Festival Sastra Solo 2014: Solo dalam Puisi (1/3)

Tuesday, 25 February 2014

Festival Sastra Solo 2014
http://festivalsastrasolo2014.blogspot.com

"Solo dalam Puisi"
22 Februari 2014 | Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Solo.




























Sumber foto:
http://festivalsastrasolo2014.blogspot.com/2014/02/foto-foto-sesi-4-solo-dalam-puisi.html
Buletin Sastra Pawon
Selengkapnya: Festival Sastra Solo 2014: Solo dalam Puisi (1/3)

Puisi "Catatan Perjalanan Rindu" Termaktub dalam Antologi Puisi Bersama "Solo dalam Puisi"

Thursday, 20 February 2014

Dalam gelaran Festival Sastra Solo 2014 (22-23 Februari 2014) memperingati keajaiban usia Pawon Sastra yang ketujuh.

Catatan Perjalanan Rindu

rindu mengelupas
mengampas bias
musim-musim meranggas

selinting nyawa
di tubir malam-malam
mengais wajah-wajah siang
seperti rokok yang sebatang

ujung jalan Solo-Yogya
rel-rel kereta mengerang
asap-asap berdesing

derit-derit hujan mencengkeram
perjalanan rindu yang asing
di kota hujan bermukim
wajahmu

Solo-Yogya, Oktober 2013

Daftar para pengisi "Solo dalam Puisi":
http://festivalsastrasolo2014.blogspot.com/2014/02/para-pengisi-antologi-solo-dalam-puisi.html
http://festivalsastrasolo2014.blogspot.com/2014/02/solo-dalam-puisi.html
Selengkapnya: Puisi "Catatan Perjalanan Rindu" Termaktub dalam Antologi Puisi Bersama "Solo dalam Puisi"

Hal-hal yang Perlu Diketahui oleh Penulis Opini

Monday, 17 February 2014

1. Penulis opini hendaknya mengirimkan karya yang idenya orisinil, baru, syukur-syukur sama sekali belum pernah ada ide serupa sepanjang sejarah, dan perpaduan antara: menarik, bermanfaat, aktual dan inspiratif. Kayak kategori di Kompasiana ya?
2. Penulis opini boleh meng-copy-paste kata-kata mutiara, kutipan berita, namun sifatnya hanya sebagai titik tolak tulisan (news peg) dengan mengutip sumber aslinya, dan panjangnya sedapat mungkin jangan sampai lebih dari 3 kalimat.
3. Penulis opini jangan sampai mengirimkan karya yang sama ke beberapa media sekaligus. Setiap media dituntut untuk menyajikan informasi yang eksklusif. Bila sampai ada tulisan yang sama di dua media berbeda, penulis biasanya akan kena sanksi. Bisa di-black list selamanya oleh media yang memuat, bisa juga sementara. Penulis harus tahu ini.
4. Penulis opini boleh mencabut tulisan yang sudah dia kirim ke sebuah media. Hubungi saja redaksi melalui telepon. Atau kalau memang sudah kenal dengan redaktur, hubungi sang redaktur langsung atau via email, bila naskah Anda tidak kunjung dimuat oleh redaksi, padahal Anda merasa akan layak muat bila dialihkan ke media lain.  Hal ini cara terbaik untuk menghindari kemungkinan dobel pemuatan sehingga tidak mengalami nasib fatal, di-blacklist dari media.
5. Penulis opini hendaknya mengirimkan tulisan dengan jumlah karakter (huruf) yang kira-kira pas atau dilebihkan sedikit dari jumlah karakter yang bisa masuk pada ukuran space halaman opini. Kalau untuk Kompas, kira-kira tulisan yang dimuat antara 6.000-8.000 karakter. Untuk media massa lokal, biasanya jumlah karakternya lebih sedikit. Redaktur, bila mendapati dua tulisan dengan kualitas sama, akan memilih tulisan yang karakternya mendekati pas dengan space dibanding harus meminta penulisnya menambahi atau memotong tulisan.
6. Penulis opini sedapat mungkin hendaknya tidak menggunakan jasa ghost writer. Berbeda dari buku, tulisan opini untuk media sifatnya sangat personal, menunjukkan karakter penulis. Redaktur yang sudah lama membaca tulisan penulis yang sudah lama bergelut di dunia penulisan, akan bisa mengenali tulisan dari pemilihan diksi dan hal kecil lainnya.
7. Redaktur adalah manusia biasa. Bisa lalai dan khilaf juga. Oleh karena itu hendaknya penulis sendiri yang memegang kaidah-kaidah tak tertulis di dunia kepenulisan.

Sumber http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2014/02/17/anggito-mundur-pelajaran-buat-semua-penulis-opini-632626.html
Selengkapnya: Hal-hal yang Perlu Diketahui oleh Penulis Opini

Poems In Translation: Puisi-puisi Saut Situmorang di The Prague Revue

1966

di malam aku lahir
bulan merah api
dan hujan turun
langit merah basah
bumi merah basah

orang orang menangis
orang orang marah
dan orang orang ketakutan

di malam aku lahir
anjing anjing setan gentayangan di jalanan
mendobrak rumah rumah
dan membunuh dan membunuh dan membunuh

bulan merah api
malam merah api
rumah rumah dicat merah darah
jalanan merah darah
sungai sungai merah darah
danau danau merah darah
dan mayat mayat rusak terapung
di sungai sungai danau danau merah darah
di bawah hujan merah darah

di malam aku lahir


1966

the night I was born
the moon turned out fire red
and the rain’s falling
the sky was soaked red
the earth was soaked red

people were crying
people were angry
and people were frightened

the night I was born
Satan's dogs roamed the streets
smashing into houses
and killing and killing and killing

the moon was fire red
the night was fire red
the houses painted blood red
the streets blood red
the rivers blood red
the lakes blood red
and corpses floating
under the blood red rain

the night I was born



kata dalam telinga
ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
cukup kuat
untuk melindungi
bawah perut yang lembut
terbuat dari renda renda dan daging otot
hairspray dan air ludah
20 kaki di atas kepala kita
jauh seperti sebuah perahu mengapung
seperti wayar wayar lembut lentur
montok seperti oyster
kalung bulu dan tulang di leher
berlayar antara bulan dan bintang bintang
di air halusinasi di atas bukit orang mati
seperti Pinocchio
main film biru di bawah meja kantor
demi eloquence
di dinding alfabet
bukan batu giok
dalam truk sampah
do you read me?
ada sebuah tangga menuju ke atap
sebuah rumah berjendela hitam
di mana kami mengubur laundry kotormu
biar kami bisa cerita hal hal yang baik saja tentang dirimu
bocah kemaren sore
yang berhenti percaya pada tuhan
yang berkata, “kalau tuhan itu pemabuk
aku tak perlu minum alkohol!”
ayolah

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
dengan botol botol susu beku dalam kotak surat
yang sedang diukiri tetanggaku dengan pahat
sambil berkata, “cuka dipakai di zaman Sebelum Masehi
sebagai spermicide-a pessary!”
“caranya, dicelupkan ke dalam,
mungkin menyengat sedikit!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
sebelum musim dingin tiba
ya, musim dingin akan indah tahun ini
dengan televisi televisi bisu membaca
bibirnya sendiri dengan logat Inggris
menghembuskan kesunyian kesunyian panjang
untuk menghangatkan diri
e hoa ma! o sobat
belut perut perak adalah yang terbaik untuk dikeringkan!
jadi waktu pemain sax
membuka lagunya
seperti minum
kita tak punya pilihan lain
kita mesti mengikuti
boneka boneka Gringo
ke mana burung burung merpati membangun sarangnya
waktu arah angin berubah
dan mengikutimu masuk ke dalam kegelapan pikiran
candi penuh ular
candi dewi ular
dewi birahi orang orang pagan
candi 13 warna biru
biru airmata, biru rasa rindu
biru hijau cemburu
biru palung dalam, biru bumi
biru cinta, biru cermin kaca
biru nostalgia, biru bahaya
biru tipu, biru napsu
biru kehilangan, biru kematian

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana matahari jadi lebih berarti
di mana hantu seseorang yang dulu kau cintai
seseorang kepada siapa dulu kau selalu berkata “karenamu aku selalu kesepian”
berbisik padamu dalam bahasa Morse
“pandanglah aku sekarang. aku kembali untuk menghantuimu!”
Valhalla nampak
begitu jauh
seperti bola bola golf
para businessman bangsa Jepang
yang sedang menghapal percakapan Inggris-Zen
“hi, I’m Richard Taylor
and so are you!”

ada sebuah tangga menuju ke atap
seperti sebuah gantungan baju dari logam
tergantung tanpa baju
sexual pleasure
on empty roads
sebuah daun gugur
Jumat
adalah hari yang paling kejam dalam seminggu
berat
tailor-made
terbuat dari pecahan pecahan kaca halte bis kota
old talk
sebuah café
sebuah pekerjaan tetap

ada sebuah tangga menuju ke atap
di mana dua burung Enggang mengitari tiang totem tua
di mana burung burung merpati membangun sarangnya
seperti sebuah Big Mac
oleh Picasso
datanglah kalian wahai para hantu
yang menjaga pikiran pikiran duniawi
hantu hantu sebuah tangga menuju ke atap
atap perak atap kaca atap burung burung
atap sayap sayap kupu kupu patah
hitam, putih, dan multiwarna
dan beruap seperti onggokan onggokan tahi sapi
di pagi kota Te Puke yang dingin
datanglah kalian wahai para hantu pemilik hak cipta
seni yang palsu, immoral, angkuh, dan penuh tipu

aku tak bertanggung jawab atas sajak ini!

tongue in your ear
there’s a staircase which leads to the roof
where pigeons build their nests
tough enough
to protect
the soft underbelly
made from lace and sinew
hairspray and spit
20 feet above our heads
far away like a boat adrift
like soft tensile wires
plump as an oyster
garlands of feather and bone
navigating by moon and stars
in the hallucinating waters above the hill o death
like Pinocchio
doing kinky things with red tape
for eloquence
on alphabet walls
not *greenstone
in a garbage truck
do you read me?

there’s a staircase which leads to the roof
of a house of black windows
where we bury your dirty laundry
so we could say nice things about you
yesterday’s baby
who stopped believing in God
who said, “If God were a drunkard,
I’d have no need to drink!”
come on
there’s a staircase which leads to the roof
where pigeons build their nests
before winter comes
with frosted milk-bottles in the letter box
which my neighbour is carving with a chisel
while saying, “Vinegar was used in B.C. times
as a spermicide - a pessary.
It was sponged on-in,
probably stings a bit!”

there’s a staircase which leads to the roof
where pigeons build their nests
before winter comes
yes, winter will be beautiful this year
with muted television reads
its own lips with an American accent
breathing out long silences
to keep warm
**e hoa ma! o friends!
silver bellies are the best eels for drying!
so when the sax player
opens his song
like drinking
we have no choice
we have to follow
the Gringo puppets
to where the pigeons build their nests
when the wind changes
and follows you into the darkness of thoughts
a temple full of snakes
of snake goddess
the pagan goddess of lust
of 13 degrees of blue
the blue of tears, the blue of longing
the jealous blue of green
the blue of the fathoms, the blue of the earth
the blue of love, the blue of mirrors
the blue of nostalgia, the blue of danger
the blue of deceit, the blue of lust
the blue of loss, the blue of death

there’s a staircase which leads to the roof
where the sky becomes more important
where the ghost of someone you used to love
someone you used to say “because of you I’m always alone” to
whispers in Morse
“Look at me now. I’ve come to haunt you!”
Valhalla seems
so far away
like the golf balls
of Japanese businessmen
who are memorizing Zen-English
“Hi, I’m Richard Taylor
and so are you!”

there’s a staircase which leads to the roof
like a metal coathanger
hanging unclothed
sexual pleasure
on empty roads
a leaf falls
Friday
is the cruellest day of the week
is heavy
is tailor-made
made of smashed bus-stop glass
old talk
a café
a real job

there’s a staircase which leads to the roof
where two hornbill birds circle the ancient totem pole
where pigeons build their nests
like a Big Mac
by Picasso
come ye o spirits
that tend on mortal thoughts
spirits of a staircase which leads to the roof
roof of silver, glass, birds
of broken butterfly wings
white, black and multicoloured
and steaming like cowpats on frosty ***Te Puke mornings
come ye o spirits, owners of copyright
of false, immoral, conceited and deceitful Art

I do not accept responsibility for this poem!

Notes:
*greenstone is a kind of jade found in New Zealand, considered sacred by the Maoris
**e hoa ma! is a Maori phrase meaning “o friends!”
*** Te Puke is the name of a small town in North Island, New Zealand. Famous as the capital city of kiwi-fruit

Saut Situmorang was born on 29 Juni 1966 in Tebing Tinggi, North Sumatera province, Indonesia, but was raised in its capital Medan. Spent eleven years (1989-2000) as an immigrant in New Zealand where he did his BA in English Literature and MA in Indonesian Literature. He was also actively involved in the underground poetry readings in New Zealand and was awarded several prizes for his English-language poetry, such as the Original Composition Prize from Victoria University of Wellington and the Blues Award from the University of Auckland. Since 2000 returned to Indonesia and now lives in the city of Yogyakarta as a full-time writer. Widely published in newspapers and literary magazines all over Indonesia, he has published three books of poems and a book of literary essays. His Indonesian-language poems and short story had been translated into English, Italian, Czech, French and German. He is one of the pioneers of Internet Literature in Indonesia and at present is one of the editors of the Indonesian underground literary journal boemipoetra. In 2005-2007 he was the Literature curator for the Festival Kesenian Yogyakarta (Yogyakarta Arts Festival). He was one of the curators for What Is Poetry?: International Poetry Festival Indonesia 2012. A familiar name in the literary scene in Indonesia, in early November 2012 he was invited to the book-launch of a selection of his poems translated into French at the Unesco House, Paris, France. In June 2013 he is invited to read his poems at Poetry On The Road in Bremen, Germany. Writing in both Indonesian and English languages, a sample of his English-language poems can be read at http://sautsitumorang.blogspot.com/ while his poetry reading recordings are documented at http://soundcloud.com/saut-situmorang

Selengkapnya: Poems In Translation: Puisi-puisi Saut Situmorang di The Prague Revue

(Puisi) Vertaallab 61 Saut Situmorang – Aku adalah Mayat

Sunday, 16 February 2014

Saut Situmorang
yang terapung di sungai
di samping rumahmu
aku adalah laki laki itu yang kemarin
berpapasan denganmu tapi tak kau hirau
aku adalah laki laki itu yang
melompat masuk ke dalam bus kota
sesak dengan anak anak sekolah dan orang orang pergi kerja
aku adalah bau busuk di sungai
yang meresahkan cicak cicak kecil di rumahmu
aku duduk di bangku kayu warung pinggir jalan
dan memesan sepiring nasi, sepotong ikan asin,
dan sambal belacan
aku adalah laki laki itu yang berteduh di bawah
pohon di pinggir jalan waktu turun hujan
dan sebuah mercedes mencipratkan air lumpur
ke baju dan celanaku
aku selalu ingin makan di restauran mewah
dengan seorang perempuan muda yang jelita
menemani di meja
aku adalah mayat membusuk yang terapung
tersangkut bambu di sungai dekat rumahmu
aku adalah laki laki itu yang mendayung becak
penuh air laut dalam mimpiku
aku adalah laki laki itu yang berjalan terburu buru
tiap kali polisi memapasiku
aku adalah sepucuk surat yang ditunggu tunggu
tapi tak pernah muncul di kampungku
aku adalah laki laki itu yang melambaikan tangannya
dan tinggal airmata di pipi ibu tercinta
aku adalah mayat busuk tak berbaju
yang mengapung di sungai pagi itu
aku adalah perempuan muda tak berbaju yang
terapung di sungai di samping rumahmu
aku adalah perempuan itu yang naik bus antar provinsi
ditangisi sawah sawah tak berpadi di kampungku yang jauh
aku adalah perempuan itu yang duduk termangu
di stasiun bus kotamu sore sore mau ke mana tak tahu
aku didekati seorang laki laki yang pandai berkata kata
aku adalah perempuan itu yang cuma punya
sepuluh ribu di saku
aku adalah bau busuk yang mengganggu tidurmu
sepanjang malam itu
aku berdiri di trotoar jalan ditutupi malam
menunggumu
aku tidur sepanjang hari di kampung kumuh
dipagari hotel hotel tinggi bernama asing
aku adalah perempuan itu yang bermimpi
sambil merias diri
aku adalah bus antar provinsi penuh debu
yang tak pernah pulang kembali
kami bertemu di atas truk polisi waktu
bulan purnama gemerlapan di air sungai
aku adalah laki laki itu yang memungut puntung
rokok dari dekat kakimu
aku adalah perempuan itu yang memungut
pecah belah dari tong sampah depan rumahmu
aku adalah laki laki itu yang tersenyum tapi tak kau hirau
aku adalah perempuan itu yang tersenyum tapi tak kau hirau
kami adalah wajah wajah itu yang menatap kosong
waktu rumah tepas kami kau buldozer
kami adalah wajah wajah itu yang tertunduk
di atas truk diangkut seperti sampah busuk
aku adalah laki laki itu yang diusir dari kota
terpisah dari istri tercinta
aku adalah perempuan itu yang diusir dari kota
terpisah dari suami tercinta
aku adalah laki laki itu yang menyusup kembali
ke kota mencari istri tercinta
aku adalah perempuan itu yang menyusup kembali
ke kota mencari suami tercinta
aku adalah laki laki itu yang di pinggir jalan
berdiri termangu melihat
gedung gedung kota terbakar membara
aku adalah perempuan itu yang di pinggir jalan
berdiri termangu melihat
gedung gedung kota terbakar membara
aku adalah laki laki itu yang di pinggir jalan
berdiri termangu…
aku adalah perempuan itu yang di pinggir jalan
berdiri termangu…
kota terbakar!
kota terbakar!
kami adalah mayat membusuk yang
terapung tanpa baju di sungai
di samping rumahmu
pagi itu!

_____
Saut Situmorang (*29 June 1966, Tebing Tinggi, North Sumatera, Indonesia) was raised in Medan. He spent eleven years (1989-2000) as an immigrant in New Zealand, where he did his BA in English Literature, and MA in Indonesian Literature, and was actively involved in underground poetry readings. For his English-language poetry he received the Original Composition Prize from Victoria University of Wellington, and the Blues Award from the University of Auckland. He returned to Indonesia in 2000. He now lives in the city of Yogyakarta, where he works as a full-time writer. He has published several books of poems, saut kecil bicara dengan tuhan (2003), catatan subversif (2004), otobiografi (2007) and Les mots cette souffrance (Collection du Banian, Paris, 2012), as well as a book of literary essays. His Indonesian-language poems and short stories have been translated into English, Italian, Czech, French, and German.
Situmorang has been a pioneer of internet literature in Indonesia. At present he is editor of the Indonesian underground literary journal boemipoetra. Between 2005-07 he was the literature curator for the Festival Kesenian Yogyakarta (Yogyakarta Arts Festival). In 2012 he was curator for the International Poetry Festival Indonesia What Is Poetry?. He took part in many international literary festivals such as What is Poetry? in South Africa, and Zimbabwe, and Poetry On The Road in Bremen, Germany. Listen to recordings of his poetry readings here.

Thanks to Regina Dyck, Poetry on the Road.

Sumber http://ooteoote.nl/2014/02/vertaallab-61-saut-situmorang-aku-adalah-mayat/
Selengkapnya: (Puisi) Vertaallab 61 Saut Situmorang – Aku adalah Mayat

Genre Sastra dan Puisi

Friday, 14 February 2014

Genre Puisi itu cuma empat: Lirik, Epik/Naratif, Dramatik, dan Didaktik. 

Balada adalah contoh Puisi Naratif kerna berkisah tentang sebuah peristiwa.

Alexander Pope bukan nulis puisi esei tapi menulis puisi biasa yang isinya membicarakan isu-isu seperti "apa itu manusia", "apa itu esei" dan yang semacamnya. Pola persajakan Pope tradisional khas Bahasa Inggris. Mungkin puisi Pope bisa dikategorikan sebagai Puisi Didaktik kerna bersifat risalah atas suatu pokok.

Ada yang disebut "prose poetry" dan puisi jenis ini adalah cerpen pendek yang liris. Sangat populer di kalangan penyair Prancis abad 19 seperti Baudelaire dan Rimbaud. Disebut "prose poetry" kerna pola persajakannya seperti prosa (gak ada rima dsb yang biasa ditemukan dalam pola persajakan tradisional, seperti pada Pantun di Indonesia misalnya), berkisah macam cerpen tapi lebih pendek daripada cerpen dan bukan cerpen tapi puisi lirik.

Kesalahan lain dalam sejarah Sastra Indonesia adalah begitu saja memakek istilah "puisi mbeling" dan "puisi mantra" yang diciptakan penyairnya. Gak ada kedua jenis puisi itu! Yang benar adalah bahwa keduanya termasuk dalam jenis puisi yang disebut "Nonsense Poetry" dan puisi jenis ini ada di kebanyakan budaya dan pernah sangat populer dalam Sastra Inggris dengan Tokoh terkenalnya Edward Lear dan Lewis Carroll.

(Saut Situmorang)

----------------------------------------------------------

Mengenai posisi poetical essay Pope, ia adalah esei, opini, jadi ESEI DAPAT DITULIS DALAM BENTUK PROSA ATAU PUISI. Ini ada hubungannya dengan distingsi seni dengan ilmu pengetahuan dalam divisi modern setelah French Quarrel, yang merupakan kelahiran sastra modern. Di saat itu puisi tak lagi dipandang sebagai geometri tetapi sejarah, ia tak lagi dipandang sebagai wilayah akal, tetapi imajinasi, yang di sini, berbeda dengan sebelumnya imajinasi dibedakan dengan akal (sebelumnya tak ada pembedaan antara keduanya). KETIKA PUISI DIPANDANG HANYA SEBAGAI WILAYAH IMAJINASI, MAKA IA TAK LEBIH TAK BUKAN ADALAH OPINI, di tingkat inilah PUISI=ESAI.

Fontenelle implies as much in contrasting the 'endless' disputes of 'rhetoric' with the terminable disagreements of 'science'; not only is the former the traditional home of the merely probable (opinion), but Fontenelle describes the main 'trick ofeloquence' as balancing opinions on both sides of a question- a fair description of argument in utramque partem as Academic sceptics such as Cicero understood it, and a method that yields only probabilities. (lihat Patey, Probability, ch. 1, dan soal koneksi imajinasi dengan opini, hal. 134-6.)

Pope adalah pendukung pendivisian Perault and Fontenelle.


Dalam pengantar An Essay on Man, Pope menjelaskan mengapa ia memiih menulis esainya dalam bentuk puisi, tepatnya puisi dalam tradisi Horatian, dan tidak prosa.

Apa saja genre-genre dalam sastra? Karangan ilmiah, esai filsafat, sains, tulisan bisnis, teks hukum, sejarah (beserta sub genrenya: biografi dan otobiografi), naskah drama, puisi, novel, cerpen, adalah genre-genre dalam sastra.

(Nuruddin Asyhadie)

Sumber https://www.facebook.com/groups/233309230175455/permalink/244386269067751 

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Literature     
http://poetry.eserver.org/essay-on-criticism.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Nonsense_verse  
http://www.bartleby.com/201/1.html
http://books.google.co.id/books?id=tt4NAAAAQAAJ&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false
Selengkapnya: Genre Sastra dan Puisi

 
 
 

Postingan Terbaru

Komentar Terbaru

Recent Comments Widget

Trafik

Total Dilihat

 
Kembali ke atas