Showing posts with label joni ariadinata. Show all posts
Showing posts with label joni ariadinata. Show all posts

Seorang Penulis Harus Cerdas

Tuesday, 28 April 2015

Seorang penulis harus cerdas, penulis yang tidak cerdas hanya akan memiliki khayalan.

Penulis harus mencari data untuk mengetahui lebih jauh apa yang akan ditulis maka cara pandang penulis akan lebih luas.

Mulailah menulis dengan membedakan mana yang khayalan dan mana yang imajinasi. Imajinasi adalah syarat utama yang harus dimiliki penulis, ciri imajinasi adalah kreatif.

Penulis lahir dari istiqomah, bukan dari trik-trik atau workshop menulis.

Jika kemampuan menulis tidak sebanding dengan imajinasi yang dimiliki, kuncinya adalah latihan.

Orang yang mengirim cerpennya 40 kali akan lebih baik dari yang hanya 3 atau 4 kali ditolak lalu menyerah . 


(Joni Ariadinata. Redaktur Majalah Sastra Horison dan Jurnal Cerpen Indonesia)

Foto oleh: Mas @Dwi Suwikyo
Kutipan oleh: @radiobuku


Sumber: Facebook Penerbit DIVA Press.
Selengkapnya: Seorang Penulis Harus Cerdas

Wawancara Han Gagas dengan Joni Ariadinata

Thursday, 20 June 2013

"Kualitas karya antar penulis boleh 'sama mutunya' namun 'keberuntungan' tiap penulis berbeda-beda..."
Joni Ariadinata.
Perjalanan ke rumah om Joni Ariadinata di sini.

Wawancara kali ini terbilang mendebarkan.
Pertama, saya sepertinya harus mengunjungi narasumber yaitu Joni Ariadinata di rumahnya, rumah yang pernah tayang di rubrik Rumahku harian Umum Kompas. Saya terus terang “terpesona” terhadap “keindahan, keluguan, keajaiban” pembangunan rumah Mas Joni seperti yang saya baca di Kompas. Rumah di pinggir sungai, lemah kiwo, “tempat pembuangan jin”, rumah dengan tanah yang luas dengan beberapa kolam yang hasilnya diberikan cuma-cuma pada warga sekitar, rumah yang secara ajaib bisa dibangun “hanya” dengan “menulis” disokong oleh doa kuat Gus Mus –Mustofa Bisri- dan Kang Ahmad Tohari.

Rumah itu setelah saya kunjungi menambah “gemetar” saya terhadap berbagai “fakta dan mitos” di dalamnya, terutama saat kami berbincang di beranda samping yang terbuka menghadap Pohon Munggur besar (pohon Trembesi) di latari belukar dan rumpun bambu serta sungai. Di beranda itu kami mengobrol dari siang hingga malam menjelang.

Kedua, perjalanan darat ke rumah mas Joni adalah jarak tempuh terjauh saya dalam melakukan wawancara. Biasanya kalau narasumber berada di luar kota, saya selalu memakai fasilitas email untuk melakukan wawancara (tertulis). Kini, wawancara harus dengan tatap muka langsung, saya sendiri yang seakan mengharuskannya, karena sebelum rencana wawancara ini ada, saya memang berniat mengunjungi rumahnya, dan si narasumber mempersilakan saya dengan sangat ramah.

Tak hanya soal niat saya dan rumah mas Joni, “keberanian” saya mewawancarai untuk buletin sastra Pawon ini juga karena karya teman-teman penulis Solo hampir berurutan dimuat Majalah Horison yang mas Joni ikut jadi anggota redaksinya. Ada cerpen saya, Yudhi Herwibowo, dan Gunawan Triadtmojo serta puisi-puisi Budiawan Dwi Santoso dan Kharisma. Kata mas Joni, ya ini karena makin gencarnya karya penulis Solo yang masuk, dan bagus.

“Amunisi” yang lain, dari srawung saya dengan Mardi Luhung dan M. Faizi, penyair-penyair keren yang saya selalu takjub atas pikiran-pikirannya, pernah mengintimkan sosok Joni Ariadinata di benak saya. Saya merasa mereka bertiga adalah guru-guru saya sejak saya mengenal mereka lebih dalam. Walaupun saya “tak bisa menulis puisi”.

Tak hanya itu dan itu, ditambah srawung saya dengan Kang Ahmad Tohari dahulu ikut pula menambah “nyali, amunisi, dan hasrat” saya menemui Joni Ariadinata.

Banyak hal itu menumpuk di batin saya sehingga pada hari Sabtu, 25 Mei 2013 saya mengunjungi Mas Joni di rumahnya bersama penyair muda, Ekohm Abiyasa, yang “ketiban anugerah” ditahbis Mas Joni, dengan sedikit gurauan bersama saya, dan Mahwi Air Tawar yang kebetulan berkunjung karena rumahnya berdekatan dengan rumah Mas Joni, nama penanya menjadi Eko Abiyasa. Dengan menghilangkan “hm” konon, sepertinya, bisa lebih “mengangkat” derajat kepenyairannya.

Akhirnya di waktu dzuhur kami bertemu, berbicara banyak hal, dan dari Mas Joni saya mendapatkan “berbagai fakta dan ilmu kehidupan”.

Mas Joni, bisa cerita tentang naskah yang masuk Horison?
Dalam kurun sebulan Majalah Horison bisa menerima 500 kiriman karya. Dan hanya 2 cerpen yang dipilih diantaranya.
Wah banyak betul ya?

Berapa eksemplar Horison dicetak, dan berapa jumlah pelanggannya sekarang?
Dicetak 11 ribu eksemplar dengan 3 ribu pelanggan. Horison ada di setiap kedutaan-kedutaan asing di luar negeri. Jadi bacaan Sastra Indonesia di sana ya hanya Horison.

Kalau boleh tahu, bagaimana sistem kuratorialnya di Horison?
Untuk cerpen, saya, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman. Untuk puisi ditambah Cecep Syamsul Hari, Pak Taufik Ismail.
~ Wah, ketat betul ya, ternyata.

Cerpen Lampor seperti menjadi pintu pembuka bagi Mas Joni untuk diterima secara luas oleh publik. Komentar Mas Joni?
Cerpen Lampor membuat saya “beruntung” sehingga memenangi kumpulan cerita pilihan Kompas. Keberuntungan ini adalah “berkah” doa ibu yang tulus sepanjang hampir 6 bulan berpuasa tanpa putus demi “keberuntungan” itu. Keberuntungan ini membuka pintu rejeki saya dengan banyaknya undangan buat berbicara, karya saya makin banyak diterima, dan kesempatan buat saya bisa lebih banyak berbagi pada orang lain.

Keberuntungan saya yang lain adalah cerpen tanpa honor yang diminta para santri. Waktu itu saya sesungguhnya “malas” membuatnya tapi melihat muka mereka yang “melas” saya memaksa diri membuat, lagipula mereka telah menunggu saya untuk mengetiknya. Tak dinyana, justru karena cerpen inilah saya diundang banyak sekolah untuk membacakannya. Hehehe.

Ada pameo kualitas karya dan nasib penulis tak liner, bagaimana menurut mas Joni?
Kualitas karya antar penulis boleh “sama mutunya” namun “keberuntungan” tiap penulis berbeda-beda. Faktor yang membuat beda dijelaskan mas Joni secara panjang lebar sehingga saya kesulitan mencatatnya dengan lengkap namun pada dasarnya itu membuat saya merenungkan hidup lebih dalam, dunia sufi, makrifat, dunia batin mesias, laku hidup prihatin-puasa, dunia tak terlihat, dunia kebaikan, dunia kebajikan membaur dalam dunia kita sebagai manusia-penulis yang sulit lepas dari hasrat ego, dan menjadi manusia “berbudi dan berbagi” akan mendatangkan keberuntungan-keberuntungan itu.

Boleh ceritakan tentang undangan membaca cerpen di Eropa, Mas?
Ke Eropa adalah mimpi saya, mimpi sejak awal menjadi penulis. Kita harus punya mimpi, itu doa, doa bukan “ndemrimil” menengadahkan tangan, tapi “krentek” di hati. Allah tahu apa mimpi kita yang paling dalam. Undangan itu bagi saya adalah karena faktor “keberuntungan” di mana melalui Mas Rendra saya direkomendasikan. Kebetulan saya habis ke rumahnya waktu itu. Hehehe. Obrolan disudahi, diselingi makan bersama, sembahyang, menengok rumah Mahwi. Lalu setelah Maghrib kami pulang, saya merasa “merinding” bukan karena sentuhan “makhluk astral” namun karena teringat kembali kisah nyata ibu mas Joni yang berpuasa berbulan-bulan tanpa putus demi nasib baik anaknya.
 
PROFIL
Joni  Ariadinata, lahir di Majapahit, Majalengka 23  Juni  1966. Kumpulan  cerita pendeknya yang telah terbit adalah Kali  Mati (Bentang  Budaya, 1999),  Kastil  Angin Menderu (Indonesia Tera,  2000),  dan  Air Kaldera (Aksara Indonesia, 2000), dan Malaikat Tak Datang Malam Hari (DAR Mizan, 2004).
Bersama Taufiq Ismail dkk., mengeditori sejumlah buku, antara lain: Horison Sastra Indonesia 1 (Kitab Puisi), Horison Sastra Indonesia 2 (Kitab Cerpen), Horison Sastra Indonesia 3 (Kitab Novel), Horison Sastra Indonesia 4 (Kitab Drama), serta Horison Esei Indonesia 1 dan 2 (Kitab Esei). Buku-buku tersebut, disebarkan untuk menjadi bacaan di perpustakaan-perpustakaan SMA di seluruh Indonesia.
Tahun 1994 meraih  penghargaan Cerpenis Terbaik Kompas atas karyanya Lampor. Tahun 1997  meraih penghargaan   Cerpenis  Terbaik  Nasional  BSMI  atas karyanya Keluarga  Mudrika.  Tahun 1998 mengikuti  Writing  Program  pada Majelis Sastra  Asia  Tenggara,  dan  meraih  penghargaan  Dewan Kesenian  Jakarta atas nominasi karyanya Keluarga Maling.  Mengikuti PSN-X dan Pertemuan Sastrawan Malaysia-1 di Johor Bahru  Malaysia pada tahun 1999.  Kemudian Januari hingga April 2001,  mengunjungi  Eropa atas  undangan  Festival  Winternachten di  Deen  Haag Belanda, tinggal  di  Amsterdam, serta berkeliling membacakan cerpen  dan  ceramah-ceramah  sastra  di Paris-Perancis.
Selama lima tahun ia berkeliling Indonesia, memperkenalkan sastra ke SMA-SMA hingga ke pelosok-pelosok daerah dan pulau terpencil bersama Taufiq Ismail dkk., dalam program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya. Tahun 2000 mendirikan Jurnal Cerpen Indonesia, dan Lembaga Kajian Kebudayaan Akar Indonesia, kemudian terhitung mulai Maret 2004, ia duduk sebagai redaktur di Majalah Sastra Horison.
Menerima Anugrah Pena 2005 atas kumpulan cerpennya “Malaikat Tak Datang Malam Hari”. Tahun 2007 kumpulan cerpen “Malaikat Tak Datang Malam Hari” kembali meraih Hadiah Sastra Pusat Bahasa. Hingga kini menetap  di Yogyakarta, menulis, melukis, sambil membina pondok pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

Sumber Buletin Pawon Sastra
Selengkapnya: Wawancara Han Gagas dengan Joni Ariadinata

Bertandang ke Rumah Om Joni Ariadinata

Tuesday, 11 June 2013

Wawancara Han Gagas dengan om Joni Ariadinata di sini.

Bertandang ke Rumah Joni Ariadinata
Aku dan Han Gagas berkunjung ke rumah Joni Ariadinata (redaktur Majalah Sastra Horison) Sabtu siang (25 Mei 2013) dalam rangka silaturahmi (sastra) wawancara Buletin Pawon Sastra. Aku tidak terlalu mengenal sosok beliau.

Namun dari cerita seorang kawanku, beliau seorang penulis yang mumpuni. Bukan suatu kebetulan aku bisa bertandang ke rumah beliau. Sebab di sana aku ternyata mendapat banyak "ilmu". Mengenai proses kreatif seorang penulis dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Aku lebih suka menyimak dan meresapkan kata-kata mutiaranya ke dalam dada. Layaknya berguru pada seorang guru ngaji waktu kecil dulu.

Aku belum pernah ke rumah om Joni. Han Gagas sedikit tahu arah jalan ke Gamping (pasar Gamping). "Timur pasar Gamping, Karangnongko RT 03 RW 19, Gamping Kidul, Gamping." Begitu alamatnya.

Sabtu yang panas namun bermendung. Aku menjemput Han Gagas di barat jalan layang Janti Yogya. Berbekal tanya pada seorang pengendara motor, kami pun melaju. Sampai di perempatan Tugu kami bertemu lagi dengan orang yang kami tanyai itu. Ini sebuah keajaiban, kukira. Aku menganggapnya malaikat. Hahaha...

Sampailah kami di rumah Joni Ariadinata sekitar jam 12.30 WIB. Segera setelah kami sholat dhuhur sejenak di masjid Al Ikhlas menuju ke rumah om Joni.

Proses Kreatif Penulis
Banyak cara dalam berproses menjadi penulis. Saya kira tergantung individunya masing-masing. Pengalaman masa kecil, lingkungan dan pergaulan sangat berpengaruh. Proses kreatif Joni Ariadinata bisa dibaca link-link di bawah.

Dari cerita-cerita om Joni, ada banyak sekali hikmah yang menarik untuk dipelajari.

Aku tertegun ketika bertandang ke rumah Mahwi Air Tawar yang ternyata bersebelahan dengan rumah om Joni Ariadinata. Begitu sederhana. Sangat sederhana. Di pinggir sungai yang tenang dan di samping tanah kebun yang mengingatkan aku pada rumah nenekku waktu kecil dulu. Memoriku tertarik ke belakang. Betapa aku merindukan suasana seperti ini. Suara hewan khas kebun dan sungai. Rumput, pohon salam, rambutan/AC, pohon mangga, sumur, dan bau tanah basah yang menggoda. Masih ku jumpai suasana tenang seperti ini di Yogyakarta. Aku terkagum.

Proses kreatif setiap penulis pasti berbeda-beda. Aku sangat menyukai keheningan di tengah keramaian kota. Seperti om Joni Ariadinata dan mas Mahwi Air Tawar.

Terkadang sebagai penulis, menginginkan tulisannya banyak dibaca orang dan mendapat tempat. Tetapi itu tidaklah mudah. Untuk mengangkat karya dan nama butuh suatu keberuntungan. Dan ini tidak banyak terjadi atau tidak banyak disadari oleh penulis.

Gimana caranya mendapat "keberuntungan" tersebut? Keberuntungan tidak bisa dipelajari. Disarankan berbekal doa kuat, ikhtiar yang keras, mimpi yang berkelanjutan, karya yang bagus tentunya. Silaturahmi sesama penulis.

Perihal Nama
Nama bagi seorang penulis sangat penting. Pemilihan nama (pena) harus dipikirkan betul. Biasanya banyak orang (penulis) yang suka memakai nama samaran. Begitu pula aku. Waktu menasbihkan diri memakai nama Ekohm Abiyasa, aku begitu bangga dan percaya diri. Namun itu rupanya agak menyulitkan banyak orang ketika mereka memanggil namaku itu. Dan aku sendiri pun sempat menimbang ulang dengan nama tersebut. Kebetulan aku dan Han Gagas bertandang ke rumah om Joni Ariadinata. Setelah beliau membaca puisiku yang dimuat Buletin Pawon Sastra Solo, beliau mengusulkan perubahan nama. Biar lebih enak diingat dan mudah diucapkan. Jadilah, nama Eko Abiyasa.
Mulai malam ini nama pena saya Eko Abiyasa. Saya tidak bisa merubah nama dalam facebook, tersebab terlalu banyaknya saya merubah-rubah. Terima kasih om Joni Ariadinata atas penasbihan nama ini.

Salam hangat. Do'a kuat!
Link
Begitulah, setelah srawung dari rumah om Joni. Aku langsung berganti nama pena.Terima kasih.

Namun Sosiawan Leak berbeda pendapat.
"Ekohm Abiyasa! Nama pertamanya dengan huruf 'hm' serasa tak biasa, nyleneh, tak terduga, bahkan berkonotasi liar! Gampang diingat; karena nama itu tidak pasaran 'eko' (maaf bagi yang punya nama 'eko' lainnya). Mudah-mudahan karyamu senyleneh namamu mas. Setak-terduga nama itu, seliar 'ekohm' mu!" Sumber di sini.

Terima kasih guru.

Seno Gumira Ajidarma, Sitok Srengenge, Jamal D Rahman, Agus Sarjono, Raudal Tanjung Banua, Arswendo Atmowiloto, Agus Noor, Mardi Luhung, Mahwi Air Tawar dll pun ternyata punya nama asli yang beda jauh dari nama pena. Namun dengan nama pena yang agak "aneh" dan mudah diingat menjadikan nama-nama mereka diperhitungkan di jagat sastra/budaya. Terlebih nama pena itu adalah pemberian dari seorang sastrawan ulung. Namun pun demikian kita juga harus punya karya yang bagus tentunya.

Itulah salah satu penting dalam pemilihan nama pena. Yah, meskipun begitu. Itu bukan suatu hal yang besar atau mendasar untuk dipusingkan. Enjoy saja!

Pulang
Kami (aku dan Han Gagas) minta ijin pulang ama om Joni karena sudah gelap. Namun dicegah. Nunggu sehabis maghrib saja. Setelah maghrib bergegas pulang.

Di tengah perjalanan kami kehujanan. Ini akan menjadi momen yang tak terlupakan. Kami nekat saja. Melewati dua "banjir kecil". Dekat Amplas dan jalan layang Janti. Kami berhenti di pinggir jalan berteduh dari hujan yang deras dan angin yang ganas. Akhirnya sampai di Maguwo. Setelah Han Gagas berkali-kali ditolak naik bus jurusan Surabaya-Yogya akhirnya dapat juga.

Sampai jumpa dikesempatan yang lain. Perjalanan yang menyenangkan.

Kehujanan ini tak sebanding dengan ilmu yang kuperoleh. Terima kasih.

Sedikit info mengenai Joni Ariadinata
Selengkapnya: Bertandang ke Rumah Om Joni Ariadinata

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas