book Fair 2015, Indonesia seharusnya sudah membuat beberapa kegiatan, seperti menyiapkan program utama menyangkut penulis, penerjemah, seniman, dan penerbit pada sejumlah acara. Kemudian menerjemahkan buku dan membuat acara peluncuran pada Frankfurt Book Fair, mengundang penulis Indonesia ke Frankfurt Book Fair 2013 dan 2014.
                Indonesia juga harus menyajikan buku yang telah diterjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jerman, menyiapkan dana untuk program terjemahan buku sastra Indonesia, baik untuk keperluan pameran buku itu dan mungkin juga di berbagai kota Jerman, dengan melibatkan sastrawan Indonesia. para penulis juga mengunjungi pameran buku Leipzig atau pameran lain di Berlin yang berhubungan festival sastra Jerman untuk menjajaki kemungkinan bagaimana bisa menampilkan para  penulis Indonesia, menyiapkan acara peluncuran buku disertai dengan acara seperti pembacaan karya.
                Saya kira yang paling penting dan mendesak untuk dikerjakan Pemerintah Indonesia adalah menerjemahkan novel Indonesia kontemporer karena pengerjaanya akan memakan waktu. Karena itu harus dikerjakan sekarang! Sementara itu untuk bisa tampil di FBF 2015 minimal 30 judul novel sudah harus diterjemahkan dalam bahasa Jerman. Tak hanya itu, juga perlu dicari sejak sekarang kontak kerja sama dengan penerbit di Jerman. Penerbit mana yang kiranya akan sedia menerbitkan terjemahan itu. Penerjemah sastra dari bahasa Indonesia ke bahasa Jerman saja hanya sedikit. Bisa disebutkan yang paling aktif dan sudah menjadi sahabat para sastrawan Indonesia bertahun-tahun, Berthold Damshauser yang selama ini utamanya menerjemahkan puisi. Lalu Peter Sternagel yang menerjemahkan novel Saman dan Laskar Pelangi. Juga ada Katrin Bandel yang bisa banyak diharapkan karena dia bermukim di Indonesia atau Silke Behl di Jerman dan Dudy Angawi yang tinggal di Jerman, tapi ulang-alik Indonesia. Selebihnya diluar itu? Susah menyebutkan penerjemah sastra lain.
                Lalu setelah diterjemahkan, buku itu harus diterbitkan penerbit di Jerman. Tidak bisa diterbitkan sendiri oleh penerbit Indonesia lalu diboyong ke Jerman karena kaitanya dengan distribusi di negara-negara berbahasa Jerman (selain Jerman, juga Swiss dan Autria) atau Eropa pada umumnya. Manakah kiranya penerbit di Jerman yang mau menerbitkan buku sastra Indonesia hasil terjemahan itu nanti? Mungkin Horlemann yang selama ini memang fokus ke Asia Tenggara dan sudah cukup banyak juga menebitkan karya-karya sastra Indonesia, seperti Armijn Pane, Moctar Lubis, Rendra, Pramoedya Ananta Toer, dan Ahmad Tohari. Bisa pula penerbit yang masih baru mulai merintis terbitan buku Asia, Regiospectra atau Union Publisher, penerbit berbahasa Jermandi Swiss yang menerbitkan lebih banyak lagi buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Syukur kalau bisa diterbitkan Hanser Berlin, penerbit besar yang menerbitkan Laskar Pelangi yang di Indonesia belakangan kemenangannya di ajang Internationale Tourismus-Borse (ITB) Berlin 2013 sempat memancing perdebatan di media Indonesia. Hanya itu kemungkinannya. Tapi, kalau saja biaya penerjemahan (dengan standar tarif Jerman) ditanggung Pemerintah Indonesia RI, semuanya bisa cukup mudah, bisa kerja sama sebagaimana selayaknya juga terjadi di Indoensia.
                Frankfurt Book Fair jelas akan menjadi ajang pertukaran budaya Indonesia di Jerman. Eslandia, negara kecil dengan jumlah penduduk hanya 300.000 dan luas wilayah 100.000 kilometer persegi, sebuah negara bersalju dengan banyak gunung merapi, serta negara perikanan dan pertanian yang mengalami masalah ekonomi (mirip Indonesia), telah mempersiapkan diri dengan sangat baik saat tampil sebagai  tamu kehormatan FBF 2011. Pameran buku benar-benar dikemas bernuansa buku, budaya, dan tradisi membaca di Eslandia. Sontak semua pengunjung menaruh perhatian pada Eslandia. Bagaimana sebetulnya masalah pertukaran budaya antara Jerman dengan Indonesia ini? Tanpa banyak diketahui umum pada tahun 1997 telah didirikan komisi Indonesia-Jerman untuk bahasa dan sastra atas petunjuk Presiden RI dan Konselir Jerman. Anggotanya antara lain lembaga kenegaran Indonesia, Departemen Luar Negeri RI, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Bahasa. Sejak saat itu, pihak Jerman diwakili Goethe Institut, bisa kita lihat di pasaran buku pembaca Indonesia bisa menikmati puisi-puisi karya penyair legendaris Jerman, mulai dari Rainer Maria Rilke, Bertolt Brecht, Paul Celan, Johann Wolfgang von Goethe, Hans Magnus Enzensberger, Friedrich Nietzsche, dan penyair Austria berbahasa Jerman, Georg Trakl.
                Penerjemahan karya sastra dalam bahasa Inggris juga mengalami nasib sama. Selama lebih dari 25 tahun Yayasan Lontar dibiarkan aktif berusaha sendiri memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia luar. Tak ada campur tangan Pemerintah dalam soal itu. Agaknya benar sastra Indonesia merupakan yatim piatu, tak terurus. Apalagi membayangkan sastra Indonesia juga diterbitkan ke dalam bahasa-bahasa dunia lain: Jepang, Mandarin, Korea, Spanyol, Rusia, dan Perancis misalnya. Lontar sudah memulai dengan bahasa Inggris. Penerjemahan ke bahasa Jerman hingga 100 judul (jika memungkinkan memang buku nonsastra lain, seperti art, nature, dan history), mungkin bisa “dipercepat” dengan “memanfaatkan” buku-buku hasil terjemahan Yayasan Lontar dalam bahasa Inggris meski itu bukan pekerjaan ideal tapi apa boleh buat? Waktu sudah tinggal sedikit dan pekerjaan masih banyak, bahkan saat ini belum dimulai.
                Frankfurt Book Fair 2015 kiranya menjadi titik tolak bagi Pemerintah Indonesia untuk lebih agresif memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia. Memang selama ini sudah ada langkah-langkah menyebarkan budaya Indonesia di berbagai negara dengan misalnya menyajikan tarian, musik gamelan, angklung, wayang kulit, dan seterusnya yang lebih merupakan budaya tradisional dan budaya lisan. Perlulah diperkenalkan bahwa Indonesia tak hanya itu, tapi juga merupakan bangsa yang telah berhasil mengembangkan budaya aksara modern, seperti telah lama terbukti melalui Kesusastraan Indonesia Modern.

DOROTHEA ROSA HERLIANY
Sastrawan
______________________
Dikutip dari kolom SENI – FRANKFURT BOOK FAIR
KOMPAS, MINGGU, 06 OKTOBER 2013
Sumber di sini.
Selengkapnya: Pentingnya Sastra di Sebuah Bangsa oleh Dorothea Rosa Herliany

Tak Pernah Selesai: Penyair dan Puisi

Wednesday, 18 September 2013

Ada kegilaan yang dialami kebanyakan penggiat sastra era kekinian. Bermacam suara melambung ke mana-mana. Melambangkan betapa banyak yang terombang-ambing antara banyaknya pendapat dan diri kepenyairan.  Gila ‘karya’ memang layak diacungi jempol empat, tetapi jika gila wacana dan wahana? Ini yang repot tujuh turunan! Banyak persoalan sengaja dibuat-buat sehingga terkesan pelik dan mendelik. Padahal itu soal lembar kertas buram yang puluhan tahun sudah diasingkan ke tong sampah. Tetapi memang para pemulung sampah selalu punya cara mendaur ulang agar tampak cantik dan laku jual di pasaran.  Muncullah kemudian beberapa cangkang kesusastraan dengan madzhabnya masing-masing. Sebut saja madzhab Sintaksis yang kemana pergi akan mengatakan bahwa puisi ini dan itu kacau dari segi sintaksis. Madzhab Licentia Poetica akan menganggap penggunaan EYD yang super ketat dalam puisi membuat kaku dan tidak menyeangkan. Lain lagi bagi yang bermadzhab bebas lepas, adalah yang tak peduli pada soal-soal pembangun puisi sehingga tidak penting bagi penganut madzhab tersebut untuk belajar teknis dan perangkat bahasa. Yang ini lagi unik, namanya madzhab pola baru. Jika puisi tidak mengikuti pola yang dicanangkan sang penggagas sudah tentu akan disingkirkan. Hampir kesemua madzhab berkutat pada teknis cipta puisi, kualitas, , intensitas, sampai pada soal-soal ‘congek’ semisal popularitas dan selebritas. Selebihnya omong kosong dan omong kosong.

Jalan terbaik adalah terus berkarya tanpa berpikir ini dan itu yang sama sekali tidak ada korelasinya dengan proses kekaryaan. Dengan terus berkarya penyair dapat mempertahankan eksistensinya untuk menyuarakan hal-hal yang bermanfaat bagi pembaca. Karya-karya cerah mencerahkan. Meski di sisi lain produktivitas tak pelak menimbulkan pro dan kontra. Ada yang mengatakan bahwa produktivitas tidak selalu linier dengan kualitas. Dalam artian, bahwa kebanyakan penyair yang produktif tidak mementingkan kualitas puisi. Banyak teknik pengunggahan rasa yang tidak sanggup dicapai penyair produktif. Sehingga puisi-puisi yang dihasilkan kehilangan jiwa.  Bagi saya itu SALAH BESAR! Bagaimana jika kita membuat pengandaian seperti ini: ada lima ratus buah apel di dalam keranjang, maka ada lima ratus pilihan bagi siapa saja yang ingin memakan 1 apel terbaik di antara 499 apel lainnya. Berbeda jika dalam keranang hanya ada 2 apel. Maka pilihannya hanya ada dua. Jika keduanya busuk? Produktivitas juga berkaitan dengan kepekaan penyair terhadap aksen-aksen dalam dirinya sendiri, terhadap lingkungan alam sekitar bahkan pada hal yang paling transenden sekalipun.  Maka bagi penyair yang tidak peka dan jarang membuat puisi baiknya tidak tergesa menganggap penyair yang sering membuat puisi seperti orang kerasukan setan puisi.

Lagi pula persoalan kualitas hingga detik ini masih jadi keyakinan perseorangan atau kelompok tertentu—kelompok-kelompok ini kebanyakan membuat ukuran yang hanya mengedepankan gaya, warna, dan aroma puisi dalam kelompoknya saja. Sedangkan puisi-puisi di luar itu adalah puisi gagal. Kegagalan inilah yang sangat layak dipertanyakan. Terlebih jika si pembuat puisi memang benar-benar penyair. Seperti apakah orang yang benar-benar penyair? Mungkin ini masuk ke ranah pribadi lagi, karena belum juga ada hukum pasti mengenai legitimasi kepenyairan. Penyair adalah yang benar-benar membuat dan menjadikan puisi sebagai media kreasi, rekreasi, intropeksi, komunikasi, intruksi, intrupsi dan apresiasi kehidupan. Bukan yang sering mejeng di media cetak lantas disebut penyair, bukan pula yang sudah mengumpulkan puluhan antologi puisi seketika disebut penyair, atau pun seseorang kerap mendatangi pertemuan antarpenyair, apa lagi kalau hanya gara-gara iseng menulis puisi dengan serta merta dianggap penyair.

Dalam proses kekaryaan seorang penyair dapat menggunakan cara apa saja selama tidak melanggar kode etik kekaryaan. Semisal mencuri ilmu dari karya orang lain. Kalau masih ada kemiripan gaya atau pola tuang bukan soal penting untuk dibahas. Karena sudah berpuluh-puluh tahun hal tersebut dianggap lazim di kalangan penyair. Ini disebut pengaruh penyair terhadap penyair lainnya. Kemudian muncul pertanyaan, apakah karya yang terpengaruh karya penyair lain dapat disebut orisinil? Tentu! Karena itu pulalah puisi tidak pernah selesai ditulis. Berbicara puisi yang tidak pernah selesai ditulis. Ada puisi yang diposting di portal e-Sastra Malaysia oleh penyair yang sangat giat sebagai pengisi ruang-ruang e-Sastra, yakni S. Iqram. Penyair ini pun rupanya mempunyai pandangan bahwasanya puisi adalah tanah yang luasnya tidak terhingga. Siapapun boleh membajaknya dengan cara masing-masing. Berikut puisinya:

Kepada penyair

Seandainya kalian mengambil segalanya;
matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-ganang,
lautan, rumput-rumput, batu-batu jadi puisi
aku tidak akan bertanya apa lagi kalian tinggalkan untukku
kerana aku percaya,
biarpun kalian habis menulis semuanya,
pasti ada puisi yang masih tak sempat dituliskan
dari sisa kata kalian,
maka berikan padaku selebihnya
nescaya berjuta puisi akan terus membiak!

S.Iqram
11092013

Judul ‘Kepada Penyair’ langsung menuju sasaran. Bahwa puisi ini tidak untuk birokrat kerajaan/pemerintahan, tidak untuk perempuan yang dicinta, ataupun untuk emak dan abah melainkan untuk ‘penyair’. sementara kita lupakan semua definisi kepenyairan yang masih kacau balau tidak ditemukan titik terangnya itu. Lebih menarik jika mengulas puisi di atas, barangkali ada jawaban mengenai ‘puisi yang selesai’ atau ‘puisi memang takkan pernah selesai’. Dimulai dengan pengandaian. “Seandainya kalian mengambil segalanya;/matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-ganang,/lautan, rumput-rumput, batu-batu jadi puisi”. Simbol-simbol yang ditarik dalam puisi tersebut semisal ‘matahari’, ‘bulan’, ‘bintang’, ‘gunung’, ‘laut’, ‘batu’ dan ‘rumput’ merupakan pilihan yang bijak. Sebab diksi-diksi tersebut merupakan diksi yang paling banyak digunakan penyair selain diksi ‘sepi’, ‘luka’, ‘siksa’, ‘cinta’, ‘rindu’, dan sebagainya. Mengapa demikian? Sebab ‘matahari’ akan digunakan sebagai simbol pagi hari sebab sebagai pertanda jika mulai terbit. Atau sebagai tanda senja akan datang saat matahari mulai tenggelam. Begitu pun dengan ‘bulan’ dan ‘bintang’ merupakan simbol malam yang cerah dan terang benderang. Jika ‘bulan’ dan ‘bintang’ tidak ada maka malam akan kelam. Tiga simbol tersebut memiliki peranan yang sama, yakni memegang peranan pada pergantian waktu. Apa korelasinya dengan penciptaan puisi? Penyair pada suatu ketika bisa gila sebab waktunya mau tidak mau direbut oleh puisi. Banyak waktu yang dikorbankan untuk puisi. Penciptaan puisi yang tidak kenal waktu inilah yang layak disimbolkan dengan mengandaikan ketiganya dalam suatu tindakan.

Masih ada tiga simbol yang perlu diurai; ‘gunung’, ‘laut’, ‘batu’, dan ‘rumput’. Sekilas pembaca akan menganggap simbol-simbol tersebut menekankan pada pemandangangan alam. Tidak salah jika demikian. Saya hanya ingin mengajak menggali lebih dalam. Adalah nuansa yang melatarbelakangi terciptanya sebuah puisi. Semua orang tahu (terutama penyair) bahwasanya nuansa yang mendukung akan membangun sebuah puisi yang cantik. Nuansa ‘gunung’ lebih identik dengan kesegaran, ketenangan, dan pandangan mata yang terjun bebas ke dataran rendah sekitar pegunungan. Sehingga penyair akan menangkap banyak kode rasa yang dapat ditulis. Setara dengan ‘laut’, dekat kaitannya dengan pemandangan gelombang yang pasang surut, kapal-kapal berlayar berpapasan dengan kapal yang bersandar ke dermaga, serta pandangan mata yang terasa menyentuh kaki langit. Lain hal dengan ‘batu’ serta ‘rumput’ yang mengalihkan pandangan yang luas ke ruang yang jauh lebih sempit. Karena keduanya adalah benda kecil. Meski benda kecil dan menyita pandangan, di tangan penyair akan sanggup dijadikan dunia lain yang mungkin saja jauh lebih luas dari dunia yang sebenarnya.

Begitulah cerdasnya S. Iqram memilih diksi yang sanggup menjadi simbol sederhana dengan kedalaman yang tidak sederhana. Pada larik selanjutnya tersurat jelas kesangsian penyair mengenai keberadaan sesama penyair, bahwa tidak akan habis kata meski semua kata telah ditulis: “aku tidak akan bertanya apa lagi kalian tinggalkan untukku/kerana aku percaya,//biarpun kalian habis menulis semuanya,/pasti ada puisi yang masih tak sempat dituliskan/dari sisa kata kalian,” Bagaimana bisa begitu? Sedangkan jika ‘kata’ sudah dipakai semua bagian mana yang tersisa? Yang harus digarisbawahi sebagaimana pemaparan saya sebelumnya, tidak ada satu manusiapun yang sanggup melepaskan diri dari pengaruh orang-orang terdahulu. Tetapi kejujuran tentang keterpengaruhan terkadang diselubungi kabut tebal dan hitam. Demi menyatakan bahwa benar orisinalitas itu ada, padahal sejauh pengamatan saya, hanya ranah eksplorasi yang dapat dibajak dan diolah. Dari eksplorasi itulah lahir seoarang Chairil Anwar dengan karya-karya yang tegas berlatar bohemian. Meski telah berhasil mengakhiri kejayaan Pujangga Baru puisi-puisi Chairil Awar tetap memiliki aroma Amir Hamzah. Atau Abduh Hadi WM dalam puisinya “Tuhan, Kita Begitu Dekat” yang dianggap sebagai pencapaian karyanya yang tertinggi, ternyata memiliki keterpengaaruhan yang sangat kuat dari karya Chairil Anwar “Lagu Siul”. Baca kedua puisi ini:

1.    Tuhan, Kita Begitu Dekat

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Sebagai api dengan panas
                   Aku panas dalam apimu

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Seperti kain dengan kapas
                   Aku kapas dalam kainmu

                   Tuhan
                   Kita begitu dekat
                   Seperti angin dan arahnya
                   Kita begitu dekat

                   Dalam gelap
                   Kini aku nyala
                   Pada lampu padammu

                   (Abdul Hadi W.M., 1977, Tergantung Pada Angin)

2.     LAGU SIUL

                   I
                   Laron pada mati
                   Terbakar pada sumbu lampu
                   Aku juga menemu
                   Ajal dicerlang caya matamu
                   Heran! Ini badan yang selama berjaga
                   Habis hangus di apimu
                   'Ku kayak tidak tahu saja.

                   II
                   Aku kira
                   Beginilah nanti jadinya:
                   Kau kawin, beranak dan bahagia
                   Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

                   Dikutuk-sumpahi Eros
                   Aku merangkaki dinding buta
                   Tak satu juga pintu terbuka.

                   Jadi baik kita padami
                   Unggunan api ini
                   Karena Kau tidak akan apa-apa
                   Aku terpanggang tinggal rangka.

                                                28 November 1945

Perhatikan larik dari puisi Abdul Hadi WM ini: “Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu” lalu bandingkan dengan larik puisi milik Chairil Anwar berikut ini: “Laron pada mati/Terbakar pada sumbu lampu/Aku juga menemu”. Keduanya memiliki nuansa yang sama. Selain itu ada proses yang tidak jauh berbeda.  Hanya kecerdasan Abdul Hadi WM dalam mengolah karya Chairil Anwar ini ada pada pengalihbentukan api. Jika Chairil Anwar menggunakan ‘laron’ sebagai sesuatu yang terbakar lalu dengan terbakarnya laron ada sesuatu hikmah kejadian yang ditemukan. Abdul Hadi WM menjadikan dirinya sebagai api yang membakar. Penyatuan wujud api dalam diri inilah yang menjadikan puisi “Tuhan, Kita Begitu Dekat” dianggap sebagai puisi sufistik dan si penyair dianggap penyair sekaligus filsul (Saya tidak setuju jika penyair yang membuat puisi religi langsung dibai’at sebagai filsuf. Terlalu tergesa-gesa!).

Teknik pengalihbentukan itu juga dilakukan pada bait terakhir, Abdul Hadi WM menulis: “Dalam gelap/Kini aku nyala/Pada lampu padamMu” sedangkan puisi yang memberikan pengaruh ditulis begini: “Jadi baik kita padami/Unggunan api ini/Karena Kau tidak akan apa-apa/Aku terpanggang tinggal rangka.”  Menelisik dari sejarah kekaryaan itu, wajar saja jika S. Iqram yang merupakan penyair generasi setelahnya menulis: “pasti ada puisi yang masih tak sempat dituliskan/dari sisa kata kalian,” menekankan pada kemungkinan puitik dari sebuah kata. Sebab kata yang sama dapat diubah dengan cara yang berbeda.  Pada dua larik penutup, ada satu permintaan yang sebenarnya diberi atau tidak diberi tetap ia telah mendapatkan. Atau bisa jadi meminta atau tidak meminta ia telah memiliki. “maka berikan padaku selebihnya/nescaya berjuta puisi akan terus membiak!”

Dunia kekaryaan memang asyik dan mengelitik. Maka bagi yang ingin berkarya sambil tertawa atau sambil menangis keduanya adalah sah. Yang tidak sah adalah tidak berkarya tetapi banyak bicara. Atau berkarya lalu mengangung-agungkan karya sendiri seakan karyanya sudah sempurna. Saran saya untuk penyair semacam itu, sebaiknya berhenti menulis. Karena kesempurnaan memang akhir dari segala. Salam Merdeka Jiwa dan Badan!

Muhammad Rois Rinaldi
Ketua Komite Sastra Cilegon

Sumber https://www.facebook.com/notes/muhammad-rois-rinaldi/tak-pernah-selesai-penyair-dan-puisi/628708540513844
Selengkapnya: Tak Pernah Selesai: Penyair dan Puisi

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas