Showing posts with label tips puisi. Show all posts
Showing posts with label tips puisi. Show all posts

Proses Berkarya

Monday, 30 March 2015

Ketika ingin belajar menulis puisi, kita sering mengalami mati ide. Berikut ada beberapa tips dan trik.

1. Tulis saja dahulu, edit kemudian
Pertama yang perlu dilakukan adalah tulis saja yang ada di kepala. Tulis saja kata-kata yang ada di otak. Sesingkat mungkin. Tulis kata-kata yang didapat lalu dirangkai sedemikian rupa. Kalau sudah selesai, kita edit/teliti lagi. Kata mana yang kiranya perlu pengembangan atau tambahan. Jadilah puisi!

2. Pemilihan kata yang sesuai
Pada tahap selanjutnya, saya sarankan untuk membuat puisi dengan pemilihan kata yang sesuai dengan tema agar semakin jelas dan terarah. Setiap kata punya banyak sekali makna. Kita bedah itu. Misal "batu". Batu punya makna keras, hitam, ada keterkaitan dengan air, sungai, laut dll. Dari eksplorasi makna kata itulah kita bisa mengembangkannya.

3. Memakai konsep
Pada saat kita sudah berada pada tingkatan yang lebih tinggi, saya sarankan untuk memakai konsep atau tema yang lebih spesifik agar tulisan (puisi) lebih terarah maknanya. Jika konsep itu dirasa membebani, maka jangan terlalu dihiraukan konsep itu. Lebih baik menulis sesuai kemampuan atau yang ada di kepala. Namun saya anjurkan untuk memakai konsep. Kita pakai konsep 10%, sisanya mengalir saja dari kepala.

4. Bergabung dalam komunitas sastra
Nah, ketika kita sudah merasa berada pada level setingkat lebih tinggi lagi, kita hendaknya menimba ilmu pada orang yang lebih luas pengalamannya. Kepada siapa sajapun kita juga bisa belajar menimba pengetahuan. Karena kita tidak mungkin kan berada pada level yang sama dari dahulu sampai kini?. Hadirilah acara-acara sastra di kota terdekat. Ikutlah bergabung dalam suatu komunitas sastra. Dengan begitu akan membuat kita semakin kaya pengetahuan dan tentunya menambah teman sehobi. Dengan begitu pula kita bisa mengembangkan karya berikutnya.

Banyak referensi yang perlu kita ketahui, minimal tahu saja sudah cukup. Dengan banyak berhubungan atau berkumpul dengan orang-orang yang sehobi atau sejalur dengan yang kita minati, tentu secara tidak langsung maupun langsung akan mempengaruhi kinerja kita dalam berproses/berpuisi. Ini sangat penting. Sebab kalau tidak, kita akan mati dan tenggelam. Tidak ada karya lagi yang akan terlahir dari jemari kita, dari keyboard laptop maupun komputer kita.

5. Pertajam naluri dan hati nurani
Ketika sudah berjalan tahap-tahap diatas, kita sering melupakan satu ini, melihat diri, yaitu menulis tentang diri kita sendiri, lingkungan dan sekitarnya. Kita sering mengangkat tema-tema besar di luar sana. Kita sering mengkritik habis-habisan orang lain. Namun kita luap mengkritik diri sendiri. Kita kdang-kadang melupakan naluri dan nurani hati sendiri. Inilah yang penting juga untuk diperhatikan. Kalau dalam bahasa lain orang menyebut "kemunafikan diri".

Pelajaran puisi pada tingkat sekolah baik SD, SMP maupun SMA hanyalah formalitas. Lebih jauh dan luas ditemukan di luar sekolah itu. Banyak orang yang menekuni dunia puisi dan hendaknya kita menimba ilmu pada mereka. Tentunya yang sesuai dengan minat kita.

Hingga pada akhirnya kita merasa pada tingkatan yang matang. Punya nama yang diperhitungkan dalam dunia sastra(puisi) di Indonesia. Orang-orang menyebut kita ""sastrawan".

Jakal KM 14 Jogja, 16 Nopember 2012

Selengkapnya: Proses Berkarya

Musuh atau Hal yang Perlu Dihindari dalam Menulis Puisi

Tuesday, 13 May 2014

...
Bahwa setiap langkah yang harus ditempuh oleh profesi apa pun, termasuk penyair, memerlukan proses yang panjang, salah satunya adalah proses refleksi, kontemplasi, perenungan, baik mengenai materi yang akan ditulis, maupun bentuk setelah jadi tulisan (setelah jadi puisi). Puisi yang hari ini ditulis, ketika esok hari dibaca lagi, ternyata banyak diksi yang tidak pas, banyak kata yang harus dibuang. Itulah sebabnya Chairil Anwar perlu keranjang sampah untuk mewadahi kertas yang diremas, yang berisi puisi yang gagal.

Puisi adalah karya imajinasi penyair dalam bentuk larik-larik yang bermakna. Puisi adalah bahasa yang padat, mampat. Puisi adalah dunia penuh makna, bahkan menurut Abdul Hadi WM dalam Ayat-ayat Sastra (Junaedhie, 2013) puisi merupakan sarana untuk mencari kebenaran atau memahami hidup. Ia juga merupakan sarana ekspresi atau media untuk mewujudkan hidup, suatu hal yang hakiki bagi manusia. Di dalam puisi, sebagaimana di dalam ilmu dan seni yang lain, tercakup cita-cita manusia akan kebenaran, akan kehidupan. Puisi juga bisa merupakan tanggapan terhadap secara batiniah, lanjut Abdul Hadi WM. Karena itu puisi juga merupakan katarsis, upaya bersih diri dari bentuk-bentuk kehidupan profan dengan nilai-nilai yang transendental. Puisi bisa menjadi sarana ibadah, pernyataan baru, dan cinta yang mendalam dan personal. Puisi menjadikan yang baru tetap baru, yang aktual tetap aktual, karena berurusan dengan hal-hal yang fundamental. Puisi bukan upaya untuk menyulap misteri.

Menulis puisi melibatkan banyak hal yang cukup kompleks : pengalaman, kedalaman, kejujuran, kecerdasan, dan sedikit kegilaan (Sarjono, 2010). Semua dasar kepenyairan bermuara pada keterampilan teknis di satu sisi dan wawasan sang penyair di sisi lain. Mengingat kompleksitas urusan menulis puisi, puisi yang “baik” tidak mungkin lahir dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 

Ada lima musuh puisi yang harus dihindari agar menghasilkan puisi yang yahud menurut Agus R Sarjono. Kelima musuh puisi itu adalah : keumuman, simplifikasi, propaganda dan reklame, klise, dan nasihat. Hindarkan kelima hal tersebut dari puisi anda, jika puisi anda ingin mencapai predikat puisi yahud.

Musuh pertama dalam puisi adalah keumuman. Puisi anti pandangan yang umum. Keumuman harus dihindari. Sebagai contoh, pandangan umum mengenai sosok ibu adalah perempuan yang mengandung 9 bulan, pemberi ASI, mulia, lembut, penuh cinta kasih, penuh pengabdian, dan seterusnya. Jika anda menulis puisi tentang ibu dengan pandangan umum itu, niscaya puisi anda tidak akan menarik. 

Musuh kedua dalam puisi adalah simplifikasi, yang artinya penyederhanaan yang banyak hubungannya dengan kebiasaan menggeneralisir atau menggebyah-uyah.  Pandangan yang menggebyah-uyah, menggeneralisir sangat dekat juga dengan keumuman di atas. Cara pandang yang memukul-rata. Ini tidak akan melahirkan puisi yahud. Bahwa pengemis itu pasti kumal, jorok, kotor. Bahwa guru ngaji itu pasti lurus, saleh, suci. Bahwa Barat itu pasti TOP. Bahwa pacaran itu pasti ada dengan adegan-adegan cinta mesra. Dan seterusnya.

Musuh ketiga dalam puisi adalah propaganda dan reklame. Mengapa propaganda dan reklame menjadi musuh dalam menulis puisi, karena kedua hal tersebut sering lepas dari hubungan personal dengan manusia. Ada indoktrinasi. Ada intimidasi. Sudah pasti, hal ini bertentangan dengan bahasa puisi yang ingin memagut hati, ingin bersunyi dengan hati.

Musuh keempat dalam puisi adalah klise, artinya puisi yang menggunakan kata-kata klise bukan puisi yahud. Kata, frasa, klausa, ungkapan, kalimat klise artinya kata, frasa, klausa, ungkapan, atau kalimat yang sudah ribuan kali digunakan sehingga tidak menimbulkan suasana baru lagi. Penyair yang baik akan menciptakan ungkapan-ungkapan baru sehingga puisinya segar, tidak klise. Beberapa ungkapan klise misalnya wajahmu seperti bulan, matamu seperti bintang timur, pipimu bak pauh dilayang, bibirmu merah delima, dan lain-lain. Di dunia iklan dikenal beberapa ungkapan baru seperti senyum pepsodent, minum makanan bergizi.

Musuh kelima ialah nasihat, maksudnya puisi yang berisi nasihat sangat riskan karena orang yang menasihati jika belum melaksanakan isi nasihat tersebut akan dijuluki orang yang jarkoni, bisa ngajar tetapi tidak bisa nglakoni.  

Musuh keenam (tambahan) adalah rumitisme. Puisi yang dibuat rumit dengan alih-alih agar tidak umum padahal tidak sampai pada makna yang dikehendaki.

Disarikan dari esai "PUISI-PUISI EKO SUSANTO : SEBUAH KRITIK REFLEKTIF" Oleh Esti Ismawati.

Selengkapnya: Musuh atau Hal yang Perlu Dihindari dalam Menulis Puisi

Membuat Puisi Pendek yang Baik

Wednesday, 12 March 2014

oleh Imron Tohari

1. Judul sangat penting (kalau tidak boleh dikatakan vital) dalam penciptaan puisi pendek. Dengan judul yang baik dan kuat, akan menjadi pemandu awal bagi penikmat baca untuk masuk dan menelaah makna dari puisi bersangkutan, hal ini dikarena puisi pendek sangat terbatas volume katanya.

2. Pemilihan diksi yang kuat akan membentuk tautan kalimat yang bisa meruangkan makna luas (tetap perhatikan estetika poetika-nya) sehingga dengan kata terbatas namun tetap indah dan memberi ruang imajinasi dengan leluasa.

3. Manfaatkan majas: metaphor, personifikasi, hiperbola, paradok, satire, ect dengan baik. Sebab majas dan atau gaya bahasa sangat membantu dalam puisi genre ini. Majas yang baik akan kian memberi ruang kalimat tertaut menjadi lebih luas, dalam arti majas memberi nilai tambah dalam unsur keluasan latar.

4. Puisi pendek lebih menitikberatkan pada isi/makna, walau dalam hal ini unsur keindahan juga harus tetap diperhatikan. Namun dengan keterbatasan kata yang ada pada puisi genre ini, yang lebih diutamakan adalah bagaimana keterbatasan kata tersebut bisa menyampaikan pesan makna ke penghayat dengan baik.

Contoh :

Disalib Peradaban

di mural-mural kota
orang lalu lalang mencari mata
di istana negara
perkongsian politik lahan paling subur menggali kubur…

saat jiwa tak lagi jelas mendengar detak kerohanian
jarum waktu serupa jahanam jatuh tepat menancap di batok kepala

(Imron Tohari _ lifespirit 24 januari 2011)

5. Dalam puisi pendek biasanya pada batang tubuh puisi dibagi dua, yakni: alur konflik peran dan alur penutup (bisa berupa sebuah renungan, bisa berupa pemikiran kekinian, bisa juga berupa kesimpulan dari inti tema yang diangkat, ect), sebab judul mempunyai peran ganda dalam puisi pendek, selain untuk memberi gambaran dari keseluruhan isi karya, juga tidak jarang berperan sebagai alur awal/pemandu awal sebelum masuk batang tubuh puisi.

Contoh judul yang sekaligus berperan sebagai awal sekaligus sebagai kesimpulan dari inti tema :

Digoda Rindu

Ketika gemerisik daun bambu diikuti sahutan jangkerik
senja melenggang
menghantar rindu ke peraduan malam

Digoda rindu siapa peduli batang bambu dan jangkerik di luar kedinginan?

(by lifespirit 26 Januari 2011)

* * *
Lima hal yang perlu diperhatikan dalam mencipta puisi pendek yang terdiri hanya beberapa kata/kalimat (tidak lebih dari 17 kata/kalimat) ala lifespirit!:

1. Judul pada puisi model tuang seperti ini sangat penting (kalau tidak boleh dikata tidak bisa ditawar-tawar lagi), hal tersebut berkenaan dengan padatnya kata yang bisa diolah menjadi suatu kekuatan utuh karya dalam menyampaikan pesan pada penikmat baca tanpa meninggalkan kesan keindahan bahasa puisi itu sendiri. Judul yang baik (baca: kuat) sekaligus merupakan pintu masuk untuk pembaca bisa memahami dan menikmati letupan pesan yang ingin dihantarkan pencipta karya ke imaji rasa penghayat.

2. Peran diksi pada puisi pendek genre ini (selanjutnya akan saya sebut sebagai puisi padat kata) mutlak sangat penting bagi berhasil tidaknya karya tersebut merangkum idea tema yang ingin dilukiskan oleh pencipta karya. Untuk itu usahakan tidak tergesa-gesa dalam memilih diksi yang akan dipergunakan, dalam arti pahami betul sifat serta karakter dari diksi terpilih.

3. Upayakan diksi, walau itu hanya satu kalimat bisa menciptakan ruang luas untuk penikmat baca berimajinasi. Misal kata yang menimbulkan efek visual bunyi: kraakkk, plung, bum, ect dan atau kata yang menyiratkan kata kerja aktif, misal: menggali, memintal, mengintip ect.

4. Judul dan isi harus saling menompang satu dengan yang lainnya. Dalam arti, judul sekaligus merupakan rangkuman maksud dari isi karya.

5. Jangan buru-buru memposting, namun upayakan untuk melalui proses pengendapan karya, sehingga kita bisa mengevaluasinya dengan control emosi yang tenang serta obyektif. Hal ini untuk menghindari jebakan puisi model padat kata yang biasanya kita tanpa sadar terjebak langsung menulis secara terang benderang, sehingga nilai estetika bahasa kontemplatipnya berkurang.

Beberapa contoh puisi padat kata yang memanfaatkan kekuatan imajinatip diksi/kata/kalimat:

Kemarau
sawah ladang kering
Petani berebut ranting
Krakk!
Di dapur, perempuan menanak nafas

(2010)

Sajak Hening
Kenapa kau mencintaiku?
jatuh sebatang ranting
plung…

(2010)

Mengetuk Pintu Langit
Syahadat
Tanda serukah
O tanda Tanya

(2009)

Sumber http://rio-sipamungkas.blogspot.com/2013/10/cara-membuat-puisi-pendek-yang-baik.html
Selengkapnya: Membuat Puisi Pendek yang Baik

Membaca Puisi Sesuai Porsi

Saturday, 12 October 2013

Membaca puisi di depan audiens tentu tidak sama dengan membaca puisi di dalam kamar apa lagi dibaca dalam hati. Karena ranahnya masuk pada ranah pertunjukan. Sejauh ini masyarakat mengenalnya dengan nama ‘deklamasi’. Deklamasi berasal dari bahasa Latin yang maksudnya declamare atau declaim yang berarti membaca hasil sastra yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh sebagai alat bantu. Umumnya deklamasi berkaitan dengan puisi, tetapi membaca sebuah cerpen dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi. Mendeklamasikan puisi atau cerpen bermakna membaca, tetapi membaca tidak sama dengan maksud mendeklamasi.

Sebenarnya penyebutan itu tidak pas, dikarenakan pembacaan karya sastra khususnya puisi memiliki dua jenis yang tentunya pembacanya juga disebut dengan sebutan yang berbeda. Berikut barangkali perlu dipaparkan mengenai kedua jenis pembacaan puisi di hadapan audiens:

1.    Deklamasi
Membaca puisi dengan cara deklamasi dilakukan tanpa membawa teks. Gaya atau ekspresi berdeklamasi lebih bebas dibandingkan poetry reading. Saya pribadi tidak pernah menggunakan teknik ini, disebabkan tidak mau menghafal teks puisi. Meski penampilan teknik deklamasi lebih maksimal. Karena tidak perlu direpotkan oleh teks yang harus dipegang. Risiko yang mungkin dihadapi adalah lupa di atas panggung, jika itu terjadi tamatlah! Keuntungan teknik ini adalah penjiwaan yang total, disebabkan tidak perlu berulang-ulang melihat tek, apa lagi dalam ruang dengan pencahayaan yang kurang. Deklamasi ini bagi beberapa orang cocok untuk pementasan puisi non-perlombaan. Tetapi untuk perlombaan dianggap tidak cocok karena ada syarat dan ketentuan yang mengikat. Tetapi sejauh pengamatan saya, syarat dan ketentuan tidak spesifik. Hanya soal mimik, ekspresi, intonasi, penguasaan panggung dan hal-hal berbau teknis biasa lainnya. Artinya anggapan tersebut dapat disebut masih anggapan sepihak.

2.    Poetry Reading
Membaca puisi dengan gaya ini dilakukan dengan membawa dan langsung membaca teks (tidak dihafal). Maka salah jika ada panitia yang membuat lomba membaca puisi tetapi mewajibkan pesertanya harus menghafal. Mestinya nama lomba adalah mendeklamasikan puisi, baru itu teks, konteks, dan juklak, serta juknis selaras. Keuntungan teknik ini, terhindar dari lupa teks. Sedangkan kekurangannya adalah teks yang dibawa kadang menganggu gerak juga penjiwaan. Jenis pembacaan ini yang konon paling pas untuk perlombaan, maka jangan heran jika melihat juara perlombaan puisi dari tingkat regional hingga nasional memiliki gaya yang monoton dengan intonasi yang tidak jauh berbeda. Saya jadi mengkiaskan, jika pembacaan puisi diamini sekaku itu apa jadinya jika penulisan puisi juga dibuat demikian? Puisi-puisi yang tercipta tentu gaya-gaya lama.

Selain kedua jenis tersebut, belakangan ini muncul wacana yang saya temukan dari beberapa perlombaan dan beberapa pertemuan penyair. Ada dua pengelompokan jenis puisi lagi, yakni pembacaan puisi ‘murni’ dan pembacaan puisi ‘teatrikal’. Pengelompokan jenis pembacaan ini berbeda dengan pengelompokan antara ‘deklamasi’ dan ‘poetry reading’. Pengelompokan dilihat dari gaya pembacaan secara menyeluruh. Pembacaan puisi murni adalah saat si pembaca tidak banyak melakukan gerak yang berlebih dan ekspresi yang juga berlebih. Yang lebih ditekankan pada pembacaan puisi jenis ini adalah aksentuasi. Ada anggapan bahwa pembacaan puisi dengan gerak berlebihan dan mimik melampaui kewajaran akan merusak teks puisi secara total.

Tentu saja lain anggapan bagi pembacaan puisi teatrikal yang memfungsikan secara maksimal semua anggota tubuh saat membaca teks puisi terutama yang menyangkut kinesik (gerak anggota tubuh). Bagi pembaca puisi teatrikal memanggungkan puisi berarti melepaskan diri dari teks yang mati dengan menghidupkan ruh, pesan, dan kesan melaui berbagai gerak, ekspresi, dan instrument-intrument pendukung lainnya. Menarik memang, pembaca puisi teatrikal mengesahkan semua tindakan di atas panggung asalkan mampu menghidupkan suasana tanpa mengesampingkan ruh dan pesan dari teks puisi. Termasuk menggumam, melanggang, bernyanyi, menghantak-hentakkan kaki sebelum memulai pembacaan atau lain sebagainya. Konsep yang bertambarakan antara pembacaan puisi murni dan teatrikal ini kerap menimbulkan polemik dalam kegiatan perlombaan pembacaan puisi. Ada saja dewan juri yang protes bahwasanya pembacaan puisi tidak memerlukan gumaman, langgam, atau nyanyian sebelum membaca puisi, apa lagi gerak yang berlebih dianggap sangat menganggau. Di sisi lain peserta akan protes keras bahwasanya selama tidak mengganggu muatan puisi itu sah saja.

Dari kasus tersebut baiknya memang harus dilakukan rapat penentuan jenis pembacaan puisi dalam perlombaan. Sayangnya, hingga saat ini semua mengambang begitu saja. Lagi pula namanya kesusastraan jika dilombakan memang hanya melahirkan dosa. Terutama dosa dewan juri, dari mana munculnya angka-angka dalam draft penilaian semisal 7.5, 8.0, 4.0, dan sebagainya? Apakah kesenian berubah jadi angka-angka pasti dalam dunia eksakta? Meski demikian, perlombaan kesusastraan masih dinilai perlu untuk memberi stimulus kepada masyarakat agar mau mengenali sastra dan jika bisa mencintai sastra. Soal dinamika dalam perlombaan sudah hal lumrah, jika datar-datar saja tidak menarik.

Keberhasilan Pembaca Puisi
Keberhasilan pembacaan puisi sangat ditentukan oleh kemampuan menyampaikan pesan teks puisi dan tidak kalah penting, adalah membentuk ruh puisi dalam ruang pembacaan baik berupa panggung, kelas, gedung, atau lapangan terbuka. Dikarenakan pentingnya penyampaian pesan teks puisi maka yang perlu dilakukan pertama kali adalah melakukan penafsiran atau interpretasi.

Harus dipahami bersama, interpretasi ini sifatnya sangat pribadi. Tidak ada penafsiran yang salah. Hal ini disebabkan karena puisi memiliki ciri ‘prismatis’. Tidak terang benderang sebagaimana berita di Koran. Tidak juga gelap seperti ruang tanpa penerangan. Sehingga memungkinkan terbukanya pemaknaan yang beragam. Tetapi mempribadinya proses penafsiran harus mempunyai alasan yang tepat dan logis, serta didukung oleh instrument-intrumen bahasa yang memadai. Semisal ada larik begini dalam sebuah puisi: “Kekasih, malam menabuh sunyi hingga gugur nyayi dari langit yang menyendiri”. Sebagian orang bisa menafsirkan ‘Kekasih’ di dalam puisi tersebut ditujukan kepada manusia yang dikasihi. Tetapi tidak menutup kemungkinan sebagian lagi menafsirkan bahwa ‘Kekasih’ ditujukan kepada Tuhan alam semesta.  Penafsiran ‘kekasih’ sebagai manusia atau penafsiran ‘kekasih’ sebagai Tuhan keduanya adalah sah. Melalui penafsiran pembaca dapat menemukan emosi di dalam teks puisi. Sehingga saat membacakannya benar-benar menjiwai. Tidak sekadar membaca dan selesai. Teknik jeda dan pemenggalan kata juga akan sangat tergantung pada proses ini.

Setelahnya barulah berbicara teknis, sebenarnya teknik pembacaan puisi sudah menjadi pembahasan yang lapuk, karena semenjak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas materi itu sepertinya menjadi menu wajib dalam Lembar Kerja Siswa. Tetapi baiklah, tak ada salahnya mengulas kembali. Teknik utama yang harus dimiliki oleh pembaca puisi atau deklamator puisi (walau sebutan ini tidak pas mengingat ada dua jenis pembacaan puisi di depan audiens yang saya paparkan sebelumnya) adalah ‘olah vokal’.  Karena sangat berpengaruh pada ‘artikulasi’ dan ‘intonasi’.  Artikulasi atau pengucapan kata yang jelas dan tegas menunjang sampainya pesan ke audiens. Jika artikulasi payah, jangankan pesan, kata perkatanya saja terdengar tidak karuan. Apa lagi makna dari puisi yang dibacakan?

Banyak cara melatih artikulasi, memperbanyak senam muka, melafalkan huruf-huruf vokal dan konsonan secara berkala dan teratur dengan intensitas yang cukup (biasanya kelompok-kelompok teater melakukan olah vokal dan tubuh secara teratur). Ada pula yang berpendapat cara sederhana dengan menyelam dalam kolam dan melafalkan huruf sekeras-kerasnya (bagian ini pengalaman di pesantren, setiap pagi teriak-teriak di dalam kolam agar suaranya panjang dan artikulasi bagus), dan masih banyak lagi cara. Tetapi saya punya tips tersendiri, pelajarilah makharijul harfi dan tajwid dalam membaca Al-Qur’an, maka artikulasi tidak lagi menjadi masalah. Karena orang-orang yang mahfum dengan makharijul harfi dan tajwid tahu benar bagaimana mengucapkan huruf yang teratur dan tidak saling menyandung.

Selanjutnya ‘intonasi’; merupakan tekanan-tekanan  yang diberikan pada kata. Baik ‘Dinamika’ (keras-lemah),  ‘Nada’ (tinggi-rendah), maupun ‘Tempo’ (cepat-lambat). Jika olah vokal seseorang kurang niscahya akan kesulitan menurunkan dan menaikkan suara, bahkan bisa jadi saat suara sudah naik susah sekali untuk menurunkan sehingga kesannya seperti orang teriak-teriak, bukan membaca puisi. Pada keadaan tertentu tak jarang pembaca puisi mengeraskan suaranya terlampau keras bahkan seperti orang teriak-teriak tidak karuan. Tanpa disadari oleh pembaca puisi betapa teriakannya itu membuat telinga audiens sakit. Atau datar luar biasa seperti papan selancar sehingga tidak memberikan dinamika sama sekali. Hal ini bisa membunuh teks puisi, karena sejatinya teks puisi tidak mungkin datar. Ia menyajikan dinamika dan bunyi-bunyi baik yang dominan ataupun tidak.

Tetapi meski sudah memiliki teknik vokal yang baik,  tidak akan berhasil tanpa didampingi oleh ‘kontrol emosi’ yang mumpuni. Ada fenomena yang kerap saya temui ketika menjadi juri di beberapa lomba pembacaan puisi. Banyak pembaca yang menangis sejadi-jadinya—tersedu-sedulah si pembaca. Barangkali jika dikaji dari aspek totalitas akan ada anggapan bahwa menangis sejadi-jadinya adalah bagian dari totalitas, benarkah begitu? Menangis bukan hal yang ‘haram’ dalam pembacaan puisi, selama sesuai dengan teks dan konteks. Akan tetapi harus juga diperhatikan pelafalan kata perkatanya. Kebanyakan saat menangis kata yang keluar tak berwujud, semacam igauan dan isakan saja.

Kasus lain adalah si tukang teriak—teriakan berlebih (lepas kontrol) selain disebabkan oleh olah vokal yang kurang juga dipengaruhi emosi yang tidak stabil bahkan boleh dibilang labil. Dikarenakan meluap-luapnya emosi pembaca, katakanlah saat membaca puisi-puisi protes sosialnya Rendra atau Wiji Thukul, si pembaca dari awal hingga akhir hanya teriak. Ini sejenis dengan pembaca yang datar. Karena sejatinya sama-sama pada nada yang serupa. Bedanya, teriakan bisa membuat pembaca memilih pulang sebab telinganya sakit.

Manusia selalu berurusan dengan ruang, maka saat membaca puisi juga harus memperhatikan ruang. Dalam dunia akademik hal ini lebih dikenal dengan penguasaan panggung. Akan tetapi melihat kenyataan pembacaan puisi tidak selalu di atas panggung atau di dalam gedung saja. Tidak jarang pembacaan puisi di lapangan terbuka semisal dalam acara Jambore Pramuka, atau di atas gunung yang digelar oleh para pecinta alam. Maka harus paham benar tempat di mana membaca puisi. Jika tempat membaca puisi adalah lapangan terbuka, dan panitia sengaja tidak menyediakan alat pengeras suara, maka bersiap-siaplah mengoptimalkan suara. Supaya tidak tertelan oleh riuhnya audiens dan luasnya medium. Pada keadaan ini, baiknya kita membaca dengan keras; keras di sini bukan berarti ‘teriak’ melainkan untuk memastikan audiens bisa mendengar, minimal jarak beberapa meter dari tempat berdiri.

Jika bertempat di gedung yang tidak seberapa besar dengan konsep bangunan tanpa pengedap suara sehingga mudah menimbulkan gaung, sedangkan panitia mewajibkan pembaca menggunakan pengeras suara, bagaimana mensiasatinya?  Teknik penggunaan pengeras suara pada keadaan ini sangat dibutuhkan. Karena jika terlalu dekat terutama saat suara naik akan mengaburkan aksentuasi. Maka saat menaikkan suara ambil jarak yang cukup antara mulut dengan pengaras suara. Saat menurunkan suara bergegaslah mendekati pengeras suara. Perpindahan posisi dari pengeras suara juga harus dilakukan dengan baik. Agar tidak tampak sekali perpindahannya. Repot, memang. Tetapi dengan latihan yang cukup tidak akan jadi kendala yang berarti.

Hal lain yang kadang luput dari perhatian pembaca puisi adalah waktu pembacaan. Jika waktu pembacaan siang hari dan di luar ruangan tantangannya adalah matahari yang terlalu silau (berbeda jika hujan, acara bisa dihentikan panitia). Maka cari tempat yang tidak terkena cahaya matahari secara langsung agar tidak mengganggu proses pembacaan. Bagaimana jika malam hari? Tantangannya adalah penataan lampu. Jika lampu berada di depan panggung, jangan coba-coba maju dan berdiri membelakangi lampu. Karena yang terjadi, pembaca tidak akan terlihat jelas. Baiknya ambil langkah mundur beberapa langkah, tepatnya di tengah panggung. Dengan begitu audiens akan melihat pembaca dengan pencahayaan yang proporsional.

Salah satu aspek yang saling berikatan dengan penguasaan ruang adalah ‘penguasaan audiens’. Pembaca yang baik harus melakukan orientasi audiens beberapa saat sebelum membaca. Bayangkan jika harus membaca di depan anak Sekolah Dasar yang senang bermain-main, gaduh, dan tidak begitu memperhatikan. Terlebih pembacaan dilakukan di lapangan sekolah sebagaimana yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Dengan penonton yang tersebar ke berbagai sudut dan ketidakfokusan audiens, yang dilakukan adalah membaca puisi sambil berjalan mendekati berbagai sudut, jika sudut kiri mulai tidak fokus beralihkan ke kiri untuk mengalihkan pandangan, begitu pula berlaku untuk beberapa sudut lainnya. Hal ini efektif, sebab meski masih Sekolah Dasar, saat anak-anak itu merasa diperhatikan mereka akan berbalik memperhatikan pembaca. Ini sudah menjadi hukum alam. Dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang mengharuskan pembaca secerdik mungkin menghadapi audiens.

Penguasaan audiens juga sangat berpengaruh pada pembawaan; tenang/tidak canggung (ketenangan saat di hadapan audiens menunjukkan mental yang bagus), gerak-gerik yang wajar (over acting bukan hal yang mengesankan, bahkan sebaliknya; memberi kesan membosankan atau membuat audiens mual), dan pemetaan fokus mata yang tepat (mata adalah alat bicara selain mulut, maka saat membaca puisi gunakan mata sebagai alat transformasi makna). Orientasi audiens juga mempengaruhi mood pembacaan, sebab jika tanpa orientasi pembaca tidak tahu respon apa yang akan terjadi, dan jika respon kurang menggembirakan dapat membuat pembaca badmood dan tentu pembacaan jadi tidk maksimal. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah teks puisi yang dibawa. Jangan sampai teks puisi menutupi wajah karena diangkat sejajar dengan wajah. Jika itu terjadi sudah pasti pembaca tidak melihat pembaca melainkan hanya kertas.

Pada dasarnya pembacaan puisi kurang lebih sama dengan penulisan puisi. Ada kebebasan yang ditawarkan di sana. Penguasaan teori pembacaan puisi memang diperlukan. Akan tetapi hati-hati dengan dampak yang mungkin ditimbulkan. Bisa saja pembacaan yang semula dianggap akan jadi baik sebab sudah mengikuti teori-teori yang ada dan menguasai tekniknya. Akhirnya jadi sangat kaku dan membosankan. Karena bukan jiwanya yang membaca melainkan logika. Semua sudah paham, karya tanpa jiwa sama dengan kematian. Alangkah malangnya jika kita berkarya hanya dengan logika? Toh, saat kita mengimani adanya Tuhan tidak semua dapat dilogikakan. Semisal logika Nabi Musa yang meminta bertemu Tuhan di bukit Thursina yang akhirnya tidak sanggup atau logika Nabi Ibrahim yang sempat menganggap bulan dan matahari sebagai Tuhan yang akhirnya memahami keesaan-Nya. Demikian sedikit sekali paham saya, semoga bermanfaat. Salam Merdeka Jiwa dan Badan.

Cilegon. 09.10.2013

Ditulis: Muhammad Rois Rinaldi
Ketua Komite Sastra Cilegon

Selengkapnya: Membaca Puisi Sesuai Porsi

Menganalisa Perbedaan dan Persamaan Sajak, Pantun, Puisi dan Syair

Friday, 5 October 2012

Menganalisa Perbedaan dan Persamaan Sajak, Pantun, Puisi dan Syair. Untuk Menambah Pengetahuan akan pelajaran bahasa indonesia, khususnya perbedaan dan persamaan dari pengungkapan rasa hati itu. kita haruslah mengenal sajak, pantun, puisi dan syair. untuk itu kali ini seenthing akan berbagi sedikit penelusuran dari google search engine yang didapat. untuk itu marilah kita lihat pengertiannya. dan jika ada kesalahan mohon kiranya ada perbaikan dari semua pengunjung. dan silahkan sharing dalam komentnya. terima kasih. lanjuuuuuuuut……..!!!!

SAJAK
Kata sajak dikenal dalam kesusastraan Indonesia. Penggunaan istilah ini sering dicampuradukkan dengan puisi. Padahal, puisi berasal dari bahasa Belanda, dari kata poezie. Dalam bahasa Belanda, dikenal dengan istilah gedicht.

Dalam bahasa Indonesia (Melayu) hanya dikenal istilah ini mengandung arti poezie maupun gedicht sekaligus. Istilah puisi cenderung digunakan untuk berpasangan dengan istilah prosa, seperti istilah poetry dalam bahasa Inggris yang dianggap sebagai salah satu nama jenis sastra.

Dengan demikian, istilah ini lebih bersifat khusus, individunya, sedangkan puisi lebih bersifat general, jenisnya.

Sajak adalah puisi, tetapi tidak sebaliknya. Puisi bisa saja terdapat dalam prosa seperti cerpen, novel, atau esai, sehingga orang sering mengatakan bahwa kalimat-kalimatnya puitis (bersifat puisi). Menurut Putu Arya Tirtawirya, puisi menjadi suatu pengungkapan secara implisit, samar, dengan makna yang tersirat, dimana kata-kata condong pada artinya yang konotatif.

Sajak memiliki makna lebih luas. Tidak sekadar hal yang tersirat, tetapi sudah menyangkut materi isi puisi, bahkan sampai pada efek yang ditimbulkan, seperti bunyi. Karenanya, ia terkadang juga dimaknai sebagai bunyi. Pada hakekatnya, ia mengundang kata berasosiasi. Tidak berinterpretasi, bertafsir-tafsir.

Bagi Subagio Sastrowardoyo, ia adalah apa yang lahir setelah ‘malam yang hamil oleh benihku. Adalah bayi yang dicampakkan ke lantai bumi. Sajak seperti anak haram tanpa ibu membawa dosa pertama di keningnya.

Sedangkan Subagio Sastrowardoyo berpendapat bahwa sajak berguna untuk mengingatkan kita pada kisah dan keabadian. Melupakan kepada pisau dan tali. Melupakan kepada bunuh diri.

Sajak bagi Chairil adalah alamat kemana ia menuju setelah lari dari gedong lebar halaman, dan ketika tersesat tak dapat jalan.

Sajak bagi Goenawan Mohamad adalah catatan kita bagi dingin yang tak tercatat pada termometer. Ketika kota basah, angin mengusir kita di sepanjang sungai, tapi kita tetap saja di sana. Mengamati, mencatat. Seakan gerimis raib dan kita saksikan cahaya berenang mempermainkan warna. Ia adalah ketika kita merasakan bahagia meski tak tahu kenapa.

Tema tentang sajak, baik tersurat guratnya atau hanya tersirat seratnya, atau bahkan cuma bisa kita tafsirkan saja salah satunya, hampir selalu ada ditulis oleh setiap penyair. Mungkin ini sebagai wujud kekariban. Atau persembahan untuk ia sendiri.

Ketika menggubah sajak, maka juga terkandung makna hidup yang dihayati oleh penyair. Ya, karena ia adalah kehidupan. Keduanya sangat dekat. Keduanya saling ada di dalam keduanya: ia ada dalam kehidupan dan kehidupan ada didalamnya. Ia adalah alat yang bisa sangat bermanfaat untuk merumuskan rumit dan samarnya kehidupan.

Sitok Srengenge, menerjemahkan apa peran sajak dan penyair bagi hidupnya dan kehidupan manusia. Sebenarnya selalu ada yang puisi dalam segala sesuatu yang bukan puisi. Dan peran luhur kepenyairan bisa dijalankan oleh siapa saja yang bukan penyair.

Sebaliknya penyair yang mengaku paling penyair pun bisa saja menempuh jalan lenceng: keluar dari jalur luhurnya, tak lagi menjadi dan menjadikan rahasia dalam kata, tak lagi menjelma dan menjelmakan tanda atas fana.

MENGENAL DAN PEMAHAMAN KATA PANTUN
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara, pada umumnya terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (pola ab-ab), dan biasanya tiap baris terdiri atas empat perkataan.

Kata ini mempunyai arti ucapan yang teratur, pengarahan yang mendidik, namun juga bisa berarti sindiran.

Dalam bahasa Jawa, biasa dikenal dengan nama parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Pada mulanya ia merupakan sastra lisan, namun sekarang dijumpai juga bentuk yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, yang seringkali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya). Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari dibuatnya karya sastra ini.

Karya sastra ini dinilai baik jika terdapat hubungan makna tersembunyi dalam sampiran, biasa disebut pantun sempurna atau penuh. Sedangkan pada yang kurang baik, hubungan tersebut semata-mata hanya untuk keperluan persamaan bunyi, dan disebut tak penuh atau tak sempurna.

Karena sampiran dan isi sama-sama mengandung makna yang dalam (berisi), maka kemudian dikatakan, “sampiran dapat menjadi isi, dan isi dapat menjadi sampiran.”

Pantun yang sering dipakai berisi dua baris dan empat baris. Karmina dan talibun merupakan bentuk turrunannya, karena memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan versi pendek (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah versi panjang (enam baris atau lebih).

Pantun adalah genre sastra tradisional yang paling dinamis, karena dapat digunakan pada situasi apapun. Dalam kehidupan masyarakat Melayu sehari-hari, ini termasuk jenis sastra lisan yang paling populer.

Penggunaannya hampir merata di setiap kalangan: tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya miskin, pejabat-rakyat biasa dan sebagainya. Dalam praktiknya, ia diklasifikasi ke dalam beberapa jenis yaitu, Nasihat, Berkasih Sayang, Suasana Hati, Pembangkit Semangat, Kerendahan Hati, Pujian, Teka-teki, Terhadap Perempuan, dan Jenaka.

Pantun juga berfungsi sebagai bentuk interaksi yang saling berbalas, baik itu dilakukan pada situasi formal maupun informal. Pada masyarakat Melayu mengalir berdasarkan tema apa yang tengah diperbincangkan.

Ketika seseorang mulai mengucapkan karya sastra ini, maka rekan lainnya berbalas dengan tetap menjaga tali perbincangan. Pada situasi formal, digunakan ketika meminang atau pembukaan sebuah pidato, sedangkan pada situasi informal seperti perbincangan antar rekan sebaya.

Berikut tips dalam menulis pantun :

1. Tentukan tema dan isi

2. Pilih dan tuliskan baris kaliamat yang akan Anda jadikan sampiran, dengan mempertimbangkan jumlah suku kata tiap baris dan persajakannya. Jumlah suku kata dalam satu baris/kalimat terdiri atas 8-12 suku kata. Persajakan sampiran adalah A-B.

3. Tuliskan baris kalimat yang merupakan isi pantun dengan mempertimbangkan jumlah suku kata tiap baris dan persajakannya. Jumlah suku kata dalam satu baris/kalimat terdiri atas 8-12 suku kata. Persajakan sampiran adalah A-B. Pengungkapan isi harus memiliki keselarasan bunyi dengan sampiran.

PENGERTIAN DAN PEMAHAMAN KATA PUISI DAN PENGERJAANNYA
Puisi adalah susunan kata yang indah, bermakna, dan terikat konvensi (aturan) serta unsur-unsur bunyi. Ciri umumnya adalah bahasa yang padat, penuh metafor.

Biasanya, ini dijadikan sebagai media untuk mencurahkan perasaan, pikiran, pengalaman, dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita.

Siapapun bisa menulis puisi dengan berbagai cara dan dapat dilakukan kapan saja. Biasanya kepekaan hati memiliki peran penting disini. Maka, bentuk tulisan ini juga sering diartikan sebagai ekspresi hati.

Berikut tahapan dalam membuat puisi:

1. Pencarian ide

Kumpulkan atau gali informasi melalui membaca, melihat, dan merasakan terhadap kejadian atau peristiwa, pengalaman (pribadi), social (masyarakat), ataupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).

2. Perenungan

Memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari ide yang didapat. Kemudian memikirkan, merenungkan, dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan, dan pengetahuan yang dimiliki.

3. Penulisan

Inilah proses yang paling rumit, mengerahkan energi kreatif (kemampuan daya cipta), intuisi, dan imajinasi(peka rasa dan cerdas membayangkan), serta pengalaman dan pengetahuan. Untuk itulah, tahap penulisan hendak mencari dan menemukan kata ataupun kalimat yang tepat, singkat, padat, indah, dan mengesankan. Hasilnya kata-kata tersebut menjadi bermakna, terbentuk, tersusun, dan terbaca sebagai puisi.

4. Perbaikan atau revisi

Baca kembali karya yang telah Anda ciptakan. Ketelitian dan kejelian untuk mengoreksi rangkaian kata, kalimat, baris, bait, sangat dibutuhkan. Kemudian, mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak atau kurang tepat.

Biasanya, proses revisi atau perbaikan ini memakan waktu lama, hingga puisi tersebut telah dianggap jadi dan tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki oleh penulisnya.

Untuk mahir berpuisi, maka Anda harus terbiasa dan akrab dengan kegiatan membaca. Apapun yang Anda baca, Anda harus melahapnya dalam porsi lebih. Hal ini untuk memunculkan kreatifitas pandang pikir.

Selain itu, Anda juga harus mampu membaca segala yang tersurat dan tersirat dalam kehidupan ini. Baik itu kejadian-kejadian dalam hidup dan kehidupan sehari-hari, membaca keadaan diri Anda (pengalaman dan cara pandang).

Singkatnya, Anda harus mampu menemukan hal-hal yang menjadi inspirasi dan kekuatan Anda dalam berkarya dari manapun sumbernya.

Biasakan pula diri Anda membaca kritik-kritik puisi yang ada. Hal ini mampu membangun apresiasi dengan baik.

Setidaknya dengan membaca sebuah kritik karya, Anda akan akan mampu melihat sebuah kelemahan dan keunggulan karya yang dikritik itu sehingga memperkaya wawasan Anda dalam menulis.

Hal penting lainnya adalah menulis. Meski ada beberapa cara, namun Anda tidak perlu terlalu terikat pada aturan. Anda bebas menulis apa saja sesuai keinginan hati, baru kemudian melakukan pengeditan.

Untuk berlatih, Anda juga bisa melakukan teknik “copy the master”, yaitu dengan memenggal sebagian puisi yang berirama lalu kita lanjutkan dengan tulisan Anda sendiri. Cara ini sangat efektif untuk mengasah kemampuan menulis Anda.

Hal yang tidak kalah penting adalah banyak berlatih dan tidak terpaku pada satu gaya penulisan. Sering-seringlah berlatih, melakukan diskusi atau membahas karya bersama penikmat dan pemerhati karya sastra, dan menyempurnakan karya-karya tulisan Anda, maka kemampuan Anda dalam berpuisi akan semakin terasah dengan baik. Selamat mencoba!

PEMAHAMAN SYAIR YANG LEBIH DALAM
Syair merupakan puisi atau karangan dalam sastra melayu lama, dengan bentuk terikat yang mementingkan irama sajak.

Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu syu’ur, yang berarti perasaan. Dari kata syu’ur, kemudian muncul kata syi’ru, yang berarti puisi dalam pengertian umum.

Dalam kesusasteraan Melayu, kata ini merujuk pada pengertian puisi secara umum. Namun, dalam perkembangannya, ia mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, dan tidak lagi mengacu pada tradisi sastra di negeri Arab.

Syair bukanlah kumpulan kata yang asal saja dan tidak memiliki makna. Justru, ia hadir membawa makna isi yang berhubung dengan kias ibarat, sindiran, nasihat, pengajaran, agama dan juga berisikan sejarah atau dongeng.

Adapun ciri-ciri Syair adalah sebagai berikut:

1. Merupakan puisi terikat.
2. Umumnya terdiri dari empat baris, agak mirip dengan pantun. Perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris isi yang berdiri sendiri. Sedangkan bait syair merupakan bagian dari sebuah cerita yang panjang.
3. Jumlah kata dalam satu baris tetap, yaitu 4-5 kata satu baris
4. Jumlah suku kata dalam satu baris juga tetap, yaitu antara 8-12 suku kata dalam satu baris
5. Rima akhir juga tetap yaitu a/a/a/a. Ada juga yang memiliki rima a/b/a/b, tiga baris dengan rima akhir a/a/b, dan dua baris dengan rima a/b, namun ketiga bentuk syair terakhir tidaklah popular.

Jika Anda bertanya siapa penyair yang berperan besar dalam membentuk syair khas Melayu, maka dia adalah Hamzah Fansuri. Karya yang sudah dihasilkan antara lain: Perahu, Burung Pingai, Dagang, dan Sidang Fakir.

Dari namanya, orang Melayu mengenali syair seiring dengan penetrasi dan perkembangan ajaran Islam, terutama tasawuf di Indonesia. Bentuk berbahasa Arab yang tercatat paling tua di negeri ini adalah catatan di batu nisan Sultan Malik al-Saleh di Aceh, bertarikh 1297 M.

Sedangkan yang berbahasa Melayu yang tertua adalah syair di prasasti Minye Tujoh, Aceh, Indonesia bertarikh 1380 M (781 H). Didalamnya, bahasa Melayu masih bercampur dengan bahasa Sansekerta dan Arab.

Sedangkan dari segi jumlah, syair diperkirakan menempati posisi kedua setelah pantun. Artinya, bentuk sastra ini sangat populer pada masyarakat Melayu. Dari segi cara penceritaan, ia bisa diklasifikasi menjadi dua, yaitu naratif dan yang non naratif. Berdasarkan isi dan tema, bentuk naratif bisa dibagi kembali menjadi 4 jenis yaitu:

1. Romantic, sebagai contoh: Bidasari
2. Sejarah, sebagai contoh: Perang Makassar, Perang Banjar
3. Keagamaan, sebagai contoh: Nur Muhammad
4. Kiasan, sebagai contoh: Ikan Terubuk

Sedangkan syair non-naratif terbagi kembali menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Agama
2. Nasihat
3. Di luar tema-tema tersebut 

Sumber http://majelissastramadiun.blogspot.com/2011/03/menganalisa-perbedaan-dan-persamaan.html
Selengkapnya: Menganalisa Perbedaan dan Persamaan Sajak, Pantun, Puisi dan Syair

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas