Showing posts with label sastrawan indonesia. Show all posts
Showing posts with label sastrawan indonesia. Show all posts

Sutardji Calzoum Bachri

Wednesday, 26 February 2014

Sutardji Calzoum Bachri, anak kelima dari sebelas bersaudara pasangan Mohammad Bachri dan May Colzoum ini lahir di Riau pada 24 Juni 1941. Setamat SMA, ia melanjutkan studinya di Fakultas Sosial Universitas Padjadjaran, Bandung. Baginya, menulis adalah panggilan alam yang merayu jiwanya untuk membebaskan kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya.

Sastrawan dengan gelar Presiden Penyair Indonesia ini memulai karirnya saat masih di Kota Kembang. Beliau mengirimkan sajak-sajak dan esai karangannya keberbagai media cetak di Jakarta seperti; Majalah Horison, Sinar Harapan, Kompas, Berita Buana dan Budaya Jaya. Selain itu, ia juga menulis untuk surat kabar lokal di Bandung, Pikiran Rakyat.

Menurut para seniman di Riau, kemampuan sastrawan yang karyanya sudah banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa ini laksana rajawali dilangit, paus di laut yang bergelombang dan kucing yang mencabik-cabik dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah kepergian ‘Si Binatang Jalang’, Chairil Anwar. Hal ini disebabkan konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikan kepada fungsi kata itu sendiri seperti didalam mantra.

Suami Mariham Linda ini berkata "Dalam menciptakan puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya"(tokohindonesia.com). Menurutnya, jika kata di bebaskan, kreativitas pun akan tercipta. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, karena kebebasannya, tiba-tiba bisa menyungsang terhadap fungsinya.

KARIR

Pada tahun 1974, bersama dengan K.H Mustofa Bisri dan Taufik Ismail, ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, sebelum mengikuti seminar di Iowa, beliau juga mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam.

Tahun 1979, ia diangkat menjadi redaktur majalah sastra Horison. Setelah lama berkecimpung besama Horison, ia memilih menjadi penjaga ruang seni “Bentara”, specialisasi puisi pada harian Kompas pada tahun 2000 hingga 2002.

Karya pertamanya yang berjudul ‘O’ dibuat pada tahun 1973 dan diterbitkan tiga tahun setelahnya. Sajak tersebut mendapatkan hadiah puisi DKJ. Karyanya yang lain berjudul ‘Amuk’ (1977) dan ‘Kapak’ (1979). Kemudian pada tahun 1981, ketiga kumpulan puisinya itu digabungkan menjadi satu buku dengan judul ‘O Amuk Kapak’ dan diterbitkan oleh sinar harapan. Selain itu, sejumlah puisinya telah diterjemahkan Harry Aveling dan dimuat dalam antologi berbahasa Inggris, seperti: Arjuna in Meditation (Calcutta), 1976 ; Writing from the World (Amerika Serikat) ; Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Selain menulis puisi, ia juga menulis beberapa esai dan cerpen, seperti: Isyarat, Gerak Esai, Ombak Sajak Anno 2001 dan kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam.

Dalam membacakan puisi, ia memiliki ciri khas tersendiri, saat sedang ‘waras’ ia akan membacakan puisinya seperti sedang bernyanyi, atau hanya diiringi harmonika kesayangannya. Namun disaat sedang ‘edan’ dia bisa jumpalitan diatas panggung, kadang bisa sambil tiduran atau tengkurap. Hal inilah yang menyebabkan ia dijuluki sastrawan ‘edan’ didalam dunia persajakan. ''Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,'' begitu katanya. Di luar negeri ia dijuluki bottle poetry, karena beberapa tahun silam, sebotol minuman keras tak pernah lepas dari tangannya saat ia membacakan puisi.

PENGHARGAAN

Lewat karya-karyanya, Ayah dari Mila Seraiwangi ini telah meraih berbagai penghargaan. Pada tahun 1979, ia dianugerahi hadiah South East Asia Writer Awards di Bangkok, Thailand atas prestasinya dalam dunia sastra. Kemudian di tahun 1988, ia mendapat penghargaan tertinggi dalam bidang kesusastraan di Indonesia yakni Penghargaan Sastra Penyair Legendaris Indonesia Chairil Anwar yang sebelumnya diraih Mochtar Lubis.

Ia juga kerap mendapat undangan dari berbagai negara. Pada tahun 1997 ia membaca puisi di Festival Puisi International Medellin, Colombia. Ia pernah menghadiri Pertemuan International Para Pelajar di Bagdad, Irak. Ia diundang oleh Mentri Keuangan Malaysia, Dato Anwar Ibrahim untuk membaca puisi di Departemen Keuangan Malaysia. Ia pun kerap kali mendapatkan undangan untuk berbagai pertemuan Sastrawan ASEAN, seperti: Pertemuan Sastrawan Nusantara di Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Dulu Bang Tarjdi, sapaan akrab Sutardji, pernah berkata pada penulis “Jika kamu ingin jadi penyair, itu mudah. Semua orang bisa menjadi penyair-penyairan. Tapi disaat kamu sudah bisa menuliskan cinta tanpa ada kata cinta, dan melukiskan rindu tanpa kata rindu. Disitulah kamu telah menjadi seorang penyair”.

Rujukkan : Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia Tokoh Indonesia


Sumber Facebook Sutardji Calzoum Bachri
Selengkapnya: Sutardji Calzoum Bachri

Cinta Tanah Air Hanya Diungkapkan Agam Wispi dalam Puisi

Tuesday, 11 February 2014

Tulisan Munawir Aziz di Harian Kompas, edisi 16 Februari 2014 tentang “Sastrawan Eksil,”(Sastrawan dalam pengasingan), sungguh mengharukan jika dilihat dari rasa cinta mereka terhadap tanah air. Bukan dari sisi pilihan di mana ia lebih suka menjadi sastrawan di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Banyak sastrawan kita tidak bisa lagi pulang ke tanah air setelah tahun 1965 itu. Di antara sosok itu adalah Agam Wispi. Lihatlah dan bacalah puisi yang ditulisnya:

Pulang

Puisi, hanya kaulah lagi tempatku pulang
Puisi, hanya kaulah lagi pacarku terbang
Puisi generasi baru bijak bestari menerjang
Keras bagai granit cintanya laut menggelombang
Di mana kau
Pohonku hijau?
Dalam puisimu, wahai perantau
Dalam cintamu jauh di pulau

Puisinya ini menjadi saksi, bahwa ia betul-betul tidak lagi kembali ke tanah air. Hanya Puisi inilah pengobat rindunya kepada tanah airnya. Ia meninggal di Amsterdam 1 Januari 2003 di usia 72 tahun.

Agam Wispi adalah seorang sastrawan dan wartawan. Lahir di Pangkalan Susu, Sumatera Utara,31 Desember 1930. Ia juga adalah anggota TNI Angkatan Laut. Nasibnya berubah setelah bulan Mei 1965, ia diundang ke Vietnam selama beberapa bulan dan sempat bertemu Ho Chi Minh.

Setelah itu, Agam Wispi tidak lagi bisa pulang dikarenakan perubahan-perubahan di tanah air. Hidupnya berpindah-pindah di negeri orang. Di antara bulan September 1965-Desember 1970, ia bermukim di Republik Rakyat Cina. Tahun 1973-1978 tinggal di Leipzig, Jerman. Sejak 1988 tinggal di Amsterdam (Belanda) hingga akhir hayatnya.

Kesepian di negeri orang inilah yang saya garisbawahi. Tetapi  di ruang-ruang kesepian tersebut masih tetap memunculkan rasa kecintaannya kepada tanah airnya. Walaupun akhirnya  ia menyerah dan kalah dengan kenyataan yang ada. Tidak lagi pernah menginjakkan kakinya di tanah airnya sendiri.

Cinta kepada tanah air di negeri orang bisa menjadi meluap-luap. Tetapi cinta itu tidak bisa diwujudkan karena pilihan kita sendiri yang pada suatu ketika berubah menjadi pilihan yang tidak disukai tanah air kita sendiri. Pilihan lain sudah tentu menulis sebuah Puisi sebagaimana ditulis Agam Wispi, meski rasa sunyi itu menjadi-jadi.

Selengkapnya: Cinta Tanah Air Hanya Diungkapkan Agam Wispi dalam Puisi

Taufiq Ismail dan Kenangan Singgalang

Saturday, 4 January 2014

Oleh Muhammad Subhan*

Saya beruntung sempat “bekerja” mengurus Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat—6 km dari kota Padangpanjang atau 11 km dari arah kota Bukittinggi. Saya bekerja sekaligus “study sastra” di rumah itu lebih kurang 4 tahun (2009-2012) dan bergelut dengan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi Penyair Taufiq Ismail.

Koleksi buku Rumah Puisi banyaknya 7.000 judul, atau sekitar 11.000 eksemplar, disusun di dalam 32 almari yang berjejer rapi. Tema buku beragam, mulai dari agama (15 persen), pengetahuan umum (25 persen), kamus (5 persen), ensiklopedia (5 persen), tentu juga sastra (50 persen). Seharian duduk membaca buku di Rumah Puisi yang ruangannya berdinding kaca tidak cepat mendatangkan bosan. Waktu terasa begitu cepat berlalu.

Seumur hidup saya tidak pernah membayangkan bila di masa-masa itu saya akan begitu dekat sekali dengan sosok penyair yang puisi-puisinya saya baca dan saya sukai di buku-buku teks pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD dan SMP, di awal-awal saya mulai menulis. Di Rumah Puisi, saya mendampingi beliau menyambut tamu yang datang berkunjung hampir setiap hari.

Tamu-tamu itu beragam kalangan, mulai dari anak TK, murid SD, pelajar SMP/SMA, mahasiswa, guru/dosen, seniman/sastrawan, walikota/bupati/gubernur, menteri, hingga duta besar negara-negara sahabat. Sebelum Taufiq Ismail berbicara di hadapan para tamu, sayalah yang memulai membuka pembicaraan di hadapan mereka, menyampaikan ucapan selamat datang, sekilas memperkenalkan kegiatan Rumah Puisi, kemudian dilanjutkan oleh Penyair Taufiq Ismail yang bercerita banyak soal sastra dan harapannya untuk kemajuan sastra Indonesia khususnya tentang pentingnya membaca buku dan menulis karangan.

Empat tahun bukan waktu sedikit untuk mengenal dari dekat sosok Taufiq Ismail, dan saya salah seorang yang paling beruntung itu. Saya melihat Taufiq Ismail membaca puisi, menulis puisi, menikmati gayanya berbicara dengan artikulasi yang sangat baik di hadapan tamu, hingga ikut berdiskusi di meja makan, bagai akrabnya persahabatan antara ayah dan anak. Bukan lagi sebatas karyawan dan atasan. Tak hanya itu, beberapa puisi terbaru yang ia tulis di Rumah Puisi, ia cetak (print) lalu diperlihatkannya kepada saya dan meminta saya untuk membacanya.

Tak sungkan pula ia meminta pendapat saya terkait masalah-masalah tertentu khususnya tentang perkembangan sastra di Sumatera Barat. Beberapa kali saya diminta menghubungi penyair-penyair muda Sumatera Barat dan membuat acara diskusi dan baca puisi di Rumah Puisi. Selama di Rumah Puisi, saya merasa bukan sedang bekerja, tetapi benar-benar “mengabdi” dan bergelut dengan segala macam kegiatan sastra. Semua itu, tentu saja sangat saya nikmati.

Bagaimana proses kreatif seorang Taufiq Ismail melahirkan puisi-puisinya?
Di Rumah Puisi, sekitar tujuh atau delapan meter dari meja kerja saya, ada sebuah meja yang posisinya sedikit serong (miring) dengan kursi yang menghadap ke luar jendela kaca. Itulah kursi dan meja kerja Penyair Taufiq Ismail yang digunakannya setiap kali ia pulang ke Rumah Puisi.

Saya tanyakan kenapa meja itu diserongkan posisinya. Beliau menjawab, “agar dapat memandang secara leluasa panorama gunung Singgalang”.

Benarlah, dari posisi meja itu, bila melemparkan pandangan ke luar jendela yang berdinding kaca, terhampar panorama indahnya gunung Singgalang yang sewaktu-waktu diselimuti kabut. Di kaki gunung itu, terhampar sebuah pemukiman penduduk, namanya Pandai Sikek. Di situ kampung ibu Taufiq Ismail.

Dari cerita-cerita beliau—yang juga sering diulang-ulang setiap kali menceritakan riwayat hidupnya di hadapan tamu Rumah Puisi—semasa zaman bergejolak, ketika tentara kolonial Belanda masih berkuasa di Bukittinggi, di saat itu Taufiq Ismail ikut mengungsi bersama ayahnya ke puncak Singgalang.

Tentara Belanda sering masuk ke Pandai Sikek, patroli dan tak jarang menembak penduduk, khususnya laki-laki. Pili, seorang remaja yang masih saudara dekat Taufiq Ismail, ikut menjadi korban penembakan tentara Belanda itu.

Di saat mengungsi bersama ayahnya di puncak Singgalang yang banyak ditumbuhi tanaman tebu, Taufiq Ismail melihat panorama alam yang sangat indah. Layaknya kita melihat pemandangan rumah penduduk, jalan, laut, gunung, bukit-bukit, sawah, sungai, dari atas pesawat udara.

Begitu pula, Taufiq Ismail kecil melihat terbitnya matahari dari balik pinggang Marapi, tenggelamnya di pinggang Singgalang. Dari ketinggian itu pula, ia menatap kampungnya yang sepi, dan kobaran api menyala-nyala sebab rumah-rumah penduduk dibakar tentara Belanda.

Beberapa kali saya menyaksikan ia menyeka air mata dengan sapu tangan membayangkan peristiwa pembakaran kampungnya itu. Itu dilakukan baik ketika menceritakannya kembali kepada saya ataupun kepada tamu-tamunya yang datang ke Rumah Puisi.

Itulah awal proses kreatif Taufiq Ismail melahirkan puisi-puisinya. Di periode awal kepenyairannya (1953-1960) puisi-puisi Taufiq Ismail banyak bercerita tentang alam dengan segala macam peristiwanya. Realitas sosial di masa kanak-kanak yang ia lihat dengan mata kepala ia tuangkan menjadi realitas sastra di dalam puisi-puisinya di kemudian hari.

Bisa kita baca pada puisinya berikut: /Di punggung bukit-bukit awan hujan bergantung biru/ pepohonan di desa mulai dipukul angin beruap lembab/ tangkai-tangkai besi bajak dan penyawah-penyawah berselubung/ harap di jantung/ kerbau-kerbau di-hee, yaaaah! Hee yaaah!/

Begitu juga, dalam puisinya yang lain, menggambarkan kemarau terjadi di kampungnya, ia menulis: /Malam Ramadan dinginnya menusuk ke hulu tubuh/Kemarin tengah hari udara meleleh di Padang Panjang/ Kerbau si sati, kambing coklat mengah-ngah/ Kilangan berputar deriknya ngilu tebu begitu kurus-kurus/.

Dua contoh penggalan puisi Taufiq Ismail berjudul Membajak Kembali dan Kemarau di Desa Bangkirai yang bagaikan lukisan alam itu menjelaskan betapa dekatnya sang penyair dengan alam. Ini yang, menurut saya, menjadi alasan kuat kenapa karya sastra sastrawan-sastrawan Minangkabau periode awal banyak berasyik-masyuk dengan keindahan alam Minangkabau yang menjadi latar cerita.

Sebut saja karya-karya Abdoel Moeis, Marah Rusli, Nur Sutan Sati, Nur Sutan Iskandar, Hamka, AA. Navis dan lainnya. Adalah fakta bahwa Minangkabau (Sumatera Barat) memang kaya dengan keindahan alam.

Walau di periode awal Taufiq Ismail banyak bercerita tentang alam, namun di periode berikutnya ia dapat mengembangkan tema-tema sosial yang terjadi di zamannya. Zaman yang penuh gejolak dan konflik. Puisi-puisi karyanya dapat dibaca di buku Tirani (1966), Benteng (1968), serta Sajak Ladang Jagung (1974). Selain itu, dapat dibaca pula di bukunya yang lain, di antaranya Perkenalkan, Saya Hewan (1976), Puisi-puisi Langit (1990) dan Malu Aku Jadi Orang Indonesia (2005).

Di usia Taufiq Ismail hari ini yang mendekati 79 tahun, saya banyak membaca puisi-puisinya yang bertema religius. Puisi pun menjadi alat (media) dakwah bagi Taufiq Ismail dan memberikan dampak yang luas bagi siapa saja yang membacanya. Kepada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail mengatakan bahwa menulis puisi baginya merupakan sebuah ibadah, gerak hidup jiwa untuk senantiasa mengingat asma-Nya (zikir).

Bagi pembaca yang agak asing dengan ajaran agama Islam, pernyataan semacam itu mungkin dirasakan sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Tetapi tidak demikian bagi seorang Muslim yang taat dan penyair lain yang hidup dalam tradisi keagamaan yang kuat seperti Taufiq Ismail.

Begitulah proses kreatif kepenyairan Taufiq Ismail yang sebagiannya saya cermati langsung. Ia selalu mengatakan kepada saya, banyak-banyak membaca buku lalu menulis karangan. Ia sering mengumpamakan, membaca buku dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Seorang pembaca buku memiliki kekayaan ilmu dan kekayaan itu harus dibagikan, tidak menjadi hak individual semata. Cara membaginya adalah lewat menulis; menulis apa saja! [SELESAI]

 * Muhammad Subhan, Novelis dan jurnalis tinggal di Padangpanjang.

Sumber;
http://infosastra.com/2014/01/01/taufiq-ismail-dan-meja-miring-arah-singgalang-1/
http://infosastra.com/2014/01/02/taufiq-ismail-dan-kenangan-singgalang-2/
Selengkapnya: Taufiq Ismail dan Kenangan Singgalang

Wawancara Han Gagas dengan Joni Ariadinata

Thursday, 20 June 2013

"Kualitas karya antar penulis boleh 'sama mutunya' namun 'keberuntungan' tiap penulis berbeda-beda..."
Joni Ariadinata.
Perjalanan ke rumah om Joni Ariadinata di sini.

Wawancara kali ini terbilang mendebarkan.
Pertama, saya sepertinya harus mengunjungi narasumber yaitu Joni Ariadinata di rumahnya, rumah yang pernah tayang di rubrik Rumahku harian Umum Kompas. Saya terus terang “terpesona” terhadap “keindahan, keluguan, keajaiban” pembangunan rumah Mas Joni seperti yang saya baca di Kompas. Rumah di pinggir sungai, lemah kiwo, “tempat pembuangan jin”, rumah dengan tanah yang luas dengan beberapa kolam yang hasilnya diberikan cuma-cuma pada warga sekitar, rumah yang secara ajaib bisa dibangun “hanya” dengan “menulis” disokong oleh doa kuat Gus Mus –Mustofa Bisri- dan Kang Ahmad Tohari.

Rumah itu setelah saya kunjungi menambah “gemetar” saya terhadap berbagai “fakta dan mitos” di dalamnya, terutama saat kami berbincang di beranda samping yang terbuka menghadap Pohon Munggur besar (pohon Trembesi) di latari belukar dan rumpun bambu serta sungai. Di beranda itu kami mengobrol dari siang hingga malam menjelang.

Kedua, perjalanan darat ke rumah mas Joni adalah jarak tempuh terjauh saya dalam melakukan wawancara. Biasanya kalau narasumber berada di luar kota, saya selalu memakai fasilitas email untuk melakukan wawancara (tertulis). Kini, wawancara harus dengan tatap muka langsung, saya sendiri yang seakan mengharuskannya, karena sebelum rencana wawancara ini ada, saya memang berniat mengunjungi rumahnya, dan si narasumber mempersilakan saya dengan sangat ramah.

Tak hanya soal niat saya dan rumah mas Joni, “keberanian” saya mewawancarai untuk buletin sastra Pawon ini juga karena karya teman-teman penulis Solo hampir berurutan dimuat Majalah Horison yang mas Joni ikut jadi anggota redaksinya. Ada cerpen saya, Yudhi Herwibowo, dan Gunawan Triadtmojo serta puisi-puisi Budiawan Dwi Santoso dan Kharisma. Kata mas Joni, ya ini karena makin gencarnya karya penulis Solo yang masuk, dan bagus.

“Amunisi” yang lain, dari srawung saya dengan Mardi Luhung dan M. Faizi, penyair-penyair keren yang saya selalu takjub atas pikiran-pikirannya, pernah mengintimkan sosok Joni Ariadinata di benak saya. Saya merasa mereka bertiga adalah guru-guru saya sejak saya mengenal mereka lebih dalam. Walaupun saya “tak bisa menulis puisi”.

Tak hanya itu dan itu, ditambah srawung saya dengan Kang Ahmad Tohari dahulu ikut pula menambah “nyali, amunisi, dan hasrat” saya menemui Joni Ariadinata.

Banyak hal itu menumpuk di batin saya sehingga pada hari Sabtu, 25 Mei 2013 saya mengunjungi Mas Joni di rumahnya bersama penyair muda, Ekohm Abiyasa, yang “ketiban anugerah” ditahbis Mas Joni, dengan sedikit gurauan bersama saya, dan Mahwi Air Tawar yang kebetulan berkunjung karena rumahnya berdekatan dengan rumah Mas Joni, nama penanya menjadi Eko Abiyasa. Dengan menghilangkan “hm” konon, sepertinya, bisa lebih “mengangkat” derajat kepenyairannya.

Akhirnya di waktu dzuhur kami bertemu, berbicara banyak hal, dan dari Mas Joni saya mendapatkan “berbagai fakta dan ilmu kehidupan”.

Mas Joni, bisa cerita tentang naskah yang masuk Horison?
Dalam kurun sebulan Majalah Horison bisa menerima 500 kiriman karya. Dan hanya 2 cerpen yang dipilih diantaranya.
Wah banyak betul ya?

Berapa eksemplar Horison dicetak, dan berapa jumlah pelanggannya sekarang?
Dicetak 11 ribu eksemplar dengan 3 ribu pelanggan. Horison ada di setiap kedutaan-kedutaan asing di luar negeri. Jadi bacaan Sastra Indonesia di sana ya hanya Horison.

Kalau boleh tahu, bagaimana sistem kuratorialnya di Horison?
Untuk cerpen, saya, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman. Untuk puisi ditambah Cecep Syamsul Hari, Pak Taufik Ismail.
~ Wah, ketat betul ya, ternyata.

Cerpen Lampor seperti menjadi pintu pembuka bagi Mas Joni untuk diterima secara luas oleh publik. Komentar Mas Joni?
Cerpen Lampor membuat saya “beruntung” sehingga memenangi kumpulan cerita pilihan Kompas. Keberuntungan ini adalah “berkah” doa ibu yang tulus sepanjang hampir 6 bulan berpuasa tanpa putus demi “keberuntungan” itu. Keberuntungan ini membuka pintu rejeki saya dengan banyaknya undangan buat berbicara, karya saya makin banyak diterima, dan kesempatan buat saya bisa lebih banyak berbagi pada orang lain.

Keberuntungan saya yang lain adalah cerpen tanpa honor yang diminta para santri. Waktu itu saya sesungguhnya “malas” membuatnya tapi melihat muka mereka yang “melas” saya memaksa diri membuat, lagipula mereka telah menunggu saya untuk mengetiknya. Tak dinyana, justru karena cerpen inilah saya diundang banyak sekolah untuk membacakannya. Hehehe.

Ada pameo kualitas karya dan nasib penulis tak liner, bagaimana menurut mas Joni?
Kualitas karya antar penulis boleh “sama mutunya” namun “keberuntungan” tiap penulis berbeda-beda. Faktor yang membuat beda dijelaskan mas Joni secara panjang lebar sehingga saya kesulitan mencatatnya dengan lengkap namun pada dasarnya itu membuat saya merenungkan hidup lebih dalam, dunia sufi, makrifat, dunia batin mesias, laku hidup prihatin-puasa, dunia tak terlihat, dunia kebaikan, dunia kebajikan membaur dalam dunia kita sebagai manusia-penulis yang sulit lepas dari hasrat ego, dan menjadi manusia “berbudi dan berbagi” akan mendatangkan keberuntungan-keberuntungan itu.

Boleh ceritakan tentang undangan membaca cerpen di Eropa, Mas?
Ke Eropa adalah mimpi saya, mimpi sejak awal menjadi penulis. Kita harus punya mimpi, itu doa, doa bukan “ndemrimil” menengadahkan tangan, tapi “krentek” di hati. Allah tahu apa mimpi kita yang paling dalam. Undangan itu bagi saya adalah karena faktor “keberuntungan” di mana melalui Mas Rendra saya direkomendasikan. Kebetulan saya habis ke rumahnya waktu itu. Hehehe. Obrolan disudahi, diselingi makan bersama, sembahyang, menengok rumah Mahwi. Lalu setelah Maghrib kami pulang, saya merasa “merinding” bukan karena sentuhan “makhluk astral” namun karena teringat kembali kisah nyata ibu mas Joni yang berpuasa berbulan-bulan tanpa putus demi nasib baik anaknya.
 
PROFIL
Joni  Ariadinata, lahir di Majapahit, Majalengka 23  Juni  1966. Kumpulan  cerita pendeknya yang telah terbit adalah Kali  Mati (Bentang  Budaya, 1999),  Kastil  Angin Menderu (Indonesia Tera,  2000),  dan  Air Kaldera (Aksara Indonesia, 2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (DAR Mizan, 2004).
Bersama Taufiq Ismail dkk., mengeditori sejumlah buku, antara lain: Horison Sastra Indonesia 1 (Kitab Puisi), Horison Sastra Indonesia 2 (Kitab Cerpen), Horison Sastra Indonesia 3 (Kitab Novel), Horison Sastra Indonesia 4 (Kitab Drama), serta Horison Esei Indonesia 1 dan 2 (Kitab Esei). Buku-buku tersebut, disebarkan untuk menjadi bacaan di perpustakaan-perpustakaan SMA di seluruh Indonesia.
Tahun 1994 meraih  penghargaan Cerpenis Terbaik Kompas atas karyanya Lampor. Tahun 1997  meraih penghargaan   Cerpenis  Terbaik  Nasional  BSMI  atas karyanya Keluarga  Mudrika.  Tahun 1998 mengikuti  Writing  Program  pada Majelis Sastra  Asia  Tenggara,  dan  meraih  penghargaan  Dewan Kesenian  Jakarta atas nominasi karyanya Keluarga Maling.  Mengikuti PSN-X dan Pertemuan Sastrawan Malaysia-1 di Johor Bahru  Malaysia pada tahun 1999.  Kemudian Januari hingga April 2001,  mengunjungi  Eropa atas  undangan  Festival  Winternachten di  Deen  Haag Belanda, tinggal  di  Amsterdam, serta berkeliling membacakan cerpen  dan  ceramah-ceramah  sastra  di Paris-Perancis.
Selama lima tahun ia berkeliling Indonesia, memperkenalkan sastra ke SMA-SMA hingga ke pelosok-pelosok daerah dan pulau terpencil bersama Taufiq Ismail dkk., dalam program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya. Tahun 2000 mendirikan Jurnal Cerpen Indonesia, dan Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia, kemudian terhitung mulai Maret 2004, ia duduk sebagai redaktur di Majalah Sastra Horison.
Menerima Anugrah Pena 2005 atas kumpulan cerpennya “Malaikat Tak Datang Malam Hari”. Tahun 2007 kumpulan cerpen “Malaikat Tak Datang Malam Hari” kembali meraih Hadiah Sastra Pusat Bahasa. Hingga kini menetap  di Yogyakarta, menulis, melukis, sambil membina pondok pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

Sumber Buletin Pawon Sastra
Selengkapnya: Wawancara Han Gagas dengan Joni Ariadinata

Pengarang Tua dari Pulau Rote

Tuesday, 27 November 2012

Membaca kisah seorang pengarang tua. Energi yang besar mengalir dalam diriku gara-gara membacanya. Apakah itu sebuah jalan yang harus dipelajari. Jalan kisah asing yang menjadi akrab dengan diri darahku. Darah PUISI!. Dalam hati makin kuat doa dan harap.

Aku makin penasaran dengan sosok pengarang tua itu. Bagiku, itu sungguh hebat. Sudah usia tua pun masih berkelana mengembara dalam imaji. Ia ing
in bertemu dan bercakap tentang puisi. Namun entah kapan bisa bersua dengan beliau. Dan seseorang yang saya anggap suhu berkenan menyampaikan salam untuk beliau, Pengarang Tua.

Beliau begitu hidup. Beliau begitu cakap mengurai kisah perjalanan. Karena puisi adalah energi spiritual dalam diri beliau.

Aku berharap, puisi menjadi jantung. Puisi semakin melebur dalam darah ini. Doa kuat.
Plumbon Mojolaban Sukoharjo, 27 Nopember 2012
*) Ekohm Abiyasa

Selengkapnya: Pengarang Tua dari Pulau Rote

Profil Sastrawan: Pramoedya Ananta Toer

Friday, 5 October 2012

Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya ialah guru dan ibunya ialah pedagang nasi. Ia meneruskan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora.
Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Ia menulis cerpen dan buku sepanjang karir militernya dan dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia sanggup tinggal di Belanda sebagai bagian program pertukaran budaya, dan saat kembalinya ia menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan: 13 Oktober 1965 - Juli 1969, Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan, Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru, November - 21 Desember 1979 di Magelang .

Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanaya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalamannya sendiri. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
  “Dahulu dia selalu katakan apa yang dia pikirkan, tangiskan, apa yang ditanggungkan, teriakan ria kesukaan di dalam hati remaja. Kini dia harus diam- tak ada kuping sudi suaranya.” Pramoedya Ananta Toer
Mulai menulis sejak jaman Jepang, novelnya yang pertama, Kranji dan Bekasi Jatuh, terbit tahun 1947. Kemudian ia dimasukkan penjara oleh Pemerintah Belanda karena membawa surat-surat yang dianggap berbahaya oleh tentara Belanda. Sebelum itu, Pram memang aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan aktif juga dalam bidang pers. Sebenarnya Pram kala itu sudah banyak menulis karya sastra namun banyak yang hilang naskahnya. Romannya yang berjudul Perburuan (1950), mendapat hadiah dalam sayembara mengarang yang diselenggarakan oleh Balai Pustaka. Cerita dari Blora, mendapat hadiah sastra Nasional BMKN tahun 1952.

Karya-karya Pram kebanyakan berupa novel, yakni Perburuan (1950), Keluarga Gerilya (1950), Di Tepi Kali Bekasi (1950), Keluarga Gerilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (2 jilid, 1951-1952), Bukan Pasar Malam (1951), Korupsi (1954), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Gulat di Jakarta (1953), Percikan Revolusi (1950), Cerita dari Blora (1952), Cerita dari Jakarta (1957).

Berbagai buku tentangnya telah ditulis, namun tak satupun menyentuh kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya tenggelam dalam kebesaran namanya. Kini beberapa bulan setelah wafatanya, barulah muncul sebuah buku yang mencoba menghadirkan sosok Pram yang apa adanya dari kacamata Koesalah Soebagyo Toer selaku adik kandungnya yang memiliki hubungan yang paling dekat dengannya.

Buku yang ditulis oleh Koesalah ST ini merupakan catatan pribadinya mengenai persinggungannya dengan Pramoedya yang ia tulis dari tahun 1981 hingga 20 April 2006, sepuluh hari sebelum wafatnya Pram. Karena merupakan catatan pribadi, setiap catatannya bersifat personal, ada yang pendek (1/2 halaman) hingga yang panjang (5-6 halaman).
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Hadiah Ramon Magsaysay untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memenangkan hadiah dari Universitas Michigan.

Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan sedang dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.

Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

* Dari berbagai sumber
http://majelissastramadiun.blogspot.com/2011/12/profil-sastrawan-pramoedya-ananta-toer.html 

Lebih lengkap: http://id.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer
Selengkapnya: Profil Sastrawan: Pramoedya Ananta Toer

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas